Anda di halaman 1dari 7

Nama : Gesta Qurrotu A

NIM : 1308012051

TUGAS ILMU KESEHATAN MATA

20 OKTOBER 2018

1. Jelaskan proses terjadinya ARMD (Age Related Macular


Degeneration)?

2. Apa saja kelainan yang dapat dijumpai pada makula?


Berbagai penyebab yang bisa menyebabkan edema makula atau kelainan pada macula
adalah sebagai berikut:
a. Akibat proses degenerative yaitu ARMD
b. Akibat penyakit vaskular retina, antara lain: retinopati diabetik, oklusi vena retina,
retinopati hipertensif, telangiektasis retina idiopatik, makroaneurisma arteri retina,
dan retinopati akibat radiasi.
c. Akibat inflamasi intraokular, antara lain: uveitis intermediet, panuveitis dengan
koroiditis multifokal, toksoplasmosis, cytomegalovirus retinitis, dan skleritis.
d. Post operasi katarak, yaitu operasi katarak dengan komplikasi seperti ruptur kapsul
posterior, inkarserasi vitreus ke lokasi insisi, akibat sekunder dari pemasangan Intra
Ocular Lens, riwayat terjadinya edema makula pada mata lain yang pernah dilakukan
operasi sebelumnya, dan operasi katarak pada penderita diabetes. Puncak insidensi
terjadinya yaitu setelah 6 – 10 minggu post operasi.
e. Akibat dari prosedur operasi mata, antara lain pada kapsulotomi laser, keratoplasti,
dan operasi filtrasi glaukoma.
f. Akibat induksi obat obatan¸ antara lain: adrenalin topikal 2%, terutama pada mata
afakia, asam nikotin sistemik, dan latenoprost topikal.
g. Akibat distrofi retina, antara lain: retinitis pigmentosa, atrofi gyrate, serta edema
makula yang diturunkan secara dominan.
h. Akibat lain lain, seperti: Sindrom traksi vitreomakular, Gangguan membran
epiretinal macula, Tumor, termasuk hemangioma kapiler retina, dan hemangioma
korioid.

3. Bagaimana proses pembentukan persepsi warna?

Penglihatan bergantung pada stimulasi fotoreseptor retina oleh cahaya. Benda-


benda tertentu di lingkungan misalnya matahari, api, dan lampu pijar, mengeluarkan
cahaya. Tetapi bagaimana anda melihat benda misalnya kursi, pohon, dan orang, yang
tidak mengeluarkan cajaya? Pigmen-pigmen diberbagai benda secara selektif menyerap
panjang gelombang tertentu sinar yang sampai kepada mereka dari sumber cahaya dan
panjang gelombang yang tidak diserap dipantulkan dari permukaan benda. Berkas
cahaya yang dipantulkan inilah yang memungkinkan anda melihat benda yang
bersangkutan. Suatu benda yang terlihat biru menyerap panjang gelombang merah dan
hijau dan memantulkan panjang gelombang biru yang lebih pendek, yang dapat diserap
oleh fotopigmen di sel kerucut biru dan mengaktifkan sel tersebut,

Setiap sel kerucut diaktifkan paling efektif oleh panjang gelombang tertentu
dalam kisaran warna yang ditunjukkan oleh namanya biru, hijau, atau merah. Namun,
sel kerucutjuga berespon pada panjang gelombang lain dengan derajat berfariasi.
Penglihatan warna, persepsi berbagai warna dunia, bergantung pada rasio stimulasi
ketiga tipe sel kerucut sebagai respons terhadap bermacam-macam panjang gelombang.
Panjang gelombang yang terlihat sebagai biru tidak merangsang sel kerucut merah atau
hijau sama sekali tetapi merangsang sel kerucut hijau secara maksimal ( persentasi
stimulasi maksimal untuk sel kerucut merah, hijau dan biru masing-masing adalah
0:0:100). Sensasi kuning, sebagai perbandingan, berasal dari rasio stimulasi
83:83:0,dengan sel kerucut merah dan hijau masing-masing dirangsang hingga 83%
maksimal, sementara sel kerucut biru tidak dirangsang sama sekali. Rasio untuk hijau
adalah 31:67:36, dengan sel kerucut merah dirangsang hingga 31 %, sel kerucut hijau
dirangsang hingga 67% dan sel kerucut merah dirangsang hingga 36%, dan demikian
seterusnya, dengan berbagai kombinasi mengahasilkan sensasi warna yang berbeda-
beda. Putih adalah campuran semua panjang gelombang cahaya, sementara hitam
adalah tidak adanya cahaya.
Dearajat eksitasi masing-masing sel kerucut terkode dan ditransmisikan dalam
jalur-jalur paralel terpisah ke otak. Pusat penglihatan warna di korteks penglihatan
primer mengombinasikan dan memproses masukan-masukan ini untuk menghasilkan
persepsi warna, dengan menyertakan objek dengan perbandingan dengan latar
belakangnya. Karena itu konsep warna berada dalam pikiran masing-masing. Sebagian
besar dari kita sepakat tentang warna apa yang sedang kita lihat karena kita memiliki
jenis sel kerucut yang sama serta menggunakan jalur-jalur saraf yang yang mirip untuk
membandingkan keluaran sel-sel tersebut. Namun, kadang-kadang seseorang tidak
memiliki sel kerucut jenis tertentu, sehingga penglihatan warna mereka adalah produk
dari sensitifitas diferensial dari hanya dua jenis sel kerucut, dan merupakan suatu
keadaan yang dinamai buta warna.

