Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan epidemi HIV-AIDS di dunia telah menjadi masalah global

termasuk di Indonesia. Infeksi menular seksual merupakan salah satu penyebab

masalah kesehatan, sosial dan ekonomi di banyak negara serta merupakan salah satu

pintu masuk HIV. Keberadaan infeksi menular seksual telah menimbulkan pengaruh

besar dalam pengendalian HIVAIDS. Pada saat yang sama, timbul peningkatan

kejadian resistensi kuman penyebab infeksi menular seksual terhadap beberapa

antimikroba, yang akan menambah masalah dalam pengobatan infeksi menular

seksual.1,2

Lebih dari 30 jenis patogen dapat ditularkan melalui hubungan seksual dengan

manifestasi klinis bervariasi menurut jenis kelamin dan umur.Meskipun infeksi

menular seksual (IMS) terutama ditularkan melalui hubungan seksual, namun

penularan dapat juga terjadi dari ibu kepada janin dalam kandungan atau saat

kelahiran, melalui produk darah atau transfer jaringan yang telah tercemar, kadang-

kadang dapat ditularkan melalui alat kesehatan.Infeksi alat reproduksi dapat

menurunkan fertilitas, mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu kehidupan

seks.2

Sindroma discharge (duh) genital merupakan gejala yang paling sering

ditemukan pada penderita infeksi ginekologi atau disebut juga leukore (keputihan).

Leukore (white discharge, flour albus) adalah gejala penyakit yang ditandai oleh

keluarnya cairan dari organ reproduksi, dan bukan berupa darah.Keputihan adalah

1
salah satu alasan yang paling sering mengapa perempuan memeriksakan diri ke

dokter, khususnya dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan.Leukore dapat

dibedakan antara yang fisiologik dan patologik.Penyebab paling penting dari leukore

patologik adalah infeksi.Disini cairan mengandung banyak sel darah putih dan

warnanya kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Organ

yang paling sering terkena infeksi adalah vulva, vagina, leher rahim, dan rongga

rahim.1,2

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Sindroma Discharge Genital adalah sekelompok penyakit infeksi menular

seksual yang muncul pada genitalia yang memberikan gejala keluarnya cairan putih

hingga kekuningan melalui saluran genitalia.1

2.2 Epidemiologi

WHO memperkirakan terdapat 340 juta kasus baru IMS (Infeksi Menular

Seksual) per tahun terjadi di dunia (gonore, klamidia, sifilis, dan trikomoniasis) dan

tercatat kasus infeksi HIV saat ini lebih dari 33,6 juta kasus. Kasus IMS di Amerika

Serikat (AS) tercatat sebanyak 12 juta kasus per tahun, dimana 3 juta diantaranya

(25%) menyerang usia produktif. Studi prevalensi pada pusat 13 rehabilitasi narkoba

AS menemukan IMS terbanyak antara lain trikomoniasis (43%), vaginosis bakterial

(40-50%), kandidiasis (20 – 25%).2

Gonore dapat ditemukan di seluruh dunia, mengenai pria dan wanita pada

semua usia terutama kelompok dewasa muda dengan aktivitas seksual yang tinggi.

Gonore pada umumnya ditularkan melalui hubungan seks baik secara genito-genital,

oro-genital, dan anogenital. Di samping itu penularan juga dapat terjadi secara

manual melalui alat-alat, pakaian, handuk, termometer, serta penularan ibu kepada

bayi saat melalui jalan lahir yang manifestasinya dapat berupa infeksi pada mata yang

3
dikenal dengan blenorrhea. Penularan dari pria ke wanita lebih sering karena adanya

retensi ejakulat yang terinfeksi di dalam vagina. Pada pria umumnya menyebabkan

ureteritis akut sementara pada wanita menyebabkan servisitis yang biasanya

asimptomatis.3

2.3 Etiologi dan Faktor Risiko4

a. Fisiologis :

Discharge fisiologis disebabkan oleh adanya flora vagina normal yaitu

Lactobasillus acidophilus yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh.

Kualitas dan kuantitasnya berubah-ubah, dipengaruhi oleh usia, hormon, dan

faktor lokal misalnya menstruasi dan kondisi pasca melahirkan

b. Abnormal

1) Kandidiasis vulvovaginal : 27%

2) Vaginosis bakterialis : 21%

3) Trikomoniasis : 8%

4) Chlamydia trachomatis : 2%

5) Neisseria gonorrhea : 1%

6) Penyebab non-infeksi : 34%

a) Iritasi bahan kimia (misalnya sabun, spermisida, pembalut, dll.)

b) Trauma fisik

c) Alergi dan dermatitis kontak

7) Penyebab lain yang lebih jarang adalah;

a) Polip servikalis dan neoplasma lain

4
b) Tampon yang tidak diganti.

c) Fistula

Adapun faktor risiko teradinya sindrom duh genital antara lain:

1. Neisseria ghonorrhae :

Status sosial ekonomi yang rendah, homoseksual, heteroseksual, biseksual,

adanya riwayat infeksi Neisseria gonorrhoeaea sebelumnya, serta

pengobatan gonore dengan antibiotik yang tidak adekuat.

