Anda di halaman 1dari 22

Pengertian Ragam Bahasa

Ragam bahasa adalah varian dari sebuah bahasa menurut pemakaian. Variasi tersebut bisa berbentuk dialek,
aksen, laras, gaya, atau berbagai variasi sosiolinguistik lain, termasuk variasi bahasa baku itu sendiri. Ragam
bahasa ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa terdiri dari Ragam Bahasa
Lisan dan Ragam bahasa tulisan.
Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang di hasilkan menggunakan alat ucap (organ of speech) dengan fonem
sebagai unsur dasar. Dalam ragam bahasa lisan ini biasanya berkaitan erat dengan lafal. Sedangkan ragam
bahasa tulisan adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai dasarnya.
Dalam ragam bahasa tulisan biasanya berkaitan erat dengan tata cara penulisan atau ejaan. Selain itu aspek tata
bahasa dan kosa kata dalam kedua ragam tersebut memiliki hubungan yang erat seperti misalnya ragam bahasa
tulisan adalah unsur dasar dari ragam bahasa lisan.
Macam – Macam Ragam Bahasa

1. Ragam bahasa berdasarkan cara pandang pembicara (penutur)


Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa indonesia terdiri dari ragam daerah (dialek), ragam
pendidikan, ragam formal dan ragam non formal.

 Ragam bahasa daerah (dialek)


Bahasa indonesia yang di gunakan di daerah biasanya terbawa dengan lingkungan daerahnya. Seperti misalnya
cara bicara bahasa indonesia yang di gunakan oleh masyarakat di daerah jakarta berbeda dengan cara bicara
bahasa indonesia yang di gunakan oleh masyarakat di daerah sumatra. Contoh : “gue lagi belajar bahasa
indonesia”.

 Ragam bahasa pendidikan


Bahasa yang di gunakan oleh masyarakat yang berpendidikan pasti berbeda dengan masyarakat yang tidak
berpendidikan. Bisa di bandingkan cara pelafalan katanya misalnya seperti masyarakat yang berpendidikan
sering menggunakan kata mencuci, mengunci, vidio dan tv. Beda dengan masyarakat yang tidak melalui
pendidikan akan melafalkan kata nyuci, ngunci, pidio dan tipi. Contoh : “ saya sedang mempelajari bahasa
indonesia”.

 Ragam bahasa formal dan non formal


Bahasa formal sering di gunakan dalam acara-acara resmi, seperti upacara pelantikan, seminar dan rapat.
Sedangkan bahasa non formal sering di gunakan pada kegiatan kita sehari-hari di luar acara-acara resmi, seperti
ketika berbicara dengan teman dan dengan keluarga.

Contoh ragam bahasa formal : “ saya sedang mempelajari bahasa indonesia”

Contoh ragam bahasa nonformal : “ saya sedang belajar bahasa indonesia”

2. Ragam bahasa berdasarkan media yang digunakan


Ragam bahasa berdasarkan media yang digunakan terbagi menjadi dua, yaitu

 Ragam bahasa lisan


Bahasa ini adalah bahasa yang di keluarkan secara lisan atau dengan media lisan. Dalam ragam bahasa ini
sering memakai bahasa yang baku. Cara menyampaikan pembicaraan secara lisan dapat berbeda sesuai dengan
lingkungannya, seperti pembicara yang di lakukan dalam keadaan formal jelas berbeda dengan pembicaraan
yang di lakukan dalam keadaan santai atau tidak formal. Ragam bahasa lisan yang di tuangkan ke dalam bentuk
tulisan tidak dapat di sebut ragam bahasa tulis, tetapi tetap sebagai ragam bahasa lisan yang di tuangkan ke
dalam bentuk tulisan. Kita dapat menemukan ragam lisan yang formal, misalnya pada saat orang berpidato atau
memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah; dan ragam lisan yang nonformal, misalnya dalam
percakapan antar teman, di pasar, atau dalam kesempatan nonformal lainnya.
Ciri-ciri ragam bahasa lisan:

 Memerlukan orang kedua atau teman bicara


 Menyesuaikan dengan keadaan yang ada, situasi dan juga waktu
 Perlunya intonasi dalam berbicara
 Berlangsung dengan cepat
 Kesalahan dalam berbicara dapat diketahui dan di perbaiki
 Gerakan pada tubuh dan juga mimik wajah serta intonasi yang di gunakan dalam penyampaiannya sangatlah membantu.
 Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis menggunakan media huruf untuk mengutarakannya atau menguungkapkannya. Ragam
bahasa ini menggunakan ejaan untuk menata kosa kata dan bahasanya. Ragam bahasa tulis yang formal kita
temukan dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan
ragam tulis nonformal dalam majalah remaja, iklan, atau poster.

Ciri-ciri ragam bahasa tulis:

 Tidak terpengaruh dengan adanya ruang dan waktu


 Kosa kata yang digunakan harus di pilih dengan cermat dan teliti
 Berlangsung lambat
 Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca
 Menggunakan alat bantu
 Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi

3. Ragam Bahasa Menurut Topik yang sedang Di Bicarakan


Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis,
ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.

 Ragam bahas bisnis adalah ragam bahasa yang digunakan dalam berbisnis, yang biasa digunakan oleh para pebisnis dalam
menjalankan bisnisnya.
Ciri-ciri ragam bahasa bisnis :

1. Menggunakan bahasa yang komunikatif.


2. Bahasanya cenderung resmi.
3. Terikat ruang dan waktu.
4. Membutuhkan adanya orang lain.
 Ragam bahasa hukum
Ragam bahasa hukum adalah bahasa Indonesia yang corak penggunaan bahasanya khas dalam dunia hukum,
mengingat fungsinya mempunyai karakteristik tersendiri, oleh karena itu bahasa hukum Indonesia haruslah
memenuhi syarat-syarat dan kaidah-kaidah bahasa Indonesia.

Ciri-ciri ragam bahasa hukum :

1. Mempunyai gaya bahasa yang khusus.


2. Lugas dan eksak karena menghindari kesamaran dan ketaksaan.
3. Objektif dan menekan prasangka pribadi.
4. Memberikan definisi yang cermat tentang nama, sifat dan kategori yang diselidiki untuk menghindari kesimpangsiuran.
5. Tidak beremosi dan menjauhi tafsiran bersensasi.
 Ragam Bahasa Fungsional
Ragam bahasa fungsional adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja atau
kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya.

 Ragam Bahasa Sastra


Ragam bahasa sastra adalah ragam bahasa yang banyak menggunakan kalimat tidak efektif. Penggambaran
yang sejelas-jelasnya melalui rangkaian kata bermakna konotasi sering dipakai dalam ragam bahasa sastra.

Ciri-ciri ragam bahasa sastra :

1. Menggunakan kalimat yang tidak efektif


2. Menggunakan kata-kata yang tidak baku
3. Adanya rangkaian kata yang bermakna konotasi
PENUTUP

Kesimpulan

Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan,
orang yang dibicarakan, serta menurut media pembicaraan. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa
lisan dan tulisan.

Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar serta menggunakan ejaan bahasa yang telah disempurnakan (EYD), sedangkan ragam bahasa lisan
diharapkan para warga Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa dengan baik serta bertutur kata
sopan sebagai pedoman yang ada.

Teknik bca cepat

PEMBAHASAN
1. Pengertian Membaca Cepat
Soedarso dalam Yasrul Effendi (www.id.forums.wordpress.com) mengatakan bahwa
metode speed reading merupakan semacam latihan untuk mengelola secara cepat
proses penerimaan informasi. Seseorang akan dituntut untuk membedakan
informasi yang diperlukan atau tidak. Informasi itu kemudian disimpan dalam otak.
Sedangkan Nurhadi menyatakan bahwa membaca cepat dan efektif ialah jenis
membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak meninggalkan pemahaman
terhadap aspek bacaannya (1987:31-32). Muchlisoh (1992:149) mengatakan bahwa
membaca cepat bukan berarti jenis membaca yang ingin memperoleh jumlah
bacaan atau halaman yang banyak dalam waktu yang singkat. Jenis membaca ini
dilaksanakan tanpa suara. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
membaca cepat adalah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan dengan
menggunakan gerakan mata dan dilakukan tanpa suara yang bertujuan untuk
memperoleh informasi secara tepat dan cermat dalam waktu singkat.
Jadi, membaca cepat adalah membaca yang dilakukan dengan kecepatan yang
sangat tinggi. Biasanya dengan membaca kalimat demi kalimat dan paragraf tetapi
tidak membaca kata demi kata. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi,
gagasan utama, dan penjelasan dari suatu bacaan dalam waktu yang singkat.
Speed reading juga merupakan keterampilan yang harus dipelajari agar mampu
membaca lebih cepat. Tidak ada orang yang dapat membaca cepat karena bakat.
Membaca cepat tentu saja bukan tujuan, sebab keterpahamanlah yang tujuan dalam
membaca cepat. Dalam membaca cepat terkandung pemahaman yang cepat pula.
Bahkan pemahaman inilah yang menjadi pangkal tolak pembahasan, bukannya
kecepatan. Seorang pembaca yang baik akan mengatur kecepatan dan memilih
jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. Kecepatan membaca sangat tergantung
pada bahan dan tujuan membaca, serta sejauh mana keakraban dengan bahan
bacaan. Kecepatan membaca harus seiring dengan kecepatan memahami bahan
bacaan.

