Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan
sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir
tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut
disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga
mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan.
Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu
mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan.
Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat
macam yaitu pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan
diferensial dan pengecatan struktural. Pemberian warna pada bakteri atau
jasad- jasad renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna
pada lapisan tipis, atau olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan
sederhana. Prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan di antara sel-
sel microbe atau bagian- bagian sel microbe disebut teknik pewarnaan
diferensial. Sedangkan pengecatan struktural hanya mewarnai satu bagian
dari sel sehingga dapat membedakan bagian-bagian dari sel. Termasuk dalam
pengecatan ini adalah pengecatan endospora, flagella dan pengecatan kapsul.
Penggunaan zat warna memungkinkan pengamatan strukur seperti spora,
flagela, dan bahan inklusi yang mengandung zat pati dan granula fosfat.
Spora kuman dapat berbentuk bulat, lonjong atau silindris. Berdasarkan
letaknya spora di dalam sel kuman, dikenal letak sentral, subterminal dan
terminal. Ada spora yang garis tengahnya lebih besar dari garis tengah sel
kuman, sehingga menyebabkan pembengkakan sel kuman.
Kapsula merupakan lapisan polimer yang terletak di luar dinding sel. Jika
lapisan polimer ini terletak berlekatan dengan dinding sel maka lapisan ini
disebut kapsula. Tetapi jika polimer atau polisakarida ini tidak berlekatan
dengan dinding sel maka lapisan ini disebut lendir. Hal tersebut yang melatar
belakangi dilakukannya praktikum ini yaitu pewarnaan spora dan kapsul.

1
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari praktikum ini untuk memahami dasar pewarnaan
dari spora dan kapsul juga mengetahui prosedur dalam membedakan bakteri
kelompok spora dan kapsul
1.3 Manfaat Praktikum
Agar dapat mengetahui dasar pewarnaan dari sporan dan kapsul

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1
2.1 Pengertian Bakteri
Bakteri merupakan organisme prokariot. Umumnya ukuran bakteri sangat
kecil, bentuk tubuh bakteri baru dapat dilihat dengan menggunakan
mikroskop dengan pembesaran 1.000 X atau lebih. Sel bakteri memiliki
panjang yang beragam, sel beberapa spesies dapat berukuran 100 kali lebih
panjang daripada sel spesies yang lain. Bakteri merupakan makhluk hidup
dengan ukuran antara 0,1 sampai 0,3 µm. Bentuk bakteri bermacam – macam
yaitu elips, bulat, batang dan spiral. Bakteri lebih sering diamati dalam olesan
terwarnai dengan suatu zat pewarna kimia agar mudah diamati atau dilihat
dengan jelas dalam hal ukuran, bentuk, susunan dan keadaan struktur internal
dan butiran. Sel sel individu bakteri dapat berbentuk seperti bola/elips, batang
(silindris), atau spiral (heliks). Bakteri adalah mikroorganisme yang sangat
sederhana yang tidak bernukleus dan sifatnya berbeda dengan organisme
yang mempunyai inti sel. Selain itu bakteri merupakan organisme yang
sangat kecil (yang berukuran mikroscopis) akibatnya pada mikroskop tidak
tampak jelas dan sukar untuk melihat morfologinya maka dari itu dilakukan
pewarnaan bakteri yang biasa disebut pengenceran baketri. Pada umumnya
larutan-larutan zat warna yang digunakan adalah larutan encer yang lebih dari
satu persen. (Pelezar, 2008).
2.2 Dinding Sel Bakteri
Sel bakteri memiliki struktur dinding sel. Namun, struktur dinding sel pada
bakteri berbeda dengan tumbuhan. Penyusun utama dinding sel pada bakteri
adalah peptidoglikan, sedangkan penyusun utama dinding sel pada tumbuhan
adalah selulosa. Peptidoglikan merupakan sebuah polisakarida yang terdiri
dari dua macam gula turunan, yaitu N-acetylglucosamine (NAG) dan N-
acetylmuramic acid (NAM). Selain itu, peptidoglikan juga disusun oleh
beberapa asam amino, seperti D-alanine, L-alanine, D-glutamic acid, lysine
atau struktur mirip analog asam amino yang disebut DAP. Semua komponen
tersebut dikoneksikan sehingga membentuk struktur berulang yang disebut
glycan tetrapeptide (Faujiah, 2008).