2. Vaginosis bakterialis

Pasangan seksual, bilas vagina, ras Afrika, perokok, infeksi panggul pasca

abortus, komplikasi pada wanita hamil atau yang menderita penyakit

ginekologis lain

3. Candida sp. :

Karier/genetik, kehamilan, diabetes, AIDS, penggunaan steroid dan

antibiotic, seks oral, pemakaian kondom, diafragma, spermisida, serta

kontrasepsi oral

4. Trichomonas vaginalis

Kemiskinan dan aktivitas seksual

5. Chlamydia trachomatis

Faktor risiko untuk terjadinya infeksi klamidia trakomatis pada wanita

seksual aktif termasuk usia muda (usia 15-24 tahun), melakukan hubungan

seksual pada usia muda, memiliki lebih dari 1 partner seksual, adanya partner

seks yang baru, tidak menikah, ras kulit hitam, mempunyai riwayat atau

5
sedang menderita penyakit menular seksual, riwayat keguguran, riwayat

infeksi saluran kemih, servikal ektopik, dan penggunaan tidak teratur dari

kontrasepsi barrier.

2.4 Patogenesis5

1. Gonore

Infeksi gonore umumnya terbatas pada permukaan mukosa superfisialis

yang berlapis epitel silindris dan kubis. Epitel skuamosa yang terdapat pada

vagina dewasa umumnya tidak rentan terhadap infeksi N.gonorrhea. 5

Bakteri melekat pada sel epitel kolumnar, kemudian melakukan penetrasi

dan multiplikasi di basement membrane (diperantarai melalui fimbrae dan

protein Opa)  melekat pada mikrovili (tidak pada silia)  bakteri dikelilingi

mikrovili yang akan menariknya ke permukaan sel mukosa. Bakteri masuk ke sel

epitel melalui proses parasite –directed endocytosis.  membran sel mukosa

membentuk vakuola berisi bakteri  ditransportasikan ke dasar sel  eksositosis

ke dalam jaringan subepitelial. POR memperantarai penetrasi ke dalam sel

hospes. infeksi gonokokus  produk ekstraseluler (fosfolipase, peptidase) &

LOS dan peptidoglikan mengaktivasi jalur komplemen hospes | LOS

menstimulasi TNF  kerusakan sel  neutrofil datang  mencerna bakteri 

infiltrasi leukosit dan respon neutrofil menyebabkan terbentuknya pus dan

munculnya gejala subjektif.3

6
2. Vaginosis Bakterialis

VB (Vaginosis Bakterialis) disebabkan oleh faktor faktor yang mengubah

lingkungan asam normal di vagina menjadi keadaan basa yang mendorong

pertumbuhan berlebihan dari bakteri penghasil basa. Lactobacillus acidophilis

adalah flora normal penghasil asam laktat dari karbohidrat yang memberikan

pertahanan bersifat asam. Faktor-faktor yang mengubah pH vagina dengan

alkalinisasi adalah mucus serviks, semen, darah haid, mencuci vagina,

antibiotic, STI, dan perubahan hormon saat hamil dan menopause 6


pertumbuhan Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis, dan bakteri anaerob

+ lingkungan menjadi basa  menekan pertumbuhan LacAcid  mendorong

pertumbuhan bakteri lain  infiltrasi leukosit dan respon neutrofil

menyebabkan terbentuknya pus dan munculnya gejala subjektif.

3. Kandidiasis vaginalis

a. Mekanisme non-imun

Kulit dengan deskuamasi dan proliferasi merupakan sawar yang efektif

melawan kandida. Kerusakan mekanis sawar ini atau adanya oklusi akan

memfasilitasi terjadinya infeksi.

Adanya lipid permukaan akan menghambat pertumbuhan kandida dan

adanya interaksi antara kandida dengan flora normal lainnya akan

mengakibatkan persaingan dalam mendapatkan tempat untuk melekat pada

epitel.

