Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

MODEL PENGEMBANGAN BORG AND GALL

Dosen Pembina mata kuliah


Prof. Dr. Nurhayati B, M.Pd.

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Pengembangan Bahan Ajar

DISUSUN OLEH :
Nur Hanifah (1514041009)

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
OKTOBER 2018
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga makalah
yang berjudul “Model Pengembangan Borg and Gall” ini dapat diselesaikan.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas pada mata kuliah
Pengembangan Bahan Ajar. Makalah ini disusun berdasarkan saran dan
bimbingan dari dosen pembina mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar, Prof. Dr.
Nurhayati B, M.Pd. Sebab itu kami mengucapkan terimakasih yang tak terhingga
kepada beliau dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan
makalah ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dari
makalah ini baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi menyempurnakan makalah ini.

Makassar, 17 Oktober 2018

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Banyak upaya yang dapat dilakukan oleh setiap insan pendidikan
untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya itu
adalah dengan melakukan kegiatan penelitian, khususnya penilitian
pendidikan. Melalui penelitian, masalah-masalah dalam pendidikan dapat
"tertangkap" kemudian ditemukan solusinya. Hal-hal baru yang lebih inovatif
dalam pendidikan dapat pula dikembangkan dan diaplikasikan dari sebuah
penelitian. Ada beberapa jenis penelitian yang dapat dilakukan, salah satunya
adalah penelitian yang bergenre research and development (R&D)/penelitian
dan pengembangan.
Penelitian dan pengembangan dalam bidang pendidikan dapat
digunakan untuk mengembangkan produk-produk berupa kurikulum yang
spesifik untuk keperluan pendidikan tertentu, metode mengajar, media
pendidikan, buku ajar, modul, kompetensi tenaga kependidikan, sistem
evaluasi, model uji kompetensi, penataan ruang kelas untuk model
pembelajaran tertentu, model unit produksi, model manajemen, sistem
pembinaan pegawai, sistem penggajian, dan lain-lain (Sugiyono, 2018).
Bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar
berdasarkan kecanggihan teknologi yang digunakan dibagi menjadi 5 jenis.
Bahan ajar tersebut meliputi: bahan ajar cetak, audio, audio visual,
multimedia interaktif, dan bahan ajar berbasis web. Bahan ajar cetak meliputi
bahan ajar yang dicetak pada lembaran seperti buku teks/ buku ajar, modul,
handout, LKS, brosur, leaflet, dll. bahan ajar audio berupa kaset, radio,
piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar audio visual meliputi
video compact disk, film. Bahan ajar multimedia interaktif meliputi CAI
(Computer Assisted Instruction), compact disk (CD), multimedia
pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning
materials).
Mengembangkan bahan pembelajaran perlu memperhatikan model-
model pengembangan guna memastikan kualitasnya. Ada beberapa model
pengembangan pembelajaran yang biasa diterapkan, diantaranya adalah
model Borg and Gall. Model ini dikenal dengan model sepuluh langkah,
karena terdapat 10 langkah pengembangan mulai dari studi pendahuluan
hingga diseminasi dan implementasi.
Dari beberapa model pengembangan tersebut tentu memiliki
karakteristik masing-masing yang perlu lebih dalam lagi dipahami. Maka dari
itu kita peroleh bahwa pemilihan bahan pembelajaran perlu diperhatikan
dalam kesesuaian dengan standar isi dan lebih-lebih pemilihan bahan
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Oleh karena itu, pada
makalah ini akan membahas mengenai model pengembangan bahan ajar Borg
and Gall yang meliputi pengertian, langkah-langkah, kelebihan, dan
kekurangan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian model pengembangan Borg and Gall?
2. Bagaimana langkah-langkah model pengembangan Borg and Gall?
3. Bagaimana kelebihan dan kelemahan model pengembangan Borg and
Gall?

