Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemakaian obat yang semakin meningkat dengan adanya berbagai macam

penyakit baru, menyebabkan beberapa peneliti meningkatkan kinerjanya dalam

pengembangan beberapa obat. Meningkatnya teknologi, serta sulitnya ditemukan zat

aktif yang cocok menyebabkan beberapa obat memiliki harga relatif tinggi. Terlebih

lagi di Indonesia saat ini. Sehingga beberapa masyarakat indonesia lebih memilih

obat-obatan tradisional. Salah satu jenis tanaman yang sering digunakan dalam

pengobatan yaitu tanaman betadine dengan nama latin Jatropha multifida L. Tanaman

tersebut dalam pengobatan sering digunakan dalam obat untuk luka baru.

(Sundaryono. 2016: 403).

Luka dapat sembuh sendiri. Namun, biasanya masih tertinggal bekas luka.

Beberapa jenis salep dapat digunakan dalam mengatasi hal tersebut, seperti salep

bioplasenton.

Salep (Unguents) adalah preparat setengah padat untuk pemakaian luar. Salep

dapat mengandung obat atau tidak mengandung obat (Ansel, 2008: 502). Dalam

pemakaiannya, salep lebih sering digunakan untuk pemakaian topikal, desain yang

cukup minimalis, sehingga memudahkan dalam pemakaiannya. Kulit merupakan

suatu organ besar yang berlapis-lapis, di mana pada orang dewasa beratnya kira-kira

delapan pon, tidak termasuk lemak. Kulit menutupi permukaan lebih dari 20.000 cm2

dan mempunyai bermacam-macam fungsi dan kegunaan. Kulit berfungsi sebagai

pembatas terhadap serangan fisika dan kimia, berfungsi sebagai termostat dalam

mempertahankan suhu tubuh, melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme, sinar

UV, dan berperan pula dalam mengatur tekanan darah. (Lachman, 2008: 1092-1093).
Berdasarkan uraian tersebut, dilakukanlah penilitian ini untuk menentukan

formulasi salep dengan menggunakan ekstrak daun betadine Jatropha multifida L.

Sekaligus uji efek penyembuhan terhadap luka sayat pada kelinci.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan

masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana formulasi dalam pembuatan salep dengan menggunakan ekstrak daun

betadine Jatropha multifida L. sebagai zat aktif ?

2. Apakah salep ekstrak daun betadine Jatropha multifida L. memiliki efek

penyembuhan pada luka sayat pada kelinci ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penilitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui formula pembuatan salep dengan menggunakan ekstrak daun

betadine Jatropha multifida L. sebagai zat aktif

2. Untuk membuktikan salep ekstrak daun betadine Jatropha multifida L. memiliki

efek penyembuhan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Luka

Luka merupakan suatu bentuk kerusakan jaringan pada kulit yang disebabkan

kontak dengan sumber panas (seperti bahan kimia, air panas, api, radiasi, dan listrik),

hasil tindakan medis, maupun perubahan kondisi fisiologis. Luka menyebabkan

gangguan pada fungsi dan struktur anatomi tubuh. Penyembuhan luka merupakan

suatu proses yang kompleks karena adanya kegiatan bioseluler dan biokimia yang

terjadi secara berkesinambungan. Penggabungan respon vaskuler, aktivitas seluler,

dan terbentuknya senyawa kimia sebagai substansi mediator di daerah luka

merupakan komponen yang saling terkait pada proses penyembuhan luka. Ketika

terjadi luka, tubuh memiliki mekanisme untuk mengembalikan komponen komponen

jaringan yang rusak dengan membentuk struktur baru dan fungsional. Proses

penyembuhan luka tidak hanya terbatas pada proses regenerasi yang bersifat lokal,

tetapi juga dipengaruhi oleh faktor endogen, seperti umur, nutrisi, imunologi,

pemakaian obat-obatan, dan kondisi metabolik (Hamzah, 2013: 63)