7
b. Mekanisme imun seluler dan humoral

- Tahap pertama adalah menempelnya kandida pada sel epitel disebabkan

adanya interaksi antara glikoprotein permukaan kandida dengan sel epitel

 candida mengeluarkan zat anti ketinolitik (fosfolipase)  hidrolisis

fosfolopid membrane sel epitel. Pseudohifa juga mempermudah invasi ke

jaringan.

- Dalam jaringan  kandida mengeluarkan kemotaktik neutrofil (kandida

punya zat toksik neutrofil) radang akut.

- Lapisan luar  memiliki mannoprotein (antigenic)  aktivasi komplemen

dan merangsang terbentuknya immunoglobulin  Ig justru melindungi

kandida.

- infiltrasi leukosit dan respon neutrofil menyebabkan terbentuknya pus dan

munculnya gejala subjektif

4. Trichomonas vaginalis

Bakteri ini mengakibatkan kerusakan sel epitel sehingga terjadi

peradangan vagina dan vulva.Selanjutnya infiltrasi leukosit dan respon

neutrofil menyebabkan terbentuknya pus dan munculnya gejala subjektif.

5. Chlamydia trachomatis

Chlamydia trachomatis merupakan bakteri gram negatif, nonmotil, dan

bersifat obligat intraselular. Bakteri ini memasuki sel dengan mekanisme

endositosis dan bereplikasi melalui binary fission di dalam sel. Transmisi

8
terjadi melalui rute oral, anal, atau melalui hubungan seksual. Dalam

perkembangannya Chlamydia trachomatis mengalami 2 fase, yaitu:

a. Fase 1: disebut fase noninfeksiosa, dimana fase noninfeksiosa terjadi

keadaan laten yang dapat ditemukan pada genitalia maupun

konjungtiva.

b. Fase 2: fase penularan, bila vakuol pecah kuman keluar dalam bentuk

badan elementer yang dapat menimbulkan infeksi pada sel hospes

yang baru.

2.5 Diagnosis

1. Anamnesis7

a. Gonore

- disuria, polakisuria diikuti pengeluaran nanah di ujung kemaluan dan

dapat bercampur darah

b. Vaginosis bakterialis

- duh sedikit

- bau tidak sedap

- gatal ringan tau rasa terbakar

- bersifat rekuren

c. Candida

- pruritus, bengkak, merah, sekret putih, kental seperti keju

- demam, malaise, lesi kulit pada bagian lain (psoriasis, dermatitis

seboroik), disuria, retensi urin

9
- penggunaan penyemprot vulva atau pembilas, kosmetik/kontrasepsi

yang dapat menyebabkan iritasi kimiawi

- diabetes mellitus

- terapi antibiotic

d. Trikomonas

- duh yang banyak dan berbusa

- berwarna putih bercampur nanah, terdapat perubahan warna

(kekuningan, kuning hijau),

- berbau khas

- dispareunia

- kehamilan

e. Clamydia trakhomatis

- duh endoserviks kuning

- serviks mudah berdarah

- duh purulent

Gambar 1. Cervicitis Gonorrhea; Discharge yang tampak pada endoservik

10
Gambar 2.Vaginosis; Discharge putih menempel di dinding vagina dan portio cervix.

Gambar 3.Candidiasis; Discharge kental tampak melekat di dinding vagina.

Gambar 4.Trichomoniasis; Discharge pada dinding vagina, tampak putih berbuih banyak

11
Gambar 5. Clamydia trakomatis; Discharge pada dinding servik, tampak putih kekuningan

12
2. Pemeriksaan fisik4

Fisiologis Kandida Trikomonas Vaginosis Gonore

bakterialis

Pemeriksaan Peradangan vulva Eritema vulva dan Melekat ke OUE kemerahan, edem, esktropion dapat

jelas vagina, lesi titik dinding vagina ditemui


fisik
perdarahan pada
dan intraoitus.
seviks (punctuate
Peradangan
hemorrhagic cervical
biasanya
lesion).
minimal
Pem. liang sanggama :

dinding merah, bentuk

abses kecil, lender

byk, dapat ditemukan

dinding iritasi pada

lipatan paha dan kulit

sekitar kemaluan

sampai dubur.

13
Tampilan Sedikit Duh tebal Banyak, hijau/abu Putih/abu abu, Purulen atau seko-purulen. Pembesaran getah

Sedikit, abu, kadang bau tidak bening inginal media unilateral atau bilateral.

