Anda di halaman 1dari 28

Bab 6

Tata Cara Pemeriksaan Pajak

A. PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN PEMERIKSAAN ATAU


SURAT PANGGILAN DALAM RANGKA PEMERIKSAAN KANTOR

Dalam rangka memberitahukan pelaksanaan pemeriksaan kepada Wajib Pajak,


Pemeriksaan Pajak wajib memberitahukan kepada Wajib Pajak mengenai akan
dilakukannya Pemeriksaan dengan:

1. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan, dalam hal


Pemeriksaan dilakukan dengan jenis Pemeriksaan; atau
2. Mengirimkan Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan Kantor, dalam
hal Pemeriksaan dilakukan dengan jenis Pemeriksaan Kantor.

Surat Pemberitahuan Lapangan atau Surat Panggilan Dalam Rangka


Pemeriksaan Kantor diterbitkan untuk Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau
Tahun Pajak sebagaimana tercantum dalam SP2 dan disampaikan secara langsung
kepada Wajib Pajak pada saat dimulainya Pemeriksaan Lapangan.
Dalam hal penyampaian Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan
secara langsung dipandang tidak efisien, Surat Pemberitahuan Pemeriksaan
Lapangan dapat disampaikan melalui faksimili, pos dengan bukti pengiriman
surat, atau jasa pengiriman lainnya dengan bukti pengiriman dengan tetap
memperhatikan ketentuan mengenai batas waktu penyampaian.
Dalam hal Surat Pemberitahun Pemeriksaan Lapangan disampaikan secara
langsung dan Wajib Pajak tidak berada di tempat, Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan dapat disampaikan kepada:
1. Wakil atau kuasa dari Wajib Pajak; atau
2. Pihak yang dianggap dapat mewakili Wajib Pajak, yaitu:
a) Pegawai dari Wajib Pajak yang menurut Pemeriksaan Pajak dapat
mewakili Wajib Pajak dalam hal Pemeriksaan dilakukan terhadap
Wajib Pajak badan; atau
b) Anggota keluarga yang telah dewasa dari Wajib Pajak yang menurut
Pemeriksaan Pajak dapat mewakili Wajib Pajak dalam hal
Pemeriksaan dilakukan terhadap Wajib Pajak orang pribadi.

Adapun untuk Surat Panggilan dalam rangka Pemeriksaan Kantor


disampaikan melalui faksimili, pos dengan bukti pengiriman surat, atau jasa
pengiriman lainnya dengan bukti pengiriman.
Format:
1. Surat Pemberitahuan Pemeriksaan tercantum pada Lampiran 1.
2. Surat Panggilan dalam rangka Pemeriksaan Kantor tercantum pada
Lampiran 2.

B. PERTEMUAN DENGAN WAJIB PAJAK


Pemeriksa Pajak wajib melakukan pertemuan dengan Wajib Pajak untuk
menjelaskan:
1. Alasan dan tujuan Pemeriksaan;
2. Hak dan kewajiban Wajib Pajak selama dan setelah pelaksanaan
Pemeriksaan;
3. Hak Wajib Pajak mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan
dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan dalam hal terdapat hasil
Pemeriksaan yang belum disepakati antara Pemeriksa Pajak dengan Wajib
Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan; dan
4. Mengenai buku, catatan, dan dokumen yang akan dipinjam dari Wajib
Pajak.

Pertemuan dengan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud di atas dapat juga


dilakukan dengan wakil atau kuasa dari Wajib Pajak. Dalam hal Pemeriksaan
dilakukan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan, pertemuan dilakukan:
1. Bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Pemeriksaan
Lapangan dalam hal Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan
disampaikan secara langsung; atau
2. Setelah Pemeriksa Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan disampaikan melalui faksimili, pos atau jasa
pengiriman lainnya.

Dalam hal Pemeriksaan dilakukan dengan jenis Pemeriksaan Kantor,


pertemuan dilakukan pada saat Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak
datang memenuhi Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan Kantor. Pada saat
melakukan pertemuan dengan Wajib Pajak, Pemeriksa Pajak wajib:
1. Memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak;
2. Memperlihatkan SP2
3. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan dalam hal
Pemeriksaan dilakukan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan; dan
4. Menyampaikan formulir Kuesioner Pemeriksaan kepada Wajib Pajak.

Setelah melakukan pertemuan, Pemeriksa Pajak wajib membuat berita


acara hasil pertemuan, yang ditandatangani oleh Pemeriksa Pajak dan Wajib
Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak. Dalam hal Wajib Pajak, wakil, atau
kuasa dari Wajib Pajak menolak menandatangani berita acara hasil pertemuan,
Pemeriksa Pajak membuat catatan mengenai penolakan tersebut pada berita acara
hasil pertemuan. Dalam hal Pemeriksa Pajak telah menandatangani berita acar
hasil pertemuan dan membuat catatan mengenai penolakan penandatanganan
berita acara, pertemuan dianggap telah dilaksanakan.
Format:
1. Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak tercantum pada Lampiran 3.
2. Surat Perintah Pemeriksaan (SP2) tercantum pada Lampiran 4.
3. Kuesioner Pemeriksaan tercantum pada Lampiran 5.
4. Berita Acara Hasil Pertemuan tercantum pada Lampiran 6.

C. PEMINJAMAN DOKUMEN
Dalam rangka menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak,
Pemeriksa Pajak memerlukan data dan informasi yang terdapat dalam buku,
catatan dan/atau dokumen milik Wajib Pajak. Buku, catatan dan/atau dokumen
yang dipinjam oleh Pemeriksa Pajak dari Wajib Pajak disesuaikan dengan ruang
lingkup pemeriksaan dan Rencana Pemeriksaan.
Terkait dengan peminjaman buku, catatan dan atau dokumen milik Wajib
Pajak, berlaku ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Dalam hal Pemeriksaan dilaksanakan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan,
buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yang dikelola secara
elektronik serta keterangan lain yang diperlukan dan diperoleh/ditemukan
pada saat pelaksanaan Pemeriksaan di tempat Wajib Pajak, dipinjam pada
saat itu juga.
2. Dalam hal Pemeriksaan dilaksanakan dengan jenis Pemeriksaan Kantor,
maka daftra buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yang dikelola
secara elektronik serta keterangan lain yang diperlukan oleh Pemeriksa
Pajak, harus dilampirkan pada Surat Panggilan Dalam Rangka
Pemeriksaan Kantor.
3. Dalam hal Pemeriksaan dilaksanakan dengan jenis Pemeriksaan Kantor,
maka buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yang dikelola secara
elektronik serta keterangan lain, dipinjam pada saat Wajib Pajak
memenuhi panggilan dalam rangka Pemeriksaan.

