Anda di halaman 1dari 12

TOKSIKOLOGI INDUSTRI

“KLASIFIKASI TOKSIKOLOGI”

Kelompok 2

Disusun Oleh :

1. Christina Mediana 155100014


2. Dela Pamita 155100015
3. Nurul Lian Damayanti 155100056
4. Sri Muliarti 155100070
5. Yotam Wanena 165059137

UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai.Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan
baik materi maupun pikirannya.

Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, 13 Oktober 2018

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Toksikologi adalah ilmu yang menetapkan batas aman dari bahan kimia (Casarett and
Doulls, 1995). Selain itu toksikologi juga mempelajari jelas/kerusakan/ cedera pada
organisme (hewan, tumbuhan, manusia) yang diakibatkan oleh suatu materi substansi/energi,
mempelajari racun, tidak saja efeknya, tetapi juga mekanisme terjadinya efek tersebut pada
organisme dan mempelajari kerja kimia yang merugikan terhadap organisme. Banyak sekali
peran toksikologi dalam kehidupan sehari-hari tetapi bila dikaitkan dengan lingkungan
dikenal istilah toksikologi lingkungan dan ekotoksikologi.

Dua kata toksikologi lingkungan dengan ekotoksikologi yang hampir sama maknanya
ini sering sekali menjadi perdebatan. Toksikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari
racun kimia dan fisik yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan menimbulkan pencemaran
lingkungan (Cassaret, 2000) dan Ekotoksikologi adalah ilmu yang mempelajari racun kimia
dan fisik pada mahluk hidup, khususnya populasi dan komunitas termasuk ekosistem,
termasuk jalan masuknya agen dan interaksi dengan lingkungan (Butler, 1978). Dengan
demikian ekotoksikologi merupakan bagian dari toksikologi lingkungan.

Kebutuhan akan toksikologi lingkungan meningkat ditinjau dari :

A. Proses Modernisasi yang akan menaikan konsumsi sehingga produksi juga harus
meningkat, dengan demikian industrialisasi dan penggunaan energi akan meningkat
yang tentunya akan meningkatkan resiko toksikologis.
B. Proses industrialisasi akan memanfaatkan bahan baku kimia, fisika, biologi yang akan
menghasilkan buangan dalam bentuk gas, cair, dan padat yang meningkat.Buangan ini
tentunya akan menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang mengakibatkan
resiko pencemaran, sehingga resiko toksikologi juga akan meningkat.

1.2 Rumusan Masalah


A. Bagaimana pengklasifikasian toksikologi ?
1.3 Tujuan
A. Untuk mengetahui klasifikasi toksikologi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Berdasarkan Sumber