1. Teknik-Teknik Membaca Cepat


Tidak semua orang akan langsung mahir untuk membaca cepat. Keterampilan ini
membutuhkan latihan yang mungkin bisa sampai berulang-ulang agar seseorang
dapat menguasai teknik-teknik yang tepat dalam membaca cepat. Latihan-latihan ini
dipandang penting untuk dilakukan karena biasanya seseorang yang baru pertama
kali belajar membaca cepat akan menemui beberapa masalah yang bisa menjadi
penghambat dalam membaca cepat. Syarat utama untuk dapat membaca cepat
adalah mengetahui dengan persis bahan apa yang sedang dicari. Hal ini dapat
dicapai dengan melakukan pemindaian secara cepat. Hanya mencari bagian-bagian
yang dibutuhkan.

Untuk bisa membaca cepat memang perlu teknik tertentu. Secara umum ada dua
teknik membaca yaitu:

1. Teknik Scanning
Teknik membaca scanning adalah membaca suatu informasi dimana bacaan
tersebut dibaca secara loncat-loncat dengan melibatkan asosiasi dan imajinasi,
sehingga dalam memahami bacaan tersebut seseorang dapat menghubungkan
kalimat yang satu dengan kata-kata sendiri. Jadi dalam teknik ini tidak seluruh
kata/kalimat dibaca. Biasanya kata-kata kunci yang menjadi perhatian pembaca.
Misalnya membaca koran, mencari judul-judul atau topik berita yang dianggap
menarik.

Bagian-bagian yanag dapat dilompati antara lain

1. Bagian yang telah diketahui dari buku lain


2. Bagian yang berisi informasi yang tidak memenuhi tujuan membaca
3. Bagian yang hanya merupakan contoh atau ilustrasi
4. Bagian yang merupakan ringkasan bab sebelumnya.
5. Teknik Skimming
Teknik membaca Skimming adalah membaca secara garis besar (sekilas) untuk
mendapatkan gambaran umum isi buku. Setelah itu melacak informasi yang ingin
diketahui secara mendalam. Untuk memperlancar proses skimming maka
lakukanlah terlebih dahulu membaca daftar isi, kata pengantar, pendahuluan, judul
atau sub judul, serta kesimpulan. Dari bagian-bagian buku ini minimal kita bisa
menafsirkan apa inti dari isi buku yang akan kita baca tersebut. Teknik ini biasanya
dilakukan ketika kita mencari sesuatu yang khusus dalam teks. Fungsi skimming
adalah
1. Untuk mengenali topik bacaan
2. Untuk mengetahui pendapat/opini orang
3. Untuk mendapatkan bagian penting yang kita butuhkan
4. Untuk mengetahui organisasi penulisan, urutan ide pokok, dan cara
berpikir penulis.

1. Untuk penyegaran apa yang pernah dibaca.


2. Membaca visual,
Membaca visual yaitu mengejar kelompok kata dengan urutan mana suka. Cara ini
cocok untuk memahami bacaan yang agak sulit serta yang mudah.

 Langkah-langkah membaca cepat


Sebelum melatih membaca cepat, kita perlu paham beberapa langkah membaca
cepat, yaitu:

1. Persiapan
Tahap persiapan ini dimulai dengan membaca judul. Judul ini ditafsirkansesuai dengan
asosiasi dan imajinasi serta pengalaman yang telah dialami. seseorang bisa menafsirkan
isi bacaan dari judul yang dibaca. Hubungkan pengalaman/wawasan yang dimiliki
sengan judul bahan bacaan yang akan dibaca. Kemudian perhatikan gambar dan
keterangan gambar dari materi yang akan dibaca. Biasanya gambar atau ilustrasi dalam
buku mengilustrasikan isi bacaan. Oleh karena itu simbol visual ini dapat membandtu
kita memahami isi bacaan. Selanjutnya kita perlu memperhatikan huruf cetak tebal/huruf
miring. Huruf yang dicetak berbeda ini melambangkan kata/kalimat penting dalam isi
bacaan. Langkah selanjutnya adalah membaca alinea awal dan akhir. Alinea awal
mengantarkan pembaca pada isi bacaan, sedangkan alinea akhir biasanya berupa pokok
pikiran dari isi bacaan. Melalui aliena awal dan akhir ini dapat membantu kita
menafsirkan keseluruhan isi bacaan. Kemudian kita perlu baca juga rangkuman bacaan.
2. Pelaksanaan
Jika telah melaksanakan tahap persiapan tadi, kita sudah bisa membayangkan gambaran
umum isi bacaan dalam buku yang akan dibaca. Selanjutnya kita dapat memulai
membaca cepat dengan menggunakan dua teknik tadi yaitu scaning dan skimming. Di
sini kita bisa mencari kata-kata kunci yang ada dalam kalimat, selanjutnya dihubungkan
melalui asosiasi dan imajinasi sehinga bisa dengan cepat mengambil inti sari isi bacaan
tampa harus membaca seluruh isi buku
Untuk menguasai keterampilan membaca cepat, kita perlu latihan. Latihan ini
meliputi latihan otot mata, pheriperial mata, dan latihan pernapasan.

1. Melatih otot mata


Melatih otot mata dapat dilakukan dengan cara gerakan bola mata dalam keadaan
terpejam ke atas ke bawah, lalu samping kiri dan kanan. Latihan ini harus dilakukan
secara continue minimal selama 14 hari, masing-masing selama lima menit tanpa
harus putus. Apabila satu hari saja tidak latihan, maka otot mata akan kembali ke
keadaan sebelum latihan.

1. Melatih Pheriperal Mata


Melatih pheriperal mata dapat dilakukan dengan cara pandangan mata mengikuti
gerakan telunjuk di depan mata. Tujuannya agar mata kita dapat menjangkau
seluruh bacaan tanpa menggeleng-gelengkan kepala, karena menggelengkan
kepala itu menghambat membaca cepat.

1. Melatih Pernapasan
Melatih prnapasan dapat dilakukan dengan cara tarik napas panjang keluarkan
secara perlahan. Kemudian latihan konsentrasi yang berhubungan dengan sikap
duduk, tegak, libatkan asosiasi dan imajinasi. Di sini usahakan seolah-olah sedang
berkomunikasi dengan sang penulis.

Kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki seseorang dalam membaca pun secara tidak


sadar bisa menjadi penghambat untuk bisa membaca dengan cepat. Kebiasaan-
kebiasaan yang biasanya sudah dimiliki selama bertahun-tahun ini di antaranya:

1. vokalisasi atau bergumam ketika membaca;


2. membaca dengan menggerakkan bibir namun tidak bersuara (komat-kamit);
3. kepala yang bergerak searah dengan arah tulisan yang dibaca;
4. jari-jari tangan yang selalu menunjuk tulisan yang dibaca;
5. gerakan mata yang selalu kembali ke kata-kata sebelumnya atau mengulang membaca
kalimat dari depan;
6. membaca di dalam hati.
Untuk mengatasi masalah-masalah ini, usahakan untuk mencegah bibir, jari-jari
tangan, dan kepala untuk bergerak pada saat membaca. Cara pencegahannya bisa
dengan mengatupkan bibir, memasukkan tangan ke dalam saku atau memegangi
kepala pada waktu membaca. Sedangkan untuk menghindari supaya tidak bersuara
pada waktu membaca adalah dengan merasakan getaran suara di leher. Dengan
meletakkan tangan di leher, akan diketahui apakah kita bersuara atau tidak.
Membaca dalam hati memang tidak bisa dicegah, tetapi usahakan supaya tidak
memerhatikan pelafalannya.

Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi
masalah-masalah dalam membaca cepat.

1. Miliki kosakata yang luas. Jika saat ini masih memiliki kosakata yang terbatas, ada cara-
cara yang bisa ditempuh untuk mengatasinya, yaitu dengan menyiapkan catatan kata-
kata baru yang belum diketahui. Setelah itu, carilah artinya di dalam kamus.
Perbendaharaan kata yang banyak sangat membantu dalam memahami suatu bacaan.
2. Sikap tubuh membaca cepat memang memerlukan konsentrasi yang tinggi. Tidak jarang
pembaca justru berada dalam posisi tegang. Kondisi yang seperti ini justru menjadi
penghambat. Untuk itu, ambilah posisi santai saat membaca.
3. Membaca sepintas lalu dengan membaca sepintas lalu, dapat mengantisipasi hal-hal
yang mungkin akan terjadi.
4. Konsentrasi. Konsentrasi yang penuh menghindarkan dari melamun atau pikiran yang
melayang-layang. Kesulitan dalam berkonsentrasi menunjukkan kecepatan membaca
yang rendah. Untuk itu, usahakan agar selalu berkonsentrasi ketika membaca cepat.
5. Retensi/mengingat kembali informasi dari bacaaan. Mengingat kembali informasi yang
baru saja dibaca bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan menjawab
pertanyaan-pertanyaan, diskusi, maupun menulis kembali informasi yang sudah
diterima.
6. Tujuan dari membaca itu sendiri. Dengan menentukan tujuan dari membaca, akan
mengetahui apakah bacaan tersebut sesuai dengan kebutuhan atau seperti yang
diinginkan.
7. Motivasi. Motivasi yang jelas dalam membaca akan memengaruhi tingkat pemahaman
bacaan. Jika sudah memiliki motivasi yang jelas dalam membaca suatu bacaan, akan
lebih mudah menyerap informasi dalam bacaan tersebut. Untuk itu, tumbuhkanlah
motivasi dalam membaca.
Teknik SQ3R
Teknik ini sangat membantu kita dalam menyerap informasi tertulis. Teknik ini
menggunakan metode penahapan dalam membaca.