Dalam hal buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yang dikelola
secara elektronik serta keterangan lain yang diperlukan belum
diperoleh/ditemukan pada saat pelaksanaan Pemeriksaan di tempat Wajib Pajak
Pemeriksa Pajak membuat surat permintaan peminjaman buku, catatan, dan
dokumen.
Buku, catatan, dan/atau dokumen termasuk data yang dikelola secara
elektronik serta keterangan lain wajib diserahkan kepada Pemeriksa Pajak paling
lama 1 (satu) bulan sejak surat permintaan peminjaman buku, catatan, dan
dokumen atau Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan Kantor Pemeriksaan
Kantor diterima oleh Wajib Pajak.
Setiap penyerahan buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yang
dikelola secara elektronik serta keterangan lain dari Wajib Pajak, Pemeriksa Pajak
membuat bukti peminjaman dan pengembalian buku, catatan, dan dokumen.
Dalam hal buku, catatan, dan/atau dokumen yang dipinjam berupa data yang
dikelola secara elektronik, maka Pemeriksa harus meminta kepada Wajib Pajak
untuk membuat surat pernyataan bahwa data yang dikelola secara elektronik yang
dipinjamkan kepada Pemeriksa Pajak adalah sesuai dengan aslinya.
Dalam hal buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yang dikelola
secara elektronik serta keterangan lain yang dipinjam belum dipenuhi dan jangka
waktu 1 (satu) bulan belum terlampaui, Pemeriksa Pajak dapat menyampaikan
peringatan secara tertulis paling lambat 2 (dua) kali, yaitu:
1. Surat peringatan pertama setelah 2 (dua) minggu sejak tanggal
penyampaian surat permintaan peminjaman buku, catatan, dan dokumen.
2. Surat peringatan kedua setelah 3 (tiga) minggu sejak tanggal penyampaian
surat permintaan peminjaman buku, catatan, dan dokumen.

Setiap peringatan yang disampaikan harus dilampiri dengan daftar buku,


catatan, dan dokumen yang belum dipinjamkan dalam rangka Pemeriksaan.
Dalam hal buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yang dikelola
secara elektronik serta keterangan lain yang diminta oleh Pemeriksa Pajak tidak
dimiliki dan/atau dikuasai oleh Wajib pajak, Wajib Pajak harus membuat surat
pernyataan yang menyatakan bahwa buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk
data yang dikelola secara elektronik serta keterangan lain yang diminta oleh
Pemeriksa Pajak tidak dimiliki dan/atau dikuasai oleh Wajib Pajak.
Apabila jangka waktu 1 (satu) bulan pinjaman dokumen terlampaui maka:
1. Pemeriksa Pajak harus membuat berita acara tidak dipenuhinya permintaan
peminjaman buku, catatan, dan dokumen yang dilampiri dengan rincian
daftar buku, catatan, dan dokumen yang wajib dipinjamkan namun belum
diserahkan oleh Wajib Pajak, dalam hal Wajib Pajak tidak atau tidak
sepenuhnya meminjamkan buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data
yang dikelola secara eketronik serta keterangan lain yang diminta; atau
2. Pemeriksa Pajak harus membuat berita acara pemenuhan seluruh
peminjaman buku, catatan, dan dokumen dalam hal Wajib Pajak telah
meminjamkan seluruh buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yang
dikelola secara elektronik serta keterangan lain yang diminta.
Dalam hal Wajib Pajak tidak sepenuhnya meminjamkan buku, catatan,
dan/atau dokumen, termasuk data yang dikelola secara elektronik serta keterangan
lain yang diminta berdasarkan berita acara tidak dipenuhinya permintaan
peminjaman buku, catatan, dan dokumen, Pemeriksa Pajak harus menentukan
dapat atau tidaknya melakukan pengujian dalam rangka menghitung besarnya
penghasilan kena pajak berdasarkan bukti kompeten yang cukup sesuai standar
pelaksanaan Pemeriksaan.
Konsekuensinya tidak dipenuhinya permintaan peminjaman buku, catatan,
dan/atau dokumen:
1. Dalam hal Pemeriksaan dilakukan terhadap Wajib Pajak orang pribadi yang
menjalankan usaha atau pekerjaan bebas atau Wajib Pajak badan, dan
Pemeriksa Pajak tidak dapat melakukan pengujian dalam rangka
menghitung besarnya penghasilan kena pajak, penghasilan kena pajak dapat
dihitung secara jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.
2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dapat diterbitkan berdasrkan ketentuan
Pasal 13 ayat (1) huruf d Undang-undang KUP sehingga Wajib Pajak akan
dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% atau 100%.

Format:
1. Surat Permintaan Peminjaman Buku, Catatan, dan Dokumen tercantum
pada Lampiran 7.
2. Bukti Peminjaman dan Pengembalian Buku, Catatan, dan Dokumen
tercantum pada Lampiran 8.
3. Surat Pernyataan Keaslian Dokumen dan atau Data yang Dipinjamkan
tercantum pada Lampiran 9.
4. Surat Peringatan Pertama dan Kedua tercantum pada Lampiran 10.
5. Berita Acara Tidak Dipenuhinya Peminjaman Buku, Catatan, dan
Dokumen tercantum pada Lampiran 11.
6. Berita Acara Pemenuhan Seluruh Peminjaman Buku, Catatan, dan
Dokumen tercantum pada Lampiran 12.
D. PENOLAKAN PEMERIKSAAN
Dalam hal Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak yang dilakukan
Pemeriksaan Lapangan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan menyatakan menolak untuk dilakukan Pemeriksaan termasuk menolak
menerima Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan, Wajib Pajak, wakil, atau
kuasa dari Wajib Pajak harus menandatangani surat pernyataan penolakan
Pemeriksaan. Apabila Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak menolak
menandatangani surat pernyataan penolakan Pemeriksaan, maka Pemeriksa Pajak
akan membuat berita acara penolakan Pemeriksaan yang ditandatangani oleh tim
Pemeriksa Pajak.
Dalam hal Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak tidak ada di
tempat maka:
1. Pemeriksaan tetap dapat dilakukan sepanjang terdapat pegawai atau anggota
keluarga yang telah dewasa dari Wajib Pajak yang dapat dan mempunyai
kewenangan untuk mewakili Wajib Pajak, terbatas untuk hal yang berda
dalam kewenangannya; atau
2. Pemeriksaan ditunda untuk dilanjutkan pada kesempatan berikutnya.