A. Sumber alamiah/buatan :
klasifikasi ini membedakan racun asli yang berasalkan fauna dan flora, dan
kontaminasi organisme dengan berbagai racun berasalkan lingkungan seperti
bahan baku industri yang beracun ataupun buangan beracun dan bahan sintetis
beracun.
B. Sumber berbentuk titik, area, dan bergerak :
Klasifikasi ini biasanya digunakan untuk orang yang berminat dalam melakukan
pengendalian. Tentunya sumber titik lebih mudah dikendalikan daripada sumber
area yang bergerak.
C. Sumber domestik, komersial, dan industri :
Sifat, dan jenisnya berbeda, kecuali terkontaminasi oleh buangan insektisida, sisa
obat, dll. (Rukaesih Achmad, 2004 : 156 -157)
2.2 Klasifikasi Berdasarkan Wujud
A. Pencemaran padat berupa zat atau bahan padat yang dapat menyebabkan
pencemaran seperti : lumpur padat , debu, asap , sampah plastik ,botol, kaca,
hingga makhluk hidup seperti : jamur ,bakteri , dan virus .
B. pencemaran cair seperti: tumpahan minyak dari kapal tanker ,zat – zat kimia cair
dan lainnya.
C. Sedangkan pencemaran gas seperti karbon monoksida ,belerang dioksida ,oksida
nitrogen,dan lainnya (kristianto,2004).
Gas dapat berdifusi, sehingga menyebar lebih cepat dari pada cairan dan zat
padat. Efek terhadap masyarakat tentunya akan sangat berbeda. Gas dan padatan yang
sangat halus akan cepat menimbulkan efek, dan apabila konsentrasi masyarakat di
tempat tersebut padat, maka efeknya akan menjadi sangat drastis.
2.3 Klasifikasi Berdasarkan Sifat
1) Berdasarkan sifatnya , pencemaran (polutan ) terbagi menjdai dua yakni :
pencemaran (polutan) biodegradable dan pencemaran (polutan) non- biodegradable
.pencemaran biodegradable adalah jenis pencemaran yang dapat diuraikan oleh proses
alamiah , seperti : kertas, kayu ,dedaunan ,sisa makanan ,bangkai makhluk hidup dan
bahan organik lainnya. Pencemaran ini mudah membusuk dan kemudian dapat diolah
lebih lanjut menjadi kompos. Polutan jenis ini akan berbahaya jika di buang ke dalam
lingkungan air karena dapat meningkatkan populasi mikroorganisme dalam air hingga
menyebabkan kemungkinan ikut berkembangnya bakteri patogen yang berbahaya
bagi manusia. (Ambarwati,2011).
Sedangkan pencemaran non-biodegradable bersifat tidak dapat diuraikan oleh
proses alamiah sehingga tetap ada pada lingkungan dalam jangka waktu lama ,seperti
:pecahan kaca, kaleng ,logam bekas, residu radioaktif dan lainnya. Pengelolaan
berbagai macam polutan secara tepat dapat mengurangi terjadinya pencemaran pada
lingkungan, seperti dengan jenis – jenis polutan dan medaur ulang pencemaran non-
biodegradable.(Arya,2004).

2) Berdasarkan sumber pencemaran


Berdasarkan sumber pencemaranya, polutan di bedakan menjadi dua yakni
polutan bersumber dari domestik dan bersumber dari industri. Polutan domestik berasal
dari kegiatan sehari – hari pemukiman penduduk dan pasar meliputi sisa buangan
manusia (tinja) limbah deterjen dan sabun ,sisa bahan makanan dan pembungkus
makanan ,serta sisa kegiatan petanian dan pertenakan . sedangkan polutan industri
merupakan bahan sisa atau bahan buangan dari hasil pembuatan suatu proses
perindustrian , seperti : lumpur padat , abu,asap dari cerobong pabrik,sisa sarung tangan
dan masker,minyak ,bahan kimia,bahan radioaktif,dan sebagainnya. Sisa buangan hasil
industri ini sendiri di bedakan menjadi 2 macam : yakni limbah non B3 (Bahan
berbahaya dan beracun) dan limbah B3. Limbah non B3 yaitu : lumpur,sampah kantor,
spare part mesin ,sarung tangan dan lainya. Sedangkan limbah B3 antara lain : bahan
kimia ,radioaktif,toner, minyak dan sebagainya. (palar,2004;Tchobanoglous et al,
2003).
Agar tidak membahayakan makhluk hidup dan lingkungan, limbah B3 Industri
harus diolah dengan tepat dan di pisahkan serta di beri simbol – simbol gambar berikut
ini :

2.4 Klasifikasi Pencemaran Udara


Lingkungan atmosfer terdiri dari campuran gas meliputi ketebalan 10-16 km
dari permukaan bumi. Terdiri dari oksigen (21%), nitrogen (78%), karbon dioksida
(0,03%), argon (<1%), serta gas lainnya dan uap air. Pencemaran udara adalah
peristiwa masuknya atau tercampurnya, polutan (unsur –unsur berbahaya) ke dalam
lapisan udara (atmosfer) menyebabkan perubahan susunan atau komposisi normal udara
tersebut sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas udara di lingkungan. (Connell
and Miller,2006).
Parameter Pencemaran Udara

Parameter Udara bersih Udara tercemar


CO <1 ppm 5 -200 ppm
NO2 0,003 – 0,02 ppm 0,02 -0,1 ppm
SO2 0,003 – 0,02 ppm 0,02 -2 ppm
CO2 310 -330 ppm 350 -700ppm
Partikulat 0,01 -0,02 mg/m³ 0,07 -0,7 mg/m³
Hidrokarbon <1 ppm 1 -20 ppm
Sumber : Bulletin WHO dalam Mukono,2005
4.1 Karbon Monoksida (CO)

