Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Diabetes Mellitus (DM) merupakan kategori penyakit tidak menular (PTM)
yang menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik secara global, regional,
nasional maupun lokal. Salah satu jenis penyakit metabolik yang selalu
mengalami peningkatan penderita setiap tahun di negara-negara seluruh dunia.
Diabetes merupakan serangkaian gangguan metabolik menahun akibat pankreas
tidak memproduksi cukup insulin, sehingga menyebabkan kekurangan insulin
baik absolut maupun relatif, akibatnya terjadi peningkatan konsentrasi glukosa
dalam darah (Infodatin, 2014; Sarwono, dkk, 2007).
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan
peningkatan angka insiden dan prevalensi DM tipe-2 di berbagai penjuru dunia.
Berdasarkan perolehan data International Diabetes Federation (IDF) tingkat
prevalensi global penderita DM pada tahun 2013 sebesar 382 kasus dan
diperkirakan pada tahun 2035 mengalami peningkatan menjadi 55% (592 kasus)
diantara usia penderita DM 40-59 tahun (International Diabetes Federation, 2013).
Tingginya angka tersebut menjadikan Indonesia peringkat keempat jumlah pasien
DM terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, India dan China (Suyono, 2006).

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami konsep dan asuhan keperawatan pada pasien dengan
Diabetes Militus.
1.2.2 Tujuan khusus
1. Memahami definisi dari Diabetes Melitus.
2. Memahami manifestasi dari Diabetes Militus.
3. Memahami klasifikasi dari Diabetes Melitus.
4. Memahami patofisiologi dari Diabetes Melitus.
5. Memahami komplikasi dari Diabetes Melitus.

1
6. Faktor resikoterkena Diabetes Militus.
7. Memahami pencegahan dari Diabetes Melitus.

2
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya (Henderina, 2010). Menurut PERKENI (2011)
seseorang dapat didiagnosa diabetes melitus apabila mempunyai gejala klasik
diabetes melitus seperti poliuria, polidipsi dan polifagi disertai dengan kadar gula
darah sewaktu ≥200 mg/dl dan gula darah puasa ≥126 mg/dl.
2.2 Manifestasi Klnis
Beberapa gejala umum yang dapat ditimbulkan oleh penyakit DM diantaranya
:
1. Pengeluaran urin (Poliuria)
Poliuria adalah keadaan dimana volume air kemih dalam 24 jam meningkat
melebihi batas normal. Poliuria timbul sebagai gejala DM dikarenakan kadar gula
dalam tubuh relatif tinggi sehingga tubuh tidak sanggup untuk mengurainya dan
berusaha untuk mengeluarkannya melalui urin. Gejala pengeluaran urin ini lebih
sering terjadi pada malam hari dan urin yang dikeluarkan mengandung glukosa
(PERKENI, 2011).
2. Timbul rasa haus (Polidipsia)
Poidipsia adalah rasa haus berlebihan yang timbul karena kadar glukosa
terbawa oleh urin sehingga tubuh merespon untuk meningkatkan asupan cairan
(Subekti, 2009).
3. Timbul rasa lapar (Polifagia)
Pasien DM akan merasa cepat lapar dan lemas, hal tersebut disebabkan karena
glukosa dalam tubuh semakin habis sedangkan kadar glukosa dalam darah cukup
tinggi (PERKENI, 2011).
4. Peyusutan berat badan
Penyusutan berat badan pada pasien DM disebabkan karena tubuh terpaksa
mengambil dan membakar lemak sebagai cadangan energi (Subekti, 2009).

