Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN BAKTERIOLOGI I

PEWARNAAN TAHAN ASAM

OLEH
KELOMPOK 6

REGITA CAHYANI SAURING (85AK17058)


ELSYA NOVYANA YAHYA (85AK17042)
LIN AGUSTIYANI ADAM (85AK17050)
SRI MEI DINA WAHYUNI SAIN (85AK17063)
SRI PUJI ASTUTIK (85AK17064)

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


STIKES BINA MANDIRI GORONTALO
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktikum BAKTERIOLOGI I Dengan judul percobaan Pewarnaan


BTA Yang disusun oleh :

KELOMPOK : 6 (Enam)

KELAS :B

PRODI : D-III ANALIS KESEHATAN

Pada hari ini ................ tanggal ............bulan ............................... tahun ............


Telah diperiksa dan disetujui oleh asisten, maka dengan ini dinyatakan diterima
dan dapat mengikuti percobaan berikutnya.

Gorontalo, ............................................... 20...../20....

Asisten

RIJAL, S.ST

i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb
Bismillahirohirohmanirrohim
Syukur alhamdulillah atas segala rahmat dan karunia dari allah swt . atas
terselesainya laporan tentang Pewarnaan BTA, penyusunan laporan ini salah satu
tugas dari mata kuliah Bakteriologi I dengan dosen pengampuh yang bernama
Rijal S.ST Laporan ini berisikan tentang informasi pewarnaan BTA dengan
metode Ziehl-Neelzen dan Kinyoun Gabbet.
Kami merasa masih banyak kesalahan dan kekurangan yang harus diperbaiki
dalam penyusunan laporan ini, maka penulis menerima kritik dan saran yang
dapat membangun agar dapat menyempurnakan laporan ini. penulis berharap
semoga laporan ini bisa berguna bagi yang lain juga.

Gorontalo, Mei 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. i


KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Maksud dan Tujuan ........................................................................... 2
1.3 Manfaat praktikum ............................................................................ 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Bakteri ............................................................................. 3
2.2 Klasifikasi Bakteri ............................................................................. 3
2.3 Pewarnaan Bakteri ............................................................................ 5
2.4 Zat Pewarnaan ................................................................................... 6
2.5 Bakteri Tahan Asam .......................................................................... 7
2.6 Mikobakteri ...................................................................................... 8
2.7 Pewarnaan Ziehl-Neelzen ................................................................. 10
2.8 Pewarnaan Kinyoun Gabbet .............................................................. 10
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat .................................................................................................... 12
3.2 Bahan ................................................................................................ 12
3.3 Prosedur Kerja ................................................................................... 12
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan .............................................................................. 14
4.2 Pembahasan ....................................................................................... 14
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ....................................................................................... 18
5.2 Saran .................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Sel bakteri Kokus ............................................................................. 4


Gambar 2. bentuk-bentuk bakteri basil ............................................................... 4
Gambar 3. Bentuk-bentuk bakteri spiral ............................................................. 5
Gambar 4. Kedudukan alat gerak bakteri ............................................................ 5

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari manusia selalu berhubungan
dengan jasad renik dari alam dunia yang tidak tampak dengan mata biasa.
Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-
sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel
bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan
atau pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat
fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian
pengecatan.
Teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling
utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi. Prinsip dasar dari pewarnaan
ini adalah adanya ikatan ion antara komponen selular dari bakteri dengan
senyawa aktif dari pewarna yang disebut kromogen. Terjadi ikatan ion karena
adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada pewarna.
Berdasarkan adanya muatan ini maka dapat dibedakan pewarna asam dan
pewarna basa.
Beberapa mikroba tertentu tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan
sederhana ataupun Gram, misalnya golongan Mycobacterium, Retinomycites,
dll. Hal ini disebabkan sel-sel mikroba diliputi oleh semacam lilin (lipid) dan
asam mycolat, sehingga tubuhnya sukar ditembus oleh zat-zat warna. Tetapi
dia dapat diwarnai dengan karbolfuchsin panas (sambil dipanasi), ternyata zat
warna ini dapat meresap dan diikat oleh tubuh bakteri tersebut. Keistimewaan
dari kuman tahan asam ini, zat warna yang telah diikat itu sukar dilepaskan
walaupun dilakukan dengan pencucian dengan alkohol-asam, misalnya asam
sulfat dan asam chlorida. Oleh karena kuman-kuman seperti itu tahan terhadap
pencucian asam-asam mineral, maka disebut kuman tahan asam. Pewarnaan
ini ditujukan terhadap bakteri yang mengandung lemak dalam konsentrasi
tinggi sehingga sukar menyerap zat warna, namun jika bakteri diberi zat warna
khusus misalnya karbolfukhsin melalui proses pemanasan, maka akan
menyerap zat warna dan akan tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh

1
peluntur yang kuat sekalipun seperti asam-alkohol. Karena itu bakteri ini
disebut bakteri tahan asam (BTA). Hal tersebut yang melatar belakangi
dilakukannya praktikum ini dengan judul percobaan Pewarnaan Bakteri Tahan
Asam (BTA), Metode Ziehl Neelsen, dan Metode Kinyoun Gabbet.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari praktikum ini untuk memahami dasar pewarnaan
tahan asam dan mengetahui prosedur pada metode ziehl neelzen dan kinyoun
gabbet dalam membedakan bakteri kedalam kelompok tahan asam
1.3 Manfaat Praktikum
Dapat mengetahui cara kerja dari BTA yaitu pada metode ziehl-neelzen
dan kinyoun gabbet dan prinsip dari pewarnaan kedua metode tersebut.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Bakteri


Bakteri merupakan organisme prokariot. Umumnya ukuran bakteri sangat
kecil, bentuk tubuh bakteri baru dapat dilihat dengan menggunakan
mikroskop dengan pembesaran 1.000 X atau lebih. Sel bakteri memiliki
panjang yang beragam, sel beberapa spesies dapat berukuran 100 kali lebih
panjang daripada sel spesies yang lain. Bakteri merupakan makhluk hidup
dengan ukuran antara 0,1 sampai 0,3 µm. Bentuk bakteri bermacam – macam
yaitu elips, bulat, batang dan spiral. Bakteri lebih sering diamati dalam olesan
terwarnai dengan suatu zat pewarna kimia agar mudah diamati atau dilihat
dengan jelas dalam hal ukuran, bentuk, susunan dan keadaan struktur internal
dan butiran. Sel sel individu bakteri dapat berbentuk seperti bola/elips, batang
(silindris), atau spiral (heliks). Bakteri adalah mikroorganisme yang sangat
sederhana yang tidak bernukleus dan sifatnya berbeda dengan organisme
yang mempunyai inti sel. Selain itu bakteri merupakan organisme yang
sangat kecil (yang berukuran mikroscopis) akibatnya pada mikroskop tidak
tampak jelas dan sukar untuk melihat morfologinya maka dari itu dilakukan
pewarnaan bakteri yang biasa disebut pengenceran baketri. Pada umumnya
larutan-larutan zat warna yang digunakan adalah larutan encer yang lebih dari
satu persen. (Pelzar, 2007).
2.2 Klasifikasi Bakteri
2.3.1 Klasifikasi bakteri Berdasarkan bentuk tubuh:
1. Bakteri Kokus (bulat)
a) Monokokus berupa sel bakteri kokus tunggal. Contoh : Chlamydia
trachomatis (penyebab penyakit mata).
b) Diplokokus berupa dua sel bakteri kokus berdempetan. Contoh :
Diplococcus pnemoniae (penyebab penyakit pneumonia) ,
Neisseria gonorhoeae (penyebab penyakit kelamin raja singa).
c) Tetrakokus berupa empat sel bakteri kokus berdempetan berbentuk
segi empat. Contoh : Pediococcus cerevisiae.

3
d) Sarkina berupa delapan sel bakteri kokus berdempetan berbentuk
kubus. Contoh : Thiosarcina rosea (bakteri belerang).
e) Streptokokus berupa lebih dari empat sel bakteri kokus
berdempetan membentuk rantai. Contoh : Streptococcus mutans
(penyebab gigi berlubang).
f) Stafilokokus berupa lebih dari empat sel bakteri kokus
berdempetan membentuk seperti buah anggur. Contoh :
Staphylococcus aureus (penyebab penyakit radang paru-paru).

Gambar 1. Sel bakteri Kokus


1. Bakteri Basil (batang)
a) Basilus/monobasil
Berupa sel bakteri basil tunggal. Contoh : Eschericcia coli (bakteri
usus besar manusia), Propionibacterium acnes (penyebab jerawat).
b) Diplobasil
Berupa dua sel bakteri basil berdempetan.
c) Streptobasil
Berupa sel bakteri basil berdempetan membentuk rantai. Contoh :
Azotobacter (bakteri tanah yang mengikat nitrogen) , Bacillus
anthracis (penyebab penyakit antraks pada hewan ternak).

