Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan
oleh Salmonella thypi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara
berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini
juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena
penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan
lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri
pengolahan makanan yang masih rendah (Simanjuntak, C.H, 2009).
Besarnya angka pasti kasus demam tifoid di Dunia, sangat sulit
ditentukan karena penyakit ini dikenal mempunyai gejala dengan spektrum klinis
yang sangat luas. Data World Health Organization (WHO) tahun 2009,
memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia
dengan insidensi 600.000 kasus kematian tiap tahun. Insidens rate demam tifoid di
Asia Selatan dan Tenggara termasuk China pada tahun 2010 rata-rata 1.000 per
100.000 penduduk per tahun. Insidens rate demam tifoid tertinggi di Papua New
Guinea sekitar 1.208 per 100.000 penduduk per tahun. Insidens rate di Indonesia
masih tinggi yaitu 358 per 100.000 penduduk pedesaan dan 810 per 100.000
penduduk perkotaan per tahun dengan rata-rata kasus per tahun 600.000-
1.500.000 penderita. Angka kematian demam tifoid di Indonesia masih tinggi
dengan CFR sebesar 10% (Nainggolan, R, 2011).
Berdasarkan Laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI, pada tahun
2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak pasien
rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan
proporsi 3,15%, urutan pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus
193.856 dengan proporsi 7,52%, urutan ketiga ditempati oleh DBD dengan
jumlah kasus 77.539 dengan proporsi 3,01% (Depkes RI, 2009).
Berdasarkan penelitian Cyrus H. Simanjuntak., di Paseh (Jawa Barat)
tahun 2009, insidens rate demam tifoid pada masyarakat di daerah semi urban
adalah 357,6 per 100.000 penduduk per tahun. Insiden demam tifoid bervariasi di
tiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi lingkungan; di daerah Jawa Barat,
terdapat 157 kasus per 100.000 penduduk sedangkan di daerah urban di temukan
760-810 per 100.000 penduduk.
Apabila demam tifoid tersebut tidak dideteksi dan diobati secara cepat
dan tepat dapat menyebabkan komplikasi yang berujuang pada kematian, seperti
perdarahan usus, kebocoran usus, infeksi selaput usus, renjatan bronkopnemonia
(peradangan paru), dan kelainan pada otak. Maka dari itu untuk mencegah
terjadinya demam tifoid dan menurunkan angka kejadian, harus memperhatikan
sanitasi lingkungan, pola makan yanjg sehat dan rajin mencuci tangan terutama
sebelum dan setelah makan.

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Untuk mengetahui Demam Tifoid dan asuhan keperawatan pada pasien
Demam Tifoid

1.3.2 Tujuan Khusus


 Mengetahui anatomi dan fisiologi usus halus.
 Mengetahui definisi dari demam tifoid
 Mengetahui etiologi dari demam tifoid.
 Mengetahui patofisiologi dari demam tifoid.
 Mengetahui manifestasi klinis dari demam tifoid.
 Mengetahui pemeriksaan penunjang dari demam tifoid.
 Mengetahui penetalaksanaan medis dari demam tifoid.
 Mengetahui komplikasi dari demam tifoid.
 Mengetahui cara mencegah demam tifoid.
 Mengetahui hasil penelitian demam tifoid.
 Mengetahui legal etis.
 Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan demam tifoid.

1.4 Manfaat
Dari makalah ini diharapkan mahasiswa dan pembaca dapat memahami
pengertian dan asuhan keperawatan dari Demam Tifoid. Dan dapat mencegah
terjadinya penyakit tersebut. Mengetahui tanda dan gejala sehingga kita sebagai
perawat mampu bertindak sesuai dengan suhan keperawatan.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 TINJAUAN TEORITIS MEDIS
2.1.1 Definisi
Tifoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi
Salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang
sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman
salmonella (Smeltzer & Bare, 2002). Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus
halus yang disebabkan oleh kuman Salmonella Thypi (Mansjoer, A, 2009).
Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A, B, C. Sinonim dari penyakit
ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis (Sudoyo, A.W., & B. Setiyohadi,
2006). Tifoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, tifoid disebut juga
paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (Seoparman,
2007).
Tifoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala
sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C.
penularan terjadi secara fecal, oral melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi (Mansjoer, A, 2009).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa demam tifoid
adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A,
B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang
terkontaminasi.