Untuk keperluan pengamanan Pemeriksaan, sebelum dilakukan penundaan.


Pemeriksa Pajak dapat melakukan Penyegelan. Apabila setalah dilakukan
Penyegelan , Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak tetap tidak berada di
tempat dan/atau tidak memberi izin kepada Pemeriksa Pajak untuk membuka atau
memasuki tempat atau ruangan, barang bergerak atau tidak bergerak, dan/atau
tidak memberikan bantuan guna kelancaran Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak
meminta kepada pegawai atau anggota keluarga yang telah dewasa dari Wajib
Pajak untuk membantu kelancaran Pemeriksaan.
Namun demikian, dalam hal pegawaiatau anggota keluarga yang telah
dewas dari Wajib Pajak menolak untuk membantu kelancaran Pemeriksaan,
Pemeriksa Pajak meminta pegawai atau anggota keluarga yang telah dewasa dari
Wajib Pajak untuk menandatangani surat penolakan membantu kelancaran
Pemeriksaan, maka Pemeriksa Pajak membuat berita acara penolakan membantu
kelancaran Pemeriksaan yang ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
Dalam hal wajib pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak yang dilakukan
Pemeriksaan Kantor untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
memenuhi Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan Kantor namun
menyatakan menolak untuk dilakukan Pemeriksaan, Wajib Pajak, wakil, atau
kuasa dari Wajib Pajak harus menandatangani surat pernyataan penolakan
Pemeeiksaan. Apabila Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak menolak
untuk menandatangani surat pernyataan penolakan Pemeriksaan, maka Pemeriksa
Pajak membuat berita acara penolakan Pemeriksaan yang di tandatangani oleh tim
Pemeriksa Pajak.
Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak Surat Panggilan Dalam
Rangka Pemeriksaan Kantor disampaikan kepada Wajib Pajak dan surat
panggilan tersebut tidak dikembalikan oleh pos atau jasa pengiriman lainnya dan
Wajib Pajak tidak memenuhi panggilan Pemeriksaan Kantor, Pemeriksa Pajak
yang ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
Pemeriksa Pajak berdasarkan surat pernyataan penolakan, berita acara tidak
dipenuhinya panggilan Pemeriksaan, surat penolakan membantu kelancaran
Pemeriksaan atau berita acara penolakan membantu kelancaran Pemeriksaan
dapat melakukan penetapan pajak secara jabatan atau
mengusulkanPemeriksaanBuktiPermulaan.

Format:
1. Surat Pernyataan Penolakan Pemeriksaan tercantum pada Lampiran 13.
2. Berita Acara Penolakan Pemeriksaan tercantum pada Lampiran 14.
3. Surat Pernyataan Penolakan Membantu Kelancaran Pemeriksaan tercantum
pada Lampiran 15.
4. Berita Acara Penolakan Membantu Kelancaran Pemeriksaan tercantum pada
Lampiran 16.
5. Berita Acara Tidak Memenuhi Panggilan dalam rangka Pemeriksaan Kantor
tercantum pada Lampiran 17.
6. TandaSegel tercantum pada Lampiran 18.
E. PENGUJIAN OLEH PEMERIKSA PAJAK
Pemeriksaan oleh Pemeriksa Pajak dilakukan berdasarkan metode, teknikdan
prosedur pemeriksaan yang ditetapkan dalan Surat Edaran Direktur Jendral Pajak
Nomor SE-65/PJ/2013 tentang Pedoman Penggunaan Metode dan Teknik
Pemeriksaan.
Metode Pemeriksaan adalah teknik dan prosedur yang di lakukan terhadap
buku, catatan dan dokumen serta data, informasi, dan keterangan lain, yang terdiri
atas metode langsung danmetodetidanglangsung.
1. Metode Langsung adalah teknik dan prosedur pemeriksaan dengan
melakukan pengujian atas kebenaran pos-pos Surat Pemberitahuan (SPT)
termasuk lampirannya, yang dilakukan secara langsung terhadap buku,
catatan, dan dokumen terkait.
2. Metode Tidak Langsung adalah teknik dan prosedur pemeriksaan dengan
melakukan pengujian atas kebenaran pos-pos Surat Pemberitahuan (SPT)
termasuk lampirannya, yang dilakukan secara tidak langsung melalui suatu
pendekatan penghitungan tertentu. Metode Tidak Langsung meliputi:
a) Transaksi Tunai dan Bank;
b) Sumber dan Penggunaan Dana;
c) Penghitungan Rasio;
d) Satuan dan/atau Volume;
e) Pertambahan Kekayaan Bersih (Net Worth); dan
f) PenghitunganBiayaHidup.

Teknik Pemeriksaan adalah cara-cara pengumpulan bukti, pengujian,


dan/atau pembuktian yang dinembangkan oleh Pemeriksa Pajak untuk menyakini
kebenaran pos-pos yang diperiksa. Teknik Pemeriksaan meliputi:
1. Pemanfaatan informasi internal dan/atau eksternal Direktoral Jendral Pajak;
2. Pengujian keabsahan dokumen;
3. Evaluasi;
4. Analisis angka-angka;
5. Penelusuran angka-angka (tracing);
6. Penelusuran bukti;
7. Pengujian keterkaitan;
8. Ekualisasi atau rekonsiliasi;
9. Permintaan keterangan atau bukti;
10. Konfirmasi;
11. Inspeksi;
12. Pengujian kebenaran fisik;
13. Pengujian kebenaran penghitungan matematis;
14. Wawancara;
15. Uji petik (sampling);
16. Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK); dan/atau
17. Teknik-teknikPemeriksaanlainnya.

F. PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN HASIL PEMERIKSAAN


(SPHP)
Hasil Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
harus diberitahukan kepada Wajib Pajak melalui penyampaian SPHP yang
dilampiri dengan daftar temuan hasil Pemeriksaan. SPHP adalah surat yang berisi
tentang temuan Pemeriksaan yang meliputi pos-pos yang dikoreksi, nilai koreksi,
dasar koreksi, perhitungan sementara dari jumlah pokok pajak terutang dan
perhitungan sementara dari sanksi adminstrasi. SPHP dan daftar temuan hasil
Pemeriksaan disampaikan oleh Pemeriksa Pajak secara langsung atau melalui
faksimili.
Dalam hal SPHP disampaikan secara langsung dan Wajib Pajak, wakil, atau
kuasa dari Wajib Pajak menolak untuk menerima SPHP, Wajib Pajak, wakil, atau
kuasa dari Wajib Pajak harus menandatangani surat penolakan menerima SPHP.
Apabila Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak menolak
menandatangani surat penolakan menerima SPHP yang ditandatangani oleh tim
Pemeriksa Pajak.
Wajib Pajak wajib memberikan tanggapan tertulis atas SPHP dan daftar
temuan hasil Pemeriksaan dalam bentuk:
1. Lembar pernyataan persetujuan hasil pemeriksaan dalam hal Wajib Pajak
menyetujui seluruh hasil Pemeriksaan; atau
2. Surat sanggahan, dalam hal Wajib Pajak tidak menyetujui sebagian atau
seluruh hasil Pemeriksaan.
Tanggapan tertulis harus disampaikan dalam jangka waktu paling lama:
1. 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal diterimanya SPHP oleh Wajib Pajak.
2. Dalam hal Wajib Pajak membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
menyampaikan tanggapan, Wajib Pajak dapat melakukan perpanjangan
jangka waktu penyampaian tanggapan tertulis untuk jangka waktu
paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak jangka waktu
penyampaian tanggapan berakhir.

Untuk melakukan perpanjangan jangk waktu penyampaian tanggapan,


Wajib Pajak harus menyampaikan pemberitahuan tertulis sebelum jangka waktu
penyampaian tanggapan berakhir. Tanggapan tertulis dan pemberitahuan tertulis
disampaikan oleh Wajib Pajak secara langsung atau melalui faksimili.
Dalam hal Wajib Pajak tidak menyampaikan tanggapan tertulis atas SPHP,
Pemeriksaan Pajak membuat berita acara tidak disampaikannya tanggapan tertulis
atas SPHP yang ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
Dalam rangka memberikan tanggapan atas SPHP yang disampaikan
Pemeriksa Pajak secara optimal, maka Wajib Pajak harus menyiapkan beberapa
hal sebagai berikut:
1. Dokumen atau bukti untuk menyanggah temuan Pemeriksa Pajak; dan
2. Dasar hukum untuk menyanggah temuan Pemeriksa Pajak.
Contoh:
Pemeriksa Pajak dalam pemeriksaan PPh Badan melakukan koreksi atas
Biaya Gaji senilai Rp. 100.000.000,00 dengan alasan pengeluaran tersebut
dibayarkan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa oleh pegawai yang
diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan dan tidak berkaitan dengan
kegiatan usaha Wajib Pajak.
Dalam rangka memberikan tanggapan atas temuan/koreksi biaya gaji, maka
Wajib Pajak harus mempersiapkan:
1. Dokumen yang menyatakan bahwa pengeluaran tersebut tidak diberikan
dalam bentuk natura yang dapat berup: (1) rekening bank yang
menunjukkan adanya aliran transfer secara tunai kepada pegawai dan/atau
(2) kuitansi penerimaan uang oleh pegawai yang bersangkutan.
2. Dokumen yang menyatakan bahwa pengeluaran tersebut digunakan untuk
mendapatkan, memelihara dan menagih penghasilan yang dapat berupa: (1)
kontrak kerja antara perusahaan dengan pegawai dan/atau (2) struktur
organisasi yang menunjukkan bahwa pekerjaan pegawai dimaksud memiliki
keterkaitan dengan kegiatan usaha Wajib Pajak.
3. Dasar hukum yang dapat disampaikan bahwa pengeluaran tersebut telah
memenuhi ketentuan Pasal 6 ayat (1) Undang-undang Pajak Penghasilan
yang menyatakan bahwa biaya gaji dimaksud digunakan untuk
mendapatkan, memelihara dan menagih penghasilan sehingg dapat di
jadikan pengurang penghasilan bruto.

Dalam hal Pemeriksa Pajak tidak menyampaikan SPHP, maka Wajib Pajak
dapat menempuh langkah hukum sebagai berikut:
1. Mengajukan permohonan kepada Direktur Jendral Pajak untuk melakukan
pembatalan hasil pemeriksaan atau surat ketetapan pajak dari hasil
pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa penyampaian SPHP, sebagaimana
dimaksdu dalam Pasal 36 ayat (1) huruf d Undang-undang KUP; atau
2. Mengajukan gugatan kepada badan peradilan pajak atas penerbitan surat
ketetapan pajak yang dalam penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur
atau tata cara yang telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf
d Undang-undang KUP.

Format:
1. Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan tercantum pada Lampiran 19.
2. Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan dalam hal Penghasilan Kena Pajak
dihitung Secara Jabatan tercantum pada Lampiran 20.
3. Daftar Temuan Pemeririksaan tercantum pada Lampiran 21.
4. Surat Pernyataan Menolak Menerim SPHP tercantum pada Lampiran 22.
5. Berita Acara Penolakan SPHP tercantum pada Lampiran 23.
6. Lembar Pernyataan Persetujuan Hasil Pemeriksaan tercantum pada
Lampiran 24.
7. Surat Pembertahuan Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian Tanggapan
Hasil Pemeriksaan tercantum pada Lampiran 25.
8. Berita Acara Tidak Disampaikannya Tanggapan Tertulis atas SPHP
tercantum pada Lampiran 26.

G. PEMBAHASAN AKHIR HASIL PEMERIKSAAN


Dalam rangka melaksanakan pembahasan atas hasil Pemeriksaan yang tercantum
dalam SPHP dan daftar temuan hasil Pemeriksaan kepada Wajib Pajak harus
diberikan hak hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan. Pembahasan
Akhir Hasil Pemeriksaan merupakan pembahasan antara Wajib Pajak dan
Pemeriksa Pajak atas temuan Pemeriksaan yang hasilnya dituangkan dalam berita
acara pembahasan akhir hasil Pemeriksaan yang ditandatangani oleh kedua belah
pihak dan berisi koreksi pokok pajak terutang baik yang disetujui maupun yang
tidak disetujui dan perhitungan sanksi administrasi.
Dalam hal terhadapWajib Pajak dilakukan penetapan secara jabatan, maka
buku, catatan, dan/atau dokumen, ternasuk data yang dikelola secara elektronik
serta keterangan lain yang dapat dipertimbangkan oleh Pemeriksa Pajak dalam
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan hanya terbatas pada:
1. Penghitungan peredaran usaha atau penghasilan bruto dalam rangka
penghitungan penghasilan secara jabatan; dan
2. Kredit pajak sebagai pengurang Pajak Penghasilan.