3
2.3 Klasifikasi DiabetesMilitus
1. Diabetes tipe 1
Diabetes tipe 1 biasanya terjadi pada remaja atau anak, dan terjadi karena
kerusakan sel β (beta) (WHO, 2014). Canadian Diabetes Association (CDA) 2013
juga menambahkan bahwa rusaknya sel β pankreas diduga karena proses
autoimun, namun hal ini juga tidak diketahui secara pasti. Diabetes tipe 1 rentan
terhadap ketoasidosis, memiliki insidensi lebih sedikit dibandingkan diabetes tipe
2, akan meningkat setiap tahun baik di negara maju maupun di negara
berkembang (IDF, 2014).
2. Diabetes tipe 2
Diabetes tipe 2 biasanya terjadi pada usia dewasa (WHO, 2014). Seringkali
diabetes tipe 2 didiagnosis beberapa tahun setelah onset, yaitu setelah komplikasi
muncul sehingga tinggi insidensinya sekitar 90% dari penderita DM di seluruh
dunia dan sebagian besar merupakan akibat dari memburuknya faktor risiko
seperti kelebihan berat badan dan kurangnya aktivitas fisik (WHO, 2014).
3. Diabetes gestational
Gestational diabetes mellitus (GDM) adalah diabetes yang didiagnosis selama
kehamilan (ADA, 2014) dengan ditandai dengan hiperglikemia (kadar glukosa
darah di atas normal) (CDA, 2013 dan WHO, 2014). Wanita dengan diabetes
gestational memiliki peningkatan risiko komplikasi selama kehamilan dan saat
melahirkan, serta memiliki risiko diabetes tipe 2 yang lebih tinggi di masa depan
(IDF, 2014).
4. Tipe diabetes lainnya
Diabetes melitus tipe khusus merupakan diabetes yang terjadi karena adanya
kerusakan pada pankreas yang memproduksi insulin dan mutasi gen serta
mengganggu sel beta pankreas, sehingga mengakibatkan kegagalan dalam
menghasilkan insulin secara teratur sesuai dengan kebutuhan tubuh. Sindrom
hormonal yang 14 dapat mengganggu sekresi dan menghambat kerja insulin yaitu
sindrom chusing, akromegali dan sindrom genetik (ADA, 2015).

4
2.4 Patofisiologi Diabets Militus
1. Patofisiologi diabetes tipe 1
Pada DM tipe 1, sistem imunitas menyerang dan menghancurkan sel yang
memproduksi insulin beta pankreas (ADA, 2014). Kondisi tersebut merupakan
penyakit autoimun yang ditandai dengan ditemukannya anti insulin atau antibodi
sel antiislet dalam darah (WHO, 2014). National Institute of Diabetes and
Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) tahun 2014 menyatakan bahwa
autoimun menyebabkan infiltrasi limfositik dan kehancuran islet pankreas.
Kehancuran memakan waktu tetapi timbulnya penyakit ini cepat dan dapat terjadi
selama beberapa hari sampai minggu. Akhirnya, insulin yang dibutuhkan tubuh
tidak dapat terpenuhi karena adanya kekurangan sel beta pankreas yang berfungsi
memproduksi insulin. Oleh karena itu, diabetes tipe 1 membutuhkan terapi
insulin, dan tidak akan merespon insulin yang menggunakan obat oral.
2. Patofisiologi diabetes tipe 2
Kondisi ini disebabkan oleh kekurangan insulin namun tidak mutlak. Ini berarti
bahwa tubuh tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan yang ditandai dengan 15 kurangnya sel beta atau defisiensi insulin
resistensi insulin perifer (ADA, 2014). Resistensi insulin perifer berarti terjadi
kerusakan pada reseptor-reseptor insulin sehingga menyebabkan insulin menjadi
kurang efektif mengantar pesan-pesan biokimia menuju sel-sel (CDA, 2013).
Dalam kebanyakan kasus diabetes tipe 2 ini, ketika obat oral gagal untuk
merangsang pelepasan insulin yang memadai, maka pemberian obat melalui
suntikan dapat menjadi alternatif.
3. Patofisiologi diabetes gestasional
Gestational diabetes terjadi ketika ada hormon antagonis insulin yang
berlebihan saat kehamilan. Hal ini menyebabkan keadaan resistensi insulin dan
glukosa tinggi pada ibu yang terkait dengan kemungkinan adanya reseptor insulin
yang rusak (NIDDK, 2014 dan ADA, 2014).
2.5 Komplikasi DM
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang dapat menimbulkan
berbagai macam komplikasi, antara lain :