1. Survey
Pemindaian terhadap daftar isi, pendahuluan, bab pertama atau pengantar dan
bagian ringkasan untuk mendapatkan gambaran umum isi buku. Tujuan survei
adalah

1. Mempercepat menangkap arti


2. Mendapatkan abstrak
3. Mengetahui ide-ide penting
4. Melihat susunan (organisasi) bahan bacaan.
5. Mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan.
6. Memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah.
2. Question
Membuat daftar pertanyaan yang berkaitan dengan bahan-bahan yang sedang
dicari. Pertanyaan ini dapat digunakan sebagai tujuan utama di dalam membaca
buku tersebut.

3. Read
Sekarang bacalah isi buku tersebut. Lewati bagian yang kurang menarik. Ketika
sampai bagian yang dapat digunakan sebagai bahan penulisan, bacalah dengan
cermat.

4. Recall
Ketika membaca uraian yang dibutuhkan, maka pahami isinya dan ingat-ingatlah
bagian itu. Simpanlah kata-kata kunci di dalam ingatan. Proses ini sangat penting
jika akan melakukan parafrasa bacaan tersebut sehingga tidak melanggar hal cipta
karena melakukan plagiat.

5. Review
Setelah mengingat-ingat, dapat mengulas materi yang didapatkan. Tindakan ini
dapat dilakukan dengan membaca ulang uraian dalam buku tersebut,
mengembangkan catatan atau mendiskusikannya dengan orang lain. Cara lain yang
sangat efektif adalah mengajarkan informasi itu kepada orang lain.

A. Pengertian Membaca Intensif

Membaca intensif yaitu membaca dengan penuh pemahaman untuk menemukan ide-ide
pokok pada tiap-tiap paragraf, pemahaman ide-ide naskah dari ide pokok sampai pada ide-ide
penjelas, dari hal-hal yang rinci sampai ke relung-relungnya.
B. Manfaat Membaca Intensif

Adapun manfaat membaca intensif antara lain: pembaca menguasai isi teks secara mantap,
pembaca mengetahui latar belakang ditulisnya teks tersebut, pembaca dapat mempunyai daya
ingat yang lebih lama yang berhubungan dengan isi teks.

C. Teknik Membaca Intensif

1. Menyiapkan naskah yang akan di baca


2. Sambil membaca:
Ø memberi garis bawah hal-hal yang dianggap penting
Ø memberi tanda pada bagian-bagian yang perlu
Ø memberikan nomor pada bagian kanan atas yang penting
Ø memberi tanda bintang pada bagian-bagian yang perlu
3. Ajukan pertanyaan sehubungan dengan naskah yang dibaca. Pertanyaan yang diajukan
berhubungan dengan kognitif yang meliputi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis,
sintesis, dan penilaian (C1 – C6).
4. Siswa diberikan tugas membuat rangkuman dengan menggunakan bahasanya sendiri.
5. Cara menyimpulkan teks
Ø Membaca teks secara keseluruhan satu atau dua kali
Ø Mencatat ide pokok pada setiap paragraph
Ø Menghubungkan ide pokok paragraph satu dengan paragraph lain untuk menemukan
kesimpulan sementara
Ø Membaca ulang teks untuk menguji kesimpulan sementara yang sudah dibuat
Ø Menyempurnakan rumusan simpulan
6. Siswa membuat kesimpulan hasil membaca

D. Metode Membaca Intensif (PQ4R)

Metode belajar PQ4R merupakan metode membaca intensif yang digunakan untuk membantu
siswa dalam mengingat-ingat apa yang dibaca. P singkatan dari preview maksudnya
membaca selintas dengan cepat, Q singkatan dari question artinya bertanya, serta 4R
singkatan dari read artinya membaca, reflecty artinya refleksi, recite artinya tanya jawab
sendiri, review artinya mengulang secara menyeluruh (Trianto, 2007: 93).
Strategi belajar PQ4R merupakan salah satu bagian dari strategi elaborasi. Strategi elaborasi
adalah proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna.
Kaitannya dengan PQ4R strategi ini digunakan untuk membantu siswa dalam mengingat apa
yang mereka baca. Selain itu, strategi ini digunakan untuk membantu proses belajar mengajar
di kelas yang dilaksanakan dengan membaca buku.
Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan dalam strategi belajar PQ4R adalah seperti
berikut ini.

1. Preview
Siswa membaca selintas dengan cepat sebelum memulai membaca bahan bacaan.
Siswa dapat memulai dengan membaca topik-topik subtopik utama judul dan
subjudul, kalimat-kalimat permulaan atau akhir suatu pargraf atau ringkasan
pada akhir suatu bab. Apabila hal itu tidak ada, siswa dapat memeriksa setiap
halaman dengan cepat, membaca satu atau dua kalimat disana-sini sehingga
memperoleh sedikit gambaran mengenai apa yang akan dipelajari. Perhatikan
ide pokok yang akan menjadi pembahasan dalam bahan bacaan siswa.

2. Question (Tanya)

Langkah kedua adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri untuk setiap
pasal yang ada pada bahan bacaan. Pergunakan “judul dan sub judul atau topik dan sub topik
utama”. Awali pertanyaan dengan menggunakan kata “apa, siapa, mengapa, dan bagaimana”.
Misalnya: Masalah apa yang dibahas dalam bab tersebut dan dalam sub-sub judulnya?
Masalah apa yang sedang dipikirkan dan dijawab oleh bab ini? Dengan demikian, anda sudah
terlibat dan memasuki esensi dari bab tersebut. Kalau pada akhir bab telah ada daftar
pertanyaan yang dibuat oleh pengarang, bacalah terlebih dahulu. Pengalaman telah
menunjukkan bahwa apabila seseorang membaca untuk menjawab sejumlah pertanyaan, akan
membuatnya membaca lebih hati-hati, seksama, serta dapat membantu mengingat apa yang
dibacanya.

3. Read (membaca)

Sekarang bacalah karangan itu secara teliti dan seksama paragraf demi paragraf. Lakukan
kegiatan itu dengan cepat dan nyaman. Kalau pikiran pokok secara keseluruhan digabungkan
menjadi satu kesatuan akan mencerminkan ide-ide utama dari serangkaian paragraf-paragraf
di dalam suatu bab. Anda harus dapat mengenal pikiran-pikiran pokok itu agar dapat
mengikuti deretan pikiran sang pengarang.

4. Reflect

Reflect merupakan suatu komponen esensial dari langkah ketiga tersebut. Selama membaca
siswa tidak hanya cukup mengingat atau menghafal, tetapi mencoba untuk memahami
informasi yang dibaca. Caranya dengan (1) menghubungkan informasi itu dengan hal-hal
yang telah anda ketahui, (2) mengaitkan subtopik-subtopik di dalam teks dengan konsep-
konsep atau prinsip-prinsip utama, (3) cobalah untuk memecahkan kontradiksi didalam
informasi yang disajikan dan, (4) cobalah untuk menggunakan materi itu untuk memecahkan
masalah-masalah yang disimulasikan dan dianjurkan dari materi pelajaran tersebut.

5. Recite (ceritakanlah kembali dengan kata kata sendiri)

Siswa diminta untuk merenungkan kembali informasi yang telah dipelajari. Tuliskan
ringkasan semua bagian yang dibaca dengan kalimat Anda sendiri. Hal ini penting karena
Anda telah menangkap esensi bacaan dengan menyatakan butir-butir penting secara nyaring
dan menanyakan serta menjawab pertanyaan-pertanyaan. Anda dapat melihat kembali catatan
yang telah dibuat dan menggunakan kata-kata yang ditonjolkan dalam bacaan.

Lihat kembali pada catatan-catatan yang telah dibuat dan diingat ide-ide utama yang telah
disarankannya. Periksa kembali bab itu dan yakinkanlah bahwa Anda dapat menyatakan
dengan tepat isi setiap bagian-bagiannya. Dari catatan-catatan yang telah dibuat pada langkah
terdahulu dan berlandaskan ide-ide yang ada, Anda diminta membuat intisari materi dari
bacaan.

6. Review

Siswa diminta untuk membaca catatan singkat yang telah dibuatnya mengulang kembali
seluruh isi bacaan bila perlu dan sekali lagi jawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Melakukan preview dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum pembaca mengaktifkan
pengetahuan awal dan mengawali proses pembuatan hubungan antara informasi baru dan apa
yang telah di ketahui. Mempelajari judul-judul dan topik-topik utama membantu pembaca
sadar akan organisasi bahan-bahan baru tersebut sehingga memudahkan perpindahannya dari
memori jangka pendek ke memori jangka panjang.

Dari langkah-langkah strategi belajar PQ4R yang telah diuraikan di atas dapat dilihat bahwa
strategi belajar ini dapat membantu siswa memahami materi pembelajaran terutama materi-
materi yang lebih sukar dan menolong siswa untuk berkonsentrasi lebih lama.
Materi terkait : Membaca Ekstensif Sebuah Artikel

Sumber : http://ibuwarni.blogspot.co.id/2010/12/membaca-intensif.html
Analisis karya ilmiah 4
PENGERTIAN KARYA ILMIAH
Menurut Eko susilo, M ( 1995;11 )
“Karangan ilmiah merupakan suatu karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang
bersantun bahasa dan isisnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/ keilmiahannya.”
CIRI-CIRI KARYA ILMIAH
1. Struktur Sajian
Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari
beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan kesimpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
2. Komponen dan Substansi
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.
3. Sikap Penulis
Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua.
4. Penggunaan Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata / istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.

