Anda di halaman 1dari 4

KERATITIS

Keratitis yang merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada
kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Akibat terjadinya
kekeruhan pada media kornea ini, maka tajam penglihatan akan menurun. Mata
merah pada keratitis terjadi akibat injeksi pembuluh darah perikorneal yang dalam
atau injeksi siliar. Keratitis biasanya diklasifikasikan dalam lapis yang terkena seperti
keratitis superfisial dan profunda atau interstisial (Ilyas, 2004).
Etiologi
Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya:
1. Virus.
2. Bakteri.
3. Jamur.
4. Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari.
5. Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak.
6. Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau tidak cukupnya
pembentukan air mata.
7. Adanya benda asing di mata.
8. Reaksi terhadap obat seperti neomisin, tobramisin, polusi, atau partikel
udara seperti debu, serbuk sari

Menurut Biswell (2010), keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa


hal.
Berdasarkan lapisan yang terkena keratitis dibagi menjadi:
1. Keratitis Pungtata (Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis Pungtata
Subepitel)
Keratitis pungtata adalah keratitis pada kelenjar bowman dengan infiltrat
halus pada kornea yang dapat terletak superfisial dan subepitel (Ilyas, 2004).
Keratitis pungtata dibagi menjadi 2 yaitu :
- Keratitis superfisialis : merupakan keratittis superfisial dengan adanya
infiltrat berbentuk bintik bintik putih pada permukaan kornea. penyebabnya
antara lain Blefaritis, keratopati, efek samping obat topikal.
- Keratitis pungtata subepitel : Terjadi didaerah bowman. Biasanya bilateral
dan kronis, nampak kelainan konjungtiva.

Etiologi keratitis Pungtata ini disebabkan oleh hal yang tidak spesifik dan
dapat terjadi pada Moluskum kontangiosum, Akne rosasea, Herpes simpleks,
Herpes zoster, Blefaritis neuroparalitik, infeksi virus, vaksinisia, trakoma,
trauma radiasi
Gejala klinis dapat berupa rasa sakit, silau, mata merah, dan merasa
kelilipan. Keratitis Marginal merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi
kornea sejajar dengan limbus. Penyakit infeksi lokal konjungtiva dapat
menyebabkan keratitis kataral atau keratitis marginal ini.

2. Keratitis marginal kataral biasanya terdapat pada pasien setengah umur


dengan adanya blefarokonjungtivitis
Etiologi nya yaitu Strepcoccus pneumonie, Hemophilus aegepty, Moraxella
lacunata dan Esrichia.
Gejala klinis Penderita akan mengeluhkan sakit, seperti kelilipan, lakrimasi,
disertai fotofobia berat. Pada mata akan terlihat blefarospasme pada satu mata,
injeksi konjungtiva, infiltrat atau ulkus yang memanjang, dangkal unilateral
dapat tunggal ataupun multipel, sering disertai neovaskularisasi dari arah
limbus.
Pengobatan yang dapat diberikan berupa vitamin B dan C dosis tinggi

Berdasarkan penyebabnya keratitis diklasifikasikan menjadi:


1. Keratitis Bakteri
Pasien keratitis biasanya mengeluh mata merah, berair, nyeri pada mata
yang terinfeksi, penglihatan silau, adanya sekret dan penglihatan menjadi
kabur. Pada pemeriksaan bola mata eksternal ditemukan hiperemis perikornea,
blefarospasme, edema kornea, infiltrasi kornea.
Patogenesis: bakteri melakukan adherensi, lalu berproliferasi pada stroma
kornea. Respon inflamasi bermula dari ekspresi sejumlah sitokin dan kemokin,
keterlibatan sel inflamasi dari air mata dan pembuluh limbal serta sekresi MMP
yang mengakibatkan nekrosis kornea
Gejala: pasien ulkus kornea biasanya datang dengan keluhan nyeru akut,
fotofobia, injeksi kornea, dan penurunan visus.
Terapi:
- Gram positif coccus: Cefazolin, Vancomycin
- Mycobacteria: Clarithromycin
- Gram negatif coccus: Ceftriaxone
- Gram negatif batang: Tobramycib
2. Keratitis Jamur
Infeksi jamur pada kornea yang dapat disebut juga mycotic keratitis.
Gejala klinis Menurut Susetio (1993) untuk menegakkan diagnosis klinik dapat
dipakai pedoman berikut :
- Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama.
- Lesi satelit.
- Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan
seperti hifa di bawah endotel utuh.
- Plak endotel.
- Hipopion, kadang-kadang rekuren.
- Formasi cincin sekeliling ulkus.
- Lesi kornea yang indolen.

Bila tidak ada respon terhadap terapi antibiotik pada ulserasi kornea
kemungkinan bisa disebabkan oleh fungi. Keratitis fungal dapat terjadi pada
kasus trauma dengan bahan tunbuhan dan penggunaan steroid jangka
panjang. Gejala: gejala inflamasi lebih ringan daripada keratitis bakteri dan
injeksi kornea jarang
Terapi:natamycin 5%, Untuk kasus berat dapat diberikan terapi
sistemik ketokonazol

3. Keratitis Virus
Etiologi
Herpes simpleks virus (HSV) merupakan salah satu infeksi virus tersering
pada kornea. Virus herpes simpleks menempati manusia sebagai host,
merupakan parasit intraselular obligat yang dapat ditemukan pada mukosa,
rongga hidung, rongga mulut, vagina dan mata. Penularan dapat terjadi melalui
kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, alat kelamin
yang mengandung virus
Gejala klinis
Pasien dengan HSV keratitis mengeluh nyeri pada mata, fotofobia,
penglihatan kabur, mata berair, mata merah, tajam penglihatan turun terutama
jika. bagian pusat yang terkena (Ilyas, 2004). Infeksi primer Herpes simpleks
pada mata biasanya berupa konjungtivitis folikularis akut disertai blefaritis
vesikuler yang ulseratif, serta pembengkakan kelenjar limfe regional.
Kebanyakan penderita juga disertai keratitis epitelial dan dapat mengenai
stroma tetapi jarang. Pada dasarnya infeksi primer ini dapat sembuh sendiri,
akan tetapi pada keadaan tertentu dimana daya tahan tubuh sangat lemah akan
menjadi parah dan menyerang stroma.

4. Keratitis Acanthamoeba
Etiologi
Keratitis yang berhubungan dengan infeksi Acanthamoeba yang biasanya
disertai dengan penggunaan lensa kontak (Dorland, 2002). Disebabkan
pemakaian lensa kontak yang berlebih, sehingga mata kekurangan oksigen.
Disitulah penyebab utama dari terjadinya keratitis ini
Gejala klinis
Rasa sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya yaitu kemerahan,
dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma,
dan infiltrat perineural. Bentuk-bentuk awal pada penyakit ini, dengan
perubahan-perubahan hanya terbatas pada epitel kornea semakin banyak
ditemukan. Keratitis Acanthamoeba sering disalah diagnosiskan sebagai
keratitis herpes.