C. Tujuan
1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian model pengembangan Borg and
Gall
2. Mahasiswa dapat menjelaskan langkah-langkah model pengembangan
Borg and Gall
3. Mahasiswa dapat menjelaskan kelebihan dan kelemahan model
pengembangan Borg and Gall
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Penelitian dan Pengembangan menurut Borg and Gall


Menurut Brog and Gall (1989), educational research and development
is a process used to develop and validate educational product, atau dapat
diartikan bahwa penelitian pengembangan pendidikan adalah sebuah proses
yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk penelitian.
Kadang-kadang penelitian ini juga disebut ‘research based development’,
yang muncul sebagai strategi dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan. Selain untuk mengembangkan dan memvalidasi hasil-hasil
pendidikan, research and development juga bertujuan untuk menemukan
pengetahuan-pengetahuan baru melalui ‘basic research’, atau untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan khusus tentang masalah-masalah yang
bersifat praktis melalui ‘applied research’, yang digunakan untuk
meningkatkan praktik-praktik pendidikan.
Borg & Gall (2003), dalam bukunya "Educational Research",
menjelaskan bahwa "Penelitian dan Pengembangan" dalam pendidikan adalah
model pengembangan berbasis industri dimana temuan hasil penelitiannya
digunakan untuk merancang produk pembelajaran, yang kemudian secara
sistematis diuji cobakan dilapangan, dievaluasi, dan disempurnakan sampai
dihasilkannya suatu produk pembelajaran yang memenuhi standarisasi
tertentu, yaitu efektif, efisien, dan berkualitas.
Borg & gall (1989) menyatakan bahwa prosedur penelitian
pengembangan pada dasarnya terdiri dari dua tujuan utama, yaitu: (1)
mengembangkan produk, dan (2) menguji keefektifan produk dalam
mencapai tujuan. Tujuan pertama disebut sebagai fungsi pengembangan
sedangkan tujuan kedua disebut sebagai validasi. Dengan demikian, konsep
penelitian pengembangan lebih tepat diartikan sebagai upaya pengembangan
yang sekaligus disertai dengan upaya validasinya. Empat ciri utama dalam
penelitian dan pengembangan, yaitu: 1) Studying research findings pertinent
to the product to be develop, artinya, melakukan studi atau penelitian awal
untuk mencari temuan-temuan penelitian terkait dengan produk yang akan
dikembangkan; 2) Developing the product base on this findings, artinya
mengembangkan produk berdasarkan temuan penelitian tersebut; 3) Field
testing it in the setting where it will be used eventually, artinya, dilakukannya
uji lapangan dalam seting atau situasi senyatanya di mana produk tersebut
nantinya digunakan; dan 4) Revising it to correct the deficiencies found in the
field-testing stage, artinya, melakukan revisi untuk memperbaiki kelemahan-
kelemahan yang ditemukan dalam tahap-tahap uji lapangan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penelitian dan pengembangan
menurut Borg dan Gall adalah sebuah proses yang digunakan untuk
mengembangkan dan memvalidasi produk penelitian. Dalam pendidikan,
penelitian dan pengembangan digunakan untuk merancang produk
pembelajaran, yang kemudian secara sistematis diuji cobakan dilapangan,
dievaluasi, dan disempurnakan sampai dihasilkan suatu produk pembelajaran
yang memenuhi standarisasi tertentu, yaitu efektif, efisien, dan berkualitas.