Tidak berbau, busuk bergumpal, bau wanita : jarang didapatkan

konsistensi seperti menyengat Berasal dari endoser-visitis yang bersifat

keju purulen, dan agak berbau

putih, kental

seperti dadih

pH <4,5 <4,5 >5,0 >4,5

Bau amis + - - - ++++


KOH

Pem

Penunjang
Sel epitel Leukosit 80% , Leukosit Sedikit leukosit Gonococcus gram negative intraselueer
mikroskopi
normal ditemukan miselium Trikomonas 70-80% Clue cll ekstraseller.

batang gram Gram bervariasi

positif, Kokusdan batang

14
3. Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan speculum dari vagina dan serviks

b. Diagnosis vaginosis bakterialis ditegakkan berdasarkan tiga dari empat kriteria

berikut (Kriteria Amsel) :

1) Cairan putih lengket, tidak bergumpal

2) pH vagina >4.5

3) bau amis ditambahkan Kalium Hidroksida 10% pada sekresi (Uji Whiff-Amine).

4) Adanya clue cell (epitel skuamosa vagina yang diliputi oleh gardnerella

vaginalis).

Selain itu terdapat pula Kriteria Nugent, yaitu dengan pewarnaan gram.positif

bila 7 dan pemeriksaan DNA

c. Gonore8

Bahan duh tubuh pia diambil dari derah fossa naviculare, sedangkan wanita diambi

dari uretra, muara kelenjar bartholin, daan endoserviks

a. Pengecatan gram :gonococcus gram negative intraseluler ekstraseluler.

b. Kultur atau biakan : media Thayer martin. Tampak koloni berwarna putih

keabusan, mengkilat, dan cebung

c. Pemeriksaan DNA : teknik PCR (Polymerase Chain Reaction)

d. Tes Thomson: untuk mengetahui sampai di mana infeksi sudah berlangsung.

Interpretasi : infeksi ureteritis anterior jika gelas 1 keruh sedangkan gelas 2 jernih

15
d. Histopatologi

Pemeriksaan penunjang yang paling bermanfaat adalah preparat basah dari sekret

vagina.Pada pemeriksaan ini bisa ditemukan organisme penyebab dan sel

polimorfinuklear.Pada kandidiasis ditemukan hifa2

e. Kultur

dilakukan pada beberapa penyebab saja, misalnya pada vaginosis bakterialis tidak

perlu dilakukan kultur, sedangkan kultur bermanfaat untuk penyebab

f. DNA probe

Dilakukan dengan melihat kecocokan DNA.

2.6 Tatalaksana9

Tabel 3. Pengobatan sindrom duh tubuh vagina karena infeksi serviks


Pengobatan untuk gonore tanpa komplikasi + pengobatan untuk klamidiosis
Servisitis gonokokus Servisitis non-gonokokus
Sefiksim 400 mg | SD | PO atau Azitromisin 1g | SD | PO atau
Levofloksasin* 500 mg | SD | PO Doksisiklin* 2x100 mg/hr | PO | 7 hari

Pilihan pengobatan lain


Kanamisin 2 g | SD | IM atau Eritromisin 4x500 mg/hari | PO | 7 hari
Tiamfenikol 3,5 g | SD | PO atau
Seftriakson 250 mg | SD | IM

*tidak boleh diberikan kepada ibu hamil, menyusui, atau anak di bawah 12 tahun
SD = single dose | PO = per oral | IM = injeksi intramuskular

16
Tabel 4. Pengobatan sindrom duh tubuh vagina karena vaginitis
Trikomoniasis Vaginosis Bakterialis Kandidiasis Vaginitis
Metronidazole** 2g | SD | PO Metronidazole** 2g |SD | PO Mikonazole atau
klotrimazol 200 mg
intravagina | setiap hari
| 3 hari atau
Klotrimazol 500 mg
intravagina | SD atau
Flukonazol* 150 mg |
SD | PO
Itrakonazol* 200 mg |
SD | PO
Pilihan pengobatan lain
Metronidazole** 2x500mg/hr Metronidazole** 2x500mg/hr Nistatin 100.000 IU,
|PO | 7 hari |PO | 7 hari intravagina | tiap hari | 7
Klindamisin 2x300 mg/hr | hari
PO | 7 hari
*tidak boleh diberikan kepada ibu hamil, menyusui, atau anak di bawah 12 tahun
** pasien dalam pengobatan metronodazole dianjurkan utk menghindari minum alkohol
SD = single dose | PO = per oral | IM = injeksi intramuskular

17
2.7 Komplikasi2

1. Sterilitas

2. Infeksi organ genitalia lain

3. Kehamilan ektopik

4. Kematian janin

5. infeksi neonatus, misalnya blenorrhea.yaitu kebutaan pada bayi akibat terinfeksi oleh

ibunya yang menderita gonore.

6. kejadian bayi dengan BBLR

7. keganasan anogenital

18