Anda di halaman 1dari 38

1

BOOK REPORT
A. Judul Buku : Educating for Character ( Mendidik untuk Membentuk Karakter)
B. Pengarang : Thomas Lickona
C. Penerjemah : Juma Abdu Wamaungo
D. Penerbit : Bumi Aksara
E. Tahun Terbit : Tahun 1991 ( Bahasa Inggris )
Tahun 2012 ( Bahasa Indonesia )
F. Jumlah Halaman : 600 halaman

G. Rumusan masalah
1. Bagaimana cara mendidik untuk menilai dan membentuk karakter?
a. Bagaimana wacana dalam Pendidikan Nilai ?
b. Bagaimana cara mendidik untuk membentuk karakter dan mengapa sekolah
membutuhkan dukungan dari lingkungan rumah?
c. Nilai-nilai apa yang seharusnya diajarkan di sekolah?
d. Apa yang dimaksud dengan karakter baik ?
2. Bagaimana strategi pengajaran di dalam kelas tentang rasa hormat dan tanggung
jawab?
a. Bagaimana cara guru menjadi teladan dan pemberi kasih sayang bagi
muridnya?
b. Bagaimana menciptakan komunitas yang bermoral di dalam kelas ?
c. Bagaimana guru mengajarkan disiplin moral?
d. Bagaimana menciptakan lingkungan kelas yang demokratis ?
e. Apa hubungan kurikulum dalam mengajarkan nilai ?
f. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif ?
g. Mengapa kesadaran nurani sangatlah penting bagi seorang pendidik ?
h. Mengapa refleksi sangat penting dalam pendidikan moral ?
i. Bagaimana cara meningkatkan tingkat diskusi moral ?
j. Mengapa mengajarkan masalah kontroversial diperlukan ?
k. Sejauh mana mengajarkan anak-anak menyelesaikan konflik sangat diperlukan ?
2

3. Bagaimana strategi umum sekolah dalam mengajarkan tentang rasa hormat dan
tanggung jawab ?
a. Bagaimana mengajarkan kepedulian di luar kelas ?
b. Bagaimana membangun budaya moral yang positif di sekolah ?
c. Bagaimana cara mengajarkan pendidikan seks di sekolah ?
d. Bagaimana cara mengajarkan buruknya narkoba dan alkohol ?
e. Bagaimana cara mengkolaborasi sekolah, orang tua, dan masyarakat agar dapat
bekerja sama ?

H. Isi Buku
1. Bagaimana cara mendidik untuk menilai dan membentuk karakter?
a. Wacana dalam Pendidikan Nilai
Cerdas dan berprilaku baik adalah tujuan dari pendidikan. Tujuan tersebut
diawali dengan pendidikan nilai di manapun individu berada. Apakah sekolah harus
memberikan pendidikan tentang nilai-nilai ? Ada dua pendapat yang bertolak
belakang atas pertanyaan tersebut. Pendapat pertama mengatakan perlu, pendapat
kedua mengatakan tidak perlu nilai antara tiap individu berbeda. Namun dengan
berjalannya waktu di mana muncul tindakan-tindakan yang memperlihatkan nilai
moral menurun, maka pemikiran bahwa pendidikan nilai tidak diperlukan mulai
dikaji kembali.
Apa penyebab nilai moral menurun ? Menurut Thomas Lickona ada
beberapa hal yang menyebabkan nilai moral menurun di Amerika Serikat, yaitu :
 Bangkitnya logika positivisme yang menyatakan bahwa tidak ada
kebenaran mutlak dan tidak ada sasaran benar dan salah, telah
menenggelamkan pendidikan moral dari permulaan dunia pendidikan Barat.
 Pemikiran relativitas moral dengan pandangannya bahwa semua nilai
adalah relatif, berpengaruh terhadap terlupakannya pendidikan karakter.
 Paham personalisme yang menyatakan setiap individu bebas
untuk memilih nilai-nilai sendiri dan tidak bisa dipaksakan oleh siapapun
membuat Pendidikan Nilai mulai terkikis.
3

 Meningkatnya paham pluralisme yang mempertanyakan nilai-nilai


siapakah yang diajarkan, semakin melengkapi penolakan Pendidikan Nilai.
Dampak dari semua itu, pendidikan di dunia tahun 60 - 70 an masih
berfokus pada nilai capaian akademik yang berakibat pada semakin
individualistisnya seseorang yang membentuk situasi-situasi yang dapat membawa
bangsa menuju jurang kehancuran.
Situasi-situasi itu adalah :
1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk
3) Pengaruh kelompok yang kuat dalam tindakan kekerasan
4) Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas, dan
alkhohol
5) Kaburnya pedoman moral baik dan buruk
6) Penurunan etos kerja
7) Rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru
8) Rendahnya rasa tanggung jawab baik sebagai individu dan warga negara
9) Ketidakjujuran yang telah membudaya
10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama
Dapatlah disimpulkan, dengan munculnya situasi-situasi tersebut, maka
sangatlah beralasan jika sekolah memberikan arahan yang jelas dan menyeluruh
tentang komitmen pendidikan moral dan pengembangan karakter.
Hingga saat ini banyak sekolah yang berfokus pada capaian akademik, namaun
yang penting kita sudah menyadari bahwa pendidikan karakter pun tak boleh
ditinggalkan. Mengembangkan karakter anak-anak di dunia yang semakin berubah
bukanlah suatu tugas yang sederhana, namun adalah waktunya bagi kita untuk
menghadapai tantanghan ini.
4

b. Mendidik untuk Membentuk Karakter dan Mengapa Sekolah Membutuhkan


Dukungan dari Lingkungan Rumah
Sekolah dan orang tua memiliki kewajiban yang sama dalam memberikan
Pendidikan Nilai kepada anak. Mereka harus saling mendukung dalam memberikan
pendidikan nilai terhadap anak. Yang terjadi pada umumnya adalah saling tidak
mendukung di antara keduanya. Banyak peristiwa yang terjadi di mana orang tua
memprotes tindakan guru ketika guru menerapkan karakter yang baik untuk
muridnya. Misalnya tentang mencuri, ada orang tua yang mengatakan kepada
anaknya bahwa tidak apa-apa mencuri karena anaknya belum dewasa. Bayangkan
karakter apa yang terbentuk dari anak tersebut ketika dia tumbuh dewasa.
Yang kadang-kadang justru tak terpikirkan adalah sebuah sekolah dapat
membentuk karakter buruk terhadap muridnya yang awalnya merupakan anak baik-
baik yang mendapat pendidikan nilai standar di dalam keluarganya. Hal ini dapat
terjadi di kala guru lengah dalam memperhatikan perilaku murid-muridnya,
misalnya dalam peristiwa bullying. Seorang anak yang dididik baik dalam keluarga
justru menjadi berkarakter buruk karena lengahnya guru di sekolah. Dengan kata
lain pengasuhan orang tua merupakan dasar pengukuran yang digunakan ketika
seorang anak terlibat dalam masalah hukum. Sebuah studi sederhana menemukan
bahwa semakin besar kasih sayang antara anak dan orang tuanya semakin kecil
kemungkinan anak-anak tersebut terlibat dalam suatu pelanggaran.
Memang tidaklah mudah dalam memberikan Pendidikan Nilai apa lagi
hasilnya tak dapat dituai secara langsung. Project Peningkatan kualitas Anak-Anak
California telah berupaya dalam melakukan sebuah penelitian dengan kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Hasil dari penelitian tersebut baru dapat dituai 5
tahun kemudian yang membuktikan bahwa karakter anak-anak di kelas eksperimen
lebih baik dibandingkan dengan anak-anak di kelas kontrol walaupun tidak semua
hasil uji dan observasi statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Pendekatan lain adalah dengan mulai mengetahui para orang tua sebenarnya
terisolir dari lingkungan tempat anak-anak mereka berada, tidak saling mengenal
orang tua dari teman anak-anak mereka, tidak memahami tentang batasan-batasan
apa saja yang semestinya dipertimbangkan dan disesuaikan dengan usia anak-anak
5

mereka, dan juga masalah yang muncul ketika anak anak tidak mampu untuk
menantang otoritas orang tua. Untuk membantu keluar dari permasalahan tersebut,
sebuah sekolah k-12 menyediakan satu paket pendidikan dari Kindergarten atau TK
hingga kelas 12 di Washington DC telah membuat “komunitas orang tua” yang
mengadakan pertemuan secara rutin (sebulan sekali contohnya), yang dilaksanakan
di sekolah ataupun di rumah salah satu orang tua.
Jadi kesimpulannya sekolah harus memberikan pendidikan nilai yang
didukung oleh keluarga walaupun hasilnya tak dapat dituai langsung. Jika
Pendidikan Nilai yang diberikan sekolah tidak mendapat dukungan keluarga, maka
pendidikan tersebut akan berkurang dampaknya bahkan hilang begitu saja.
Kita simak kisah di bawah ini yang menceritakan bagaimana keluarga dapat
memberi masukan nilai buruk kepada seorang anak.
Sejak tahun 1979, sebagai bagian dari kurikulum pendidikan sosial, para
siswa kelas delapan di Brookline, Massachusetts, telah berpartisipasi dalam
program penganugrahan yang dinamakan Facing History And Of Ourselves. Dari
menariknya penelitian tentang Nazi Holocaust dan kecenderungan umum manusia
untuk berprasangka dan berbuat kesalahan, Facing History And Of Ourselves
menimbulkan sebuah pertanyaan, “mengapa hal ini dapat terjadi?”