1
Secara umum, dinding sel mempunyai fungsi untuk memberi kekuatan secara
struktural pada sel dan memberi perlindungan dari lisisnya sel. Dinding sel
bakteri mempunyai lapisan yang kaku dan keras yang bertanggung jawab
untuk memberi kekuatan pada sel. Bahkan, bakteri gram negatif mempuyai
lapisan tambahan di luar lapisan yang kaku tadi. Lapisan yang kaku itulah
yang disebut peptidoglikan. Sementara itu, sel bakteri menghadapi tekanan
osmotik yang tinggi, sekitar dua atmosfer pada kebayakan sel bakteri. Sel
memanfaatkan dinding sel untuk menahan tekanan tersebut dan mencegah sel
dari pelisisan (Ade, 2011).
2.3 Pewarnaan Bakteri
Pewarnaan bakteri bertujuan untuk memudahkan melihat bakteri dengan
mikroskop, memperjelas ukuran dan bentuk bakteri, untuk melihat struktur
luar dan struktur dalam bakteri seperti dinding sel dan vakuola, menghasilkan
sifat-sifat fisik dan kimia yang khas daripada bakteri dengan zat warna, serta
meningkatkan kontras mikroorganisme dengan sekitarnya. Teknik pewarnaan
warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu pengecatan
sederhana, pengecatan diferensial dan pengecatan struktural. Pemberian
warna pada bakteri atau jasad- jasad renik lain dengan menggunakan larutan
tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau olesan, yang sudah difiksasi,
dinamakan pewarnaan sederhana. Prosedur pewarnaan yang menampilkan
perbedaan di antara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikroba disebut
teknik pewarnaan diferensial (Djambatan, 2008).
Prinsip dasar dari pewarnaan adalah adanya ikatan ion antara komponen
selular dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang disebut
kromogen. Ikatan ion dapat terjadi karena adanya muatan listrik baik pada
komponen seluler maupun pada pewarna. Terdapat tiga macam metode
pewarnaan yaitu pewarnaan sederhana, pewarnaan diferensial dan pewarnaan
gram. Pewarnaan sederhana menggunakan pewarna tunggal, pewarnaan
diferensial memakai serangkaian larutan pewarna atau reagen. Pewarnaan
gram merupakan metode pewarnaan yang paling umum digunakan untuk
mewarnai sel bakteri (Djambatan, 2008).
2.4 Zat Pewarnaan

1
Zat pewarna adalah garam yang terdiri atas ion positif dan ion negatif,
salah satu di antaranya berwarna. Pada zat warna yang bersifat basa, warna
terdapat pada ion positif (zat pewarna+ Cl-) dan pada pewarna asam, warna
akan terdapat pada ion negatif (zat pewarna- Na+). Hubungan antara bakteri
dengan zat pewarna basa yang menonjol disebabkan terutama oleh adanya
asam nukleat dalam jumlah besar dalam protoplasma sel. Jadi, jika bakteri itu
diwarnai, muatan negatif dalam asam nukleat bakteri akan bereaksi dengan
ion positif zat pewarna basa, Kristal violet, safranin dan metilin blue adalah
beberapa zat pewarna basa yang biasa digunakan. Sebaliknya zat pewarna
asam ditolak oleh muatan negatif bakteri menyeluruh. Jadi, mewarnai bakteri
dengan zat pewarna asam akan menghasilkan hanya pewarnaan pada daerah
latar belakang saja. Karena sel bakteri tak berwarna di atas latar belakang
yang berwarna (Ade, 2011).
2.5 Pengertian Kapsul
Kapsul merupakan substansia yang bersifat viskous sehingga membentuk
suatu selubung yang mengelilingi dinding sel, memiliki fungsi lain yakni
melindungi tubuh bakteri dari kekeringan sementara dengan mengikat
molekul-molekul air serta memudahkan melekatkan bakteri pada permukaan
atau substrat, misalnya Streptokokus mutans, sejenis bakteri yang
berhubungan dengan karies gigi yang dapat melekat pada permukaan gigi
yang lain akibat sekret yang dihasilkan.
Kapsula merupakan lapisan polimer yang terletak di luar dinding sel. Jika
lapisan polimer ini terletak berlekatan dengan dinding sel maka lapisan ini
disebut kapsula. Baik kapsula maupun lendir terdiri dari polisakarida dan
polipeptin (komplek polisakarida dengan protein). Kapsula bukan organ yang
penting untuk kehidupan sel bakteri. Hal ini terbukti bahwa sel bakteri yang
tidak dapat membentuk kapsula mampu tumbuh dengan normal dalam
medium. Kapsula berfungsi dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Misalnya berperan dalam mencegah terhadap kekeringan, mencegah atau
menghambat terjadinya pencantelan bakteriofag, bersifat antifagosit sehingga
kapsul memberikan sifat virulen bagi bakteri. Kapsula juga berfungsi untuk

