Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

IKATAN IONIK
Tugas ini dibuat untuk Mata Kuliah :
IKATAN KIMIA

Oleh :
1. Tirani Dwi Pratiwi (4311416043)
2. Rani Rahma Wati (4311416057)
3. Isti Maylinda (4311416058)
4. Reffy Ika Fitria (4311416061)
5. Ekvan Candra Aji Saputra (4311416069)
6. Wiranda Marupa Munthe (4311416054)
7. Rahmad Hadi Syafra Demora (4311416065)

Dosen:
Ella Kusumastuti, S.Si., M.Si

PROGRAM STUDI KIMIA JURUSAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2018
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ikatan Ionik
2.2 Pembentukan Ikatan Ionik
2.3 Susunan Senyawa Ionik
2.4 Jari-jari Ionik dan Rasio Jari-jari Ionik
2.5 Sifat-sifat Senyawa Ionik
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Daftar Pustaka
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita menerima begitu saja dunia
sekitar kita beserta perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya tanpa
mempertanyakan misalnya apaitu air, apa itu minyak, kenapa menggoreng pakai
minyak, atau pertanyaan sepele lain yangmenurut fisika layak untuk
dibahas.Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah sebagian dari masalah yang dibahas dalam
dalamilmu fisika dan kimia. Suatu atom bergabung dengan atom lainnya melalui ikatan
kimiasehingga dapat membentuk senyawa, baik senyawa kovalen maupun senyawa ion.
Senyawaion terbentuk melalui ikatan ion, yaitu ikatan yang terjadi antara ion positif
[atom yangmelepaskan elektron] dan ion negative [atom yang menangkap elektron].
Akibatnya, senyawaion yang terbentuk bersifat polar.
Dalam setiap senyawa, atom-atom terjalin secara terpadu oleh suatu bentuk
ikatan antar atom yang disebut ikatan kimia. Seorang ahli kimia dari Amerika serikat,
yaitu Gilbert Newton Lewis ( 1875- 1946) dan Albrecht Kosel dari Jerman ( 1853-
1972) menerangkantentang konsep ikatan kimia.
 Unsur- unsur gas mulia ( golongan VIIA) sukar membentuk senyawa
karenakonfigurasi elektronnya memliki susunan elektron yang Stabil.
 Setiap unsur berusaha memiliki konfigurasi electron seperti yang di miliki oleh
unsur gas mulia, yaitu dengan cara melepaskan elektron atau menangkap
elektron.
 Jika suatu unsur melepaskan elektron, artinya unsur itu elektron pada unsur
lain.Sebaliknya, jika unsur itu menangkap elektron, artinya menerima elektron
dari unsur lain. Jadi susunan yang stabil tercapai jika berikatan dengan atom
unsur lain.
 Kecenderungan atom-atom unsur untuk memiliki delapan elektron di kulit
terluar disebut kaidah oktet.

Gaya apakah yang mempertahankan atom-atom dalam kristal agar tetap bersatu
? Gayaelektrostatik tarik-menarik antara muatan negatif elektron dan muatan positif inti
atomadalah yang menjadi penyebab timbulnya gaya pemersatu (kohesi) dalam zat
padat.Sementara itu gaya magnet sangat kecil pengaruhnya pada kohesi, dan gaya
gravitasi bahkandapat diabaikan efeknya. Di pihak lain, adanyainteraksi pertukaran,
sepeti gayavan der waalsdan lkatan kovalen memberikan sumbangan yang berarti pada
kohesi kristal.

Energi kohesi kristal didefinisikan sebagai energi yang diperlukan untuk


memecah/memisahkan kristal menjadi komponen-komponennya yang berupa atom
netral yang bebas. Apabila komponen-komponen kristal berupa ion positif dan ion
negatif, makaenergi kohesi lebih tepat disebut energi kisi. Hal ini banyak dijumpai pada
ikatan ionik.

Berdasarkan cara atom-atom berikatan satu sama lain dalam membentuk


kristal, dapatdibedakan : ikatan ionik, ikatan kovalen, ikatan logam, ikatan van der
Waals, dan ikatan hidrogen. Selanjutnya, ikatan ionik akan diuraikan pada bab
pembahasan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud ikatan ionik?
2. Bagaimana ikatan ionik tersebut dapat terjadi?
3. Bagaimana susunan senyawa ionik yang terjadi?
4. Bagaimana besar jari-jari ionik dan rasio yang dimilikinya?
5. Bagaimana sifat-sifat senyawa ionik?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari ikatan ionik
2. Untuk mempelajari pembentukan ikatan ionik
3. Untuk mengetahui susunan pada senyawa ionik yang merupakan akibat dari ikatan
ionik
4. Untuk mengetahui jari-jari ionik dan rasio jari-jari ionik
5. Untuk memahami berbagai sifat yang dimiliki oleh senyawa ionik
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ikatan Ionik


