Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS BENTUKLAHAN FLUVIAL KAWASAN

SUNGAI DENGKENG DESA KRAGILAN KECAMATAN GANTIWARNO

OLEH

Anton Cesar Saputra

Jurusan Pendidikan Geografi FIS UNY

Abstrak

Perkembangan sungai pada umumnya ditunjukan dengan ciri berupa kenampakan yang
khas begitu pula yang terjadi pada sungai Dengkeng, sungai yang telah memasuki stadium dewasa
dengan ciri berupa kenampakan-kenampakan bentuklahan hasil dari proses aliran air berupa erosi,
transportasi, dan deposisi. Sungai stadium dewasa merupakan sungai dengan ciri aliran air yang
sudah tidak begitu kuat akibat lokasinya yang sudah berada pada bawah lereng pegunungan atau
perbukitan sehingga proses erosi vertikal berupa pendalaman lembah sudah berkurang akibat
melemahnya tenaga aliran air maka digantikan oleh pelebaran lembah, disertai terdapatnya
material penyusun pada dasar aliran air yang berada pada sungai stadium dewasa sangat bervariasi
seperti brangkal, kerakal, kerikil, dan pasir sehingga dengan aliran air yang tidak begitu kuat
material tersebut dapat dengan mudah mengendap pada dasar sungai yang mengakibatkan proses
erosi vertikal beralih menjadi erosi lateral pada dinding-dinding lembah sungai Dengkeng sehingga
meninggalkan jejak-jejak berupa bentuklahan seperti gosong pasir dan dataran banjir serta terdapat
pola aliran braided stream di beberapa lokasi yang menunjukan bahwa perkembangan sungai
dengkeng telah memasuki tahapan dewasa.

Kata Kunci: bentuklahan fluvial, gosong sungai, dataran banjir, dan braided stream.

ANALYSIS AREA FLUVIAL LANDFROMS


DENGKENG RIVER VILLAGE DISTRICT KRAGILAN GANTIWARNO

Abstract

The development of the river is generally indicated with a characteristic distinctive appearance so it
is with dengkeng river, the river that has entered the adult stage with a characteristic appearance-
appearance of landforms result from the flow of water in the form of erosion, transport, and
deposition. River adult stage is characterized by the flow of river water that is not so strong due to its
location which is already on the lower slopes of mountains or hills, so the process of erosion in the
form of deepening the valley has been reduced due to the weakening of the power of water flow then
replaced by a widening of the valley, accompanied by the presence of constituent materials on the
basis of the flow of river water is at the adult stage varies as Brangkal, gravel, gravel, and sand so
that the water flow is not so strong that the material can easily settle to the bottom of the river
which resulted in the erosion of vertical turning to lateral erosion on the walls of the valley dengkeng
river, leaving traces in the form of landforms such as rivers and floodplains charred and there are
braided stream flow patterns in several locations showed that the development of dengkeng river
has entered the adult stage.

Keywords: fluvial landforms, point bar, floodplains, and braided streams.


Pendahuluan

Sungai adalah lembah yang di dalamnya terdapat aliran air yang mengalir, sedangkan
bentuklahan fluvial adalah bentuk lahan yang dihasilkan oleh kerja aliran air pada sungai, dalam hal
ini terutama pada daerah-daerah deposisi seperti lembah sungai besar. Bentuklahan deposisi pada
sungai Dengkeng berupa gosong pasir, dataran banjir, dan terdapat pola aliran braide stream pada
wilayah tertentu. Gosong pasir adalah bentuklahan yang terbentuk akibat pengendapan material di
dalam alur sungai dan berlangsung pada saat yang bersamaan dengan erosi ke arah samping pada
sisi yang berlawanan. Sedangkan dataran banjir merupakan bentuklahan hasil pengendapan dari
gosong-gosong pasir dan kerikil yang diangkut sungai sebagai muatan dasar hasil pegikisan pada sisi
luar kelokan dan braided stream adalah pola aliran air yang terbentuk akibat muatan dasar terlalu
banyak yang bersifat kasar dan berat muatan ini akan segera diendapkan sehingga membentuk
braided stream. ( Pramono dan Ashari, 2014). Sungai Dengkeng juga terbentuk akibat adanya 2
pertemuan sungai sehingga membentuk suatu tempurn sungai, tempuran jika dalam bahasa jawa
berarti “tempuk” yaitu bertemu jadi tempuran sungai adalah bertemunya 2 aliran sungai sehingga
menjadi satu.