Hak hadir diberikan melalui penyampaian undangan secara tertulis kepada


Wajib Pajak dengan mencantumkan hari dan tanggal dilaksanakannya
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan. Undangan dapat disampaikan oleh
Pemeriksa Pajak secara langsung atau melalui faksimili. Undangan harus
disampaikan kepada Wajib Pajak dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari
kerja terhitung sejak:
1. Diterimanya tanggapan tertulis atas SPHP dari Wajib Pajak; atau
2. Berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3)
PMK Nomor 17/PMK.03/2013, dalam hal Wajib Pajak tidak menyampaikan
tanggapan tertulis atas SPHP.

Berikut ini adalah beberapa hal yang akan dilakukan oleh Pemeriksaan
Pajak terkait dengan penyampaian tanggapan oleh Wajib Pajak dan kehadiran
Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan:
1. Apabila Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak:
a) Menyampaikan lembar pernyataan persetujuan hasil Pemeriksaan
dalam jangka waktu; dan
b) Hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sesuai dengan hari
dan tanggal yang tercantum dalam undangan tertulis.
Pemeriksa Pajak membuat risalah pembahasan dengan mendasarkan pada
lembar pernyataan peraetujuan hasil Pemeriksaan dan membuat berita acara
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang dilampiri dengan ikhtisar hasil
pembahasan akhir, yang ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak dan Wajib
Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak.
2. Apabila Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak:
a) Menyampaikan lembar pernyataan persetujuan hasil Pemeriksaan
dalam jangka waktu; dan
b) Tidak hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sesuai dengan
hari dan tanggal yang tercantum dalam undangan tertulis.
Pemeriksa Pajak membuat risalah pembahasan berdasarkan lembar
pernyataan persetujuan hasil Pemeriksaan, berita acara ketidakhadiran
Wajib Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, dan berita acara
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang dilampiri dengan ikhtisar hasil
pembahasan akhir, yang ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
3. Apabila Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak:
a) Menyampaikan surat sanggahan dalam jangka waktu; dan
b) Hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sesuai undangan,
Pemeriksa Pajak harus melakukan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan
dengan Wajib Pajak dengan mendasarkan pada surat sanggahan dan
menuangkan hasil pembahasan tersebut dalam risalah pembahasan, yang
ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak dan Wajib Pajak, wakil, atau kuasa
dari Wajib Pajak.
4. Apabila Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak:
a) Menyampaikan surat sanggahan dalam jangka waktu; dan
b) Tidak hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sesuai dengan
hari dan tanggal yang tercantum dalam undangan,
Pemeriksa Pajak membuat risalah pembahasan berdasarkan surat
sanggahan, berita acara ketidakhadiran Wajib Pajak dalam Pembahasan
Akhir Hasil Pemeriksaan, dan berita acara Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan yang dilampiri dengan ikhtisar hasil pembahasan akhir, yang
ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
5. Apabila Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak:
a) Tidak menyampaikan tanggapan tertulis atas SPHP dalam jangka
waktu; dan
b) Hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sesuai undangan,
Pemeriksa Pajak tetap melakukan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan
dengan Wajib Pajak dan menuangkan hasil pembahasan tersebut dalam
risalah pembahasan, yang ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak dan
Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak.
6. Apabila Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak:
a) Tidak menyampaikan tanggapan tertulis atas SPHP dalam jangka waktu;
dan
b) Tidak hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sesuai dengan
hari dan tanggal yang tercantum dalam undangan,
Pemeriksa Pajak membuat risalah pembahasan berdasarkan SPHP, berita
acara ketidakhadiran Wajib Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan, dan berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang
dilampiri dengan ikhtisar hasil pembahasan akhir, yang di tandatangani oleh
tim Pemeriksa Pajak.
Berikut ketentuan terkait dengan pembuatan berita acara Pembahasan Akhir
Hasil Pemeriksaan dan ihtisar hasil pembahasan:
1. Dalam hal terdapat hasil Pemeriksaan yang belum disepakati dalam risalah
pembahasan dan Wajib Pajak mengajukan permohonan pembahasan dengan
Tim Quality Assurance Pemeriksaan, berita acara Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan yang dilampiri dengan ihtisar hasil pembahasan akhir dibuat
setelah pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan
dilaksanakan.
2. Dalam hal Wajib Pajak tidak mengajukan permohonan pembahasan dengan
Tim Quality Assurance Pemeriksaan, berita acara Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan yang dilampiri dengan ihtisar hasil pembahasan akhir dibuat
berdasarkan risalah pembahasan.

Dalam hal Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak menolak
menandatangani risalah pembahasan, dan/atau atau berita acara Pembahasan
Akhir Hasil Pemeriksaan yang dilampiri dengan ikhtisar hasil pembahasan akhir,
Peneriksa Pajak membuat catatan mengenai penolakan tersebut.
Dalam rangka melakukan pembahasan akhir secara optimal, maka Wajib
Pajak harus menyiapkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Dokumen atau bukti untuk menyanggah temuan Pemeriksa Pajak;
2. Dasar hukum untuk menyanggah temuan Pemeriksa Pajak; dan
3. Kemampuan berdiplomasi yang memadai.

Konsekuensi ketidakhadiran Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil


pemeriksaan:
1. Dalam hal Wajib Pajak tidak hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan pada hari dan tanggal sesuai undangan, Pembahasan Akhir
Hasil Pemeriksaan dianggap telah dilakukan.
2. Dalam hal Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dianggap telah dilakukan,
berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang dilampiri dengan
ihtisar hasil pembahasan akhir ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
3. Wajib Pajak tidak dapat mengajukan permohonan pembahasan dengan Tim
Quality Assurance Pemeriksaan mengingat syarat pengajuan permohonan
adalah sebagai berikut:
a) Risalah pembahasan telah ditamdatangani oleh tim Pemeriksa Pajak
dan Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak; dan
b) Berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan belum
ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak dan Wajib Pajak, wakil, atau
kuasa dari Wajib Pajak.