Ikatan kimia merupakan sebuah proses fisika yang bertanggungung jawab
dalam gayainteraksi tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan
suatu senyawadiatomik atau poliatomik menjadi stabil. Secara umum, ikatan kimia
dapat digolongkanmenjadi dua jenis, yaitu: ikatan antar atom dan ikatan antara
molekul. Namun dalam makalahini kami hanya akan membahas mengenai ikatan antar
atom yaitu ikatan ionik.
Ikatan ionik adalah sebuah gaya elektrostatik yang mempersatukan ion-ion
dalamsuatu senyawa ionik. Ion-ion yang diikat oleh ikatan kimia ini terdiri dari kation
dan jugaanion. Kation terbentuk dari unsur-unsur yang memiliki energi ionisasi rendah
dan biasanyaterdiri dari logam-logam alkali dan alkali tanah. Sementara itu, anion
cenderung terbentukdari unsur-unsur yang memiliki afinitas elektron tinggi, dalam hal
ini unsur-unsur golonganhalogen dan oksigen. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa
ikatan ion sangat dipengaruhioleh besarnya beda keelektronegatifan dari atom-atom
pembentuk senyawa tersebut. Semakin besar beda keelektronegatifannya, maka ikatan
ionik yang dihasilkan akan semakin kuat.Ikatan ionik tergolong ikatan kuat, dalam hal
ini memiliki energi ikatan yang kuat sebagaiakibat dari perbedaan keelektronegatifan
ion penyusunnya.

2.2 Pembentukan Ikatan Ionik


Perkembangan munculnya teori ionisasi mendorong pemahaman adanya
senyawa ionic dan senyawa kovalen atau nonionic. Senyawa ionik sederhana terbentuk
hanya antara unsure-unsur metalik dan nonmetalik yang keduanya sangat aktif. Dua
persyaratan penting, yaitu energi ionisasi untuk membentuk kation dan afinitas elektron
untuk membentuk anion, harus lebih menguntungkan (favourable) ditinjau dari
pertimbangan energy. Ini bukan berarti kedua reaksi pembentukan ion-ion tersebut
harus eksotermik, tetapi lebih berarti bahwa reaksi tidak membutuhkan energy yang
terlalu besar. Jadi, persyaratan untuk membentuk ikatan ionic adalalah salah satu atom
unsur harus mampu melepas satu atau dua electron (jarang tiga electron) tanpa
memerlukan banyak energy, dan atom unsure lain harus mampu menerima satu atau
dua electron(hampir tidak pernah tiga elektron) tanpe memerlukan banyak energy. Oleh
karena itu ikatan ionic banyak dijumpai pada senyawa pada logam golongan 1,2
sebagian 3 dan beberapa logam transisi dengan bilangan oksidasi rendah, dan non
logam golongan halogen,oksigen dan nitrogen. Semua energy ionisasi adalah
endotermik, dan afinitas electron untuk halogen adalah eksotermik, tetapi unruk
oksigen dan nitrogen sedikit endotermik.
Jenis ikatan atom-atom dengan contoh unsure-unsur periode ketiga, dan
senyawaannya dapat dipahami dengan mudah menurut model “segitiga ikatan”
(segitiga Van Arkel-Ketelaar). Pada garis dasar segitiga, dari kiri kekanan (dari Na ke
Cl) atom-atom unsure tersusun dari sifat dominasi iatan metalik kesifat ikatan kovalen.
Sifat paling logam dimiliki oleh unsure paling kiri (Na) dan sifat paling kovalen atau
nonlogam dimiliki oleh unsure paling kanan dalam periode, sedangkan diantaranya
memberikan sifat logam amfoterik dan semikonduktor. Ikatan antara kedua atom
unsure paling ujung ini menghasilkan senyawa dengan ikatan ionic yang digambarkan
sebagai titik puncak segitiga.
Contoh pembentukan ikatan ionik: Telah diketahui sebelumnya bahwa ikatan
antara natrium dan klorin dalam narium kloridaterjadi karena adanya serah terima
elektron. Natrium merupakan logam dengan reaktivitastinggi karena mudah melepas
elektron dengan energi ionisasi rendah sedangkan klorinmerupakan nonlogam dengan
afinitas atau daya penagkapan elektron yang tinggi. Apabila terjadi reaksi antara
natrium dan klorin maka atom klorin akan menarik satu elektron natrium.Akibatnya
natrium menjadi ion positif dan klorin menjadi ion negatif. Adanya ion positif dan
negatif memungkinkan terjadinya gaya tarik antara atom sehingga terbentuk natrium
klorida.Pembentukan natrium klorida dapat digambarkan menggunakan penulisan
Lewis sebagai berikut:
Ikatan ion hanya dapat tebentuk apabila unsur-unsur yang bereaksi
mempunyai perbedaan daya tarik electron (keeelektronegatifan) cukup besar.
Perbedaankeelektronegatifan yang besar ini memungkinkan terjadinya serah-terima
elektron.Senyawa biner logam alkali dengan golongan halogen semuanya bersifat ionik.
Senyawalogam alkali tanah juga bersifat ionik, kecuali untuk beberapa senyawa yang
terbentuk dari berilium.

2.3 Susunan Senyawa Ionik


Ikatan ion terbentuk akibat adanya melepas atau menerima elektron oleh atom-
atom yang berikatan. Atom-atom yang melepas elektron menjadi ion positif (kation)
sedang atom-atom yang menerima elektron menjadi ion negatif (anion). Ikatan ion
biasanya disebut ikatan elektrovalen. Senyawa yang memiliki ikatan ion disebut
senyawa ionik.