5
1. Komplikasi metabolik akut
Kompikasi metabolik akut pada penyakit diabetes melitus terdapat tiga
macam yang berhubungan dengan gangguan keseimbangan kadar glukosa
darah jangka pendek, diantaranya:
a) Hipoglikemia
Hipoglikemia (kekurangan glukosa dalam darah) timbul sebagai
komplikasi diabetes yang disebabkan karena pengobatan yang kurang tepat
(Smeltzer & Bare, 2008).
b) Ketoasidosis diabetik
Ketoasidosis diabetik (KAD) disebabkan karena kelebihan kadar glukosa
dalam darah sedangkan kadar insulin dalam tubuh sangat menurun sehingga
mengakibatkan kekacauan metabolik yang ditandai oleh trias hiperglikemia,
asidosis dan ketosis (Soewondo, 2006).
c) Sindrom HHNK (koma hiperglikemia hiperosmoler nonketotik)
Sindrom HHNK adalah komplikasi diabetes melitus yang ditandai dengan
hiperglikemia berat dengan kadar glukosa serum lebih dari 600 mg/dl (Price
& Wilson, 2006).
2. Komplikasi metabolik kronik
Komplikasi metabolik kronik pada pasien DM menurut Price & Wilson
(2006) dapat berupa kerusakan pada pembuluh darah kecil (mikrovaskuler)
dan komplikasi pada pembuluh darah besar (makrovaskuler) diantaranya:
a) Komplikasi pembuluh darah kecil (mikrovaskuler) Komplikasi pada
pembuluh darah kecil (mikrovaskuler) yaitu :
(1) Kerusakan retina mata (Retinopati)
Kerusakan retina mata (Retinopati) adalah suatu mikroangiopati ditandai
dengan kerusakan dan sumbatan pembuluh darah kecil (Pandelaki, 2009).
(2) Kerusakan ginjal (Nefropati diabetik)
Kerusakan ginjal pada pasien DM ditandai dengan albuminuria menetap
(>300 mg/24jam atau >200 ih/menit) minimal 2 kali pemeriksaan dalam
kurun waktu 3-6 bulan. Nefropati diabetik merupakan penyebab utama
terjadinya gagal ginjal terminal.

6
(3) Kerusakan syaraf (Neuropati diabetik)
Neuropati diabetik merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan
pada pasie
n DM. Neuropati pada DM mengacau pada sekelompok penyakit yang
menyerang semua tipe saraf (Subekti, 2009).
b) Komplikasi pembuluh darah besar (makrovaskuler)
Komplikasi pada pembuluh darah besar pada pasien diabetes yaitu stroke dan
risiko jantung koroner.
2.6 Faktor Risiko Diabetes Militus
1) Faktor risiko yang dapat diubah
a) Gaya hidup
Gaya hidup merupakan perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam
aktivitas sehari-hari. Makanan cepat saji, olahraga tidak teratur dan minuman
bersoda adalah salah satu gaya hidup yang dapat memicu terjadinya DM tipe
2 (ADA, 2009).
b) Diet yang tidak sehat
Perilaku diet yang tidak sehat yaitu kurang olahraga, menekan nafsu
makan, sering mengkonsumsi makan siap saji (Abdurrahman, 2014).
c) Obesitas
Obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya
penyakit DM. Menurut Kariadi (2009) dalam Fathmi (2012), obesitas dapat
membuat sel tidak sensitif terhadap insulin (resisten insulin). Semakin
banyak jaringan lemak pada tubuh, maka tubuh semakin resisten terhadap
kerja insulin, terutama bila lemak tubuh terkumpul didaerah sentral atau perut
(central obesity).
d) Tekanan darah tinggi
Menurut Kurniawan dalam Jafar (2010) tekanan darah tinggi merupakan
peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari
pembuluh darah dari tepi dan peningkatan volume aliran darah.

