Anda di halaman 1dari 15

PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM LIVING QUR’AN

Disusun Guna Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Living Qur’an
Dosen Pengampu: MohamadNuryansah, M.Hum.
Oleh:
Tia Izzah Fathiya (53020150012)
Hajar Nur Rohmah (53020150014)
Rizqi Fiismatillah (53020150015)

JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR


IAIN SALATIGA
2018

A. Pendahuluan
Islam adalah agama dengan ajarannya yang universal dan menjadi rahmat bagi
sekalian alam. Karena bersifat universal itulah, ajaran Islam akan selalu relevan dan
kontekstual pada setiap zaman dan tempat, sehingga bisa mengayomi kehidupan
seluruh umat manusia. Keuniversalan agama Islam tentu sangat tercermin di dalam al-
Qur’an yang memang sejak diturunkan selalu mewadahi segala persoalan yang
menjadi ruang lingkup kehidupan manusia. Al-Qur’an merupakan teks suci yang
banyak menggunakan bahasa-bahasa simbolis-metaforis dalam memberikan petunjuk
kepada umat manusia. Di dalamnya juga memuat fakta-fakta sejarah yang sangat
berharga. Oleh karena itu, dibutuhkan analisis semiotis dan antropologis untuk bisa
memahami dan menyingkap makna kandungan al-Qur’an dan juga untuk
membebaskan wacana Qur’aniah dari belenggu-belenggu ideologi dan kekuasaan.
Dewasa ini telah muncul kajian agama yang menggunakan Antropologi sebagai basis
pendekatannya. Berbagai pendekatan dalam memahami agama yang selama ini
digunakan dipandangharus dilengkapi dengan pendekatan antropologis. Melalui
pendekatan antropologis sosok agama yang ada pada dataranempirik akan dapat
dilihat serat-seratnya dan latar belakang mengapaagama tersebut muncul dan
dirumuskan. Antropologi berupaya melihathubungan antara agama dengan berbagai
pranata sosial yang terjadi di masyarakat. Tugas utama antropologi adalah studi
tentang manusia untuk memungkinkan kita memahami diri kita dengan memahami

1
kebudayaan lain. Antropologi menyadarkan kita tentang kesatuan manusia secara
esensial, dan karenannya membuat kita saling menghargai satu sama lainnya.
B. Pembahasan
1. Memahami Antropologi
Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari makhluk manusia
(anthropos). Secara etimologi, antropologi berasal dari kata anthropos berarti
manusia dan logos berarti ilmu. Dalam antropologi, manusia dipandang sebagai
sesuatu yang kompleks dari segi fisik, emosi, sosial, dan kebudayaannya.
Antropologi sering pula disebut sebagai ilmu tentang manusia dan
kebudayaannya. Antropologi mulai banyak dikenal orang sebagai sebuah ilmu
setelah diselenggarakannya simposium pada tahun 1951 yang dihadiri oleh lebih
dari 60 tokoh antropologi dari negara-negara di kawasan Ero-Amerika (hadir pula
beberapa tokoh dari Uni Soviet). Simposium yang dikenal dengan sebutan
International Symposium on Anthropology ini telah menjadi lembaran baru bagi
antropologi, terutama terkait dengan publikasi beberapa hasil karya antropologi,
seperti buku yang berjudul “Anthropology Today” yang di redaksi oleh A.R.
Kroeber (1953), “An Appraisal of Anthropology Today” yang di redaksi oleh S.
Tax, dkk. (1954), “Yearbook of Anthropology” yang diredaksi oleh W.L. Thomas
Jr. (1955), dan “Current Anthropology” yang di redaksi oleh W.L. Thomas Jr.
(1956).Setelah simposium ini, antropologi mulai berkembang di berbagai negara
dengan berbagai tujuan penggunaannya. Di beberapa negara berkembang
pemikiran-pemikiran antropologi mengarah pada kebutuhan pengembangan
teoritis, sedangkan di wilayah yang lain antropologi berkembang dalam tataran
fungsi praktisnya.1
Pengertian lainnya disampaikan oleh Harsojo dalam bukunya yang berjudul
“Pengantar Antropologi” (1984). Menurut Harsojo, antropologi adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari umat manusia sebagai makhlukmasyarakat.
Menurutnya, perhatian antropologi tertuju pada sifat khususbadani dan cara
produksi, tradisi serta nilai-nilai yang akan membedakan carapergaulan hidup
yang satu dengan pergaulan hidup yang lainnya.Sementara itu Koentjaraningrat
dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Antropologi I ” (1996) menjelaskan
bahwa secara akademis, antropologi adalah sebuah ilmu tentang manusia pada

1
Wawan Ruswanto, repository.ut.ac.id, (Modul 1: Ruang Lingkup Ilmu Antropologi), diakses pada
tanggal 20 September 2018 pukul 19.30, hlm. 3-4.