Proses pembentukan bentuklahan fluvial terlebih dahulu mengalami proses erosi oleh agen
geomorfik berupa air yang mengalir, air yang mengalir dapat terbentuk jika terjadinya hujan berupa
air dalam bentuk cair yang jatuh ke permukaan bumi yang berasal dari atmosfer, air tersebut semula
merupakan sekumpulan aliran-aliran permukaan yang bebas untuk kemudian memusat pada suatu
saluran sebagai aliran sungai (stream). Saluran itu sendiri terkikis oleh aliran air membentuk lembah.
Aliran air pada lembah dapat bersifat abadi atau terputus-putus tergantung pada sumber air berasal.
Kerja aliran yang memusat terdiri atas tiga kegiatan yaitu erosi, transportasi, dan sedimentasi. Ketiga
kegiatan tersebut saling berhubungan satu sama lain. Aliran air melakukan erosi dalam beragai cara
tergantung dari sifat material salurannya dan benda yang diangkutnya.( Pramono dan Ashari, 2014)

Proses erosi berupa aliran air pada dinding-dinding lembah ataupun pada dasar lembah
mampu menyeret material pada dasar saluran sehingga mampu mengikis bahan fluvial baik yang
berada pada dasar maupun pada dinding-dinding lembah. Proses yang demikian itu disebut sebagai
kegiatan hidrolik. Apabila partikel yang diangkut bersama aliran air ikut serta dalam proses
pengikisan hal ini disebut sebagai korasi atau abrasi. Proses-proses kimia dalam pelapukan, misalnya
reaksi-reaksi asam dan pelarutan, juga merupakan agen yang efektif dalam pemindahan batuan dari
saluran sungai proses kimia demikian disebut korosi (Pramono dan Ashari, 2014). Proses erosi pada
bentuklahan fluvial lebih didominasi pada daerah hulu karena pada daerah hulu umumnya adalah
wilayah perbukitan atau pegunungan yang merupakan daerah tadah hujan, dengan relief yang terjal
disertai curah hujan yang tinggi mengakibatkan aliran-aliran air yang tadinya berupa alur atau rill dan
parit atau gully terakumulasi membentuk aliran air dengan debit yang lebih besar disertai tenaga
yang kuat dan aliran yang cepat, sehingga erosi yang berlangsung secara vertikal, menyebabkan
bertambahnya kemiringan lereng pada lembah dan membentuk lembah seperti huruf V pada
tahapan ini sungai berkembang pada tingkatan muda atau sering disebut sebagai sungai muda.

Aliran sungai dewasa mempunyai hubungan erat dengan aliran graded, yaitu aliran yang
mempunyai keseimbangan antara daya angkutnya dengan muatan endapannya. Aliran dewasa
terkadang dapat mengalir secara lambat , partikel-partikelnya juga bergerak lambat dan sejajar, arus
air demikian dinamakan arus laminer. Meningkatnya kecepatan akibat bertambahnya debit air
mengakibatkan gerak partikelnya tidak beraturan dan kompleks, membentuk berputar (swirls) dan
arus eddi (berlawanan arah), menjadi arus turbulen (Sapiie, 2012:125). Dengan terjadinya
keseimbangan antara erosi dan deposisi pada perkembangan sungai dewasa maka pada tingkatan ini
sering ditemukan berbagai bentuklahan hasil deposisi berupa meander, braided stream, point bar,
dataran banjir, dan tanggul alam. Akibat tenaga erosi yang besar hanya sedikit mengikis ke bawah,
sementara itu aliran air umumnya melakukan erosi ke arah samping atau lateral, sehingga
membentuk meander dan memperlebar dasar lembahnya.