Gambar 2. bentuk-bentuk bakteri basil

3. Bakteri Spirilia

4
a) Spiral Bentuk sel bergelombang. Contoh : Thiospirillopsis floridina
(bakteri belerang).
b) Bakteri Vibrio (koma) Bentuk sel seperti tanda baca koma. Contoh
: Vibrio cholera (penyebab penyakit kolera).
c) Bakteri Spiroseta Bentuk sel seperti sekrup. Contoh : Treponema
pallidum (penyebab penyakit kelamin sifilis).

Gambar 3. Bentuk-bentuk bakteri spiral

2.3.2 Klasifikasi bakteri berdasarkan kedudukan alat gerak


1. Monotrik, berflagel satu pada salah satu ujung tubuh bakteri. Contoh
: Pseudomonas araginosa.
2. Amfitrik, flagel masing-masing satu pada kedua ujung tubuh bakteri.
Contoh : Spirillium serpen.
3. Lofotrik, berflagel banyak pada salah satu ujung tubuh bakteri.
Contoh : Pseudomonas flourencens.
4. Peritrik, berflagel banyak pada semua sisi tubuh bakteri. Contoh :
Salmonella thypii.

Gambar 4. Kedudukan alat gerak bakteri

2.3 Pewarnaan Bakteri


Pewarnaan bakteri bertujuan untuk memudahkan melihat bakteri dengan
mikroskop, memperjelas ukuran dan bentuk bakteri, untuk melihat struktur
luar dan struktur dalam bakteri seperti dinding sel dan vakuola, menghasilkan

5
sifat-sifat fisik dan kimia yang khas daripada bakteri dengan zat warna, serta
meningkatkan kontras mikroorganisme dengan sekitarnya. Teknik pewarnaan
warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu pengecatan
sederhana, pengecatan diferensial dan pengecatan struktural. Pemberian
warna pada bakteri atau jasad- jasad renik lain dengan menggunakan larutan
tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau olesan, yang sudah difiksasi,
dinamakan pewarnaan sederhana. Prosedur pewarnaan yang menampilkan
perbedaan di antara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikroba disebut
teknik pewarnaan diferensial (Krisno, 2011).
Prinsip dasar dari pewarnaan adalah adanya ikatan ion antara komponen
selular dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang disebut
kromogen. Ikatan ion dapat terjadi karena adanya muatan listrik baik pada
komponen seluler maupun pada pewarna. Terdapat tiga macam metode
pewarnaan yaitu pewarnaan sederhana, pewarnaan diferensial dan pewarnaan
gram. Pewarnaan sederhana menggunakan pewarna tunggal, pewarnaan
diferensial memakai serangkaian larutan pewarna atau reagen. Pewarnaan
gram merupakan metode pewarnaan yang paling umum digunakan untuk
mewarnai sel bakteri (Krisno, 2011).
2.4 Zat Pewarnaan
Zat pewarna adalah garam yang terdiri atas ion positif dan ion negatif,
salah satu di antaranya berwarna. Pada zat warna yang bersifat basa, warna
terdapat pada ion positif (zat pewarna+ Cl-) dan pada pewarna asam, warna
akan terdapat pada ion negatif (zat pewarna- Na+). Hubungan antara bakteri
dengan zat pewarna basa yang menonjol disebabkan terutama oleh adanya
asam nukleat dalam jumlah besar dalam protoplasma sel. Jadi, jika bakteri itu
diwarnai, muatan negatif dalam asam nukleat bakteri akan bereaksi dengan
ion positif zat pewarna basa, Kristal violet, safranin dan metilin blue adalah
beberapa zat pewarna basa yang biasa digunakan. Sebaliknya zat pewarna
asam ditolak oleh muatan negatif bakteri menyeluruh. Jadi, mewarnai bakteri
dengan zat pewarna asam akan menghasilkan hanya pewarnaan pada daerah
latar belakang saja. Karena sel bakteri tak berwarna di atas latar belakang
yang berwarna (Hendro, 2012).

