Anda di halaman 1dari 13

RUANG LINGKUP AKUNTANSI & LAPORAN KEUANGAN (Financial Statement )

1. RUANG LINGKUP AKUNTANSI

A. Pengertian Akuntansi
1) Menurut Horngern (2000), akuntansi didefinisikan sebagai proses pencatatan,
pengukuran dan penyampaian-penyampaian informasi ekonomi agar dapat dipakai
sebagai dasar pengambilan keputusan atau kebijaksanaan.
2) Menurut Sunyanto (1999), pengertian akuntansi itu adalah suatu tahapan proses
pengumpulan, pengidentifikasian, pencatatan, penggolongan, peringkasan dan
penyajian/pelaporan dari transaksi-transaksi keuangan serta penafsiran hasilnya
guna pengambilan keputusan.
3) Menurut AICPA (American Institute of Certified Public Accountant), akuntansi
adalah seni pencatatan, penggolongan dan pengikhtisaran dengan cara tertentu
dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat
keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.

B. Pihak-pihak yang berkepentingan (Stakeholders)


Akuntansi menyediakan informasi akuntansi berupa laporan-laporan bagi pihak
yang berkepentingan (Stakeholders) mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan,
pihak-pihak tersebut dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu pihak internal dan eksternal.
1) Pihak internal adalah pengelola perusahaan (manajemen) yaitu pihak yang
bertanggungjawab di dalam mengarahkan jalannya perusahaan, seperti manajer
perusahaan. Manager / pimpinan perusahaan membutuhkan laporan keuangan
untuk mengetahui dengan tepat posisi keuangan, guna pengambilan keputusan
dalam merencanakan, melaksanakan, mengawasi, menilai dan
mempertanggungjawabkan keberhasilan dalam mengelola perusahaan.
2) Pihak eksternal adalah pihak-pihak di luar perusahaan yang bukan merupakan
bagian dari manajemen perusahaan sehari-hari, yaitu para investor, kreditor,
pemilik perusahaan / pemegang saham dan badan pemerintah serta instansi
perpajakan.
3) Kreditor dalam hal ini misalnya bank, tentunya harus dapat menilai apakah
perusahaan yang mengajukan permintaan kredit mampu mengembalikan pinjaman
atau tidak. Kreditor akan menolak suatu usulan/permintaan kredit dari suatu
perusahaan bila informasi akuntansi perusahaan itu meragukan atau menunjukkan
hal yang negatif, bankir akan mempertanyakan tentang kemampuan dan reputasi
manajer perusahaan atau meminta pemegang saham utama perusahaan tersebut
untuk memberikan jaminan atas utang perusahaan.
4) Investor adalah anggota masyarakat yang mampu/mempunyai permodalan, yang
bila akan menginvestasikan modalnya memerlukan data informasi akuntansi
(keuangan) perusahaan untuk mengukur tingkat kemampu-labaan perusahaan.
5) Pemilik perusahaan atau pemegang saham dapat menggunakan laporan keuangan
untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan perusahaannya dan bagaimana
prospeknya di masa yang akan datang.
6) Karyawan perusahaan dapat mengetahui posisi keuangan dan kemajuan perusahaan
melaluii laporan keuangan, sehingga dapat menentramkan karyawan dalam
kelangsungan kerjanya.
7) Lembaga pemerintah / instansi perpajakan memerlukan informasi akuntansi untuk
keperluan pemungutan pajak, perusahaan diharuskan untuk membuat laporan
keuangan oleh pemerintah untuk menetapkan besarnya pajak yang harus dibayar
oleh perusahaan.