Aturan oktet menjelaskan bahwa dalam pembentukan natrium klorida,


natriumakan melepas satu elektron sedangkan klorin akan menangkap satu elektron.
Sehinggaterlihat bahwa satu atom klorin membutuhkan satu atom natrium. Dalam
struktur senyawaion natrium klorida, ion positif natrium (Na+) tidak hanya berikatan
dengan satu ionnegatif klorin (Cl-) tetapi satu ion Na+dikelilingi oleh 6 ion Cl-
demikian juga sebaliknya. Struktur tiga dimensi natrium klorida dapat digunakan untuk
menjelaskansusunan senyawa ion.
a. Sel satuan secara umum,, b. Konfigurasi oktahedral, setiap atom dikelilingi
6 atomtetangga terdekat, c. Susunan mampat, dan d. Susunan atom pada salah satu
bidang sisi.

2.4 Jari-jari Ionik dan Rasio Jari-jari Ionik


2.4.1 Jari – Jari Ion
Jari – jari ion yang digunakan sekarang diperoleh dengan cara semi-empiris,
yaitu dengan mempergunakan jarak antarion dari kristal senyawa alkil halida
yang diperoleh dari eksperimen.
Ukuran jari jari ion ditentukan olehgaya tarik muatan inti yang efektif
terhadap elektron pada orbital terluar ion tersebut. Besar muatan inti efektif
adalah selisih muatan inti dan pengaruh elektron penyaring atau elektron
dalam. Pengaruh elektron penyaring tersebut dapat ditentukan berdasarkan
data spektra yang diperoleh pada eksperimen. Muatan inti ion efektif dapat
diperoleh melalui rumus :

Zef = Z – SZ = Muatan inti

Zef = muatan ion efektifS = Tetapan saringan


Jari – jari ion positif lebih kecil daripada jari – jari atomnya, karena muatan
inti efektifnya bertambah, sedangkan jari – jari negatif lebih besar dari jari –
jari atomnya, karena muatan inti efektifnya berkurang.

Harga Δ yang hampir konstan, memberi petunjuk, bahwa jari – jari ion dapat
dianggap tetap ion – ion merupakan bola dan ion – ion tersebut saling
bersinggungan

Bila ion – ion dalam kristal, berbentuk bola, maka jarak antarion – ion adalahd
= r++ r–( r+adalah jari –jari kation, dan r– adalah jari – jari anion).Bila jari- jari
salah satu ion diketahui, maka jari – jari ion yang lain dapat dihitung karena
harga d yaitu jarak antar ion-ion dapat ditentukan secara eksperimen.

Dari eksperimen dengan sinar- X dapat diketahui susunan ion positif dan ion
negatif pada kristal LiBr dan KBr, Jari – jari ion Li+ yang mempunyai susunan
elektron 1s2 lebih kecil dari jari- jari ion Br–dengan susunan elektron
1s2 2s 22p 6 3s2 3p6 3d10 4s2 4p2. Karena itu susunan ion dalam kristal LiBr
sangat ditentukan oleh ukuran jari – jari ion Br-. Jari – jari ion Br- adalah ½ x
jarak d yang diperoleh pada eksperimen. Bila jarak antara inti K+ dan inti Br-
juga dietahui dari eksperimen yaitu b, maka jari – jari ion K+ dapat dihitung
yaitu b – ½ d.

Dengan cara yang sama, dapat diperoleh jari – jari berbagai ion seperti pada
tabel ini

Dari harga jari – jari ion pada tabel dapat disimpulkan bahwa :

1. Untuk ion yang isoelektrik, jari – jari ion akan berkurang bila muatan
inti bertambah, misalnya rMg2+< r Na+< rF–< rO2-
2. Untuk ion – ion pada golongan yang sama jari – jari ion bertambah bila
masa atomnya bertambah, misalnya rF–< rCl–< rBr–< rI–
3. Untuk unsur yang dapat membentuk dua macam atau lebih ion positif,
makin besar muatan positif, makin kecil jari – jarinya. Misalnya : rFe3+< rF2+
4. Untuk unsur transisi, ion – ion yang bermuatan sama Ti2+à Ni2+,
bertambahnya nomor atom tidak banak mempengaruhi ukuran jari – jarinya,
karena penambahan muatan inti dan penambahan elektron pada orbital 3d
saling mengimbangi.

Pada tahun 1927, Pauling menentukan harga jari –jari ion yang sekarang
dipergunakan , dengan metode semiempiris, yaitu dengan anggapan bahwa ion
– ion dengan susunan elektron yang sama (isoelektronik) seperti ion K+ dan
ion Cl–, jari – jarinya berbanding terbalik dengan muatan efektifnya.

Sebagai contoh dapat dilihat pada kristal KCl. Tetapan saring untuk ion K+ dan
ion Cl–yang isoelektronik adalah 10,87 e ( e= muatan elektron ). Muatan inti
efektif ion K+adalah ( 19 – 10,87 ) e = 8,13e dan untuk ion Cl– adalh ( 17 –
10,87 ) = 6,13 e.

Bila jarak antarion K dan ion Cl = 3,14Å

Jari – jari ion K+ = x 3,14 Å = 1,35 Å

Jari – jari ion Cl– = x 3,14 Å = 1,79 Å

Jari – jari ion pada tabel yang ditentukan dengan cara Pauling diperoleh
dengan anggapan bahwa ion – ion beripa bola yang satu sama lain
bersinggungan. Bagaimanappun, susunan elektron yang mengelilingi inti
sebenarnya adalah diffuse, sehingga sukar ditentukan batas orbital, dan 2 ion
yang sangat berdekatan akan saling tumpang tindih sehingga terjadi deformasi
kristal, artinya dalam kristal yang berbeda bentuknya deformasi ion – ion juga
berbeda. Harga ion –ion yang bermuatan tunggal.

