Anda di halaman 1dari 18

1) Runtuhnya Pemerintahan Orde Baru dan Lahirnya Reformasi

Di balik kesuksesan pembangunan di depan, Orde Baru menyimpan beberapa


kelemahan. Selama masa pemerintahan Soeharto, praktik korupsi, kolusi, nepotisme
(KKN) tumbuh subur. Praktik korupsi menggurita hingga kasus Bantuan Likuiditas
Bank Indonesia (BLBI) pada tahun 1998. Rasa ketidakadilan mencuat ketika kroni-
kroni Soeharto yang diduga bermasalah menduduki jabatan menteri Kabinet
Pembangunan VII. Kasus-kasus korupsi tidak pernah mendapat penyelesaian hukum
secara adil.
Pembangunan Indonesia berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sehingga
menyebabkan ketidakadilan dan kesenjangan sosial. Bahkan, antara pusat dan
daerah terjadi kesenjangan pembangunan karena sebagian besar kekayaan daerah
disedot ke pusat. Akhirnya, muncul rasa tidak puas di berbagai daerah, seperti di
Aceh dan Papua. Di luar Jawa terjadi kecemburuan sosial antara penduduk lokal
dengan pendatang (transmigran) yang memperoleh tunjangan pemerintah.
Penghasilan yang tidak merata semakin memperparah kesenjangan sosial.
Pemerintah mengedepankan pendekatan keamanan dalam bidang sosial dan
politik. Pemerintah melarang kritik dan demonstrasi. Oposisi diharamkan rezim
Orde Baru. Kebebasan pers dibatasi dan diwarnai pemberedelan Koran maupun
majalah. Untuk menjaga keamanan atau mengatasi kelompok separatis, pemerintah
memakai kekerasan bersenjata. Misalnya, program “Penembakan Misterius” (Petrus)
atau Daerah Operasi Militer (DOM). Kelemahan tersebut mencapai puncak pada
tahun 1997-1998.
Indonesia mengalami krisis ekonomi pada tahun 1997. Krisis moneter dan
keuangan yang semula terjadi di Thailand pada bulan Juli 1997 merembet ke
Indonesia. Hal ini diperburuk dengan kemarau terburuk dalam lima puluh tahun
terakhir. Dari beberapa negara Asia, Indonesia mengalami krisis paling parah. Solusi
yang disarankan IMF justru memperparah krisis. IMF memerintahkan penutupan
enam belas bank swasta nasional pada 1 November 1997. Hal ini memicu
kebangkrutan bank dan negara.
Krisis ekonomi mengakibatkan rakyat menderita. Pengangguran melimpah dan
harga kebutuhan pokok melambung. Pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di
berbagai daerah. Daya beli masyarakat menurun. Bahkan, hingga bulan Januari 1998
rupiah menembus angka Rp 17.000,00 per dolar AS. Masyarakat menukarkan rupiah
dengan dolar. Pemerintah mengeluarkan “Gerakan Cinta Rupiah”, tetapi tidak mampu
memperbaiki keadaan. Krisis moneter tersebut telah berkembang menjadi krisis
multidimensi. Krisis ini ditandai adanya keterpurukan di segala bidang kehidupan
bangsa. Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah semakin menurun. Pemerintah
kurang peka dalam menyelesaikan krisis dan kesulitan hidup rakyat. Kabinet
Pembangunan VII yang disusun Soeharto ternyata sebagian besar diisi oleh kroni
dan tidak berdasarkan keahliannya. Kondisi itulah yang melatarbelakangi munculnya
gerakan reformasi.
Munculnya gerakan reformasi dilatarbelakangi oleh terjadinya krisis
multidimensi yang dihadapi bangsa Indonesia. Semula gerakan ini hanya berupa
demonstrasi di kampus-kampus di berbagai daerah. Akan tetapi, para mahasiswa
harus turun ke jalan karena aspirasi mereka tidak mendapatkan jalan keluar.
Gerakan reformasi tahun 1998 mempunyai enam agenda antara lain suksesi
kepemimpinan nasional, amandemen UUD 1945, pemberantasan KKN, penghapusan
dwifungsi ABRI, penegakan supremasi hukum, dan pelaksanaan otonomi daerah.
Agenda utama gerakan reformasi adalah turunnya Soeharto dari jabatan presiden.
Berikut ini kronologi beberapa peristiwa penting selama gerakan reformasi yang
memuncak pada tahun 1998.
1. Demonstrasi Mahasiswa
Desakan atas pelaksanaan reformasi dalam kehidupan nasional dilakukan
mahasiswa dan kelompok proreformasi. Pada tanggal 7 Mei 1998 terjadi
demonstrasi mahasiswa di Universitas Jayabaya, Jakarta. Demonstrasi ini berakhir
bentrok dengan aparat dan mengakibatkan 52 mahasiswa terluka. Sehari kemudian
pada tanggal 8 Mei 1998 demonstrasi mahasiswa terjadi di Yogyakarta (UGM dan
sekitarnya). Demonstrasi ini juga berakhir bentrok dengan aparat dan menewaskan
seorang mahasiswa bernama Mozes Gatotkaca. Dalam kondisi ini, Presiden Soeharto
berangkat ke Mesir tanggal 9 Mei 1998 untuk menghadiri sidang G 15.
2. Peristiwa Trisakti
Tuntutan agar Presiden Soeharto mundur semakin kencang disuarakan
mahasiswa di berbagai tempat. Tidak jarang hal ini mengakibatkan bentrokan
dengan aparat keamanan. Pada tanggal 12 Mei 1998 empat mahasiswa Universitas
Trisakti, Jakarta tewas tertembak peluru aparat keamanan saat demonstrasi
menuntu Soeharto mundur. Mereka adalah Elang Mulya, Hery Hertanto, Hendriawan
Lesmana, dan Hafidhin Royan. Peristiwa Trisakti mengundang simpati tokoh
reformasi dan mahasiswa Indonesia.
3. Kerusuhan Mei 1998
Penembakan aparat di Universitas Trisakti itu menyulut demonstrasi yang
lebih besar. Pada tanggal 13 Mei 1998 terjadi kerusuhan, pembakaran, dan
penjarahan di Jakarta dan Solo. Kondisi ini memaksa Presiden Soeharto
mempercepat kepulangannya dari Mesir. Sementara itu, mulai tanggal 14 Mei 1998
demonstrasi mahasiswa semakin meluas. Bahkan, para demonstran mulai menduduki
gedung-gedung pemerintah di pusat dan daerah.
4. Pendudukan Gedung MPR/DPR
Mahasiswa Jakarta menjadikan geudng MPR/DPR sebagai pusat gerakan yang
relative aman. Ratusan ribu mahasiswa menduduki gedung rakyat. Bahkan, mereka
menduduki atap gedung tersebut. Mereka berupaya menemui pimpinan MPR/DPR
agar mengambil sikap yang tegas. Akhirnya, tanggal 18 Mei 1998 ketua MPR/DPR
Harmoko meminta Soeharto turun dari jabatannya sebagai presiden. Pernyataan
Harmoko itu kemudian dibantah oleh Pangjab Jenderal TNI Wiranto dan
mengatakannya sebagai pendapat pribadi.
Untuk mengatasi keadaan, Presiden Soeharto mengundang beberapa tokoh
masyarakat seperti Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid ke Istana Negara
pada tanggal 19 Mei 1998. Akan tetapi, upaya ini tidak mendapat sambutan rakyat.
5. Pembatalan Apel Kebangkitan Nasional
Momentum hari Kebangkitan Naisonal 20 Mei 1998 rencananya digunakan
tokoh reformasi Amien Rais untuk mengadakan doa bersama di sekitar Tugu Monas.
Akan tetapi, beliau membatalkan rencana apel dan doa bersama karena 80.000
tentara bersiaga di kawasan tersebut. Di Yogyakarta, Surakarta, Medan, dan
Bandung ribuan mahasiswa dan rakyat berdemonstrasi. Ketua MPR/DPR Harmoko
kembali meminta Soeharto mengundurkan diri pada hari Jumat tanggal 22 Mei 1998
atau MPR/DPR akan terpaksa memilih presiden baru. Bersamaan dengan itu, sebelas
menteri Kabinet Pembangunan VII mengundurkan diri.
6. Pendunduran Diri Presiden Soeharto
Pada dini hari tanggal 21 Mei 1998 Amien Rais selaku Ketua Pengurus Pusat
Muhammadiyah menyatakan, “Selamat tinggal pemerintahan lama dan selamat
datang pemerintahan baru”. Ini beliau lakukan setelah mendengar kepastian dari
Yuzril Ihza Mahendra. Akhirnya, pada pukul 09.00 WIB Presiden Soeharto
membacakan pernyataan pengunduran dirinya.
Itulah beberapa peristiwa penting menyangkut gerakan reformasi tahun 1998.
Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden yang telah dipegang selama 32
tahun. Beliau kemudian digantikan B.J. Habibie. Sejak saat itu Indonesia memasuki
era reformasi.