2.1.2 Etiologi
Penyebab dari demam thypoid yaitu :
1.96 % disebabkan oleh Salmonella Typhi, basil gram negative yang bergerak
dengan bulu getar, tidak berspora mempunyai sekuran-kurangnya 3 macam
antigen, yaitu :
a. Antigen O (somatic terdiri dari zat komplek lipolisakarida)
b. Antigen (flagella)
c. Antigen VI dan protein membran hialin
d. Salmonella paratyphi A
e. Salmonella paratyphi B
f. Salmonella paratyphi C
g. Feces dan urin yang terkontaminasi dari penderita typus (Wong ,2003).
Kuman salmonella typosa dapat tumbuh di semua media pH 7,2 dan
suhu 370C dan mati pada suhu 54,40C (Simanjuntak, C. H, 2009).

2.1.3 Patofisiologi
Kuman masuk ke dalam mulut melalui makanan atau minuman yang
tercemar oleh Salmonella (biasanya >10.000 basil kuman). Sebagian kuman dapat
dimusnahkan oleh asam HCL lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus.
Jika respon imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik, maka basil
Salmonella akan menembus sel-sel epitel (sel M) dan selanjutnya menuju lamina
propia dan berkembang biak di jaringan limfoid plak peyeri di ileum distal dan
kelejar getah bening mesenterika.
Jaringan limfoid plak peyeri dan kelenjar getah bening mesenterika
mengalami hiperplasia. Basil tersebut masuk ke aliran darah (bakterimia) melalui
ductus thoracicus dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotalial tubuh,
terutama hati, sumsum tulang, dan limfa melalui sirkulasi portar dari usus.
Hati membesar (hepatomegali) dengan infiltrasi limfosit, zat plasma, dan
sel mononuclear. Terdapat juga nekrosis fokal dan pembesaran limfa
(splenomegali). Di organ ini, kuman S. Thypi berkembang biak dan masuk
sirkulasi darah lagi, sehingga mengakibatkan bakterimia kedua yang disertai tanda
dan gejala infeksi sistemik (demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut,
instabilitas vaskuler, dan gangguan mental koagulasi).
Pendarahan saluran cerna terjadi akibat erosi pembuluh darah di sekitar
plak peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia. Proses patologis ini
dapat berlangsung hinga ke lapisan otot, serosa usus, dan mengakibatkan perforasi
usus. Endotoksin basil menempel di reseptor sel endotel kapiler dan dapat
mengakibatkan komplikasi, seperti gangguan neuropsikiatrik kardiovaskuler,
pernapasan, dan gangguan organ lainnya. Pada minggu pertama timbulnya
penyakit, terjadi jyperplasia (pembesaran sel-sel) plak peyeri. Disusul kemudian,
terjadi nekrosis pada minggu kedua dan ulserasi plak peyeri pada minggu ketiga.
Selanjutnya, dalam minggu ke empat akan terjadi proses penyembuhan ulkus
dengan meninggalkan sikatriks (jaringan parut).

2.1.4 Manifestasi Klinis


Masa inkubasi 7-20 hari, inkubasi terpendek 3 hari dan terlama 60 hari
(T.H. Rampengan dan I.R. Laurentz, 1995). Secara garis besar gejala yang timbul
dapat dikelompokan dalam : demam satu minggu atau lebih, gangguan saluran
pencernaan dan gangguan kesadaran.
Dalam minggu pertama : demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah,
diare, konstipasi dan suhu badan meningkat (39-410C). Setelah minggu kedua
gejala makin jelas berupa demam remiten, lidah tifoid dengan tanda antara lain
nampak kering, dilapisi selaput tebal, dibagian belakang tampak lebih pucat,
dibagian ujung dan tepi lebih kemerahan. Pembesaran hati dan limpa, perut
kembung dan nyeri tekan pada perut kanan bawah dan mungkin disertai gangguan
kesadaran dari ringan sampai berat seperti delirium. Roseola (rose spot), pada
kulit dada atau perut terjadi pada akhir minggu pertama atau awal minggu kedua.
Merupakan emboli kuman dimana di dalamnya mengandung kuman salmonella.
Berikut gejala Klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
1. Demam
Pada kasus–kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu.
a. Minggu I
Dalam minggu pertama penyakit keluhan gejala serupa dengan penyakit
infeksi akut pada umumnya, yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot,
anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk
dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan meningkat.
b. Minggu II
Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas dengan demam,
bradikardia relatif, lidah yang khas (kotor di tengah, tepi dan ujung merah dan
tremor), hepatomegali, splenomegali, meteroismus, gangguan mental berupa
somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang ditemukan pada
orang Indonesia.
c. Minggu III
Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur – angsur turun dan normal
kembali pada akhir minggu ketiga.