6
Zat warna adalah senyawa kimia berupa garam-garam yang salah satu
ionnya berwarna. Garam terdiri dari ion bermuatan positif dan ion bermuatan
negatif. Senyawa-senyawa kimia ini berguna untuk membedakan bakteri-
bakteri karena reaksinya dengan sel bakeri akan memberikan warna berbeda.
Perbedaan inilah yang digunakan sebagai dasar pewarnaan bakteri. Sel-sel
warna dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu asam dan basa. Jika warna
terletak pada muatan positif dari zat warna, maka disebut zat warna basa. Jika
warna terdapat pada ion negatif, maka disebut zat warna asam. Contoh zat
warna basa adalah methylen blue, safranin, netral red, dan lain-lain.
Sedangkan anionnya pada umumnya adalah Cl-, SO4-, CH3COO-,
COOHCOO?. Zat warna asam umumnya mempunyai sifat dapat bersenyawa
lebih cepat dengan bagian sitoplasma sel sedangkan zat warna basa mudah
bereaksi dengan bagian-bagian inti sel. Pewarnaan bakteri dipengaruhi oleh
faktor-faktor seperti : fiksasi, peluntur warna, substrat, intensifikasi
pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup (Hadiotomo, 1990).
2.5 Bakteri Tahan Asam
Bakteri tahan asam adalah bakteri yang mempertahankan zat warna
karbol-fuchsin (fuchsin basayang dilarutkan dalam suatu campuran phenol-
alkohol-air) meskipun dicuci dengan asam klorida dalam alkohol. Sediaan sel
bakteri pada gelas alas disiram dengan cairan karbol fuchsin kemudian
dipanaskan sampai keluar uap. Setelah itu, zat warna dicuci dengan asam
alkohol dan akhirnya diberi warna kontras (biru atau hijau). Bakteri-bakteri
tahan asam (spesies Mycobakterium dan beberapa Actinomycetes yang
serumpun) berwarna merah dan yang lain-lain akan berwarna sesuai warna
kontras. Bakteri tahan asam (BTA) merupakan bakteri yang memiliki ciri-ciri
yaitu berantai karbon (C) yang panjangnya 8 - 95 dan memiliki dinding sel
yang tebal yang terdiri dari lapisan lilin dan asam lemak mikolat, lipid yang
ada bisa mencapai 60% dari berat dinding sel. Bakteri yang termasuk BTA
antara lain Mycobacterium tuberculose, Mycobacterium bovis,
Mycobacterium leprae, Nocandia meningitidis, dan Nocandia gonorrhoeae.
Mycobacterium tuberculose adalah bakteri patogen yang dapat menyebabkan
penyakit tuberculose, dan bersifat tahan asam sehingga digolongkan sebagai

7
bakteri tahan asam (BTA).Penularan Mycobacterium tuberculose terjadi
melalui jalan pernafasan (Syahru, 1994).
Bakteri tahan asam merupakan bakteri yang kandungan lemaknya sangat
tebal sehingga tidak bisa diwarnai dengan reaksi pewarnaan biasa, tetapi
harus dengan pewarnaan tahan asam. Kelompok bakteri ini disebut bakteri
tahan asam (BTA) karena dapat mempertahankan zat warna pertama sewaktu
dicuci dengan larutan pemucat. Golongan bakteri ini biasanya bersifat
patogen pada manusia contohnya adalah Mycobacterium tuberculosis. Bakteri
Mycobacterium tuberculosis dapat diisolasi dari sputum penderita TBC.
Reaksi hasil pewarnaannya jika positif terdapat bakteri TBC berwarna
merah. Selain menyerang manusia juga menyerang hewan seperti marmut,
dan kera. Penularannya dapat melalui udara yang masuk ke saluran
pernafasan (Pelzar, 2007).
Bakteri tahan asam adalah jenis bakteri yang tidak dapat diwarnai dengan
pewarnaan anilin biasa kecuali dengan menggunakan fenol dan dengan
pemanasan. Bakteri ini memilki dinding sel berlilin karena mengandung
sejumlah besar materi lipoidal oleh karena itu bakteri ini hanya dapat
diwarnai dengan pewarnaan BTA (Acid-Fast Stain). Dinding sel hidrofobik
dan impermeabel terhadap pewarnaan dan bahan kimia lain pada cairan atau
larutan encer. Ketika proses pewarnaan, bakteri tahan asam ini melawan
dekolorisasi dengan asam sehingga bakteri tersebut disebut bakteri tahan
asam (Iud, 2008).
2.6 Mikobakteri
Mikobakteria merupakan aerobik obligat yang memperoleh energi dari
oksidasi beberapa senyawa sederhana. Penambahan CO2 meningkatkan
pertumbuhan. Tidak ada aktivitas biokimia yang menandai. Dan kecepatan
pertumbuhan lebih rendah dari pada sebagian besar bakteri. Waktu untuk
menggandakan basil tuberkel sekitar 18 jam, bentuk saprofit cenderung
tumbuh lebih cepat, poliferasi terjadi pada temperatur 22-23˚C, untuk
menghasilkan pigmen yang lebih banyak dan mengurangi bentuk ”cepat
asam” daripada bentuk patogenik. Mikobakteria cenderung lebih resisten
terhadap agen kimia daripada bakteri lain karena sifat hidrofobik permukaan