2
umumnya dengan titik fokus kajian pada bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaan
manusia. Sedangkan secara praktis, antropologi merupakan sebuah ilmu yang
mempelajari manusia dalam beragam masyarakat suku bangsa guna membangun
masyarakat suku bangsa tersebut.Di lain pihak Masinambow, ed. dalam bukunya
yang berjudul “Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia” (1997)
menjelaskan bahwa antropologi adalah disiplin ilmu yang mengkaji masyarakat
atau kelompok manusia.2
Conrad Philip Kottak dalam bukunya berjudul “Anthropology, the Exploration
of Human Diversity” (1991) menjelaskan bahwa antropologi mempunyai
perspektif yang luas, tidak seperti cara pandang orang pada umumnya, yang
menganggap antropologi sebagai ilmu yang mengkaji masyarakat nonindustri.
Menurut Kottak, antropologi merupakan studi terhadap semua masyarakat, dari
masyarakat yang primitif (ancient) hingga masyarakat modern, dari masyarakat
sederhana hingga masyarakat yang kompleks. Bahkan antropologi merupakan
studi lintas budaya (komparatif) yang membandingkan kebudayaan satu
masyarakat dengan kebudayaan masyarakat lainnya.3
Antropologi adalah salah satu disiplin ilmu dari cabang ilmu pengetahuan
sosial yang memfokuskan kajiannya pada manusia. Kajian antropologi ini
setidaknya dapat ditelusuri pada zaman kolonialisme di era penjajahan yang
dilakukan bangsa Barat terhadap bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin
serta suku Indian. Perhatian serius terhadap antropologi dimulai pada abad 19.
Pada abad ini, antropologi sudah digunakan sebagai pendekatan penelitian yang
difokuskan pada kajian asal usul manusia. Penelitian antropologi ini mencakup
pencarian fosil yang masih ada, dan mengkaji keluarga binatang yang terdekat
dengan manusia (primate) serta meneliti masyarakat manusia, apakah yang paling
tua dan tetap bertahan (survive). Pada waktu itu, semua dilakukan dengan ide
kunci, ide tentang evolusi.4
Menurut Kuncaraningrat Spesialisasi Antropologi terbagi dua yaitu:
1. Antropologi Fisik
Paleontologi (asal usul manusia, evolusinya dan sejarahnya).
Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan

2
Wawan Ruswanto,.............................................................................................................. ......, hlm. 4-5.
3
Ibid, hlm. 5.
4
Dedi Mahyudi, “Pendekatan Antropologi dan Sosiologi dalam Studi Islam”, Jurnal Ihyaul ‘Arabiyyah
Vol. 6, No. 2, 2016, hlm. 208-209.

3
evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil. Antropologi Fisik tertarik pada
sisi fisik dari manusia.5
2. Antropologi Budaya:
a) Arkeologi
Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa
lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian
sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data
berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi)
dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil).
Secara khusus, arkeologi mempelajari budaya masa silam, yang sudah
berusia tua, baik pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan), maupun
pada masa sejarah (ketika terdapat bukti-bukti tertulis). Pada
perkembangannya, arkeologi juga dapat mempelajari budaya masa kini,
sebagaimana dipopulerkan dalam kajian budaya bendawi modern (modern
material culture).
b) Ethnologi
Yaitu ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia didalam
kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia baik memahami cara
berpikir maupun berprilaku. De Vos dan Barth dalam Pelly
mengemukakan perbatasan-perbatasan kelompok etnik sebagai segi-segi
penegas yang penting bukannya ”hal-hal” budaya di dalam perbatasan-
perbatasan tersebut. Barth menyatakan bahwa kita tidak dapat mengenali
suatu kelompok etnik hanya dari budayanya saja. Kita harus
memperhatikan prilaku mereka.
c) Ethnografi
Adalah pelukisan adat kebiasaan. Ethnografi adalah metode riset yang
menggunakan observasi langsung terhadap kegiatan manusia dalam
konteks sosial dan budaya sehari-hari. Ethnografi berusaha mengetahui
kekuatan-kekuatan apa saja yang membuat manusia melakukan sesuatu.6

5
M. Dimyati Huda, “Pendekatan Antropologis dalam Studi Islam”, Jurnal Didaktika Religia Vol. 4,
No. 2, 2016, hlm. 143.
6
Ibid, hlm. 143-144.

