Anda di halaman 1dari 20

Nilai :

LAPORAN PRAKTIKUM
SATUAN OPERASI INDUSTRI
(Pengentalan dan Penguapan Produk Pertanian Cair)

Oleh :

Nama : Renita Nur Trisdiana


NPM : 240110120026
Hari, Tanggal Praktikum: Kamis, 22 Mei 2014
Waktu : 12.30 – 15.00 WIB
Co. Ass : Novriana Ekatama

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES


TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ada berbagai cara yang dilakukan agar produk pertanian dapat digunakan
dalam jangka waktu yang lama. Hal tersebut dilakukan karena adanya perbedaan
sifat fisik ataupun kimiawi dari produk pertanian atau pangan tersebut. salah satu
proses pengawetan yang dilakukan adalah pengentalan produk pertanian.
Pengentalan merupakan salah satu proses pengawetan produk pangan dengan
pengaturan kandungan air, intinya adalah menurunkan aktifitas air produk
tersebut. Aktifitas air (Aw) suatu produk pangan akan mempengaruhi kehidupan
mikroorganisme pada produk tersebut. Proses ini intensif digunakan pada industri
pengolahan dairy products misalnya pada industri gula untuk mengentalkan
larutan gula guna proses kristalisasi.
Pada saat proses pengentalan terjadi penguapan dari produk pertanian yang
menyebabkan kedua proses ini berkaitan satu sama lain. Untuk itu dilakukan
pengamatan dan praktikum pengentalan dan penguapan produk pertanian cair agar
mahasiswa dapat mengaplikasikan dan menerapkannya dalam bidang pertanian.

1.2 Tujuan
Tujuan dilakukan praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.2.1 Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Mahasiswa dapat mempelajari pengentalan dan penguapan dalam unit
operasi industri hasil pertanian
1.2.2 Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
1. Mempelajari perubahan titik didih produk pertanian selama pemanasan
dan penguapan
2. Mempelajari laju perpindahan panas dan laju penguapan produk cair
selama pemanasan dan penguapan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengentalan
Pengentalan merupakan proses untuk menghilangkan sebagian air pada
produk pangan cair. Tujuan pengentalan adalah mengurangi sejumlah air sehingga
menurunkan volume produk. Dengan turunnya volume produk pangan ini, maka
akan memudahkan transportasi dan penyimpanan.
Pengentalan dilakukan dengan menaikkan suhu produk sampai titik didihnya
dengan lama tertentu. Untuk produk pangan yang sensitive terhadap panas, maka
pengentalan dapat dilakukan dengan tekanan vakum. Pengentalan adalah proses
penghilangan sebagian air dari suatu suspensi dengan proses pendidihan, biasanya
dilakukan dengan alat yang disebut evaporator.
Proses ini intensif digunakan pada industri pengolahan dairy products
misalnya pada proses pengentalan susu, pada industri jus untuk menghasilkan jus
kental, pada pada industri gula untuk mengentalkan larutan gula guna proses
kristalisasi. Proses pengentalan ini kadang juga digunakan untuk menaikkan
kandungan padatan persiapan untuk proses pengeringan semprot atau pengeringan
beku. Pada proses pemekatan didalam evaporator, pertama panas latent medium
pemanas dipindahkan ke bahan untuk menaikkan suhu bahan menuju ke titik
didihnya.
Empat komponen utama alat pengental (evaporator) adalah:
a) tabung evaporator,
b) sumber panas,
c) kondensor dan
d) metode untuk membuat vakum.