8
sel dan pertumbuhannya. Basil tuberkel reisten terhadap kekeringan dan
bertahan hidup selama periode waktu yang lama dalam sputum kering.
Variasi dapat terjadi dalam koloni, pigmentasi, virulensi, temperatur
petumbuhan yang optimal dan beberapa tanda pertumbuhan atau seluler
lainnya (Iud, 2008).
Mycobacterium tuberculosis termasuk gram positif, berbentuk batang
panjang atau pendek, tidak berspora, tidak berkapsul, pertumbuhan sangat
lambat (2-8 minggu), suhu optimal 37-380C yang merupakan suhu normal
manusia. Pertumbuhannya membutuhkan tambahan makanan seperti darah,
egg yolk, serum, dan bahan kimia tertentu. Dalam jaringan, basil tuberkel
adalah bakteri batang lurus dengan ukuran sekitar 0,4 – 3 μm. Pada media
buatan, bentuk kokoid dan filamentous tampak bervariasi dari satu spesies ke
spesies lain. Segera setelah diwarnai dengan pencelupan dasar mereka tidak
dapat didekolorisasi oleh alkohol, tanpa memperhatikan pengobatan dengan
iodine. Basil tuberkel secara umum dapat diwarnai dengan pewarnaan Ziehl-
Neelsen. Media untuk membiakan mikobakteria adalah media nonselektif dan
media selektif. Media selektif berisi antibiotik untuk mencegah pertumbuhan
kontaminan bakteri dan fungi yang berlebihan. Ada tiga formulasi umum
yang dapat digunakan untuk kedua media nonselektif dan selektif, yaitu
media agar semisintetik (middlebrook 7H10 dan 7H11), media telur inspisasi
(Lowenstein-jensen), media kaldu (broth media) (Jawetz, 2008)
Mikrobakteria kaya akan lipid, bahan dari lilin dan fosfatida. Lapisan lilin
pada dinding sel ini menyebabkan bakteri ini tahan terhadap keadaan di luar
tubuh induk semang. Bakteri dapat tahan berbulan-bulan di luar tubuh induk
semang, jika terbungkus eksudat, tinja, dalam cairan atau dalam jaringan
organ tubuh yang membusuk. Dalam sel, lipid secara meluas berikatan
dengan protein dan polisakarida. Muramil dipeptida (dari peptidoglikan) yang
diperkaya dengan asam mikolat dapat menyebabkan nekrosis kaseosa. Lipid
pada beberapa perluasan bertanggung jawab terhadap kecepatan asam, yang
terganggu pada integritas dinding sel dan kehadiran lipid tertentu. Kecepatan
asam juga hilang setelah sonikasi sel mikobakteria (Lay, 1994).

9
2.7 Pewarnaan Ziehl-Neelsen
Teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen, yaitu dengan menggunakan zat
warna carbol fuchsin 0,3 %, asam alkohol 3 %, dan methylen blue 0,3%.
Pada pemberian warna pertama, yaitu carbol fuchsin, BTA bersifat
mempertahankannya. Carbol fuchsinmerupakan fuksin basa yang dilarutkan
dalam larutan fenol 5 %. Larutan ini memberikan warna merah pada sediaan
dahak. Fenol digunakan sebagai pelarut untuk membantu pemasukan zat
warna ke dalam sel bakteri sewaktu proses pemanasan. Fungsi pemanasan
untuk melebarkan pori-pori lemak BTA sehingga carbol fuchsin dapat masuk
sewaktu BTA dicuci dengan larutan pemucat, yaitu asam alkohol, maka zat
warna pertama tidak mudah dilunturkan. Bakteri kemudian dicuci dengan air
mengalir untuk menutup pori-pori dan menghentikan pemucatan. BTA akan
terlihat berwarna merah, sedangkan bakteri yang tidak tahan asam akan
melarutkan carbol fuchsin dengan cepat sehingga sel bakteri tidak berwarna.
Setelah penambahan zat warna kedua yaitu methylen blue, bakteri tidak tahan
asam akan berwarna biru (Lay, 1994).
Menurut Entjang (2003), pada pewarnaan bakteri dengan metode Ziehl-
Neelsendapat menggolongkan bakteri menjadi dua, yaitu :
1. Bakteri yang berwarna merah dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen disebut
bakteri tahan asam (acid fast).
2. Bakteri yang berwarna biru dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen disebut
bakteri tidak tahan asam (non acid fast).
Metode Ziehl-Neelsen digunakan karena cukup sederhana dan mempunyai
sensitivitas serta spesifitas yang cukup tinggi. Spesifitas dan sensitivitas yang
tinggi sebenarnya dimiliki oleh metode fluorokrom. Bakteri yang terwarnai
menunjukkan warna yang kontras dengan lingkungannya dan tidak
membutuhkan perbesaran sampai 1000x sehingga bisa mempercepat waktu.
Akan tetapi, alat yang digunakan tidak ada yaitu mikroskop fluorescens (Fitri,
2012)
2.8 Pewarnaan Kinyoun Gabbet
Pewarnaan Kinyoun Gabbet. Larutan Kinyoun (fuchsin basis 4g, fenol
8ml, alkohol 95% 20ml, H2O destilata (100 ml) dituang pada permukaan