Jari – jari ion harus sedemikian rupa sehingga jari – jari kristal dari sepasang
ion positif dan ion negatif yang bersinggungan di dalam kristalnya sama
dengan jarak kesetimbangan anatarion. Jarak kesetimbangan ion tersebut
tergantung pada konfigurasi elektron dalam ion, susunan kristal dan angka
banding jari – jari ion positif dan ion negatif.

Untuk jari – jari yang bervalensi ganda atau jari – jari kristal, diperlukan faktor
koreksi. Jari – jari kristal pada umumnya lebih kecil dari jari – jari ion, karena
muatan ion yang lebih besar menyebabkan gaya tarik antarion juga menjadi
lebih besar. Bilangan koordinasi yang berbeda juga menyebabkan berubahnya
besar jari – jari ion.

Dalam satu golongan pada SPUdari atas ke bawah, jari – jari ion bertambah
secara teratur, karena muatan inti positif diimbangi oleh efek saringan. Jari –
jari ion negatif lebih besar dari jari – jari ion positif yang isoelektronik, karena
bertambahnya tarikan inti pada ion positif.

Untuk deret isoelektronik Na+, Mg2+ , Al3+, jari – jari kristalnya makin kecil
karena bertambahnya muatan positif inti yang dapat menarik elektron lebih
dekat ke inti.

2.4.2 Rasio Jari – Jari ionik

Besarnya ukuran rongga oktahedral dalam sebuah kisi kemas rapat ion dapat
ditentukan. Suatu kation yang menempati tepat sebesar oktahedral, bagian
aksialnya akan membentuk bujur sangkar dengan panjang diagonal sebesar
2r+ + 2r–. Dengan demikian, dalam segiriga siku – siku sama kaki ABC
berlaku hubungan sebagai berikut :

Cos 450 = = 0,707

r– = 0,707 r–+ 0,7070 r+

0,293 r–= 0,707 r+ , sehingga = 0,414, atau = 2,42

Rasio ini ( ~ 0,414 ) akan memnatasi sifat “kestabilan” kation dalam ringga
oktahedral untuk menjaga agar anion – anion dan anion – kation tetap tepat
bersinggungan. Kation dengan ukuran lebih kecil tentu akan memilih rongga
tetrahedral yang lebih kecil daripada rongga oktahedral, dan kation yang lebuh
besar akan memilih rongga kubus sederhana.

Gambar 1.29 Posisi kation dalam :

1. Rongga oktahedron anion


2. Penampang irisan mendatarnya dan
3. Penampang irirsan mendatar untuk struktur triagonal
Dengan cara yang sama, rasio terendah bagi rongga dengan bilangan
koordinasi 3 ( trigonal, gambar c ). 4 ( tetrahedral), 8 ( kubus sederhana ), dan
12 ( dodekahedral) dapat ditentukan yaitu masing – masing sebesar ~ 0,155,
0,255, 0,732 dan 1,00. Hal ini berarti bahwa untuk rasio 0,155 – 0,225, bentuk
yang lebih diuntungkan adalah koordinasi geometri trigonal, rasio ,255 –
0,414, koordinasi geometri tetrahedrak, rasio 0,414 – 0,732 kordinasi geometri
oktahedral, dan rasio 0,732 – 1,00 bentuk koordinasi geometri kubus
sederhana ( tabel 1.1 ). Manfaat jari – jari rasio ini dapat diilustrasikan pada
beberapa senyawa termasuk yang telah dibicarakan dan akan dibicarakan lebih
lanjut seperti berikut ini.

Tabel 1.1.1 Hubungan rasio jari – jari dengan geometri

Senyawa BeS mempunyai rasio jari – jari .Dengan demikian dapat diramalkan
bahwa Be mempunyai bilangan koordinasi empat karena cocok menempati
ruang tetrahedral dan kenyataanya memang BeS mengadopsi struktur wurtzit.
Demikian juga dengan cara yang sama dapat diramalkan bahwa ion Na+akan
memeilih menempati rongaga- rongga oktahedral dalam kemas-rapat kisi
anion Cl– , sehingga membentuk kristal NaCl dengan bilangan koordinasi
enam, karena . Tetapi , dengan kation yang lebih besar seperti Cs+ , struktur
CsCl tidak lagi mengadopsi bilangan koordinasi enam seperti NaCl ,
melainkan mengadopsi bentuk kubus sederhana dengan bilangan koordinasi 8
karena .

Dalam senyawa yang mempunyai jumlah anion tidak sama dengan jumlah
kation, misalnya SrF2, TiO2, Li2O, Rb2S, penerapan rasio jari – jari terhadap
dugaan bilangan koordinasi tidak begitu mudah. Dalam hal ini caraterbaik
dengan memepertimbangkan dua macam perhitungan rasio jari – jari seperti
contoh SrF2 berikut :

maksimum bilangan koordinasi Sr2+ = 8

maksimum bilangan koordinasi F– = 8

Oleh karena jumlah anion F– harus dua kali jumlah kation Sr2+, maka
sebaliknya bilangan koordinasi kation Sr2+ harus dua kali bilangan koordinasi
anion F. Kesesuaian bilangan koordinasi dengan stoikiometri ini menyebabkan
SrF2 mengadopsi struktur flourit dengan kation Sr2+ mempunyai bilangan
koordinasi 8 (maksimum ) dan anion F–mempunyai bilangan koordinasi 4.