1
alat mencantelkan diri pada permukaan seperti yang dilakukan oleh
Streptococcus muans (Syahru, 1994).
Kapsul tidak memiliki aktifitas yang besar terhadap bahan-bahan cat basa.
Beberapa kapsul cepat rusak oleh gangguan mekanis atau larut bila dicuci
dengan air. Karena kapsul dari berbagai spesies berbeda dalam susunan zat-
zatnya, maka tidak semua kapsul dapat diperlihatkan dalam proses pewarnaan
yang sama. Beberapa cara pewarnaan telah dikemukakan dalam usaha
memperlihatkan adanya kapsul, cara tersebut antara lain adalah cara
pewarnaan negatif dan cara pewarnaan kapsul (Syahru, 1994).
Virulensi patogen sering berhubungan dengan produksi kapsula.
Hilangnya kemampuan untuk membentuk kapsul melalui mutasi
berhubungan dengan kehilangan virulensi dan kerusakan oleh fagosit namun
tidak mempengaruhi kelangsungan hidup bakteri sehingga tidak semua
bakteri memiliki kapsula, ada juga yang tidak memiliki kapsula. Jika bakteri
tersebut kehilangan kapsulnya sama sekali maka ia akan dapat kehilangan
virulensinya dan dengan demikian akan kehilangan kemampuannya untuk
menyebabkan infeksi. Bakteri-bakteri berkapsula juga menyebabkan adanya
gangguan seperti lendir dalam beberapa proses industri (Pelezar, 2008).
Bentuk kapsula yang kental yang cenderung melekat kepada sel,
sedangkan lendir dan polimer ekstraseluler lebih mudah tercuci. Kapsula ini
lebih mudah dilihat dari pewarnaan negatif. Di bawah mikroskop, dalam
campuran tinta cina kapsul terlihat lebih terang mengelilingi sel. Kapsul juga
dapat diwarnai secara khusus. Sel bakteri yang tidak membentuk kapsula dan
secara serologi dapat bereaksi dengan serum antikapsul, dikatakan
menghasilkan mikrokapsul (Syahru, 1994).
2.6 Pengertian Spora
Spora bakteri adalah bentuk bekteri yang sedang dalam usaha
mengamankan diri terhadap pengaruh buruk dari luar. Spora bakteri
mempunyai fungsi yang sama seperti kista amoeba, sebab bakteri dalam
bentuk spora dan amoeba dalam bentuk kista merupakan suatu fase dimana
kedua mikroorganisme itu berubah bentuk untuk melindungi diri terhadap
faktor luar yang tidak menguntungkan.(Hadiotomo, 1990)