Selama program pendidikan 8 minggu tersebut, para siswa menuangkan


pemikiran dan perasaan mereka ke dalam jurnal-jurnal, yang menjadi satu dari
beberapa indikator terpenting dari para kurikulum. Pada akhir pertemuan ke 8,
seorang anak perempuan membuat tulisan:

Saya senang bagian ini telah diajarkan kepada kami, khususnya kepada saya. Pada
permulaan program, saya menyadari bahwa saya memiliki prasangka terhadap
para Yahudi, dan senang bawa mereka banyak yang telah terbunuh. Saya tahu
bahwa hal ini sangatlah buruk, apalagi jika itu adalah agamamu. Kemudian kita
semua dan diskusi kelas yang telah kami lakukan memberikan bukti kepada saya
bahwa pemikiran saya jelas jelas salah. Orang-orang Yahudi bukanlah orang lain,
mereka sama dengan saya juga teman teman yang lain.
6

Organisasi Facing History And Of Ourselves Brookline juga menyediakan


berbagai training bagi para staf sekolah yang ingin mengikuti program ini. Sampai
saat ini, kurikulum Facing History And Of Ourselves telah digunakan di lebih dari
300 badan pelatihan di 46 Negara Amerika Serikat dan Kanada.
Seorang ibu mengisahkan pengalaman anaknya yang usianya menuju
dewasa sebagai berikut:
Anak saya mengatakan bahwa ia melihat sebuah perubahan dalam waktu
enam tahun semenjak dia lulus SMA. Ia mengatakan bahwa remaja sekarang hidup
dalam pesta setiap akhir pekan yang isinya adalah bir, kokain, dan seks bebas.
Mereka biasanya menggunakan rumah ketika orang tua dari salah seorang teman
mereka sedang pergi dari akhir pekan. Para orang tua tidak menyadari apa yang
sebenarnya dilakukan anak - anak mereka, dan ternyata salah seorangnya tersebut
merupakan anak seorang menteri. Mereka adalah orang-orang yang tinggal di
rumah-rumah megah yang halaman yang luas. Dari luar, mereka tampak sebagai
orang-orang dari keluarga terpandang.

c. Nilai-nilai yang seharusnya diajarkan di sekolah


Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, memberikan suatu
dukungan baru bagi para theolog dan filsuf bahwa terdapat sebuah dasar hukum
moral yang melarang tindakan yang bersifat tidak adil terhadap orang lain. Dasar
hukum moral ini seiring dengan prinsip-prinsip agama yang menyatakan untuk
menyayangi sesama. Selain itu dasar hukum moral ini juga dapat dibuktikan dengan
menggunakan alasan manusiawi yang bersifat rasional.
Implikasi pendidikan terhadap hukum dasar yang berlaku secara universal
ini sangatlah penting, memberikan sebuah tujuan bagi sekolah dalam memberikan
materi moral yaitu berlaku adil dan peduli terhadap sesama. Program pendidikan
moral yang berdasarkan pada dasar hukum moral dapat dilaksanakan dalam dua
nilai moral yang utama yaitu sikap hormat dan bertanggung jawab. Nilai-nilai
tersebut mewakili dasar moralita utama yang berlaku secara universal. Nilai
tersebut memiliki tujuan, nilai yang nyata, di mana mereka mengandung nilai-nilai
7

baik bagi semuaorang baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari
masyarakat.
Seperti yang dikatakan oleh Lickona, substansi dari karakter baik adalah
kebajikan. Kebajikan merupakan kecenderungan untuk melakukan tindakan yang
baik menurut sudut pandang moral universal. Maksud dari moral universal ini
adalah tindakan-tindakan tersebut dilakukan oleh orang yang memiliki kualitas-
kualitas yang secara objektif dan intrinsik baik. Secara objektif baik maksudnya,
bahwa kualitas-kualitas itu diakui dan dijunjung tinggi oleh agama-agama dan
masyarakat beradab di segenap penjuru dunia.
Karena itu kualitas-kualitas itu dianggap mengatasi ruang dan waktu. Ia
berlaku di mana pun dan kapan pun(walaupun bentuk ekspresi konkretnya bisa jadi
berbeda-beda antara daerah yang satu dengan lainnya, demikian pula antara zaman
dulu, sekarang serta masa depan).Oleh karena itu, maka menurut Lickona ada dua
macam kebajikan fundamental yangdibutukan untuk membentuk karakter yang
baik yaitu rasa hormat dan tanggung jawab. Rasa hormat berarti menunjukkan
penghargaan seseorang terhadap orang lain atau sesuatu. Hal itu terwujud dalam
tiga bentuk, yaitu rasa hormat terhadap diri sendiri, orang lain, dan segala bentuk
kehidupan beserta dengan lingkungan yang mendukung keberlangsungannya.
Sedangkan tanggung jawab adalah perluasan dari rasa hormat. Tanggung jawab
merupakan tindakan aktif untuk menanggapi secara positif kebutuhan pihak lain.
Selain dua kebajikan fundamental itu, ada beberapa kebajikan lain yang
dibutuhkan untuk membentuk karakter yang baik. Kebajikan-kebajikan lain itu
adalah kejujuran, keadilan,toleransi, kebijaksanaa, disiplin diri, tolong menolong,
peduli sesama, kerja sama, keberanian, dan sikap demokratis. Nilai-nilai khusus
tersebut merupakan bentuk dari rasa hormat dan atau tanggung jawab ataupun
sebagai media pendudkung untuk bersikap hormat dan bertanggung jawab.
“Kesopanan umum” juga merupakan bentuk lain dari penghormatan terhadap orang
lain.
Suatu hari penulis pernah menghabiskan waktu di kelas Molly Angelini,
seorang guru kelas lima di Moravia, New York, yang telah menjadikan kesopanan
sebagai prioritas utama dalam sikap penghormatan. Jika ada seorang siswa yang
8

menutup meja belajar dengan membantunya, maka ibu Angelini berhenti


memberikan penjelasan dan membiarkan siswa tersebut untuk mengatakan “maaf”
kepada seluruh isi kelas (yang sebelumnya pernah mereka diskusikan bahwa suara
atau bunyi yang keras merupakan suatu interupsi jika hal itu terjadi ketika seorang
berbicara atau menjadi sebuah gangguan ketika orang lain sedang berpikir).
Anak-anak tersebut diharuskan untuk meminta maaf jika mereka memanggil nama
seseorang dengan sebutan lain (yang tidak baik). Mereka juga diajarkan untuk
mengatakan “Pardon me” atau daripada “what?” Ketika mereka meminta
seseorang untuk mengulang kembali apa yang diucapkan. Mereka diajarkan pula
untuk mengatakan “terima kasih” kepada para pedagang dan pelayan di kantin
yang memberikan pelayanan kepada mereka pada saat istirahat. Dan mereka
diajarkan sikap sikap tersebut bukan dengan cara yang kaku tetapi dengan cara
membuat mereka paham akan nilai-nilai dalam menghormati orang lain.

d. Apa yang dimaksud dengan karakter baik ?


Karakter baik terdiri dari 3 bagian yang saling berhubungan seperti yang tergambar
dari bagan di bawah ini :

Perasaan Moral :
Pengetahuan Moral : - Hati nurani
- Kesadaran moral - Harga diri
- Pengetahuan nilai moral - Empati
- Penentuan perspektif - Mencintai hal yang
- Pemikiran moral baik
- Pengambilan keputusan - Kendali diri
- Pengetahuan pribadi -Kerendahan hati

Tindakan Moral :
- Kompetensi
- Keinginan
- Kebiasaan
9

Untuk menggambarkan bagaimana karakter melibatkan pengetahuan moral,


perasaan moral, dan tingkat tindakan moral, perkenalkan penulis berbagi sebuah
kisah yang disampaikan oleh seorang ayah tentang anaknya yang berusia 19 tahun.
Andy adalah seorang anak yang pintar dengan talenta khusus di bidang
musik, namun dia harus melewati masa yang sulit. Dia tidak tahu apa yang dia
ingin lakukan dengan kehidupannya atau apa yang harus dilakukan sehingga dia
mengambil keputusan. Tanpa suatu arahan, dia tidak termotivasi untuk
melanjutkan pendidikan nya ke sekolah menengah atas (College) dan dia tidak
menyukai pekerjaan aneh yang telah diambilnya. Dia tinggal dengan kedua orang
tuanya namun ketidakbahagiaannya seringkali membuat hubungan dengan kedua
orang tuanya menjadi tegang.
Kemudian Andy mendapat pekerjaan yang memanfaatkan kalian
bermusiknya dan keahlian khusus di alat musik organ. Dia bekerja sebagai asisten
seorang pria di akhir usia 20 tahunnya sebagai tenaga menyetel organ piano di
kota besar. Orang ini memiliki bisnis yang sangat baik dalam organ sehingga
banyak gereja di kota itu yang membutuhkan jasanya. Untuk pertama kali dalam
hidupnya Andy memperoleh penghasilan yang baik dari pekerjaan yang dia
nikmati.
Meskipun demikian, sekitar tiga minggu kemudian Andy menemui ayahnya
dan mengatakan bahwa ada sesuatu hal yang sangat mengganggunya. Andy
mendapati bosnya melakukan bisnis yang curang. “Dia merampok gereja-gereja
ini” jelas Andy. “Dia mengatakan bahwa gereja-gereja tersebut harus menyetel
organnya empat kali dalam setahun, yang tentu saja tidak benar. Aku telah
mengawasinya-- dia akan datang dan memainkan organ yang ada selama setengah
jam dan berbuat seolaholah seperti dia sedang menyetel nya, namun sebenarnya
dia tidak melakukan apapun. Aku pikir aku tidak dapat bekerjanya lagi”.
Beberapa hari kemudian, Andy berhenti dari pekerjaan itu dan pergi ke
seorang pendeta di salah satu gereja guna menyarankan beliau untuk mencari
tenaga penyetel lainnya. Ayah Andy, ketika menceritakan kisah ini mengatakan:
“Dia berhenti dari pekerjaan dan penghasilan yang bagus, namun dengan alasan
10

yang bagus. Saya mengatakan padanya kalau saya bangga atas apa yang telah dia
lakukan”.
Keputusan Anda sudah jelas melibatkan tiga bagian karakter: pengetahuan
moral (menilai perilaku bosnya sebagai perilaku yang salah), perilaku moral
(merasa marah atas dia yang dibayarkan gereja untuk layanan palsu dan merasa
terganggu ketika menjadi bagian dari bisnis tidak jujur) dan tindakan moral
(berhenti dari pekerjaannya dan memberitahu paling tidak salah satu gereja
tentang masalah yang ada dalam hal ini, penilaian moral dapat meningkatkan
perasaan yang kuat, dan penilaian maupun perasaan tersebut memotivasi tindakan
moral.