C. Bidang spesialisasi akuntansi


Dalam prakteknya, akuntansi memiliki beberapa bidang spesialisasi yang berbeda.
Bidang spesialisasi akuntansi secara garis besar dibedakan menjadi 2(dua) yaitu :
akuntansi keuangan dan akuntansii manajemen.
1) Akuntansi keuangan (financial accounting) adalah bidang akuntansi yang
berkaitan dengan pencatatan dan pelaporan data serta kegiatan ekonomi
perusahaan yang menghasilkan laporan keuangan secara periodik yang dapat
digunakan sebagai informasi intern dan ekstern perusahaan.
2) Akuntansi manajemen (management accounting) adalah bidang akuntansi yang
berkaitan dengan pengambilan keputusan atas berbagai alternatif tindakan dan
membantu memilih alternatif yang paling baik yang harus diambil oleh pengelola
perusahaan. Akuntansi manajemen juga membantu manajemen dalam
menjalankan operasi perusahaan sehari-hari dan merencanakan masa depan
operasi.
Sedangkan yang termasuk bidang-bidang spesialisasi akuntansi lain adalah
akuntansi biaya, akuntansii perpajakan, akuntansi anggaran, sistem akuntansi, dan
akuntansi sosial. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Akuntansi biaya merupakan bidang akuntansi yang menekankan pada penentuan
dan pengendalian biaya selama proses produksi dan harga pokok dari barang yang
selesai diproduksi.
2) Akuntansi perpajakan merupakan bidang akuntansi yang menekankan pada
penyusunan SPT (Surat Pajak Terutang) dan mempertimbangkan efek perpajakan
dari suatu transaksi atau alternatif berbagai tindakan.
3) Akuntansi anggaran merupakan bidang akuntansi yang menyajikan rencana
kegiatan keuangan untuk suatu periode, melalui catatan dan ikhtisar, serta
menyediakan data perbandingan antara kegiatan sesungguhnya dengan
rencananya.
4) Akuntansi pemerintahan merupakan bidang akuntansi yang menekankan pada
pencatatan dan pelaporan transaksi dari lembaga pemerintah atau lembaga sosial
dengan peraturan dan perundang-undangan yang mengikat lembaga-lembaga
tersebut.
5) Sistem Akuntansi adalah bidang akuntansi yang menekankan masalah
perancangan prosedur, metode dan teknik untuk mencatat dan mengolah transaksi
perusahaan.
6) Akuntansi sosial merupakan bidang akuntansi yang cenderung membahas dan
mengukur biaya sosial dan manfaatnya, misalnya mengukur pola kepadatan lalu
lintas sebagai bagian dari studi penentuan pemakaian dana transportasi yang
paling efisien.

D. Konsep Dasar Akuntansi


Konsep akuntansi dibedakan menjadi 2 (dua) konsep dasar, yaitu :
1) Konsep Entitas Usaha (Business Entity Concept),
Merupakan konsep akuntansi yang didasarkan pada entitas usaha, yaitu
membatasi data ekonomi dalam sistem akuntansi terhadap data yang berhubungan
langsung dengan kegiatan usaha. Perusahaan dipandang sebagai entitas terpisah
dari pemilik, kreditor atau pihak yang berkepentingan, atau dengan kata lain
aktivitas usaha dicatat secara terpisah dari aktivitas pihak yang berkepentingan.
Sebagai contoh, Hendry seorang pemilik usaha foto copy mempunyai rekening
koran yang saldonya di bank sebesar Rp. 15 juta pada akhir tahun. Hasill dari
operasi usahanya hanya setengahnya yaitu Rp. 7,5 juta dan sisanya sebesar Rp. 7,5
juta berasall dari penjualan motor milik keluarganya. Jika Hendry mengikuti
konsep entitas, ia akan memperlakukan uang yang dihasilkan dari usahanya sebagai
bagian yang terpisah dari uang yang dihasilkan dari penjualan barang yang bukan
milik perusahaan tetapi miliknya sendiri. Konsep entitas menetapkan bahwa
pembukuan terhadap hasil operasi perusahaan sebesar Rp 7,5 juta dilakukan
terpisah dengan aktiva atau Utang pribadi/pemilik perusahaan sebesar Rp 7,5 juta
pula. Pemisahan ini akan memperjelas dalam melihat posisi keuangan perusahaan.