10
sediaan, dibiarkan selama 3 menit, kemudian kelebihan zat warna dibuang
dan dicuci dengan air yang mengalir perlahan. Selanjutnya larutan Gabbet
(methylene blue 1g, H2SO4 96% 20ml, alkohol absolut 30ml, H2O destilata
50ml) dituang pada permukaan sediaan, dibiarkan 1 menit kemudian
kelebihan zat warna dibuang dan dicuci dengan air yang mengalir perlahan,
kemudian sediaan dikeringkan di udara (Fitri, 2012).

11
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat
Pada praktikum kali ini menggunakan peralatan Pembakar Bunsen,
Mikroskop, Ose Inokulasi, Kaca Objek
3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan adalah Sputum/dahak, karbol fuksin, asam
alkohol, methilen biru, larutan Kinyoun, larutan Gabbet, Oil Emersi
3.3 Prosedur kerja
3.3.1 Metode Ziehl-Neelzen
1. Siapkan kaca objek yang bersih
2. Dengan teknik steril, siapkan apusan bakteri dari masing-masing
organism
3. Biarkan apusan mengering di udara dan kemudian lakukan fiksasi
panas dengan cara seperti biasa
4. Genangi apusan karbol fuksin dan tempatkan di atas beker berisi air
pada lempeng panas yang hangat, biarkan preparat diuapi selama 5
menit
5. Bilas dengan air kran. Kaca objek yang dipanaskan harus
didinginkan terlebih dahulu sebelum dibilas
6. Pucatkan asam alcohol, dengan menambahkan pereaksi setetes
demi setetes sampai aliran alcohol hampir jernih dengan warna
merah yang agak tipis
7. Bilas dengan air keran
8. Berikan pewarna tandingan metilen biru selama 2 menit
9. Bilas apusan dengan air keran
10. Keringkan dengan kertas bibulous dan amati dibawah lensa
objektif-celup minyak
3.3.2 Metode Kinyoun Gabbet
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Diambil kaca sediaan yang bersih, bebas lemak dan tidak ada
goresan

12
3. Disiapkan sebuah kaca sediaan yang diberi tanda ukuran 2x3 cm
sebagai pola
4. Diletakan kaca pola dibawah kaca sediaan
5. Lampu speritus dinyalakan dan ose dipanaskan sampai membara
mulai ujung sampai kepangkal
6. Dengan menggunakan ose steril lalu diambil sputum yang kental
berwarna putih kekuningan atau putih kehijauan, lalu diletakan
pada kaca sediaan
7. Dibuat pulasan yang tipis pada permukaan yang telah dibersihkan
8. Pulasan bakteri dikeringkan, kemudian dilakukan Fiksasi tiga kali
berturut-turut pada ujung api bunsen, lalu diinginkan
9. Sediaan kuman diwarnai dengan larutan Kinyoun selama 3 menit,
cuci dengan air
10. Sediaan diwarnai dengan larutan gabbet selama 1 menit, cuci
dengan air, keringkan
11. Setelah kering, sediaan diamati dibawah mikroskop dengan
pembesaran objektif emersi

13
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Gambar Keterangan

1. Metode Ziehl-Neelzen

Sifat BTA : Negatif (-)


Warna sel : Biru tua

2. Metode Kinyoun Gabbet

Sifat BTA : Negatif (-)