TUJUAN DARI PEMBUATAN KARYA ILMIAH

 Memberi penjelasan
 Memberi komentar atau penilaian
 Memberi saran
 Menyampaikan sanggahan
 Membuktikan hipotesa
TAHAPAN KARANGAN ILMIAH

1. Bagian Awal
- Cover : Sampul penulisan ilmiah
- Lembar Pengesahan : Lembar pengesahan proposal skripsi berisi tanda tangan dan nama lengkap beserta gelar dari judul skripsi, pembuat, pembimbing dan penguji
- Abstak :Ringkasan isi, ikhtisar, inti (skripsi, laporan, dan sebagainya)
- Daftar Isi : Lembar halaman yg menjadi petunjuk pokok isi buku beserta nomor halaman.
- Daftar Tabel : Lembar halaman yang menjadi petunjuk isi penulisan ilmiah
beserta nomor halaman tabel.
2. Bagian Pokok

BAB I : PENDAHULUAN
- Latar Belakang, Berisi penjelasan yang berkaitan dengan fenomena atau alasan yang mendasari penulis memilih untuk meneliti tema yang ditulis.
- Rumusan dan Batasan Masalah, mengidentifikasikan, membatasi dan selanjutnya merumuskan masalah yang hendak diteliti.
- Tujuan Penelitian, berisi tujuan penelitian yang hendak dicapai
- Manfaat Penelitian,berisi manfaat penelitian yang dapat diperoleh dari penelitian tersebut.
- Metode Penelitian, berisikan tentang bagaimana secara ilmiah, penelitian akan dilakukan.
BAB II : LANDASAN TEORI
- Kerangka Teori, berisi pengertian dan pemahaman mengenai teori yang relevan dengan topic
- Kajian Penelitian Sejenis, berisikan kajian terhadap hasil-hasil penelitian sejenis yang memiliki kesamaan variabel.
- Alat Analisis, penjelasan rinci mengenai berbagai alat analisis deskriptif dan kuantitatif yang digunakan.
BAB III : METODE PENELITIAN
menjelaskan cara pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan alat-alat analisis yang ada.
BAB IV : PEMBAHASAN
- Data dan Profil Objek Penelitian
berisi data dan profil singkat objek penelitian.
- Hasil Penelitian dan Analisis,
menyajikan data dan hasil penelitian.
- Rangkuman Hasil Penelitian, rangkuman hasil penelitian yang umumnya dapat disajikan dalam tabel ringkasan hasil.
BAB V : PENUTUP
- Kesimpulan, berisi jawaban dari masalah yang diajukan penulis yang diperoleh dari penelitian. - Saran, ditujukan kepada pihak-pihak terkait sehubungan dengan hasil penelitian.
- daftar pustaka,
berisi daftar referensi yang digunakan dalam penulisan.
- lampiran, penjelasan tambahan,
dapat berupa uraian, gambar, perhitungan-perhitungan, grafik atau tabel.
- Daftar Simbol,
berisi deretan symbol-simbol yang digunakan dalam penulisan,lengkap dengan keterangannya.
Sumber:
http://id.shvoong.com/how-to/writing/2222452-pengertian-ciri-dan-syarat-karya/#ixzz2RIgnYPfxPetunjuk Penulisan Ilmiah, Fakultas Ekonomi. Universitas Gunadarma.

Klp 5

Pengertian, Cara Membuat Rangkuman, dan Contohnya


Pengertian, Cara Membuat Rangkuman, dan Contohnya - Rangkuman ialah ringkasan sebuah teks atau nonteks fiksi ataupun nonfiksi secara singkat, jelas, dan berurutan (kronologis). Menurut Djurhani, rangkuman ialah membuat ringkasan tulisan atau pembicaraan menjadi suatu
uraian yang lebih singkat yang tersusun secara proporsional.

Dengan demikian, merangkum artinya membuat catatan panjang menjadi lebih pendek yang mana tetap memperhatikan sistematika urutan kronologis ide pokok dalam tulisan atau lisan yang hendak di rangkum. Kegiatan merangkum mungkin sudah tidak asing lagi, karena sejak
duduk di bangsu sekolah dasar kita telah diberi tugas oleh guru untuk membuat rangkuman suatu buku pelajaran atau merangkum cerita dan lainnya.

Namun, apakah rangkuman yang telah kita buat sudah baik atau belum??? Kelasindonesia.com memberikann langkah-langkah (cara) yang dilakukan dalam membuat rangkuman:

1. Membaca teks asli atau mendengarkan naskah yang dibacakan. Dengan membaca maka kita akan mengetaui informasi yang ada di dalamnya. Dalam merangkum, membaca adalah kegiata pokok utama yang harus dilakukan sebelum membuat rangkuman.

Hal ini akan memudahkan kita untuk mengingat, memahami, dan mengerti akan isi naskah. Sehingga akan mempermudah ketika membuat rangkuman.

2. Tentukan ide pokok pada tiap paragraf. Pada tahap kedua, setelah membaca teks atau mendengarkan isi teks, selanjutnya ialah menentukan gagasan atau ide poko para tiap-tiap paragraf (naskah teks) atau menentukan isi pokok dari naskah yang dibacakan.

Setelah memperoleh ide pokok, rangkuman dapat dibuat dengan mengembangkan ide pokok dengan bahasa sendiri (bahasa yang lebih sederhana) dibanding dengan teks. (biasanya buku-buku teks pelajaran menggunakan bahasa yang sulit dipahami).

3. Menulis rangkuman. Setelah memahami isi teks dan menentukan ide pokok, langkah selanjutnya ialah membuat rangkuman. Ingat, rangkuman adalah ringasan, tulislah yang menjadi teks pokok yang memang harus ditulis (ide pokok).

Pengembangan seperti pada langkah kedua dapat dilakukan untuk memperjelas ide pokok. Rangkuman disusun secara kronologis.

4. Membaca kembali rangkuman yang telah dibuat. setelah selesai membuat rangkuman, maka bacalah kembali rangkuman yang telah dibuat. hal ini untuk mengantisipasi adanya ide pokok atau informasi penting lainnya yang belum ditulis.
Advertisement

Berikut merupakan contoh

RANGKUMAN MATERI BIOLOGI- CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP

Sebuah benda dapat digolongkan ke dalam golongan benda hidup (makhluk hidup) apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Membutuhkan makan. Setiapmakhluk hidup membutuhkan makan sebagai bahan untuk menghasilkan energi serta untuk membangun tubuh dan menggantikan sel-sel tubh yang telah rusak.

b. Bernafas. Setiap makhluk hidup akan bernafas untuk membakar makanan dan menghasilkan energi guna pertumbuhan dan perkembangan. Berdasarkan ada atau tidakya oksigen maka pernafasan dibedakan menjadi dua:

1) Respirasi anaerob. Yaitu pernapasan yang tidak memakai oksigen. Sebagian besar bakteri dan sel hewan (saat lelah) yang melakukan respirasi ini.

2) Respirasi aerob. Yaitu pernapasan yang menggunakan oksigen. Oksigen yang berada diudara akan diikat melalui sistem pernapasan atau bagian tubuh makhluk hidup untuk mendapatkan eneri.

c. Peka terhadap rangsang. Salah satu ciri yang penting ialah peka terhadap rangsang atau iritabilitas. Dengan kemampuan iritabilitas, seseorang mampu mendeteksi setiap perubahan yang terjadi baik dari narkoba atau pcmi.

d. Melakukan adaptasi. Adaptasi artinya menyesuaikan dengan lingkungan. Kemampuan iritbailitas makhluk hidup akan membahkan hasil adaptasi. Karena adaptasi muncul saat terjadi adanya perubahan, contoh perubahan suhu dingin ke panas. Dengan demikian orang yang biasa
tinggal digurun harus melakukan adaptasi ketika masuk ke Rusia.

e. Melakukan ekskresi atau membuang sisa metabolisme juga merupakan salah satu ciri makhuk hidup. Metabolisme di dalam tubuh makhluk hidup berkumpul, dan apabila tidak dibuang, maka dapat meracuni tubuh yang tersebar melalui pembuluh darah ndi

f. Bergerak. Semua makhluk hidup mampu mengubah posisi (bukan tempat) dari satu titik ke titik lain. Bergerak dikarenakan adanya rangsang.

g. Bereproduksi. Salah satu cara untuk mewarisi gen dan menjada keeksistensian kaca mobil menjadi incaran para pria-pria bertopeng itu.