Ilustrasi berikut ini mengisahkan seorang anak laki-laki yang berusia 15 tahun yang
diceritakan berikut ini:
Jhon seorang anak yang cerdas dan biasanya dapat dipercaya, bergabung
dengan empat orang teman kelasnya dalam suatu tamasya makan malam selama
perjalanan French club ke Quebec yang diselenggarakan sekolahnya. Karena para
siswa ini memiliki reputasi dalam hal tanggung jawab, guru mereka memberi ijin
khusus bagi mereka yang untuk berpergian sendiri. Dengan makan malam mereka,
para siswa ini memesan sebotol anggur. Dengan demikian, apa yang mereka
lakukan telah melanggar kebijakan sekolah yang berbunyi “tidak ada minuman
beralkohol selama perjalanan sekolah”, yang sangat dipahami oleh semua siswa.
Ketika guru yang bersangkutan kemudian mengetahui pelanggaran tersebut, ia
merasa dikhianati secara personal oleh perilaku para siswa tersebut. Ketika para
siswa ini kembali ke sekolah, kepala sekolah memberikan hukuman lima hari di
sekolah.
Ketika ayahnya mengetahui apa yang telah dia lakukan, beliau cukup
marah dan meminta penjelasan dari Jhon. Jhon berkata, “Jujur aku melihat tidak
ada yang salah dengan perbuatanku - aku tahu tidak akan mabuk”. Ayahnya
membantu Jhon untuk melihat apa yang dia dan teman-temannya lakukan itu,
dengan beberapa alasan: perbuatan mereka melanggar kepercayan personal guru
11

mereka. Perbuatan mereka itu melanggar kebijakan menenggak minuman


beralkohol yang ditentukan sekolah. Pada hakikatnya, para siswa hanya
memahami dan disetujui pada acara tamasya tersebut; dan perbuatan mereka itu
membahayakan acara tamasya sekolah di masa mendatang, yang diketahui sudah
berada dalam bahaya dikarenakan oleh permasalahan sebelumnya sehubungan
dengan kebiasaan siswa menenggak minuman keras.
“Saya terkejut, kata Sang ayah” bahwa Jhon tidak melihat dampak tersebut
ketika dia dan teman-temannya mengambil keputusan untuk memesan anggur.

Dikisahkan beberapa tahu lalu New York Times mengangkat cerita yang
memberikan contoh lain dari perbedaan antara mengetahui apa yang baik dan
pelaksanaannya.
Menurut laporan Times, random house telah mengumumkan bahwa
perusahaan tersebut tidak akan meneruskan rencana untuk mempublikasikan
sebuah buku yang berjudul Telling Right From Wrong, yang berhubungan dengan
filosofi moral yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kejadian ini
merupakan hal yang sangat disesali, menurut editor random house, karena buku
tersebut sungguh Brilian dalam perlakuan Etikanya dan merupakan hasil karya
yang sangat baik.
Alasan untuk menggantikan publikasi buku tersebut adalah pengarang
buku yang sarat dengan wawasan tentang etika ini telah mengirimkan sebuah surat
kepada Random House yang sangat memuji bukunya dan buku ini Pura-pura
ditulis oleh Profesor Robert Nozick, Ketua Departemen Filosofi Universitas
Harvard. Sesungguhnya, surat yang bersifat pujian tersebut telah ditulis oleh
pengarang buku itu sendiri. Ketika penipuan pengarang buku ini mulai ketahuan,
beliau tidak mengajukan permintaan maaf, malahan beliau menyatakan bahwa
surat tipuanya tersebut merupakan “sportivitas yang sarat dengan semangat.”
Cerita pengalaman di atas didukung oleh kisah di bawah ini !
“Apa yang seandainya Anda lakukan apabila Anda menemukan dompet
atau buku saku seseorang di sebuah toko?” Ia menjawab,” Saya tahu apa yang
12

seharusnya saya lakukan yaitu menyerahkannya ke kantor polisi. Namun, anda


tidak melakukan hal ini di New York. Ambil saja uangnya dan uang sisanya. Anda
harus seharusnya mencari tahu siapa pemiliknya, namun pastinya anda agak
sedikit gila kalau anda melakukan hal ini di New York.
Mencengangkan bukan ? Tindakan bermoral baik justru dianggap suatu
perbuatan aneh di New York saat itu. Dalam kisah tersebut dapat kita pelajari
seberapa jauh kita peduli tentang bersikap jujur, adil dan pantas terhadap orang lain
sudah jelas memengaruhi apakah pengetahuan moral kita mengarah pada perilaku
moral. Sisi emosional karakter ini, seperti sisi intelektualnya terbuka terhadap
pengembangan oleh keluarga dan sekolah. Aspek-aspek berikut kehidupan
emosional moral menjadi perhatian kita sebagaimana kita mencoba menjadi
karakter yang baik.
Diperlukan waktu yang lama bagi sebuah nilai untuk menjadi sebuah
pengetahuan kebaikan yang berkembang menjadi kesadaran moral yang akhirnya
membentuk tindakan moral. Pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan
moral dalam manifestasinya merupakan kualitas karakter yang membuat nilai-nilai
moral menjadi realitas yang hidup.

2. Strategi Kelas dalam Pengajaran tentang Rasa Hormat dan Tanggung Jawab
a. Guru Sebagai Pengasuh, Contoh, dan Mentor
Guru berpotensial sekali dalam memberi pengaruh, baik positif maupun
negatif terhadap perkembangan karakter seorang anak. Anak-anak akan merasa
senang jika diperlakukan dengan baik dan hangat. Ketika anak-anak didukung
dengan perlakuan seperti itu, mereka akan senang memperlakukan orang lain,
hewan, bahkan benda mati dengan baik dan hangat.
Dalam menanamkan pendidikan karakter, guru memiliki beberapa cara, di
antaranya:
1) guru menjadi seorang penyayang yang efektif, menyayangi dan
menghormati murid-murid, membantu mereka meraih sukses disekolah,
membangun kepercayaan diri mereka, dan membuat mereka mengerti apa itu
13

moral dengan melihat cara guru mereka memperlakukan mereka dengan etika
yang baik.
2) guru menjadi seorang model, yaitu orang-orang yang beretika yang
menunjukkan rasa hormat dan tanggung jawabnya yang tinggi, baik didalam
maupun diluar kelas. Guru dapat memberi contoh dalam hal-hal yang
berkaitan dengan moral beserta alasannya, yaitu dengan cara menunjukkan
etikanya dalam bertindak di sekolah dan di lingkungannya.
3) guru menjadi mentor yang beretika, memberikan instruksi moral dan
bimbingan melalui penjelasan, diskusi kelas, bercerita, pemberian motivasi
secara personal, memberikan umpan balik yang korektif ketika ada siswa yang
menyakiti temannya atau menyakiti dirinya sendiri.

Di bawah ini terdapat beberapa kisah tentang guru yang menjadi seorang
penyayang, mentor, dan model, di antaranya :
Dalam sebuah kelas di mana kelas satu dan kelas dua disatukan di
Scarborough, Ontario, Jimmy mendapatkan giliran untuk membacakan hasil
kerjanya, yaitu buku tentang saya pada teman-temannya. Dia gugup sekali.
Walaupun demikian gurunya tidak berkata “Kamu butuh seseorang untuk
membantumu?” (Biasanya dalam kasus seperti ini ke masiswa lain mengambil alih
tugasnya). Akan tetapi, gurunya berkata “Jimmy, apakah kamu mau Sam duduk di
samping mu sehingga kalian dapat mengerjakannya bersama sama?” Jimmy
menerima tawaran gurunya ini tanpa ada perasaan malu, karena Jimmy
merupakan kolaboratornya Sam dan Jimmy bukan seorang penerima bantuan yang
pasif. Dalam hal ini, Jimmy merasa lebih dihargai.

Sebagai seorang guru pemula kelas dua di SD Belle Sherman di Ithaca, New
York, Linda Nickles mendapati bahwa memperlihatkan masalah personal tentang
dirinya dapat menciptakan sebuah hubungan yang hangat dan terbuka dengan
para siswanya. Tahun ini, teman baik saya meninggal karena kanker. Saya pernah
menangis di depan mereka pada hari itu, sehingga saya memberitahukan apa yang
terjadi. Mereka berkata, “Tidak apa- apa kalau Ibu menangis”. Setelah beberapa
14

saat anak-anak akan terbuka pada Anda. Beberapa anak mungkin akan
membutuhkan waktu yang lebih lama dari siswa lainnya. Bahkan sampai dengan
sekarang seorang anak perempuan masih belum terbuka, padahal sebentar lagi
akan mendekati akhir tahun. Saya merasa ada sesuatu yang salah di rumahnya dan
saya mencurigai adanya kekerasan. Saya berkata padanya, “Carla kalau kamu
memberitahu Ibu apa yang terjadi, maka Ibu akan membantumu menghentikannya.
Dari hal itu, saya mengetahui bahwa ketiga saudara laki-lakinya telah melakukan
kekerasan secara seksual terhadapnya. Kemudian saya melaporkan kepada kepala
sekolah, dan akhirnya pihak sekolah dapat membantu masalah keluarga tersebut.

b. Menciptakan komunitas yang bermoral di dalam kelas


Sekolah merupakan sebuah bentuk dari komunitas kehidupan dalam
menciptakan komunitas yang bermoral di kelas. Pendidikan telah gagal jika
pendidikan mengabaikan hal tersebut. Oleh sebab itu guru harus membuat
perkembangan komunitas moral kelas sebagai sebuah objektif dari sentral
pendidikan. Namun, tidak mudah menghidupkan komunitas tersebut dalam kelas.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh guru dalam membangun
komunitas moral dalam kelas yaitu:
1) Guru membantu siswa untuk saling mengenal. Hal ini dapat
mempermudah untuk menilai orang lain dan merasa saling menyayangi
jika sudah mengenal
2) Guru mengajarkan siswa untuk saling menghormati, menguatkan dan
peduli. Ketika para siswa saling mengetahui seluk beluk temanya
masing-masing, guru akan lebih mudah untuk mengembangkan aspek
kedua dari komunitas moral, yaitu rasa hormat, saling menguatkan dan
peduli siswa dengan temannya. Ini merupakan salah satu cara untuk
mencegah kekerasan pada anak, membangun nilai-nilai respek dan
kebaikan, dan membangun kepercayaan diri diantara para siswa
3) Guru mengembangkan rasa kebersamaan siswa. Salah satu caranya
yaitu guru mengembangkan sebuah identitas kelas melalui kebiasaan
15

dan tradisi. Selain itu guru mengembangkan perasaan setiap siswa agar
merasa menjadi seorang anggota kelompok yang berharga. Kemudian
guru juga mengembangkan rasa tanggung jawab siswa terhadap
kelompok.