Contoh kedua adalah senyawa SnO2, dengan rasio ion :

maksimum bilangan koordinasi Sn4+ = 6

maksimum bilangan koordinasi O2- = 6

Dengan mempertimbangkan stoikiometri senyawa ini , bentuk yang hanya


mungkin diadopsi adalah struktur TiO2- rutil dengan bilangan koordinasi 6
untuk kation Sn4+dan bilangan koordinasi 3 untuk anion O2-.

Contoh terakhir adalah senyawa K2O, dengan rasio ion :

maksimum bilangan koordinasi K+ = 8

maksimum bilangan koordinasi O2- = 8

Pertimbangan stoikiometri menyarankan bahwa K2O mengadopsi struktur


antiflourit, yaitu K+ dan O2- masing – masing mempunyai bilangan koordinasi
4 dan 8.

Catatan : Aplikasi rasio jari – jari ini sesungguhnya sangat terbatas dan harus
hati – hati, khususnya bila ikatan kovalen menjadi faktor yang harus
dipertimbangkan.

Perkecualian terhadap penerapan rasio jari – jari

Penerapan hubungan rasio jari – jari terhadap bangun geometri pada berbagai
contoh di atas memang cukup instruksif. Namun rasio jari – jari hanalah
merupakan sebuah petunjuk saja yang sesungguhnya sangat terbatas
pemakaiannya dan perlu hati – hati khususnya jika ikatan kovalen menjadi
faktor yang perlu dipertimbangkan. Walaupun banyak senyawa ionik benar –
benar mengadopsi bangunan geometri sesuai dengan ramalan, ada banyak
perkecualian yang ekstrem ( tabel 1.2 )
Senyawa r + / r– Kemasan – duga Kemasan- nyata

HgS 0,68 NaCl ( koordinasi ZnS ( koordinasi


6) 4)

LiI 0.35 ZnS ( koordinasi NaCl ( koordinasi


4) 6)

RbCl 0,99 CsCl ( koordinasi NaCl ( koordinasi


8) 6)

Kimia bukanlah subjek yang sederhana, dan dalam senyawa yang sangat ionik
sekalipun sesungguhnya terdapat sifat kovalen parsial walaupun hanya
berderajat rendah; semakin berkurang derajt ioniknyasemakin bertambah
derajt kovalensinya, dan dalam keadaan demikian ini model bola keras bagi
suatu ion dalam berbagai senyawa tidal lagi tepat. Sebagai contoh, raksa ( II )
sulfida, HgS, mempunyai tingkat kovalensi yang cukup tinggi sehingga dapat
dipertimbangkan sebagai senyawa dengan jaringan kovalen seperti intan dan
silikon dioksida. Tingginya sifat kovalensi ini memungkinkan pemilihan
geometri tetrahedron- struktur ZnS, sebagaimana sering dijumpai bagi senywa
Hg (II).

Sifat kovalen parsial juga terdapat dalam litium iodida (ion iodida mudah
terpolarisasi). Pemilihan bangun geometri-struktur NaCl pada senyawa ini
sunggguh tidak masuk akal jika alasannya didasarkan pada harga standar jari –
jariioniknya. Ion Li+ terlalu kecil ukurannya dalam rongga oktahedral anion
iodida sehingga akan mengakibatkan posisi kation tidak fit ( pas) tetapi
bergejolak terus – menerus. Studi struktur kristal menunjukkan bahwa rapatan
elektron litium tidak berupa bola (sferis) melainkan mencuat keluar ke arah
keenam atom iodin disekelilingnya; oleh karena itu, litium iodida tidak dapat
dipertimbangkan sebagai senyawa yang benar – benar ionik, dan diduga
mengandung 30% karakter kovalen.
Selain itu ditemukan bukti bahwa perbedaan energi antara kemasan geometri
sering sangat kecil. Sebagai contoh rubidium klorida, RbCl, umumnya
mengadopsi geometri struktur –NaCl yaitu kubus pusat muka, dan bukan
struktur-CsCl yaitu kubus sederhana sebagaimana diramalkna. Namun,
kristalisasi dibawah tekanan dapat menghasilkan geometri struktur-CsCl. Jadi
perbedaan energi pengemasan antara kedua bangun geometri tentulah sangat
penting.

Akhirnya, perlu diingat bahwa nilai jari – jari ionik tidaklah tetap dari lingkungan-
tetangganya yang satu ke yang lain. Sebagai contoh, ion Cs+ mempunyai jari – jari
ionik sebesar 181 pm hanya ketika ion ini dikelilingi oleh enam anion tetangga , dan
dengan delapan anion tetangga seperti dalam CsCl, Cs+ mempunyai jari – jari ionik
seedikit lebih besar, 188 pm. Untuk ion – ion berukuran besar, perrbedaan ini bukanlah
merupakan faktor utama, tetapi untuk ion – ion berukaran kecil perbedaanya sangat
signifikan. Litium, dalam lingkungan koordinasi empat, mempunyai jari – jari 73 pm,
tetapi dalam lingkungan koordinasi enam, Li+ mempunyai jari – jari 90 pm.