7
2) Faktor risiko yang tidak dapat diubah
a) Usia
Semakin bertambahnya usia maka semakin tinggi risiko terkena diabetes
tipe 2. DM tipe 2 terjadi pada orang dewasa setengah baya, paling sering
setelah usia 45 tahun (American Heart Association [AHA], 2012).
Meningkatnya risiko DM seiring dengan bertambahnya usia dikaitkan dengan
terjadinya penurunan fungsi fisiologis tubuh.
b) Riwayat keluarga diabetes melitus
Seorang anak dapat diwarisi gen penyebab DM orang tua. Biasanya,
seseorang yang menderita DM mempunyai anggota keluarga yang juga
terkena penyakit tersebut (Ehsa, 2010). Fakta menunjukkan bahwa mereka
yang memiliki ibu penderita DM tingkat risiko terkena DM sebesar 3,4 kali
lipat lebih tinggi dan 3,5 kali lipat lebih tinggi jika memiliki ayah penderita
DM. Apabila kedua orangtua menderita DM, maka akan memiliki risiko
terkena DM sebesar 6,1 kali lipat lebih tinggi (Sahlasaida, 2015).
c) Ras atau latar belakang etnis
Risiko DM tipe 2 lebih besar terjadi pada hispanik, kulit hitam, penduduk
asli Amerika, dan Asia (ADA, 2009).
d) Riwayat diabetes pada kehamilan
Mendapatkan diabetes selama kehamilan atau melahirkan bayi lebih dari
4,5 kg dapat meningkatkan risiko DM tipe 2 (Ehsa, 2010).
2.7 Pencegahan DM
1) Pengelolaan makan
Diet yang dianjurkan yaitu diet rendah kalori, rendah lemak, rendah lemak
jenuh, diet tinggi serat. Diet ini dianjurkan diberikan pada setiap orang yang
mempunyai risiko DM. Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat
badan ideal. Selain itu, karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan
secara terbagi dan seimbang sehingga tidak menimbulkan puncak glukosa darah
yang tinggi setelah makan (Goldenberg dkk, 2013). Pengaturan pola makan dapat
dilakukan berdasarkan 3J yaitu jumlah, jadwal, dan jenis diet (Tjokroprawiro,
2006).

8
a) Jumlah kalori setiap hari yang diperlukan oleh seseorang untuk memenuhi
kebutuhan energi. Jumlah kalori ditentukan sesuai dengan IMT (Indeks Massa
Tubuh) dan ditentukan dengan satuan kilo kalori (kkal). IMT = BB (kg)/TB (m2 ).
b) Jadwal makan diatur untuk mencapai berat badan ideal. Sebaiknya jadwal
makannya diatur dengan interval 3 jam sekali 23 dengan 3x makan besar dan 3x
makan selingan dan tidak menunda jadwal makan sehari-hari.
c) Jenis makanan yang sebaiknya dikonsumsi.
2) Aktifitas fisik
Kegiatan jasmani seharihari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit terdiri dari pemanasan ±15 menit dan
pendinginan ±15 menit), merupakan salah 25 satu cara untuk mencegah DM.
3) Kontrol Kesehatan
Seseorang harus rutin mengontrol kadar gula darah agar diketahui nilai kadar
gula darah untuk mencegah terjadinya diabetes melitus supaya ada penanganan
yang cepat dan tepat saat terdiagnosa diabetes melitus (Sugiarto & Suprihatin,
2012).