B. Langkah-Langkah Model Pengembangan Borg and Gall


Menurut Borg dan Gall (1989), pendekatan research and development (R
& D) dalam pendidikan meliputi sepuluh langkah. Adapun langkah-langkah
penelitiannya adalah seperti berikut.
1. Studi Pendahuluan (Research and Information Collecting)
Langkah pertama ini meliputi analisis kebutuhan, studi pustaka,
studi literatur, penelitian skala kecil dan standar laporan yang dibutuhkan.
a) Analisis kebutuhan
Analisis kebutuhan dilakukan dengan memperhatikan
beberapa kriteria, yaitu: 1) Apakah produk yang akan dikembangkan
merupakan hal yang penting bagi pendidikan? 2) Apakah produknya
mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan? 3) Apakah SDM
yang memiliki keterampilan, pengetahuan dan pengalaman yang akan
mengembangkan produk tersebut ada? 4) Apakah waktu untuk
mengembangkan produk tersebut cukup?
b) Studi pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk mengkaji teori dan hasil-hasil
penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.
c) Studi literature
Studi literatur dilakukan untuk pengenalan sementara terhadap
produk yang akan dikembangkan. Studi literatur ini dikerjakan untuk
mengumpulkan temuan riset dan informasi lain yang bersangkutan
dengan pengembangan produk yang direncanakan. d) Riset skala
kecil: Pengembang sering mempunyai pertanyaan yang tidak bisa
dijawab dengan mengacu pada reseach belajar atau teks professional.
Oleh karenanya pengembang perlu melakukan riset skala kecil untuk
mengetahui beberapa hal tentang produk yang akan dikembangkan.
2. Merencanakan Penelitian (Planning)
Setelah melakukan studi pendahuluan, pengembang dapat
melanjutkan langkah kedua, yaitu merencanakan penelitian. Perencaaan
penelitian R & D meliputi: 1) merumuskan tujuan penelitian; 2)
memperkirakan dana, tenaga dan waktu; 3) merumuskan kualifikasi
peneliti dan bentuk-bentuk partisipasinya dalam penelitian.
3. Pengembangan Desain (Develop Preliminary of Product)
Langkah ini meliputi: 1) Menentukan desain produk yang akan
dikembangkan (desain hipotetik); 2) menentukan sarana dan prasarana
penelitian yang dibutuhkan selama proses penelitian dan pengembangan;
3) menentukan tahap-tahap pelaksanaan uji desain di lapangan; dan 4)
menentukan deskripsi tugas pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian.
4. Preliminary Field Testing
Langkah ini merupakan uji produk secara terbatas. Langkah ini
meliputi: 1) melakukan uji lapangan awal terhadap desain produk; 2)
bersifat terbatas, baik substansi desain maupun pihak-pihak yang terlibat;
3) uji lapangan awal dilakukan secara berulang-ulang sehingga diperoleh
desain layak, baik substansi maupun metodologi.
5. Revisi Hasil Uji Lapangan Terbatas (Main Product Revision)
Langkah ini merupakan perbaikan model atau desain berdasarkan
uji lapangan terbatas. Penyempurnaan produk awal akan dilakukan setelah
dilakukan uji coba lapangan secara terbatas. Pada tahap penyempurnaan
produk awal ini, lebih banyak dilakukan dengan pendekatan kualitatif.
Evaluasi yang dilakukan lebih pada evaluasi terhadap proses, sehingga
perbaikan yang dilakukan bersifat perbaikan internal.
6. Main Field Test
Langkah merupakan uji produk secara lebih luas. Langkah ini
meliputi 1) melakukan uji efektivitas desain produk; 2) uji efektivitas
desain, pada umumnya, menggunakan teknik eksperimen model
pengulangan; 3) Hasil uji lapangan adalah diperoleh desain yang efektif,
baik dari sisi substansi maupun metodologi.
7. Revisi Hasi Uji Lapangan Lebih Luas (Operational Product Revision)
Langkah ini merupakan perbaikan kedua setelah dilakukan uji
lapangan yang lebih luas dari uji lapangan yang pertama. Penyempurnaan
produk dari hasil uji lapangan lebih luas ini akan lebih memantapkan
produk yang kita kembangkan, karena pada tahap uji coba lapangan
sebelumnya dilaksanakan dengan adanya kelompok kontrol. Desain yang
digunakan adalah pretest dan posttest. Selain perbaikan yang bersifat
internal. Penyempurnaan produk ini didasarkan pada evaluasi hasil
sehingga pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif.
8. Uji Kelayakan (Operational Field Testing)
Langkah ini sebaiknya dilakukan dengan skala besar: 1) melakukan
uji efektivitas dan adaptabilitas desain produk; 2) uji efektivitas dan
adabtabilitas desain melibatkan para calon pemakai produk; 3) hasil uji
lapangan adalah diperoleh model desain yang siap diterapkan, baik dari
sisi substansi maupun metodologi.
9. Revisi Final Hasil Uji Kelayakan (Final Product Revision)
Langkah ini akan lebih menyempurnakan produk yang sedang
dikembangkan. Penyempurnaan produk akhir dipandang perlu untuk lebih
akuratnya produk yang dikembangkan. Pada tahap ini sudah didapatkan
suatu produk yang tingkat efektivitasnya dapat dipertanggungjawabkan.
Hasil penyempurnaan produk akhir memiliki nilai “generalisasi” yang
dapat diandalkan.
10. Desiminasi dan Implementasi Produk Akhir (Dissemination and
Implementation)
Laporan hasil dari R & D melalui forum-forum ilmiah, ataupun
melalui media massa. Distribusi produk harus dilakukan setelah melalui
quality control.

