Anda di halaman 1dari 21

AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH;

PENGERTIAN, SEJARAH, DAN TOKOH

Dibuat Oleh
1. SILFITAWATI KUNA
2.RIZKI YAHYA
3.MOHAMAD PALDI POTUTU
4.AFIFAH TUZ ZUHRO
5.MOH.BADRUTMAN RUSANDI

UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA GORONTALO


2018
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT dengan rahmat dan hidayah-Nya,
penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada
nabi Muhammad SAW. Dalam Resume Materi Kuliah yang berjudul “Ahlusunnah Wal
Jama’ah: Pengertian, Sejarah, dan Tokoh-Tokoh Aswaja”
” penulis bermaksud menjelaskan secara detail tentang materi penalaran. Adapun tujuan
pembuatan resume ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Agama 2 (Ahlusunnah Wal Jama’ah).
Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan penulisan resume ini.

Gorontalo, 25 Oktober 2018

Penyusun
Kelompok 1
BAB I
PENDAHULUAN

Aswaja sangat perlu dipelajari karena Aswaja termasuk ajaran orang-orang Islam secara
keseluruhan dan sebagai bekal untuk pedoman hidup dalam sehari-hari. Aswaja adalah suatu
golongan yang menganut syariat islam yang berdasarkan pada al-quran dan hadis. Aswaja
sebagai bagian dari kajian keislaman merupakan upaya yang mendudukkan aswaja secara
proposional, bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran atau golongan tertentu
yang mungkin secara subyektif kita anggap baik karena rumusan dan konsep pemikiran teologis
yang diformulasikan oleh suatu aliran, sangat dipengaruhi suatu masalah teori pada masanya dan
mempunyai sikap.
Materi yang akan kita bahas meliputi:
1. Pengertian, Ajaran, Ciri Khas dan Dasar Akidah Aswaja
2. Sejarah Kemunculan Aswaja(FaktorReligius, Sosialdan Politik),
3. Perbedaan Aswaja dan kelompok lain di bidang Aqidah, Fiqh dan Politik
4. Pandangan Aswaja terhadap Hubungan Syara dengan Akal, Ilmu Kalam dan Filsafat
5. Mengenal Tokoh-Tokoh Aswaja
BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN, AJARAN, CIRI KHAS DAN DASAR AKIDAH ASWAJA


a. Pengertian Aswaja
1) Pengertian secara bahasa
Aswaja merupakan singkatan dari Ahlussunnah wa al-Jama’ah. Ada tiga kata yang membentuk
istilah tersebut, yaitu :
a) Ahl, berarti keluarga, golongan, atau pengikut.
b) Al-Sunnah, secara bahasa bermakna al-thariqah-wa-law-ghaira mardhiyah (jalan atau cara
walaupun tidak diridhoi).
c) Al-Jama’ah berasal dari kata jama’a artinya mengumpulkan sesuatu, dengan mendekatkan
sebagian ke sebagian lain. Jama’ah berasal adri kata ijtima’ (perkumpulan), lawan kata dari
tafarruq (perceraian) dan furqah (perpecahan). Jama’ah adalah sekelompok orang banyak dan
dikatakan sekelompok manusia yang berkumpul berdasarkan satu tujuan.
2) Pengertian secara istilah,
Menurut istilah, “Sunnah” adalah suatu nama untuk cara yang diridloi oleh agama yang di
tempuh oleh Rasullallah selainya dari kalangan orang yang mengerti tentang islam, seperti para
sahabat Rasullallah. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah:

‫الرا ِشدِينَ ِمن بَعدِي‬ ِ ‫سنَّ ِة ال ُخ‬


َّ ‫لفـاء‬ ُ ‫َعلي ُكم ِب‬
ُ ‫سنَّتي َو‬
“ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafa Rasyidin setelahku”
Menurut Hasyim Asy’ari, dalam istilah syariat (fikih) “Sunnah” artinya sesuatu yang dianjurkan
untuk dilakukakan tetapi tidaak wajib.
Menurut para ulama Ushul Fiqh, kata “Sunnah” berarti apapun yang dilakukan, dikatakan, atau
ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw, yang dapat dijadikan sebagai dalil dalam menetapkan
suatu hukum syar’i.
Menurut para ahli kalam (para teolog), “Sunnah” ialah kenyakinan (i’tiqad) yang didasarkan
pada dalil naql (al-quran, hadis, qawl atau ucapan shahabi, bukan semata bersandar pada
pemahaman akal (rasio).
Menurut para ahli polotik, “Sunnah” ialah jejak yang ditinggalkan oleh Rasulullah dan para
Khulafa Rasyidin.
Sedangkan jama’ah secara istilah adalah kelompok kaum muslimin dari para dahulu dari
kalangan sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti jejak kebaikan mereka sampai hari
kiamat. Mereka berkumpul berdasarkan Al-quran dan Sunnahdan mereka berjalan sesuai dengan
yang telah ditempuh oleh Rasulullah baik secara lahir maupun batin. Definisi lain berdasarkan
hadis Rasullallah jama’ah adalah apa yang telah disepakati oleh sahabat Rosul pada masa
Khulafau Rosidi. Pada hadis Nabi ketika menjawab pertanyaan sahabat tentang (akan) adanya
perpecahan menjadi 71 atau 72 golongan, dan yang selamat hanya satu golongan,. yaitual-
jama’ah. Rasulullah bersabda:

َ‫َمن أَراَدَبُحبو َحةَال َجنَّةَ فَليَلزَ ِم ال َجما َعة‬


“Barangsiapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai disurga, maka hendaklah ia
mengikuti al-jama’ah (kelompok yang menjadi kebersamaan).” (HR. Al-Tirmidzi (2091), dan al-
Hakim (1/77-78) yang menilainya shahih dan disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi).
Dengan demikian Aswaja adalah golongan pengikut setia Nabi Muhammad SAW dan
sahabatnya, jadi Ahlussunnah wal-jama’ah adalah orang-orang yang selalu berpedoman pada
sunnah Nabi Muhammad SAW dan jalan para sahabatnya dalam masalah aqidah keagamaan,
amalan-amalan lahiriyah serta ahlak baik dan islam murni yang langsung dari Rasullallah
kemudian diteruskan oleh sahabatnya.
KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (1287-1336 H/ 1871-1947) menyebutkan dalam kitabnya
Ziyadat Ta’liqat (hal. 23-24) sebagai berikut:

َ‫ث َوال ِفق ِه فإِنَّ ُهم ال ُمهتَدُون‬ ُ ‫سنَ ِة فَ ُهم أَه ُل التَّفس‬
ِ ‫ِير َوال َحدِي‬ ُّ ‫أ َ َّماأَه ُل ال‬
َ‫الرا ِشدِين‬
َّ ُ‫اءبَعدَه‬ ِ َ‫سنَّ ِة النَّ ِيي صلي هللا علي ِه وسلم وال ُخلَف‬ُ ‫ال ُمت َ َم ِس ُكونَ ِب‬
َ‫ب أَربَعَ ٍة ال َحنَ ِفيُّون‬ َ ‫وم فِي مذَا ِه‬ َ ُ‫اجيَةُقَال‬
َ َ‫ووقَد اجت َ َمعَت الي‬ ِ َّ‫اءفَةُ الن‬ َّ ‫َو ُهم‬
ِ ‫الط‬
َ‫شافِ ِعيُّونَ َوال َما ِل ِكيُّونِ َوال َحنبَليُّون‬َّ ‫َوال‬
“Adapun Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadis, dan ahli fikih.
Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi Muhammad saw dan
sunnah Khufaur Rasyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat (al-firqah al-
najiyah). Mereka mengatakan, bahwa kelompok tersebut sekarang ini terhimpun dalam madzhab
yang empat, yaitu pengikut Madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali.”
Oleh karena itu, tidak ada seorangpun yang menjadi pendiri ajaran Ahlussunnah Wal-Jama’ah.
Yang ada hanyalah ulama yang telah merumuskan kembali ajaran Islam tersebut setelah lahirnya
beberapa faham dan aliran keagamaan yang berusaha mengaburkan ajaran Rasulullah dan para
sahabatnyayang murni.

b. Ajaran Aswaja
Islam adalah agama allah yang diturunkan untuk seluruh manusia di dalamnya terdapat pedoman
dan aturan demi kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ada 3 hal yang menjadi
sendi utama dalam agama Islam itu yaitu iman, islam, dan ihsan. Dalam sebuah hadis dijelaskan
bahwa iman adalah orang yang beriman kepada Allah SWT, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para
rasul-Nya, hari kiamat, dan qadar (ketentuan)Allah yang baik dan yang buruk. Islam adalah
orang yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah SWT dan Muhammad adalah utusan Allah,
mengerjakan sholat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Ihsan
adalah orang yang menyembah Allah SWT seolah-olah kamu melihat-Nya.
Dari sisi keilmuan, semula ketiganya merupakan satu-kesatuan yang tidak terbagi-bagi namun
selanjutnya para ulama’ mengadakan pemisahan, sehingga menjadi ilmu tersendiri bagian-bagian
itu mereka gabungkan sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda, iman memunculkan ilmu
tauhid atau ilmu kalam islam menghadirkan ilmu fiqih atau ilmu hukum islam. Dan ihsan
menghadirkan ilmu tasawuf atau ilmu ahlak.
Meskipun telah menjadi ilmu tersendiri, tiga perkara itu harus diterapkan secara bersamaan tanpa
melakukan perbedaan. Misalnya orang yang sedang sholat dia harus mengesakan Allah disertai
kenyakinan bahwa hanya Allah yang wajib disembah (iman), harus memenuhi syarat dan rukun
sholat (islam), dan sholat harus dilakukan dengan khusyu’ den penuh penghayatan (ihsan).
Dalam perkembangan sejarah umat islam, terdapat aspek lain yang dapat membedakan ajaran
aswaja dengan kelompok lain. Aspek tersebut adalah aspek politik. Aspek politik ini dengan
sendirinya melengkapi inti ajaran aswaja (terutama bila diperbandingkan dengan ajaran
kelompok lainya), selain aspek aqidah atau teologi dan fiqih atau hukum
c. Ciri Khas Aswaja
Ciri khas akidah aswaja antara lain menyakini bahwa allah itu ada tanpa arah dan tanpa tempat.
Hal ini diantaranya yang membedakan Aswaja dengan aliran lain. Allah SWT berfirman:

َ َ‫ل‬
‫شَي ٌء‬،‫يس َك ِمث ِل ِه‬
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” (QS. Al-Syura :11)
Ayat ini adalah ayat yang paling tegas dalam menjelaskan kesucian Allah SWT secra mutlak
tidak menyerupai mahluk-Nya dari aspek apapun.
Ulama Aswaja menjelaskan bahwa alam (mahkluk Allah) terbagi atas dua bagian, yaitu:
1) Al-jauhar al-fard, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas
terkecil.
2) Jims, yaitu benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian. Benda ini juga terbagi lagi
menjadi dua macam, yaitu:
a) Benda lathif, yaitu sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan seperti cahaya, roh, angin,
dan sebagainya.
b) Benda katsif, sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda
padat (jamad) dan sebagainya.
Dalil berikut ini juga menunjukkan bahwa Allah itu tanpa arah dan tanpa tempat, yaitu hadis
shahih:

ِ ‫سو ُل‬
‫هللا صلي هللا علي ِه‬ ُ ‫ي هللاُ َعن ُه َماقَا َل َر‬
َ ‫ض‬
ِ ‫ين َر‬
ٍ ‫ص‬َ ‫بن ُح‬
ِ َ‫مران‬
َ ‫َعن ِع‬
ُ ‫ َكانَ هللا َولَم يَ ُكن شَي ٌءغ‬:‫وسلم‬
) ‫ (رواه البخاري‬.ُ‫َيره‬
Imron bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Allah ada pada
azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya.” (HR. Al-Bukhari :
2953).
Hadis diatas menjelaskan bahwa Allah SWT itu pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan,
Arsy, lagit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. AllahSWT juga tidak berubah dari
wujud semula yani tetap ada tanpa tempat dan arah. Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi juga
mengatakan:

ٌ ‫جري َعلَي ِه زَ َم‬


‫ان‬ ٌ ‫َوأَج َمعُوا َعلي أَنَّهُ الَيَح ِوي ِه َم َك‬
ِ َ‫ان َوالَي‬
“Ahlussunnah Wal-Jama’ah juga bersepakat, bahawa Allah itu tidak diliputi oleh tempat dan
tidak dilalui oleh zaman.”
d. Dasar Akidah Aswaja
Pokok-pokok kenyakinan yang berkaitan dengan tauhid dan lain-lain menurut Aswaja harus
dilandasi oleh dalil dan argumentasi yang definitif (qath’i) dari Al- Quran, hadis, ijma’ ulama
dan rgumentasi akal yang sehat.
Berikut ini rincian dalil-dalil tersebut secara hirarkis.

1. Al-Quran
Al-quran Al-Karim adalah pokok dari semua argumen dan dalil. Al-qur’an adalah dalil yang
membuktikan kebenaran risalah nabi muhammad SAW, dalil yang membuktikan benar dan
tidaknya suatu ajaran. Al-Quran juga merupakan kitab Allah yang terakhir yang menegaskan
pesan-pesan dari kitab-kitab samawi sebelumnya.