BAB 3
GAMBARAN KASUS

9
3.1 Kasus
Seorang pasien yang bernama Tn.S.M datang ke Rumah Sakit RSUD Arifin
Ahmad dengan keluhan lemah, kulit tampak pucat, aktivitas pasien di bantu
keluarga. Keluarga pasien mengatakan pasien memiliki riwayat gula darah dan
pasien belum selera makan. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan TD :
160/80, RR : 18x/i, N : 84x/i, T : 35oC, BB/TB : 48/168, IMT : 17,6, GDS : 121,
GCS : 15 (E4,V5,M6).
3.2 Pengkajian
3.2.1 Informasi umum
a. Nama : Tn. S.M
b. Umur : 52 tahun
c. Ttl : 02 Desember 1966
d. Jenis kelamin : Laki-laki
e. Agama : Islam
f. No. RM :-
g. Tanggal masuk : 01Oktober 2018
h. Tanggal pengkajian : 15 Oktober 2018
i. Hari rawat ke : 19 hari
3.2.2 Keluhan utama
Pasien mengatakan sedikit lemah, kulit tampak pucat, aktivitas pasien di bantu
keluarga. Keluarga pasien mengatakan pasien memiliki riwayat gula darah dan
pasien belum selera makan.
3.2.3 Riwayat penyakit saat ini
Diabetes Militus+ Anemia+Hypoalbumin
3.2.4 Riwayat kesehatan sebelumnya
Gula darah tinggi.
3.2.5 Riwayat kesehatan keluarga (Genogram)
Keluarga pasien tidak ada riwayat Diabetes Militus sebelumnya dan tidak ada
riwayat penyakit keturunan.
3.2.6 Keadaan umum
a. Kesadaran/GCS:

10
Composmentis
E= 4 M=5 V=6
Total= 15
b. Tanda-tanda vital:
- TD: 160/80 mmHg
- RR: 18 x/menit
- N: 84 x/menit
- S: 35oc
c. BB/TB: 48 kg/165 cm
d. IMT: 17,6
3.2.7 Pengkajian Head to toe
1. Kepala
a. Rambut & kulit kepala
Warna rambut hitam dan halus, bentuk kepala simetris, tidak terdapat lesi
pada kulit kepala, tidak ada massa dikepala, tidak terdapat nyeri tekan
pada kepala, wajah simetris.
b. Mata
Mata simetris kiri dan kanan, distribusi bulu mata dan alis baik, tidak
terdapat nyeri tekan pada sekitar mata, tidak terdapat lesi disekitar mata,
pergerakan bola mata normal, pupil bereaksi terhadap cahaya 2 mm mata
kiri dan kanan, korneabening, reflex kornea baik, tidak ada pembekakan
kelenjer lakrimalis, kantus mata sejajar dengan pinna.
c. Telinga
Telinga simetris kiri dan kanan, telinga tampak bersih, tidak ada
cairan/perdarahan pada telinga, kemampuan pendengaran baik, tidak
terdapat nyeri tekan pada tulang mastoid.

d. Hidung
Hidung simetris antara kiri dan kanan, kartilago hidung utuh, tidak
terdapat lesi pada hidung, tidak terdapat massa pada hidung, tidak terdapat

11
nyeri tekan pada hidung dan nyeri sinus, pasien tidak terpasang NGT dan
tidak terpasang selang oksigen.
e. Mulut
Bibir simetris, gigiberlubang 2, bibir tidakpucat, tidak terdapat nyeri tekan
pada bibir, tidak terdapat lesi pada bibir, pasien tidak memakai gigi palsu.
2. Leher
Leher simetris, tidak terdapat massa, tidak terdapat lesi, tidak teraba
pembesaran tiroid, trakea simetris, tidak terdapat distensi vena jugularis.
3. Dada
a. Paru-paru
i. Inspeksi
Bentuk dada normal chest, tidak terdapat lesi pada dada, ekspansi paru kiri
dan kanan simetris, tidak terdapat hiperpigmentasi pada dada.
ii. Palpasi
Tidak terdapat nyeri tekan pada dada, tidak teraba massa, taktil framitus
simetris kiri dan kanan.
iii. Perkusi
Suara perkusi sonor di kedualapangparu.
iv. Auskultasi
Suara napas vesikuler, terdengar normal disemua lapang paru.
b. Jantung
v. Inspeksi
Iktuscordis (-)
vi. Palpasi
Tidak terdapat nyeri tekan pada dada daerah jantung
vii. Perkusi
Redup.
viii. Auskultasi
S1,S2 reguler (tidak ada suara tambahan).
4. Payudara dan aksila