Studi Merencanakan Pengembangan


pendahuluan penelitian desain

Ujicoba produk
Revisi Ujicoba terbatas
lebih luas

Uji Revisi final


Revisi
kelayakan

Desiminasi dan
implementasi

Gambar 3.1 Langkah-Langkah Model Pengembangan Borg dan Gall

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa model


pengembangan Borg and Gall terdiri dari 10 langkah pengembangan yaitu
studi pendahuluan, merencanakan penelitian, pengembangan desain, ujicoba
produk terbatas, revisi hasil uji lapangan terbatas, uji produk secara lebih
luas, revisi hasi uji lapangan lebih luas, uji kelayakan, revisi final hasil uji
kelayakan, serta desiminasi dan implementasi produk akhir. Sepuluh langkah
ini secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 tahap utama, yaitu tahap
perencanaan, pengembangan, dan penyebaran.

C. Kelebihan dan Kekurangan Model Pengembangan Borg and Gall


Model Borg dan Gall adalah bagian dari penelitian pengembangan
(R&D) yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan model ini adalah
sebagai berikut (Ghufron, 2011).
1) Mampu mengatasi kebutuhan nyata dan mendesak (real needs in the
here-and-now) melalui pengembangan solusi atas suatu masalah sembari
menghasilkan pengetahuan yang bisa digunakan di masa mendatang.
2) Mampu menghasilkan suatu produk/model yang memiliki nilai validasi
tinggi, karena melalui serangkaian uji coba di lapangan dan divalidasi
ahli.
3) Mendorong proses inovasi produk/model yang tiada henti sehingga
diharapkan akan selalu ditemukan model/produk yang selalu aktual
dengan tuntutan kekinian.
Sedangkan kekurangan model ini adalah sebagai berikut :
1) Pada prinsipnya memerlukan waktu yang relatif panjang, karena prosedur
yang harus ditempuh relatif kompleks.
2) Tidak bisa digeneralisasikan secara utuh, karena penelitian ditujukan untuk
pemecahan masalah “here and now”, dan dibuat berdasar sampel
(spesifik), bukan populasi.
3) Penelitian memerlukan sumber dana dan sumber daya yang cukup besar.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Penelitian dan pengembangan menurut Borg dan Gall adalah sebuah
proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk
penelitian. Dalam pendidikan, penelitian dan pengembangan digunakan
untuk merancang produk pembelajaran, yang kemudian secara sistematis
diuji cobakan dilapangan, dievaluasi, dan disempurnakan sampai
dihasilkannya suatu produk pembelajaran yang memenuhi standarisasi
tertentu, yaitu efektif, efisien, dan berkualitas.
2. Model pengembangan Borg and Gall terdiri dari 10 langkah
pengembangan yaitu studi pendahuluan, merencanakan penelitian,
pengembangan desain, ujicoba produk terbatas, revisi hasil uji lapangan
terbatas, uji produk secara lebih luas, revisi hasi uji lapangan lebih luas, uji
kelayakan, revisi final hasil uji kelayakan, serta desiminasi dan
implementasi produk akhir.
3. Kelebihan model pengembangan Borg and Gall yaitu mampu mengatasi
kebutuhan nyata dan mendesak, mampu menghasilkan suatu produk/
model yang memiliki nilai validasi tinggi, mendorong proses inovasi
produk/ model yang tiada henti, serta merupakan penghubung antara
penelitian yang bersifat teoritis dan lapangan. Sedangkan kekurangan
model pengembangan Borg and Gall adalah memerlukan waktu yang
relatif panjang, tidak bisa digeneralisasikan secara utuh, serta memerlukan
sumber dana dan sumber daya yang cukup besar.

B. Saran
Sebaiknya dalam memilih model pengembangan dipertimbangkan
langkah-langkah, karakteristik, kelebihan, dan kekurangan model tersebut
sesuai dengan masalah yang ditemukan dan produk yang akan dikembangkan.
Daftar Pustaka

Borg, W. R., Gall, M. D., & Gall, J. P. 2003. Educational Research An


Introduction,Seventh Edition. Boston: Pearson Education Inc

Borg, W.R. & Gall, M.D. Gall. (1989). Educational Research : An Introduction,
Fifth Edition. New York: Longman.

Ghufron, A. 2011. Pendekatan Penelitian dan Pengembangan (R&D) di Bidang


Pendidikan dan Pembelajaran. Handout. Fakultas Ilmu Pendidikan
UNY.

Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.