h. Pertumbuhan dan perkembangan. Dua proses yang berlainan namun tetap sama. Melalui dua proses ini makhluk hidup mengalami pertambangan panjang dan kematangan fisik yang siap untuk melakukan reprduksi.
Menulis Rangkuman/ Ringkasan Isi Buku Indikator: · Mendaftar pokok-pokok pikiran buku yang sudah dibaca; · Membuat ringkasan dari seluruh isi buku; · Mendiskusikan ringkasan untuk mendapatkan masukan dari teman. Buku ilmu
pengetahuan populer saat ini banyak kita temui di perpustakaan maupun di toko buku. Peminat buku ini juga banyak dan beragam. Hal ini menandakan bahwa masyarakat umum sangat haus akan ilmu pengetahuan. Buku ilmu pengetahuan populer
tersebut misalnya: Cara Beternak Ayam Potong, Menanam Buah dalam Pot, Cara Mudah Membuat Masakan Rumah, Belajar Menyenangkan. Mungkinkah? Ternyata isi buku ilmu pengetahuan populer sangat beragam mulai dari kesehatan, teknologi
modern, pertanian, perkebunan, komputer, dan lain-lain. Bagaimana agar mudah memahami isi buku tersebut? Salah satu caranya dengan membuat rangkumannya atau ringkasannya. Menulis rangkuman merupakan upaya menyarikan sebuah teks atau
bacaan. Jadi, merangkum sebuah buku adalah mengambil inti sari sebuah isi buku dan menuliskannya kembali menjadi catatan ring kas. Hal yang perlu kalian ingat bahwa sebuah rangkuman isinya mencakup keseluruhan teks atau buku yang dirangkum
secara utuh dan lengkap, meskipun dalam penyajiannya lebih padat dan ringkas. Jadi, dalam merangkum jangan sampai ada hal penting dari bacaan atau buku yang tidak terambil atau terangkum. Adapun yang dimaksud dari buku pengetahuan populer
adalah buku yang berisi informasi mengenai pengetahuan yang sifatnya banyak diketahui oleh masyarakat secara umum. Dalam hal ini, sesuatu yang bersifat populer merupakan sesuatu yang sudah biasa diketahui atau akrab di lingkungan masyarakat
secara umum. Buku pengetahuan populer memiliki berbagai bidang pengetahuan, misal: peternakan, bisnis, kepribadian secara umum, dan pengetahuan lainnya. Adapun buku pengetahuan yang membahas mengenai disiplin ilmu tertentu secara spesifik
dan detail bukan termasuk buku pengetahuan populer, akan tetapi merupakan buku kajian disiplin ilmu. Contoh buku kajian disiplin ilmu adalah buku mengenai Anatomi Tubuh Manusia. Menulis rangkuman termasuk kegiatan reproduksi tulisan. Kalian
membaca buku, kemudian harus menuliskan kembali bahan tersebut menurut hasil penangkapan kalian. Merangkum bukan mengulangi kembali tulisan sebuah bahan. Merangkum berarti memberikan penegasan terhadap penjelasan-penjelasan
terdahulu. Dengan demikian, apabila Anda merangkum sebuah tulisan, Anda tidak harus menuliskan per kata atau per kalimat sesuai dengan bahan yang tersedia, melainkan Anda harus menuliskan dalam bahasa Anda sesuai dengan pemahaman Anda
terhadap bahan tersebut. Oleh karena itu, cara yang mudah untuk membuat rangkuman sebuah tulis an adalah Anda harus mencatat pokok-pokok ide (gagasan) dari tulisan tersebut. Pada akhirnya, Anda akan menuliskan gagasan tersebut sesuai dengan
kebutuhan Anda. Anda bisa membuat sebuah rangkuman dalam satu atau beberapa paragraf sesuai dengan materi dan kebutuhan Anda. Rangkuman yang Anda buat, tanpa harus melihat bahasa yang digunakan dalam buku tersebut, melainkan
menuangkan pemahaman tentang buku tersebut dalam bahasa Anda sendiri. Dengan demikian, merangkum bukan mengutip kata-kata dalam buku, tetapi membahasakan kembali sesuai dengan bahasa Anda. Rangkuman sering pula disebut dengan
ikhtisar, yakni penyajian singkat dari suatu karangan. Akan tetapi, rangkuman lebih identik dengan ringkasan untuk karangan yang lebih panjang, misalnya berupa buku. Ide-ide pokok yang tersebar dalam banyak bab atau beberapa buku, disatukan ke
dalam satu bentuk karangan ringkas. Adapun ikhtisar merupakan ringkasan untuk karangan-karangan singkat, misalnya untuk satu atau dua bab. Dengan demikian, merangkum merupakan kegiatan menyingkat bacaan dengan tetap mempertahankan
urutan isinya. Merangkum mengandung arti mengambil inti karangan. Jenis ini dilakukan dengan cara mengambil inti/ pokok-pokok informasi dalam karangan, lalu menyusunnya kembali menjadi lebih pendek dengan kata-kata dan kalimat yang dirangkai
sendiri oleh penyusunnya. Manfaat merangkum merupakan sarana untuk mengingat isi buku atau uraian yang sangat panjang. Rangkuman memuat ide-ide pokok yang mewakili setiap bagian bacaan aslinya. Dengan membaca rangkuman, anda seakan-
akan memahami keseluruhan buku tersebut secara utuh. Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan saat membuat ringkasan atau rangkuman dalam bentuk buku, yakni sebagai berikut: 1. Membaca naskah aslinya Sebelum merangkum, kita harus
membaca teks bacaan seluruhnya untuk mengetahui kesan umum, terutama maksud penulis dan sudut pandangannya. 2. Mencatat gagasan utama Mencari gagasan utama dalam setiap paragraf. Atau mencari informasi pokok dalam setiap paragraf.
3. Membuat reproduksi Setelah melalui kedua tahap tersebut, barulah kita menyusun kembali bacaan tersebut dalam suatu karangan singkat berdasarkan g agasan utama yang telah dicatat. Menyusun kembali gagasan utama dengan memperhatikan
kata penghubung antarkalimat yang tepat. Selain itu, gagasan utama tersebut disusun secara urut. Semoga bermanfaat. POSTED IN: MATERI BAHASA INDONESIA SMA KELAS XI Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda 0 komentar: Posting
Komentar

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

MENULIS RINGKASAN RANGKUMAN

DAN MERESENSI DENGAN BAIK

DUWI RATNA SARI


PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016

MENULIS RINGKASAN RANGKUMAN


DAN MERESENSI DENGAN BAIK

DUWI RATNA SARI

Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Bahasa Indonesia

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalahbahasa
indonesia tentang Menulis.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna
dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena
itu kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun
dari berbagai pihak.
Terima kasih pula untuk segala pihak yang telah membantu dan yang telah memberi
dorongan dan bimbingan khususnya kepada dosen Bahasa Indonesia Ibu Shinta Anggreany
SP.,Msi yang sudah membimbing dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik. kami mengharapkan pula segala bentuk saran serta masukan
bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
perkembangan dunia pendidikan.

Jambi, 12 Oktober 2016


Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar................................................................................................................. 1
Daftar Isi............................................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................. 3
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................................... 4
1.3 Tujuan............................................................................................................................4
1.4 Manfaat..........................................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................... 5
2.1 Pengertian Menulis........................................................................................................ 5
2.2 Tahap Tahap Menulis.................................................................................................... 5
2.3 Ringkasan dan Rangkuman........................................................................................... 7
2.4 Resensi ........................................................................................................................ 12
BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 19
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................. 19
3.2 Saran............................................................................................................................ 19
Daftar Pustaka..................................................................................................................20

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa. Kegiatan menulis sangat
berguna untuk kepentingan umum, tetapi selain itu dalam dunia pendidikan kegiatan menulis
akan lebih berharga. Karena pada hakikatnya kegiatan menulis dapat membentu lebih mudah
dalam proses berpikir. Menurut Ende (1988:6), menulis adalah suatu alat yang sangat ampuh
dalam belajar yang dengan sendirinya memainkan peran yang sangat penting dalam dunia
pendidikan. Berbeda dengan pengertian tersebut, kegiatan menulis merupakan kegiatan
melukiskan huruf (Marsam,1983:271). Dari beberapa pendangan menulis menurut beberapa
pakar di atas, maka dapat dikatakan bahwa kegiatan menulis dapat membantu dalam proses
berpikir untuk menghasilkan ide-ide baru sehingga dapat berperan dalam kegiatan
memecahkan masalah. Pada hakikatnya kemampuan baca-tulis merupakan suatu kemampuan
yang mampu mendorong kemampuan intelaktual manusia yang berperan dalam proses
mental.
Ende (1988:7) menyatakan bahwa dalam kegiatan menulis, terdapat riter-unsur pokok
yang sangat penting dalam membantu proses berpikir. Unsur-unsur pokok yang sangat
penting dalam proses berpikir tersebut, meliputi: penemuan, penataan, dan gaya. Unsur
penemuan merupakan proses didapatkannya ide yang akan dibicarakan atau didapatkannya
ide yang akan dibicarakan atau ditulis. Proses ini bersifat intuitif, tetapi cara mengarahkannya
dapat dipelajari dengan jalan menggunakan prosedur formal untuk menganalisis dan
menelitinya. Pada riter penataan, terdapat proses penemuan dasar-dasar pengaturan yang
memungkinkan diorganisasikannya ide-ide sedemikian rupa sehingga mudah dipahami dan
dipercayai oleh pembaca. Sedangkan riter gaya adalah proses penentuan pemilihan mengenai
struktur kalimat dana diksi yang akan dipakai dalam tulisan yang hendak disusun.
Dalam kegiatan menulis tentu diharapkannya hasil yang baik dan maksimal. Tulisan
yang baiak merupakan tulisan yang dapat dipahami oleh pembaca, selain itu riteria tulisan
yang baik tersebut adalah adanya keefektifan dalam penggunaan kalimat sehingga secara
tidak langsung dapat mempermudah pembaca dalam memahami maksud tulisan tersebut.
Tulisan yang baik ialah tulisan yang dapat berkomunikasi secara efektif dengan pembaca
kepada siapa tulisan itu ditujukan (Ende,1988:8). Selain itu menurut Ende (1988:8), cirri-ciri
tulisan yang baik, antara lain: 1) bermakna, 2) jelas, 3) bulat dan utuh. 4) ekonomis, 5)
memenuhi kaidah-kaidah gramatika.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa pengertian menulis?
b. Apa saja tahapan dalam menulis
c. Bagaimana pembuatan makalah yang baik dan benar itu?
d. Apa yang dimaksud dengan rangkuman (ikhtisar), ringkasan dan resensi?
e. Bagaimana tata cara merangkum dan meringkas dengan baik, serta membuat resensi?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui pengertian menulis
b. Mengetauhui tahapan yang baik dalam menulis
c. Mengetahui cara membuat makalah yang baik dan benar
d. Mengetahui tentang materi rangkuman (ikhtisar), ringkasan dan resensi
e. Mengetahui tata cara merangkum dan meringkas yang baik serta membuat resensi
1.4 Manfaat
- Menulis dapat membuat kita lebih mengenali kemampuan dan potensi diri kita.
- Dapat menambah wawasan mahasiswa mengenai tata cara menulis yang baik.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Menulis
Menulis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan
menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai (Tarigan, 1986:15). Menurut Djago
Tarigan mwnulis berari mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran
dan perasaan (Sumarno, 2009:5) juga mengungkapkan pendapatnya mengenai menulis yaitu:
meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimegerti orang lain.
Menulis dapat dianggap sebagai suatu proses maupun suatu hasil. Menulis kegiatan
yang dilakukan oleh seseorang untuk menghasilkan sebuat tulisan. Menurut Heaton salam St.
Y. Slamet (2008:141) menulis merupakan keterampilan yang sukar dan kompleks.
M. Atar Semi (2007:14) dalam bukunya mengungkapkan pengertian menulis adalah
preses kreatuf memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. Burhan
Nurgiantoro (1988:273) menyatakan bahwa menulis adalah akivitas aktif produktif, yaitu
aktivtas menghasilkan bahasa.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan menulis merupakan kegiatan
berupa penuangan ide/gagasan dengan kemampuan yang kompleks melalui aktivitas yang
aktif produktif dalam bentuk simbol huruf dan angka secara sistematis sehingga dapat
dipahami oleh orang lain.