2) Perkembangan Politik & Ekonomi


1. Masa Pemerintahan Presiden B.J Habibie

BJ Habibie merupakan Presiden Indonesia ketiga yang menggantikan Soeharto


yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Dasar
hukum pengangkatan Habibie adalah berdasarkan TAP MPR No.VII/MPR/1973 yang
berisi “jika Presiden berhalangan, maka Wakil Presiden ditetapkan menjadi
Presiden”. Beliau menjadi presiden sejak 21 Mei 1998 sampai dengan 20 Oktober
1999. Habibie mewarisi kondisi keadaan negara kacau balau pasca pengunduran diri
Soeharto pada masa orde baru.

Ketika Habibie menjadi Presiden, Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi


yang disebabkan oleh krisis mata uang yang didorong oleh hutang luar negeri yang
luar biasa besar sehingga menurunkan nilai rupiah. Ditambah dengan kerusuhan Mei
1998 telah menghancurkan pusat-pusat bisnis perkotaan, larinya modal, dan
hancurnya produksi serta distribusi barang-barang menjadikan upaya pemulihan
menjadi sangat sulit, hal tersebut menyebabkan tingkat inflasi yang tinggi.
Tugas yang diemban oleh Presiden B.J Habibie adalah memimpin pemerintahan
transisi untuk menyiapkan dan melaksanakan agenda reformasi yang menyeluruh dan
mendasar, serta sesegera mungkin mengatasi kemelut yang sedang terjadi. Dalam
pemerintahannya B.J. Habibie berusaha untuk melakukan pembaharuan-
pembaharuan dalam beberapa bidang demi untuk menciptakan kehidupan masyarakat
yang sejahtera dan sesuai dengan UUD 1945. Adapun pembaharuan yang dilakukan
oleh B.J. Habibie antara lain:

A. Bidang Ekonomi
Dalam pidato pertamanya pada tanggal 21 Mei 1998, malam harinya setelah dilantik
sebagai Presiden, pukul.19.30 WIB di Istana Merdeka yang disiarkan langsung
melalui RRI dan TVRI, B.J. Habibie menyatakan tekadnya untuk melaksanakan
reformasi. Pidato tersebut bisa dikatakan merupakan visi kepemimpinan B.J.
Habibie guna menjawab tuntutan Reformasi secara cepat dan tepat.Untuk
menyelesaikan risis moneter dan perbaikan ekonomi Indonesia, B.J. Habibie
melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Merekapitulasi perbankan.
2. Melikuidasi beberapa bank yang bermasalah.
3. Menyediakan jaringan pengaman sosial bagi mereka yang paling menderita
akibat krisis.
4. Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika serikat hingga dibawah
Rp.10.000,-.
5. Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.
6. Merekonstruksi perekonomian Indonesia.
7. Membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar negeri.
8. Mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik. Monopoli dan
Persaingan yang Tidak Sehat.
9. Mengesahkan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