Dalam hal Pemeriksa Pajak tidak melakukan pembahasan akhir hasil


pemeriksaan, maka Wajib Pajak dapat menempuh langkah hukum sebagai berikut:
1. Mengajukan permohonan kepada Direktur Jendral Pajak untuk melakukan
pembatalan hasil pemeriksaan atau surat ketetapan pajak dari hasil
pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa penyampaian SPHP sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf d Undang-Undang KUP; atau
2. Mengajukan gugatan kepada badan peradilan pajak atas penerbitan surat
ketetapan pajak yang dalam penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur
atau tata cara yang telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) haruf
d Undang-Undang KUP.

Format:
1. Undangan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan tercantum pada Lampiran
27.
2. Risalah Pembahasan tercantum pada Lampiran 28.
H. PEMBAHASAN DENGAN TIM QUALITY ASSURANCE
PEMERIKSAAN
Dalam rangka membahas hasil Pemeriksaan yang belum disepakati antara
Pemeriksaam Pajak dan Wajib Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan
dan guna menghasilkan Pemeriksaan yang berkualitas, Wajib Pajak dapat
mengajukan permohonan agar hal tersebut dibahas okeh Tim Quality Assurance
Pemeriksaan.
Tim Quality Assurance Pemeriksaan adalah tim yang dibentuk oleh Direktur
Jendral Pajak dalam rangka membahas hasil Pemeriksaan yang belum disepakati
antara Pemeriksa Pajak dan Wajib Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan guna menghasilkan Pemeriksaan yang berkualitas.
Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan pembahasan dengan Tim
Quality Assurance Pemeriksaan, Wajib Pajak menyampaikan surat permohonan
kepada:
1. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jendral Pajak dalam hal Pemeriksaan
dilakukan oleh Pemeriksa Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor
Wilayah Direktorat Jendral Pajak; atau
2. Direktur Pemeriksa dan Penagihan, dalam hal Pemeriksaan dilakukan oleh
Pemeriksa Pajak pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan.

Kehadiran Wajib Pajak saat pembahasan akhir hasil pemeriksaan sangat


menentukan dapat tidaknya Wajib Pajak mengajukan permohonan pembahasan
dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan. Hal ini dikarenakan permohonan
pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan dapat dilakukan,
apabila:
1. Risalah pembahasan telah ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak dan
Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak; dan
2. Berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan belum ditandatangani
oleh tim Pemeriksa Pajak dan Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib
Pajak.
Surat permohonan pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan
harus disampaikan secara langsung atau melalui faksimili dalam jangka waktu
paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak penandatanganan risalah pembahasan dan
ditembuskan kepada kepala unit pelaksana Pemeriksaan.
Tim Quality Assurance Pemeriksaan dibentuk oleh Direktur Jendral Pajak
Pemeriksaan dan Penagihan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jendral Pajak
atas nama Direktur Jendral Pajak dengan susunan keanggotaan yang terdiri dari 1
(satu) orang ketua, 1(satu) orang sekretaris, dan 3 (tiga) orang anggota. Adapun
tugas Tim Quality Assurance Pemeriksaan adalah:
1. Membahas perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak
pada saat Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;
2. Memberikan simpulan dan keputusan atas perbedaan pendapat antara Wajib
Pajak dengan Pemeriksa Pajak; dan
3. Membuat risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan yang berisi simpulan
dan keputusan hasil pembahasan dan bersifat mengikat.

Dalam angka melaksanakan pembahasan oada tingkat Tim Quality


Assurance Pemeriksaan, maka berikut beberapa prosedur yang akan ditempuh
oleh Tim Quality Assurance Pemeriksaan:
1. Berdasarkan surat permohonan Wajib Pajak, Tim Quality Assurance
Pemeriksaan harus menyampaikan undangan kepada Wajib Pajak dan
Pemeriksa Pajak untuk melakukan pembahasan atas hasil Pemeriksaan
yang belum disepakati dalam risalah pembahasan.
2. Undangan dapat disampaikan secara langsung atau melalu faksimili.
3. Pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan dilakukan oleh
Tim Quality Assurance Pemeriksaan, tim Pemeriksa Pajak, dan Wajib Pajak,
wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak.
4. Dalam hal Wajib Pajak tidak hadir dalam pembahasan dengan Tim Quality
Assurance Pemeriksaan sesuai dengan hari dan tanggal yang tercantum
dalam undangan, pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan
harus tetap dilakukan oleh Tim Quality Assurance Pemeriksaan dan tim
Pemeriksa Pajak.
5. Pelaksanaan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan antara Wajib Pajak
dengan Pemeriksa Pajak serta pelaksanaan pembahasan dengan Tim Quality
Assurance Pemeriksaharus mempertimbangkan jangka waktu Pembahasan
Akhir Hasil Pemeriksaan dan pelaporan.
6. Hasil pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan harus
dituangkan dalam risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan.
7. Dalam hal Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak hadir dalam
pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan, risalah Tim
Quality Assurance Pemeriksaan ditandatangani oleh Tim Quality Assurance
Pemeriksaan, tim Pemeriksa Pajak, dan Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari
Wajib Pajak.
8. Dalam hal Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak hadir
dalam pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan namun
Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak menolak menandatangani
risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan, Tim Quality Assurance
Pemeriksaan membuat catatan mengenai penolakan tersebut dalam
risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan.
9. Dalam hal Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak tidak hadir
dalam pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan sesuai
dengan hari dan tanggal yang tercantum dalam Undangan, Tim Quality
Assurance Pemeriksaan membuat:
a) Berita acara ketidakhadiran Wajib Pajak dalam pembahasan dengan
Tim Quality Assurance Pemeriksaan yang ditandatangani oleh Tim
Quality Assurance; dan
b) Risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan,
yang ditandatangani oleh Tim Quality Assurance Pemeriksaan dan
TimPemeriksa Pajak.
10. Dalam hal Wajib Pajak tidak hadir dalam pembahasan pada hari dan tanggal
sesuai undangan, pembahasam dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan
dianggap telah dilakukan.
Format:
1. Surat Permohonan Pembahasan dengan Tim Quality Assurance
Pemeriksaan tercantum pada Lampiran 29.
2. Undangan untuk Menghadiri Pembahasan dengan Tim Quality Assurance
Pemeriksaan tercantum pada Lampiran 30.
3. Risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan tercantum pada Lampiran 31.