‫ول‬
ِ ‫س‬ َّ ‫فَإِن تَنَآزَ ْعتُم فِيشَيءٍ فَ ُردُّوهُ اِلَي هللاِ َو‬
ُ ‫الر‬
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (A-
Quran) dan Rasul (Sunnahnya).” (QS. Al-Nisa’ :59)
Mengembalikan persoalan kepada Allah SWT, berarti mengembalikan kepada Al-Quran.
Sedangkan mengembalikan kepada Rasul, berarti mengembalikannya kepada sunnah Rasul yang
shahinh
.
2. Hadits
Hadits dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah adalah hadits yang perawinya disepakati
dan dapat dipercaya para ulama. Hadits yang dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah
adalah hadits muttawatir. Hadits muttawatir ialah hadits yang disampaikan oleh sekelompok
orang yang banyak dan berdasarkan penyaksian mereka serta sampai kepada penerima hadits
tersebut, baik penerima kedua maupun ketiga melalui jalur kelompok yang banyak pula.
Di bawah hadits muttawatir ada hadits mustafidh atau hadits masyhur, dan ada lagi hadits yang
dibawahnya masyhur, hadits masyhur ialah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih
dari generasi pertama hingga generasi selanjutnya dan dapat dijadikan argumen dalam
menetapkan akidah.
3. Ijma’ ulama
Ijma’ ulama yang mengikuti ajaran ahlul haqq dapat dijadikan argument dalam menentukan
aqidah. Dalam hal ini seperti dasar yang melandasi penetapan bahwa sifat-sifat allah itu qaddim
(tidak ada pemulaanya) adalah ijma’ ulama yang qath’i.

4. Akal
Dalam ayat-ayat al-qur’an allah SWT telah mendorong hamba-hambanya agar merenungkan
semua yang ada di alam jagad raya ini, agar dapat mengantar pada kenyakinan tentang
kemahakuasaan allah, menurut ulama tauhid, akal difungsikan sebagai sarana yang dapat
membuktikan kebenaran syara’, bukan sebagai dasar dalam menetapkan aqidah-aqidah dalam
agama. Meski demikian hasil penalaran akal yang sehat tidak akan keluar dan bertentangan
dengan ajaran yang dibawa oleh syara’.

2. SEJARAH KEMUNCULAN ASWAJA (FAKTOR RELIGIUS, SOSIAL DAN


POLITIK),
Ketika nabi wafat, kaum muslimin masih bersatu dalam agama yang mereka jalani, kecuali
orang-orang munafik yang luarnya menyatakan islam, sedangkan hatinya menyembunyikan
kemunafikan. Klasifikasi social yang ada pada saat itu terdiri dari tiga golongan, orang muslim,
orang kafir dan orang munafik. Namun begitu nabi wafat, perselisihan dikalangan mereka segera
terjadi tentang seorang pemimpin yang akan menjadi pengganti nabi. Kaum anshar
menginginkan kepemimpinan berada ditangan pemimpin mereka yaitu sa’ad bin ubadah.
Sedangkan kaum muhajirin menghendaki kepemimpinan berada di tangan abu bakar. Mereka
pada kesepakatan untuk memilih abu bakar al shiddiq sebagai khalifah.
Setelah abu bakar al-shiddiq wafat, khalifah berpindah ke tangan umar bin al khaththab, sahabat
nabi terbaik setelah abu bakar. Pada masa pemerintahan umar, islam semakin kuat dan negri
muslim semakin luas berkat proses penyebaran islam yang berjalan dengan efektif dengan
ditaklukanya negeri Persia dan romawi, dua Negara terbesar didunia pada saat itu dan kemudian
ditaklukanya negeri-negeri di sekitarnya ke bawah naungan daulah islamiah dalam proses sejarah
yang dikenal dengan istilah al-futuhat al-islamiyyah (penaklukan-penaklukan islam), hingga
akhirnya khalifah umar menemui ajalnya setelah ditikam oleh seorng budak Persia, yaitu abu
lu’lu’ah al-majusi.
Setelah umar wafat, khalifah berpindah ketangan utsman bin affan, menantu nabi Muhammad
SAW yang menyandang gelar Dzun nurain (pemilik dua cahaya) yaitu satu-satunya orang yang
mempunyai dua seorang putri soeorang nabi, rukiayah dan umu kultsum. Dari jalur nasab,
ustman masih termasuk keponakan rasullah, melalui jalur ibunya, Arwah binti Kuraiz yang
masih sepupu rasullallah. Disamping itu uztman juga sahabat rasullallah terbaik setelah wafatnya
ummar.
Setelah 6 tahun dari masa pemerintahan utsman, gejolak politik seputar kebijakan-kebijakan
ustman mulai muncul kepermukaan dan menjadi sasaran kritik sebagian masyarakat ustman dari
jabatanya melalui gerakan yang dibungkus dalam kemasan amar ma’ruf dan nahi munkar
sehingga hal tersebut berakhir dengan terbunuhnya ustman dikaum pembrontak. Kemudian
khalifah berpindah ketangan ali bin abi thalib menantu dan sepupu rasullallah serta sahabat
terbaik setelah wafatnya ustman. Namun beragam kekacauan yang terjadi pada masa ustman
sangat berpengaruh terhadap pemerintahan ali bin abi thalib.
Lahirnya nama ahli sunnah wal jama’ah, sebagian kalangan berasumsi bahwa nama aswaja
muncul pada masa imam madzhab yang empat, ada pula yang berasumsi, muncul pada masa al
imam dan al mathuridi. Dan ada pula yang berasumsi muncul pada sekitar abad ketujuh hijriyah.
Tentu saja asumsi itu keliru dan tidak memiliki landasan ilmiah yang dapat dipertanggung
jawabkan maka pada periode akhir generasi sahabat rasullallah istilah aswaja mulai
diperbincangkan sebagai nama bagi kaum mulimin yang masih setia kepada ajaran islam yang
murni dan tidak terpengaruh pada ajaran-ajaran baru.
Pada beberapa ulama salaf mengatakan bahwa aswaja adalah mereka yang hanya memiliki
hubungan dengan sunnah nabi rasullallah kita tidak akan mampu memastikan sejak kapan titik
permulaan aswaja itu kecuali apabila kita mengakatan permulaan ajaranya adalah titik permulaan
ajaran islam itu sendiri, Disisi lain istilah aswaja memiliki dua sasaran obyek yang berbeda
1. Aswaja dalam kontek yang bersifat umum yaitu menjadi nama bagi mereka yang
bukan pengikut aliran si’ah seperti aliran Mu’tazilah, Murjiah, Karramiyah, Wahhabi dan
lai-lain.
2. aswaja Dlam Konteks yang bersifat khusus yaitu menjadi nama bagi mereka yang
mengikuti ajaran rasullallah dan sahabat secara penuh seperti, Mu’tazilah, Murjiah,
Karramiyah, Wahhabi,Si’ah dan lai-lain