1
Endospora hanya terdapat pada bakteri. Merupakan tubuh berdinding
tebal, sangat refraktif, dan sangat resisten, dihasilkan oleh semua spesies
Bacillus, Clostridium dan Sporosarcina. Bakteri yang mampu membentuk
endospora dapat tumbuh dan bereproduksi selama banyak generasi sebagai
sel vegetatif. Namun pada beberapa tahapan di dalam pertumbuhannya,
terjadi sintesis protoplasma baru dalam sitoplasma vegetatifnya yang
dimaksudkan untuk menjadi spora. Bentuk spora ada yang bulat, ada pula
yang bulat panjang, hal ini bergantung pada spesies. Endospora ada yang
lebih kecil dan ada pula yang lebih besar daripada diameter sel induk.
(Dwidjoseputro, 2005). Letak endospora di dalam sel serta ukurannya selama
pembentukannya tidaklah sama bagi semua spesies. Sebagai contoh, beberapa
spora adalah sentral yaitu dibentuk di tengah-tengah sel, yang lain terminal
yaitu dibentuk di ujung; dan yang lain lagi subterminal yaitu di dekat ujung.
Pada umumnya sporulasi itu mudah terjadi, jika keadaan medium memburuk,
zat-zat yang timbul sebagai pertukaran zat bertimbun-timbun dan faktor-
faktor luar lainnya merugikan. Tetapi pada beberapa spesies mampu
membentuk spora meskipun tidak terganggu oleh faktor luar. Sporulasi dapat
dicegah, jika selalu diadakan pemindahan piaraan ke medium yang baru.
Beberapa spesies bakteri dapat kehilangan kemampuannya untuk membentuk
spora. Spora dapat tumbuh lagi menjadi bakteri biasa apabila keaadaan di luar
menguntungkan. Mula-mula air meresap ke dalam spora, kemudian spora
mengembang dan kulit spora menjadi retak karenanya. Keretakan ini dapat
terjadi pada salah satu ujung, tetapi juga dapat terjadi pada tengah-tengah atau
dekat tengah-tengah spora. Hal ini merupakan ciri khas bagi beberapa spesies
Bacillus. Jika kulit spora pecah di tengah-tengah, maka masing-masing
pecahan akan merupakan suatu tutup pada kedua ujung bakteri.
(Dwidjoseputro, 2005)
2.7 Pewarnaan Kapsul
Pewarnaan ini bisa dilakukan dengan menggunakan nigrosin, merah kongo
atau tinta cina. Setelah ditambahkan pewarna yang tidak menembus kapsul,
maka kapsul dapat tampak dengan menggunakan mikroskop cahaya. Ini
merupakan penampilan negatif kapsul yang terlihat jernih dengan latar

1
belakang gelap. Kapsula bukan organ yang penting untuk kehidupan sel
bakteri. Hal ini terbukti bahwa sel bakteri yang tidak dapat membentuk
kapsula mampu tumbuh dengan normal dalam medium. Kapsula berfungsi
dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya. Misalnya berperan dalam
mencegah terhadap kekeringan, mencegah atau menghambat terjadinya
pencantelan bakteriofag, bersifat antifagosit sehingga kapsul memberikan
sifat virulen bagi bakteri. Kapsula juga berfungsi untuk alat mencantelkan diri
pada permukaan seperti yang dilakukan oleh Streptococcus muans (Lay,
1994).
Kapsula bakteri-bakteri penyebab penyakit (patogen) berfungsi untuk
menambah kemampuan bakteri untuk menginfeksi. Selain itu, bakteri
berkapsula juga menyebabkan adanya gangguan lendir dalam proses industri.
(Pelezar, 2008). Ukuran kapsula sangat dipengaruhi oleh medium tempat
ditumbuhkannya bakteri tersebut. Pada beberapa kejadian tebalnya kapsula
hanya satu per sekian diameter selnya, namun dalam kasus-kasus lainya
ukuran kapsula jauh lebih besar daripada diameter selnya. Lapisan kapsul
cukup tebal sehingga sulit diwarnai, oleh karena itu diperlukan suatu
pewarnaan khusus. Salah satu cara pewarnaan kapsula menurut Raebiger
yaitu dengan menggunakan pewarna larutan formol-gentian violet Raebiger
atau kristal violet. Satu lagi cara untuk perwarnaan kapsula bakteri adalah
dengan pewarnaan negatif (pewarnaan tidak langsung ). Pada pewarnaan
negatif latarbelakangnya diwarnai zat warna negatif sedangkan bakterinya
diwarnai dengan zat warna basa. Kapsula tidak menyerap warna sehingga
terlihat lapisan terang yang tembus dengan latar belakang yang berwarna
Hasil pewarnaan dengan menggunakan cara pewarnaan negatif menunjukkan
bakteri berwarna merah, sedangkan kapsul tampak sebagai daerah yang
kosong di sekitar tubuh bakteri, dan latar belakang berwarna gelap.
Pengecatan negatif bertujuan untuk mewarnai latar belakang atau bidang
pandang di bawah mikroskop dan bukan untuk mewarnai sel-sel mikroba
yang diperiksa. Pengecatan negatif dapat digunakan untuk melihat kapsul
yang menyelubungi tubuh bakteri dengan hanya menggunakan satu macam
cat saja. Sedangkan pewarnaan kapsul (pewarnaan positif) pertama