4
2. Memahami Pendekatan
Pemahaman tentang pendekatan masih menjadi perdebatan. Pertama, ada
yang memahami pendekatan sebagai cara memandang atau cara menghampiri
fenomena sosial dan budaya atau yang lebih dikenal dengan istilah prespektif atau
sudut pandang.7 Kedua, pendekatan sebagai disiplin ilmu. Maka ketika disebut
pendekatan antropologi dalam Living Qur’an8, berarti mengkaji Living Qur’an
dengan menggunakan disiplin ilmu antropologi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendekatan adalah (1)
proses, cara, perbuatan mendekati (hendak berdamai, bersahabat, dsb). (2) usaha
dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang
yang diteliti, metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian;
ancangan.9
Jadi, dapat disimpulkan pendekatan merupakan cara memandang atau
memahami suatu fenomena yang terjadi dengan menggunakan bebagai macam
disiplin ilmu.10
3. Pendekatan Antropologi
Dalam dunia ilmu pengetahuan, menurut Parsudi Suparlan, makna dari istilah
”pendekatan” adalah sama dengan ”metodologi” yaitu ”sudut pandang atau cara
melihat dan memperlakukan sesuatu yang menjadi perhatian atau masalah yang
dikaji. Adapun yang dimaksud pendekatan disini adalah cara pandang atau
paradigma yang terdapat didalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan
dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahmat sebagaimana
dikutip oleh Abuddin Nata, mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan
menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diuangkapkan
mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Dengan
demikian pendekatan antropologis yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sudut
pandang atau cara melihat (paradigma) memperlakukan sesuatu gejala yang

7
Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: Academia Tazzafa), 2012. Hlm. 182.
8
Ditinjau dari segi bahasa, Living Qur’an adalah gabungan dari dua kata yang berbeda, yaitu Living
yang berarti hidup dan Qur’an yaitu kitab suci umat Isam. Secara sederhana, istilah Living Qur’an bisa diartikan
dengan teks yang hidup di masyaraka (Sahiron Syamsuddin, “Ranah-Ranah Penelitian dalam Studi al-Qur’an
dan Hadis” dalam Shahiron Syasuddin (ed), Metode Penelitian Living Qur’an dan Hadis, (Yogyakarta: Teras)
2007).
9
https://kbbi.kemendikbud.go.id/entri/pendekatan
10
Kuni Muyassaroh dkk.,“Pendekatan Sosiologis dalam Living Qur’an”, (Salatiga: Makalah Mata
Kuliah Living Qur’an, 2018), hlm. 4.

5
menjadi perhatian dengan menggunakan kebudayaan dari gejala yang dikaji
tersebut sebagai acuan dalam melihat, memperlakukan dan menelitinya.11
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai
salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek
keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan
ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi
manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata
lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam
melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologi,
sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk
memahami agama. Antropologi mempelajaritentang manusia dan segala perilaku
mereka untuk dapat memahamiperbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan
pendekatan yangholistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang
manusia,maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting
untukmempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya.12

4. Pokok-Pokok Teori Antropologi13


Pokok-pokok teori antropologi adalah Teori Evolusi Kebudayaan,Teori Difusi
Kebudayaan,Teori Fungsionalisme Budaya,Teori Strukturalisme Radcliffe
Brown,Teori Strukturalisme Levi Strauss, Teori Materialisme Kebudayaan,
Teori Interpretivisme Simbolik, Teori Poststrukturalisme, Teori Postmodernisme.
Namun, pada kesempatan kali ini, penulis hanya menjelaskan beberapa saja.

a) Teori Evolusi Kebudayaan


Paradigma evolusi kebudayaan dikemukakan pertama kali oleh Edward Burnett
Tylor(1832-1917), seorang ahli antropologi yang berasal dari Inggris. Salah satu
bukunya berjudul Researches into the Early History of Mankind (1871), mengulas
bahwa tujuan sesungguhnya dari kajian kebudayaan yang dilakukan oleh seorang
antropolog adalahu ntuk mempelajari aneka ragam kebudayaan sebanyak-
banyaknya, kemudian dicarikan unsur-unsur persamaannya, selanjutnya dilakukan
proses klasifikasi. 1 Beberapa contoh proses evolusi social budaya:

11
M. Dimyati Huda,............................................................................................................, hl m. 152.
12
Ibid, hlm. 153.
13
Scribd, Teori-teori Antropologi, Hadi Saputra.