2. Gangguan pada saluran pencernaan


Pada mulut terdapat nafas bau tidak sedap, bibir kering dan pecah – pecah.
Lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung ditemukan kemerahan , jarang ditemui
tremor.Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung. Hati dan
limfa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi
akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare.

3. Gangguan keasadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam
yaitu apatis sampai samnolen. Jarang stupor, koma atau gelisah.
Disamping gejala–gejala yang biasanya ditemukan tersebut, mungkin pula
ditemukan gejala lain. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan bintik
– bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit.Biasanya dtemukan
alam minggu pertama demam kadang – kadang ditemukan bradikardia pada anak
besar dan mungkin pula ditemukan epistaksis.
Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
urin/feses dari penderita tifus akut dan para pembawa kuman/karier. Empat F
(Finger, Files, Fomites dan fluids) dapat menyebarkan kuman ke makanan, susu,
buah dan sayuran yang sering dimakan tanpa dicuci/dimasak sehingga dapat
terjadi penularan penyakit terutama terdapat dinegara-negara yang sedang
berkembang dengan kesulitan pengadaan pembuangan kotoran (sanitasi) yang
andal (Sudoyo, A.W., & B. Setiyohadi. 2006). Masa inkubasi demam tifoid
berlangsung selama 7-14 hari (bervariasiantara 3-60 hari) bergantung jumlah dan
strain kuman yang tertelan. Selamamasa inkubasi penderita tetap dalam keadaan
asimtomatis (soegijanto,S, 2002).

2.1.5 Pemeriksaan penunjang


1. Uji Widal : untuk mendeteksi adanya bakteri Salmonella Thypi.
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam
serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan.
Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah
dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk
menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita tifoid.
Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
a) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh
kuman).
b) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel
kuman).
c) Aglutinin VI, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari
simpai kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan
titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita tifoid.
Uji widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibody terhadap kuman
Salmonella typhi. Uji widal dikatakan bernilai bila terdapat kenaikan titer widal 4
kali lipat (pada pemeriksaan ulang 5-7 hari) atau titer widal O > 1/320, titer H >
1/60 (dalam sekali pemeriksaan) Gall kultur dengan media carr empedu
merupakan diagnosa pasti demam tifoid bila hasilnya positif. Namun demikian,
bila hasil kultur negatif belum menyingkirkan kemungkinan tifoid, karena
beberapa alasan, yaitu pengaruh pemberian antibiotika, sampel yang tidak
mencukupi. Sesuai dengan kemampuan SDM dan tingkat perjalanan penyakit
demam tifoid, maka diagnosis klinis demam tifoid diklasifikasikan atas:
1. Possible Case dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan gejala
demam, gangguan saluran cerna, gangguan pola buang air besar dan
hepato/splenomegali. Sindrom demam tifoid belum lengkap. Diagnosis ini
hanya dibuat pada pelayanan kesehatan dasar.
2. Probable Case telah didapatkan gejala klinis lengkap atau hampir lengkap,
serta didukung oleh gambaran laboraorium yang menyokong demam
tifoid (titer widal O > 1/160 atau H > 1/160 satu kali pemeriksaan).
3. Definite Case Diagnosis pasti, ditemukan S. Thypi pada pemeriksaan
biakan ataupositif S.Thypi pada pemeriksaan PCR atau terdapat kenaikan
titerWidal 4 kali lipat (pada pemeriksaan ulang 5-7 hari) atau titer widal
O> 1/320, H > 1/640 (pada pemeriksaan sekali) (Widodo, D. 2007).
4. Pemeriksaan darah tepi : untuk melihat tingkat leukosit dalam darah,
adanya leucopenia.
5. Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya bakteri Salmonella Thypi dan
leukosit.
6. Pemeriksaan feses : untuk melihat adanya lendir dan darah yang dicurigai
akan bahaya perdarahan usus dan perforasi.
7. Pemeriksaan sumsum tulang : untuk mendeteksi adanya makrofag.
8. Serologis : untuk mengevaluasi reaksi aglutinasi antara antigen dan
antibodi (aglutinin).
9. Radiologi : untuk mengetahui adanya komplikasi dari Demam Thypoid.
10. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT pada demam thypoid seringkali meningkat tetapi dapat
kembali normal setelah sembuhnya thypoid.