Aliran sungai tua merupakan aliran yang terlampau banyak muatannya, sehingga menjadi
depositor yang aktif. Sebagai tempat pengendapannya adalah saluran sendiri, sehingga aliranya
tersumbat dengan pulau-pulau dan gosong-gosong pasir. Alirannya menjadi dangkal dan pola
meandernya menjadi berkelok-kelok dan ruwet, kadang-kadang dua meander yang saling bertautan
dapat menjadi satu membentuk danau oxbow akibat adanya penerobosan aliran sungai yang
mengikis dinding-dinding lembah (Pramono dan Ashari, 2014). Ciri khas yang terdapat pada
tingkatan sungai ini ditemukannya delta akibat sungai yang bermuara pada danau atau laut.

Metode Penelitian

Penelitian bentuklahan fluvial ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan


keruangan dan kelingkungan. Survei geomorfologi digunakan dengan memperhatikan aspek
morfologi dan morfogenesa pada wilayah sungai Dengkeng. Pengumpulan data dilakukan dengan
cara observasi, foto udara google maps, studi pustaka, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan
meliputi data primer dan data sekunder, data primer berupa hasil pengukuran dan pengamatan
lapangan secara langsung mengenai: (1). Morfologi sungai dengkeng, (2). Dataran banjir, (3). Braided
stream, (4). Gosong sungai. Data sekunder berupa data yang diperoleh melalui: (1). Informasi
mengenai perkembangan dan pembentukan bentuklahan fluvial yang diperoleh dari sumber
pustaka, (2). Gambaran pola aliran sungai dan bentuk sungai yang diperoleh melalui google maps
serta peta topografi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung, studi pustaka,
peta, serta dokumentasi. Observasi langsung mengacu pada survei morfologi dengan
memperhatikan aspek-aspek kajian geomorfologi dan morfogenesa. Jenis data dan metode
pengumpulannya ditunjukkan oleh Tabel 1.

Tabel 1. Jenis data dan teknik pengumpulan data

Jenis data Teknik pengumpulan data Sumber data


Variabel sungai
1. Lebar sungai dan aliran air Observasi Roll meter
pada sungai

2. Tipe lembah Observasi Lembar observasi


3. Pola aliran Observasi, Google maps, dan Google maps, dan peta
peta topografi topografi
4. Perkembangan sungai Studi pustaka Pramono dan ashari (2014)
Variabel bentuklahan deposisi
5. Lebar bentuklahan Observasi Roll meter
6. Kondisi geomorfologi Studi pustaka Pramono dan Ashari (2014),
regional Sapiie (2012).

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif dengan mengguakan aspek-
aspek serta konsep-konsep geomorfologi hal ini bertujuan mempermudah peneliti untuk
mendapatkan serta memahami informasi yang diperoleh melalalui observasi langsung serta studi
pustaka. Data yang telah diperoleh serta telah dianalisis kemudian diberi foto sebagai penguat data
dan data yang telah dianalisis selanjutnya dikaji menggunakan pendekatan keruangan serta
kelingkungan mengingat betapa vitalnya peran sungai bagi perkembangan keruangan serta
perkembangan ekosistem yang berada pada sekitar wilayah Sungai Dengkeng, desa Kragilan,
kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa tengah.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Sungai Dengkeng merupakan sungai yang terletak disekitar Desa Kragilan, kecamatan
Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa tengah. Hasil pengukuran sungai memperoleh data
berupa lebar aliran air pada lembah sungai sebesar 8 meter, lebar sungai sebesar 23 meter, serta
kemiringan lereng atau dinding lembah yang hampir terjal. Perhatikan gambar 1 berikut :

23 meter

8 meter

Gambar 1. Kenampakan lebar aliran air, lebar lembah serta kemiringan dinding sungai.