Proses penyembuhan luka dibagi ke dalam lima tahap, meliputi tahap

homeostasis, inflamasi, migrasi, proliferasi, dan maturasi. Perawatan luka dapat

dilakukan dengan menggunakan terapi pengobatan. Salah satunya adalah

menggunakan selulosa mikrobial yang dapat digunakan untuk luka maupun ulser

kronik. Selulosa mikrobial dapat membantu proses penyembuhan, melindungi luka

dari cedera lebih lanjut, dan mempercepat proses penyembuhan. Selulosa mikrobial

yang diperoleh dari bakteri Acetobacter xylinum menunjukkan potensi yang baik

dalam sistem penyembuhan luka. Kekuatan mekanik yang tinggi dan sifat fisik yang

luar biasa dihasilkan dari struktur nano membran. Metode perawatn luka lainnya
dengan balutan madu untuk pasien trauma dengan luka terbuka, dimana pasien tidak

merasakan nyeri dibandingkan dengan penggunaan balutan normal salinpovidon

iodin. Selain itu dapat juga dilakukan modifikasi sistem vakum dalam perawatan luka.

Pemberian tekanan negatif dapat meningkatkan pengeluaran cairan dari luka,

sehingga dapat mengurangi populasi bakteri dan udema, serta meningkatkan aliran

darah dan pembentukkan jaringan yang tergranulasi. Melalui metode ini, kondisi

pasien dapat ditingkatkan karena memberikan rasa nyaman yang lebih baik sebelum

prosedur operasi. (Purnama, 2012: 252)

Luka merupakan bentuk kerusakan yang terjadi jaringan tubuh. Proses

penyembuhan luka dapat terjadi secara alamiah melalui mekanisme penyembuhan

luka. Proses penyembuhan luka dapat dipercepat dengan melakukan perawatan pada

luka. Selain itu telah dikembangkan teknik terapi gen dengan menggunakan gen yang

spesifik untuk proses penyembuhan luka. Pengembangan juga dilakukan terhadap

formula untuk membantu proses penyembuhan luka, dari pengembangan basis dan

juga pengembangan zat aktif dari herbal. (Naibaho, 2013: 27)

B. Salep

Umumnya salep terdiri dari hidrokarbon cair yang dicampur dalam suatu

kelompok hidrokarbon padat dengan titik leleh yang lebih tinggi. Selama ini basis

salep umumnya adalah minyak mineral dan petrolatum; sebenarnya ada bermacam-

macam jenis basis salep yang dapat dipilih. Polietilen dapat dimasukkan dalam

minyak mineral untuk menghasilkn suatu matriks plastik. Campuran polietilenglikol

dapat menghasilkan produk-produk salep dengan konsisteni yang larut dalam air.

Umumnya salep-salep dibuatn dengan melelehkan komponen-komponen secara

bersamaan. Jika zat padat tersebut tidak larut dan akan disuspensikan, maka cara
yang dilakukan adalah melalui proses penggerusan sehingga zat padat tersebut benar-

benar terdispersi. (Lachman, 2009: 1091).

C. Tanaman Betadine (Jatropha multifida L.)

Jatropha multifida L. berdasarkan pengalaman secara turun temurun banyak

digunakan oleh masyarakat khususnya di Bengkulu untuk menyembukan luka baru,

sehinggga di Bengkulu lebih dikenal dengan tanaman Betadin. Batang tanaman

Betadin telah diteliti dalam menyembuhkan luka dan mempunyai kesetaraan efektif

dengan povidone iodine 10%. Batang tanaman Betadin juga diteliti mampu

mengagulasi darah. Ekstrak etanol batang tanaman Betadin dapat menghambat

pertumbuhan Salmonella typhi. Penelitian menggunakan mencit memberikan

informasi bahwa ekstrak batang tanaman Betadin dapat meningkatkan jumlah

trombosit pada menci normal. Diteliti pula pengaruh ekstra batang tanaman Betadin

terhadap efe teratogen, ternyata ekstrak batang tanama Betadin tidak memberikan

efek cacat pada fetus mencit. (Sundaryono. 2016: 403-404).