2) Konsep Biaya (Cost Concept),


Merupakan konsep akuntansi yang menyatakan bahwa barang atau jasa
yang dibeli oleh suatu entitas dicatat pada harga saat transaksi tersebut terjadi. Cara
pencatatan ini mengunakan prinsip harga historis (Historical Cost). Sebagai
contoh, toko elektronik pada tanggal 1 Agustus 2002 perusahaan membeli barang-
barang elektronik dengan harga Rp. 10 juta rupiah. Konsep biaya menetapkan
bahwa transaksi tersebut harus dicatat berdasarkan harga perolehan yang
sesungguhnya, yaitu tetap seharga Rp. 10 juta meskipun setelah transaksi harga
barang elektronik tersebut telah mengalami kenaikan menjadi Rp.12,5 juta. Catatan
akuntansi harus tetap mempertahankan nilai historis dari suatu aktiva selama
perusahaan itu memilikinya dan biaya perolehan itu merupakan nilai atau ukuran
yang dapat diandalkan.
E. Prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum
Prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum atau generally accepted
accounting principles (GAAP) merupakan sistem standar penilaian data keuangan
suatu perusahaan dalam membuat suatu laporan akuntansi. Prinsip-prinsip akuntansi
ini dikembangkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) guna mengetahui
perbandingan kinerja dan kondisi keuangan antar perusahaan. Saat ini, Financial
Accounting Standars Board (FASB) merupakan lembaga yang mempunyai
kewenangan di Amerika Serikat dengan tugas utama mengembangkan prinsip-prinsip
akuntansi.