Sungai dengkeng merupakan sungai tahap dewasa karena ada beberapa faktor yang
terdapat pada sungai Dengkeng menunjukan bahwa sungai Dengkeng telah memasuki
perkembanagn atau tingkatan dewasa antaralain: (1). Tipe lembah berbentuk U, (2). Pelebaran
lembah berupa erosi lateral akibat arus sungai yang tidak kuat, (3). Terdapat material berupa pasir,
krikil, kerakal, dan brangkal yang dapat ditemukan pada dasar sungai serta dinding-dinding sungai
yang alirannya melemah, (4). Proses geomorfologi antara deposisi serta erosi telah berimbang, (5).
Terdapat kenampakan spesifik berupa braided stream, gosong pasir, dan dataran banjir. Perhatikan
gambar 2 berikut ini:
Dasar lembah U Gosong pasir

Braided stream

Erosi lateral

C
Gambar 2. Kenampakan bentuk dasar lembah dan gosong pasir (A), kenampakan pola aliran braided
stream dan erosi lateral pada wilayah sekitar tempuran (B), Material dasar sungai Dengkeng (c).

Pada gambar diatas menunjukan kenampakan-kenampakan pada sungai Dengkeng,


kenampakan pertama berupa pola aliran braided stream pola ini terdapat di sebelah samping
tempuran dengan panjang 40 meter dengan material penyusun berupa campuran antara kerakal,
krikil dan pasir, kenampakan kedua berupa gosong pasir yang terdapat pada kelokan sungai material
endapan berupa pasir dengan panjang 2 meter serta berbentuk seperti bulan sabit.

Keterkaitan bentuk dasar lembah sungai Dengkeng dengan erosi lateral.

Lembah sungai terbentuk akibat adanya pendalaman, pelebaran, atau pemanjangan lembah
yang dilakukan oleh agen geomorfik berupa aliran air pada permukan bumi. Proses pelebaran,
pendalaman, serta pemanjangan sungai dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ketinggian tempat
(relief), kecepatan arus atau tenaga aliran air, dan material penyusun lembah. Pada sungai Dengkeng
perkembangan lembah lebih bersifat melebar akibat sungai dengkeng yang terletak didataran
rendah dan berbatasan dengan kaki perbukitan sehingga pergerakan aliran air tidak begitu
bertenaga akibat gaya grafitasi yang tidak terlalu begitu kuat, disertai terdapatnya akumulasi aliran
air pada wilayah tempuran yang menambah debit aliran air pada sungai Dengkeng, pergerakan aliran
air yang melemah menimbulkan ketidak mampuan aliran untuk mentransportasi material yang
dibawa serta tidak mampu untuk mengerosi dasar sungai maka material yang dibawa seperti krakal,
kerikil, dan pasir akan mengendap membentuk gosong-gosong pasir, dan braided stream bentuk
lahan ini ditemukan disekitar tempuran pengendapan material tersebut menimbulkan pembelokan
aliran air sehingga ruang aliran air untuk mengalir semakin sempit maka aliran air mengerosi bagian
dinding-dinding sungai, dinding-dinding sungai lama kelamaan akan terkikis seperti halnya dinding
sungai tempuran yang berbentuk meruncing pada ujungnya hal ini menunjukan bahwa erosi lateral
sedang berlangsung. Oleh karena itu, erosi lateral dengan perkembangan pelebaran lembah saling
berkaitan sau dengan yang lain. Gambar 3 erosi lateral pada tempuran:

Tempuran kali dengkeng


Erosi lateral

Erosi lateral

Gambar 3. Proses pelebaran sungai akibat erosi lateral oleh aliran air.
Pola aliran denditrik dan braided stream pada sungai Dengkeng.