2.2 Tahap Tahap Menulis


Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam menulis pada umunya, dan menulis
karya ilmiah pada khususnya. Tahap-tahap itu adalah sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
Apapun bentuk kegiatan yang dilakukan, perlu adanya persiapan yang baik, begitu
pula pada kegiatan menulis, khususnya menulis karya ilmiah. . Dalam tahap ini kegiatan yang
dilakukan, antara lain adalah a) menentukan pokok bahasan, b) menentukan judul, dan c)
membuat kerangka tulisan.
a) Menetukan Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang dimaksud dalam hal ini adalah tema. Tema perlu ditentukan
terlebih dahulu agar pembahasan yang dilakukan dapat mengarah pada masalah utama.
Sehubungan dengan penetuan tema itu, penulis hendaknya mempertimbangkan faktor a)
ketersedian waktu, b) kesanggupan untuk mengumpulkan bahan dan untuk membahasnya, c)
ketertarikan pembaca dan penulis terhadap tema, d) kemutakhiran tema, dan e)
kebermanfaatan pembahasan terhadap tema yang dipilih.
b) Menentukan Judul
Jika tema sudah diperoleh tahap berikutnya adalah menetukan judul. Dalam
penentuan judul ini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, antara lain, a) judul
hendaknya orisinil, b) judul haruslah sesuai dengan tema, c) judul dapat mencerminkan isi
karya ilmiah, d) judul sedapat mungkin singkat dan menarik.
c) Merumuskan Kerangka Tulisan
Kerangka tulisan merupakan rumusan tentang butir-butir utama yang akan ditulis
dalam karya ilmiah. Butir-butir utama itu hendaknya disusun secara sistematis agar dapat
memberi manfaat bagi penyusun laporan selanjutnya. Manfaat kerangka tulisan itu adalah a)
dapat dipergunakan sebagai pedoman kerja, b) dapat membuat laporan menjadi sistematis,
dan c) dapat digunakan sebagai alat penyimpan gagasan.
2. Tahap Pengumpulan Bahan
Pada tahap ini semua bahan yang diperlukan dikumpulkan untuk diolah dan disusun
lebih lanjut. Bahan-bahan itu dapat diperoleh dari studi pustaka, pengamatan, kuesioner, dan
wawancara. Studi pustaka merupakan suatu studi yang dilakukan terhadap sumber-sumber
tertulis. Pengamatan merupakan suatu kegiatan mengamati objek yang dapat dilakukan secara
langsung dilapangan atau dilakukan secara tidak langsung melalui media-media tertentu.
Kuesioner merupakan suatu alat berupa daftar pertanyaan yang harus dijawab secara tertulis
oleh responden untuk menjaring data. Sementara itu, wawancara merupakan suatu kegiatan
pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab langsung kepada orang yang memiliki
autoritas.
3. Tahap Pengolahan Bahan
Setelah bahan-bahan yang terkumpul memadai, pada tahap ini bahan-bahan itu diolah
dengan cara mengklasifikasinnya ke dalam kelompok-kelompok tertentu, kemudian dianalisis
untuk disusun lebih lanjut.
4. Tahap Penyutingan/Revisi
Pada tahap ini konsep karya ilmiah yang telah disusun diperiksa kembali untuk
melihat kekurangan-kekurangannya. Berdasarkan kekurangan-kekurangan yang ada, akan
dilakukan perbaikan, baik berupa penambahan, pengurangan atau pengubahan.
5. Tahap Penyajian
Pada tahap ini tulisan yang sudah disunting selanjutnya ditulis secra baik dan tepat.
Penyajian karya ilmiah dalam bentuk tulisan ini dapat pula dilanjutkan dengan penyajian
secara lisan pada suatu kesempatan.
2.3 Rangkuman dan Ringkasan
1. Pengertian Ringkasan dan Rangkuman
Ringkasan memiliki banyak pengertian, diantaranya ringkasan (Precis yang berarti
memotong atau memangkas) adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan
yang panjang dalam bentuk singkat.[1]Sedangkan menurut Asmi (2004), Ringkasan
merupakan penyajian singkat dari suatu karangan asli, sedangkan perbandingan bagian atau
bab dari karangan asli secara proposional tetap dipertahankan dalam bentuknya yang singkat.
Ringkasan berasal dari bentuk dasar “ringkas” yang berarti singkat, pendek dari
bentuk yang panjang. Hal ini dipakai untuk mengatakan suatu bentuk karangan panjang yang
dihadirkan dalam jumlah singkat. Suatu ringkasan disajikan dalam bentuk yang lebih pendek
dari tulisan aslinya dengan berpedoman pada keutuhan topik dan gagasan yang ada di dalam
tulisan aslinya yang panjang itu.[2]
Rangkuman (ikhtisar) merupakan hasil kegiatan merangkum. Rangkuman (ikhtisar)
dapat diartikan sebagai suatu hasil merangkum suatu tulisan atau pembicaraan menjadi suatu
uraian yang lebih singkat dengan perbandingan secara proporsional antara bagian yang
dirangkum dengan rangkuman (ikhtisar) -nya (Djuharni, 2001). Rangkuman (ikhtisar) dapat
pula diartikan sebagai hasil merangkai atau menyatukan pokok-pokok pembicaraan atau
tulisan yang terpencar dalam bentuk pokok-pokoknya saja.
Seorang yang membuat rangkuman (ikhtisar) dan ringkasan menulis dengan
menggunakan kata yang dibuatnya sendiri. Jadi, ia tidak boleh memulai ringkasannya dengan
kalimat seperti: “Dalam alinea/Dalam karangan ini pengarang berkata . . .” dsb. Ia harus
langsung saja memulainya dengan meringkas kalimat-kalimat, alinea-alinea, bagian-bagian
dan seterusnya.
2. Tujuan Membuat Ringkasan dan Rangkuman (ikhtisar)
Ringkasan dan rangkuman (ikhtisar) dibuat untuk memendekkan sebuah karangan
yang panjang. Seseorang yang akan membuat ringkasan dan rangkuman (ikhtisar) harus
memilah-milah mana gagasan utama dan gagasan tambahan. Karena tujuan ringkasan dan
rangkuman (ikhtisar) adalah memahami dan mengetahui isi dari sebuah buku, sehingga
diperlukan latihan-latihan untuk membimbing seseorang agar dapat membaca karangan
dengan cepat. Jadi salah satu tujuan dari membuat ringkasan dan rangkuman (ikhtisar) yaitu
untuk membantu seseorang agar bisa membaca sebuah buku dalam waktu singkat dan
menghemat waktu.
Seorang penulis ringkasan dan rangkuman (ikhtisar) tidak akan membuat ringkasan
dan rangkuman (ikhtisar) yang baik bila ia kurang teliti dalam membaca dan tidak dapat
membeda-bedakan gagasan utama dan gagasan tambahan. Kemampuan dalam membedakan
tingkat-tingkat gagasan itu akan membantunya untuk mengasah kemampuan dalam gaya
bahasa, dan menghindari pemakaian uraian panjang lebar yang mungkin masuk di dalam
karangan tersebut.
3. Cara Membuat Ringkasan dan rangkuman (ikhtisar)
Bagi mereka yang sudah terbiasa dalam membuat ringkasan dan rangkuman
(ikhtisar), biasanya tahu cara membuat ringkasan dan rangkuman (ikhtisar) yang baik. Tetapi
disamping itu perlu untuk memberikan beberapa patokan sebagai pegangan, khususnya bagi
mereka yang belum pernah melakukan itu atau baru untuk memulainya. Setelah terbiasa,
mungkin beberapa patokan itu juga tidak akan diperlukan lagi.
Hal yang harus diperhatikan di dalam membuat rangkuman (ikhtisar) adalah
penggunaan bahasa yang digunakan di dalam rangkuman (ikhtisar). Bahasa rangkuman
(ikhtisar) harus berbeda dengan bahasa asli penulis buku yang dirangkum. Akan tetapi,
bahasa rangkuman (ikhtisar) yang dibuat bertolak dari ide pokok pengarang yang tertuang
dalam setiap paragraf atau bacaan. Dengan demikian, jika akan merangkum uraian pengarang
dari suatu paragraf, penulis terlebih dahulu perlu menemukan ide pokok yang terdapat di
dalam paragraf tersebut, kemudian diungkap ulang dengan menggunakan bahasa yang
berbeda dan singkat. Agar hasil rangkuman (ikhtisar) itu tidak menyimpang dari uraian
aslinya, ide-ide pokok setiap paragraf jangan diabaikan.[3]
Beberapa pegangan yang digunakan untuk membuat ringkasan dan rangkuman
(ikhtisar) yang baik dan benar antara lain :[4]
1. Membaca Naskah Asli
Langkah awal yang harus dilakukan adalah seorang penulis ringkasan dan
rangkuman (ikhtisar) harus membaca naskah asli satu atau dua kali, bahkan dapat diulang