2. Tahap – tahap Perkembangan Akuntansi

A. Perkembangan Akuntansi Indonesia


Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusur pada era penjajahan Belanda sekitar
17 (ADB 2003) atau sekitar tahun 1642 (Soemarso 1995). Jejak yang jelas berkaitan
dengan praktik akuntansi di Indonesia dapat ditemui pada tahun 1747, yaitu praktik
pembukuan yang dilaksanakan Amphioen Sociteyt yang berkedudukan di Jakarta
(Soemarso 1995). Pada era ini Belanda mengenalkan sistem pembukuan berpasangan
(double-entry bookkeeping) sebagaimana yang dikembangkan oleh Luca Pacioli.
Perusahaan VOC milik Belanda-yang merupakan organisasi komersial utama selama
masa penjajahan-memainkan peranan penting dalam praktik bisnis di Indonesia selama
era ini (Diga dan Yunus 1997).
Kegiatan ekonomi pada masa penjajahan meningkat cepat selama tahun 1800an dan
awal tahun 1900an. Hal ini ditandai dengan dihapuskannya tanam paksa sehingga
pengusaha Belanda banyak yang menanmkan modalnya di Indonesia. Peningkatan
kegiatan ekonomi mendorong munculnya permintaan akan tenaga akuntan dan juru
buku yang terlatih. Akibatnya, fungsi auditing mulai dikenalkan di Indonesia pada
tahun 1907 (Soemarso 1995). Peluang terhadap kebutuhan audit ini akhirnya diambil
oleh akuntan Belanda dan Inggris yang masuk ke Indonesia untuk membantu kegiatan
administrasi di perusahaan tekstil dan perusahaan manufaktur (Yunus 1990). Internal
auditor yang pertama kali datang di Indonesia adalah J.W Labrijn-yang sudah berada
di Indonesia pada tahun 1896 dan orang pertama yang melaksanakan pekerjaan audit
(menyusun dan mengontrol pembukuan perusahaan) adalah Van Schagen yang dikirim
ke Indonesia pada tahun 1907 (Soemarso 1995).
Pengiriman Van Schagen merupakan titik tolak berdirinya Jawatan Akuntan
Negara-Government Accountant Dienst yang terbentuk pada tahun 1915 (Soermarso
1995). Akuntan publik yang pertama adalah Frese & Hogeweg yang mendirikan
kantor di Indonesia pada tahun 1918. Pendirian kantor ini diikuti kantor akuntan yang
lain yaitu kantor akuntan H.Y.Voerens pada tahun 1920 dan pendirian Jawatan
Akuntan Pajak-Belasting Accountant Dienst (Soemarso 1995). Pada era penjajahan,
tidak ada orang Indonesia yang bekerja sebagai akuntan publik. Orang Indonesa
pertama yang bekerja di bidang akuntansi adalah JD Massie, yang diangkat sebagai
pemegang buku pada Jawatan Akuntan Pajak pada tanggal 21 September 1929
(Soemarso 1995).
Kesempatan bagi akuntan lokal (Indonesia) mulai muncul pada tahun 1942-1945,
dengan mundurnya Belanda dari Indonesia. Pada tahun 1947 hanya ada satu orang
akuntan yang berbangsa Indonesia yaitu Prof. Dr. Abutari (Soermarso 1995). Praktik
akuntansi model Belanda masih digunakan selama era setelah kemerdekaan (1950an).
Pendidikan dan pelatihan akuntansi masih didominasi oleh sistem akuntansi model
Belanda. Nasionalisasi atas perusahaan yang dimiliki Belanda dan pindahnya orang
orang Belanda dari Indonesia pada tahun 1958 menyebabkan kelangkaan akuntan dan
tenaga ahli (Diga dan Yunus 1997).
Atas dasar nasionalisasi dan kelangkaan akuntan, Indonesia pada akhirnya
berpaling ke praktik akuntansi model Amerika. Namun demikian, pada era ini praktik
akuntansi model Amerika mampu berbaur dengan akuntansi model Belanda, terutama
yang terjadi di lembaga pemerintah. Makin meningkatnya jumlah institusi pendidikan
tinggi yang menawarkan pendidikan akuntansi-seperti pembukaan jurusan akuntansi di
Universitas Indonesia 1952, Institute Ilmu Keuangan (Sekolah Tinggi Akuntansi
Negara-STAN) 1990, Univesitas Padjajaran 1961, Universitas Sumatera Utara 1962,
Universitas Airlangga 1962 dan Universitas Gadjah Mada 1964 (Soermarso 1995)-
telah mendorong pergantian praktik akuntansi model Belanda dengan model Amerika
pada tahun 1960 (ADB 2003). Selanjutnya, pada tahun 1970 semua lembaga harus
mengadopsi sistem akuntansi model Amerika (Diga dan Yunus 1997).
Pada pertengahan tahun 1980an, sekelompok tehnokrat muncul dan memiliki
kepedulian terhadap reformasi ekonomi dan akuntansi. Kelompok tersebut berusaha
untuk menciptakan ekonomi yang lebih kompetitif dan lebih berorientasi pada pasar-
dengan dukungan praktik akuntansi yang baik. Kebijakan kelompok tersebut
memperoleh dukungan yang kuat dari investor asing dan lembaga-lembaga
internasional (Rosser 1999). Sebelum perbaikan pasar modal dan pengenalan reformasi
akuntansi tahun 1980an dan awal 1990an, dalam praktik banyak ditemui perusahaan
yang memiliki tiga jenis pembukuan-satu untuk menunjukkan gambaran sebenarnya
dari perusahaan dan untuk dasar pengambilan keputusan; satu untuk menunjukkan hasil
yang positif dengan maksud agar dapat digunakan untuk mengajukan pinjaman/kredit
dari bank domestik dan asing; dan satu lagi yang menjukkan hasil negatif (rugi) untuk
tujuan pajak (Kwik 1994).
Pada awal tahun 1990an, tekanan untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan
muncul seiring dengan terjadinya berbagai skandal pelaporan keuangan yang dapat
mempengaruhi kepercayaan dan perilaku investor. Skandal pertama adalah kasus Bank
Duta (bank swasta yang dimiliki oleh tiga yayasan yang dikendalikan presiden
Suharto). Bank Duta go public pada tahun 1990 tetapi gagal mengungkapkan kerugian
yang jumlah besar (ADB 2003). Bank Duta juga tidak menginformasi semua informasi
kepada Bapepam, auditornya atau underwriternya tentang masalah tersebut.
Celakanya, auditor Bank Duta mengeluarkan opini wajar tanpa pengecualian. Kasus
ini diikuti oleh kasus Plaza Indonesia Realty (pertengahan 1992) dan Barito Pacific
Timber (1993). Rosser (1999) mengatakan bahwa bagi pemerintah Indonesia, kualitas
pelaporan keuangan harus diperbaiki jika memang pemerintah menginginkan adanya
transformasi pasar modal dari model “casino” menjadi model yang dapat memobilisasi
aliran investasi jangka panjang.
Berbagai skandal tersebut telah mendorong pemerintah dan badan berwenang
untuk mengeluarkan kebijakan regulasi yang ketat berkaitan dengan pelaporan
keuangan. Pertama, pada September 1994, pemerintah melalui IAI mengadopsi
seperangkat standar akuntansi keuangan, yang dikenal dengan Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK). Kedua, Pemerintah bekerja sama dengan Bank Dunia
(World Bank) melaksanakan Proyek Pengembangan Akuntansi yang ditujukan untuk
mengembangkan regulasi akuntansi dan melatih profesi akuntansi. Ketiga, pada tahun
1995, pemerintah membuat berbagai aturan berkaitan dengan akuntansi dalam Undang
Undang Perseroan Terbatas. Keempat, pada tahun 1995 pemerintah memasukkan
aspek akuntansi/pelaporan keuangan kedalam Undang-Undang Pasar Modal (Rosser
1999).
Jatuhnya nilai rupiah pada tahun 1997-1998 makin meningkatkan tekanan pada
pemerintah untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan. Sampai awal 1998,
kebangkrutan konglomarat, collapsenya sistem perbankan, meningkatnya inflasi dan
pengangguran memaksa pemerintah bekerja sama dengan IMF dan melakukan
negosiasi atas berbagaai paket penyelamat yang ditawarkan IMF. Pada waktu ini,
kesalahan secara tidak langsung diarahkan pada buruknya praktik akuntansi dan
rendahnya kualitas keterbukaan informasi (transparency). Berikut ini tabel ringkasan
perkembangan akuntansi di Indonesia.