Pola aliran merupakan aliran air yang memiliki pola-pola atau bentuk-bentuk tertentu, salah
satu pola aliran sungai adalah pola dendritik yang merupakan pola aliran yang cabang-cabang
sungainya menyerupai struktur pohon. Pada umumnya pola aliran sungai dendritik dikontrol oleh
litologi batuan yang homogen serta Pola aliran denditrik umumnya terletak pada daerah dataran
rendah dan sungai Dengkeng termasuk kedalam pola aliran denditrik hal ini dapat diketahui melalui
pengamatan aliran-aliran sungai pada daerah Gantiwarno dengan menggunakan peta topografi atau
peta rupabumi wilayah Klaten, pada peta tersebut juga menunjukan bahwa wilayah Klaten
didominasi oleh persawahan. Pola aliran braided stream juga ditemukan pada sungai Dengkeng
tetapi pola aliran braided stream ini hanya sepanjang 40 meter, braided stream timbul akibat proses
pengendapan material hasil erosi yang tidak mampu lagi diangkut oleh aliran air sehingga pada
wilayah-wilayah tertentu braided stream dapat ditemukan seperti pada wilayah dengan tenaga
aliran airnya yang sudah melemah, pada sungai Dengkeng fenomena ini ditemukan 1,5 meter dari
daerah tempuran sungai dengan material pada dasar berupa brangkal (64-256mm), krakal(4mm-
64mm), dan kerikil (2-4mm)sedangkan bagian atas berupa pasir(2mm-0,0625mm). perhatiakan
gambar 4 dibawah ini:

Gambar 4. Salah satu material penyusun braided stream pada permukaan gosong pasir.

Pola aliran denditrik dengan anak-anak sungai yang menyebar di berbagai tempat dapat
digunakan untuk memudahkan petani dalam menanam padi akibat terdapatnya cabang-cabang
sungai sehingga selain curah hujan petani juga dapat memanfaatkan aliran anak-anak sungai dalam
keperluan sehari-hari seperti berternak, berkebun, bertani dan lain-lain tetapi dalam
pemanfaatannya manusia harus ikut menjaga dan merawat agar ekosistem yang ada tetap lestari.

Pembentukan gosong pasir dan dataran banjir serta pemanfaatan dalam bidang pertanian.
Material sungai seperti bongkah, brangkal, krakal, kerikil, dan pasir umumnya berasal dari
hulu yaitu wilayah perbukitan atau pegunungan yang sedang mengalami proses denudasi sehingga
material batuan yang telah mengalami diintegrasi dan dekomposisi kemudian lapuk, material
pelapukan kemudian ditransportasi oleh agen geomorfik berupa aliran air menuruni lereng menuju
muara sungai, sebeum material sampai kemuara sungai terkadang terjadi hambatan-hambatan
dalam proses transportasi material hasil pelapukan yang lebih besar dan berat umumnya hanya
berada disekitar sungai bagian hulu hal ini tergantung dari tenaga air yang mengalir semakin
kencang alirannnya semakin mudah aliran air dapat mengtransport material hasil pelapukan,
fenomena ini juga dapat ditemukan pada sungai Dengkeng yaitu terdapatnya beberapa material
yang mengendap terlebih dahulu sebelum sampai ke muara sungai hal ini dapat di ketahui
dikarenakan pada wilayah kali Dengkeng yang terletak di desa Kragilan terdapat beberapa
bentuklahan fluvial hasil deposisi yaitu berupa gosong pasir dan dataran banjir.