1
dikemukakan oleh Tyler. Dalam pewarnaan positif ini digunakan senyawa
kristal violet 0,18 gram. Hasil dari pewarnaan kapsula ini adalah kapsul
tampak berwarna biru-ungu yang terletak disekitar tubuh bakteri. Sedangkan
bakterinya sendiri berwarna biru kelam (Lay, 1994)
2.8 Pewarnaan Spora
Spora Beberapa spesies bakteri tertentu dapat membentuk spora. Spora
dihasilkan di dalam tubuh vegetatif bakteri tersebut, dapat berada di bagian
tengah (central), ujung (terminal) ataupun tepian sel. Menyatakan bahwa
spora merupakan tubuh bakteri yang secara metabolik mengalami dormansi,
dihasilkan pada faselanjut dalam pertumbuhan sel bakteri yang sama seperti
asalnya, yaitu sel vegetatif. Spora bersifat tahan terhadap tekanan fisik
maupun kimiawi. Dengan adanya kemampuan untuk membentuk spora ini,
bakteri tersebut dapat bertahan pada kondisi yang ekstrim, bakteri yang dapat
membentuk endospore ini dapat hidup dan mengalami tahapan-tahapan
pertumbuhan sampai beberapa generasi, dan spora terbentuk melalui sintesis
protoplasma baru di dalam sitoplasma sel vegetatifnya. Dalam pengamatan
spora bakteri diperlukan pewarnaan tertentu yang dapat menembus dinding
tebal spora.
Contoh dari pewarnaan yang dimaksudkan oleh Volk & Wheeler tersebut
adalah dengan penggunaan larutan hijau malakit 5%, dan untuk memperjelas
pengamatan, sel vegetative juga diwarnai dengan larutan safranin 0,5%
sehingga sel vegetative ini berwarna merah. Dengan demikian ada atau
tidaknya spora dapat teramati, bahkan posisi spora di dalam tubuh sel
vegetative juga dapat diidentifikasi.Namun ada juga zat warna khusus untuk
mewarnai spora dan di dalam proses pewarnaannya melibatkan treatment
pemanasan, yaitu; spora dipanaskan bersamaan dengan zat warna tersebu
tsehingga memudahkan zat warna tersebut untuk meresap ke dalam dinding
pelindung spora bakteri. Beberapa zat warna yang telah disebutkan di atas,
dapat mewarnai spora bakteri, tidak lepas dari sifat kimiawi dinding spora itu
sendiri.Semua spora bakteri mengandung asam dupikolinat.Yang mana
subtansi ini tidak dapat ditemui pada sel vegetatif bakteri, atau dapat
dikatakan, senyawa ini khas dimiliki oleh spora.Dalam proses pewarnaan,

1
sifat senyawa inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk di warnai
menggunakan pewarna tertentu, dalam hal ini larutan hijau malakit. selain
subtansi di atas, dalam spora bakteri juga terdapat kompleks Ca2+dan asam
dipikolinan peptidoglikan. Proses pembentukan spora disebut sprorulasi, pada
umumnya proses ini mudah terjadi saat kondisi medium biakan bakteri telah
memburuk, hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa, sampel yang diambil
dalam praktikum ini berasal dari biakan bakteri yang dibuat beberapa minggu
yang lalu, sehingga di asumsikan, nutrisi di dalam medium telah hampir
habis, sehingga diharapkan bakteri melakukan proses sporulasi ini. Proses
pembentukan spora di dalam sel vegetatif bakteri, terjadi dalam beberapa
tahapan, secara singkat bagan proses pembentukan spora bakteri di atas dapat
dijelaskan sebagai berikut: 1. Terjadi kondensasi DNA pada bakteri yang
akan membentuk spora 2. Terjadi pembalikan membran sitoplasma, sehingga,
lapisan luar membran kini menjadi lapisan dalam membran (calon) spora. 3.
Pembentukan korteks primordial (calon korteks) 4. Pembentukan korteks 5.
Spora terlepas dan menjadi spora yang bebas, pada tahap 5 ini,jika spora
mendapatkan lingkungan yang kondusif, maka ia bisa tumbuh menjadi satu
sel bakteri yang baru. Spora bakteri ini dapat bertahan sangat lama, ia dapat
hidup bertahun-tahun bahkan berabad-abad jika berada dalam kondisi
lingkungan yang normal. Kebanyakan sel vegetatif akan mati pada suhu 60-
70oC, namun spora tetap hidup, spora bakteri ini dapat bertahan dalam air
mendidih bahkan selama 1 jam lebih. Selama kondisi lingkungan tidak
menguntungkan, spora akan tetap menjadi spora, sampai kondisi lingkungan
dianggap menguntungkan, spora akan tumbuh menjadi satu sel bakteri yang
baru dan berkembangbiak secara normal (Volk & Wheeler, 1993).