2.2 Penguapan (Evaporasi)


Evaporasi secara umum dapat didefinisikan dalam dua kondisi, yaitu: (1)
evaporasi yang berarti proses penguapan yang terjadi secara alami, dan (2)
evaporasi yang dimaknai dengan proses penguapan yang timbul akibat diberikan
uap panas (steam) dalam suatu peralatan.Evaporasi dapat diartikan sebagai proses
penguapan daripada liquid (cairan) dengan penambahan panas.
Panas dapat disuplai dengan berbagai cara, diantaranya secara alami dan
penambahan steam. Evaporasi diadasarkan pada proses pendidihan secara
intensif yaitu:
(1) pemberian panas ke dalam cairan,
(2) pembentukan gelembung-gelembung (bubbles) akibat uap,
(3) pemisahan uap dari cairan, dan
(4) mengkondensasikan uapnya.
Evaporasi atau penguapan juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan kalor
ke dalam zat cair mendidih. Perbedaan evaporasi dengan metode pengeringan
vakum ada pada tujuan pengolahan, produk yang dikeringkan dan hasil akhirnya.
Produk akhir evaporasi adalah liquid terkonsentrasi, bukan solid. Uap air
digunakan sebagai pengubah fasa saat mengkonsentrasi komponen yang tidak
tahan panas seperti protein dan gula. Panas diberikan pada larutan dan sebagian
dari solvent berubah menjadi uap. Proses evaporasi berlangsung pada temperatur
tinggi dengan tekanan yang rendah.
Dalam proses evaporasi, sisa dari proses tersebut (fase yang ditinggalkan)
adalah zat cair (kadang-kadang zat cair yang sangat viskos). Dalam proses
pengeringan, sisa dari proses tersebut adalah zat padat.
Pada evaporasi, cairan yang diuapkan dalam kuantitas relatif banyak,
sedangkan pada pengeringan sedikit. Dengan alat pengering vacuum, sebagian air
dari bahan pangan pangan akan dihilangkan dengan cara diuapkan, sehingga kadar
air seimbang dengan kondisi udara normal atau setara dengan nilai aktifitas air
(Aw) yang aman dari kerusakan mikrobiologis, enzimats dan kimiawi.

2.3 Evaporator
Evaporator adalah alat yang banyak digunakan dalam industri kimia untuk
memekatkan suatu larutan. Pada proses fisik, evaporator memerlukan energi untuk
mengubah cair menjadi uap. Evaporator menggunakan proses penguapan untuk
menurunkan pelarut, evaporator membutuhkan panas dalam pengoperasiannya.
salah satu sumber panas untuk evaporator berasal dari uap air yang terbentuk dari
boiler steam atau buangan uap proses lain
Rotary vacuum evaporator adalah instrumen yang menggunakan prinsip
destilasi (pemisahan). Prinsip utama dalam instrumen ini terletak pada penurunan
tekanan pada labu alas bulat dan pemutaran labu alas bulat hingga berguna agar
pelarut dapat menguap lebih cepat dibawah titik didihnya. Instrumen ini lebih
disukai, karena hasil yang diperoleh sangatlah akurat. Bila dibandingkan dengan
teknik pemisahan lainnya, misalnya menggunakan teknik pemisahan biasa yang
menggunakan metode penguapan menggunakan oven. Maka bisa dikatakan bahwa
instrumen ini akan jauh lebih unggul. Karena pada instrumen ini memiliki suatu
teknik yang berbeda dengan teknik pemisahan yang lainnya.
Dan teknik yang digunakan dalam rotary vakum evaporator ini bukan
hanya terletak pada pemanasannya tapi dengan menurunkan tekanan pada labu
alas bulat dan memutar labu alas bulat dengan kecepatan tertentu. Karena teknik
itulah, sehingga suatu pelarut akan menguap dan senyawa yang larut dalam
pelarut tersebut tidak ikut menguap namun mengendap. Dan dengan pemanasan
dibawah titik didih pelarut, sehingga senyawa yang terkandung dalam pelarut
tidak rusak oleh suhu tinggi.
Prinsip-prinsip Evaporasi ialah :
1. Penguapan atau evaporasi merupakan perubahan wujud zat dari cair menjadi
uap.
2. Penguapan betujuan memisahkan pelarut (solvent) dari larutan sehingga
menghsilkan larutan yang lebih pekat.
3. Evaporasi merupakan proses pemisahan terroal, dipakani secara luas untuk
merekatkan cairan dalam bentuk larutan, suspensi maupun emulsi dengan cara
menguapkan pelarutnya, umumnya air dan cairan.
4. Evaporasi menghasilkan cairan yang lebih pekat, tetapi masih berupa cairan
pekat yang dapat dipompa sebagai hasil utama, reaksi kadang-kadang ada pula
cairan volatile sebagai hasil utama, misalnya selama pemulihan pelarut.
Gambar 1. Rangkaian Alat Evaporator
Sumber : http://akbarcules46.blogspot.com/2012/06/instrumen-evaporator.html