2.5 Sifat-sifat Senyawa Ionik


Pada temperatur kamar, senyawa kovalen dapat berwujud padat,cair, dan gas,
tetapi senyawa ionik berwujud padat dan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
 Senyawa ionic cenderung mempunyai konduktivitas listrik sangat rendah dalam
bentuk padatan, tetapi penghantar listrik sangat baik pada keadaan leburnya. Daya
hantar listrik ini diasosiasikan dengan adanya ion-ion positif dan negative yang
bergerak bebaskarena pengaruh listrik. Dalam keadaan padat, ion-ion ini diikat
kuat dalam kisi, tidak mengalami migrasi atau perpindahan, dan juga tidak
membawa arus listrik.
 Senyawa ionic cenderung mempunyai titik leleh tinggi, ikatan ionic biasanya
sangat kuat dan terarah kesegala arah. Ini bukan berarti bahwa ikatan ionic lebih
kuat dari pada ikatan kovalen, melaikan karena sebaran arah ikatan kesegala arah,
dan inilah yang merupakan faktor penting dalam kaitannya dengan titik leleh
yang tinggi.
 Senyawa ionic biasanya sangat keras tetapi rapuh.kekerasan senyawa ionic sesuai
dengan argumen diatas, sekalipun perlakuannya melalui pemisahan secara
mekanik ketimbang pemisahan secara termal terhadap gaya-gaya tarik-menarik
antar ion. Kecenderungan kerapuhan merupakan akibat sifat alami ikatan ionik.
Jika cukup gaya untuk menggeser sedikit ion-ion (misalnya dalam unit sel NaCl,
panjang ikatan menjadi memendek separohnya), maka gaya yang semula tarik-
menarik akan berubah menjadi gaya tolak-menolak karena kontak antar anion dan
antar kation menjadi lebih signifikan. Akibatnya, Kristal menjadi mudah
terpecah-belah, dan hal inilah yang banyak ditemui pada banak mineral.
 Senyawa ionic biasanya larut dalam pelarut polar dengan permitivitas (tetapan
dielektrikum) tinggi. Energy interaksi dua partikel bermuatan dinyatakan dengan
rumus E= , dalam hal ini q+ dan q– adalah muatan listrik partikel, r adalah jarak
pisah kedua partikel dan = permitivitas atau tetapan dielektrikum medium; untuk
mediu hampa, o=8,85x 10-12 C2m-1J-1. Pelarut polar umumnya memiliki tetapan
dielektrikum tinggi, misalnya untuk air =7,25 x 10-10 C2m-1J-1,asetonitril =2,9 x
10-10C2m-1J-1 dan untuk ammonia =2,2 x 10-10 C2m-1J-1, atau (H2O) = 82 o , (CH3CN) =
33 o ,(NH3) = 25 o . Oleh karena permitivitas amonia 25 kali permitivitas hampa,
maka dapat dimengerti bahwa gaya tarik ion-ion terlarut dalam amonia hanyalah
sebesar 4% daripada gaya yang sama tanpa pelarut; semakin tinggi tinggi
permitivitas pelarut semakin besar pengaruhnya.
2.5.1 Kecenderungan Pada Jari-jari Ionik
Jari-jari kation semakin kecil untuk sederet spesies isoelektronik dalam satu
periode dengan kenaikan muatan ion. Sebagai contoh 11Na+,12Mg2+ dan 13Al3+,
secara berurutan mempunyai jari-jari ionic 116, 86, dan 68 pm; ketiga-tiganya
isoelektronik, mempunyai 10 elektron dengan konfigurasi elektronik
1s2 2s2 2p6. Satu-satunya perbedaan adalah jumlah proton didalam intinya;
makin besar jumlah proton atau muatan inti makin besar muatan inti
efektifnya, Zef! dan oleh karena itu makin kuat gaya tariknya terhadap elektron
sehingga makin kecil ukuran atau jari-jari ionnya. Jari-jari anion semakin kecil
untuk sederet spesies isoelektronik dalam satu periode dengan penurunan
muatan ion. Sebagai contoh, anion 7N3-,8O2-,dan 9F–, secara berurutan
mempunyai jari-jari ionic 132,124 , dan 117 pm. Ketiga spesies anionic ini
adalah isoelektronik (10 elektron) dan dengan argumentasi yang sama seperti
tersebut diatas dapat dijelaskan penurunan ukuran anion ini. Kedua contoh seri
kation (Na+,Mg2+ dan Al3+) dan anion (N3-,O2-,dan F–,) yang juga isoelektronik
menunjukkan bahwa ukuran anion jauh lebih besar ketimbang ukuran kation.
Secara umum memang benar bahwa kation logam lebih kecil
ukurannyaketimbang anion nonlogam dalam satu periode.
Dalam satu golongan,ukuran atom semakin besar dengan naiknya nomor
atom(dari atas kebawah), demikian juga ukuran ionnya. Sebagai contoh, anion
halogenida,F–,Cl–,Br-, dan I–,secara berurutan mempunyai jari-jari ionic
117,167,182 dan 206 pm. Akhirnya perlu diketahui bahwa ukuran ion tidak
dapat diperoleh secara langsung,melainkan secara empiric, yaitu
membandingkan hasil pengukuran lebih dari satu senyawa untuk atom-atom
yang sama. Nilai jari-jari ionic yang diperoleh Shannon dan Prewit biasanya
paling sering digunakan karena dianggap lebih akuran dari pada yang lain.
2.5.2 Model Ionik dan Ukuran Ion
Berdasarkan elektronegativitas Pauling, jika perbedaan elektronegatifitas
antara dua atom yang berikatan kovalen membesar, sifat ikatan menjadi
semakin polar. Akhirnya, jika perbedaan tersebut sedemikian besarnya
sehingga pasangan elektron sekutu menjadi terabaikan karena lebih mendekat
kepada salah satu pihak, maka ikatan yang terjadi dapat dikatakan sebagai
ikatan ionik. Dengan demikian, ikatan ionik secara sederhana adalah gaya
atraksi ( tarik – menarik ) elektrostatik anata ion positif dengan ion negatif.
Pauling melukiskan bahwa kenaikan perubahan perbedaan
keelektronegativitas akan mengakibatkan kenaikan sifat ionik secara perlahan
dan kontinu. Perbedaan elektronegativitas nol merupakan titi ekstrem sifat
kovalen murni. Jadi, sesungguhnya tidak ada garis pembatas yang tegas antara
karakter kkovalen dan ionik , ddan kenyataanya banyak ditemui senyawa yang
termasuk kategori “intermediat” atau sering disebut kovalen polar. Kovalen
polar ini dapat bersifat ionik parsial atau dapat bersifat kovalen parsial.
Karena logam umumnya mempunyai sifat elektronegativitas rendah dan
nonlogam bersifat elektronegativitas tinggi, senyawa yang dibentuk dari
keduanya sering termasuk kategori ionik. Menurut model ionik murni, satu
atau dua elektron valensi telah berpindah dari atom berelektronegativitas
rendah ke atom berelektronegativitas tinggi.