Gambar
Sensitivitas ketiga jenis sel kerucut terhadap berbagai panjang gelombang.
Diperlihatkan rasio stimulasi ketiga jenis sel kerucut untuk tiga warna contoh.

4. Bagaimana terjadinya buta warna merah, hijau dan biru?

Persepsi visual sangat dipengaruhi oleh struktur anatomi mata. Kornea dan lensa bekerja
bersama seperti lensa kamera untuk memfokuskan bayangan sehingga dapat ditangkap oleh
retina yang terletak di belakang mata, yang bertindak seperti film pada kamera. Bayangan yang
masuk ke bola mata akan diproyeksikan ke retina. Retina merupakan lapisan setipis lembaran
jaringan yang terletak di bagian belakang bola mata berisi sel-sel fotoreseptor seperti sel batang
dan kerucut yang akan mengubah bayangan yang masuk menjadi impuls-impuls saraf yang
akan diteruskan ke otak. Di bagian inilah, proses penglihatan warna berlangsung. Bagian fovea
terdiri dari sel kerucut namun bentuknya menyerupai batang. Perbedaan penting antara sel
batang dan kerucut adalah fungsinya. Fungsi sel batang adalah untuk melihat dalam kondisi
kurang cahaya sedangkan sel kerucut bertugas untuk penglihatan dengan cahaya yang cukup.
Berdasarkan responsivitasnya, sel kerucut dibagi menjadi 3 macam, S cone, M cone, L
cone, sedangkan sel batang hanya terdiri dari satu tipe sel. Penamaan ini berdasarkan pada
sensitivitas sel terhadap panjang gelombang cahaya short wavelength, middle wavelength, dan
long wavelength. Ada juga yang menamakan panjang gelombang ini sebagai RGB (red, green,
dan blue) namun, penamaan SML dirasa lebih tepat. Pada sel kerucut, terdapat 3 tipe yang
menampilkan warna, sedangkan sel batang hanya satu macam, menunjukkan bahwa sel batang
tidak mampu mengidentifi kasi warna. Sel S tersebar merata pada seluruh retina, namun tidak
terdapat di daerah tengah fovea. Perbandingan jumlah L:M:S adalah 12:6:1.