6
 Evolusi Hukum (H. Spencer) : Hukum Keramat - hukum sekuler –hukum
keramat raja –hukum formal perundang-undangan yang kompleks.
 Evolusi keluarga (j.j.Bachofen) : Promiskuitas–matriarchate–
patriarchate– parental.
 Evolusi Religi / Agama ( E.B. Taylor) : Animisme–dinamisme–
politeisme– monoteisme
 Evolusi Budaya Tekhnologi (L.H. Morgan ): Zaman liar (tua,
madya, muda)– zaman barbar (tua, madya, muda)–zaman peradaban
purba–zamanperadaban masa kini.
 Evolusi budaya tekhnologi penggunaan energy (L. White): Penggunaantenaga
manusia–penggunaan api–penggunaan tenaga hewan– penggunaan tenaga
mesin.

b) Teori Difusi Kebudayaan


Ide awal adanya teori difusi kebudayaan ini dilontarkan pertama kali
oleh G. Elliot Smith (1871-1937) dan WJ. Perry (1887-1949), dua orang ahli
antropologi asal Inggris. Setelah membaca dan mempelajari banyak catatan
sejarah serta benda-bendaarkeologis mengenai kebudayaan-kebudayaan besar
yang pernah ada di muka bumi,kedua tokoh ini sampai pada suatu tekad untuk
mengajukan sebuah teori yang mereka namakan Heliolithic Theory.
Menurut keduanya, berdasarkan teori yang merekaajukan ini, peradaban-
peradaban besar yang pernah ada di masa lampau merupakanhasil persebaran
yang berasal dari Mesir. Hal ini karena berdasarkan kajian keduanya,pernah terjadi suatu
peristiwa difusi yang sangat besar di masa lampau yang berpusat diMesir.
Persebaran dari titik utama di Mesir ini kemudian bergerak ke arah timur
yangmeliputi daerah-daerah terjauh seperti India, Indonesia dan Polinesia
hingga mencapai Amerika. Orang-orang Mesir yang disebut dengan “putra-
putra dewa matahari‟ inimelakukan perpindahan dengan cara menyebar ke berbagai
tempat tersebut dalamusaha mereka untuk mencari logam mulia dan batu mulia
seperti emas, perak danpermata.
Keberadaan teori difusi kebudayaan sebagai penentangan terhadap teori
evolusi yang muncul sebelumnya baru mengemuka dan mencuat ke permukaan setelah
kedatangan Franz Boas bersama para muridnya. Setelah masuknya tokoh

7
antropolog asal Amerika ini barulah terjadi perselisihan dan mencuatnya
beragam kritikan yang dialamatkan oleh para pengusung teori difusi terhadap teori
evolusi.
Franz Boas pada dasarnya adalah seorang ahli geografi yang hidup
antara tahun 1858-1942dan berasal dari Jerman. Tokoh yang dianggap pendekar ilmu
antropologi Amerika ini banyak melakukan ekspedisi ke berbagai wilayah-
wilayah pedalaman Amerika dan mengumpulkan bahan-bahan etnografi yang
digunakannya untuk menyusun beragamkarangannya mengenai kebudayaan. Untuk
menguatkan pandangan-pandangannyamengenai kebudayaan, Boas menyatakan
bahwa penelitian difusi kebudayaan harusdiarahkan hanya pada daerah-daerah
tertentu saja dan apa yang mengemuka dalamkomunitas kebudayaan tertentu
tersebut harus diperhatikan secara seksama dan seteliti mungkin.
Model Boas ini kemudian dikenal dengan nama
‘partikularisme historis’ dimana di dalamnya telah melahirkan konsep-konsep baru
mengenai kajiankebudayaan, seperti kulturkreis atau daerah atau lingkungan dan
kulturschichten ataulapisan kebudayaan. Dalam kajian kebudayaan ala difusi
Boas ini, unsur-unsurpersamaan yang dimiliki oleh sebuah kebudayaan sangat
diperhatikan secara cermatuntuk kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kategori yang
disebutkan dengan duaistilah yang dikemukakan di atas. Dengan cara seperti ini
maka akan diketahui unsur-unsur kebudayaan yang ada dalam beragam
kebudayaan dunia.
c) Teori Fungsionalisme Budaya
Bronislaw Malinowski (1884-1942), merupakan tokoh yang mengembangkan
teorifungsional tentang kebudayaan, atau a functional theory of culture.Inti dari
teorifungsional Malinowski adalah bahwa segala aktivitas kebudayaan itu
sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan
naluri mahlukmanusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.
Kebutuhan itu meliputikebutuhan biologis maupun sekunder, kebutuhan
mendasar yang muncul dariperkembangan kebudayaan itu sendiri. Kesenian
misalnya yang merupakan salah satuunsur kebudayaan, terjadi karena mula-
mula manusia ingin memuaskan kebutuhannalurinya akan keindahan. Ilmu
pengetahuan juga timbul karena kebutuhan nalurimanusia untuk tahu. Di samping itu,
masih banyak aktivitas kebudayaan terjadi karenakombinasi dari beberapa
kebutuhan masyarakat.