Di bawah ini ada beberapa pengalaman guru dalam menciptakan komunitas


yang bermoral di dalam kelas.
Di SD Lawrence di Brookline, Massachusetts, selama minggu pertama
sekolah, guru TK nya anak kami Matthew meminta setiap anak untuk menggambar
diri mereka masing masing di setelah bagian atas selembar kertas. Di bawah
gambar mereka ditulis tiga kalimat yang harus dilengkapi oleh para siswa (dengan
bantuan guru jika diperlukan): “Nama saya adalah __________ “Saya
suka__________; dan Nomor telepon saya _______.”
Ibu Watts kemudian membuat buku kelas untuk para siswanya. Matthew menulis di
kertasnya kalau dia suka berenang dan menggambar. Di hari ketiga buku kelas itu
dibagikan kepada masing - masing siswa, Matthew sangat senang sekali karena dia
mendapat dua telepon dari temannya saat dia tiba di rumah. Telepon pertama, dari
Jason, salah satu siswa yang suka berenang. Telepon yang kedua, dari Yoshi
seorang anak pemalu asal Jepang yang suka menggambar. Selanjutnya, Matthew
dan Yoshi menghabiskan beberapa waktu mereka untuk menggambar bersama.
Jika pengalaman Matthew merupakan salah satu indikasi, sangatlah mungkin akan
terbentuknya jalinan persahabatan baru diantara seluruh anak di kelasnya ibu
Watt dan merupakan awal dari sebuah komunitas kelas yang bersatu padu.

Penguatan tidak selalu berbentuk verbal. Dee Bent, seorang guru TK di


sekolah Emily Carr di Scarborough, Ontario, berkata, “Kami saling mencintai
satu sama lain di kelas ini. Saya memeluk anak - anak dan mereka saling
berpelukan. Di dalam lingkaran, terkadang saya akan memulai dengan bertanya,
“Apa ada yang merasa kesepian pagi ini?” Biasanya seseorang berkata, “Saya”.
Kemudian saya akan berkata, “Oke ayo sini, Ibu peluk”. Kemudian anak lain pun
16

berkata, “Saya merasa kesepian juga”. Kemudian anak yang tadi saya peluk,
memeluk anak yang baru saja berkata bahwa dia kesepian.

c. Guru mengajarkan disiplin moral dengan keterlibatan orang tua


Sebuah pendidikan moral terhadap kedisiplinan menggunakan disiplin
sebagai sebuah alat pengajaran menuju nilai-nilai rasa hormat dan tanggung jawab.
Pendekatan ini memegang peranan bahwa tujuan utama dari kedisiplinan adalah
kedisiplinan diri sendiri, yaitu sebuah jenis pengendalian diri yang
menggarisbawahi pemenuhan secara sukarela dengan hanya peraturan dan hukum,
yang menandai karakter kedewasaan dan harapan masyarakat.
Disiplin moral telah memiliki tujuan jangka panjang dalam menolong anak-
anak muda untuk berperilaku dengan penuh rasa tanggung jawab disegala situasi,
tidak hanya ketika mereka dibawah pengawasan. Para guru yang melakukan latihan
disiplin moral harus melakukan empat hal, yaitu:
1) Guru merencanakan kebijakan rasa moralitas mereka, yaitu hak dan kewajiban
mereka untuk mengajarkan rasa hormat dan tanggung jawab kepada siswa, serta
menjaga mereka menjadi dapat diperhitungkan kedalam standar-standar
prilaku.
2) Pendekatan disiplin guru harus meliputi pengaturan peratuaran, sebagai bagian
persiapan dari sesuatu yang lebih besar, usaha-usaha nyata untuk
mengembangkan komunitas moral yang baik dalam kelas. c.
3) Guru harus membangun dan menjalankan konsekuensi di jalur pendidikan,
yaitu seseorang atau sistem yang dapat membantu siswa menghargai tujuan-
tujuan dari sebuah perauran, membuat batasan dalam pencegahan sebuah
penyimpangan, dan mengemban tanggung jawab dalam mengembangkan
prilaku mereka.
4) Guru harus menyampaikan rasa peduli dan hormat bagi setiap individu siswa
dengan mencoba mencari penyebab masalah disiplin dan sebuah solusi yang
dapat menolong para siswa menjadi seseorang yang sukses, serta menjadi
seorang anggota yang bertanggung jawab di dalam komunitas kelas
17

Ada beberapa kisah tentang disiplin moral, di antaranya adalah :


Lisa adalah siswa kelas 3 yang ketika kelasnya membuat peraturan
bersama-sama dengan gurunya. “Apakah berhasil?” Saya tanya Lisa. “Oh, tentu
saja,” katanya. Apabila peraturan tersebut hanya dibuat oleh guru itu sendiri,
kamu mungkin tidak ingin untuk mengikutinya. Namun, apabila kamu ingin mereka
membantumu untuk merancang peraturan tersebut, mereka akan mengikutimu.

Salah satu cara mengajarkan disiplin moral adalah dengan menggunakan


insentif yang positif. Insentif yang positif adalah bagian yang penting dalam
rencana perkembangan perilaku bagi beberapa siswa.

Guru kelas 1 yang bernama Colleen Megan dari SD Winkelman di utara


Chicago menawarkan sebuah ilustrasi. Di tahun pertama, menurutnya, bahasa
Jeremy sangat tidak dapat “dipercaya.” Dia mendapatkan hukuman karena
menurunkan celananya di taman bermain dan dia melakukannya lagi. Dia hampir
sering memukul anak-anak lainnya. Hukuman tidak membuatnya jera terhadap
perilaku yang dilakukannya. Saya mengambil pendekatan yang positif
terhadapnya. Apabila dia bersikap baik di pagi hari, dia mendapatkannya, tetapi
sebelum makan siang, dia mengambil hadiah berupa tempelan (sticker). Apabila
dia bersikap di siang hari, dia mendapatkannya kembali ketika jam sekolah usai.
Apabila sikapnya jauh lebih baik, dia mendapatkan sticker “Scratch ‘n Sniff.” Dan
apabila selama satu minggu dia berperilaku baik, dia mendapatkan pin SuperKid
(anak super) di hari Jumat. Dia juga mengirimkan catatan kecil ke rumahnya yang
ditunjukkan kepada ibunya di akhir hari yang baik karena perilakunya yang baik
juga. Dan sekarang dia berbalik menjadi anak yang baik.
Banyak guru juga menggunakan insentif di dalam kelompok untuk
memotivasi perilaku yang baik. Insentif kelompok juga membantu perkembangan
solidaritas kelas dengan merumuskan tujuan kelompok untuk bekerja sama dalam
menghasilkan tujuan bersama juga.
Misalnya, seorang guru kelas 6 mengambil 15 menit waktu tambahan untuk
istirahat sebagai bonus di akhir jam pelajaran apabila tidak ada 3 pelanggaran
18

aturan sepanjang hari. Dia berpendapat bahwa siswa-siswanya cenderung untuk


saling menjaga satu sama lain sehingga mereka mendapatkan waktu yang khusus
(spesial).
Apa yang dilakukan oleh guru di sekolah dalam memberikan disiplin moral
perlu mendapat dukungan dari orang tua yaitu dengan terlibatnya orang tua dalam
mendisiplinkan anak di dalam lingkungan keluarga. Dengan demikian, maka akan
terbentuklah anak yang memiliki disiplin moral yang tinggi.

d.. Menciptakan Lingkungan Kelas Yang Demokratis

Membentuk pertemuan kelas merupakan salah satu cara yang dapat


diupayakan dalam menciptakan lingkungan kelas yang demokratis. Pertemuan
kelas adalah sebuah pertemuan keseluruhan kelas, yang menitikberatkan diskusi
interaktif di antara anggota kelas yang dipimpin oleh seorang guru, seorang siswa,
atau seorang guru dan seorang siswa yang bekerja sama.

Tujuan perkembangan karakter dari pertemuan kelas yaitu untuk:


1) mengembangkan, melalui kebiasaan, komunikasi tatap muka, kemampuan
siswa untuk mendengarkan dengan penuh rasa hormat kepada yang lain dan
mengerti sudut pandang mereka.
2) menyediakan sebuah forum untuk menuangkan pemikiran para siswa bernilai
dan dimana mereka dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka sendiri yang
berasal dari pembelajaran untuk mengapresiasikan diri merek dalam sebuah
kelompok.
3) membantu perkembangan ketiga bagian karakter, kebiasaan penilaian moral,
perasaan, dan perilaku melalui tantangan yang berkelanjutan dalam
menempatkan rasa hormat dan tanggung jawab dengan melakukan latihan
setiap hari dalam kehidupan dikelas.
4) menciptakan komunitas moral sebagai sebuah struktur dukungan untuk
memelihara dan memegang wilayah sebuah kualitas karakter yang baik bahwa
sejatinya para siswa itu berkembang.
19

5) mengembangkan sikap dan kemampuan yang dibutuhkan untuk mengambil


peranan dalam kelompok pengambil keputusan secara demokratik dan
menjadi berpartisipasi sebagai warga negara yang berdemokratik.