2.1.6 Penatalaksanaan Medis


a. Obat-obatan antibiotika yang biasa digunakan ialah kloramfenikol,
tiamfenikol, kotrimoksazol, ampisilin dan amoksisilin.
b. Antipiretik.
c. Bila perlu diberiikan laksansia.
d. Tirah baring selama demam, untuk mencegah komplikasi perdarahan usus
atau perforasi usus.
e. Mobilisasi terhadap bila tidak panas, sesuai dengan pulihnya kekuatan
pasien.
f. Diet: pada permulaan, diet makan yang tidak merangsang saluran cerna,
dalam bentuk saring atau lunak.
g. Makanan dapat ditingkatkan sesuai perkembangan keluhan
gastrointestinal, sampai makanan biasa.
h. Tindakan operasi bila ada komplikasi perforasi.
i. Transfusi bila diperlukan pada komplikasi perdarahan.

2.1.7 Komplikasi
1. Komplikasi intestinal : perdarahan usus, perforasi usus dan ileus paralitik.
2. Komplikasi ekstra intestinal :
 Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis ),
miokarditis, thrombosis dan thromboplebitis.
 Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopeni dan atau
“adisseminated intravascular coagulation” ( DIC) dan sindromuremia
hemolitik.
 Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
 Hepar dan kandung empedu : hepatitis dan kolesistitis.
 Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pieloneftritis.
 Komplikasi Neuropsikiatrik : delirium, meningitis, polyneuritis perifer,
psikosis.

2.1.8 Pencegahan
Pencegahan dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan perjalanan
penyakit, yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang
sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan
primer dapat dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin yang dibuat dari
strain Salmonella typhi yang dilemahkan. Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin
tifoid, yaitu :
1. Vaksin oral Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang diminum
selang sehari dalam 1 minggu satu jam sebelum makan. Vaksin ini
kontraindiksi pada wanita hamil, ibu menyusui, demam, sedang
mengkonsumsi antibiotik. Lama proteksi 5 tahun.
2. Vaksin parenteral sel utuh : Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin yakni,
K vaccine (Acetone in activated) dan L vaccine (Heat in activated-Phenol
preserved). Dosis untuk dewasa 0,5 ml, anak 6 – 12 tahun 0,25 ml dan
anak 1 – 5 tahun 0,1 ml yang diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu.
Efek samping adalah demam, nyeri kepala, lesu, bengkak dan nyeri pada
tempat suntikan. Kontraindikasi demam,hamil dan riwayat demam pada
pemberian pertama.
3. Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin
diberikan secara intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi
pada hipersensitif, hamil, menyusui, sedang demam dan anak umur 2
tahun.
Indikasi vaksinasi adalah bila hendak mengunjungi daerah endemik, orang
yang terpapar dengan penderita karier tifoid dan petugas
laboratorium/mikrobiologi kesehatan.

b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan cara mendiagnosa penyakit
secara dini dan mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat. Untuk
mendiagnosis demam tifoid perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ada 3
metode untuk mendiagnosis penyakit demam tifoid, yaitu :
- Diagnosis klinik.
- Diagnosis mikrobiologik/pembiakan kuman.
- Diagnosis serologik.
Pencegahan sekunder dapat berupa :
 Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui penigkatan usaha
surveilans demam tifoid.
 Perawatan umum dan nutrisi yang cukup
 Pemberian anti mikroba (antibiotik) Anti mikroba (antibiotik) segera
diberikan bila diagnosa telah dibuat. pada wanita hamil, terutama pada
trimester III karena dapat menyebabkan partus prematur, serta janin mati
dalam kandungan. Oleh karena itu obat yang paling aman diberikan pada
wanita hamil adalah ampisilin atau amoksilin.