Menurut (Steenis. 1947: 248) Klasifikasi daun betadine yaitu :

Kingdom : Plantae

Sub Kingdom : Viridiplantae

Super divisi : Embryopyta

Divisi : Tracheaophyta

Sub Divisi : Spermatophtina

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Malpighiales

Famili : Euphorbiaceae

Genus : Jatropha

Spesies : Jatropha multifida L.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di laboratorium Farmakognosi dan Fitokimia,

Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin

Makassar. Penelitian dimulai pada tanggal 19 September 2018.

B. Sampel

Sampel uji tanaman yang digunakan pada penilitan ini adalah daun betadine

Jatropha multifida L. diperoleh dari daerah Tacipi, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan

(4°30'34.6"S 120°11'07.3"E). Daun di kemas tempat terpisah dari akar dan batang.

Daun yang dipilih yang masih hijau, belum terdapat cacat dan dikirim dalam satu

tangkai utuh.

C. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini ialah alat-alat gelas, timbangan

analitik, oven, blender, ayakan 65 mesh, rangkaian alat soxhlet, evaporator,

waterbath, mortir, sudip, laminar air flow, autoklaf, jarum ose, inkubator, gunting.

Bahan yang digunakaan dalam penelitian ini adalah daun betadine, etanol 95%,

metanol 80%, heksan, kloroform, etil asetat, vaselin album, minyak mineral, adeps

lanae, stearil alkohol, cera alba, natrium lauril sulfat, propilen glikol, PEG 4000, PEG

400, aquades, pH stik universal, H2SO4, BaCl2.2H2O, NaCl, hewan uji kelinci,

nutrient agar (NA) dan bakteri uji Staphylococcus aureus.

D. Ekstraksi daun betadine

200 gram sampel (serbuk daun) dimaserasi selama 24 jam menggunakan

pelarut metanol 80%, kemudian filtrat yang dihasilkan ditampung dan dipekatkan

dengan menggunakan rotary evaporator. Selanjutnya hasil pemekatan dipartisi


berurut-turut dengan menggunakan 3 pelarut, yaiotu heksan, kloroform, dan etil

asetat. (Indrayani. 2006: 58)

E. Formula Salep

Formula standar basis salep menurut Agoes (2008) seperti pada lampiran 1.

Salep ekstrak daun betadine yang akan dibuat dalam penelitian ini memiliki

konsentrasi yang sama yaitu 10% sebanyak 25 g untuk pemakaian 3 kali dalam sehari

selama 9 hari.

1. Salep ekstrak daun Betadine dengan basis hidrokarbon

R/ Ekstrak daun Betadine 2,5 g

Basis salep 22,5 g

m.f. salep 25 g

2. Salep ekstrak daun Betadine dengan basis absorpsi

R/ Ekstrak daun Betadine 2,5 g

Basis salep 22,5 g

m.f. salep 25 g

3. Salep ekstrak daun Betadine dengan basis tercuci air

R/ Ekstrak daun Betadine 2,5 g

Basis salep 22,5 g

m.f. salep 25 g

4. Salep ekstrak daun Betadine dengan basis larut air

R/ Ekstrak daun Betadine 2,5 g

Basis salep 22,5 g

m.f. salep 25 g

F. Evaluasi Sediaan Salep Ekstrak Daun Betadine

1. Uji organoleptik
Pengujian organoleptik dilakukan dengan mengamati sediaan salep dari bentuk,

bau, dan warna sediaan

2. Uji pH salep

Sebanyak 0,5 g salep ektrak daun Betadine diencerkan dengan 5 ml aquades,

kemudian pH stik dicelupkan selama 1 menit. Perubahan warna yang terjadi pada

pH stik menunjukkan nilai pH dari salep.

3. Uji homogenitas

Sediaan salep pada bagian atas, tengah, dan bawah diambil kemudian diletakkan

pada plat kaca lalu digosok dan diraba.

4. Uji daya sebar

Sebanyak 0,5 gr salep diletakkan diatas kaca bulat yang berdiameter 15 cm, kaca

lainnya diletakkan diatasnya dan dibiarkan selama 1 menit. Diameter sebar salep

diukur. Setelahnya, ditambahkan 100 gr beban tambahan dan didiamkan selama 1

menit lalu diukur diameter yang konstan

G. Pembuatan Suspensi Bakteri

Bakteri S.aureus dari biakan media NA diambil sebanyak 1 ose dan

dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi NaCl 0,9% secara aseptis, dikocok

hingga homogen kemudian disetarakan kekeruhannya dengan larutan Mc. Farland.

H. Pengujian Efektivitas pada Kulit Punggung Kelinci

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelinci sebanyak 4 ekor

dengan berat badan 1,5-2 kg, diaklimatisasi selama 5 hari agar terbiasa dengan

lingkungan yang baru dan ditempatkan pada kandang serta diberi makanan yang

cukup. Bulu kelinci dicukur pada 3 lokasi di punggung kelinci dengan jarak ±1 cm

kemudian. suspensi bakteri S. Aureus disuntikkan sebanyak 0,1 ml pada masing-

masing lokasi. Waktu penyembuhan infeksi diamati berdasarkan hilangnya eritema


dan nanah setelah pemberian ± 0,5 g sediaan salep ekstrak daun Betadine. Pengolesan

salep dilakukan 3 kali sehari.


DAFTAR PUSTAKA

Ansel. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat. UI Press: Jakarta

Hamzah. 2013. FORMULASI SALEP EKSTRAK ETANOL DAUN NANGKA (Artocarpus

heterophyllus Lam.) dan UJI EFEKTIVITAS TERHADAP PENYEMBUHAN

LUKA TERBUKA PADA KELINCI. Jurnal Ilmiah Farmasi ISSN 2302 – 2493

Agustus 2013

Lachman. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri. UI Press: Jakarta

Naibaho. 2013. PENGARUH BASIS SALEP TERHADAP FORMULASI SEDIAAN SALEP

EKSTRAK DAUN KEMANGI ( Ocimum sanctum L.) PADA KULIT PUNGGUNG

KELINCI YANG DIBUAT INFEKSI Staphylococcus aureus. Jurnal Ilmiah

Farmasi – UNSRAT Vol. 2 No. 02 Mei 2013 ISSN 2302 – 2493

Purnama. 2012. REVIEW SISTEMATIK: PROSES PENYEMBUHAN DAN PERAWATAN

LUKA. Suplemen Volume 15 Nomor 2

Sundaryono. 2016. POTENSI EKSTRAK DAUN TANAMAN BETADIN UNTUK

MENINGKATKAN JUMLAH TROMBOSIT PENDERITA DBD MELALUI UJI

TERHADAP MUS MUSCULUS. Seminar nasional pendidikan sains: Yogyakarta.


LAMPIRAN 1

SKEMA KERJA

1. Ekstraksi daun betadine

200 g sampel (serbuk


daun) + metanol 80%

Dimaserasi (24 jam)

filtrat ditampung dan


dipekatkan

Rotary evaporator

dipartisi 3 pelarut (heksan,


kloroform, dan etilasetat

2. Evaluasi salep

a. Uji organoleptik

Salep ekstrak
daun betadine

Diamati bentuk,
bau dan warn

b. Uji pH salep
0,5 g salep ekstrak
daun betadin

+ 5ml aquadest

pH stik dicelupkan
(1 menit)

amati perubahan
warna pada pH stik
c. Uji homogenitas

sediaan salep bagian


atas, tengah, dan bawah

diletakkan plat kaca

digosok dan diraba

d. Uji daya sebar

0,5 g salep

diletakkan kaca bulat


(diameter 15 cm)

dibiarkan selama 1
menit

diameter sebar salep


diukur

+ 100 g beban

diamkan 1 menit

diukur diameter
konstan
3. Pembuatan suspensi bakteri

Bakteri S.aureus media NA

1 ose dimasukkan dalam


tabung reaksi berisi NaCl 0,9%

dikocok hingga homogen


4. Pengujian Efektivitas pada Kulit Punggung Kelinci

Bulu kelinci dicukur 3 lokasi


punggung jarak 1 cm

suspensi bakteri disuntikkan 0,1


ml pada masing-masing lokasi

diolesi salep tiap 3x sehari

penyembuhan ditandai
hilangnya eritema dan nanah

setelah pemberian o,5g salep


ekstrak betadin
LAMPIRAN 2

PETA LOKASI SAMPEL