Warna : Biru

4.2 Pembahasan
Pewarnaan BTA merupakan pewarnaan yang ditujukan terhadap bakteri
yang mengandung lemak dalam konsentrasi tinggi sehingga sukar menyerap
zat warna, namun jika bakteri diberi zat warna khusus misalnya karbol
fukhsin melalui proses pemanasan, maka akan menyerap zat warna dan akan
tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh peluntur yang kuat sekalipun
seperti asam-alkohol. Karena itu bakteri ini disebut bakteri tahan asam
(BTA).
Pada praktikum kali ini dilakukan pengecetan Bakteri Tahan Asam (BTA)
dengan menggunakan 2 metode yaitu pertama metode Ziehl Neelson (ZN)
dan Kinyoun Gabbet yang menggunakan tiga jenis cat Ziehl Neelson (ZN)
yaitu carbol fuchsin, asalm alcohol, dan methylene blue. Dan 2 jenis cat

14
untuk Kinyoun Gabbet yaitu kinyoun dan gabbet. Dalam pengecatan ini
digunakan sample sputum.
Sebelum dibuat apusan, objek glass difiksasi untuk menghilangkan lemak
yang menempel pada permukaanya dan untuk menghilangkan kontaminan
lain yang ada pada objek glass. Apusan yang dibuat tidak boleh terlalu tebal
agar bakteri tidak bertumpuk-tumpuk sehingga proses pengamatan bentuk sel
bakteri menjadi lebih mudah, tetapi apusan yang dibuat juga tidak boleh
terlalu tipis. Untuk menetukan sifat bakteri yang termasuk bakteri tahan asam
dan bakteri tidak tahan asam harus diwarnai dengan pewarnaan khusus.Pada
umumnya, bakteri tahan asam merupakan bakteri yang lapisan paling luar
selnya terdiri dari lapisan lilin, sehingga menyebabkan zat warna sukar masuk
ke dalam sel bakteri.
Pewarnaan pertama pada metode ziehl-neelzen ini, yaitu carbol fuchsin
akan sulit menembus dinding dari Bakteri tahan asam. Menunggu selama 5
menit setelah pewarnaan dengan warna carbol fuchsin dan dilakukan
pemanasan bertujuan agar cat ini dapat diserap dan melekat sempurna pada
dinding bakteri dan dinding selnya kembali seperti semula setelah dilakukan
pemanasan, untuk mewarnainya maka lapisan lilin pada sel itu harus
dihilangkan, yaitu dengan cara pemanasan supaya lilinnya meleleh, sehingga
sel tersebut bisa dengan mudah menerima zat warna. Selain sukar menerima
zat warna, bakteri tahan asam juga sukar menyerap bahan penghilang zat
warna (pencuci), sehingga walaupun dicuci dengan larutan asam encer, sel
bakteri ini akan tetap mengikat zat warna yang telah masuk. Namun perlu
diperhatikan, pemanasan dilalukan jangan sampai mendidih cukup sampai
menguap agar sel-sel bakteri tersebut tidak rusak.
Penambahan alkohol berfungsi untuk membilas atau melunturkan zat
warna (decolorization) pada sel bakteri (mikroorganisme). Saat sel-sel bakteri
sudah mampu menyerap warna carbol fuchsin maka dinding sel tersebut akan
kembali tertutup pada suhu semula. Menunggu selama ½ menit setelah
penambahan larutan asam alkohol bertujuan agar zat warna dapat luntur
secara sempurna dan tidak ada yang tersisa. Saat penambahan asam alcohol
ini, maka bakteri yang bukan BTA akan dilunturkan kembali warna carbol