Gosong pasir pada sungai Dengkeng ditemukan di kelokan bagian dalam sungai yang terletak
di depan pinggir tempuran, gosong pasir ini terbentuk akibat arus sungai yang terkuat berada pada
luar kelokan sedangkan arus saliran air yang berda dalam kelokan melemah sehingga material yang
diangkut sebagian besar mengendap pada wilayah tersebut membentuk gosong pasir, dari hasil
pengamatan dan pengambilan sampel material gosong pasir ternyata hampir semua material gosong
pasir tersebut berupa pasir. Lalu perkembangan gosong selanjutnya jika terdapat penggabungan
pengendapan dari beberapa gosong-gosong pasir dan kerikil yang diangkut sungai sebagai muatan
dasar hasil pegikisan pada sisi luar kelokan nantinya akan membentuk suatu bentuklahan berupa
dataran banjir akibat dari adanya pembelokan garis arus sungai yang berpindah ke arah luar kelokan
dan mengikis kuat pada sisi luar kelokan tersebut sehingga bagian kelokan bagian dalam mengalami
deposisi secara terus menerus membentuk baik itu gosong pasir ataupun dataran banjir.
Pemanfatan dataran banjir sebagai wialayah pertanian dirasa sangat tepat jika proses penanaman
dilakukan pada saat musim kemarau karena material dataran banjir sebenarnya subur hal ini dapat
dilihat dengan adanya pertumbuhan semak-semak belukar yang sangat cepat ditambah bahwa
dataran banjir juga mengandung komposisi air yang lebih banyak dari pada wilayah pertsawahan
petani saat musim kemarau sehingga dataran banjir dapat di gunakan secara optimal oleh petani
saat musim-musim tertentu. Perhatikan gambar 5 berikut ini:

Dataran Banjir Gosong Pasir

Gambar 5. Kenampakan dataran banjir dan gosong pasir pada sungai dengkeng.
Kesimpulan

Aliran air di permukaan atau dalam alur sungai cenderung mengerosi material yang
dilaluinya, dengan jalan melarutkan atau mengabrasi material yang dilaluinya sedangkan kecepatan
dan daya erosinya sangat dipengaruhi oleh kecepatan arus makin besar kecepatan arus, makin
banyak dan makin besar partikel sedimen yang dapat dibawanya. Partikel-partikel yang dibawa
dapat mengabarasi batuan di dinding dan dasar saluran yang dilaluinya, apabila batuan yang
dilaluinya dapat larut, maka yang terjadi selain abrasi juga terjadi pelarutan. Derajat keasaman air
sangat berpengaruh dalam proses erosi pelarutan batuan, seperti di daerah batu gamping dan
material akibat abrasi dan pelarutan akan terbawa arus sebagai sedimen selama kecepatannya
masih memungkinkan.

Hasil erosi kemudian diangkut oleh aliran air baik sebagai muatan dasar atau pun sebagai
muatan suspensi dan muatan terlarut. Muatan dasar terdiri dari partikel pasir dan kerikil yang
diangkut dengan cara meloncat, meluncur, dan menggelinding sehingga proses ini dapat ditemukan
pada dasar lembah. Muatan suspensi terangkut di dalam aliran, terdiri dari material deb dan
lempung yang terangkat ke atas oleh aliran turbulen. Adapun muatan terlarut merupakan muatan
dengan ion-ion yang tidak tampak. Berbagai cara pengangkutan ini juga mempengaruhi
perkembangan morfologi saluran sungai. sungai yang banyak mengangkut sedimen tersuspensi,
saluran sungainya akan berkembang menjadi meander, sedangkan jika material muatan dasar yang
diangkut berupa material yang lebih bersifat kasar maka proses erosi berupa korasi akan dapat
berlangsung tetapi jika muatan dasar terlalu banyak, karena sifatnya yang kasar dan berat maka
muatan ini akan segera diendapkan sehingga membentuk pola aliran sungai teranyam atau braided
stream.

Pola braided stream dapat ditemukan pula pada sungai dengkeng hal ini menunjukan bahwa
material yang diangkut merupakan material dasar (bed load), pola aliran braided stream juga
menunjukan bahwa sungai Dengkeng telah memasuki usia dewasa sehingga bukan hanya pola
braided stream yang ditemukan tetapi juga terdapat bentuklahan yang lain berupa bentuklahan
gosong pasir dan dataran banjir.

Daftar Pustaka

Pramono, Heru. dan Ashari, Arif . 2014. Geomorfologi Dasar. Yogyakarta: UNY press.

Sapiie, benyamin, dkk. 2012. Geologi Dasar. Bandung: ITB.

Suharini, Erni, dkk. 2014. Geomorfologi. Yogyakarta: ombak.