8
d) Teori Postmodernis
Kebudayaan postmodern ditandai dengan meledaknya budaya massa,
budaya populerserta budaya media massa. Kapitalisme lanjut yang
bergandengan tangan denganpesatnya perkembangan teknologi, telah memberikan
peranan penting kepada pasar dankonsumen sebagai institusi kekuasaan baru
menggantikan peran negara, militer danparlemen.

5. Paradigma Antropologi14
Banyak paradigma antropologi yang dapat digunakan untuk mempelajari The
Living al-Qur’an, namun tidak semua paradigma ini dapat diterapkan dengan
mudah di Indonesia, karena terbatasnya kepustakaan yang tersedia. Dari sekian
banyak paradigma tersebut, paradigma yang saya pandang dapat dipakai dan dapat
memberikan hasil yang memuaskan jika diterapkan dengan baik adalah beberapa
paradigma berikut.
a. Paradigma Akulturasi
Akulturasi adalah sebuah proses yang terjadi ketika suatu kebudayaan
bertemu dengan kebudayaan lain, dan kemudian mengambil sejumlah unsurunsur
budaya baru tersebut serta mengubahnya sedemikian rupa sehingga unsur-unsur
budaya baru tersebut terlihat seperti unsur budayanya sendiri. Dengan sudut
pandang akulturasi ini seorang peneliti fenomena The Living al-Qur’an akan
mencoba mengetahui misalnya proses dan hasil interaksi antara ajaran-ajaran yang
ada dalam al-Qur’an dengan sistem kepercayaan atau budaya lokal suatu
masyarakat. Peneliti akan berupaya mengetahui unsurunsur mana dari budaya
lokal yang mempengaruhi pola interpretasi atau pemahaman terhadap al-Qur’an
sebagai firman-firman dari Allah SWT dalam bahasa Arab, yang artinya tidak
dimengerti sepenuhnya oleh masyarakat pendukung budaya tersebut, dan
bagaimana ajaran-ajaran dalam al-Qur’an kemudian mengubah unsur-unsur
tertentu dari budaya lokal. Proses akulturasi ini bisa berjalan dengan lancar dan
mulus, bisa juga tidak. Dalam hal ini peneliti juga dapat memperhatikan individu-
individu mana yang menyebarkan unsur-unsur tertentu dari al-Qur’an,
individuindividu mana yang menyebarkan unsur yang lain; tafsir mereka
mengenai budaya lokal; pemanfaatan mereka atas unsur-unsur budaya lokal untuk

14
HeddyShri Ahimsa-Putra, THE LIVING AL-QUR’AN: BeberapaPerspektifAntropologi, Walisongo, Volume
20, Nomor 1, Mei 2012hal 254-258

9
penyebaran al-Qur’an, bahkan juga konflik-konflik yang harus mereka hadapi
dalam proses penyebaran tersebut. Juga dapat diteliti, perubahan-perubahan apa
yang dilakukan terhadap unsur-unsur yang ada dalam al-Qur’an, sehingga unsur-
unsur tersebut lantas terlihat sebagai bagian dari budaya lokal, dan apa reaksi
orang terhadap perubahan-perubahan tersebut.

a. Paradigma Fungsional
Paradigma fungsional digunakan ketika seorang peneliti bermaksud
mengetahui fungsi-fungsi dari suatu gejala sosial budaya. Fungsi ini bisa merupa kan
fungsi sosial atau fungsi kultural gejala tersebut, seperti misalnya pola-pola perilaku
yang muncul dari pemaknaan-pemaknaan tertentu terhadap ayat-ayat al-Qur’an.
Misalnya saja pemaknaan terhadap surat-surat dan ayat-ayat tertentu, yang kemudian
melahirkan pola-pola perilaku tertentu dengan fungsi sosio-kultural tertentu pula.
Ketika peneliti tertarik pada fungsi budaya dari qur’anisasi kehidupan masyarakat, dia
akan mengarahkan perhatiannya pada fungsi qur’anisasi tersebut pada tataran
pandangan hidup, nilai-nilai, norma dan aturan yang berlaku dalam masyarakat. Jika
dia tertarik pada fungsi sosial fenomena tersebut, dia akan mengarahkan perhatiannya
pada fungsi-fungsi qur’anisasi terhadap interaksi, relasi dan jaringan sosial, serta
pengelompokan dan pelapisan sosial yang ada di situ. Peneliti juga dapat mencoba
mengungkap fungsi-fungsi sosio-kultural dari al-Qur’an itu sendiri, yang mungkin
sangat berbeda dengan fungsi al-Qur’an dalam konteks aktivitas belajar-mengajar di
sebuah perguruan tinggi seperti UIN Sunan Kalijaga misalnya. Dalam hal ini ayat-
ayat yang diyakini memiliki khasiat tertentu biasanya akan mendapat perlakuan
berbeda dengan ayat-ayat yang lain. Ayat-ayat ini mungkin tidak akan dihafal, tetapi
ditulis pada secarik kain putih dengan minyak misik atau za’faran, atau ditulis di atas
sebuah piring, kemudian disiram dengan air dan diminum. Fungsi ayat-ayat tertentu
dari al-Qur’an di sini sudah berbeda dengan fungsi ayat tersebut menurut pandangan
para mahasiswa di perguruan tinggi Islam.