Di bawah ini ada beberapa pengalaman guru di Amerika Serikat yang berupaya
dalam menciptakan lingkungan kelas yang demokratis, di antaranya :

Saya memanfaatkan pertemuan kelas untuk mengetahui tanggapan terhadap


bentuk ujian terakhir yang mereka dapatkan. Saya mendapatkan tanggapan yang
sangat baik dari para siswa untuk membuat ujian selanjutnya. Pertemuan ini juga
membuat saya mengetahui perasaan yang dialami siswa, bahwa ujian tersebut
dibuat terlalu sukar.

Saya menemukan bahwa selalu ada anak-anak, walaupun dalam kelompok


yang bermasalah, yang selalu maju ke depan dengan nilai kebaikan yang tinggi.
Dan yang lain akan merespons. Hampir kelihatan seperti semua anak ingin
memiliki nilai-nilai moral yang baik. Akan tetapi, seringkali mereka tidak
mendapatkan dukungan untuk dari lingkungan mereka.

Saya telah mengajar selama 30 tahun, dan saya mungkin sudah lelah sejak
lama kalau saya tidak melibatkan anak-anak di dalam merancang kurikulum. Saya
bertanya pada mereka, “Bagaimana cara yang paling menarik untuk mempelajari
topik berikut ini?” Kalau kami memutuskan bahwa saran pertama tidak dapat
dilaksanakan, saya akan bertanya lagi, “Oke, bagaimana cara yang kedua paling
menarik yang dapat kita kerjakan untuk mempelajari hal ini?” Mereka selalu
mengemukakan usul-usul yang bagus. Mereka termotivasi karena saya
menggunakan ide mereka, dan saya tidak pernah mengajar dengan menggunakan
cara yang sama.

Kapan pun waktu yang memungkinkan, pertemuan kelas dapat


dilaksanakan di dalam sebuah lingkungan yang berfungsi untuk melakukan kontak
mata di antara patisipan. Pertemuan ini dilakukan terutama untuk merespon
kebutuhan- kebutuhan siswa terutama kebutuhan khusus.
20

e. Mengajarkan Nilai Melalui Kurikulum


Kurikulum merupakan urusan penting dalam sekolah. Guru pasti akan
menggunakan kurikulum sebagai saran untuk mengembangkan nilai-nilai moral
dan kesadaran beretika. Masing-masing sekolah bertugas untuk menyisipkan nilai
moral dengan cara apapun melalui kurikulum dan kegiatan sehari-hari. Guru harus
mampu menggali kurikulum sekolah untuk mendapatkan potensi etika yang mesti
ditanamkan pada siswa. Setelah guru mengidentifikasi adanya celah dalam
kurikulum yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi nilai moral, langkah
berikutnya adalah merencanakan pelajaran yang efektif mengenai nilai moral.
Guru harus mampu memilih materi yang baik. Setelah itu guru merancang
metodologi mengajar yang efektif seperti contoh pengalaman seorang guru di
bawah ini :
Setelah saya memberitahu mereka masalah ekologi dengan sangat
bersemangat, anak-anak berubah menjadi pelindung bumi yang setia. Mereka
tidak membuang kertas pembungkus sembarangan, mereka menyimpannya di saku.
Mereka akan menjadi generasi yang akan memelihara bumi. Pada tahun ini
mereka turun ke pantai dan membersihkannya. Mereka mengatakan bahwa mereka
tidak akan membawa ini-itu ke pantai dan membuangnya di sana. Hal ini juga
berpengaruh terhadap keluarga mereka. Beberapa dari keluarga mereka ikut
membantu membersihkan tumpahan minyak Newport.

f. Pembelajaran Kooperatif
Seperti kurikulum berbasis nilai moral, proses belajar kooperatif
mengajarka nilai moral dan akademik sekaligus. Apabila pendidikan dengan
kurikulum berbasis nilai moral bekerja melalui isi materi dalam mata pelajaran,
proses belajar kooperatif bekerja melalui proses intruksional. Keuntungan spesifik
dari proses belajar kooperatif yaitu mengajarkan nilai kerja sama, membangun
komunitas di dalam kelas, mengajarkan keterampilan dasar kehidupan,
memperbaiki pencapaian akademik, rasa percaya diri, dan penyikapan terhadap
sekolah, menawarkan alternatif dalam pencatatan, dapat mengontrol efek negatif
dari persaingan.
21

Untuk dapat memaksimalkan efek dari proses belajar kooperatif terhadap


perkembangan karakter dan juga pencapaian akademik, seorang gurur sebaiknya
memanfaatkan bentuk belajar kooperatif, yaitu :
1. partner belajar
2. pengaturan duduk berkelompok
3. proses belajar tim
4. proses belajar jigsaw
5. ujian berkelompok
6. proyek kelompok kecil
7. kompetisi tim
8. proyek satu kelas

Sedangkan untuk memaksimalkan keberhasilan proses belajar kooperatif,


yaitu :
1. menjelaskan bahwa kerja sama merupakan tujuan yang penting bagi kelas
2. membangun komunitas
3. mengajarkan keterampilan spesifik untuk dapat bekerja sama
4. membuat aturan-aturan dalam bekerja sama
5. mengasuh akuntabilitas setiap anggota kelompok untuk bekerja sama dan
berkontribusi
6. mengikutsertakan semua siswa untuk merefleksikan kerja sama
7. menugaskan peran pada anggota kelompok
8. mencocokkan proses belajar kooperatif dengan tugas yang diberikan
9. menggunakan berbagai strategi proses belajar kooperatif
22

g. Kesadaran Nurani
Pendidikan moral biasanya terpisah dari pembelajaran akademik.
Sebenarnya pendidikan moral tak dapat dipisahkan dari pembelajaran akademik.
Tugas utama sekolah adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran nurani dan
mengembangkan kualitas karakter yang melekat pada pembelajaran akademik.
Kesadaran nurani membuat kita selalu melakukan pekerjaan dengan baik.
Untuk memiliki mengembangkan kesadaran nurani, di antaranya seseorang harus
memiliki kepuasan saat pekerjaannya selesai dengan baik dan merasa malu saat
pekerjaan itu dilakukan dengan ceroboh. Kesadaran nurani ini memotivasi
seseorang untuk mengerjakan sesuatu bukan hanya kepuasaan orang lain, tetapi
juga kepuasaan dirinya sendiri. Hal tersebut adalah tanda karakter seseorang yang
peduli untuk melakukan pekerjaan dan tugasnya dengan baik. Adapun strategi
yang ditawarkan oleh Thomas Lickona yaitu:
1. Langkah pertama bagi sekolah adalah memperlakukan pekerjaan seperti
memiliki kepentingan moral dan bekrja sebagai pembelajaran, seperti aktivitas
moral yang berkontribusi dalam pengembangan karakter.
2. Langkah kedua adalah menyadari bahwa sekolah bukan hanya melibatkan
pendidikan yang buruk, tetapi juga pendidikan moral yang buruk jika untuk
alasan apapun, siswa tidak melakukan pekerjaan sebagai suatu pembelajaran.
3. Langkah ketiga adalah menemukan apa yang harus diperjuangkan oleh
pendidikan pada area pengembangan karakter.

Salah satu contoh di mana hati nurani bekerja adalah seperti kisah berikut ini :
Julie Leirich sedang berjalan keluar supermarket tempatnya bekerja di Los
Angeles. Dia melihat toko tersebut membuang banyak makanan layak makan di
sana, padahal banyak orang kelaparan di jalan. Julie meyakinkan dirinya dan
mulai mengambil makanan yang masih layak diberikan pada tuna wisma. Ketika
Julie mengakui apa yang sudah dilakukannya, Bosnya tidak marah bahkan
memberi Julie lebih banyak makanan. Sejak itu, mulai banyak sukarelawan yang
membantu Julie. Sekarang Julie dan teman-temannya mendistribusikan 6 ton
makanan setiap bulan.
23

Di sebuah sekolah dengan segenap hati para guru mengajari anak untuk
mencintai belajar. Ketika mereka mengadakan kunjungan ke museum, pemandunya
terkejut melihat betapa anak-anak tersebut sudah tahu banyak hal. Mereka melihat
banyak baju baja seorang ksatria dan dapat memberitahu apakah baju itu
digunakan untuk bertempur di atas kuda atau tujuan lainnya.

h. Mendorong Refleksi Dalam Pendidikan Moral


Refleksi moral merupakan sesuatu yang penting untuk mengembangkan sisi
kognitif dari suatu karakter, bagian penting dari moral diri sendiri yang mampu
membantu seseorang membuat penilaian moral tentang sikap kita sendiri dan
lainnya.
Adapun metode yang mendorong refleksi moral yang berkembang yaitu
mempelajari kebajikan yang sederhana, mengklarifikasi nilai moral, memberi
kesempatan kepada siswa sebagai filsuf moral dengan memberi kesemaptan kepada
mereka untuk berdiskusi memecahkan dilema moral di ruang kelas.
Bagaimana Mendorong dan Meningkatkan Refleksi Moral ?
1. Ambil waktu untuk menghadapi masalah moral kehidupan nyata dari
kehidupan kelas dan sekolah.
2. Gunakan cerita untuk mengajarkan suatu kebajikan yang sederhana.
3. Diskusikan dilema moral hipotesis sebagai suatu cara dalam mendiagnosa dan
mengembangkan nalar moral siswa.
4. Gunakan dilema pararel untuk mendapatkan masalah kelas yang nyata.
5. Gambarkan dilema murid itu sendiri.
6. Tingkatkan kemungkinan pemikiran tingkat tinggi siswa di dalam kelas diskusi.
7. Gunakan permainan peran untuk mengembangkan pengambilan sudut pandang.
8. Rancang aktivitas pembuatan keputusan yang mendorong pencarian saran yang
cerdas.
24

9. Bantu siswa mengembangkan moral pengetahuan pribadi melalui jurnal etika


personal, proyek pengembangan karakter, dan diskusi hati nurani.