c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi
keparahan akibat komplikasi. Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit
demam tifoid sebaiknya tetap menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas
tubuh tetap terjaga dan dapat terhindar dari infeksi ulang demam tifoid. Pada
penderita demam tifoid yang carier perlu dilakukan pemerikasaan laboratorium
pasca penyembuhan untuk mengetahui kuman masih ada atau tidak.
2.2 TINJAUAN TEORITIS KEPERAWATAN

2.2.1 Pengkajian

Data dasar pengkajian pasien dengan demam thypoid adalah:

a. Aktivitas atau Istirahat


Gejala yang ditemukan pada kasus demam thypoid antara lain: kelemahan,
malaise, kelelahan, merasa gelisah dan anastesi, cepat lelah dan insomnia.
b. Sirkulasi
Tanda Takikardi, kemerahan, tekanan darah hipotensi, kulit membrane
mukosa kotor, turgor buruk, kering dan lidah pecah-pecah akan ditemukan
pada pasien demam thypoid.
c. Integritas Ego
Gejala seperti ansietas, emosi, kesal dan faktor stres serta tanda seperti
menolak dan depresi juga akan ditemukan dalam pengkajian integritas
ego.
d. Eliminasi
Pengkajian eliminasi akan menimbulkan gejala tekstur feses yang
bervariasi dari lunak sampai bau atau barair, perdarahan per-rectal dan
riwayat batu ginjal dengan tanda menurunnya bising usus, tidak ada
peristaltik dan ada haemoroid.
e. Makanan dan Cairan
Pasien akan mengalami anoreksia, mual, muntah, penurunan BB dan tidak
toleran terhadap diet dan tanda yang ditemukan berupa penurunan lemak
subkutan, kelemahan hingga inflamasi rongga mulut.
f. Hygiene
Pasien akan mengalami ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri
dari bau badan.
g. Nyeri atau Ketidaknyamanan
Nyeri tekan pada kuadran kiri bawah akan dialami pasien dengan titik
nyeri yang dapat berpindah.
h. Keamanan
Pasien mengalami anemia hemolitik, vaskulotis, arthritis dan peningkatan
suhu tubuh dengan lesi kulit.
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual dan kembung.
3. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake
cairan dan peningkatan suhu tubuh
4.
2.2.3 Intervensi Keperawatan

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Tifoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi
salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman
yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi
kuman salmonella. Secara garis besar gejala yang timbul dapat
dikelompokan dalam demam satu minggu atau lebih, gangguan saluran
pencernaan dan gangguan kesadaran.

4.2 Saran
Agar kita tidak terkena atau tertular penyakit demam tifoid, sebaiknya kita
harus membiasakan diri untuk hidup sehat, saat mengkonsumsi makanan
maupun minuman dan biasakan pula untuk mencuci tangan sebelum
makan. Agar kuman salmonella tidak ikut tertelan masuk ke dalam system
pencernaan kita bersama makanan yang telah terkontaminasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adriana. 2011. Asuhan Keperawatan Demam Thypoid.
http://adriananers.blogspot.com/2011/12/asuhan-keperawatan-demam-
thypoid.html . diakses pada tanggal 24 Februari 2013 pada pukul 20.53
WIB
Carolus, P.K Sint. 1994. Demam Tifoid. Jakarta: Salemba.
Nn. 2011. Asuhan Keperawatann Klien dengan Demam Typoid.
http://d3keperawatanperintis.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-
klien-dengan-demam.html . Diakses tanggal 26 Februari 2013 pada pukul
09.54 WIB
Pasunda, Elvin. 2013. Askep Demam Thypoid (Tipus). http://elvin-
pasunda.blogspot.com/2013/02/askep-demam-thypoid-tipus.html . diakses
pada tanggal 24 Februari 2013 pada pukul 20.57 WIB
Ramdhani, Rizky. 2009. Hubungan Beberapa Faktor Kondisi Sanitasi
Lingkungan Rumah dan Perilaku Kesehatan dengan Kejadian Demam
Typhoid di Tanjungpandan Bengkulu. http://eprints.undip.ac.id/31133/ .
diakses pada tanggal 25 Februari 2013 pada pukul 06.32
Susanti, Ilma Karsi. 2012. Askep Demam Tifoid.
http://achy27askepners.wordpress.com/2012/12/14/askep-demam-tifoid/ .
Diakses tanggal 24 Februari 2013 Pukul 20.43 WIB
Tambayong, dr. Jan. 2000. Patofisologi Untik Keperawatan. Jakarta: EGC