beberapa kali hingga diketahui kesan umum secara menyeluruh mengenai isi dari naskah
tersebut. Penulis juga perlu mengetahui maksud pengarang dan sudut pandang pengarang.
Agar dapat membantu penulis mencapai itu semua, maka judul dan daftar isi dapat
menjadi acuan dalam karangan itu. Perincian daftar isi memiliki hubungan erat dengan judul
sebuah karangan. Dan juga, alinea-alinea dalam karangan menunjang pokok-pokok yang
terkandung dalam daftar isi. Maka dari itu, penulis sebaiknya memahami dengan baik daftar
isi dari sebuah karangan sehingga lebih mudah untuk mendapatkan kesan umum, maksud asli
pengarang serta sudut pandang pengarang yang terdapat dalam karangan.
2. Mencatat Gagasan Utama
Jika penulis sudah mengetahui kesan umum, maksud asli serta sudut pandang
pengarang, maka sekarang ia harus memperdalam dan mempertegas semua hal itu. Hal yang
harus dilakukan selanjutnya adalah memahami kembali karangan bagian demi bagian, alinea
demi alinea sambil mencatat gagasan-gagasan penting yang tersirat dalam bagian atau alinea
itu.
Tujuan dari pencatatan itu ada dua, yang pertama untuk tujuan pengamatan agar
memudahkan penulis pada waktu meneliti kembali apakah pokok-pokok yang dicatat itu
penting atau tidak; kedua, catatan itu menjadi dasar bagi pengolahan selanjutnya. Yang
terpenting tujuan dari pencatatan ini adalah agar tanpa adanya ikatan teks asli penulis mulai
menulis kembali untuk menyusun sebuah ringkasan dan rangkuman (ikhtisar) dengan
menggunakan pokok-pokok yang telah dicatat.
Sama halnya langkah pertama yang menggunakan judul dan daftar isi sebagai
pegangan, maka dalam pencatatan gagasan ini judul-judul bab, judul anak bab, dan alinea
yang harus dijadikan sasaran pencatatan, bahkan kalau perlu catat juga gagasan bawahan
alinea yang betul-betul esensil untuk memperjelas gagasan utama tadi. Karena sifatnya hanya
sebagai ilustrasi atau deskripsi untuk mejelaskan gagasan utama yang ada dalam alinea
pertama maka perlu diperhatikan bahwa ada alinea yang dapat dihilangkan atau dihilangkan.
Itu semua terjadi karena ada sebuah alinea kedudukannya lebih penting daripada alinea yang
mendahuluinya. Dalam hal ini gagasan utama yang diambil dari rangkaian alinea terdapat
dalam alinea utama, sedangkan alinea-alinea tambahan lainnya bisa diabaikan atau dirangkai
menjadi satu kalimat.
3. Mengadakan Reproduksi
Dengan menggunakan kesan umum pada langkah pertama diatas dan catatan-catatan
yang diperoleh dari langkah kedua diatas, maka seorang penulis sudah siap untuk memulai
membuat rangkuman (ikhtisar) dan ringkasan yang dimaksud. Dalam ringkasan urutan isi
disesuaikan dengan urutan naskah asli dan harus menggunakan bahasa penulis karangan dan
harus diurut. Sedangkan dalam rangkuman (ikhtisar) diperbolehkan untuk menggunakan
bahasa sendiri, tetapi kalimat tersebut masih berhubungan dengan gagasan-gagasan pokok
dalam karangan asli.
Apabila terdapat gagasan-gagasan di antara gagasan-gagasan yang telah dicatat masih
terdapat gagasan yang kabur, maka penulis dapat melihat kembali isi naskah yang asli. Tetapi
dalam membuat rangkuman (ikhtisar) sebaiknya kita tidak mempergunakan teks aslinya agar
kita tidak tertarik memakai kalimat penulis dari naskah yang asli. Sebab kalimat dalam
naskah asli hanya boleh digunakan apabila kalimat itu dianggap penting karena merupakan
kaidah, kesimpulan, atau perumusan yang padat.
4. Ketentuan Tambahan
Dengan membuat reproduksi, belum tentu pengarang sudah mengerjakan segala
sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Adapun bebrapa hal yang perlu diperhatikan agar
rangkuman (ikhtisar) dan ringkasan dapat ditulis dengan baik, diantaranya:
a) Sebaiknya dalam menyusun ringkasan dan rangkuman (ikhtisar)
mempergunakan dalam kalimat tunggal daripada kalimat majemuk. Kalimat majemuk
menunjukkan bahwa ada dua gagasan atau lebih yang bersifat paralel. Bila ada kalimat
majemuk telitilah kembali apakah tidak mungkin dijadikan kalimat tunggal.
b) Ringkaslah kalimat menjadi frase dan frase menjadi kata. Begitu pula jika
rangkaian gagasan yang panjang hendaknya diganti dengan suatu gagasan sentral saja. Tidak
berarti cara kerja ringkasan hanya merupakan rangkuman (ikhtisar) dan ringkasan kalimat-
kalimat saja.
c) Besarnya rangkuman (ikhtisar) dan ringkasan tergantung jumlah alinea dan topik
utama yang akan dimasukkan dalam ringkasan. Alinea yang mengandung ilustrasi, contoh,
deskripsi, dsb. dapat dihilangkan, kecuali yang dianggap penting. Semua alinea semacam itu
yang akan dipertahankan karena dianggap penting, harus pula dipersingkat atau
digeneralisasi.
d) Jika memungkinkan buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada, meski
terkadang sebuah kata sifat atau keterangan masih dipertahankan untuk menjelaskan gagasan
umum yang tersirat dalam rangkaian keterangan atau rangkaian kata sifat yang terdapat
dalam naskah.
e) Pertahankan semua gagasan asli dan urutan naskahnya. Tetapi yang sudah
dicatat dari karangan asli itulah yang harus dirumuskan kembali dalam kalimat ringkasan dan
rangkuman (ikhtisar) yang dibuat oleh penulis. Jagalah juga agar tidak ada hal yang baru atau
pikiran penulis yang dimasukkan kedalam ringkasan dan rangkuman (ikhtisar).
2.4 Resensi
1. Pengertian resensi
Resensi adalah karangan yang berisi komentar ataupun bahasan terhadap kualitas,
kelebihan dan kelemahan dari suatu buku. Unsur-unsur resensi meliputi: Identitas buku (judul
buku; nama pengarang; nama penerbit; tahun terbit ; tebal buku); pokok-pokok isi buku;
keunggulanisi buku; kekurangan isi buku; saran-saran yang mungkin ditambahkan pada isi
buku; serta penilaian terhadap buku.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Resensi adalah pertimbangan atau
pembicaraan tentang buku; ulasan buku (majalah itu memuat), buku-buku yang baru
terbit. Secara etimologi, "Resensi" berasal dari bahasa Latin, dari kata kerja “revidere” atau
“recensere” yang memilik arti melihat kembali, menimbang atau menilai, mengulas sebuah
buku
Berikut ini Definisi, Arti dan Pengertian Resensi Menurut Beberapa Para Ahli
a. WJS. Poerwadarminta (dalam Romli, 2003:75) mengemukakan bahwa resensi
secara bahasa sebagai pertimbangan atau perbincangan tentang sebuah buku yang menilai
kelebihan atau kekurangan buku tersebut, menarik-tidaknya tema dan isi buku, kritikan, dan
memberi dorongan kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki
atau dibeli. Perbincangan buku tersebut dimuat di surat kabar atau majalah.
b. Resensi menurut Panuti Sudjiman (1984) adalah hasil pembahasan dan penilaian
yang pendek tentang suatu karya tulis.
c. Saryono (1997:56) menjelaskan r esensi sebagai sebuah tulisan berupa esai dan
bukan merupakan bagian suatu ulasan yang lebih besar mengenai sebuah buku. Isinya adalah
laporan, ulasan, dan pertimbangan baik-buruknya, kuat-lemahnya, bermanfaat-tidaknya ,
benar-salahnya, argumentatif- tidaknya buku tersebut. Tulisan tersebut didukung dengan
ilustrasi buku yang diresensi, baik berupa foto buku atau foto copi sampul buku.
Ada yang berpendapat bahwa minimal ada tiga jenis resensi buku.
1. Informatif, maksudnya isi dari resensi hanya secara singkat dan umum dalam
menyampaikan keseluruhan isi buku.
2. Deskriptif, maksudnya ulasan bersifat detail pada tiap bagian/bab
3. Kritis, maksudnya resensi berbentuk ulasan detail dengan metodologi ilmu
pengetahuan tertentu. Isi dari resensi biasanya kritis dan objektif dalam menilai isi buku
Namun, ketiga jenis resensi di atas tidak baku. Bisa jadi resensi jenis informatif
namun memuat analisa deskripsi dan kritis. Alhasil, ketiganya bisa diterapkan bersamaan.