Sebuah kisah sederhana yang dialami oleh guru dan siswanya di bawah ini
mungkin dapat membuat kita lebih mengerti apa yang dimaksud dengan guru dapat
mendorong siswa untuk melakukan refleksi moral.
Di sebuah kelas Ibu William meminta murid-muridnya untuk
mengobservasi perkembangan embrio dengan cara membuka satu telur untuk
setiap minggu. Instruksi itu membuat Nathaniel mengatakan bahwa Ibu William
sangat kejam karena memerintahkan muridnya untuk membunuh. Nat
menyarankan untuk mempelajari hal itu di perpustakaan.Tetapi murid yang lain
mengatakan bahwa jika tidak membuka telur, mereka penasaran bagaimana
perkembangan tumbuhnya embrio ayam tersebut. Nat menjawab rasa penasaran
bukan alasan untuk membunuh calon bayi ayam. Ibu William pun menyudahi
perdebatan itu dan meminta murid-muridnya untuk pulang dan berpikir selama
satu hari untuk mempertimbangkan hal tadi. Keesokan harinya setelah
merefleksikan apa yang didiskusikan, ternyata semua murid memutuskan untuk
tidak memecahkan telur melainkan akan pergi ke perpustakaan seperti yang
disarankan Nathaniel.
Kisah di atas membuktikan bahwa kesempatan untuk berefleksi satu malam
dapat mengajarkan kepada anak sehingga tindakan moral yang baik yang diambil
oleh anak-anak tersebut. Begitu juga dengan manusia dewasa, ketika harus
memutuskan suatu tindakan moral lebih baik melakukan refleksi terlebih dahulu.

i. Meningkatkan Tingkat Diskusi Moral


Meningkatkan tingkat diskusi moral artinya membicarakan bagaimana
menciptakan suasana kelas yang penuh dengan diskusi kritis mengenai temuan-
temuan berupa studi kasus yang dipaparkan oleh guru-guru hebat di kelasnya. Di
awal disuguhkan diskusi menarik mengenai “Dilema Mary” sebagai berikut:
25

“John dan Mary adalah siswa IPS kelas tujuh. Ketika tes, Mary tahu kalau John
melihat kertas ujiannya dan menulis jawabannya. Mary juga tahu bahwa John ada
di tempat game sebuah mall pada malam sebelumnya ketika Mary belajar keras
untuk ujiannya. Apa yang seharusnya Mary lakukan? Apa yang akan kamu lakukan
jika kamu adalah Mary?”
Dilema tersebut dapat meningkatkan diskusi moral dan diharapkan jawaban
siswa merupakan jawaban yang memperlihatkan tindakan moral yang baik.
Ada lima petunjuk yang bisa dilakukan oleh guru sebagai strategi penting
untuk merespon pemikiran siswa tingkat rendah dan menstruktur diskusi moral
selanjutnya untuk menggambarkan pemikiran tingkat tinggi yaitu guru harus
mengatur konteks yang nonrelativistic untuk diskusi, merencanakan masalah-
pertanyaan spesifik yang akan menantang pemikiran siswa, menantang siswa untuk
tetap berpikir tentang isu tersebut, dan diskusi berlabuh dalam kurikulum berbasis
pendekatan.
Seperti yang dikembangkan oleh spesialis etika Joan Engel dan rekan-
rekannya di Kementerian Pendidikan Alberta, Kanada tentang kegiatan-kegiatan
dari kurikulum tersebut meliputi guru membuat atau menempel gambar orang yang
beretika di kelasnya, guru merancang proyek etika dalam bertindak, guru
memfasilitasi siswa tentang etika di dunia, guru mendatangkan guru tamu dalam
etika di berbagai profesi.
Menonton film dalam proses pembelajaran misalnya, menjadi salah satu
alat yang cerdas untuk menunjukkan nilai-nilai moral itu, sehingga akhirnya siswa
diberi kesempatan untuk menemukan intisari nilai dari film yang ia tonton,
indikator keberhasilan dari nonton film ini mampu membuat salah satu siswa
misalnya berkata, “terkadang memang sulit untuk mengatakan kebenaran, tapi
setiap orang akan merasa lebih baik pada akhirnya” atau berucap “satu kebohongan
akan membawa kepada kebohongan yang lainnya”. Selain itu, bermain peran,
menempel gambar-gambar etika yang baik atau etika yang buruk, belajar untuk
menilai dengan bijak, hingga membantu siswa membangun moral pengertahuan
pribadi bisa menjadi alternative lain yang bisa dilakukan oleh guru untuk
mendorong dan meningkatkan refleksi moral siswa. Sejatinya “Bagi guru, usaha
26

untuk mengikutsertakan anak muda dalam merefleksi moral yang bijak adalah
sangat esensial. Berpikir bukanlah semuanya harus terdapat moralitasnya, tapi tidak
akan ada moralitas tanpa berpikir” ujar Thomas Lickona.
Salah satu meningkatkan diskusi moral adalah dengan memberikan peran
kepada siswa dalam segala situasi. Tugaskan pada para siswa, suatu peran istimewa
yang meningkatkan tanggung jawab mereka terhadap pertemuan kelas. Sebuah
komite yang terdiri dari para siswa dapat ditugaskan untuk menyiapkan agenda, dan
menyimpan semua masukan dari guru dan siswa.
Anne Roubos, sewaktu menjadi guru kelas 1 SD Homer di Homer, New
York, memberikan “giliran” tanggung jawab memimpin rapat. Siswa yang
memimpin rapat disebut Sang VIP (Very Important Person – Orang yang sangat
penting). Siswa tersebut duduk di kursi tinggi, memulai pertemuan dengan
menggoyangkan maraca dan mengumumkan, “Pertemuan kelas akan segera
dimulai!”, dia yang menentukan giliran bicara dan menutup kembali pertemuan
dengan menggoyangkan maraca lagi dan berkata, “Pertemuan kelas ditutup!”

j. Mengajarkan Masalah Kontroversial


Kontroversi ialah keadaan pertikaian atau perdebatan yang berpanjangan,
biasanya mengenai perkara pendapat atau sudut pandangan berkonflik. Pengajaran
masalah kontroversial masih berhubungan dengan pembelajaran moral. Karena
dengan adanya moral yang baik dari diri siswa, siswa bisa menghadapi masalah
kontroversial dengan sikap bijak.
Setelah guru mengajarkan dan membimbing siswa dalam diskusi moral,
tugas guru selanjutnya adalah mengajarkan kepada siswa tentang masalah
Kontroversial. Terkadang di dalam kelas terjadi pertentangan atau perbedaan
pendapat antar siswa mengenai sebuah masalah. Hal itu terjadi karena kadang ada
perbedaan pendapat. Nah disini diharapkan siswa dapat menghadapi sebuah isu
kontroversial dengan bijak. Bagaimana caranya?
Di dalam buku Thomas Lickona dijelaskan bahwa dalam mengajarkan
masalah kontroversial salah satu cara adalah siswa diminta untuk memperdebatkan
sebuah isu kontroversial. Seorang guru kelas 6 memberikan essay kepada siswanya
27

tentang perempuan bermain sepak bola. Siswa diminta untuk membacanya dan
berpikir apakah itu hal baik atau buruk. Siswa diminta untuk memperdebatkan
masalah tersebut. Di situlah kita melihat moral yang ada pada anak ketika mereka
berdebat mengenai masalah Kontroversial. Bagaimna sikap mereka menghadapi
sebuah masalah yang serius.
Dalam mengajarkan Isu Kontroversial, sekolah harus membangun
peraturan tertulis, yang disetujui oleh dewan pendidikan, mengenai pengajaran isu
kontroversial. Apakah isu itu tentang aborsi atau kontroversi etika sosial lainnya.
Dengan adanya peraturan, diharapkan guru, siswa, administrator, dan komunitas
mematuhi peraturan tersebut dengan konsisten.
Ada beberapa pendekatan kooperatif yang dijelaskan dalam buku Thomas Lickona
terhadap isu kontroversial. Berikut pendekatan yang dimaksud:
1) Tugas:
Guru menugaskan empat orang siswa dalam satu group yang terdiri dari dua
orang tim advokasi. Setiap group diperintahkan untuk mempersiapkan judul
laporan “ peran regulasi dalam pengaturan sampah berbahaya”. Dalam
kelompok tersebut, satu tim yang terdiri dari dua orang menempati posisi
yang membutuhkan banyak aturan, dan dua orang dari tim berposisi
diperaturan yang lebih sedikit dari yang dibutuhkan.
2) Perencanaan:
Selama periode kelas pertama dua orang menerima materi dari guru yang
mendukung posisi mereka. Mereka bertanya “ rencanakan bagaimana untuk
mempresentasikan posisimu sehingga kamu dan tim lawan di groupmu akan
mengerti posisimu dengan baik sebagai cara menemukan keyakinan.
3) Advokasi:
Selama periode kedua dua kelompok mempresentasikan pendapat mereka
satu sama lain kemudian mereka terikat dalam diskusi umum dimana mereka
mengadvokasi pendapatnya, membantah dan mencoba untuk mendapat
kesimpulan yang terbaik yang mungkin tentang kebutuhan tentang
manajemen hal berbahaya yang tidak berguna.
28

4) Pergantian posisi:
Pada periode ketiga setiap tim bertukar posisi, berdebat pendapat merupakan
silang pendapat.
5) Mendapatkan consensus:
Selama periode keempat, empat group mempersatukan apa yang mereka lihat
sebagai informasi terbaik dan beralasan dari dua sisi ke dalam sebuah situasi
consensus. Mereka kemudian menulis dan menyerahkan laporan kelompok.
6) Akuntabilitas personal:
Ketika laporan consensus telah dilengkapi setiap siswa mengambil sebuah
tes yang berisikan informasi factual dari materi membaca.