Karbon monoksida adalah gas tidak berwarna dan tidak berbau , serta
bersifat racun. Gas ini di gunakan untuk mereduksi oksida untuk memperoleh logam
murni dan di gunakan untuk membantu produksi methanol. Dalam proses industri
,karbon monoksida di gunakan dalam jumlah kecil.Gasa ini di hasilkan dari
pembakaran material dengan kandungan karbon seperti : bensin ,gas alam ,batu bara
,kayu,dan sebagainya. Karbon monoksida sebenarnya merupakan produk yang tidak di
inginkan dalam proses pembakaran (BMZ,1995).

Gas CO akan mengalir ke sdalam jantng,otak, serta organ vital.akibatnya bisa


menjadi sangat fatal.pertama ,oksigen akan kalah bersaing dengan CO saat berikatan
dengan molekul haemoglobin. Ini berarti kadar oksigen dalam darah akan berkurang.
Padahal seperti di ketahui oksigen sangat di perlukan oleh sel – sel dan jaringan tubuh
untuk melakukan fungsi metabolisme. Kedua , gas CO akan menghambat aktivitas
oksidasi sitokrom. Efek paling serius adalah terjadinya keracunan secara langsung
terhadap sel – sel tersebut , juga menyebabkan gangguan pada sistem saraf. Batas
pemaparan karbon monoksida yang di perbolehkan oleh OSHA (Occupational Safety
and health administarion) adalah 35 ppm untuk waktu 8 jam/hari kerja,sedangkan yang
25 ppm untuk waktu 8 jam. Kadar dianggap langsung berbahaya terhadap kehidupan
atau kesehatan adalah 1500 ppm (0,015%). Paparan dari 1000 ppm (0,1%) selama
beberapa menit dapat menyebabkan 50% hemoglobin menjadi karboksi hemoglobin
dan dapat berakibatkan fatal (Chanda, 1995).
4.2 Oksida Nitogen (NO²)

Sumber utama NO² akibat aktivitas manusia di hasilkan dari


pembakaran bahan bakar fosil(batu bara ,gas, minyak),terutama bensin kendaraan
bermotor. Di daerah perkotaan 80 % NO² di hasilkan oleh kendaraan bermotor. Gas ini
juga di hasilkan dari proses pembuatan asam nitrat, pengelasan dan penggunaan bahan
peledek. Sumber alami NO² adalah dari gunung berapi dan bakteri

Sumber Pencemaran NO² di udara

Sumber pencemaran % bagian % total


Transportasi :
1. Mobil bensin 32,0 39,3
2. Mobil diesel 2,9
3. Pesawat terbang 0,0
4. Kereta api 1,9
5. Kapal laut 1,0
6. Sepeda motor 1,5
Pembakaran Stasioner :
1. Batubara 19,4 48,5
2. Minyak 4,8
3. Gas alam (LPG) 23,3
4. Kayu 1,0
Proses industri 1,0
Pembuangan limbah padat 2,9
Lain – lain :
1. Kebakaran hutan 5,8
2. Sisa pembakaran batubara 1,0
3. Pembakaran lahan
pertanian 1,5
4. Pembakaran lain
0,0
100,0 100,0
Sumber : Wardhana ,2004
Sifat racun (Toksisitas ) gas NO² empat kali lebih kuat dari pada toksisitas NO.
Organ tubuh yang paling peka terhadap pencemaran gas NO² adalah paru – paru.
Apabila terkontaminasi, paru –paru akan membengkak sehingga penderita menjadi
sulit bernafas dan dapat menyebabkan kematian. Konsentrasi gas NO tinggi di udara
dapat menyebabkan gangguan pada sistem syaraf dan mengakibatkan kejang –kajang
, bila berlanjut dapat menyebabkan kelumpuhan (Wardhana, 2004).