Gambar 1. Panjang gelombang cahaya


Buta warna dapat terjadi secara kongenital atau didapat akibat penyakit tertentu. Buta
warna yang diturunkan tidak bersifat progresif dan tidak dapat diobati. Pada kelainan makula
(retinitis sentral dan degenerasi makula sentral), sering terdapat kelainan pada penglihatan
warna biru dan kuning, sedang pada kelainan saraf optik akan terlihat gangguan penglihatan
warna merah dan hijau.
Buta warna umumnya dianggap lebih banyak terdapat pada laki-laki dibanding
perempuan dengan perbandingan 20:1. Buta warna herediter merupakan kelainan genetik sex
linked pada kromosom X ayah dan ibu. Anak perempuan menerima satu kromosom X dari ibu
dan satu dari ayah. Dibutuhkan hanya satu gen untuk penglihatan warna normal. Anak laki-
laki, menerima kromosom X dari ibu dan Y dari ayah, jika gen X tunggal tidak mempunyai
gen fotopigmen maka akan terjadi buta warna. Dikenal hukum Kollner yang menyatakan defek
penglihatan warna merah hijau merupakan lesi saraf optik ataupun jalur penglihatan,
sedangkan defek penglihatan biru kuning akibat kelainan pada epitel sensori retina atau lapis
kerucut dan batang retina
KLASIFIKASI BUTA WARNA
Defek penglihatan warna atau buta warna dapat dikenal dalam bentuk:
1. Trikromatik, yaitu keadaan pasien mempunyai 3 pigmen kerucut yang mengatur fungsi
penglihatan. Pasien buta warna jenis ini dapat melihat berbagai warna, tetapi dengan
interpretasi berbeda dari normal. Bentuk defi siensi yang paling sering ditemukan:
a. Deuteranomali, dengan defek pada penglihatan warna hijau atau kelemahan
fotopigmen M cone atau absorpsi M cone bergeser ke arah gelombang yang lebih
panjang sehingga diperlukan lebih banyak hijau untuk menjadi kuning baku.
b. Protanomali, kelemahan fotopigmen L cone atau absorpsi L cone ke arah
gelombang yang lebih rendah, diperlukan lebih banyak merah untuk menggabung
menjadi kuning baku pada anomaloskop. Protanomali dan deutronomali terkait
kromosom X dan, di Amerika, terdapat pada 5% anak laki-laki.
c. Tritanomali, merupakan defek penglihatan warna biru atau fotopigmen S cone atau
absorpsi S cone bergeser ke arah gelombang yang lebih panjang. Kelainan ini
bersifat autosomal dominan pada 0,1% pasien.
Gambar 2. Buta Warna Trikromatik
2. Dikromatik, yaitu pasien mempunyai 2 pigmen kerucut, akibatnya sulit membedakan
warna tertentu.
a. Protanopia, keadaan yang paling sering ditemukan dengan defek pada penglihatan
warna merah hijau atau kurang sensitifnya pigmen merah kerucut (hilangnya
fotopigmen L cone) karena tidak berjalannya mekanisme red-green opponent.
b. Deuteranopia, kekurangan pigmen hijau kerucut (hilangnya fotopigmen M cone)
sehingga tidak dapat membedakan warna kemerahan dan kehijauan karena kurang
berjalannya mekanisme viable red-green opponent.
c. Tritanopia (tidak kenal biru), terdapat kesulitan membedakan warna biru dari
kuning karena hilangnya fotopigmen S-cone.

Gambar 2. Penglihatan pada (a) normal, (b) protanopia, (c)


deuteranopia, dan (d) tritanopi
3. Monokromatik (akromatopsia atau buta warna total), hanya terdapat satu jenis pigmen
sel kerucut, sedangkan dua pigmen lainnya rusak. Pasien sering mengeluh fotofobia,
tajam penglihatan kurang, tidak mampu membedakan warna dasar atau warna antar
(hanya dapat membedakan hitam dan putih), silau, dan nistagmus. Kelainan ini bersifat
autosomal resesif.
a. Monokromatisme sel batang (rod monochromatism), disebut juga suatu
akromatopsia (seluruh komponen pigmen warna kerucut tidak normal), terdapat
kelainan pada kedua mata bersama dengan keadaan lain, seperti tajam penglihatan
kurang dari 6/60, nistagmus, fotofobia, skotoma sentral, dan mungkin terjadi akibat
kelainan sentral hingga terdapat gangguan penglihatan warna total, hemeralopia
(buta silang), tidak terdapat buta senja atau malam, dengan kelainan refraksi tinggi.
Insidens sebesar 1 dalam 30.000 dan pewarisan secara autosomal resesif
menyebabkan mutasi gen yang menyandi protein photoreceptor cation channel or
cone transducin.
b. Monokromatisme sel kerucut (cone monochromatism) Terdapat hanya sedikit defek
atau yang efektif hanya satu tipe pigmen sel kerucut. Hal ini jarang, 1 dalam 100.000.
Tajam penglihatan normal, tidak tedapat nistagmus, tidak terdapat diskrimanasi
warna. Biasanya disebabkan monokromasi biru, terkait kromosom X resesif, yang
menyebabkan mutasi gen yang menyandi opsin kerucut merah dan hijau.
(Kuntjoro K, Halim Y. Patofisiologi dan Diagnosis Buta Warna. CDK-215.
2014;41(4):268–71.)

5. Pada pasien apa saja yang dilakukan pemeriksaan ishihara?


a. Buta warna
b. ARMD (Age Related Macular Degenerative)
c. Central Serous Choriretinopathy
d. Penyakit Stargardt
e. Best vitelliform macular dystrophy (BVMD)
f. Bull’s eye maculopathy
g. Cone dystrophy