Itulah bebarapa pendekatan kooperatif yang perlu diterapkan dalam


mengajarkan siswa tentang masalah kontroversial. Semoga bisa bermanfaat
khususnya bagi guru.

k. Mengajarkan Anak-anak untuk Menyelesaikan Konflik


Mengajarkan anak dalam menyelesaikan konflik yang terjadi menjadi hal
penting yang harus dilakukan di sekolah. Menjadi suatu hal yang sangat fatal ketika
sekolah membiarakan anak-anak memiliki paradigma yang keliru dalam
menyelesaikan konflik, sebut saja saat anak-anak merespon konflik hanya dengan
kekerasan. Dari sisi nilai pendidikan, hal tersebut merupakan kesalahan yang
serius. Orang yang merespon situasi konflik dengan kekerasan dapat
membahayakan diri sendiri dan orang. Mereka memiliki kekurangan dalam
membangun hubungan baik termasuk pernikahan dan pengasuhan anak. Misalnya,
ketika kemampuan resolusi konflik sudah krusial maka kealfaan mereka dalam
memimpin menggiring pada kekerasan verbal dan fisikal. Sebagai warga negara,
seseorang yang tidak berkontribusi kepada negara dan dunia mencari alternative
kontribusinya dengan jalan kekerasan. Bahkan, mereka seringkali menjadi pelaku
kekerasan di lingkungan masyarakat.
Kehidupan moral di kelas penuh dengan kesempatan untuk mengajar anak-
anak menangani konflik secara konstruktif. Suatu penelitian yang pernah dilakukan
oleh seorang guru di kelasnya menyatakan tentang situasi yang menyebabkan
29

konflik di kelas mereka diantaranya adalah ketika kamu tidak setuju dengan apa
yang orang lain katakan, dua orang ingin menggunakan benda yang sama di waktu
yang sama, dua orang berdebat tentang apa yang dilakukan dan seseorang datang
kemudian mengambil alih pembicaraan, seseorang melempar sesuatu, dll.
Rapat kelas yang mengambangkan pengajuan solusi dari suatu masalah
merupakan salah satu cara untuk membantu siswabelajar menerima konflik. Akan
tetapi, rapat kelas tidak dapat menyelesaikan semua masalah, karena beberapa
alasan, yaitu konflik harus diterima ketika konflik terjadi, dan guru tidak dapat
mengadakan rapat kelas setiap ada konflik, pada saat sebuah konflik “memanas”
murid-murid sering kali mengingat dan membawa serta masalah mereka, beberapa
siswa masih kekanak-kanakan akan meminta perlindungan ekstra pada hubungan
interpersonal yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah, berikut sebuah
pendekatan yang memadai untuk pengajaran resolusi konflik termasuk lima elemen
berikut:
1) Kurikulum terencana yang telah siswa pikirkan tulis dan bicarakan dalam
berbagai konflik
2) Pelatihan kemampuan terstruktur yang membimbing siswa menghindari
konflik dan kemampuan resolusi konflik
3) Menggunakan rapat kelas untuk konflik yang terjadi diantara angota kelas dan
untuk menetapkan norma penyelesaian konflik yang baik dan tanpa kekerasan
4) Turut campur tangan ketika dibutuhkan untuk membantu siswa menerapkan
kemampuan intra personal pada saat konflik baru terjadi
5) Membuat rasa tanggung jawab siswa bertambah untuk menyelesaikan konflik
mereka dengan bantuan orang dewasa
Dengan melakukan lima hal diatas diharapkan siswa dapat belajar
bagaimana sebaiknya respon yang timbul saat terjadi konflik di kelasnya atau
bahkan dalam kehidupannya.
30

3.Bagaimana strategi umum sekolah dalam mengajarkan tentang rasa hormat dan tanggung
jawab ? Adapun Strategi umum sekolah dalam pengajaran tentang rasa hormat dan
tanggung jawab:
a. Kepedulian Di luar Kelas
Sekolah dapat membantu membentuk sikap peduli pelajar dan warga yang aktif
diluar kelas jika:
1) Membuat siswa sadar tentang keutuhan dan penderitaan orang lain dinegaranya
dan diseluruh dunia.
2) Menawarkan kelompok-kelompok yang dapat dijadikan contoh yang bekerja
sama secara efektif untuk membantu orang-orang miskin dan tertindas, dan
mengatur proyek aksi pelajar untuk membantu.
3) Menyediakan role model yang menginspirasi, yang berkaitan dengan orang
yang membantu orang lain dikomunitasnya sendiri.
4) Menyediakan role model teman sebaya yang positif.
5) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan pelayanan
sekolah khususnya dalam hubungan bantuan yang face to face
6) Memeberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan pelayanan pada
masyarakatnya, dan jika memungkinkan mengintegrasikan program layanan
tersebut dengan akademik.
7) Menyediakan pendidikan di bidang keadilan dan sosial, politik perubahan, dan
aksi masyarakat

Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam mendidik siswa untuk peduli di
luar kelas telah dilakukan oleh salah satu SD di Amerika Serikar.
SD Westwood St. Cloud, Minnesota, siswa mengembangkan hubungan one-to-
one bersama orang yang lebih tua, seperti menghibur pasien depresi di dekat pusat
kesehatan pemerintah bagi para veteran. Selama kunjungan dua kali dalam
seminggu, anak-anak dengan para veteran dapat bermain kartu, menanam biji-
bijian, memotong kayu berdiskusi tentang keadaan jalan atau event yang sedang
berlangsung, atau berbicara tentang perbedaan hidup di zaman sekarang dan di
zaman sekitar 60 tahun yang lalu. Sejak dimulainya program, yaitu tahun 1972,
31

lebih dari 2000 veteran sudah mengembangkan minat yang terbarukan dalam
hidup melalui hubungan mereka dengan murid Westwood.

b. Membangun Budaya Moral Yang Positif di Sekolah


Terdapat enam elemen budaya moral positif di sekolah dan akademik, yaitu:
1) Kepala sekolah menyediakan kepemimpinan moral dan akademik dengan cara
menyatakan visi sekolah, memperkenalkan tujuan dan strategi dari program
nilai-nilai moral positif kepada seluruh staf sekolahan, merekrut partisipasi dan
dukungan orang tua, memberikan teladan nilai-nilai sekolah melalui interaksi
dengan staf, murid dan orang tua.
2) Sekolah menciptakan disiplin efektif yang dilakukan dengan cara
mendefinisikan dengan jelas aturan sekolah dan secara konsistten, serta adil
mendorong stakeholder sekolah, mengatasi masalah disiplin dengan cara yang
mendorong menumbuhkembangkan moral siswa, memastikan aturan dan nilai
sekolah ditegakkan dalam seluruh lingkungan sekolah dan bergerak tangkas
untuk menghentikan tindakan kekerasan dimanapun terjadi.
3) Sekolah menciptakan kepekaan terhadap masyarakat dengan cara
menumbuhkan keberanian stakeholder sekolah untuk mengekspresikan apresiasi
mereka atas tindakan peduli terhadap orang lain, menciptakan kesemapatan bagi
setiap siswa untuk mengenal selururh staf sekolah dan murid dikeals lain,
mengajak sebanyak mungkin siswa untuk terlibat dikegaiatan ekstrakulikuler,
meningkatkan sikap sportivitas, menggunakan nama sekolah untuk mendorong
masyarakat dengan nilai-nilai baik, dan setiap kelas diberi tanggung jawa untuk
berkontribusi dalam kehidupan sekolah.
4) Sekolah dapat menggunakan pengelolaan siswa yang demokratis untuk
meningkatkan pengembangan warga masyarakat dan tanggung jawab berbagai
sekolah dengan cara menyusun kepengurusan siswa untuk memaksimalkan
pertisipasi siswa dan interaksi diantara siswa sekelas dan dewan siswa,
kemudian membuat dewan siswa ikut bertanggung jawab terkait dengan
masalah dan isu yang memiliki pengaruh nyata pada kualitas kehidupan sekolah.
32

5) Sekolah dapat menciptakan moral komunitas antar orang dewasa dengan cara
memberikan waktu dan dukungan untuk staf sekolah untuk bekerja bersama
dalam menyusun bahan pelajaran. Dan melibatkan staf melalui kolaborasi
pembuatan keputusan sesuai dengan bidangnya masing-masing.
6) Sekolah dapat meningkatkan pentingnya kepedulian terhadap moral dengan cara
memoderasi tekanan akademis sehingga guru tidak mengabaikan pengembangan
sosio maral siswa, dan menumbuhkan kepercayaan diri guru untuk
menghabiskan banyak waktu untuk mengurusi moral siswa.

Salah satu budaya di sekolah dalam menyambut seorang siswa baru adalah
sebagai berikut :
Saat itu, bulan Februari ketika kami pindah ke sini. Aku terkesan dengan
cara mereka menyambut Dana, di depan pintu ketika dia datang mengunjungi
sekolah itu, dan bagaimana mereka membawanya berkeliling dan
memperkenalkannya kepada seluruh kelas yang berbeda-beda. Di ujung hari itu,
dia berkata, “Aku ingin bersekolah di sini, Bu.” Ketika dia sampai di hari
pertamanya, ada tulisan besar “Selamat Datang Dana” tergantung di luar kelas.

c. Pendidikan Seks
Dari buku Thomas Lickona dikatakan bahwa sekolah dapat membantu siswa
mengembangkan nilai moral seksual dengan beberapa hal di antaranya, yaitu:
1) Mengimplementasikan suatu program pendidikan yang mendorong remaja
mampu nilai dan mengevaluasi diri.
2) Mangajarkan bahwa cinta berarti menginginkan yang terbaik bagi orang
lain.
3) Mengajarkan bahwa kontrasepsi tidak menghasilkan hubungan seks yang
bertanggung jawab.
4) Mendorong siswa membawa nilai dan pengajaran untuk memegang teguh
keyakinan religius mereka pada pertanyaan seksual.
5) Mencari bantuan orang tua didalam mengajarkan didalam mengajarkan
perilaku seksual yang baik.
33