15
fuchsin tersebut karena tidak mampu mengikat kuat seperti halnya bakteri
BTA.
Terakhir dilakukan penambahan Methylene blue. Methylene Blue
merupakan pewarna tandingan atau pewarna sekunder. Zat ini berfungsi
untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan pewarna utama setelah
perlakuan dengan asam alkohol. Menunggu selama 2 menit setelah
penambahan pewarna methylene blue bertujuan agar cat ini dapat diserap
sempurna pada dinding bakteri non BTA sehingga ada perbedaan warna
antara bakteri BTA dan Non BTA. Zat warna methylene blue masuk ke
dalam sel bakteri non BTA yang permeabilitas dinding selnya membesar
akibat lapisan lipid pada bakteri non BTA terekstraksi oleh asam alkohol,
sehingga menyebabkan sel bakteri non BTA tersebut menjadi berwarna biru.
Pada bakteri BTA dinding selnya sudah terdehidrasi dengan perlakuan
alkohol, pori – pori mengkerut, daya rembes dinding sel dan membran
menurun sehingga zat warna methylene blue tidak dapat masuk sehingga sel
bakteri BTA berwarna merah.
Adapun kelemahan dan kelebihan Ziehl Neelsen yakni: latar belakang
berwarna biru terang, basil merah jelas, reagen terjangkau dan mudah
didapat, fenol diencerkan 5% dan tidak dipanaskan karena pemanasan
dilakukan pada proses pewarnaan sedian zat warna utama maka dari itu agak
lama waktu yang dibutuhkan.
Metode Kinyoun Gabbet Dinding bakteri yang tahan asam mempunyai
lapisan lilin dan lemak yang sukar ditembus cat. Oleh karena pengaruh fenol
dan kadar cat yang tinggi maka lapisan lilin dan lemak itu dapat ditembus cat
basic fuchsin. Pada waktu pencucian lapisan lilin dan lemak yang terbuka
akan merapat kembali. Pada pencucian dengan asam alkohol warna fuchsin
tidak dilepas. Sedangkan pada bakteri tidak tahan asam akan luntur dan
mengambil warna biru dari methylen blue.
Kelemahan dan Kelebihan Pewarnaan Kinyoun-Gabbet antara lain adalah:
latar belakang berwarna ungu dan buram, basil kurang merah, lekosit ungu,
reagen jarang dijumpai karena itu mahal harganya, komposisi dari fenol
kristal/bubuk murni dan pada saat pembuatan reagen sebelum proses

16
homogenisasi zat warna primer denagn carbol fuchsin dipanaskan/dilelehkan
pada penangas atau autoclaf, dan terakhir pada proses pewarnaan lebih
mudah, cepat dan praktis.

17
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pewarnaan BTA merupakan pewarnaan yang ditujukan terhadap bakteri
yang mengandung lemak dalam konsentrasi tinggi sehingga sukar menyerap
zat warna, namun jika bakteri diberi zat warna khusus misalnya karbol
fukhsin melalui proses pemanasan, maka akan menyerap zat warna dan akan
tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh peluntur yang kuat sekalipun
seperti asam-alkohol. Karena itu bakteri ini disebut bakteri tahan asam
(BTA).
Prinsip dari pewarnaan BTA dinding bakteri yang tahan asam mempunyai
lapisan lilin dan lemak yang sukar ditembus cat. Oleh karena pengaruh fenol
dan pemanasan maka lapisan lilin dan lemak itu dapat ditembus cat basic
fuchsin. Pada waktu pencucian lapisan lilin dan lemak yang terbuka akan
merapat kembali. Pada pencucian dengan asam alkohol warna fuchsin tidak
dilepas. Sedangkan pada bakteri tidak tahan asam akan luntur dan mengambil
warna biru dari methylen blue.
5.2 Saran
Sebaiknya pada saat pemberian asam alkohol jangan sampai berlebihan
dan jangan juga terlalu sedikit. Jika berlebihan akan sulit membedakan sel
BTA dan non BTA, jika terlalu sedikit tidak akan melunturkan zat warna
secara sempurna. Oleh karena itu perlu ketelitian pada saat pemberian asam
alkohol.

18
DAFTAR PUSTAKA

Fitri, N. 2012. Pewarnaan Ziehl Neelsen. Online.http://mediblock.blogspot.com


/2012/10/-mikrobiologi-1- pewarnaan.html. Diakses pada tanggal 16 Mei
2018

Hadiotomo, R. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : Pt Gramedia.

Hendro. 2012. Pewarnaan BTA ( Bakteri Tahan Asam). http://analisbantul.Blogs


pot.com/2012/09/pewarnaan-bta-bakteri-tahan-asam.html. Diakses pada
tanggal 16 Mei 2018

Iud, W. 2008. Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi, UMM Pres,
Malang.

Jawetz, M. 2008, Mikrobiologi Kedokteran, edisi 23, Penerbit Buku Kedokteran


EGC, Jakarta.

Krisno, A. 2011. http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2011/01/12/macam-


macam-teknik-pewarnaan-bakteri/.html. Diakses pada tanggal 16 Mei
2018

Lay, B. W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raga Grafindo


Persada.

Pelzar, C. 2007. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press: Jakarta

Syahru, dkk. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Jakarta: UI
Press.

19

Anda mungkin juga menyukai