Ukuran atom dalam periode semakin kecil dengan naiknya nomor atom atom(
dari kiri ke kanan ) sebagai akibat naiknya muatan inti efektif, Zef. Tetapi,
perubahan atom menjadi ion mengakibatkan perubahan yang kompratif besar
pada ukurannya. Pembentukan ion logam ( kation ) dari atomnya biasanya
melibatkan pelepasan semua elektron valensi, sehingga ukuran kation akan
menjadi jauh lebih kecil ketimbang ukuran atom induknya. Sebagai contoh ,
jari – jari atom natrium adalah 186 pm, tetapi jari – jari ionnya, Na+, hanya 116
pm. Dengan demikian terjadi penyusutan ukuran yang sangat dramatik.
Volume bola ( atom / ion ),adalah V = r3 , maka penyusutan jari – jari kation
tersebut mengakibatkan penyusutan volume menjadi kira- kira hanya volume
induknya. Untuk anion berlaku sebaliknya. Ukuran anion negatif lebih besar
ketimbang atom induknya.
2.5.3 Kecenderungan Pada Titik Leleh
Ikatan ionic adalah hasil dari gaya tarik-menarik satu ion dengan ion-ion
berlawanan muatan di sekelilingnya dalam kisi Kristal. Proses pelelehan
melibatkan pemutusan parsial gaya tarik-menarik tersebut dan mengizinkan
ion-ion dapat bergerak bebas dalam fase cairnya. Titik leleh yang tinggi bagi
senyawa ionic menyarankan bahwa ikatan ionic tentunya sangat kuat. Semakin
kecil ukuran ion berarti semakin terpusat muatannya sehingga semakin kuat
pula ikatan ioniknya, dan dengan demikian semakin tinggi titki lelehnya. Hal
ini ditunjukkan oleh contoh sederet senyawa halida, KF,KCl,KBr, dan KI,
yang secara berurutan mempunyai titik leleh 857,772,735, dan 685oC.
2.5.4 Polarisasi dan Kovalensi
Sebagian besar penggabungan logam dan nonlogam mempunyai karakter
senyawa ionik, namun terdapat beberapa kekecualian. Kekecualian ini terjadi
apabila electron terluar dari anion tertarik begitu kuatnyakarah kation sehingga
mengakibatkan terbentuknya ikatan kovalen hingga derajat kovalensi tertentu,
artinya rapatan anion terdistorsi kearah kation. Distorsi (penyimpangan) dari
bentuk ideal anion ini, yaitu spherical (bentuk bola), disebut polarisasi.
Semakin besar sifat polarisasi anion semakin besar derajat iatan kovalensinya.
Aturan yang dikemukakan oleh Kasimir Fajans perihal polarisasi adalah
srbagai berikut.

1. Kation dengan ukuran semakin kecil dan muatan positif semakin besar
mempuyai daya mempolarisasi semakin kuat.
2. Anion dengan ukuran semakin besar dan muatan negatif semakin besar
akan semakin mudah terpolarisasi.
3. Kation yang mempunyai konfigurasi elektronik bukan konfigurasi
elektronik gas mulia mempunyai daya mempolarisasi lebih kuat.
Ukuran daya mempolarisasi suatu kation dinyatakan dalam rapatan muatanya.
Rapatan muatan adalah muatan ion (jumlah unit muatan dikalikan dengan
muatan proton dalam satuan coulomb,C) persatuan volume, sehingga:=
(dengan n = muatan ion , = muatan proton dalam satuan coulomb, dan r = jari-
jari ion).Sebagai contoh, ion natrium mempunyai muatan +1 dan jari-jari ion
116 pm (1.16 x 10-7mm), maka rapatan muatanya adalah:Rapatan muatan, =
=24 C mm-3.

Dengan cara yang sama rapatan muatan ion alumunium dapat dihitung yaitu
sebesar 364 C mm-3. Dengan rapatan muatan yang jauh lebih besar ion
alumunium (Al3+) mempunyai daya mempolarisasi (terhadap anion) yang lebih
kuat dibandingkan dngan daya mempolarisasi ion natrium, sehingga dengan
anion yang sama senyawa alumunium lebih bersifat kovalen dibandingkan
dengan senyawa natrium.