b. Paradigma Struktural
Tujuan utama seorang peneliti yang menggunakan pendekatan struktural
adalah mengungkap struktur yang ada di balik gejala-gejala sosial budaya yang
dipelajari atau membangun sebuah model—yang juga merupakan struktur—yang
akan dapat membuat peneliti memahami dan menjelaskan gejala-gejala yang

10
dipelajari. Dengan menggunakan paradigma ini seorang peneliti akan mencoba
memahami gejala pemaknaan al-Qur’an lewat model-model struktural tertentu. Lewat
kacamata struktural seorang peneliti dimungkinkan untuk memandang berbagai
fenomena pemaknaan al-Qur’an sebagai serangkaian transformasi dari suatu struktur
tertentu. Di sini al-Qur’an sebagai kitab akan dipandang sebagai salah satu
perwujudan di antara sejumlah perwujudan lain (seperti misalnya ritual, mitos) dari
struktur tertentu yang lebih abstrak, yang lebih dalam, yang seolah-olah ada “di balik”
al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai sebuah kitab di sini lantas terlihat sebagai transformasi
dari al-Qur’an yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini pada
akhirnya peneliti harus dapat menampilkan sebuah model tertentu dan
memperlihatkan transformasi-transformasi yang terjadi. Penelitian dapat dimulai dari
aspek budaya yang mana saja. Bisa dari aspek rituil, bisa dari aspek pemaknaan, bisa
dari aspek al-Qur’annya, bisa pula dari aspek budaya materialnya.

c. Paradigma Fenomenologi
Ketika seorang peneliti menggunakan paradigma feno-menologi untuk
mempelajari suatu gejala sosial-budaya dia akan berusaha mengungkap kesadaran
atau pengetahuan pelaku mengenai ‘dunia’ tempat mereka berada, kesadaran mereka
mengenai perilaku-perilaku mereka sendiri. Hal ini dipandang sangat penting karena
pemahaman atau pengetahuan mengenai ‘dunia’ inilah yang dianggap sebagai dasar
bagi pewujudan pola-pola perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
memahami ‘pandangan dunia’ atau ‘pandangan hidup’ ini peneliti kemudian akan
dapat ‘mengerti’ mengapa pola-pola perilaku tertentu diwujudkan, dan bukan
perilaku-perilaku yang lain. Dengan perspektif fenomenologis ini peneliti tidak lagi
akan menilai kekebenaran atau kesalahan pemahaman para pelaku tertentu mengenai
al-Qur’an, karena yang dianggap penting bukan lagi benar-salahnya sebuah tafsir atau
pemahaman, tetapi isi tafsir itu sendiri. Isi tafsir inilah yang menjadi dasar dari pola-
pola perilaku tertentu. Di sini peneliti dapat mencoba mengungkap misalnya
pandangan masyarakat mengenai surat Yasin yang menjadi tonggak utama ritual
Yasinan, atau pandangan mereka mengenai pengobatan dengan menggunakan ayat-
ayat al-Qur’an, pandangan mereka mengenai kedudukan surat-surat atau ayat-ayat
tertentu dalam kehidupan mereka sehari-hari, dan sebagainya.

11
d. Paradigma Hermeneutik (Interpretative)
Yang dimaksud dengan paradigma hermeneutik di sini berbeda dengan
hermeneutik dalam kajian teks, karena ‘teks’ di sini bukan lagi sesuatu yang tertulis
tetapi gejala sosial-budaya itu sendiri. Dalam artian tertentu gejala sosial-budaya
memang dapat dikatakan sebagai teks, sebab gejala ini terbangun dari sejumlah
simbol-simbol, seperti juga halnya sebuah teks. Sebagai sebuah teks maka gejala
sosial-budaya tersebut kemudian harus ‘dibaca’, ditafsir. Oleh karena gejala sosial-
budaya tidak sama persis dengan ‘teks’ maka mau tidak mau diperlukan metode yang
lain untuk membacanya, untuk menafsirnya. Di sinilah terletak perbedaan antara
hermeneutik dalam kajian teks dengan hermeneutik dalam kajian gejala sosial-
budaya. Berbagai macam wujud pemaknaan al-Qur’an dengan berbagai simbol lain
yang mengelilinginya merupakan teks-teks sosial-budaya yang dapat dibaca oleh
mereka yang tertarik untuk meneliti The Living al-Qur’an. Dari kajian semacam ini
akan muncul pemaknaan-pemaknaan atau tafsir-tafsir baru—yang berasal dari
peneliti—mengenai ‘pemaknaan-pemaknaan al-Qur’an’ yang ada dalam berbagai
kebudayaan, serta berbagai rituil yang menyertainya. Dalam hal ini, tafsir yang
diberikan oleh peneliti tidak harus sama dengan tafsir masyarakat yang diteliti.
Bahkan, memang harus berbeda, karena peneliti memiliki data kebudayaan yang lebih
banyak daripada warga masyarakat itu sendiri secara individual. Hal ini
memungkinkannya memberi tafsir yang berbeda atas berbagai macam fenomena
Living al-Qur’an yang ditemuinya di tempat penelitian.