3. PERBEDAAN ASWAJA DAN KELOMPOK LAIN DI BIDANG AQIDAH, FIQH DAN


POLITIK
Ikhtisar Perbedaan Ajaran Antar Kelompok
 Dalam bidang teologi (Aqidah)
ASPEK ASWAJA SYI’AH KHAWARIJ
Rukun 1. Syahadat 1. Shalat Lebih pada gerakan
Islam 2. Shalat 2. Puasa politik
3. Puasa 3. Zakat
4. Zakat 4. Haji
5. Haji 5. Wilajah
Rukun Iman kepada : 1. Tauhid Lebih pada gerakan
Iman 1. Allah 2. Nubuwwah politik
2. Para malaikat allah3. Imamah
3. Kitab-kitap allah 4. Al-‘Ald
4. Para rosul allah 5. Al-Ma’ad
5. Hari akhir
6. Qadha’ dan qadar
Keberadaan Meyakini bahwa Meyakini bahwa al- Meyakini khalq al-
al-Qur’an al-qur’an tetap qur’an tidak orisinil qur’an (penciptaan
orisinal. dan sudah diubah al-quran), karena
oleh para sahabat itu al-qur’an tidak
(dikurangi dan suci.
ditambah)
Surga dan Surga Surga diperuntukkan Setiap orang dari
neraka diperuntukkan bagi bagi orang-orang umat nabi
orang-orang yang yang cinta kepada muhammad yang
taat kepada allah imam ali. Neraka telah melakukan
dan rosul-nya. diperuntukkan bagi dosa dikategorikan
Neraka orang-orang yang sebagai orang kafir
diperuntukkan bagi memusuhi imam ali. dan ia akan kekal
orang-orang yang di dalam neraka
tidak taat kepada
allah dan rosul
Nya
Rujukan Rujukan hadistnya Rujukan haditsnya Hanya mengambil
hadits adalah al-kutub al- adalah Al-kutub al- hadits-hadits yang
sittah. arba’ah yaitu (1) al diriwayatkan oleh
1. Shahih bukhari kafi,(2) al- para pemimpin
2. Shahih muslim istibshar,(3) man la mereka
3. Sunan abu dawud yahdhuruhu al faqih,
4. Sunan turmudzi (4) at-tahdzib
5. Sunan ibnu majah
6. Sunan al-nasa’i

Dalam bidng hukum (fiqh)


ASPEK ASWAJA SYI’AH KHAWARIJ
Mashadir al- Al-qur’an dan
1. al-qur’an dan meyakini hukum
tasyri’ sunnah nabi. sunnah hanya milik allah (la
Sebagian 2. hukma illa lilah),
menambah al- sima(pendengaran) karena itu
ijma (konsensus dari rasulullah menghukumi
ulama) dan al-
3. kitab ali,disebut al- sesuatu dengan
qiyas (analogi jami ah selain hukum allah
hukum) 4. al-isy-raqat al- menurut mereka
ilahiyah. adalah kufur.
Ijtihad Potensi ijtihad Potensi ijtihad
1. potensi ijtihad
terbuka dalam terbuka dalam terbuka, namun
ranah yang ranah selain kesalahan dalam
belum dijelaskan imamah. ijtihad dapat
oleh nash al- menjadikan
qur’an dan seseorang kafir
sunnah 2. hammasah dan
hanya berpegang
teguh pada zhahir
lafal atau teks dalil.
Rujukan fikih Mengambil fikih Mengambil fikih Terutama sekte
dari imam dari pada imam ibadhiyah, memiliki
madzhab empat syi’ah ulama dan kitab-
yaitu abu hanafi, kitab fikih yang
malik, syafi’i, diambil para imam
dan ahmad bin mereka.
hanbal