1. Hot plate : berfungsi untuk mengatur suhu pada waterbath dengan temperatur
yang diinginkan (tergantung titik didih dari pelarut)
2. Waterbath : sebagai wadah air yang dipanaskan oleh hot plate untuk labu alas
yang berisi “sampel”
3. Ujung rotor “sampel” : berfungsi sebagai tempat labu alas bulat sampel
bergantung.
4. Lubang kondensor : berfungsi pintu masuk bagi air kedalam kondensor yang
airnya disedot oleh pompa vakum.
5. Kondensor : serfungsi sebagai pendingin yang mempercepat proses
perubahan fasa, dari fasa gas ke fasa cair.
6. Lubang kondensor : berfungsi pintu keluar bagi air dari dalam kondensor.
7. Labu alas bulat penampung : berfungsi sebagai wadah bagi penampung
pelarut.
8. Ujung rotor “penampung” : berfungsi sebagai tempat labu alas bulat
penampung bergantung.

2.4 Titik Didih


Suhu dimana cairan mendidih dinamakan titik didih. Jadi, titik didih
adalah temperatur dimana tekanan uap sama dengan tekanan atmosfer. Selama
gelembung terbentuk dalam cairan, berarti selam cairan mendidih, tekanan uap
sama dengan tekanan atmosfer, karena tekanan uap adalah konstan maka suhu dan
cairan yang mendidih akan tetap sama. Penambahan kecepatan panas yang
diberikan pada cairan yang mendidih hanya menyebabkan terbentuknya
gelembung uap air lebih cepat. Cairan akan lebih cepat mendidih, tapi suhu didih
tidak naik. Jelas bahwa titik didih cairan tergantung dari besarnya tekanan
atmosfer (Brady, 1999 : 540).
Titik didih merupakan satu sifat lagi yang dapat digunakan untuk
memperkirakan secara tak langsung berapa kuatnya gaya tarik antara molekul
dalam cairan. Cairan yang gaya tarik antar molekulnya kkuat, titik didihnya tinggi
dan sebaliknya bila gaya tarik lemah, titik didihnya rendah (Brady, 1999 : 541).
Pendidihan merupakan hal yang sangat khusus dari penguapan.
Pendidihan adalah pelepasan cairan dari tempat terbuka ke fase uap. Suatu cairan
dikatakan mendidih pada titik didihnya, yaitu bila suhu dimana tekanan uap cairan
sama dengan tekanan atmosfer sekitarnya. Pada titik didih, tekanan uap cairan
cukup besar sehingga atmosfer dapat diatasi hingga gelembung uap dapat
terbentuk dipermukaan cairan yang diikuti penguapan yang terjadi di setiap titik
dalam cairan. Pada umumnya, molekul dapat menguap bila dua persyaratan
dipenuhi, yaitu molekul harus cukup tenaga kinetik dan harus cukup dekat dengan
batas antara cairan-uap.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Batang pengaduk
2. Kompor listrik
3. Gelas ukur
4. Termometer air raksa
5. Timbangan digital
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut ;
1. Air
2. Gula pasir