2. Dasar Resensi
Untuk memberi pertimbangan atau penilaian secara obyektif atas sebuah hasil karya
atau buku, penulis harus memperhatiakan dua faktor yaitu :
a. Penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan dari pengarang aslinya
b. Penulis harus menyadari sepenuhnya apa maksudnya membuat resesni itu
Tujuan pengarang buku yang dibuat resensinya itu dapat diketahui dari kata pengantar
atau bagian pendahuluan buku itu. Penulis resensi harus menmukan apa tujuan pengarang
dalam menulis buku itu. Apakah tujuan buku itu betul-betul direalisasi dalam seluruh buku
itu. Dengan menilai kaitan antara tujuan sebagaimana ditulis dalam kata pengantar atau
pendahuluan serta realisasinya dalam seluruh karangan itu, penulis resensi akan mempunyai
bahan yang cukup kuat untuk dapat menyampaikan sesuatu kepada para pembaca.
Seperti halnya dengan semua tulisan yang lain, resensi harus dibuat dengan
memperhatikan kualitas pembacanya. Pembca dalam hal ini tidak lain dari semua langganan
majalah atau media massa yang memuat resensi itu. Untuk penulis harus menganalisa betapa
pengetahuan pembaca mengenai pokok persoalan yang akan dibahas itu, bagaimana selera
mereka dan sebagainya.
Artinya penulis resensi harus benar-benar memperhatiakan kewajiban mana yang
harus dipenuhinya dalam membuat resensi itu, yaitu : kewajibannya terhadap para pembaca,
dan bagaimana penilaiannya atas buku itu.
3. Cara membuat resensi
Pada saat membuat resensi, resentator harus betul-betul menguasai dan mengetahui
bahan yang akan diresensi. Dengan demikian, karangan resensi tidak hanya mengungkapkan
segala sesuatu yang terdapat didalam karya tersebut, melainkan mencangkup pula uraian
perbandingan dengan karya-karya lain yang sejenisnya. Guna memberi gambaran yang
semakin jelas tentang resensi, berikut ini akan diuraikan beberapa hal yang perlu mendapat
perhatian dari peresensi (Djuharie, 2011)
a. Peresensi harus bersikap objektif terhadap sesuatu yang akan diresensi dan
meninggalakan sepenuhnya sikap subjektifitas.
b. Peresensi mempunyai wawasan yang cukup luas terhadap bahan yang akan diresensi
c. Peresesnsi harus mencoba membandingkan dengan sajian bentuk lain yang memiliki
kesesuaian dengan bahan yang akan diresensi
d. Peresensi harus mencoba memberikan komentar dengan acuan yang jeas dan terarah
pada bagian yang diberi komentar agar tidak menimbulakan kesalah tafsiran antara
resentator denga penulis buku tersebut
e. Peresensi haru mengungkapkan data berupa bagaian atau unsur-unsur yang diresensi
secara jelas dan lengkap agar dapat dengan mudah dihubung-hubungkan antara keduanya
oleh pembaca
f. Peresensi harus menghindari interprestasi yang keliru terhadap bahan yang diresesni,
yaitu dengan cara mengetahui dengan jelas tujuan dan arah penulis/penyaji karya tersebut
Dengan memahami beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang peresensi,
diharapkan akan memberikan arah dan gambaran di dalam membuat resensi.
1. Tahap –tahap membuat resensi
1. Jenis Buku
Jenis/bentuk buku itu apakah roman, novel, biografi, atau yang lain. Selain itu seorang
resentator menyebutkan juga buku termasuk buku fiksi atau nonfiksi.
2. Keaslian Ide
Buku itu apakah benar-benar merupakan karya asli dari pengarangnya atau jiplakan dari buku
lain yang pernah terbit.
3. Bentuk
Bagaimana mengenai bentuk atau format dari buku itu. Apakah bentuknya, kertas, ilustrasi
cover, jenis huruf yang dipakai, dan sebagainya.
4. Isi dan Bahasa
Dilihat dari segi isi, resentator perlu memperhatikan unsur-unsur intrinsiknya, yaitu tentang
tema, alur, perwatakan, sudut pandang dan sebagainya. Bahasa dalam buku itu dapat ditinjau
dari segi struktur kalimat, gaya bahasa/style, ungkapan dan lain-lain. Apakah bahasa yang
digunakan memakai bahasa sehari-hari yang segar tidak menjemukan, mudah dimengerti oleh
pembaca, dan sebagainya. Mudah dipahami atau sukar diterima pembaca. Pengujian materi
mendapat perhatian juga dari resentator.
5. Simpulan
Akhirnya seorang penulis resensi harus dapat menyimpulkan, apakah buku itu baik dan perlu
dibaca atau tidak.
 menulis data buku yang dibaca
 menulis ikhtisar isi buku,
 mendaftar butir-butir yang merupakan kelebihan dan kekurangan buku
 menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan atau isi buku, dan
 memadukan ikhtisar dan tanggapan pribadi ke dalam tulisan yang utuh.
4. Unsur-unsur Resensi
Daniel Samad (1997: 7-8) menyebutkan unsur-unsur resensi adalah sebagai berikut :
1. membuat judul resensi
Judul resensi yang menarik dan benar-benar menjiwai seluruh tulisan atau inti tulisan,
tidak harus ditetapkan terlebih dahulu. Judul dapat dibuat sesudah resensi selesai. Perlu
diingat, judul resensi selaras dengan keseluruhan isi resensi.
2. Menyusun data buku atau identitas buku
Data buku biasanya disusun sebagai berikut:
a. judul buku (Apakah buku itu termasuk buku hasil terjemahan. Kalau demikian, tuliskan
judul aslinya .);
b. pengarang (Kalau ada, tulislah juga penerjemah, editor, atau penyunting seperti yang
tertera pada buku.);
c. nama penerbit
d. tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa);
e. tebal buku;
f. harga buku (jika diperlukan).
3. Membuat pembukaan
Pembukaan dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini:
a. memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa saja, dan prestasi apa saja
yang diperoleh;
b. membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik oleh pengarang sendiri
maupun oleh pengarang lain;
c. memaparkan kekhasan atau sosok pengarang;
d. memaparkan keunikan buku;
e. merumuskan tema buku;
f. mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku;
g. mengungkapkan kesan terhadap buku;
h. memperkenalkan penerbit;
i. mengajukan pertanyaan;
j. membuka dialog.
4. Tubuh atau isi pernyataan resensi buku
Tubuh atau isi pernyataan resensi biasanya memuat hal-hal di bawah ini:
a. sinopsis atau isi buku secara bernas dan kronologis;
b. ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya;
c. keunggulan buku;
d. kelemahan buku;
e. rumusan kerangka buku;
f. tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit);
g. adanya kesalahan cetak.
5. Penutup resensi buku
Bagian penutup, biasnya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa.
Sistematika Resensi Film
a. Pendahulan
- Judul Film :……
- nama Sutradara :…….
- Produser :…..
- Penulis Skenario :……
- Pemain : …….
b. isi Resensi
Isi resensi film meliputi alur cerita, pembahasan karakter aktor dan aktris, sutradara,
skenario, editing, dan tata artistik.
c. Penutup
berisi simpulan mengenai kelebihan dan kelemahan film dan juga pendapat dari penulis
resensi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
-Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dikuasai dengan baik oleh
setiap orang, terutama bagi sivitas akademik.
-Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topic
tertentu yang ditulis secara sistematis dengan disertai analisis yang logis dan objektif suatu
masalah.
-Ringkasan merupakan penyajian singkat dari suatu karangan asli, sedangkan perbandingan
bagian atau bab dari karangan asli secara proposional tetap dipertahankan dalam bentuknya
yang singkat.
-Rangkuman (ikhtisar) merupakan penulisan pokok masalah yang penulisnya tidak harus
berurutan, boleh secara acak atau disajikan dalam bahasa pembuat ikhtisar tanpa mengubah
tema sebuah wacana.
-Resensi adalah karangan yang berisi komentar ataupun bahasan terhadap kualitas, kelebihan
dan kelemahan dari suatu buku. Unsur-unsur resensi meliputi: Identitas buku (judul buku;
nama pengarang; nama penerbit; tahun terbit ; tebal buku); pokok-pokok isi buku;
keunggulanisi buku; kekurangan isi buku; saran-saran yang mungkin ditambahkan pada isi
buku; serta penilaian terhadap buku.

3.2 Saran
Saran saya, baiknya kita sebagai mahasiswa hendaknya kita memahami
betul tentang bagaimana menulis dengan baik, membuat makalah, meringkas, merangkum
maupun meresensi sesuai dengan kaidahnya, dan juga dapat menyusunnya dengan cara
sistematis agar mudah di pahami.

DAFTAR PUSTAKA

https://indonesiaumroh.wordpress.com/materi-menulis/

http://depisatir.blogspot.co.id/2013/10/makalah-bahasa-indonesia-menulis.html

http://guru-umarbakri.blogspot.com/2009/07/terampil-menulis.html

http://pelitaku.sabda.org/cara_membuat_ringkasan

http://jajawilsa.blogspot.com/2009/05/pengertian-resensi.html

http://zarmisukses.blogspot.co.id/2014/12/makalah-menulis_21.html

http://www.kajianpustaka.com/2013/07/pengertian-tujuan-dan-tahapan-menulis.html