Dalam Bidang Politik


ASPEK ASWAJA SYI’AH KHAWARIJ
Khulafa’ur Khulafaur Ketiga khalifah -menyatakan keluar
Rasyidin rasyidin yang (abu bakar, umar, dari kepemimpinan
diakui (sah) usman) tidak diakui ali bin abi thalib
adalah oleh syiah (keculi (yang sudah
1. Abu bakar oleh syiah disahkan oleh ahl
2. Umar zaidiyyah). Karena hal wa al-‘aqd dan
3. Usman dianggap telah telah dibaiat rakyat)
4. Ali merampas setelah terjadinya
kekhalifahan ali bin peristiwa takim
abi thalib -mengkafirkan ali,
usman,
mu’awiyah,orang-
orang yang terlibat
dalam perang jamal,
dua pihak yang
menyepakati
perjanjian tahkim,
serta orang-orang
yang mendukung
kedua pihak tersebut
Imamah Pemimpin atau Kepemimpinan Memiliki pemimpin
imam tidak terbatas pada 12 sendiri.
terbatas pada dua imam, dan percaya
belas imam, kepada 12 imam
sehingga percaya termasuk rukun
kepada imam- iman.
imam itu tidak
termasuk rukun
iman.
Ishmah Khalifah atau Para imam yang Pemimpin dapat
imam tidak jumlahnya 12 berbuat salah,
ma’shum, artinya tersebut bahkan kafir. Maka
mereka dapat mempunyai sifat bila pemimpin itu
berbuat salah atau maa’shum seperti kafir maka rakyat
dosa atau lupa. para nabi ikut kafir, karena itu
wajib keluar dari
kepemimpinan iman
yang mereka nilai
telah kafir
Cara pemimpin (imam) Pemimpin telah Khalifah harus
pengangkatan diangkat melalui ditntukan oleh dipilih melalui
pemimpin kesepakatan ahl Allah (nas ilahy) pemilihan yang
hal wa al-aqdi bukan pilihan bebas dan bersih,
atau orang yang rakyat. dilakukan oleh
mengangkat mayoritas kum
dirrinya sendiri muslimin, bukan
( dalam kondisi hanya sebagai
darurat) kemudian golongan dan
diaa dibaiat oleh kepemilihan
ahl haal wa al- khalifah terus sah
aqdi dan rakyat selama ia
menegakkan
keadilan dan syariat,
jauh dari kesalahan
dan kezaliman. Jika
ia berkhianat, wajib
dipecat atau
dibunuh.
Hukum Kpemimpinan Kepemimpinan Kelompok khoarij
pengangkatan hukumnya wajib hukunya wajib bernama najdat
imam karena dalil-dalil berdasarkan nash berpendapat,
syariat. ilahy pengangkatan iman
(persamaan wajib karena
dengan khoarij : maslahat dan
harus ada kebutuhan, bukan
pemimpin untuk wajib karena dalil
mengelola dan syariat
mengamankan
negara. Menurut
khoarij, karena
maslahat).
Syarat Pemimpin harus Pemimpin harus Kholifah tidak harus
pemimpin memenuhi empat berasal dari ahlul dari suku qurasy
syarat yaitu: bait juga tidak harus dari
1. Berasal dari suku bangsa arab. Mereka
quarisy (pada mengangkat
tahap berikutnya Abdullah bin Wahab
terjadi perbedaan al-Rasi (bukan dari
pendapat dalam quraisy) sebagai
hal ini) kholifah dan
2. Baiat menyebutnya amir
3. Syura al-mukminin.
4. Adil