3.2 Prosedur Praktikum


3.2.1 Percobaan A
Prosedur pengukuran perubahan kenaikan suhu titik didih dengan
penambahan konsentrasi adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan gelas ukur dan memasukkan 400 mL air murni ke dalam
gelas ukur.
2. Memanaskan gelas ukur yang berisi air di atas pemanas sampai mencapai
titik didihnya dan melakukan pengukuran suhu titik didih pelarut murni
3. Menimbang berat gula pasir yang akan dilarutkan
4. Melarutkan gula pasir dalam gelas ukur yang berisi 400 mL air dengan
konsentrasi masing – masing 0%, 5%, 15%, 30%, 50%, dan 70%.
5. Mengukur suhu titik didih larutan setiap kali penambahan gula pasir
6. Mengusahakan volume larutan konstan, bila perlu menambahkan air murni
untuk mengganti volume air yang teruapkan.
3.2.2 Percobaan B
Prosedur pengukuran laju penguapan dan laju perpindahan panas adalah
sebagai berikut :
1. Memanaskan lebih lanjut tabung Erlenmeyer yang berisi larutan dengan
konsentrasi 70% (Percobaan A)
2. Mencatat suhu larutan setiap 3 menit sampai 15 menit dan mengukur
volume cairan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Percobaan A
Tabel 1. Data Kenaikan Titik Didih dengan Konsentrasi Tertentu
No Berat Konsentrasi Titik Kenaikan Molalitas Tb (K) Tc (K)
Gula (%) Didih Titik Didih
(gram) (oC) (oC)
1 0 0 93 0 0 0,02 366
2 3.6 5 92,8 0,2 0,05 0,02 366,02
3 7.2 15 92 1 0,1 0,049 366,05
4 21.6 30 92 1 0,3 0,15 366,15
5 1 50 92 1 0,5 0,25 366,25
6 50.4 70 91 2 0,7 0,36 366,36

1. Perhitungan gula yang ditambahkan (C6H12O6) , Mr =180


Rumus yang digunakan :
Vpelarut
gram terlarut = × C × Mr
1000mL
400
g 0% = × 0 × 180 = 0 gram
1000
400
g 5% = × 0,05 × 180 = 3,6 gram
1000
400
g10% = × 0,15 × 180 = 7,2 gram
1000
400
g 30% = × 0,3 × 180 = 21.6 gram
1000
400
g 50% = × 0,5 × 180 = 36,0 gram
1000
400
g 70% = × 0,7 × 180 = 50,4 gram
1000
2. Perhitungan Molalitas Larutan (m)
Rumus yang digunakan ;
gram terlarut 1000
m= ×
Mr gula gram pelarut
0 1000
m0 = × = 0 mol
180 400
3,6 1000
m5 = × = 0,05 mol
180 400
7,2 1000
m10 = × = 0,1 mol
180 400
21,6 1000
m30 = × = 0,3 mol
180 400
36 1000
m50 = × = 0,5 mol
180 400
50,4 1000
m70 = × = 0,7 mol
180 400

3. Perhitungan ∆𝑇𝑏 tiap konsentrasi larutan


Rumus yang digunakan :
Rg (TAO )2 Ma ∙ m
∆Tb =
Hu ∙ 1000
8,314 j⁄mol. K (371)2 ∙ 18 ∙ 0
∆Tb0 = =0K
4,0264 × 104 J⁄mol ∙ 1000
8,314 j⁄mol. K (366)2 ∙ 18 ∙ 0,05
∆Tb5 = = 0,025 K
4,0264 × 104 J⁄mol ∙ 1000
8,314 j⁄mol. K (366)2 ∙ 18 ∙ 0,1
∆Tb10 = = 0,049 K
4,0264 × 104 J⁄mol ∙ 1000
8,314 j⁄mol. K (371)2 ∙ 18 ∙ 0,3
∆Tb30 = = 0,148 K
4,0264 × 104 J⁄mol ∙ 1000
8,314 j⁄mol. K (371)2 ∙ 18 ∙ 0,5
∆Tb50 = = 0,246 K
4,0264 × 104 J⁄mol ∙ 1000
8,314 j⁄mol. K (371)2 ∙ 18 ∙ 0,7
∆Tb0 = = 0,345 K
4,0264 × 104 J⁄mol ∙ 1000
4. Perhitungan Tc
Rumus yang digunakan :
Tc = Ta0 + ∆Tb
Tc0 = 366 + 0 = 366 K
Tc5 = 366 + 0,02 = 366,02 K
Tc10 = 366 + 0,05 = 366,05 K
Tc30 = 366 + 0,15 = 366,15 K
Tc50 = 366 + 0,25 = 366,25 K
Tc70 = 366 + 0,36 = 366,36 K