B. Bidang Politik
Di bidang politik antara lain dengan memperbarui berbagai perundang-undangan
dalam rangka lebih meningkatkan kualitas kehidupan berpolitik yang bernuansa pada
PEMILU sebagaimana yang diamanatkan oleh Garis-garis Besar Haluan Negara
(GBHN). Beberapa kebijakan selama kepemimpinan presiden BJ Habibie antara lain
sebagai berikut.
1. Membentuk kabinet yang diberi nama Kabinet Reformasi Pembangunan.
Kabinet Reformasi Pembangunan terdiri dari 36 Menteri, yaitu 4 Menteri
Negara dengan tugas sebagai Menteri Koordinator, 20 Menteri Negara yang
memimpin Departemen, dan 12 Menteri Negara yang memimpin tugas
tertentu.
2. Memberi kebebasan pada rakyat untuk menyalurkan aspirasinya sehingga
banyak bermunculan partai-partai politik yang baru sebanyak 45 parpol.
3. Membebaskan narapidana politik seperti Sri Bintang Pamungkas dan Moch.
Pakpahan.
4. Mencabut larangan berdirinya serikat-serikat buruh independen.
5. Diberlakukannya Otonomi Daerah yang lebih demokratis dan semakin luas.
Dengan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah serta perimbangan
keuangan antara pusat dan daerah, diharapkan akan meminimalkan ancaman
disintegrasi bangsa. Otonomi daerah ditetapkan melalui Ketetapan MPR No
XV/MPR/1998.
6. Membentuk tiga undang-undang demokratis yaitu, (1) UU No. 2 tahun 1999
tentang Partai Politik (2) UU No. 3 tahun 1999 tentang Pemilu (3) UU No. 4
tahun 1999 tentang Susduk DPR/MPR
7. Menetapkan 12 ketetapan MPR dan ada 4 ketetapan yang mencerminkan
jawaban dari tuntutan reformasi yaitu, (1) Tap No. VIII/MPR/1998 tentang
Pencabutan Tap No. IV/MPR/1983 tentang Referendum. (2) Tap No.
XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Tap No. II/MPR/1978 tentang
Pancasila Sebagai Asas Tunggal. (3) Tap No. XII/MPR/1998 tentang
Pencabutan Tap No. V/MPR/1998 tentang Presiden Mendapat Mandat dari
MPR untuk Memiliki Hak-Hak dan Kebijakan di Luar Batas Perundang-
undangan. (4) Tap No. XIII/MPR/1998 tentang Pembatasan Masa Jabatan
Presiden dan Wakil Presiden Maksimal Hanya Dua Kali Periode.
8. Pelaksanaan Pemilu 1999, boleh dikatakan sebagai salah satu hasil terpenting
lainnya yang dicapai Habibie pada masa kepresidenannya. Pemilu 1999 adalah
penyelenggaraan pemilu multipartai (yang diikuti oleh 48 partai politik).
9. Referendum bagi rakyat Timor-Timur untuk menyelesaikan permasalahan
Timor-Timur. Indonesia harus menghadapi kenyataan bahwa untuk
memulihkan citra Indonesia, tidak memiliki pilihan lain kecuali berupaya
menyelesaikan masalah Timor-Timur dengan cara-cara yang dapat diterima
oleh masyarakat internasional. Rakyat Timor-Timur melakukan jajak pendapat
pada 30 Agustus 1999 yang hasilnya rakyat Timor Timur memilih memisahkan
diri.

C. Bidang Hukum
Untuk melakukan refomasi hukum, ada beberapa hal yang dilakukan dalam
pemerintahan B.J. Habibie yaitu,
1. Melakukan rekonstruksi atau pembongkaran watak hukum Orde Baru, baik
berupa Undang-Undang, peraturan pemerintah, maupun peraturan menteri.
2. Melahirkan 69 Undang-undang.
3. Penataan ulang struktur kekuasaan Kehakiman.
4. Organisasi kepolisian telah dikembangkan keberadaannya sehingga terpisah
dari organisasi Tentara Nasional Indonesia.

Pada 14 Oktober 1999, Presiden B.J. Habibie menyampaikan pidato


pertanggungjawabannya di depan Sidang Umum MPR. Dari sebelas fraksi yang
menyampaikan pemandangan umumnya, hanya empat fraksi yang secara tegas
menolak, sedangkan enam fraksi lainnya masih belum menentukan putusannya.
Setelah mendengar jawaban Presiden Habibie atas pemandangan umum fraksi-
fraksi, MPR dalam sidangnya tanggal 20 Oktober 1999, dini hari akhirnya menolak
pertanggungjawaban Presiden Habibie melalui proses voting. Presiden Habibie
memperlihatkan sikap kenegarawanannya dengan menyatakan bahwa dia ikhlas
menerima keputusan MPR yang menolak laporan pertanggung jawabannya.

2. Masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid


Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia keempat pada tanggal
20 Oktober 1999. Berkat dukungan Poros Tengah, Abdurrahman Wahid
mengungguli calon presiden lain yakni Megawati Soekarno Putri dalam pemilihan
presiden yang dilakukan melalui pemungutan suara dalam rapat paripurna ke-13
MPR. Megawati Soekarno Putri sendiri terpilih menjadi wakil presiden setelah
mengungguli Hamzah Haz dalam pemilihan wakil presiden melalui pemungutan
suara pula. Ia dilantik menjadi wakil presiden pada tanggal 21 Oktober 1999.
A. Perkembangan Bidang Politik
Presiden Abdurrahman Wahid dalam melanjutkan cita-cita reformasi diawali
dengan membentuk Kabinet Persatuan Nasional. Kabinet ini adalah kabinet
koalisi dari partai-partai politik yang sebelumnya mengusung Abdurrahman
Wahid menjadi presiden yakni PKB, Golkar, PPP, PAN, PK dan PDI-P. Beberapa
langkah reformasi yang dilakukan selama pemerintahan Gus Dur antara lain
sebagai berikut.