4. PANDANGAN ASWAJA TERHADAP HUBUNGAN SYARA DENGAN AKAL, ILMU


KALAM DAN FILSAFAT
a. Hubungan Syara dan Akal
Problem Hubungan Syara dan Akal ini menyita perhatian dan perdebatan panjang baikdari
kalangan intelektual Muslim bahkan kalangan intelektual yunaani dan kristen pada abad
pertengahan di Eropa. Dikalangan kaum teolog muslimin yang berupaya mengkaji akidah-akidah
islam ada tiga yaitu:
1. Aliran mu’tazilah yang berpandangan bahwa akal didahulukan daripada syara.
2. Aliran hasyawiyah, zhahiriyah dan semacamnya yang hanya mengakui dominasi syara dan
tidak memberikan peran terhadap berkaitan dengan ajaran-ajaran yang dibwa dengan syara.
3. Aliran aswaja mengambil sikap moderat (tawassuth) dan seimbang tawazun, tidak
melepaskan peran akal dari syara sebagaimana halnya.
b. Ilmu Kalam dan Filsafat
Ilmu kalam dianggap negatif oleh kalangan agamawan karena identik dengan ilmu filsafat
yunani.
Perbedaan ilmu kalam dengan ilmu filsafat meliputi metodologi (manhaj) :
1. Dari segi metodologi, ilmu filsafat menjadikan akal sebagai pokok bagi keyakinan tanpa
mempertimbangkan prinsip-prinsip yang dibawa oleh para nabi. Demikian ini berbeda dengan
ilmu kalam yang membicarakan hal-hal dalam konteks akal sebagai satu-satunya perangkat untuk
membuktikan kebenaran ajaran yang datang dari Allah dan ajaran yang dibawa oleh para Nabi.
2. Dari segi objek (maudhu’). Dalam pandangaan ahli kalam, ajaran-ajaran yang diterima dari
syariah itu dianggap menjadi titik permulaan kajiannya. Hal ini berbeda dengan para filosof,
karenaa dalam asumsi mereka kebenaaran itu masih misterius dan belum diketahui secara pasti
ketika kejadian mereka mulai.
3. Dari segi tujuan, seorang ahli ilmu kalam memiliki tujuan yang kongkret yaitu bertujuan
memperkokoh dan memperkuat akidah yang menjadi keyakinan dalam agama.

