Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu hewan sangat penting untuk dikaji dengan tujuan agar lebih
memahami sistem pembagian kelompok hewan yang lebih dahulu telah
dilakukan oleh para ilmuan atau para ahli, dengan dasar-dasar klasifikasi yang
mencakup persamaan maupun perbedaan ciri-ciri yang dimiliki oleh masing-
masing spesies.
Sehari-hari kita sering menjumpai berbagai macam jenis hewan. Mulai
dari hewan yang memiliki ukuran yang tergolong besar hingga hewan yang
berukuran sangat kecil serta hewan yang memiliki tubuh yang bercangkang
hingga hewan yang bertubuh lunak serta hewan yang memiliki lendir. Seperti
pada hewan siput sawah, bekicot, kerang, dan gurita. Beberapa hewan yang
disebutkan diatas termasuk kedalam phylum molusca.
Biasanya kita sering melihat hewan invertebrata seperti bekicot, yang
biasanya ditemukan pada tanah atau daerah yang lembab dan bekicot ini
termasuk hama untuk suatu tumbuhan akan tetapi disisi lain bekicot memiliki
manfaat untuk manusia seperti dapat dijadikan sebagai suatu bahan dasar
pembuatan kosmetik dan cangkangnya dapat dijadikan sebagai hiasan atau
pajangan rumah.
Sebagian dari manusia hanya bisa memanfaatkan akan tetapi kurang
mengetahui apa yang menjadi penyusun tubuh dari hewan tersebut, misalnya
cangkang pada bekicot keras dan pada saat bekicot merasa terancam maka
akan masuk ke dalam cangkangnya. Hal ini sebagian dari kita belum
memahaminya.
Inilah yang melatarbelakangi dilakukannya praktikum. Berharap
dengan dilakukannya praktikum ini praktikan dapat mengetahui hewan-hewan
yang termasuk kedalam kelas Arthropoda terkhusus untuk spesimen yang
dijadikan sebagai bahan praktikukum.
B. Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu :
1. Untuk mempelajari struktur morfologi dan sistem anatomi pada Phylum
Mollusca.
2. Untuk mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi pada Phylum
Mollusca.
C. Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum ini yaitu:
1. Praktikan dapat menambah wawasan dengan mempelajari struktur
morfologi dan sistem anatomi tubuh pada Phylum Mollusca.
2. Dapat mengetahui hubungan antara stuktur dan fungsi pada anggota
phylum Mollusca.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mollusca atau yang biasa disebut Moluska berasal dari bahasa latin dari
kata Molluscus yang berarti lunak. Jadi, moluska merupakan kelompok hewan
yang bertubuh lunak. Pada umumnya, moluska memiliki cangkang, tetapi ada
juga yang tidak memiliki cangkang. Cangkangnya terbuat dari zat kapur, letak
cangkang umumnya ada yang di luar tubuh, tetapi ada juga moluska yang
bercangkang di dalam tubuhnya. Moluska memiliki lapisan penutup tubuh
(mantel) yang terletak di bawah cangkang dan berfungsi memproduksi zat kapur
sebagai bahan pembuat cangkang. Moluska bersifat kosmopolit karena mudah
ditemukan dimana-mana.Struktur tubuh moluska sangat bervariasi. Berdasarkan
struktur kaki dan cangkangnya maka filum moluska dikelompokkan menjadi lima
kelas, yaitu kelas Amphineura, Pelecypoda, Gastropoda, Scaphopoda, dan
Cephalopoda (Setiowati, 2010 : 136).
Moluska air tawar (keong dan kerang) dijumpai di beberapa tipe perairan
baik yang mengalir maupun yang menggenang. Beberapa spesies diantaranya
mampu bertahan hidup pada kondisi perairan yang buruk atau tercemar akibat
berbagai jenis limbah (Marwoto, 2014 : 181).
Ciri tubuh Mollusca meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.