1. Presiden Abdurrahman Wahid membubarkan dua departemen yakni


Departemen Penerangan dan Departemen Sosial dan diganti dengan
pembentukan Departemen Eksplorasi Laut melalui Keputusan Presiden No.
355/M tahun 1999 tanggal 26 Oktober 1999. Nama departemen ini berubah
menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP).
2. Pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, MPR melakukan amandemen
terhadap UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 2000. Amandemen tersebut
berkaitan dengan susunan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang terdiri atas pemerintahan pusat, provinsi, kabupaten dan kota.
Amandemen ini sekaligus mengubah pelaksanaan proses pemilihan umum
berikutnya yakni pemilik hak suara dapat memilih langsung wakil-wakil mereka
di tiap tingkat Dewan Perwakilan tersebut.
3. Upaya reformasi di bidang hukum dan pemerintahan dilakukan dengan
pemisahan TNI dan Polri sehingga TNI dapat memfokuskan diri dalam
menjaga kedaulatan wilayah Republik Indonesia dari ancaman kekuatan asing,
sementara Polri dapat lebih berkonsentrasi dalam menjaga keamanan dan
ketertiban.
4. Berbagai kasus KKN tersebut kembali dibuka pada tanggal 6 Desember 1999
dan terfokus pada apa yang telah dilakukan oleh mantan Presiden Soeharto
dan keluarganya. Namun dengan alasan kesehatan, proses hukum terhadap
Soeharto belum dapat dilanjutkan. Kejaksaan Agung menetapkan mantan
Presiden Soeharto menjadi tahanan kota dan dilarang bepergian ke luar
negeri. Pada tanggal 3 Agustus 2000 Soeharto ditetapkan sebagai terdakwa
terkait beberapa yayasan yang dipimpinnya.
5. Pencapaian lain pemerintahan Abdurrahman Wahid adalah pemulihan hak
minoritas keturunan Tionghoa untuk menjalankan keyakinan mereka yang
beragama Konghucu melalui Keputusan Presiden No. 6 tahun 2000 mengenai
pemulihan hak-hak sipil penganut agama Konghucu.

Sikap Presiden Abdurrahman Wahid yang cenderung mendukung pluralisme


dalam masyarakat termasuk dalam kehidupan beragama dan hak-hak kelompok
minoritas merupakan salah satu titik awal munculnya berbagai aksi penolakan
terhadap kebijakan dan gagasan-gagasannya.

1. Presiden Abdurrahman Wahid melontarkan gagasan kontroversial yaitu


gagasan untuk mencabut Tap.MPRS No.XXV tahun 1966 tentang larangan
terhadap Partai Komunis Indonesia dan penyebaran Marxisme dan Leninisme.
Gagasan tersebut mendapat tantangan dari kalangan Islam termasuk Majelis
Ulama Indonesia. Namun beliau mengurungkan niatnya.
2. Benturan Presiden Abdurrahman Wahid dengan organisasi massa dan partai
politik Islam adalah gagasannya untuk membuka hubungan dagang dengan
Israel. Gagasannya tersebut mendapat tantangan keras.

B. Perkembangan Bidang Ekonomi


Keadaan sistem ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman
Wahid memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, kondisi perekonomian
Indonesia mulai mengarah pada perbaikan, di antaranya pertumbuhan PDB
yang mulai positif, laju inflasi dan tingkat suku bunga yang rendah, sehingga
kondisi moneter dalam negeri juga sudah mulai stabil.
2. Hubungan pemerintah dibawah pimpinan Abdurahman Wahid dengan IMF juga
kurang baik, yang dikarenakan masalah, seperti Amandemen UU No.23 tahun
1999 mengenai bank Indonesia, penerapan otonomi daerah (kebebasan daerah
untuk pinjam uang dari luar negeri) dan revisi APBN 2001 yang terus
tertunda.
3. Politik dan sosial yang tidak stabil semakin parah yang membuat investor
asing menjadi enggan untuk menanamkan modal di Indonesia.
4. Makin rumitnya persoalan ekonomi ditandai lagi dengan pergerakan Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung negatif, bahkan merosot
hingga 300 poin, dikarenakan lebih banyaknya kegiatan penjualan daripada
kegiatan pembelian dalam perdagangan saham di dalam negeri.

Kejatuhan pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid tidak terlepas dari


akumulasi berbagai gagasan dan keputusannya yang kontroversial. Hubungan
Presiden Abdurrahman Wahid dengan DPR dan bahkan dengan beberapa menteri
dalam kabinet pemerintahannya terbilang tidak harmonis. Gus Dur memberhentikan
Laksamana Sukardi sebagai Menteri Negara Penanaman Modal dan Jusuf Kalla
sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan bahkan menyebabkan DPR
mengajukan hak interpelasinya.

Selain itu juga adanya dugaan bahwa presiden terlibat dalam pencairan dan
penggunaan dana Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Bulog sebesar
35 miliar rupiah dan dana bantuan Sultan Brunei Darussalam sebesar 2 juta dollar
AS. DPR akhirnya membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk melakukan penyelidikan
keterlibatan Presiden Abdurrahman Wahid dalam kasus tersebut.

Pada 1 Februari 2001 DPR menyetujui dan menerima hasil kerja Pansus.
Keputusan tersebut diikuti dengan dengan memorandum yang dikeluarkan DPR
bahwa presiden telah melanggar haluan negara yaitu melanggar UUD 1945 Pasal 9
tentang Sumpah Jabatan dan melanggar Tap MPR No. XI/MPR/1998 tentang
Penyelenggaraan Negara yang bebas KKN.