6. PendekatanAntropologidalamPenelitian Living Qur’an


Studi mengenai Living Qur’an “adalah studi tentang al-Qur’an tetapi tidak
bertumpu pada eksistensi tekstualnya. Melainkan studi tentang fenomena sosial
yang lahir terkait dengan kehadiran al-Qur’an dalam wilayah geografi tertentu dan
mungkin masa tertentu pula.”15
Menawarkan The Living al-Qur’an sebagai sebuah objek kajian pada dasarnya
adalah menawarkan fenomena tafsir atau pemaknaan al-Qur’an dalam arti yang
lebih luas daripada yang selama ini dipahami, untuk dikaji dengan menggunakan
perspektif yang juga lebih luas, lebih bervariasi. Sementara itu, mengusung
pemaknaan gejala sosial-budaya ke kancah sebuah perbincangan, hal itu berarti

1515
Yusuf, M., “PendekatanSosiologidalamPenelitian Living Qur’an,” dalam M. Mansyur, dkk.,MetodologiPenelitian Living
Qur’an danHadits, (Yogyakarta: TH. Press, 2007), hal. 36-37.

12
menempatkan asumsi asumsi paradigma antropologi hermeneutik atau antropologi
interpretif sebagai landasan pemikiran untuk menelaah dan memperbincangkan
gejala tersebut.16
Salah satu asumsi dasar dari paradigma antropologi interpretif adalah bahwa
manusia adalah animal symbolicum atau hewan yang mampu menggunakan,
menciptakan dan mengembangkan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan
dari individu satu ke individu yang lain. Simbol di sini diartikan sebagai segala
sesuatu yang dimaknai, sehingga pemaknaan merupakan proses yang sangat
penting dalam kehidupan manusia. Kemampuan memberikan makna inilah yang
membedakan manusia dengan binatang, dan membuat manusia kemudian mampu
berbahasa. Bahasa merupakan sebuah sistem pemaknaan. Bahasa sebagai
perangkat simbol berupa bunyi yang diproduksi oleh mulut manusia merupakan
perangkat simbol yang paling fundamental dalam kehidupan manusia, lewat mana
manusia memberikan makna terhadap dunianya. Melalui bahasa inilah manusia
berinteraksi dengan manusia yang lain. Melalui bahasalah terbangun kehidupan
sosial dan kebudayaan. Tanpa bahasa tidak akan ada kehidupan sosial, tidak akan
ada kebudayaan. Kehidupan sosial yang menghasilkan kebudayaan hanya bisa
lahir karena adanya interaksi sosial yang simbolik, dan interaksi simbolik ini
hanya dapat berlangsung jika ada bahasa.
Adanya kemampuan berbahasa pada setiap manusia yang normal
menunjukkan bahwa kemampuan simbolik atau kemampuan memberikan makna
ini diwarisi oleh manusia secara genetis. Ini merupakan asumsi dasar kedua.
Dengan kemampuan ini manusia tidak pernah lagi melihat segala sesuatu
‘sebagaimana adanya’, tetapi sebagai sesuatu yang telah diberi makna, karena
segala sesuatu dalam kehidupan manusia selalu menjadi objek atau tujuan
pemaknaannya. Kalau kemampuan memaknai bersifat genetis, kerangka
pemaknaan dan hasil pemaknaan bersifat kultural, bersifat budaya. Kemampuan
melakukan pemaknaan boleh dikatakan semacam ‘wadah’ yang diperoleh lewat
keturunan, sedang isi yang digunakan untuk memberikan, ‘menempelkan’ makna-
makna, merupakan sesuatu yang didapat lewat kehidupan sosial, lewat proses
sosialisasi dan enkulturasi. Ini adalah asumsi yang ketiga. Kemampuan berbahasa
misalnya, merupakan kemampuan yang bersifat universal, yang dimiliki oleh

