Anda di halaman 1dari 4

Nilai-Nillai Yang Terkandung Dalam Ibadah Haji

ALHAMDULILLAH HIRABBIL ALAMIN.WASSALA TUWASSALA MUALA


ASRAFIL AMBIYAI WAL MURSALIN. WA’ALA ALIHI WASABBIHI AJMAIN .
AMMA BA’DU.

Puji syukur marilah kita panjatkan atas kehadiran ALLAH SWT yang Maha Besar dan Maha Agung
atas nikmat iman dan nikmat islam, serta nikmat nikmat kesehatan dan kesempatan, sehingga pada hari ini kita
bersama-sama dapat berkumpul di ruangan yang berbahagia ini.

Selawat dan salam kita serahkan kepangkuan Nabi besar Muhammad SAW. Yang telah dutuskan
ALLAH sebagai Nabi yang penghabisan dan Rasul yang akhir zaman.

Barang siapa saja yang mencoba untuk mempergunakan kekuasaannya yang diberikan kepadanya, untuk
menindas dan menghina orang lain, maka pada suatu saat nanti ia pasti akan dikoyak-koyak oleh kekuasaannya
sendiri. Siapa yang dikaruniakan ALLAH dengan kemuliaan dan ketinggiaan, tetapi ia pergunakan untuk
menghina dan merendahkan orang lain, janji ALLAH akan berlaku bahwa manusia seperti itu dibuatnya lebih
rendah dan terhina. Manusia yang diberikan ALLAH dengan ilmu pengertahuan yang tinggi, tetapi ia
melupakan ALLAH, maka ilmu yang ia miliki itu akan menjadi malapateka dan bencana dalam hidupnya.

Seiring dengan ibadah yang kita lakukan ini, saudara-saudara kita yang sedang berada ditanah suci dan
sedang melakukan ibadah haji, dengan penuh syukur dan bahagia, mereka berbondong-bondong menuju Mina,
setelah meninggalkan Arafah dan mabit di Muzdalifah. Ada yang berjalan kaki dan ada yang menggunakan
kendaraan untuk melanjutkan rangkaian kegiatan rukun-rukun dan wajib-wajib haji.

Mulai 9 zulhijah sampai hari ke 3 hari tasyriq, saudara-saudara kita itu sibuk dengan kegiatan rukun dan
wajib haji, sunat dan sebagainya, kita disini untuk mengimbangi mereka tentunya ada hal-hal yang
diperintahkan ALLAH kepada kita antara lain adalah: puasa Arafah, melakukan Shalat Idul Adha, menyembelih
binatang qurban bagi yang punya kemudahan, sebagai pernyataan kerelaan berqurban dijalan ALLAH dan
sekaligus mengenang peristiwa penting dalam kehidupan Nabi Ibrahim dan Putranya Ismail As. dan juga
diperintahkan kita untuk memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid.

Ibadah haji merupakan kumpulan-kumpulan simbol-simbol yang sangat indah, yang hadir pada saat
terjadi perselisihan tentang boleh tidaknya manusia dijadikan sesajen kepada tuhan. Putranya Ismail
diperintahkan ALLAH untuk di kurbankan, sebagai pertanda bahwa, apapun apabila ada perintah ALLAH harus
dilaksanakan karena ALLAH semata.

Setelah perintah tersebut dilakukan dengan penuh dasar kejujuran dan keikhlasan oleh Nabi Ibrahim As.
, maka ALLAH dengan kudrah dan kekuasaannya menghalangi penyembelihan terhadap Ismail dan
menggantikannya dengan seekor domba. Dan dengan demikian melalui Kerelaan Nabi Ibrahim As. ALLAH
mengukuhkan larangan dikorbankan manusia sebagai sejajen, memang Nabi Ibrahim As. dijadikan teladan
untuk umat manusia yang diwujudkan dalam bentuk ibadah haji. Dan beliau pulalah bersama putranya Ismail
As. membangun fondasi-fondasi Ka’bah dan beliau pulalah yang diperintahkan ALLAH menyerukan syariat
ibadah haji. Sebagai mana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al Hajj ayat 27 yang artinya:

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu
dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru jauh”.

Setiap rangkaian kegiatan ibadah haji mengandung arti dan filsafah tersendiri antara lain :

1. Ibadah haji dimulai dengan niat dan meninggalkan pakaian sehari-hari dan memakai pakaian ihram,
hal itu mengingatkan kita bahwa manusia pada hakikatnya sama dihadapan ALLAH SWT. Dan
hanya yang lebih mulia disisinya adalah orang-orang bertaqwa kepadanya. Sesuai dengan firman
ALLAH SWT. Dalam surat Al-Hujarat 13 yang artinya :
“Sesungguhnya yang paling mulia disisi ALLAH adalah orang yang paling taqwa kepadanya”.

2. Wukuf di padang Arafah


Wukuf di padang Arafah merupakan gladi resik padang mahsyar pada hari kebangkitan, memberi peluang
bagi para jamaah menemukan jati diri, mengakui dirinya kecil dihadapan ALLAH yang Maha Perkasa dan
Maha Kuasa. Menyadari asal usul hidup dan makna hidup serta menyadari untuk mempersiapkan diri untuk
kembali keakhirat nanti.

3. Mabit di Muzdalifah
Mabit di Muzdalifah sambil mengumpulkan batu-batu kecil yang dikumpulkan untuk melempar Jumrah di
Mina, mempunyai makna mengumpulkan senjata-senjata yang akan digunakan untuk melampiaskan
kemarahan terhadap syaithan, musuh yang selalu menggoda manusia.