Grafik Suhu terhadap Konsentrasi


80
70
Konsentrasi (%)

60
50
y = 190.23x - 69622
40
R² = 0.9953
30
20
10
0
365.9 366 366.1 366.2 366.3 366.4
Tc (K)

Grafik 1. Grafik Tc Perhitungan Terhadap Konsentrasi

Grafik Suhu terhadap Konsentrasi


80
70
Konsentrasi (%)

60 y = -35x + 3253
50 R² = 0.8312
40
30
20
10
0
90.5 91 91.5 92 92.5 93 93.5
Tc pengukuran (celcius)

Grafik 2. Grafik Tc Pengukuran Terhadap Konsentrasi


4.1.2 Percobaan B
Tabel 2. Data Pengukuran Laju Penguapan dan Perpindahan Panas
No Waktu Konsentrasi Suhu Titik Perubahan Volume
(menit) Larutan Gula Didih Massa (ml)
(%) (oC) (Gram)
1 0 93,3 91,5 0 300
2 3 93,3 92 0 300
3 6 94 92 5 295
4 9 100 92 15 280
5 12 112 92 30 250
6 15 116,4 92 10 240

1. Perhitungan Konsentrasi Larutan


Rumus yang digunakan:
berat gula × 1000mL
C=
vol larutan × Mr
50,4 × 1000
C0 = × 100% = 93,3%
300 × 180
50,4 × 1000
3= × 100% = 93,3%
300 × 180
50,4 × 1000
C6 = × 100% = 94%
295 × 180
50,4 × 1000
C9 = × 100% = 100%
280 × 180
50,4 × 1000
C12 = × 100% = 112%
250 × 180
50,4 × 1000
C15 = × 100% = 116,4%
240 × 180

2. Perhitungan laju Penguapan pada larutan (qu)


Rumus yang digunakann :
∆m
qu = Hu ∙
∆T
= hu ∙ b
= 2257 × 1,42 = 3204,94 kJ/menit
Grafik Waktu terhadap Perubahan Massa
35
y = 1.4286x - 0.7143
30
R² = 0.4945
PErubahan Massa (mL)

25
20
15
10
5
0
-5 0 5 10 15 20
Waktu (menit)

Grafik 3. Grafik Waktu Terhadap Perubahan Massa

3. Perhitungan laju Perpindahan Panas (qc)

Grafik Waktu terhadap Suhu


92.2
92.1 y = 0.0238x + 91.738
R² = 0.4286
92
Suhu (celcius)

91.9
91.8
91.7
91.6
91.5
91.4
0 5 10 15 20
Waktu (menit)

Grafik 4. Grafik Waktu Terhadap Suhu Titik Didih

Rumus yang digunakan :


∆T
qc = m ∙ Cp ∙
∆t
= m ∙ Cp ∙ b
= 50,4 × 4,180 × 0,024 = 0,03 𝑘𝐽/𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
4. Perhitungan Laju Pindah Panas Keseluruhan
qv = qu + qc
= 3204,94 kJ/mnt + 0,03 kJ/mnt
= 3204,97 kJ/menit
BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini praktikan melakukan pengamatan dan pengukuran