Salah satu cara yang paling mudah untuk membedakan sifat ionic dari sifat
kovalen suatu spesies adalah dengan membandingkan titik lelehnya. Senyawa
ionik (dan juga senyawa ovalen jaringan) cenderung mempunyai titik leleh
tinggi, tetapi senyawa kovalen sederhana mempunyai titik leleh rendah.
Sebagai contoh, senawa AlF3 dan AlI3mempunyai titik leleh yang sangat
berbeda yaitu masing-masing 1290 dan 190oC. ion fluoride mempunyai jari-
jari ionic 117 pm, jauh lebih kecil dari pada jari-jari ionic iodide, 206 pm. Dari
data ini ukuran volume anion iodide kira-kira adalah 5 ½ (atau 2063/ 1173) kali
ukuran volume ion fluorida. Tingginya titik leleh alumunium fluoride
mengindikasikan bahwa senyawa ini lebih bersifat ionik. Ini berarti bahwa ion
fluoride yang ukurannya kecil tidak akan mudah terpolarisasi oleh ion
Al3+ sekalipun muatan positifnya besar. Sebaliknya karena besarnya ukuran
ion iodide maka rapatan elektronnya mudah dipolarisasi oleh ion Al3+,
sehingga senyawa AlI3 yang terbentuk lebih bersifat kovalen dengan titik leleh
yang jauh lebih rendah. Bandingkan dengan titik leleh senyawa KI (685oC),
dan KF (857oC).

Oleh karena jari-jari ionic dengan sendirinya bergantung pada muatan ionnya,
maka besarnya muatan kation sering merupakan petunjuk yang baik untuk
menentukan derajat kovalen spesies ( sederhana) yang bersangkutan. Kation
dengan muatan +1, dan +2, biasanya mendominasi sifat ionic, sedangkan
kation dengan muatan +3 membentuk senyawa ionic hanya dengan anion yang
sukar terpolarisasi seperti ion fluoride. Kation dengan muatan teoritik +4 atau
lebih sesungguhnyatidak dikenal sebagai ion, dan senyawanya sering dianggap
sebagai senyawa yang didominasi oleh sifat kovalen. Sebagai contoh, MnO
mempunyai titik leleh 1785oC tetapi Mn2O7 berupa cairan pada temperatur
kamar. Hasil penelitian menunjukan bahwa Mn (II) membentuk kisi Kristal
ionic dalam MnO, tetapi Mn(VII) membentuk molekul kovalen dalam Mn2O7.
Menurut perhitungan, rapatan muatan ion Mn7+ (jika ada) adalah 1240 C mm-
3
dan ion Mn2+adalah 84 C mm-3. Rapatan muatan positif ion Mn7+ sangat
tinggi, dan ukuran ion lebih kecil dibandingkan dengan ion Mn2+, sehingga
mempunyai daya mempolarisasi yang sangat kuat terhadap anion oksida, dan
akibatnya terbentuknya senyawa yang bersifat kovalen, sesuai dengan titik
lelehnya yang rendah.

Aturan Fajans berkaitan dengan kation yang mempunyai konfigurasi


elektronik ukan gas mulia. Sebagai contoh adalah kation Ag+(dengan
konfigurasi[Ar] 4d10), demikian juga Cu+, Sn2+, dan Pb2+, senyawa-senyawa
perak halida, AgF,AgCl,AgBr, dan AgI, mempunyai titik leleh masing-masing
435,455,430,, dan 558 oC harga ini lebih rendah kira-kira 300 oC dibandingkan
dengan titik leleh KF,KCl,KBr, dan KI. Dengan demikian, kation perak
mempunyai daya mempolarisasi yang lebih kuat dibandingkan kation K+,
sehingga senyawa-senyawa perak halida lebih bersifat kovalen dibandingkan
dengan senyawa-senyawa kalium halida. Petunjuk lain tentang sifat kovalensi
halida perak adalah kenyataan bahwa haloda perak (kecuali fluoride) sukar
larut dalam air seangkan kalium halida semuanya sangan mudah larut dalam
air. Menurutnya sifat ionic atau naiknya sifat kovalen halida mengakibatkan
melemahnya interaksi antara molekul air dengan muatan ion tersebut sehingga
cenderung sukar larut. Untuk perak fluoride, ukuran ion fluoride yang kecil
menyebabkan sukar dipolarisasi oeh kation perak, sehingga senyawanya lebih
bersifat ionic dan akibatnya dapat larut dalam air.

Contoh lain adalah perbandingan sifat oksida dan sulfide antara natrium (I)
dengan tembaga(I). kation natrium dan tembaga keduanya mempunyai jari-jari
yang hampir sama. Oksida maupun sulfide dari natrium bersifat ionic,larur,
dan bereaksi dengana air, tetapi oksida dan sulfida tembaga (I) tidak larut
dalam air. Menurut aturan fajans yang ketiga, kation Cu(I)dengan konfigurasi
electron bukan gas mulia mempunyai daya mempolarisasi yang lebih kuat
hingga mempunyai kecenderugngan lebih kovalen. Hal ini parallel denga
besarnya perbedaan elektronegativitas yaitu 2,5 untuk natrium oksida yang
ber, dan arti lebih bersifat ionic 1,5, untuk tembaga (I) oksida yang berarti
lebih bersifat kovalen.