Melihat beberapa hal yang disampaikan tersebut, jelas bahwa banyak


masalah seksual yang dihadapi oleh negara bagian di Amerika Serikat, baik dari
usia remaja sampai usia dewasa sehingga sekolah sebagai lembaga pendidikan turut
berperan aktif terhadap pendidikan seksual. Seks merupakan hal yang sangat
terpenuhi ketika seks merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar – hubungan
berkesinambungan yang penuh kasih antara dua orang manusia. Dilihat dari
sejarahnya, masyarakat di seluruh dunia telah mengatakan hal yang sama:
Pernikahan merupakan hubungan di mana seks harus terjadi.
Pernikahan merupakan komitmen yang paling serius, total, dan publik antara dua
orang yang dapat ditentukan oleh masyarakat mana pun. Bahwa seks paling
mungkin bersifat mengasihi, bahaya penyakit dan rasa sakit dikurangi, dan sebuah
keluarga siap membesarkan anak-anaknya apabila kehamilan harus terjadi dari
kesatuan seksual berada dalam hubungan yang berkomitmen tersebut.

d. Narkoba dan alkohol


Mengenai narkoba dan alkohol, buku Educating for Character menjelaskan
lebih jauh dan mengungkapkan beberapa fakta yang terjadi di Amerika.
Fakta dan temuan-temuan penting tentang Narkoba di Amerika:
1) Amerika Serikat memiliki tingkat tertinggi dalam remaja pengguna narkoba
dari semua negara industri (sepuluh kali lebih besar dari Jepang)
2) Hampir enam dari sepuluh siswa senior mengatakan mereka telah
menggunakan narkoba illegal
3) Selama dekade yang lalu, menurut Pusat Pengendalian Penyakit, total
konsumsi kokain di AS hampir dua kali lipat.
4) Peneliti AIDS takut bahwa remaja pengguna narkoba, yang merasa tak
terkalahkan saat mereka sedang mabuk, akan muncul sebagai kelompok
beresiko AIDS yang baru.
5) LSD menemukan bahwa di antara 12 siswa sekolah menengah mengakui
bereksperimen dengan obat yang menimbulkan halusinasi ini.
34

6) Menurut isu, Desember 1988, pada Journal of The American Medical


Association, satu dari 15 siswa senior sekolah menengah telah
menggunakan steroid
7) Para siswa mulai menggunakan narkoba pada usia muda dan lebih muda.

Fakta dan temuan-temuan penting tentang alkohol di Amerika adalah sbb :


1) Lebih dari separuh murid senior di sekolah menengah Amerika mengatakan
mereka mabuk setidaknya satu kali dalam sebulan.
2) Satu dari tiga remaja cukup minum beralkohol yang merugikan performa di
sekolah secara serius atau terlibat masalah hukum.
3) Hampir separuh murid kelas 10 dan sepertiga murid kelas 8 mengatakan
selama bulan lalu mereka mengemudi dengan sopir yang menggunakan
alcohol atau narkoba
4) Rata-rata usia peminum alkohol untuk pertama kali di kelas 7
5) Diperkirakan 100.000 anak berusia sepuluh dan sebelas tahun mabuk
setidaknya satu kali seminggu.

Sekolah dapat melawan penyalahgunaan narkoba dengan cara :


1) Menetapkan dan melaksanakan peraturan sekolah yang jelas mengenai
penggunaan narkoba
2) Mencari bantuan dan komunitas (contoh, pekerjaan bagi murid bebas
narkoba dan keterlibatan polisi dalam pengajaran tentang narkoba) dalam
membuat program kerja sekolah
3) Melibatkan murid dalam mendorong teman lain melawan narkoba
4) Mengimplementasikan kurikulum pencegahan narkoba dari Taman Kanak-
Kanak sampai dengan kelas 12, yang mengajarkan anak-anak untuk
menghargai kesehatan mereka, mengetahui hukum tentang narkoba, dan
memahami semua alasan mengapa penyalahgunaan narkoba tidak
bertanggungjawab
35

5) Membuat para murid menetapkan tujuan dalam menjadikan sekolah mereka


bebas narkoba secara total.
6) Membuat pembangunan lingkungan “komunitas sekolah” yang tetap buka
setelah jam sekolah untuk digunakan dalam cakupan komunitas yang luas

Sekolah dapat mencoba untuk mengurangi murid yang minum alkohol dengan
cara:
1) Mengimplementasikan kurikulum pendidikan alkohol kepada para siswa
2) Mencari bantuan dari orang tua tidak mendukung peminum dibawah umur
3) Mendukung formasi kelompok murid yang mempromosikan nilai akan para
remaja yang menjauhi alkohol

Sekolah yang telah menetapkan pandangan mereka pada lingkungan yang sama
sekali bebas narkoba dinyatakan dalam buku pedoman Departemen Pendidikan AS
Schools Without Drugs. Setiap kisah dari sekolah digunakan untuk
mengilustrasikan sebuah prinsip dasar dalam pendidikan narkoba yang
komprehensif, sebagai berikut:
1) tetapkan peraturan sekolah yang jelas dan spesifik mengenai
penggunaan narkoba yang meliputi tindakan koreksi yang kuat.
2) menjangkau komunitas untuk membantu dalam membuat program kerja
sekolah antinarkoba.
3) melibatkan para murid dalam mendukung murid lain dalam melawan
narkoba.
4) mengimplementasikan sebuah program pencegahan narkoba yang
komprehensif, yang dimulai di Taman Kanak-kanak, yang mengajarkan
mengapa penggunaan narkoba adalah salah dan merusak dan bagaimana
untuk melawan narkoba dengan sukses.
36

e. Sekolah, Orang Tua dan Masyarakat yang Bekerja Sama


Kerja sama sekolah dan orang tua dalam pendidikan nilai di antaranya adalah :
1) Sebuah survei nilai orang tua yang meminta orang tua mengidentifikasikan
kualitas karakter yang mereka inginkan untuk berkembang dalam anak
2) Peran kepemimpinan orang tua dalam merencanakan program nilai sekolah,
yang mendesain program partisipasi orang tua, dan mendorong orang tua
untuk mengajar nilai-nilai baik dirumah.
3) Lokakarya berbasis sekolah bagi keahlian menjadi orang tua.
4) Dibutuhkan sebuah kursus untuk murid sekolah menengah dalam
perkembangan anak dan menjadi orang tua.
5) Materi pembahasan nilai berbasis rumah, diberikan pada orang tua, yang
membangun pelajaran dikelas.
6) Mengendalikan pengaruh negatif tv dan film.
7) Keterlibatan orang tua dalam mendukung kedisiplinan sekolah.
8) Lokakarya yang mengajarkan orang tua bagaimana membantu anak mereka
melakukan lebih baik secara akademik di sekolah.
9) Membantu jaringan orang tua untuk membahas urusan-urusan umum.
10) Kelompok pendukung berbasis sekolah untuk anak dan keluarga dari
keluarga transisi.
11) Melibatkan seluruh komunitas dalam mengidentifikasi nilai-nilai konsensus
bersama yang akan diajarkan di sekolah.
12) Berkomunikasi dengan orang tua melalui sebuah brosur tentang program
nilai sekolah.
13) Menciptakan suatu atmosfer sekolah yang kooperatif yang didalamnya
sekolah dan orang tua dapat secara konstruktif menyebutkan nilai-nilai
konflik ketika itu terjadi

Begitu banyak anak di Amerika serikat yang tidak memiliki hubungan yang
baik dengan orang tua mereka. Salah satu buktinya adalah pengalaman dari salah
seorang guru.
37

Seorang anak datang ke kantor saya, yang memang sudah saya lihat berulang
kali karena masalah disiplin-berbicara di kelas, terlambat, tidak membawa materi
pelajaran, membuat gurunya menjadi gila. Saya baru saja makan dan berkata,
“Lain kali saya melihat kamu, kita akan mengundang ibumu kemari dan melihat
apa yang harus kita lakukan seharian.” Reaksi yang saya terima darinya adalah,
“lakukan apa saja yang Bapak mau, tapi jangan panggil ibu saya kemari.” Sesuatu
terlintas di kepala saya. Bagaimana hubungan anak ini dengan ibunya?
Bagaimana saya dapat membatu permasalahan anak ini ?

Seperti yang telah diungkapkan pada bab-bab sebelumnya, Thomas Lickona


sangat menggarisbawahi kerja sama antara sekolah dan orang tua dalam
memberikan Pendidikan nilai kepada anak-anak. Dan seperti yang sudah dijelaskan
betapa sulitnya menmberikan Pendidikan Nilai kepada anak di saat orang tidak
memberi dukungan padahal kesempatan untuk bertumbuh menjadi manusia yang
sehat, cakap, dan jujur merupakan hak dasar setiap anak.

I. Analisis SWOT :
Setelah membaca buku Educating for Character yang ditulis oleh Thomas Lickona,
tanggapan saya atas buku itu adalah :
1. Strength (Kekuatan)
Buku ini selain berisi tentang bagaimana cara memberikan pendidikan nilai dalam
membentyuk karakter juga memiliki banyak kisah berupa pengalaman-pengalaman
guru di Amerika Serikat yang luar biasa dan dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru di
Indonesia dan di dunia.
2. Weakness ( Kelemahan)
Buku ini merupakan hasil dari pengumpulan data di Amerika Serikat yang diperoleh
antara tahun 1960-1970 di mana mungkin saja ada hal-hal yang sudah kurang sesuai
untuk guru-guru Idonesia di zaman sekarang.
38

3. Opportunity ( Peluang )
Bagi saya buku ini menginspirasi saya untuk menulis sebuah buku tentang Pendidikan
Nilai dan Karakter dengan mengumpulkan data berupa kisah-kisah inspiratif dari guru-
guru zaman now di zaman now pula
4. Threat ( Ancaman )
Seandainya buku ini dibaca oleh remaja yang tidak bertanggung jawab terhadap moral,
maka buku ini dapat menginspirasi mereka untuk meniru apa yang dilakukan oleh
anak-anak Amerika karena dianggap sesuatu yang hebat.

*********************************