Ukuran dan bentuk tubuh Mollusca sangat bervariasi. Misalnya, ada siput yang
panjangnya hanya beberapa millimeter dengan bentuk bulat telur. Namun, ada
juga cumi-cumi raksasa dengan bentuk torpedo bersayap yang panjangnya lebih
dari 18 cm. tubuh Mollusca terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kaki, massa
visceral, dan mantel. Kaki merupakan penjuluran bagian ventral tubuhnya yang
berotot. Kaki berfungsi untuk bergerak merayap atau menggali. Pada beberapa
kelompok Mollusca, kakinya termodifikasi menjadi tentakel yang berfungsi untuk
menangkap mangsa. Massa visceral merupakan bagian tubuh Mollusca yang
lunak. Massa visceral merupakan kumpulan sebagian besar organ tubuh seperti
organ pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Mantel membentuk rongga mantel
yang berisi cairan. Cairan tersebut merupakan tempat lubang insang, lubang
ekskresi, dan anus. Selain itu, mantel dapat mensekresikan bahan penyusun
cangkang pada Mollusca bercangkang (Aryulina, dkk. 2011 : 223).
1. Kelas Amphineura
Moluska ini hidup merayap di dasar laut dan memiliki kaki yang
berfungsi untuk melekatkan diri. Reproduksinya terjadi secara seksual. Pada
umumnya, kelas Amphineura peka terhadap cahaya. Pada pelat-pelat
punggungnya terdapat banyak pori dengan mata mikroskopis yang merupakan
ujung saraf yang peka terhadap cahaya (Setiowati, 2010 : 136).
2. Kelas Pelecypoda
Pelecypoda merupakan moluska berkaki pipih dan memiliki dua
belahan cangkang sehingga disebut juga kelas Bivalvia. Kelompok pelecypoda
bernapas dengan menggunakan lembaran insang yang berlapis-lapis sehingga
disebut juga kelas Lamellibranchiata. Kedua belahan cangkang dihubungkan
oleh satu atau dua buah otot oduktor yang dapat memegang cangkang tersebut
sehingga tertutup erat. Mereka hidup menetap di dasar laut. Ada yang
membenamkan diri di dalam pasir atau lumpur, ada pula yang membenamkan
diri di dalam kerangka karang-karang batu. Berbagai jenis pelecypoda
melekatkan diri pada substratnya dengan menggunakan benang-benang kuat
yang disebut byssus. Pelecypoda memiliki cangkang yang terdiri atas tiga
lapisan, yaitu lapisan periostrakum, prismatik, dan nakreas. Periostrakum
merupakan lapisan terluar yang terbuat dari kitin. Prismatik merupakan
lapisan tengah yang terbuat dari Kristal CaCO2 yang berbentuk prisma.
Nakreas merupakan lapisan dalam yang berupa lapisan mutiara dan tersusun
atas Kristal CaCO2 halus. Anggota kelas pelecypoda antara lain adalah kerang,
tiram, remis, dan Teredo sp (Setiowati, 2010 : 137).
3. Kelas Scaphopoda
Scaphopoda merupakan kelas moluska yang memiliki anggota paling
sedikit. Scaphopoda hidup di laut dan terpendam di dalam pasir atau lumpur.
Hewan ini memiliki cangkang berbentuk silinder yang kedua ujungnya
terbuka. Scaphopoda disebut juga siput gading. Contohnya adalah siput
gading panjang (Fissidentalium vernedei) dan Dentalium octagulatum yang
memiliki cangkang berbentuk seperti gigi yang ditemukan hidup pada dasar
perairan teluk jepang yang berpasir (Setiowati, 2010 : 138).
4. Kelas Cephalopoda
Cephalopoda berasal dari bahasa Yunani dari kata Cephalo yang
berarti kepala dan kata podos yang berarti kaki. Jadi, Cephalopoda
meruapakan moluska yang mempunyai kaki di bagian kepalanya. Kaki
tersebut berupa tentakel yang juga berfungsi menangkap makanan. Semua
anggota cephalopoda hidup di laut. Cephalopoda bersifat dioseus, jadi ada
hewan jantan dan hewan betina. Fertilisasi berlangsung secara internal.
Hamper semua anggota cephalopoda mengeluarkan cairan seperti tinta yang
tersimpan di dalam sebuah kantung khusus. Apabila hewan ini ingin
menghindar dari pemangsanya maka ia akan menyemprotkan tinta sehingga
air menjadi keruh dan membingungkan musuhnya tersebut. Pada umumnya,
cephalopoda dapat berubah warna seperti bunglon karena kulitnya
mengandung sel pembawa warna (kromatofora), kelas cephalopoda dibedakan
menjadi dua ordo, yaitu ordo Tetrabranchiata dan ordo Dibranchiata
(Setiowati, 2010 : 138).
Menurut Neil A. Campbell (2010 : 227), Cephalopoda dirancang untuk
bergerak cepat, suatu adaptasi yang cocok dengan cara mekannya sebagai
karnivora. Cumi-cumi dan gurita menggunakan rahang yang mirip paruh
untuk menggigit mangsanya kemudian mereka akan menyuntikkan racun
untuk melumpuhkan korbannya. Mulut berada pada pusat beberapa tentakel
panjang. Suatu mantel menutupi masa visceral, tetapi cangkang menjadi
tereduksi dan menjadi cangkang internal (seperti pada cumi-cumi) atau hilang
sama sekali (seperti pada gurita).
5. Kelas Gastropoda
Gastropoda berasal dari kata gaster yang berarti perut dan kata podos
yang berarti kaki. Jadi, Gastropoda merupakan moluska yang menggunakan
perutnya sebagai kaki. Alat gerak berupa otot perut yang berkontraksi secara
bergelombang dari arah depan ke belakang sambil menghasilkan lendir.
Gastropoda merupakan moluska yang paling banyak jenisnya. Kelas
Gastropoda lebih umum dikenal dengan nama keong atau siput. Pada
umumnya, Gastropoda memiliki jenis kelamin terpisah (gonokhoris). Pada
Gastropoda yang hermaprodit terdapat ovotestis yang berfungsi menghasilkan
ovum dan sperma, misalnya pada bekicot atau sput afrika raksasa (Achatina
fulica) (Setiowati, 2010 : 137-138).
Karakteristik kelas Gastropoda yang paling khas adalah suatu proses
yang dikenal sebagai torsi. Selama perkembangan embrionik, suatu otot
asimetris terbentuk dan satu sisi dari massa visceral tumbuh lebih cepat
dibandingkan dengan yang lain. Kontraksi otot itu dan pertumbuhan yang
tidak merata tersebut menyebabkan massa visceral berotasi sampai 180
derajat, sedemikian rupa sehingga anus dan rongga mantel ditempatkan di atas
kepala pada hewan dewasa. Sebagian besar Gastropoda terlindung dalam
cangkang tunggal berbentuk spiral tempat hewan itu dapat masuk menarik diri
ketika ada ancaman. Cangkang tersebut seringkali berbentuk kerucut, dan ada
yang memiliki cangkang yang agak pipih. Banyak gastropoda memiliki kepala
dan mata yang jelas pada ujung tentakel (Campbell, 2010 : 225).
Moluska adalah salah satu organisme yang mempunyai peranan penting
dalam fungsi ekologis pada ekosistem mangrove. Moluska yang diantaranya
adalah Gastropoda dan Bivalvia merupakan salah satu filum dari makrozoobentos
yang dapat dijadikan sebagai bioindikator pada ekosistem perairan. Selain
berperan di dalam siklus rantai makanan, ada juga jenis moluska yang mempunyai
nilai ekonomi penting, seperti berbagai jenis kerang-kerangan dan berbagai jenis
keong. Moluska memiliki kemampuan beradaptasi yang cukup tinggi pada
berbagai habitat, dapat mengakumulasi logam berat tanpa mengalami kematian
dan berperan sebagai indikator lingkungan. Moluska memiliki beberapa manfaat
bagi manusia diantaranya sebagai sumber protein, bahan pakan ternak, bahan
industri, dan perhiasan bahan pupuk serta untuk obat-obatan (Sri Wahyuni, 2015 :
1).
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat


Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah :
Hari / Tanggal : Jum’at, 07 Juni 2018
Waktu : Pukul 08.00 – 9.30 WITA
Tempat pelaksanaan : Laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah
Makassar
B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah :
1. Alat
a. Alat bedah : 1 set
b. Papan bedah (Bak lilin) : 1 buah
c. Penusuk : 2 buah
2. Bahan
a. Achatina fulica (Becicot) : 1 ekor
b. Pila ampullacea (Siput sawah) : 1 ekor
c. Loligo sp (Cumi-cumi) : 1 ekor
d. Anadonta sp (Kerang air tawar) : 1 ekor
e. Kertas hvs : secukupnya
C. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja untuk pelaksanaan praktikum ini adalah :
1. Menyiapkan alat dan bahan terlebih dahulu.
2. Melapisi papan bedah dengan kertas hvs.
3. Meletakkan Achatina fulica diatas papan bedah, kemudian mengamati
morfologinya.
4. Mengambil gambar morfologi hewan tersebut.
5. Membedahnya dengan hati-hati dan mengambil gambar anatominya.
6. Mencatat hasil pengamatan pada lembar pengamatan.
7. Menggambarkan bagian-bagian tubuhnya beserta keterangan dengan
lengkap.
8. Melakukan kembali prosedur keja yang sama pada Pila ampullacea, Loligo
sp, dan Anadonta sp.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Gambar Morfologi Keterangan
Achatina fulica
1. Shell
2. Eye
3. Tentacle
4. Mouth
5. Foot

Gambar pembanding Keterangan

1. Shell
2. Eye
3. Tentacle
4. Mouth
5. Foot
Gambar Anatomi Keterangan
1. Jantung
2. Paru-paru
3. Kelenjar ludah
4. Tembolok
5. Cerebral ganglio
6. Radula
7. Esophagus
8. Penis
9. Vagina
10. Anus
11. Saluran sperma
12. Lambung
13. Ginjal

Gambar pembanding Keterangan


1. Jantung
2. Paru-paru
3. Kelenjar ludah
4. Tembolok
5. Cerebral ganglio
6. Radula
7. Esophagus
8. Penis
9. Vagina
10. Anus
11. Saluran sperma
12. Lambung
13. Ginjal
Gambar Morfologi Keterangan
Loligo sp
1. Tentacle
2. Funnel
3. Mantle
4. Eye
5. Arms

Gambar pembanding Keterangan

1. Tentacle
2. Funnel
3. Mantle
4. Eye
5. Arms
Gambar Anatomi Keterangan

1. Ovarium
2. Lambung
3. Kantung tinta
4. Esophagus
5. Corong
6. Tentacle
7. Lengan
8. Penghisap
9. Mouth (mulut)
10. Mata
11. Jantung sistematik
12. Jantung insang

Gambar pembanding Keterangan

1. Ovarium
2. Lambung
3. Kantung tinta
4. Esophagus
5. Corong
6. Mata
7. Penghisap
8. Lengan
9. Tentacle
10. Mouth (mulut)
11. Jantung sistematik
12. Jantung insang
Gambar Morfologi Keterangan
Anadonta sp
1. Siphons excurrent
2. Shipons incurrent
3. Mantel
4. Foot
5. Klep (sendi)

Gambar pembanding Keterangan

1. Siphons excurrent
2. Shipons incurrent
3. Mantel
4. Foot
5. Klep (sendi)
Gambar Anatomi Keterangan
1. Umbo
2. Ctenidia
3. Posterior pedal
petractor
4. Posterior adductor
5. Anus
6. Excurrent siphon
7. Incurrent siphon
8. Mantle
9. Foot
10. Palps
11. Mouth
12. Anterior adductor

Gambar pembanding Keterangan


1. Umbo
2. Ctenidia
3. Posterior pedal
petractor
4. Posterior adductor
5. Anus
6. Excurrent siphon
7. Incurrent siphon
8. Mantle
9. Foot
10. Palps
11. Mouth
12. Anterior adductor
Gambar Morfologi Keterangan
Pilla ampullacea
1. Shell
2. Eye
3. Tentacle
4. Mouth
5. Foot

Gambar pembanding Keterangan

1. Shell
2. Eye
3. Tentacle
4. Mouth
5. Foot
Gambar Anatomi Keterangan
14. Jantung
15. Paru-paru
16. Kelenjar ludah
17. Tembolok
18. Cerebral ganglio
19. Radula
20. Esophagus
21. Penis
22. Vagina
23. Anus
24. Saluran sperma
25. Lambung
26. Ginjal
27. Kelenjar albumin
Gambar pembanding Keterangan
1. Jantung
2. Paru-paru
3. Kelenjar ludah
4. Tembolok
5. Cerebral ganglio
6. Radula
7. Esophagus
8. Penis
9. Vagina
10. Anus
11. Saluran sperma
12. Lambung
13. Ginjal
14. Kelenjar albumin
B. Pembahasan
Berdasarkan pratikum yang talah dilaksanakan dapat diperoleh data
sesuai dengan literatur dari Ayulina dengan data sebagai berikut :
1. Achatina fulica
a. Morfologi
Tubuh terdiri atas kepala, leher dan kaki dan masa jerohan, pada
kepalanya terdapat ua tentakel yaitu sepasang berukurang pendek
terletak di anterior dan mengandung saraf pembau serta sepasanfg
kedua lebih pangjang mengandung mata. Mulut achanita terletak
dibagian anterior kepala diventral tentakel tepat dibawah terdapat
lubang yang berhubungan dengan kelenjar mukosa kaki (pedal).
b. Anatomi
Alat pencernaan terdiri atas mulut, masa bukal, esophagus,
kelenjar ludah tombolok, lambung kelenjar, pencernaan, usus rectum,
dan anus dan kelenjar ludah yang terletak dikanan kiri tembolok.
Esophagus bermuara ke dalam tembolok serta terdapat ureter yang
merupakan saluran dari ginjal terletak disis sepangjang rectum dan
bermuara dekat anus.
c. Fisiologi
1) System reproduksi
Spermatozoa dihasilkan oleh ovotestis, keluar menuju
saluaran hermaproditin kemudian saluran sperma menuju
kkeselanjutnya menuju ke vas deverens, dan menhasilkan suatu
sel overium yang dibungkus dalm cankung yang dihasilkan oleh
epitel saluran.
2) System pernapasan
System pernapasan nya adalah darah tidak berwarana dan
terdiri dari plasma darah, dan butir butir darah. Fungsi darah
adalah mengedarkan O2 keseluruh tubuh mengambil dan
mengankut sisa sisa pembakaran.
3) System peredaran darah
Alat sirkulasi darah siput terdiri atas jantung dan pembuluh
darah yang masih sederhana. Jantung siput terdiri atas atrium dan
ventrikel, terletak di dalam rongga pericardial. Jalan sirkulasi
darah pada siput diawali dengan darah dipompa dari jantung
mengalir melalui sinus menuju jaringan tubuh. Dari jaringan
tubuh, darah kembali lagi ke jantung.
4) System saraf
Bekicot memiliki saraf ganglion dan serebral, saraf kaki,
dan saraf organ dalam tubuh. Saraf dari ganglion berhubungan
langsung ke seluruh sistem organ. Saraf sensori bekicot terdapat
pada kedua mata yang terletak di ujung tentakel panjang. Selain
itu, ada sepasang statokis yang berfungsi untuk keseimbangan dan
struktur peraba yang terdapat dalam lapisan epidermis kepala dan
kaki.
5) System pencernaan
Alat pencernaan pada hewan ini meliputi rongga mulut,
eshophgus, kelenjar ludah, krop lambung, kelnjar pencernaan usus
rectum dan anus.
d. Habitat
Hewan ini dapat hidu[p didarat khususnya daerah daerah
lembab dan berair.
e. Klsifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Claas : Gastropoda
Ordo : Pulmonata
Famili : Achnitida
Genus : Achatina
Spesies : Achatina fulica (Setiowati, 2010)
2. Loligo sp
a. Morfologi
Cumi-cumi memiliki bentuk tubuh panjang, langsing dan
bagian belakang meruncing (rhomboidal). Terdiri atas kepala, leher
dan badan. Kepala memiliki dua mata besar dan tidak berkelopak,
Leher pendek dan badan berbentuk tabung mempunyai sirip di setiap
sisinya. Pada kepala terdapat 8 tangan dan 2 tentakel panjang yang
ujungnya terdapat batil isap. Di posterior kepala terdapat sifon atau
corong berotot yang berfungsi sebagai kemudi. Di bagian perut,
terdapat cairan tinta berwarna hitam yang mengandung pigmen
melanin. Pada anterior badan terdapat endoskeleton yang berbentuk
pen atau bulu. Endoskeleton tersebut (cangkang) terletak di dalam
rongga mantel berwarna putih transparan, tipis dan terbuat dari bahan
kitin. Mantel berwarna putih dengan bintik-bintik merah ungu sampai
kehitaman dan diselubungi selaput tipis berlendir.
b. Anatomi
Sedangkan secara anatomi, terdapat beberapa organ seperti
sifon, katup sifon, cangkang (endoskeleton), telur, oviduk, articulating
ridge, kantung tinta, integument, alat pencernaan cumi-cumi terdiri
atas mulut, esofagus, lambung, usus, rektum dan anus.
c. Fisiologi
1) System pencernaan
Sistem pencernaan dilengkapi kelenjar pencernaan yaitu
kelenjar ludah, hati, dan pankreas.
2) System pembuluh darah
Sistem pembuluh darah cumi-cumi adalah sistem pembuluh
darah tertutup. Hewan ini bernafas dengan insang yang terdapat di
rongga mantel.
3) System ekskresi
Ekskresi dilakukan dengan ginjal berupa nefridium yang
terletak di sebelah jantung.
4) System reproduki
Reproduksi terjadi secara seksual dengan fertilisasi internal.
Alat reproduksinya terpisah, masing-masing dengan gonad yang
terletak dekat ujung rongga mantel.
5) System saraf
Sistem saraf terdiri atas tiga pasang ganglion. Indera
sensoris dilengkapi dengan dua stasista dan alat pembau.
d. Habitat
Cumi-cumi hidup di laut, kemungkinan hidup di air dalam
selama musim dingin, tetapi terkadang dia memasuki air dangkal
untuk menetaskan telurnya.
e. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari cumi-cumi adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Claas : Chepalopoda
Ordo : Tethoidea
Famili : Loliginidae
Genus : Loligo
Spesies : Loligo sp (Aryulina, 2011)
3. Anadonta sp
a. Morfologi
Pada bagian luar nampak cangkan sebagai pelindung tubuh
yang dihubungkan oleh ensel yang bersifat elastic sehingga cangkan
memunkinkan untuk membuka dan diantara rongga antar mantel dan
tubuh terdapat kaki.
b. Anatomi
Didalam rongga terdapat mantel dan dua insang alarviseral
dengan system sirkulasinya terdiri atas jantung , salurang darah dan
rongga sinus dan alat indaranya tidak berkembang dengan baik.
c. Fisiologi
1) System reproduksi
Kerang air tawar umumnya berumah dua. Alat refroduksi
terletak didarah dekat kaki dan alat itu terdiri dari satu berkas
saluran yang terbuka disalurang ginjal.
2) System pernapasan
Respirasi kerang adalah insang yang mengantung dalam
rongga mantel yang terletak disetiap sisi kaki setiap insang
tersusun dua glamela yang menyatu dibagian dorsal.
3) System saraf
System saraf Pelecypoda terdiri dari tiga pasang ganglion
yang saling berhubungan. Tiga ganglion tersebut adalah ganglion
anterior, ganglion pedal, dan ganglion posterior hal ini sama juga
ditemukan pada Gastropoda.
4) System peredaran darah
Pelecypoda memiliki system peredaran darah terbuka.
Terdapat dua ginjal di bawah jantung yang bertugas membuang
sisa ammonia. Pelecypoda memiliki jantung yang terdiri atas dua
atrium dan satu ventrikel. Sistem peredaran darah pada Pelecypoda
yaitu dengan cara ventrikel memompa darah melalui pembuluh
darah anterior menuju kaki, ginjal, insang. Pada bagian aorta
posterior mengalirkan darah yang menuju ke rectum dan mantel
kemudian darah kembali ke jantung melalui vena.
5) System pencernaan
Alat pencernaan pada hewan ini meliputi rongga mulut,
eshophgus, kelenjar ludah, krop lambung, kelnjar pencernaan usus
rectum dan anus.
d. Habitat
Hewan ini dapat ditemukan di lumpur , pasir, didanau. Dan
biasanya menguburkan diri didalam pasir dan pada waktu tertntu dapat
berpindah tempat.
e. Klsifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Claas : pleysipoda
Ordo : Pulmonata
Famili : Unidodidae
Genus : Anadonta
Spesies : Anadonta sp (Aryulina, 2011)
4. Pilla ampullacea
a. Morfologi
Keong sawah ini bisa memiliki tinggi cangkang sampai 40 mm
dengan diameter 15-25 mm, bentuknya seperti kerucut membulat
dengan warna hijau-kecoklatan atau kuning kehijauan. Puncak
cangkang agak runcing, tepi cangkang menyiku tumpul pada yang
muda, jumlah seluk 6-7, agak cembung, seluk akhir besar. Mulut
membundar, tepinya bersambung, tidak melebar, umumnya hitam.
Operculum agak bundar telur, tipis, agak cekung, coklat kehitaman.
Sebagaimana anggota Ampullariidae lainnya, ia memiliki operculum,
semacam penutup/pelindung tubuhnya yang lunak ketika
menyembunyikan diri di dalam cangkangnya
b. Anatomi
Keong mas memiliki gigi radula yang terletak di dalam
mulutnya, gigi radula berfungsi untuk mengunyah dan merobek
makanan. Mulut keong mas juga dilengkapi sepasang tentakel atau
sungut yang berbentuk laterial. Tentakel keong mas ada dua pasang.
Tentakel panjang berjumlah satu pasang, berukuran panjang dan
terletak didekat mata kiri dan kanan, tentakel panjang berfungsi
sebagai alat pemandu atau peraba,tentakel ini dapat dipanjang dan
pendekkan sesuai kebutuhan.Tentakel pendek berjumlah satu pasang,
terdapat di dekat mulutnya. Tentakel pendek berhubungan dengan bibir
terletak diatas kepala. Osphradia merupakan struktur sensor kimia
yang terletak di mantel cavity, didepan paru-paru. Osphradia berfungsi
untuk sebagai alat sensor substansi kimia dalam air. Statocyts adalah
organ berbentuk mirip gelembung yang berisi statolith (bentuk batu
kecil mengandung calsium carbonat). Statocyst berfungsi sebagai
organ penyeimbang dan mampu mendeteksi posisi dan tanah
dibawahnya. Statocyst terletak didalam tubuh keong mas dan tertutupi
oleh pedal ganglia.
c. Fisiologi
1) System reproduksi
Reproduksi secara hermaprodit denan alat berupa ovotestes
yang dapat menghasilkan ovum dan sperma sekaligus tetapi tidak
dapat terjadi autofertilisasi.
2) System pernapasan
Keong sawah memiliki dua alat pernafasan yaitu insang dan
paru-paru. Perpaduan antara insang dan paru-paru membuat keong
sawah mampu bertahan di lingkungan yang memiliki kandungan
yang miskin oksigen. Biasanya kandungan oksigen yang rendah
terjadi akibat penguraian bahan organik seperti pembusukan
tanaman serta peningkatan suhu. Dengan adanya paru-paru, keong
bisa bertahan pada kondisi nol oksigen. Keong sawah bernapas
dengan insang saat oksigen di dalam air banyak, sedangkan pada
kondisi ekstrem tanpa oksigen keong akan menggunakan paru-paru
untuk bernapas melalui siphon.
3) System peredaran darah
Peredaran darah terbuka, jantung terdiri satu serambi satu
bilik dengan darah berwarna biru karena mengandung
haemosianin.
4) System saraf
System saraf pada keong sawah terdiri dari cincin saraf
yang mengelilingi esophagus dengan serabut saraf yang melebar.
5) System pencernaan
Dimulai dari mulut yang dilengkapi dengan rahang dari zat
tanduk. Di dalam mulut terdapat lidah parut atau radula dengan
gigi-gigi kecil dari kitin. Selanjutnya terdapat kerongkongan,
kemudian lambung yang bulat, usus halus dan berakhir di anus.
Keong sawah umumnya pemakan tumbuh-tumbuhan atau disebut
hewan herbivora.
d. Habitat
Sejenis siput air yang mudah dijumpai di perairan tawar Asia
tropis, seperti di sawah, aliran parit, serta danau.
e. Klsifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Claas : Gastropoda
Ordo : Ampullariini
Famili : Ampullariidae
Genus : Pilla
Spesies : Pilla ampullacea (Setiowati, 2010)
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari pembahasan di atas yaitu :
1. Struktur tubuh dari anggota phylum mollusca terdiri dari tiga bagian utama
yaitu kepala, mantel dan massa viseral.
2. Kaki memiliki fungsi untuk bergerak, pada sebagian mollusca menjadi
tentakel dan berfungsi untuk menangkap mangsa. Mantel merupakan
jaringan tebal yang berfungsi untuk melindungi massa viseral. massa
viseral merupakan tempat dari organ-organ penting hewan mollusca
seperti organ pencernaan, eksresi dan reproduksi.
B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan yaitu :
1. Sebelum melalukan praktikum, sebaiknya praktikan mempelajari materi-
materi yang akan di praktikumkan agar tidak terlalu bingung dalam
melakukan prosedur kerja.
2. Sebaiknya praktikan dapat lebih aktif dan teliti dalam mempersiapkan alat
dan bahan untuk percobaan dan dapat menguasai prosedur kerja dengan
baik agar praktikum berjalan lancar dan selesai tepat waktu.
DAFTAR PUSTAKA

Aryulina, Diah. dkk. 2011. Biologi 1. Jakarta : Esis

Campbell, Neil A. dkk. 2010. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Jakarta : Erlangga

Marwoto, Ristiyanti M. Nur R. Isnaningsih. 2014. Tinjauan Keanekaragaman


Moluska Air Tawar Di Beberapa Situ Di Das Ciliwung - Cisadane.
Jurnal Biologi Mollusca. Vol. 13 (2) ISSN: 3343–3353

Setiowati, Tetty. Deswaty Furqonita. 2010. Biologi Interaktif. Jakarta : Aska


Press

Wahyuni, Sri. Dkk. 2015. Jenis-jenis Moluska (Gastropoda dan Bivalvia) Pada Ekosistem
Mangrove Di Desa Dedap Kecamatan Tasikputripuyu Kabupaten Kepulauan
Meranti, Riau. Jurnal Ilmiah Edu Reasearch. Vol. 3 (2) ISSN : 2303- 2162.

Anda mungkin juga menyukai