1
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat
Pada praktikum kali ini menggunakan peralatan pembakar bunsen, kaca
objek, ose inokulasi, dan mikroskop
3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan adalah biakan Basillus, Nacl, Kristal
Violet, Tembaga Sulfat 20%, malakit hijau, safranin.
3.3 Prosedur kerja
3.3.1 Pewarnaan Spora
1. Siapkan kaca objek yang bersih
2. Tetesi Nacl diatas kaca objek, kemudian buatlah apusan
mikroorganisme diatas kaca objek yang telah di tetesi NaCl buatlah
berbentuyk seperti oval telur
3. Biarkan apusan mengering dan lakukan fiksasi
4. Setelah kering, genangi apusan dengan malakit hijau dan tempatkan
diatas kaki tiga. Biarkan preparat diuapi selama 2-3 menit. Jangan
biarkan pewarnaan menguap tambahkan kembali pewarna sesuai
kebutuhan.
5. Pindahkan kaca objek dari kaki tiga, dinginkan dan bilas dengan air
keran yang mengalir
6. Berikan pewarna tanding safranin selama 30 detik
7. Bilas dengan air keran
8. Keringkan dan amati dibawah mikroskop
Hasil telah di dapatkan spora
3.3.2 Pewarnaan Kapsul
1. Siapkan kaca objek yang bersih,
2. Dengan menggunakan teknik steril, tambahkan biakan dengan
menggunakan ose inokulasi,
3. Dengan sebuah kaca objek bersih, sebarkan campuran diatas
permukaan kaca objek untuk membentuk apusan yang tipis, biarkan
selama 5-7 menit

1
4. Biarkan apusan mongering di udara
5. Tambahkan larutan Kristal violet selama 5 menit,
6. Kemudian bilas apusan dengan menggunakan larutan tembaga sulfat
20%
7. Kemudian keringkan, dan amati dibawah mikroskop

1
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan

GAMBAR KETERANGAN

1. Pewarnaan Spora

Terdapat spora dengan berwarna


hijau

2. Pewarnaan Kapsul

Terdapat kapsul dengan berwarna


ungu

4.2 Pembahasan
Proses pewarnaan spora dilakukan setelah fiksasi pemanasan agar bakteri
dapat sangat melekat pada kaca preparat dan membuat bakteri merasa
terancam sehingga membuat spora. Kemudian preparat diteteskan malasit
hijau secara merata yang berfungsi sebagai pewarnaan primer yang
digunakan untuk melumuri fiksasi panas dan dipanaskan sampai menggepul.
Preparat dipanaskan di atas spirtus yang bertujuan untuk membantu warna
menembus dinding endospora dan dijaga jangan sampai pewarna kering.
Kemudian dicuci dengan air dengan cara mengalir dan dikering udarakan
bertujuan untuk menghilangkan malasit hijau dari seluruh bagian sel
endospora. Pewarnaan dengan safranin bertujuan sebagai counterstain yang
digunakan untuk melumuri bagian warna dari sel yang lain daripada
endospora. Kemudian dibilas kembali dengan air mengalir agar warna