4. Ibadah Thawaf
Ibadah Thawaf menuntun para pelakunya untuk berbaur bersama-sama serta member kesan kebersamaan
menuju satu tujuan yang sama, yakni ALLAH SWT.

5. Sa’I antara Bukit Safa dan Marwah


Sa’I antara Bukit Safa dan Marwah, yang melambangkan perlunya kerja keras untuk mencari kehidupan
yang baru, dan ini merupakan napak tilas Siti Hajar istri Nabi Ibrahim As.sewaktu berlari-lari mencari air
untuk putranya Ismal yang masih bayi, kemudian terpancarlah air zamzam tersebut dari bawah tanah.

Dan dari peristiwa ini juga menunjukkan bahwa iman saja tidak cukup dan iman harus dibarengi dengan amal
dan kerja keras, karena Islam adalah agama amal.
Ditanah suci baik di Makkah Al Mukaramah maupun di Madinah Al Munawarah, para hujjaj dapat
menyaksikan Islam dalam Skala makro dengan berbagai bentuknya, bertemu dengan sesam muslimin dan
muslimat dari berbagai Negara dan bangsa dengan keanekaragaman warna kulit, bahasa, bentuk tubuh, pola
budaya dan berbagai tingkat kedudukan sosial, namun mereka itu semua memakai pakaian ihram yang sama,
membaca bacaan yang sama, melakukan ibadah yang sama dan menyembah tuhan yang sama yaitu ALLAH
SWT.
Ibadah Haji adalah Ibadah yang dapat membentuk manusia muslim yang taat dan tunduk kepada
perintah ALLAH tanpa bertanya, mengapa begitu ?. Memasuki kota Makkah, diperintahkan mengganti dan
menolak, disuruh keliling ( Thawaf ) Ka’bah tujuh kali tidak seorangpun yang minta kurang, disuruh berlari-lari
kecil dari Bukit Safa ke Bukit Marwah, tidak seorangpun membantah. Demikian juga di Arafah, Muzdalifah
dan Mina. Kalau ditanya, kenapa anda patuh sekali ? mereka menjawab :
“ Demikianlah aku diperintahkan oleh ALLAH dan aku termasuk golongan orang-orang muslim yang sungguh
nikmat merasakan suatu ikatan bathin antara sesama mukmin, saudara seagama dalam rabithah ukhuwah
Islamiyah”, maka maha besar firmannya dalam surat Al Hujarat ayat 10 yang artinya :
“ Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu perbaikilah hubungan diantara saudara-saudara
kamu.
Pelaksanaan ibadah haji masa kini tidaklah serupa dengan penyelenggaraan tempo dulu. Dalam dua
dasawarsa terakhir ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi industri, terutama dalam bidang transportasi
dan telekomunikasi. Orang melaksanakan ibadah haji sekarang hanya sedikit yang berjalan kaki, naik unta,
kuda dan kapal laut, kini telah memakai pesawat jumbo jet yang ber AC dan ber WC, bertempat tinggal
dipondok dan dihotel, dengan hawa dan udara yang nyaman dan aman, wukuf dibawah tenda-tenda ber AC,
kalau hawa panas dapat semprotan air dingin, makan-makanan yang sesuai dengan selera masing-masing,
tersedia pemeriksaan kesehatan modern, tersedia ambulance yang selalu siap dipakai, adanya kemudahan
komunikasi dengan sanak saudara ditanah air dan bermacam fasilitas lainnya.
Sebenarnya tidak banyak diminta ole ALLAH SWT dibandingkan dengan apa yang telah kita terima.
Janganlah kita menjadi orang yang pandai meminta, tetapi pelit member, karena sesungguhnya banyak yang
telah kita terima dari pada ALLAH SWT. Berapa harga mata, hidung, telinga dan lain-lain, belum lagi berapa
harga nyawa.
Bila kita aktif melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam. Berarti paling lama 50 menit kita
menggunakan waktu untuk mengabdi kepada ALLAH SWT. Sedangkan nafas yang kita gunakan sehari
semalam 24 jam × 60 menit = 1.440 menit, berarti 1.440 menit kita terima dari ALLAH SWT dan kita balas
hanya 50 menit, berarti kita sehari semalam 1.390 menit terus kita menikmati atas nikmat yang ALLAH SWT
berikan kepada kita.
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa harus terlebih dahulu memberhasilkan pembangunan keluarga
sebagai masyarakat terkecil. Keluarga Nabi Ibrahim As. mari kita jadikan contoh dan teladan dalam
membangun keluarga. Nabi Ibrahim As. sebagai seorang bapak dan mengabdi kepada ALLAH SWT, siap
ditempatkan ALLAH SWT walaupun kedaerah yang sangat gersang seperti kota Makkah itu. Isterinya Siti
Hajar menemaninya dalam keadaan suka dan duka ketika Nabi Ibrahim As. meninggalkannya dilembah yang
tidak tumbuh apa-apa dan juga putranya Nabi Ismail As. siap menerima dan melaksanakan semua perintah
ALLAH SWT dan harapan orang tuanya, walaupun dalam bentuk penyembelihan dirinya sendiri.
Demikianlah sekilas pintas diantara nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah haji, uraian tadi
memperlihatkan kepada kita, bahwa ibadah haji penuh dengan simbol-simbol yang indah dan sarat dengan
pesan-pesan moral yang tinggi. Ibadah haji memberikan pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga bagi
para pelakunya dan bagi kita yang belum dipanggil untuk melaksanakannya.