B. Perkembangan Akuntansi internasional


Iqbal, Melcher dan Elmallah (1997:18) mendefinisikan akuntansi internasional
sebagai akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip
akuntansi di negara-negara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di
seluruh dunia.
Akuntansi harus berkembang agar mampu memberikan informasi yang diperlukan
dalam pengambilan keputusan di perusahaan pada setiap perubahan lingkungan bisnis.
Berikut ini karakteristik era ekonomi global:
1) Bisnis internasional.
2) Hilangnya batasan-batasan antar negara era ekonomi global sering sulit untuk
mengindentifikasi negara asal suatu produk atau perusahaan, hal ini terjadi pada
perusahaan multinasional.
3) Ketergantungan pada perdagangan internasional.
Dilihat dari sudut pandang sejarah, awalnya, akuntansi dimulai dengan sistem
pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping) di Italia pada abad ke 14 dan 15.
Sistem pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping), dianggap awal
penciptaan akuntansi. Akuntansi modern dimulai sejak double entry accounting
ditemukan dan digunakan didalam kegiatan bisnis yaitu sistem pencatatan berganda
(double entry bookkeeping) yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli (th 1447). Luca
Pacioli lahir di Italia tahun 1447, dia bukan akuntan tetapi pendeta yang ahli
matematika, dan pengajar pada beberapa universitas terkemuka di Italia. Lucalah orang
yang pertama sekali mempublikasikan prinsip-prinsip dasar double accounting system
dalam bukunya berjudul: Summa the arithmetica geometria proportioni et
proportionalita di tahun 1494. Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa prinsip
dasar double accounting system bukanlah ide murni Luca namun dia hanya merangkum
praktek akuntansi yang berlangsung pada saat itu dan mempublikasikannya. Hal ini
diakui sendiri oleh Luca (Radebaugh, 1998) “Pacioli did not claim that his ideas were
original, just that he was the one who was trying to organize and publish them. He
objective was to publish a popular book that could be used by all, following the
influence of the venetian businessmen rather than bankers”.

Praktek bisnis dengan metode penetian yang menjadi acuan Luca menulis buku
tersebut telah menjadi metode yang diadopsi tidak hanya di Italia namun hampir
disemua negara Eropa seperti Jerman, Belanda, Inggris. Luca memperkenalkan 3 (tiga)
catatan penting yang harus dilakukan:

1) Buku Memorandum, adalah buku catatan mengenai seluruh informasi transaksi


bisnis.
2) Jurnal, dimana transaksi yang informasinya telah disimpan dalam buku
memorandum kemudian dicatat dalam jurnal.
3) Buku Besar, adalah suatu buku yang merangkum jurnal diatas. Buku besar
merupakan centre of the accounting system (Raddebaugh, 1996).
Perkembangan sistem akuntansi ini didorong oleh pertumbuhan perdagangan
internasional di Italia Utara selama masa akhir abad pertengahan dan keinginan
pemerintah untuk menemukan cara dalam mengenakan pajak terhadap transaksi
komersial.
“Pembukuan ala Italia“ kemudian beralih ke Jermanuntuk membantu para
pedagang zaman Fugger dan kelompok Hanseatik. Pada saat bersamaan filsuf bisnis
Belanda mempertajam cara menghitung pendapatan periodic dan pemerintah Perancis
menerapkan keseluruhan sistem dalam perencanaan dan akuntabilitas pemerintah.
Tahun 1850-an double entry bookkeeping mencapai Kepulauan Inggris yang
menyebabkan tumbuhnya masyarakat akuntansi dan profesi akuntansi publik yang
terorganisasi di Skotlandia dan Inggris tahun 1870-an. Praktik akuntansi Inggris
menyebar ke seluruh Amerika Utara dan seluruh wilayah persemakmuran Inggris.
Selain itu model akuntansi Belanda diekspor antara lain ke Indonesia. Sistem akuntansi
Perancis di Polinesia dan wilayah-wilayah Afrika dibawah pemerintahan Perancis.
Kerangka pelaporan sistem Jerman berpengaruh di Jepang, Swedia, dan Kekaisaran
Rusia.
Paruh Pertama abad 20, seiring tumbuhnya kekuatan ekonomi Amerika Serikat,
kerumitan masalah akuntansi muncul bersamaan. Kemudian Akuntansi diakui sebagai
suatu disiplin ilmu akademik tersendiri. Setelah Perang Dunia II, pengaruh Akuntansi
semakin terasa di Dunia Barat. Bagi banyak negara, akuntansi merupakan masalah
nasional dengan standar dan praktik nasional yang melekat erat dengan hukum
nasional dan aturan profesional.

3. Skema kerangka Konseptual Informasi Akuntansi dengan Benar


Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) serupa dengan konstitusi
adalah suatu sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang
saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan
penentuan sifat, fungsi, serta batas-batas dari akuntansi keuangan dan laporan
keuangan.
Menurut Belkaoui (2000: 142) kerangka konseptual memiliki empat tingkatan, yaitu:

A. Tingkat Pertama
Pernyataan konsep akuntansi keuangan mengenai rumusan tujuan
pelaporan keuangan suatu kesatuan bisnis (organisasi bisnis) SFAC nomor 1 SFAC
nomor 4 tujuan pelaporan keuangan perusahaan nonbisnis organisasi nirlaba.
B. Tingkat Kedua
Pernyataan tentang Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi SFAC
nomor 2. Unsur-unsur laporan keuangan dari perusahaan bisnis, SFAC nomor 3,
kemudian diganti SFAC nomor 6, yang mengatur tentang unsure-unsur laporan
keuangan baik untuk perusahaan bisnis maupun organisasi nirlaba (sektor publik).
C. Tingkat Ketiga
Rumusan tentang pengakuan dan pengukuran laporan dan pelaporan
keuangan SFAC nomor 5. SFAC nomor 33, mengatur tentang pelaporan keuangan
dengan penyesuaian tingkat harga (tingkat inflasi).
D. Tingkat Keempat
Pelaporan posisi keuangan, pelaporan arus kas dan likuiditas, pelaporan
earnings (dalam hal ini adalah laporan laba rugi).

Bahasan Kerangka Dasar


Kerangka dasar ini membahas laporan keuangan untuk tujuan umum (general
purpose financial statements, yang selanjutnya hanya disebut "laporan keuangan"),
termasuk laporan keuangan konsolidasi, yang disusun dan disajikan sekurang-
kurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai.
Beberapa di antara pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang dan
investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditur usaha
lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat. Poin-
poin penting yang dibahas dalam kerangka dasar yang terdiri dari:

a. Tujuan laporan keuangan


b. Karakteristik kualitatif yang menentukan manfaat informasi dalam laporan
keuangan
c. Definisi, pengakuan, dan pengukuran unsur-unsur yang membentuk laporan
keuangan
d. Konsep modal serta pemeliharaan modal
Referensi

Kieso,Donald E.2007.Akuntansi Intermediet Edisi Keduabelas Jilid 1.Jakarta:Erlangga

http://www.kampus.batanyo.com/view.php?no=1