Presiden Abdurrahman Wahid tidak menerima isi memorandum tersebut karena


dianggap tidak memenuhi landasan konstitusional. DPR sendiri kembali mengeluarkan
memorandum kedua dalam rapat paripurna DPR yang diselenggarakan pada tanggal
30 April 2000. Rapat tersebut memberikan laporan pandangan akhir fraksi-fraksi di
DPR atas tanggapan presiden terhadap memorandum pertama.
Hubungan antara presiden dan DPR semakin memanas seiring dengan ancaman
presiden terhadap DPR. Jika DPR melanjutkan niat mereka untuk menggelar Sidang
Istimewa MPR, maka presiden akan mengumumkan keadaan darurat dan
memerintahkan TNI dan Polri untuk mengambil tindakan hukum terhadap sejumlah
orang tertentu yang dianggap menjadi tokoh yang aktif menyudutkan pemerintah.

DPR akhirnya menyelenggarakan rapat paripurna untuk meminta MPR


mengadakan Sidang Istimewa MPR. Pada tanggal 21 Juli 2001 MPR
menyelenggarakan Sidang Istimewa yang dipimpin oleh ketua MPR Amien Rais.
Menyadari posisinya yang terancam, presiden selanjutnya mengeluarkan Maklumat
Presiden tertanggal 22 Juli 2001. Maklumat tersebut selanjutnya disebut Dekrit
Presiden yang berisi.

a. Membekukan MPR dan DPR Republik Indonesia.


b. Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dan mengambil tindakan serta
menyusun badan-badan yang diperlukan untuk menyelenggarakan pemilu dalam
waktu satu tahun.
c. Menyelamatkan gerakan reformasi total dari hambatan unsur-unsur Orde
Baru dengan membekukan Partai Golkar sambil menunggu keputusan
Mahkamah Agung.

Namun isi dekrit tersebut tidak dapat dijalankan terutama karena TNI dan Polri
yang diperintahkan untuk mengamankan langkah-langkah penyelamatan tidak
melaksanakan tugasnya. Seperti yang dijelaskan oleh Panglima TNI Widodo AS,
sejak Januari 2001, baik TNI maupun Polri konsisten untuk tidak melibatkan diri
dalam politik praktis.

Akhirnya melalui Ketetapan MPR No. II/MPR/2001 tentang pertanggungjawaban


Presiden Abdurrahman Wahid dan Ketetapan MPR No. III/MPR/2001 tentang
penetapan Wakil Presiden Megawati Soekarno Putri sebagai Presiden Republik
Indonesia. MPR memberhentikan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden dan
mengangkat Wakil Presiden Megawati Soekarno Putri sebagai presiden kelima
Republik Indonesia pada tanggal 23 Juli 2001.

3. Masa Pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri

Presiden Megawati Soekarno Putri adalah Presiden Indonesia yang kelima


yang menjabat sejak 23 Juli 2001-20 Oktober 2004. Beliau merupakan presiden
wanita Indonesia pertama dalam sejarah Indonesia dan beliau merupakan anak dari
presiden Indonesia pertama, Soekarno. Megawati diangkat menjadi presiden
setelah MPR mengadakan Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Sidang Istimewa
MPR ini diadakan dalam menanggapi langkah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
yang membekukan lembaga MPR/DPR dan Partai Golkar. Megawati merupakan ketua
umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Presiden Megawati Soekarno Putri mengawali tugasnya sebagai presiden


engan membentuk Kabinet Gotong Royong. Kabinet ini memiliki lima agenda utama
yakni membuktikan sikap tegas pemerintah dalam menghapus KKN, menyusun
langkah untuk menyelamatkan rakyat dari krisis yang berkepanjangan, meneruskan
pembangunan politik, mempertahankan supremasi hukum dan menciptakan situasi
sosial kultural yang kondusif untuk memajukan kehidupan masyarakat sipil,
menciptakan kesejahteraan dan rasa aman masyarakat dengan meningkatkan
keamanan dan hak asasi manusia.
Presiden Megawati membentuk Komisi Tindak Pidana Korupsi setelah
keluarnya UU RI No. 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih
dan bebas KKN. Pembentukan komisi ini menuai kritik karena pada masa
pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid telah dibentuk Komisi Pemeriksa
Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN). Dari sisi kemiripan tugas, keberadaan dua komisi
tersebut tersebut terkesan tumpang tindih. Dalam perjalanan pemerintahan
Megawati, kedua komisi tersebut tidak berjalan maksimal karena hingga akhir
pemerintahan Presiden Megawati, berbagai kasus KKN yang ada belum dapat
diselesaikan.

A. Reformasi Bidang Hukum dan Pemerintahan


Pada masa pemerintahan Presiden Megawati, MPR kembali melakukan amandemen
terhadap UUD 1945 pada tanggal 10 November 2001.

1. Salah satu perubahan penting terkait dengan pemilihan umum adalah


perubahan tata cara pemilihan presiden dan wakil presiden yang dipilih
langsung oleh rakyat dan mulai diterapkan pada pemilu tahun 2004.
2. Pembatasan wewenang MPR, kesejajaran kedudukan antara presiden dan DPR
yang secara langsung menguatkan posisi DPR, kedudukan Dewan Perwakilan
Daerah (DPD), penetapan APBN yang diajukan oleh presiden dan penegasan
wewenang BPK.
3. Upaya pemberantasan KKN adalah penegasan kekuasaan kehakiman sebagai
kekuasaan independen untuk menyelenggarakan peradilan yang adil dan bersih
guna menegakkan hukum dan keadilan yang dilakukan oleh Mahkamah Agung.

Selain beberapa amandemen terkait masalah hukum dan pemerintahan,


pemerintahan Presiden Megawati juga berupaya melanjutkan upaya reformasi di
bidang pers yang ditandai dengan dikeluarkannya Undang-undang Pers dan Undang-
undang Penyiaran.