1
safranin luntur dan dikerigkan agar warna cepat kering dan terlihat.
Kemudian diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 1000x dan
memakai minyak imersi.
Dua jenis bakteri yang dapat membentuk spora misalnya Clostridium dan
Bacillus. Clostridium adalah bakteri yang bersifat anaerobic, sedangkan
Bacillus pada umumnya bersifat aerobic. Struktur spora mungkin bervariasi
untuk setiap jenis spesies, tapi umumnya hamper sama. Spora bakteri
merupakan struktur yang tahan terhadap keadaan lingkungan yang ekstrim
misalnya kering, pemanasan, dan keadaan asam
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengecatan spora:
1. Fiksasi
2. Smear terlalu tebal
3. Waktu pengecatan tidak tepat
4. Konsentrasi reaagen
5. Umur bakteri
6. nutrisi
Pada praktikum yang ke 2, pewarnaan kapsul dilakukan dengan
menggunakan pewarna primer yaitu kristal violet dan senyawa pemucat yaitu
CuSO4. Kristal violet merupakan larutan yang mempunyai kromophore atau
butir pembawa warna yang bermuatan positif (memiliki kation) sedangkan
muatan yang berada di sekeliling bakteri bermuatan negatif (memiliki anion),
sehingga terjadi adanya tarik menarik antara kedua ion tersebut. Hal inilah
yang menyebabkan bakteri berwarna ungu. Dan terbentuknya warna biru
muda pada kapsul disebabkan karena kapsul menyerap CuSO4. Pada
pewarnaan kapsul ini, CuSO4 20% berfungsi sebagai peluntur warna
(decolourisasi) dimaksudkan untuk menghilangkan atau mencuci zat warna
tanpa menghilangkan warna pada sel bakteri.
Faktor-faktor yang memengaruhi pengecatan adalah faktor cat, faktor
dinding sel, dan faktor proses pewarnaan. Cat dan permukaan sel bakteri
harus mempunyai ion yang berlawanan sehingga cat dapat berikatan dengan
permukaan sel bakteri. Sebagai contoh, kristal violet yang memiliki ion
bermuatan positif akan berikatan dengan permukaan sel bakteri yang

1
umumnya memiliki ion bermuatan negatif. Proses pewarnaan yang cukup
penting adalah pada saat proses fiksasi. Pengerjaan proses fiksasi yang tidak
benar akan membuat pengecatan menjadi kurang baik, misalnya sel bakteri
masih hidup, sel bakteri hilang ketika proses pencucian, dan sel tidak mampu
diwarnai oleh zat pewarna.

1
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kapsul merupakan substansia yang bersifat viskous sehingga membentuk
suatu selubung yang mengelilingi dinding sel, memiliki fungsi lain yakni
melindungi tubuh bakteri dari kekeringan sementara dengan mengikat
molekul-molekul air serta memudahkan melekatkan bakteri pada permukaan
atau substrat.
Spora bakteri adalah bentuk bekteri yang sedang dalam usaha
mengamankan diri terhadap pengaruh buruk dari luar. Spora bakteri
mempunyai fungsi yang sama seperti kista amoeba, sebab bakteri dalam
bentuk spora dan amoeba dalam bentuk kista merupakan suatu fase dimana
kedua mikroorganisme itu berubah bentuk untuk melindungi diri terhadap
faktor luar yang tidak menguntungkan.
5.2 Saran
Sebaiknya pada saat pemberian zat warna pada pewarnaan spora maupun
kapsul, waktunya jangan terlalu lama atau pun cepat karna ketika pewarnaan
itu terlalu cepat atau lama dapat dapat merusak komponen yang ada di dalam
spora maupun kapsul, makanya sudah ditentukan waktu yang akan
digunakan.

1
DAFTAR PUSTAKA

Ade, S. 2011 http://adesahy.blogspot.co.id/2011/09/pewarnaan-spora.html di


akses tanggal 25 mei 2018

Djambatan Jimmo., 2008, http ://Pembuatan PReParAT dan PengeCaTAnnyA _


BLoG KiTa.mht,. di akses tanggal 25 mei 2018

Dwidjoseputro. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta

Fauziah., 2008, http://www.fkugm2008.com/wp-content/uploads/HSC/1-2x/6/Pra


ktikum6.pdf. di akses tanggal 25 mei 2018

Hadiotomo, R. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : Pt Gramedia.

Lay, B. W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raga Grafindo


Persada.

Pelezar,chan. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press: Jakarta

Syahru, dkk. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Jakarta: UI
Press.

Volk dan Wheeler, 1993, Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi ke 5, Erlangga, Jakarta.

Waluyo,lud. 2010. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. UMM.


Malang Widjoseputro, D., 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang :