Anda di halaman 1dari 12

BAB I

LATAR BELAKANG

Keberadaan Undang-undang nomor 14 tahun 2004 merupakan bentuk


pengakuan terhadap profesi guru. Implikasi dari undang-undang tersebut adalah
tuntutan agar guru lebih profesional dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Pembinaan dan pengembangan keprofesian guru dapat diakukan melalui
pengembangan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.

Upaya peningkatan kompetensi guru dapat dilaksanakan misalnya melalui


kegiatan lomba olimpiade sains nasioanal bagi guru. Kegiatan ini memotivasi
kami dalam mengembangkan keprofesionalan diri sebagai guru karena pada
kegiatan ini akan merangsang kemampuan para guru dalam meningkatkan
kompetensi guru khususnya kompetensi pedagogik dan profesional. Melalui
kegiatan ini para guru akan terpacu untuk mengembangkan kemampuan dalam
menguasai karakteristik peserta didik, menguasai teori belajar, mengembangkan
kurikulum, menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
dan lain sebagainya.

Kegiatan lomba olimpiade sains guru akan menjadikan guru termotivasi


untuk meningkatkan wawasan guru dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pertemuan para guru dalam kegiatan ini akan terjadi saling tukar informasi
tentang pelaksanaan pembelajaran yang berkualitas di tiap daerah. Informasi-
informasi positif ini dapat menginspirasi masing masing guru untuk
mengembangkan proses pembelajaran di sekolahnya, misalnya peningkatan
strategi, teknik, dan model pembelajarannya

Olimpiade sains guru merupakan wadah bagi guru untuk mengembangkan


budaya kompetitif yang sehat di kalangan para guru. Seorang guru harus
berkomitmen untuk selalu meningkatkan kemampuannya agar dapat memberikan
pelayanan yang optimal pada siswa. Seiring dengan berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi maka guru harus mengimbanginya sehingga dapat
menghasilkan proses pembelajaran yang berkualitas dan menyiapkan siswa dalam
mengarungi dunia nyata di masyarakat.

Lulusan SMK harus mempunyai bekal kemampuan tidak hanya


pengetahuan teoritik dan keahlian saja, tetapi harus mempunyai kemampuan baik
hard skill maupun soft skillnya. Lulusan SMK diharapkan menjadi tenaga
terampil yang dapat mengembangkan potensi lokal di daerahnya, sehingga
keberadaan SMK akan lebih bermakna dalam memberdayakan masyarakat di
sekitarnya. Berdasarkan hal tersebut maka visi kami sebagai guru adalah
mengembangkan pembelajaran yang menghasilkan siswa cerdas, terampil,
profesional dan produktif serta bermakna bagi masyarakat.

Upaya mencapai visi tersebut perlu dilakukan beberapa misi yaitu pertama
melalui pengembangan pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan siswa
yang cerdas akademik, spiritual, hard skill maupun soft skillnya. Strategi
pencapaiannya dapat dilaksanakan misalnya melalui pembelajaran yang
mengintegrasikan kemampuan keahlian siswa dengan materi mata pelajaran
kimia. Proses pengintegrasian tersebut dilaksanakan melalui berbagai model
pembelajaran misalnya model cooperative learning, inquiry, discovery ataupun
pembelajaran berbasis proyek. Misalnya pada saat pembelajaran tentang
termokimia maka proses pembelajaran dapat dilakukan dengan
mengintegrasikannya pada materi proses pembakaran sepeda motor. Kegiatannya
dilaksanakan melalui model pembelajaran discovery dan pada akhir kegiatan
pembelajaran siswa diarahkan untuk selalu bersyukur pada Tuhan atas apa yang
telah diberikan pada kita.

Misi kedua adalah pengembangan pembelajaran yang berorientasi pada


integrasi penguasaan konsep meteri kimia, kompetensi keahlian berbasis kearifan
lokal. Misi tersebut merupakan penjabaran upaya mencapai tujuan pembentukan
siswa yang terampil, profesional, produktif dan bermakna bagi masyarakat.
Strategi pencapaiannya dilaksanakan melalui pembelajaran yang melibatkan
masyarakat dan pengembangan potensi lokal di sekitar sekolah. SMK Negeri 1
Kedung terletak di kabupaten Jepara dengan potensi lokal sekitar sekolah yang
dapat dikembangkan adalah sektor perikanan karena terletak dekat pesisir pantai
utara, sektor kain tenun troso dan insdustri meubel. Pembelajaran yang telah
dilaksanakan menggunakan pembelajaran berbasis proyek, inquiry dan discovery.

Pelaksanaan pembelajaran yang kami lakukan selama menjadi guru selalu


berorientasikan pada visi dan misi yang telah teruraikan di atas. Hasil dari proses
pembelajaran telah membuahkan hasil dengan terserapnya tamatan siswa SMK
Negeri 1 Kedung di dunia industri lokal di wilayah Jepara. Beberapa siswa juga
mampu menciptakan karya inovasi yang memenangkan berbagai lomba karya
ilmiah dan karya tersebut digunakan oleh dunia usaha dan industri untuk
meningkatkan kualitas hasil usahanya.

Proses pembelajaran yang telah kami laksanakan selama ini tidak hanya
membekali siswa pada penguasaan konsep keilmuan saja tetapi juga bermanfaat
bagi siswa itu sendiri serta berguna bagi masyarakat. Kami berharap latar
belakang, visi, misi dan strategi pencapaiannya yang telah kami uraikan cukup
menjadi bekal dan layak untuk mengikuti kegiatan Olimpiade Sains Nasional
Guru.
BAB II

DESKRIPSI KEUNGGULAN SEBAGAI GURU

2.1. Keunggulan Mengajar di SMA Islam AlHikmah Mayong ( 1999-2003)

Pengalaman menjadi guru dimulai dari mengajar di SMA Islam Alhikmah


Mayong Jepara sebagai guru tidak tetap atau non PNS. Pendiri yayasan
berkeinginan agar keberadaan sekolah tersebut dapat mengembalikan citra daerah
Mayong yang dulunya religius dengan mendirikan sekolah berbasis keagamaan.
Sekolah tersebut bertujuan menciptakan lulusan SMA yang mempunyai
kemampuan agama lebih dibandingkan dengan lulusan lainnya. Tujuan tersebut
menjadi serius untuk dicapai mengingat SMA Islam Alhikmah Mayong adalah
sekolah bukan favorit dengan penerimaan siswa dari limpahan sekolah –sekolah
yang lebih berkualitas. Tingkat kenakalan menjadi sangat serius karena siswa
yang masuk ke sekolah tersebut adalah siswa yang nakal, tingkat kemampuan
akademiknya rendah.

Berdasarkan visi dan tujuan sekolah tersebut maka proses pembelajaran


kami laksanakan dengan menyisipkan muatan-muatan karakter dan nilai
keagamaan dengan harapan dapat mengurangi kenakalan siswa. Oleh karena itu
selama proses pembelajaran materi kimia, muatan muatan keagamaan
diintegrasikan sesuai dengan materi kimia isi yang sedang diajarkan.

Hasil yang telah dicapai melalui pembelajaran dengan mengintegrasikan


antara materi kimia dengan muatan keagamaan terindikasi melalui peningkatan
keimanan dan ketaqwaan pada diri siswa. Kenakalan siswa menurun cukup
signifikan. Pada tahun pertama kami mengajar yaitu antara tahun 1999 – 2000 ,
masih dijumpai siswa yang masuk sekolah dengan membawa senjata tajam,
merokok, bahkan minum –minuman keras, bahkan tidak mengindahkan sholat
meskipun di dalam sekolah tersebut terdapat masjid yang cukup layak digunakan
untuk sholat berjamaah dengan banyak peserta.
Pada tahun kedua pengalaman kami mengajar yaitu tahun 2000-2001 kami
melakukan proses pembelajaran dengan mengintegrasikan materi pelajaran
dengan muatan karakter dan nilai-nilai keagamaan, menghasilkan siswa yang
lebih santun dan lebih baik. Misalnya ketika memberikan pembelajaran tentang
hidrokarbon, pembelajaran tidak hanya konsep hidrokarbon saja tetapi dalam
pembelajarannya kami kaitkan dengan muatan keagamaan tentang kerugian dan
kelemahan alkohol sebagai produk senyawa hidrokarbon. Indikator hasil
pembelajaran dengan model integrasi adalah adalah sudah tidak ada siswa yang
membawa minum minuman keras, rokok di sekolah serta bertambahnya jumlah
siswa yang melaksanakan ibadah sholat di sekolah.

Proses pembelajaran yang telah dilaksanakan kami dokumenkan dengan


membuat karya tulis dan dilombakan pada kegiatan lomba Karya Tulis
Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan (Imtaq) siswa bagi Guru SD,SLTP, dan
SLTA Tingkat Nasional Tahun 2003. Judul karya tulisnya berjudul “Keterkaitan
Ayat Kauniyah Al-Quran dengan Simpulan Materi Pelajaran Kimia melalui
Media Papan Pesan” ( sertifikat terlampir ). Meskipun tidak memenangkan lomba
tapi model pembelajaran dengan mengintegrasikan materi pelajaran kimia dengan
muatan keagamaan telah berhasil secara nyata menurunkan tingkat kenakalan
siswa dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa.

2.2. Keunggulan Mengajar di SMK Negeri Karimunjawa ( 2003-2007)

Pada tahun 2003 kami diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan
ditempatkan di sebuah SMK terpencil yaitu di SMK Negeri 1 Karimunjawa.
Keberadaan sekolah ini ada tetapi belum mempunyai gedung sendiri karena masih
menggunakan gedung milik SMP Negeri Karimunjawa. Lokasi sekolah ini
berada di kepulauan antara pulau jawa dan kalimantan, meskipun demikian
wilayah kepulauan Karimunjawa masuk daerah kabupaten Jepara.

Pada awal kami masuk mengajar di SMK ini kondisinya tidak jauh
berbeda dengan di SMA Islam AlHikmah Mayong. Ketidak disiplinan dan
kenakalan siswa menjadi hal yang dimaklumi masyarakat dan kebiasaan bagi
masyarakat Karimunjawa. Sebelumnya di kepulauan ini belum ada sekolah
setingkat SMA/SMK/MA, tertinggi hanya ada SMP Negeri dan Mts. Siswa
masuk pertama kali masih menggunakan sandal, merokok dan usianya mendekati
20 tahun baru kelas X ( sepuluh ). Kebiasaan meminum minuman keras menjadi
hal yang biasa sebelumnya.

Pengalaman mengajar dengan mengintegrasikan materi pelajaran dengan


muatan-muatan keagamaan di SMA Islam Al-Hikmah kami terapkan dan berhasil
dengan baik. Kebiasaan yang tidak baik berangsur-angsur mulai ditinggalkan dan
tingkat kedisiplinan mengalami peningkatan. Potensi wilayah kepulauan
Karimunjawa memungkinkan untuk ditingkatkan terutama sektor perikanan. Oleh
karena itu ketika kediplinan dan kebiasaan tidak baik sudah mulai ditinggalkan
siswa maka proses pembelajaran kami arahkan dengan mengintegrasikannya pada
pemberdayaan potensi lokal Karimunjawa yaitu bidang perikanan.

Pembelajaran materi kimia dikaitkan dengan proses pengolahan hasil


perikanan. Misalnya ketika mempelajari termokimia maka dalam proses
pembelajarannya diintegrasikan dengan proses pendinginan, pengasapan,
pengeringan sehingga ketika mempelajari kimia, siswa merasa ilmu yang
dipelajarinya bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kegiatan di masyarakat.

Wilayah Karimunjawa menjadi pusat pengembangan rumput laut karena


air pantainya yang masih bersih, bebas dari limbah baik industri maupun limbah
rumah tangga. Hanya saja pada proses pengolahannya menggunakan bahan kimia
kaporit yang berbahaya bila dikonsumsi manusia secara berlebihan. Berdasarkan
fakta tersebut maka pada proses pembelajaran kimia misalnya materi ikatan kimia,
reaksi kimia, koloid, permasalahan kaporit pada proses pengolahan rumput laut
dapat diintegrasikan. Pada kesempatan mengajar di SMK Karimunjawa ini kami
menemukan karya inovatif berupa penggunaan larutan leri dan daun jeruk nipis
sebagai pengganti kaporit untuk memutihkan rumput laut kering tawar.
Karya inovasi tersebut kami ikutkan dalam Lomba Peningkatan Kreatifitas
Guru (LPKG) SMK Pertanian, Perikanan dan Kelautan Tingkat Nasional Bidang
Lomba Teknologi Aplikatif dengan judul “Pemanfaatan Daun Jeruk Nipis dan
Larutan Leri sebagai Pengganti Kaporit pada Pengolahan Rumput Laut Kering”.
Prestasi yang di dapat adalah mendapat juara harapan 1( sertifikat terlampir ).
Prestasi yang lebih membanggakan adalah digunakannya daun jeruk nipis dan
larutan leri sampai sekarang oleh masyarakat Karimunjawa dalam skala home
industri untuk mengolah rumput laut kering tawar sebagai buah tangan para
wisatawan baik lokal maupun manca negara.

Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Bupati juga memberikan


penghargaan pada kami sebagai juara 1 ( pertama ) lomba guru berprestasi tahun
2006 tingkat SMA/SMK/MA se kabupaten Jepara ( sertifikat terlampir ).
Penghargaan tersebut kami peroleh melalui penilaian juri atas dedikasi,
kemampuan kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial
diantaranya melalui peran kami memberdayakan masyarakat Karimunjawa
terutama pada peningkatan kualitas pengolahan rumput laut kering tawar sebagai
produk home industri.

2.3 Keunggulan Mengajar di SMK Negeri 1 Kedung ( 2007 – sekarang )

Pada tahun 2006 sebenarnya kami sudah mengajar di SMK Negeri 1


Kedung dengan status nota tugas. Secara definitif masih sebagai guru SMKN 1
Karimunjawa tetapi oleh pihak dinas pendidikan kabupaten Jepara diberi tugas
mengembangkan sekolah yang baru berdiri yaitu SMK Negeri 1 Kedung. Mutasi
secara resmi berlaku mulai tahun 2007. Pengalaman melaksanakan pembelajaran
dengan mengintegrasikan materi pelajaran kimia dengan kompetensi keahliannya
yang berbasis pengembangan potensi lokal kami lakukan juga di SMK Negeri 1
Kedung.

Wilayah Kedung yang berada di dekat pesisir pantai utara Jepara


mempunyai potensi lokal bidang perikanan, di samping itu adalah industri tenun
ikat Troso yang terkenal hingga mancanegara. Pelaksanaan pembelajaran kimia
yang kami laksanakan juga berbasis pada potensi lokal tersebut. Berdasarkan data
dari Koordinator Bursa Kerja Khusus yang ada di SMK Negeri 1 Kedung ternyata
banyak lulusan SMK Negeri 1 Kedung yang terserap di dua sektor tersebut.

Pengalaman pembelajaran yang telah kami laksanakan di SMK Negeri 1


Kedung kami tuangkan dalam bentuk penelitian tindakan kelas yang dilombakan
pada Lomba Karya Tulis Ilmiah bagi Guru SMK Kabupaten Jepara yang
diselenggarakan oleh Forum Ilmiah Guru. Pada lomba ini mendapat peringkat 1
(pertama) dengan judul karya ilmiah “Peningkatan Kualitas Hasil Belajar Siswa
tentang Reaksi Kimia Asam Basa melalui Kegiatan Praktikum Kuliner di SMK
Negeri 1 Kedung Tahun Pelajaran 2007/2008”. (sertifikat terlampir ). Pada
penelitian tersebut pembelajaran dilaksanakan melalui integrasi antara konsep
reaksi asam basa dengan kompetensi keahlian siswa yang berbasis perikanan yaitu
kuliner makanan ikan yang merupakan potensi lokal wilayah Kedung.

Pada topik pelajaran kimia yang lain yaitu tentang konsep hasil kali
kelarutan dapat diintegrasikan dengan proses pembuatan ikan asin. Pembuatan
ikan asin ini merupakan komoditas industri yang dikembangkan masyarakat
pesisir di sekitar daerah Kedung. Pengalaman pembelajaran tersebut kami
tuangkan dalam bentuk karya ilmiah yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar
Kimia melalui Kegiatan Berbasis Kearifan Lokal di SMK Negeri 1 Kedung tahun
pelajaran 2009/2010” . Karya ilmiah ini menghasilkan prestasi juara 2 pada
lomba karya ilmiah inovatif pembelajaran kimia yang diselenggarakan Dinas
Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. (sertifikat terlampir)

Mata pelajaran Kimia di SMK bukan merupakan mata pelajaran yang di


ujian nasionalkan sehingga bukan nilai siswa yang menjadi indikator utama
keberhasilan dalam pembelajaran, tetapi pemanfaatan konsep kimia tersebut
dalam meningkatkan kualitas kompetensi keahlian yang harus dikuasai siswa baik
hard skills maupun soft skills agar bermanfaat baik untuk siswa maupun untuk
masyarakat.
Pemanfaatan pembelajaran bagi siswa dibuktikan dengan prestasi karya
ilmiah dan inovasi mereka dalam berbagai lomba. Diantaranya adalah prestasi
siswa atas nama Indra Wahyu yang memperoleh juara 2 pada lomba karya ilmiah
remaja yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jepara. Hasil
karyanya adalah pembuatan alat pembuatan garam ( NaCl ) (sertifikat terlampir).

Prestasi kedua adalah meraih juara 3 yang diraih Dewi Ambarwati pada
lomba karya ilmiah siswa yang diselenggarakan pada lomba Gelar Prestasi dan
Bela Negara pada tahun 2010. Prestasi selanjutnya adalah memenangkan lomba
olimpiade sains terapan untuk siswa pada mapel kimia. Pada tahun 2012 meraih
juara 1 atas nama Afrizal Bayu Panbudi dan pada tahun 2013 juga meraih juara 1
atas nama Ulfa RofiatusZahroh.

Prestasi lainnya adalah memenangkan lomba rancang bangun desain


teknologi tepat guna usaha garam sebagai juara pertama kategori pengolahan
garam (NaCl) atas nama Putri,Widya dan Naasikhul. Terakhir adalah menerima
penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah tentang Kreatifitas dan Inovasi
Masyarakat Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2013 atas nama Putri Ratna
Handayani. Hasil temuan siswa tersebut adalah alat pengolahan Garam Bersih
dengan menggunakan teknologi Filads ( Filtrasi dan adsorbsi ). Alat ini
ditemukan siswa melalui perpaduan konsep filtrasi dan adsorbsi pada pelajaran
kimia dengan potensi lokal masyarakat wilayah Kedung yaitu petani garam.
Penemuan siswa ini telah digunakan oleh petani garam di wilayah Kedung untuk
mengolah garam krosok menjadi garam bersih dan siap dijual di pasaran.
BAB III

HARAPAN DAN RENCANA KEGIATAN MASA DATANG

Kegiatan Olimpiade Sains bukan tujuan akhir dari pengembangan


pembelajaran yang kami lakukan. Kami akan melaksanakan inovasi-inovasi
pembelajaran misalnya aspek model pembelajaran, media maupun evaluasinya.
Meskipun mata pelajaran kimia bukan merupakan mata pelajaran yang diujian
nasionalkan, proses pengembangan pembelajaran tetap harus selalu ditingkatkan.
Oleh karena itu sebaiknya tahun mendatang lomba olimpiade sains guru untuk
SMK juga memperhatikan atau menilai kebermanfaatan proses pembelajaran bagi
kesiapan siswa untuk bekerja atau bermasyarakat.

Kurikulum 2013 akan dilaksanakan serentak di semua sekolah pada tahun


ini, maka pelaksanaan pembelajaran akan disesuaikan dengan kurikulum tersebut.
Proses kegiatan belajar mengajar yang selama ini kami lakukan dengan
mengintegrasikan konsep keilmuan kimia dengan kompetensi keahlian yang
berbasis pengembangan potensi lokal akan lebih disempurnakan dengan adanya
penilaian autentik sebagai salah satu ciri khas kurikulum 2013. Demikian pula
dengan proses pembelajarannya yang berbasis saintifik akan kami kombinasikan
dengan proses pembelajaran yang selama ini telah terlaksana dengan baik.
PENUTUP

Olimpiade sains guru ini menjadi kegiatan yang sangat penting untuk
pengembangan keprofesionalan guru, dan menjadi ajang forum silaturohmi
akademik. Pertemuan para guru yang telah mempunyai bekal kemampuan
keprofesionalan terbaik di masing masing guru akan lebih menarik bila terjadi
saling tukar pengalaman, masing masing guru saling membagi keunggulannya ke
pada guru yang lain.

Pelaksanaan olimpiade sains guru untuk tingkat SMK sebaiknya


dibedakan materinya dengan tingkat SMA karena orientasi pembelajarannya
berbeda. Kegunaan pembelajaran kimia di SMA diantaranya untuk penguasaan
konsep secara mendetail berbeda dengan di SMK. Pembelajaran mata pelajaran
kimia di SMK merupakan pembelajaran adaptif yang mendukung pembelajaran
kompetensia keahliannya. Penekanan manfaat konsep kimia pada penguasaan
kompetensi keahlian menjadi sangat penting di SMK.

Kegiatan olimpiade ini sebaiknya selalu ditingkatkan pelaksanannya


karena mempunyai manfaat yang banyak bagi para guru. Risalah pendidikan
yang menjadi persyaratan utaman bagi yang lolos ke tingkat nasional sebaiknya
juga digunakan dalam penilaian di tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi
Jawa Tengah. Guru yang berhasil tidak hanya mempunyai kemampuan
penguasaan materi saja tetapi pengalaman praktis di lapangan juga menjadi faktor
yang menentukan bagi keberhasilan siswa dalam memahami ketika proses
pembelajaran berlangsung.