B. Reformasi Bidang Ekonomi


Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak 1998 belum dapat dilalui oleh dua
presiden sebelum Megawati sehingga pemerintahannya mewarisi berbagai persoalan
ekonomi yang harus dituntaskan.

a. Selain upaya pemerintah untuk memperbaiki sektor ekonomi, MPR berhasil


mengeluarkan keputusan yang menjadi pedoman bagi pelaksanaan
pembangunan ekonomi di masa reformasi yaitu Tap MPR RI No. IV/
MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara 1999-2004.
b. Pemerintahan Megawati mencatat beberapa pencapaian di bidang ekonomi,
salah satu indikator keberhasilan pemerintahan Presiden Megawati adalah
rendahnya tingkat inflasi dan stabilnya cadangan devisa negara. Nilai tukar
rupiah relatif membaik dan berdampak pada stabilnya harga-harga barang.
c. Namun berbagai pencapaian di bidang ekonomi pemerintahan Presiden
Megawati mulai menunjukkan penurunan pada paruh kedua pemerintahannya.
Pada pertengahan tahun 2002-2003 nilai tukar rupiah yang sempat menguat
hingga Rp. 8.500,- per dolar.
d. Kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan
tarif dasar listrik (TDL) serta pajak pendapatan negara menurunkan
popularitas pemerintah.

C. Disintegrasi dan Kedaulatan Wilayah


Dua provinsi yang rentan untuk melepaskan diri adalah provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) dan Papua. Untuk meredam keinginan melepaskan diri kedua
provinsi tersebut, Presiden Megawati melakukan upaya-upaya untuk menyelesaikan
permasalahan disintegrasi dan memperbaiki persentase pembagian hasil sumber
daya alam antara pemerintah pusat dan daerah di kedua propinsi tersebut.
Berdasarkan UU No. 1b/2001 dan UU No. 21/2001 baik propinsi NAD dan Papua
akan menerima 70% dari hasil pertambangan minyak bumi dan gas alam.

Upaya Presiden Megawati untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI juga diuji saat
pemerintah berusaha untuk menyelesaikan sengketa status Pulau Sipadan dan
Ligitan dengan pemerintah Malaysia. Kedua negara sepakat untuk membawa kasus ini
ke Mahkamah Internasional di Den Haag. Namun Mahkamah Internasional pada
akhirnya memutuskan bahwa kedua pulau tersebut merupakan bagian dari Malaysia.

D. Upaya Pemberantasan KKN


Presiden Megawati belum berhasil melakukan penegakkan hukum (law enforcement).
Berbagai kasus KKN masih belum terselesaikan. Namun keseriusan pemerintah
untuk memerangi tindak pidana korupsi tercermin dari

a. Dikeluarkannya UU No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31


tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Produk hukum tersebut
merupakan produk hukum yang dikeluarkan khusus untuk memerangi korupsi.
b. Pengeluaran produk hukum tentang Tipikor diikuti dengan dikeluarkannya
berbagai produk hukum lain seperti UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian
Negara Republik Indonesia, UU No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang, UU No. 22 Tahun 2002 tentang Grasi, UU No. 30 Tahun
2002 tentang Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), PP No, 41
Tahun 2002 tentang Kenaikan Jabatan dan Pangkat Hakim, Inpres No. 2
Tahun 2002 tentang Penambang Pasir Laut dan Inpres No. 8 Tahun 2002
tentang Pemberian Jaminan Kepastian Hukum Kepada Debitur yang Telah
Menyelesaikan Kewajibannya atau Tindakan Hukum Kepada Debitur yang
Tidak Menyelesaikan Kewajibannya Berdasarkan Penyelesaian Kewajiban
Pemegang Saham.

Pemilu tahun 2004 merupakan pemilu pertama dimana untuk pertama kalinya
masyarakat pemilik hak suara dapat memilih wakil rakyat secara langsung. Pemilu
legislatif 2004 yang diselenggarakan pada tanggal 5 April 2004 diikuti oleh 24
partai politik. Pemilu presiden yang diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2004 belum
menghasilkan satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang
mendapatkan suara lebih dari 50% sehingga pemilu presiden diselenggarakan dalam
dua putaran. Dalam pemilu presiden putaran kedua yang diselenggarakan pada
tanggal 20 September 2004, pasangan H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs.
Muhammad Jusuf Kalla mengungguli pasangan Hj. Megawati Soekarnoputri dan K.H.
Ahmad Hasyim Muzadi.

4. Masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dapat dibagi menjadi dua masa,
yaitu masa pemerintahan SBY-JK dan SBY-Boediono. Pemerintahan SBY-JK
berlangsung pada tahun 2004-2009.

Pemerintahan SBY-Boediono berlangsung dari tahun 2009 sampai sekarang.