mengenai pengentalan dan penguapan produk pertanian cair. Bahan yang
digunakan sebagai sampel yang pada praktikum ini adalah gula pasir. Sejumlah
gula pasir yang telah ditimbang massanya dimasukkan ke dalam gelas ukur yang
berisi air.
Dari kegiatan tersebut terjadi proses perubahan suhu titik didih setiap kali
penambahan gula dilakukan. Data pengukuran yang didapatkan menunjukkan
bahwa terjadi penurunan suhu titik didih ketika dilakukan penambahan gula.
Awal larutan dengan konsentrasi 0 %, suhu titik didih mencapai 93 oC. Pada
saat penambahan 3,6 gram gula dengan peningkatan konsentrasi 5 %, suhu titik
didih turun menjadi 92,8oC sampai pada penambahan dengan konsentrasi 70 %
suhu titik didih menurun diangka 91oC. Hal ini dapat dilihat dari grafik yang
didapatkan tidak linier, terlihat dari beberapa titik terdapat penurunan dan garis
linear lurus kemudian turun kembali.
Sedangkan dari perhitungan yang dilakukan menunjukkan bahwa seharusnya
suhu titik didih pengamatan tersebut konstan dan mengalami kenaikan secara
terus menerus. Hal ini terlihat dari perhitungan suhu titik didih yang mengalami
peningkatan dari 366 K menjadi 366,36 K pada konsentrasi terakhir atau 70 %.
Menurut literatur, penambahan konsentrasi larutan akan meningkatkan titik didih
larutan karena menurunkan tekanan uap larutan.
Ketika proses pengentalan berlangsung, proses perpindahan panas terjadi dan
berpindah dari pemanas ke gelas ukur yang menyebabkan air dalam gelas tersebut
mendidih pada titik didih tertentu dan mengeluarkan uap sehingga volume air
dalam gelas ukur mengalami pengurangan karena sebagian dari air tersebut
teruapkan ke atmosfer.
Pengurangan volume yang terjadi selama 15 menit yaitu sekitar 60 mL dari
volume awal 300 mL. Perubahan massa yang terbesar terjadi pada menit ke 12,
dimana perubahan massanya ialah 30 mL. Hal ini dapat ditunjukkan oleh grafik
laju penguapan yang cukup linier. Total laju penguapan yang diperoleh dari
pengamatan ini yaitu sebesar 3204,97 kJ/menit.
Kesalahan-kesalahan dalam pembacaan dapat menyebabkan ketidakakuratan
data yang diperoleh. Selain itu, cara membaca termometer juga harus
diperhatikan. Meniskus untuk air dan raksa sangat berbeda, apabila cairan berisi
air maka cara membacanya dengan menggunakan meniskus cekung dan bila
cairan berisi air raksa, maka meniskus cembung yang digunakan. Selain itu
pengaruh dari suhu luar gelas ukur dapat menyebabkan suhu larutan relatif tidak
konstan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Proses pengentalan merupakan salah satu bentuk pengawetan dari produk
pangan dengan menguragi kandungan air dari bahan
2. Seharusnya penambahan larutan akan meningkatkan titik didih larutan
karena menurunkan tekanan uap larutan.
3. Terjadi penurunan suhu titik didih ketika dilakukan penambahan gula.
4. Volume air terus mengalami penurunan ketika dipanaskan karena sebagian
dari air diuapkan ke atmosfer.

6.2 Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan adapun saran dari penyusun
adalah sebagai berikut ;
1. Sebaiknya praktikan memahami terlebih dahulu materi praktikum yang
akan dilakukan.
2. Memasang termometer pada bagian tengah labu agar suhu yang
didapatkan lebih akurat.
3. Gunakan metode meniskus untuk pembacaan yang akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Akbar. 2012. Instrumen Evaporator. Available at : http://akbarcul es46


.blogspot .com/2012/06/instrumen-evaporator.html. Diakses pada tanggal
29 Mei 2014 pukul 22.15 WIB

Agustina, Nurul. 2012. Teknik Pangan. Available at : http://nurulagus


tinac.wordpress.co m/2012/01/17/teknik-pangan/ . Diakses pada tanggal
29 Mei 2014 pukul 22.15 WIB

Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara.


Bandung

Dina. 2012. Laporan Praktikum Kenaikan Titik Didih. Available at : http ://mizu
c.blogs pot.com/20 12/06/laporan-pra ktikum-kenaikan-titik-didih.html.
Diakses pada tanggal 29 Mei 2014 pukul 22.04 WIB

Hartati, Syofia. 2011. Proses Pengentalan Pangan. Available at


:http://syofiahartati agriculture.blogspot.com /2011/03/proses-pen
gentalan-pangan-1.html Diakses pada tanggal 29 Mei 2013 pukul 22.15
WIB
LAMPIRAN

Gambar 1. Bahan Praktikum Gambar 2. Pencampuran gula


dengan air

Gambar 3. Pemanasan larutan Gambar 4. Pengukuran suhu