5. MENGENAL TOKOH-TOKOH ASWAJA


Sebelumnya perlu kita pahami, bahwa ahlussunnah wal jama’ah dalam realita sekarang, dalam
bidang fiqih mengikuti salah satu madzhab yang empat.
Dalam bidang fiqih dan amaliah, Ahlussunnah wal jama’ah mengikuti pola bermadzhab
dengan mengikuti salah satu madzhab fiqh yang dideklarasikan oleh para ulama yang mencapai
tingkatan mujtahid mutlaq. Beberapa madzhab fiqh yang sempat eksis dan diikuti oleh kaum
Muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah ialah madzhab Hanafi. Maliki, Syafi’i, Hanbali, madzhab
Sufyan al-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, ibn Jarir, Dawud al-Zhahiri, al-Laits bin Sa’ad, al-Auza’i,
Abu Tsaur dan lain-lain. Namun kemudian dalam perjalanan panjang sejarah Islam, sebagian
besar madzhab-madzhab tersebut tersisih dalam kompetisi sejarah dan kehilangan pengikut,
kecuali empat madzhab yang tetap eksis dan berkembang hingga dewasa ini. Pengikut empat
madzhab tersebut, diakui sebagai kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Berkaitan dengan hal tersebut, disini perlu dikemukakan sebuah pertanyaan, dimanakah letak
posisi madzhab al-Asy’ari di kalangan pengikut madzhab fiqh yang empat? Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, marilah kita ikuti penjelasan berikut ini secara rinci tentang posisi madzhab
al-Asy’ari di kalangan pengikut madzhab fiqh yang empat.
1. Madzhab Hanafi
Madzhab Hanafi ini didirikan oleh al-Imam abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit al-Kufi (80 – 150
H / 699-767 M). Pada mulanya madzhab Hanafi ini diikuti oleh kaum Muslimin yang tinggal di
Irak, daerah tempat kelahiran abu Hanifah, pendirinya. Namun kemudian, setelah Abu Yusuf
menjabat sebagai hakim agung pada masa Daulah Abbasiyyah, madzhab Hanafi menjadi populer
di negeri-negeri Persia, Mesir, Syam dan Maroko. Dewasa ini, madzhab Hanafi diikuti oleh
kaum Muslimin di Negara-negara Asia Tengah, yang dalam referensi klasik dikenal dengan
negeri seberang Sungai Jihun (sungai Amu Daria dan Sir Daria), Negara Pakistan, Afghanistan,
India, Bangladesh, Turki, Albania, Bosnia dan lain-lain.
Dalam bidang ideologi, mayoritas pengikut madzhab Hanafi mengikuti madzhab al-Maturidi.
Sedangkan ideologi madzhab al-Maturidi sama dengan ideologi madzha al-Asy’ari. Antara
keduanya memang terjadi perbedaan dalam beberapa masalah, tetapi perbedaan tersebut hanya
bersifat verbalistik (lafzhi), tidak bersifat prinsip dan substantif (haqiqi dan ma’nawi). Oleh
karena itu dapatlah dikatakan bahwa pengikut madzhab al-Maturidi adalah pengikut madzhab al-
Asy’ari juga. Demikian pula sebaliknya, pengikut madzhab al-Asy’ari adalah pengikut madzhab
al-Maturidi juga. Dalam hal tersebut al-Imam Tajuddin as-Subki mengatakan, “Mayoritas
pengikut Hanafi adalah pengikut madzhab al-Asy’ari, kecuali sebagian kecil yang mengikuti
Mu’tazilah.”
2. Madzhab Maliki
Madzhab Maliki ini dinisbahkan kepada pendirinya, al-Imam Malik bin Anas al-Ashbahi (93-179
H/712-795 M). Madzhab ini diikuti oleh mayoritas kaum muslimin di Negara-negara Afrika,
seperti Libya, Tunisia, Maroko, Aljazair, Sudan, Mesir, dan lain-lain. Dalam bidang teologi,
seluruh pengikut madzhab Maliki mengikuti madzhab al-Asy’ari tanpa terkecuali. Berdasarkan
penelitian al-Imam Tajuddin as-Subki, belum ditemukan di kalangan pengikut madzhab Maliki,
seorang yang mengikuti selain madzhab al-Asy’ari.
3. Madzhab Syafi’i
Madzhab Syafi’i ini didirikan oleh al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i
(150-204 H/767-820 M). Madzhab Syafi’i ini diakui sebagai madzhab fiqh terbesar jumlah
pengikutnya di seluruh dunia. Tidak ada madzhab fiqh yang memiliki jumlah beitu besar seperti
madzhab Syafi’i, yang diikuti oleh mayoritas kaum Muslimin Asia Tenggara seperti Indonesia,
Malaysia. Filipina, Singapura, Thailand, India bagian Selatan seperti daerah Kirala dan Kalkutta,
mayoritas Negara-negara Syam seperti Syiria, Yordania, Lebanon, Palestina, sebagian besar
penduduk Kurdistan, Kaum Sunni di Iran, mayoritas penduduk Mesir dan lain-lain.
Dalam bidang ideologi, mayoritas pengikut madzhab Syafi’i mengikuti madzhab al-Asy’ari
sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam Tajuddin as-Subki, kecuali beberapa gelintir tokoh yang
mengikuti faham Mujassimah dan Mu’tazilah.
4. Madzhab Hanbali
Madzhab Hanbali ini didirikan oleh al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin
Hanbal al-Syaibani (164-241 H/780-855 M). Madzhab Hanali ini adalah madzhab yang paling
sedikit jumlah pengikutnya, karena tersebarnya madzhab ini berjalan setelah madzhab-madzhab
lain tersosialisasi dan mengakar di tengah masyarakat. Madzhab ini diikuti oleh mayoritas
penduduk Najd, sebagian kecil penduduk Syam dan Mesir. Dalam bidang ideologi, mayoritas
ulama Hanbali yang utama (fudhala’), pada abad pertengahan dan sebelumnya, mengikuti
madzhab al-Asy’ari. Di antara tokoh-tokoh madzhab Hanbali yang mengikuti madzhab al-
Asy’ari ialah al-Imam ibn Sam’un al-Wa’izh, Abu Khaththab al-Kalwadzani, Abu al-Wafa bin
‘Aqil, al-Hafizh ibn al-Jawzi dan lain-lain. Namun kemudian sejak abad pertengahan terjadi
kesenjangan hubungan antara pengikut madzhab al-Asy’ari dengan pengikut madzhab Hanbali.
Berdasarkan penelitian al-Hafizh ibn Asakir al-Dimasyqi, pada awal-awal metamorfosa
berdirinya madzhab al-Asy’ari, para ulama Hanbali bergandengan tangan dengan para ulama al-
Asy’ari dalam menghadapi kelompok-kelompok ahli id’ah seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Khawarij,
Murji’ah dan lain-lain. Ulama Hanbali dalam melawan argumentasi kelompok-kelompok ahli
bid’ah, biasanya menggunakan senjata argumentasi ulama al-Asy’ari. Dalam bidang teologi dan
ushul fiqh, para ulama Hanbali memang belajar kepada ulama madzhab al-Asy’ari. Hingga
akhirnya terjadi perselisihan antara madzhab al-Asy’ari dan madzhab Hanbali pada masa al-
Imam Abu Nashr al-Qusyairi dan pemerintahan Perdana Menteri Nizham al-Mulk. Sejak saat itu,
mulai terpolarisasi kebencian antara pengikut madzhab al-Asy’ari dan madzhab Hanbali.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Aswaja adalah suatu golongan yang menganut syariat islam yang berdasarkan pada al-quran dan
hadis. Ajaran Aswaja berasal dari Nabi Muhammad saw melalui perantara para sahabatnya tanpa
mengalami perubahan. Aswaja sangat penting untuk kita pelajari karena Aswaja merupakan
suatu pedoman hidup yang baik.
Daftar Pustaka
NU Center, T. A. (2013). Risalah Alussunnah Wal-Jamaah. Jakarta: Khalista.
Ramli, M. I. (2011). Pengantar Sejarah AHLUSSUNNAH WAL-JAMAAH. Jakarta: Khalista.