4.3 Oksida belerang (SO2)

Belerang oksida meliputi belerang di oksida (SO²) dan belerang


trioksida (SO³). Belerang dioksida merupakan gas berbau sangat menyegat. Polutan
senyawa- senyawa belerang paling dominan di daerah perkotaan adalah gas SO² dan
embun asam sulfat. Sumber lain berkaitan dengan kegiatan manusia adalah proses
pembakaran batu bara dan minyak serta proses pembakaran bahan bakar kendaraan
bermotor. Proses – proses tersebut banyak terjadi pada pelemburan bijih logam non
besi, pembangkit tenaga listrik, penyulingan minyak bumi, pembuatan kertas,
semen,tekstil,plastik dan pembuatan karet (prodjosantoso,2011).

44. Partikulat

Partikulat merupakan suspensi padatan dalam udara. Beberapa jenis


partikulat diantaranya asap,debu,jelaga dan abu. Diameter partulat adalah sekitar 10-7
cm sampai beberapa sentimeter. Secara alami partikulat di hasilkan pada proses
letusan gunung berapi , erosi , kebakaran hutan dan penguapan air laut dengan
kandungangaram.

4.5 Hidrokarbon (HC)

Hidrokarbon terdiri elemen hidrogen (H) dan karbon (C). Hidrokarbon


dapat berbentuk gas, cairan maupun padatan.semakin tinggi jumlah atom karbon
pembentukan HC, maka molekul HC cenderung berbentuk padatan. Senyawa HC berupa
gas akan tercampur dengan gas – gas hasil buangan lainnya. Sedangkan bila berupa cair
maka HC akan membentuk semacam kabut minyak ,bila berbentuk padatan akan
membentuk asap yang pekat dan akhirnya menggumpal menjadi debu (Prodjosantoso,
2011).
2.5 Klasifikasi Berdasarkan Efek Toksik
Efek toksik karena suatu senyawa asing (xenobiotik) dapat memberi akibat /
dampak variatif pada makhluk hidup, tergantung target organ, mekanisme aksi,serta
besarnya dosis. Efek toksik dapat berupa lokal maupun sistematik. Efek toksik lokal
adalah akibat kontak pertama kali dengan bagian tubuh, misalnya pada saluran
pencernaan ,bahan korosif pada kulit, serta iritasi gas atau uap pada saluran nafas.
Sedangkan efek toksik sistematik adalah apabila xenobiotik terabsorpsi dan masuk ke
sirkulasi sistematik kemudian terdistribusi ke target organ sasaran dan akan
menimbulkan efek (syam,2016). Beberapa sustansi asing dengan efek toksik lokal dan
sistemik pada tubuh manusia dapat di lihat pada gambar berikut :
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Toksikologi adalah studi mengenai efek-efek yang tidak diinginkan dari zat-zat kimia
terhadap organisme hidup. Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas yang berhubungan
dengan situasi pemaparan (pemajanan) terhadap bahan kimia tertentu adalah jalur masuk ke
dalam tubuh, jangka waktu dan frekuensi pemaparan.

Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap binatang percobaan biasanya dibagi dalam


empat kategori: akut, subakut, subkronik, dan kronik. Untuk manusia pemaparan akut
biasanya terjadi karena suatu kecelakaan atau disengaja, dan pemaparan kronik dialami oleh
para pekerja terutama di lingkungan industri-industri kimia.

3.2 Saran

A. Bagi Dinas kesehatan

Pengawasan makanan dan minuman hendaknya sebelum mengeluarkan nomor


registrasi mengetahui kandungan zat yang ada didalamnya terutama yang
membahayakan kesehatan.

B. Bagi instansi

Hendaknya memberikan informasi kepada khalayak luas tentang bahan kimia


atau zat tambahan yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam makanan dan
minuman yang mengganggu kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad,rukaesih.2004.Kimia Lingkungan.Jakarta:Andi Yogyakarta.

Tresna Sastrawijaya, MSc. 1992.Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta, Jakarta,


1991 Majalah Kesehatan, edisi III.

Mansyur, dakk.2002.Keamanan,Unsur Dan Bidang-Bidang Toksikologi.Fakultas


Kedokteran:Universitas Sumatera Utara.