I. PENANDATANGAN BERITA ACARA PEMBAHASAN AKHIR HSIL


PEMERIKSAAN
Dalam rangka menandatangi berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan,
Pemeriksa Pajak melalui kepala unit pelaksana Pemeriksaan memanggil Wajib
Pajak dengan mengirimkan surat panggilan untuk menandatangi berita acara
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan. Berikut beberapa ketentuan terkait dengan
penandatanganan berita acara pembahasan akhir hasil pemeriksaan:
1. Surat panggilan dapat disimpulkan secara langsung atau melalui faksimili.
2. Dalam hal surat panggilan disampaikan secara langsung dan Wajib Pajak,
wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak menolak untuk menerima surat
panggilan tersebut, Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak harus
menandatangani surat penolakan menerima surat panggilan untuk
menandatangi berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan.
3. Dalam hal Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak menolak
menandatangani surat penyataan, Pemeriksa Pajak membuat berita acara
penolakan menerima surat panggilan untuk menandatangani berita acara
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang ditandatangani oleh tim
Pemeriksa Pajak.
4. Wajib Pajak harus memenuhi panggilan dalam jangka waktu paling lama 3
(tiga) hari kerja setelah surat panggilan untuk menandatangani berita acara
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan diterima oleh Wajib Pajak.
5. Dalam hal Wajib Pajak, wakil, atau kuasa dari Wajib Pajak memenuhi
panggilan, namun menolak untuk menandatangani berita acara Pembahasan
Akhir Hasil Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak membuat catatan mengenai
penolakan penandatanganan pada berita acara Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan.
6. Dalam hal Wajib Pajak tidak memenuhi panggilan, Pemeriksa Pajak
membuat catatan pada berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan
mengenai tidak dipenuhinya panggilan.

Format:
1. Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan tercantum pada
Lampiran 32.
2. Ihtisar Hasil Pembahasan Akhir tercantum pada Lampiran 33.
3. Berita Acara Ketidakhadiran Wajib Pajak dalam rangka Pembahasan Akhir
Hasil Pemeriksaan tercantum pada Lampiran 34.

J. PENYELESAIAN PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan diselesaikan dengan cara:
1. Menghentikan Pemeriksaan dengan membuat LHP Sumir; atau
2. Membuat LHP, sebagai dasar penerbitan surat ketetapan pajak dan/atau
Surat Tagihan Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.

Penyelesaian Pemeriksaan dengan membuat LHP Sumir dilakukan dalam hal:


1. Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah
dewasa dari Wajib Pajak yang diperiksa:
a) Tidak ditemukan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal
Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan diterbitkan; atau
b) Tidak memenuhi panggilan Pemeriksaan dalam jangka waktu 4 (empat)
bulan sejak tanggal Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan
Kantor diterbitkan.
2. Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor yang ditangguhkan
karena ditindaklanjuti dengan Pemeriksaan Bukti Permulaan secara
terbuka dan Pemeriksaan Bukti Permulaan secara terbuka tersebut:
a) Tidak dilanjutkan dengan penyidikan karena Wajib Pajak
mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (3) Undang-Undang KUP.
b) Tidak dilanjutkan dengan penyidikan tetapi diselesaikan dengan
menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13A Undang-Undang KUP; atau
c) Dilanjutkan dengan penyidikan tetapi penyidikannya dihentikan karena
tidak dilakukan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B
Undang-Undang KUP.
d) Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor yang ditangguhkan
karena ditindaklanjuti dengan penyidikan sebagai tindak lanjut
Pemeriksaan Bukti Permulaan secara tertutup dan penyidikan tersebut
dihentikan karena memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 44B Undang-Undang KUP.
e) Pemeriksaan Ulang tidak mengakibatkan adanya tambahan atas jumlah
pajak yang telah ditetapkan dalam surat ketetapan pajak sebelumnya.
f) Terdapat keadaan tertentu berdasarkan pertimbangan Direktur Jendral
Pajak.

Adapun penyelesaian Pemeriksaan dengan membuat LHP sebagai dasar


penerbitan surat ketetapan pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dilakukan dalam hal:
1. Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah
dewasa dari Wajib Pajak yang dilakukan Pemeriksaan sehubungan dengan
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang KUP:
a) Tidak ditemukan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal
Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan diterbitkan; atau
b) Tidak memenuhi panggilan Pemeriksaan dalam jangka waktu 4 (empat)
bulan sejak tanggal Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan
Kantor diterbitkan.
2. Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah
dewasa dari Wajib Pajak yang dilakukan Pemeriksaan ditemukan atau
memenuhi panggilan Pemeriksaan, dan Pemeriksaan dapat diselesaikan
dalam jangka waktu Pemeriksaan.
3. Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah dewa
dari Wajib Pajak yang dilakukan Pemeriksaan ditemukan atau memenuhi
panggilan Pemeriksaan, dan pengujian kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan belum dapat diselesaikan sampai dengan:
a) Berakhirnya perpanjangan jangka waktu pengujian Pemeriksaan
Lapangan; atau
b) Berakhirnya perpanjangan jangka waktu pengujian Pemeriksaan
Kantor.
4. Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor yang ditangguhkan karena
ditindaklanjuti dengan Pemeriksaan Bukti Permulaan secara terbuka dan
Pemeriksaan Bukti Permulaan secara terbuka tersebut:
a) Dihentikan karena Wajib Pajak orang pribadi yang dilakukan
Pemeriksaan Bukti Permulaan secara terbuka meninggal dunia;
b) Dihentikan karena tidak ditemukan adanya bukti permulaan tindak
pidana di bidang perpajakan;
c) Dilanjutkan dengan penyidikan namun penyidikannya dihentikan
karena memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44A
Undang-Undang KUP; atau
d) Dilanjutkan dengan penyidikan dan penuntutan serta telah terdapat
Putusan Pengadilan mengenai tindak pidana di bidang perpajakn yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap dab salinan Putusan Pengadilan
tersebut telah diterima oleh Direktur Jendral Pajak.
5. Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor yang ditangguhkan karena
ditindaklanjuti dengan penyidikan sebagai tindak lanjut Pemeriksaan Bukti
Permulaan secara tertutup dan penyidikan tersebut:
a) Ddihentikan karena memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 44A Undang-Undang KUP; atau
b) Dilanjutkan dengan penuntutan serta telah terdapat Putusan Pengadilan
mengenai tindak pidana di bidang perpajakan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap dan salinan Putusan Pengadilan tersebut telah
diterima oleh Direktur Jendral Pajak.