1. Bidang politik
Dalam pemilu legislatif 2004, partai yang didirikan oleh SBY, yaitu Partai
Demokrat, meraih 7,45% suara. Kemudian pada 10 Mei 2004, tiga partai politik
yaitu Partai Demokrat, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan
Bintang secara resmi mencalonkannya sebagai presiden dan berpasangan dengan
kandidat wakil presiden Jusuf Kalla. Dalam masa kepemimpinannya bersama Jusuf
Kalla, beliau didukung oleh koalisi dari Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai
Amanat Nasional, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang.
Kemudian di pemilu 2009, SBY kembali menjadi calon presiden bersama pasangan
barunya yaitu Boediono dan kembali terpilih sebagai presiden Indonesia.
Dalam pemerintahan SBY ini, melakukan beberapa kebijakan politik diantaranya:
a. Pembentukan Kabinet Bersatu
Pada periode kepemimpinannya yang pertama, SBY membentuk Kabinet Indonesia
Bersatu yang merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Kabinet
Indonesia Bersatu dibentuk pada 21 Oktober 2004 dan masa baktinya berakhir
pada tahun 2009. Pada 5 Desember 2005, Presiden Yudhoyono melakukan
perombakan kabinet untuk pertama kalinya, dan setelah melakukan evaluasi lebih
lanjut atas kinerja para menterinya, Presiden melakukan perombakan kedua pada 7
Mei 2007.
b. Pembentukan Kabinet Bersatu jilid II
Pada periode kepemimpinannya yang kedua, SBY membentuk Kabinet Indonesia
Bersatu II yang merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Boediono. Susunan kabinet ini
berasal dari usulan partai politik pengusul pasangan SBY-Boediono pada Pilpres
2009 yang mendapatkan kursi di DPR (Partai Demokrat, PKS, PAN, PPP, dan PKB)
ditambah Partai Golkar yang bergabung setelahnya, tim sukses pasangan SBY-
Boediono pada Pilpres 2009, serta kalangan profesional. Susunan Kabinet Indonesia
Bersatu II diumumkan oleh Presiden SBY pada 21 Oktober 2009 dan dilantik sehari
setelahnya.Pada 19 Mei 2010, Presiden SBY mengumumkan pergantian Menteri
Keuangan. Pada tanggal 18 Oktober 2011, Presiden SBY mengumumkan perombakan
Kabinet Indonesia Bersatu II, beberapa wajah baru masuk ke dalam kabinet dan
beberapa menteri lainnya bergeser jabatan di dalam kabinet.
c. Menganut konsep Trias Politika
Trias Politika merupakan konsep pemerintahan yang kini banyak dianut diberbagai
negara di aneka belahan dunia. Konsep dasarnya adalah, kekuasaan di suatu negara
tidak boleh dilimpahkan pada satu struktur kekuasaan politik melainkan harus
terpisah di lembaga-lembaga negara yang berbeda.
Trias Politika yang kini banyak diterapkan adalah, pemisahan kekuasaan kepada 3
lembaga berbeda: Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Legislatif adalah lembaga
untuk membuat undang-undang; Eksekutif adalah lembaga yang melaksanakan
undang-undang; dan Yudikatif adalah lembaga yang mengawasi jalannya
pemerintahan dan negara secara keseluruhan, menginterpretasikan undang-undang
jika ada sengketa, serta menjatuhkan sanksi bagi lembaga ataupun perseorangan
manapun yang melanggar undang-undang.
Dengan terpisahnya 3 kewenangan di 3 lembaga yang berbeda tersebut, diharapkan
jalannya pemerintahan negara tidak timpang, terhindar dari korupsi pemerintahan
oleh satu lembaga, dan akan memunculkan mekanisme check and balances (saling
koreksi, saling mengimbangi). Kendatipun demikian, jalannya Trias Politika di tiap
negara tidak selamanya serupa, mulus atau tanpa halangan.
Konsep Trias Politika (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif) pada masa pemerintahan
SBY mengalami perubahan progresif, dimana konsep tersebut berusaha
menempatkan posisinya berdasarkan prinsip structural Sistem Politik Indonesia,
yakni berdasarkan kedaulatan rakyat. Pada masa pemerintahan SBY, hal tersebut
benar-benar terimplementasikan, dimana rakyat bisa memilih secara langsung calon
wakil rakyat melalui Pemilu untuk memilih anggota dewan legislaif, dan Pilpres untuk
pemilihan elit eksekutif, sekalipun untuk elit yudikatif, pemilihannya masih dilakukan
oleh DPR dengan pertimbangan presiden
d. Sistem Kepartaian
Di Indonesia sendiri, selama masa pemerintahan SBY di tahun 2004-2009, sistem
kepartaian mengalami perubahan yang signifikan, dimana partai politik bebas untuk
didirikan asalkan sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku, serta
tidak menyimpang dari hakikat pancasila secara universal. Masyarakat Indonesia pun
dapat memilih calon wakil rakyat pilihan mereka secara langsung, hal tersebut tentu
menunjukan apresiasi negara terhadap hak dasar bangsa secara universal dalam
konteks pembentukan negara yang demokratis.
e. Politik Pencitraan
Politik pencitraan merupakan salah satu senjata ampuh yang digunakan para
pemimpin negara untuk mengambil hati rakyatnya. Pola politik pencitraan tentu
digunakan oleh hampir semua pemimpin negara di dunia, termasuk Presiden SBY.
Selaku pemimpin negara, ia tentu harus membentuk citra dirinya sebaik mungkin
demi menjaga imej baiknya di mata masyarakat Indonesia. Dalam melakukan politik
pencitraan tersebut, Presiden SBY melakukanya dengan beberapa hal, yang terbagi
dalam konteks internal dan konteks eksternal.
Dalam konteks internal, politik pencitraan SBY dilakukan dengan menggunakan
kapabilitas internalnya, yakni dengan kapabilitas retorika atau kemampuan
berbicara di depan umum. Dari lima jenis retorika yang dikemukakan Aristoteles,
Presiden SBY dinilai mengimplementasikan Retorika tipe Elucotio, dimana pembicara
memilih kata-kata dan bahasa yang tepat sebagai alat pengemas pesanya ketika
berbicara di depan umum. Selain hal tersebut, konteks internal disini berkaitan
dengan sikap bijak, kalem, dan legowo yang ditunjukan Presiden SBY kepada
masyarakat, dimana hal tersebut tentunya dapat berimplikasi terhadap penarikat
rasa simpatik masyarakat itu sendiri.
Dalam konteks eksternal, politik pencitraan SBY dilakukan dengan beragam aspek,
salah satunya adalah kampanye, dan introduksi prestasi positif SBY selama
memerintah Indonesia. Hal tersebut tentu dapat memicu ketertarikan rakyat