12
Payudara tampak simetris kiri dan kanan, tidak terdapat lesi disekitar
payudara, tidak teraba massa, tidak terdapat nyeri tekan, tidak terdapat
pembesaran nodus limfatikus aksila.
5. Tangan
Tangan simetris, jari tangan utuh, CRT 2 detik, tidak terdapat lesi pada
tangan, tidak terdapat massa pada lengan, akral sedikitdingin, turgor kulit
tangan elastis.
6. Abdomen
i Inspeksi
Tidak ada pembekakan, abdomen simetris, tidakadajejas, tidak ada lesi.
ii Palpasi
Tidak ada nyeri tekan, massa tidak ada.
iii Perkusi
Bunyi perkusi timpani di 4 kuadran abdomen.
iv Auskultasi
Bising usus 9 x/menit di 4 kuadran abdomen.
7. Genitalia dan perkemihan
Tidak ada massa, tidak ada lesi, perdarahan tidak ada, tidak ada infeksi,
tidak terpasang kateter urin, urin kuning bening.
8. Rektum dan anus
Tidak terdapat hemoroid, tidak terdapat lesi pada anus, tidak terdapat
massa pada anus.
9. Kaki
Kaki tampak simetris kri dan kanan, terdapat bekas luka dari ujung kaki
sampai pergelangan kaki,kekuatan otot 5/5, gerak sendi normal, edema
tidak ada, fraktur tidak ada, kemampuan berjalan (+). turgor kulit kaki
elastis, CRT 2 detik.

10. Punggung

13
Bentuk punggung normal, tidak terdapat lesi pada punggung, tidak
terdapat nyeri tekan dan tidak terdapat massa, tidak ada kelainan bentuk
tulang punggung.
3.2.8 Pola istirahat dan tidur
Pasien mengatakan pola tidur tidak terganggu± 7-8 jam/hari.
3.2.9 Pola aktivitas harian
Pasien merasa lemas untuk ke kamar mandi sehingga dibantu oleh
keluarga dan makan sendiri.
3.2.10 Cairan, nutrisi eliminasi
a. Jenis diit : makanan padat
b. Makanan berat : bubur 3 kali/hari
c. Makanan selingan : buah dan teh 1 kali/shift
3.2.11 Pengkajian reflek dan saraf cranial
1. Reflex
a. Biseps : (+) reflex didapat melalui peregangan tendon biseps pada
saat siku dalam keadaan fleksi
b. Triseps : (+) mengidentifikasi tendon trisep dengan palpasi 2,5-5cm
c. Brakioradialis : (+) ketukan dengan lembut 2,5-5 cm diatas siku
dilakukan dengan lengan dalam keadaan fleksi dan supinasi.
d. Patella : (+) ditimbulkan dengan cara mengetuk tendon patella
tepat dibawah patella.
e. Achile : (+) Kaki dalam keadaan dorsi fleksi dibagian pergelangan
kaki diketuk
f. Babinski : (+) konstraksi jari menarik secara bersamaan
2. Saraf Kranial
No Saraf Kranial Hasil
1. Olfaktorius (+) pasien bias mengetahui bau minyak kayu
putih.
2. Optikus (+) pasien tidak ada rabun dan tidak memakai
kacamata, lapang pandang luass

14
3. Okulomotor (+) pergerakan bola mata normal. Reflex
pupil bagus
4. Troklear (+) gerakan mata normal
5. Trigeminus (+) rahang pasien bisa digerakkan kekiri dan
kekanan, pipi kanan dan pipi kiri naik pada
saat diberikan rangsangan
6. Abdusen
7. Fasial (+) pasien bisa tersenyum, mengembangkan
pipi lalu melawan tekanan yang ada dipipi.
8. Vestibulokoklear
9. Glosofaringeus
10. Vagus (+) pasien bisa reflek menelan makanan pada
saat dipegang trakea pasian terasa simetris
11. Aksesorius (+) bahu pasien bisa digerakkan keatas dan
bisa melawan tekanan pada saat ditekan
12. Hipoglosus (+) gerakan lidah luas, bisa mengerakkan
lidah dalan rongga mulut.