K. PENGEMBALIAN DOKUMEN
Buku, catatan, dan dokumen yang dipinjam harus dikembalikan kepada Wajib
Pajak dengan menggunakan bukti peminjaman dan pengembalian buku, catatan
dan dokumen paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal LHP.

L. PEMBATALAN HASIL PEMERIKSAAN


Surat ketetapan pajak dari hasil Pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa:
1. Penyampaian SPHP; atau
2. Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan,
Dapat dibatalkan secara jabatan atau berdasarkan permohonan Wajib Pajak
oleh Direktur Jendral Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1)
huruf d Undang-Undang KUP

Adapun ketentuan terkait dengan pembatalan hasil pemeriksaan ini


ditentukan sebagai berikut:
1. Dalam hal dilakukan pembatalan, proses Pemeriksaab harus dilanjutkan
dengan melaksanakan prosedur penyampaian SPHP dan/atau Pembahasan
Akhir Hasil Pemeriksaan.
2. Prosedur penyampaian SPHP dan/atau pelaksanaan Pembahasan Akhur
Hasil Pemriksaan, harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.03/2013 tentang Tata
Cara Pemeriksaan.
3. Dalam hal Pemeriksaan yang dilanjutkan terkait dengan permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17B ayat (1) Undang-Undang KUP, Pemeriksaan dilanjutkan dengan
penerbitan:
a) Surat ketetapan pajak sesuai dengan Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan apabila jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17B ayat (1) Undang-Undang KUP belum
terlewati; atau
b) Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar sesuai dengan Surat Pemberitahuan
apabila jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 17B ayat (1) Undang-Undang KUP terlewati.
4. Dalam hal susunan keanggotaan tim Pemeriksa Pajak untuk melanjutkan
Pemeriksaan berbeda dengan susuna keanggotaan tim Pemeriksa Pajak
sebelumnya. Pemeriksaan tersebut dilakukan setelah diterbitkan surat yang
berisi perubahan tim Pemeriksa Pajak.

M. PEMERIKSAAN ULANG
Untuk menampung kemungkinan terjadinya suatu Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar yang ternyata telah ditetapkan lebih rendah atau pajak yang terutang dalam
suatu Surat Ketetapan Pajak Nihil ditetapkan lebih rendah atau telah dilakukan
pengembalian pajak yang tidak seharusnya sebagaimana telah ditetapkan dalam
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar, Direktur Jendral Pajak berwenang untuk
menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) dalam
jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa
Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak.
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan merupakan koreksi atas
surat ketetapan pajak sebelumnya. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan baru diterbitkan apabila sudah pernah diterbitkan surat ketetapan pajak.
Pada prinsipnya untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan perlu dilakukan pemeriksaan. Jika surat ketetapan pajak sebelumnya
diterbitkan berdasarkan pemeriksaan, perlu dilakukan pemeriksaan ulang sebelum
menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Dalam hal surat
ketetapan pajak sebelumnya diterbitkan berdasarkan keterangan lain sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) hurf a Undang-Undang KUP, Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar Tambahan juga harus diterbitkan berdasarkan pemeriksaan,
tetapi bukan pemeriksaan ulang.
Dengan demikian, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan tidak
akan mungkin diterbitkan sebelum didahului dengan penerbitan surat ketetapan
pajak. Penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dilakukan
dengan syarat adanya data baru termasuk data yang semula belum terungkap yang
menyebabkan penambahan pajak yang terutang dalam surat ketetapan pajak
sebelumnya. Sejalan dengan itu, setelah Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
diterbitkan sebagai akibat telah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang KUP, Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar Tambahan diterbitkan hanya dalam hal ditemukan data baru termasuk data
yang semula belum terungkap. Dalam hal masih ditemukan lagi data baru
termasuk data yang semula belum terungkap pada saat diterbitkannya Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan/atau data baru termasuk data yang
semula belum terungkap yang diketahui kemudia oleh Direktur Jendral Pajak,
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan masih dapat diterbitkan lagi.
Yang dimaksud “data baru” adalah data atau keterangan mengenai segala
sesuatu yang diperlukan untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang terutang
yang oleh Wajib Pajak belum diberitahukan pada waktu penetapan semula, baik
dalam Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya maupun dalam pembukuan
perusahaan yang diserahkan pada waktu pemeriksaan.
Selain itu, yang termasuk dalam data baru adalah data yang semula belum
terungkap, yaitu data yang:
1. Tidak diungkapkan oleh Wajib Pajak dalam Suart Pemberitahuan beserta
lampirannya (termasuk laporan keuangan); dan/atau
2. Pada waktu pemeriksaan untuk penetapan semula Wajib Pajak tidak
mengungkapkan data dan/atau memberikan keterangan lain secara benar,
lengkap, dan terinci sehingga tidak memungkinkan fiskus dapat menerapkan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakn dengan benar dalam
menghitung jumlah pajak yang terutang.

Walapun Wajib Pajak tidak memberitahukan data dalam Surat


Pemberitahuan atau mengungkapkannya pada waktu pemeriksaan, tetapi apabila
memberitahukannya atau mengungkapkannya dengan cara sedemikian rupa
sehingga membuat fiskus tidak mungkin menghitung besarnya Jumlah pajak yang
terutang secara benar sehingga jumlah pajak yang terutang ditetapkan kurang dari
yang seharusnya, hal tersebut termasuk dalam pengertian data yang semula belum
terungkap.

Contoh:
1. Dalam Surat Pemberitahun dan/atau laporan keuangan tertulis adanya biaya
iklan Rp. 10.000.000,00, sedangkan sesungguhnya biaya tersebut terdiri atas
Rp. 5.000.000,00 biaya iklan dimedia massa dan Rp. 5.000.000.00 sisanya
adalah sumbangan atau hadiah yang tidak boleh dibebankan sebagai biaya.
Apabila pada saat penetapan semula Wajib Pajak tidak mengungkapkan
perincian tersebut sehingga fiskus tidak melakukan koreksi atas pengeluaran
berupa sumbangan atau hadiah sehingga pajak yang terutang tidak dapat
dihitung secara benar, data mengenai pengeluaran berupa sumbangan atau
hadiah tersebut tergolong data yang semula belum terungkap.
2.