16
HeddyShri Ahimsa-Putra, THE LIVING AL-QUR’AN: BeberapaPerspektifAntropologi, Walisongo, Volume
20, Nomor 1, Mei 2012hal 239

13
semua manusia yang normal, tetapi bahasa yang dikuasainya merupakan sesuatu
yang didapat secara kultural, diperoleh lewat proses belajar. Melalui pengetahuan
yang diperoleh lewat bahasa inilah manusia memberikan pemaknaan kepada
segala sesuatu, bahkan juga kepada dirinya sendiri. Oleh karena sifatnya yang
kultural maka pemaknaan terhadap sesuatu tidak pernah bisa bersifat universal.
Dia selalu terperangkap dalam sebuah wadah pemaknaan tertentu, dalam bahasa
tertentu.17
Dengan bekal kemampuan simbolisasi dan kerangka pemaknaan tersebut
maka manusia selalu memandang dunia sekelilingnya sebagai dunia simbol,
sebagai belantara simbol dengan berbagai macam maknanya. Dalam kehidupan
sehari-hari simbol-simbol yang mewujudkan bahasa adalah tulisan-tulisan, yang
jika terkumpul sebagai kesatuan dan menyampaikan pesan atau makna tertentu
biasa disebut ‘teks’. Suatu belantara simbol pada dasarnya selalu ditanggapi oleh
manusia sebagai kumpulan simbol yang tersusun dengan cara tertentu dan dapat
dimaknai dengan cara tertentu pula. Oleh karena kehidupan sehari-hari dan
lingkungan kehidupan tersebut merupakan sebuah belantara simbol, maka
kehidupan sehari-hari dan lingkungan tersebut juga merupakan sebuah “teks,”
yang dapat “dibaca” dan dimaknai.
Di tengah-tengah kumpulan manusia yang merupakan animal symbolicum,
sebuah benda seperti Kitab al-Qur’an tidak lagi dapat hadir tanpa makna. Begitu
pula perlakuan manusia terhadap al-Qur’an itu sendiri. Jika al-Qur’an sebagai
kitab yang merupakan kumpulan, jaringan dan susunan simbol-simbol yaitu huruf-
huruf Arab adalah sebuah teks, demikian pula halnya dengan berbagai macam
perlakuan manusia terhadap al-Qur’an sebagai sebuah jaringan dan susunan
simbol. Dari sudut pandang ini, The Living al-Qur’an adalah sebuah jagad
simbolis, sebuah symbolic universe, dan juga sebuah teks, yang dapat dimaknai.
Sebagai sebuah sistem simbol, al-Qur’an tidak hanya menjadi objek penafsiran
para ahli tafsir, tetapi juga ditafsirkan oleh setiap Muslim, dan bahkan juga oleh
mereka yang non-Muslim. Dilihat dari perspektif antropologi, setiap individu
sebagai animal symbolicum adalah seorang penafsir. Masing-masing individu
tentu memiliki kerangka pemaknaannya sendiri, sehingga tafsir masing-masing
individu adalah “benar” atau masuk akal dalam kerangka tafsir yang digunakan.

17
Ibid, hal 240

14
Oleh karena itu pula, di sini tidak ada lagi tafsir yang dianggap paling benar.
Dengan demikian setiap individu dapat belajar dari individu lain tentang tafsir-
tafsir yang berbeda.18
Adalah tugas peneliti kemudian untuk berusaha memahami dan memaparkan
pola-pola pemaknaan terhadap al-Qur’an sebagai sebuah sistem simbol, dan
menghubungkannya dengan berbagai hal di luarnyayang merupakan konteks dari
pemaknaan tersebut, agar kemudian dapat dimengerti mengapa pemaknaan yang
diberikan adalah sebagaimana yang ditemui oleh peneliti.

C. Kesimpulan
Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari makhluk manusia
(anthropos). Secara etimologi, antropologi berasal dari kata anthropos berarti manusia
dan logos berarti ilmu. Dalam antropologi, manusia dipandang sebagai sesuatu yang
kompleks dari segi fisik, emosi, sosial, dan kebudayaannya. Antropologi sering pula
disebut sebagai ilmu tentang manusia dan kebudayaannya.
Pokok-pokok teori antropologi adalah Teori Evolusi Kebudayaan, Teori Difusi
Kebudayaan, Teori Fungsionalisme Budaya, Teori Strukturalisme Radcliffe Brown,
Teori Strukturalisme Levi Strauss, Teori Materialisme Kebudayaan,
Teori Interpretivisme Simbolik, Teori Poststrukturalisme, Teori Postmodernisme.
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu
upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh
dan berkembang dalam masayarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan
dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berusaha memberikan
jawabannya.

18
Ibid, hal 241

15