3.2.12 Hasil pemeriksaan laboratorium


a. Na+ : 130 mmol/L
b. K+ : 4,6 mmol/L
c. CL : 94 mmol/L
d. Hb : 9 gr/dl
3.2.13 Medikasi yang diberikan
No Nama obat Rute Dosis
1 Inj. Ceftioxone Inj 2x1 gr
2 Inj. Prosogon Inj 1x1
3 Inj. Lantus Inj 1x28
4 Inj. Novorapid Inj 16-16-12
5 Codein PO 2x1

15
6 Ambroxol PO 3x1

3.3 Analisa data


No Data Etiologi Masalah
keperawatan
1 Ds: Diabetes Militus Ketidakseimbangan
-Pasien mengatakan nutrisi kurang dari
masih lemas Kurangnya kebutuhan tubuh.
Keluarga pasien pengetahuan tentang
-mengatakan pasien asupan makanan
belum bisa kekamar
mandi sendiri Tubuh mengambil
-Pasien mengatakan dan membakar
belum selera makan lemak menjadi
Do: energy
-Kulit tampak pucat
-CRT 2 detik BB menurun
-TD: 160/80 mmHg
-RR: 18 x/menit Pasien merasa lemas
-N: 84 x/menit
-S: 35oc
-GDS: 121
-BB/TB : 48kg/165cm
-IMT : 17,6

3.4 Diagnosa keperawatan

16
a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d faktor
biologis
3.5 .Intervensi keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
keperawatan
1 Ketidakseimb Tujuan : Nutrition management
angan nutrisi kebutuhan klien -kaji pola makan klien
kurang dari terpenuhi Monitor jumlah nutrisi dan
kebutuhan Kh nutrition : kandungan kalori
tubuh. food and fluid -monitor kecendrungan
intake 4-5. terjadinya penurunan dan
Nutrition status kenaikan berat badan
: 4-5. -berikan informasi tentang
-Nafsu makan kebutuhan nutrisi
meningkat -kaji kemampuan klien untuj
-klien tidak mendapatkan nutrisi yang
lemah dibutuhkan
-kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.

3.6 Implementasi
Hari/Tanggal Diagnosa Implementasi SOAP
Ketidaksei -mamberikan S : pasien
mbangan terapi insulin mengatakan sudah
nutrisi -cek GDS mau makan, badan
kurang pasien/shift sudah tidak lemas
dari -menganjurkan O : keadaan untuk
kebutuhan pasien untuk membaik

17
tubuh. mendapatkan A : masalah teratasi
nutrisi sesuai sebagian
dengan P : lanjutkan
kebutuhan tubuh
-memberikan
informasi
tentang
kebutuhan
nutrisi

18
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Segi Teori


Pada teori di BAB 2 menjelaskan Diabetes Militus adalah suatu kelompok
penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Pada kasus yang
didapakan pasien juga mengalami kadar gula darah yang tinggi sehingga harus
dipantau tiap/shift.
4.2 Segi Manifestasi
Pada teori ada beberapa manifestasi yang terjadi pada penderita Diabetes
militus diantaranya poliuria (pengeluaran urin lebih sering), polidipsia (sering
haus), polifagia (sering merasa lapar), dan penyusutan berat badan. Pada pasien
yang dikaji, pengeluaran urin dalam volume normal dan tidak merasa sering lapar
sehingga badannya mengalami penurunan BB sehingga baannya terasa lemas.
4.3 Segi penatalaksanaan
Penalataksanaan yang dilakukan untuk kasus pasien diabetes militus adalah
dengan melakukan pemantauan TTV dan cek GDS/Shift, serta pemberian terapi
insulin dan pemantauan nutrisi pada pasien. Hal ini sejalan dengan
penalataksanna pada teori. Pada teori juga terdapat penatalaksanaan untuk pasien
dengan diabetes militus yaitu pemberian terapi insulin, pengelolaan makanan serta
control kesehatan.

19
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya (Henderina, 2010). Menurut PERKENI (2011)
seseorang dapat didiagnosa diabetes melitus apabila mempunyai gejala klasik
diabetes melitus seperti poliuria, polidipsi dan polifagi disertai dengan kadar
gula darah sewaktu ≥200 mg/dl dan gula darah puasa ≥126 mg/dl.

20