Indonesia akan keberhasilan SBY dan menjadi simpatik atasnya.
f. Politik Luar Negeri
SBY berusaha memantapkan politik luar negeri Indonesia dengan cara meningkatkan
kerjasama internasional dan meningkatkan kualitas diplomasi Indonesia dalam
rangka memperjuangkan kepentingan nasional. Baru-baru ini Indonesia berani
mengambil sikap sebagai satu-satunya negara anggota tidak tetap Dewan Keamanan
PBB yang bersikap abstain ketika semua negara lainnya memberikan dukungan untuk
memberi sanksi pada Iran.
SBY telah berhasil mengubah citra Indonesia dan menarik investasi asing dengan
menjalin berbagai kerjasama dengan banyak negara pada masa pemerintahannya,
antara lain dengan Jepang. Perubahan-perubahan global pun dijadikannya sebagai
peluang. Politik luar negeri Indonesia di masa pemerintahan SBY diumpamakan
dengan istilah ‘mengarungi lautan bergelombang’, bahkan ‘menjembatani dua karang’.
Hal tersebut dapat dilihat dengan berbagai insiatif Indonesia untuk menjembatani
pihak-pihak yang sedang bermasalah.
2. Ekonomi
Pada pemerintahan SBY kebijakan yang dilakukan adalah mengurangi subsidi
Negara Indonesia, atau menaikkan harga Bahan Bahan Minyak (BBM), kebijakan
bantuan langsung tunai kepada rakyat miskin akan tetapi bantuan tersebut
diberhentikan sampai pada tangan rakyat atau masyarakat yang membutuhkan,
kebijakan menyalurkan bantuan dana BOS kepada sarana pendidikan yang ada di
Negara Indonesia. Akan tetapi pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dalam
perekonomian Indonesia terdapat masalah dalam kasus Bank Century yang sampai
saat ini belum terselesaikan bahkan sampai mengeluarkan biaya 93 miliar untuk
menyelesaikan kasus Bank Century ini.
Kondisi perekonomian pada masa pemerintahan SBY mengalami perkembangan
yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010
seiring pemulihan ekonomi dunia pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008
hingga 2009.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat
mencapai 5,5-6 persen pada 2010 dan meningkat menjadi 6-6,5 persen pada 2011.
Dengan demikian prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik dari perkiraan semula.
Sementara itu, pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap perkembangan
sektor eksternal perekonomian Indonesia. Kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang
pada triwulan IV-2009 mencatat pertumbuhan cukup tinggi yakni mencapai sekitar
17 persen dan masih berlanjut pada Januari 2010.
Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia adalah efektifnya
kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal yang tinggi dan
pengurangan utang Negara.Perkembangan yang terjadi dalam lima tahun terakhir
membawa perubahan yang signifikan terhadap persepsi dunia mengenai Indonesia.
Namun masalah-masalah besar lain masih tetap ada. Pertama, pertumbuhan
makroekonomi yang pesat belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara
menyeluruh. Walaupun Jakarta identik dengan vitalitas ekonominya yang tinggi dan
kota-kota besar lain di Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat, masih
banyak warga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Tingkat pertumbuhan ekonomi periode 2005-2007 yang dikelola
pemerintahan SBY-JK relatif lebih baik dibanding pemerintahan selama era
reformasi dan rata-rata pemerintahan Soeharto (1990-1997) yang pertumbuhan
ekonominya sekitar 5%. Tetapi, dibanding kinerja Soeharto selama 32 tahun yang
pertumbuhan ekonominya sekitar 7%, kinerja pertumbuhan ekonomi SBY-JK masih
perlu peningkatan. Pertumbuhan ekonomi era Soeharto tertinggi terjadi pada tahun
1980 dengan angka 9,9%. Rata-rata pertumbuhan ekonomi pemerintahan SBY-JK
selama lima tahun menjadi 6,4%, angka yang mendekati target 6,6%.
Kebijakan menaikkan harga BBM 1 Oktober 2005, dan sebelumnya Maret
2005, ternyata berimbas pada situasi perekonomian tahun-tahun berikutnya.
Pemerintahan SBY-JK memang harus menaikkan harga BBM dalam menghadapi
tekanan APBN yang makin berat karena lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga
BBM tersebut telah mendorong tingkat inflasi Oktober 2005 mencapai 8,7% (MoM)
yang merupakan puncak tingkat inflasi bulanan selama tahun 2005 dan akhirnya
ditutup dengan angka 17,1% per Desember 30, 2005 (YoY). Penyumbang inflasi
terbesar adalah kenaikan biaya transportasi lebih 40% dan harga bahan makanan
18%.Core inflation pun naik menjadi 9,4%, yang menunjukkan kebijakan Bank
Indonesia (BI) sebagai pemegang otoritas moneter menjadi tidak sepenuhnya
efektif. Inflasi yang mencapai dua digit ini jauh melampaui angka target inflasi
APBNP II tahun 2005 sebesar 8,6%. Inflasi sampai bulan Februari 2006 (YoY)
masih amat tinggi 17,92%, bandingkan dengan Februari 2005 (YoY) 7,15% atau
Februari 2004 (YoY) yang hanya 4,6%.
Efek inflasi tahun 2005 cukup berpengaruh terhadap tingkat suku bunga
Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang menjadi referensi suku bunga simpanan di
dunia perbankan.
Jumlah Penduduk Miskin
Sasaran pertama adalah pengurangan kemiskinan dan pengangguran dengan
target berkurangnya persentase penduduk tergolong miskin dari 16,6 persen pada
tahun 2004 menjadi 8,2 persen pada tahun 2009 dan berkurangnya pengangguran
terbuka dari 9,5 persen pada tahun 2003 menjadi 5,1 persen pada tahun 2009.
Penduduk Miskin Jumlah Persentase Catatan
2004 36.1 juta 16.6%
2005 35.1 juta 16.0% Februari 2005
2006 39.3 juta 17.8% Maret 2006
2007 37.2 juta 16.6% Maret 2007
2008 35.0 juta 15.4% Maret 2008
2009 8.2% ????
Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil mencatat, pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono dan Jusuf Kalla memperbesar utang dalam jumlah sangat besar. Posisi
utang tersebut merupakan utang terbesar sepanjang sejarah RI.
MAKALAH SEJARAH
“SISTEM DAN STRUKTUR POLITIK-EKONOMI INDONESIA
MASA REFORMASI ( 1998 – SEKARANG)”

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 5


1. Agung Wahyudi
2. Dinda Oktavianti
3. Hikma Mulyani Hamal
4. Indriyani
5. Irfan
6. Nurfadilah Irfan
7. Virdha Anugerah Aryan