Anda di halaman 1dari 6

PENATALAKSANAAN REAKSI ALERGI OBAT

Alergi dapat terjadi dalam waktu yang cepat atau lambat (delayed
raection) yang timbul setelah beberapa hari atau beberapa minggu setelah
pemberian obat. Alergi (hipersensitifitas) lambat ditandai dengan demam,
bengkak pada persendian dan gangguan reaksi pada organ-organ yang
membentuk darah dan gangguan pada ginjal. Golongan obat yang
sering menimbulkan alregi adalah derivat penisilin.

Manifestasi klinis alergi


1. Alergi ringan

2. Alergi sedang, ditandai dengan :


a. rash (warna kemerah-merahan) pada kulit
b. pruritis (gatal-gatal)
c. angiodema (edema akibat kenaikan permiabilitas kapiler darah)
d. rhinitis (pilek)
e. air mata berlebihan
f. mual-muntah
g. wheezing-dispnea
h. diare

3. Alergi Berat (Reaksi Anafilatik)


a. Kolap sirkulasi
b. Aspiksia akibat bengkak pada laring
c. Sumbatan saluran pernapasan (bronkospamus)

Penanganan Reaksi Alergi Obat

Penanganan Segera
1. Beri adrenalin 1 : 100.000 0,1 sampai 0,5ml (0,01 ml/kg pada anak-anak) IM Ulang
setiap 15 samapi 20 menit sesuai keperluan.
2. Campurkan adrenalin dalam akua 1 : 1000. 0,1 ml sampai 0,3 ml dalam 10ml
normal salin dan berikan secara IV dalam beberapa menit dan ulang sesuai
keperluan untuk reaksi anfilaktik yang tidak berespon terhadap terapi.

Tindakan Umum
1. Atur pasien dalam posisi berbaring dengan ekstremitas inferior
ditinggikan atau pasien diatur dalam posisi trendelendurg
2. Pertahankan saluran pernafasan, bila diperlukan dapat dilakukan trakeostomi atau
pemasangan endotrakeal
3. Berikan oksigen sesuai keperluan
4. Berikan cairan normal salin secara IV untuk mengganti cairan dan
jalur obat tambahan. Bila terjadi hipotensi berat, infus diberikan
dengan tetesan cepat menggunakan cairan koloid atau normal salin
5. Pasang turniket vena di atas tempat reaksi (pada alergi akibat
sengatan insekta atau lokasi suntikan)

Tindakan Khusus
1. Pada kolap kardiovaskuler
a. Pemberian oksigen, napas bantuan dan kompresi jantung luar
b. Adrenalin 1 : 1000; 0,3-0,5 ml IM atau 1.10.000; 3-5ml IV di ulangi bila perlu atau
dengan menggunakan infus
c. Pemberian cairan koloid 2 liter
d. Jika perlu infus noradrenalin pada kasus yang gagal dengan pertolongan di atas

2. Pada angiodema
a. Pemberian oksigen
b. Adrenalin 1 : 1000; 0,3-0,5 ml IM
c. Bila terjadi obstruksi jalan napas dapat dilakukan intubasi dan diberikan
antihistamin IM (diphenhydramin 10 mg IV atau IM)

3. Pada edema paru


a. Napas bantuan (IPPV + PEEP)
b. Oksigenasi tinggi
c. Cairan koloid (albumin)

4. Pada bronkospasmus
a. Oksigen, napas buatan, kompresi jantung luar
b. Adrenalin 1 : 1000; 0,3-0,5 ml IM
c. Aminopilin 5 mg/kg IV, lebih 10 menit diikuti infus
d. Infus simpatomimetik lain misal: isoprenalin, solbutamol, terbutalin
e. Salbutanol leat nebulizer
f. Bila refrakter dapat diberi kortikosteroid, prokain, endobronkial, vitamin HCl, gas
atesi volatil, infiltrasi lokal perihilar dan bypass jantung paru
Antibiotik Profilaksis
Definisi

Antibiotik profilaksis adalah antibiotik digunakan bagi pasien yang belum terkena
infeksi, tetapi diduga mempunyai peluang besar untuk mendapatkannya, atau bila
terkena infeksi dapat menimbulkan dampak buruk bagi pasien. Penggunaan
antibiotik di rumah sakit, sekitar 30-50% untuk tujuan profilaksis bedah. Profilaksis
bedah merupakan pemberian antibiotik sebelum adanya tanda-tanda dan gejala
suatu infeksi dengan tujuan mencegah terjadinya manifestasi klinik infeksi..
Profilaksis adalah usaha untuk mencegah organisme sebelum mereka memiliki
kesempatan untuk menginfeksi.

Tujuan Antibiotik Profilaksis

Tujuan pemberian antibiotik sebagai profilaksis pada pasien bedah antara lain :
 Mencegah timbulnya infeksi pada daerah operasi setelah pembedahan
 Mencegah bakterialis endokarditis sebelum mendapat tindakan bedah pada
pasien yang memiliki resiko bakteriemi
 Menghambat pertumbuhan bakteri yang masuk kedalam jaringan pada
waktu pembedahan
 Melindungi orang sehat yang beresiko mendapat invasi bakteri
 Mencegah infeksi sekunder pada pasien yang sedang menderita suatu
penyakit
 Penggunaan antibiotik yang lebih efektif

Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Antibiotik Profilaksis

Keuntungan penggunaan antibiotik profilaksis:


1 . Antibiotik profilaksis menurunkan insidensi infeksi pasien sehingga menurunkan
kematian post operatif.
2.Antibiotik profilaksis yang sesuai dan efektif menurunkan biaya perawatan
kesehatan.
3. Penggunaan antibiotik profilaksis yang sesuai membutuhkan waktu yanglebih
singkat daripada pemberian terapi, sehingga menurunkan jumlah totalantibiotik
yang diperlukan.

Kerugian penggunaan antibiotik profilaksis:


1 . Dapat mengakibatkan infeksi sekunder.
2 . Jika resiko infeksi rendah, penggunaan antibiotik profilaksis tidak menghasilkan
keuntungan sehingga tidak menurunkan insidensi infeksi.
3 . Biaya antibiotik juga harus diperhitungkan.
4.Selalu ada resiko toksisitas terhadap obat yang dipakai.
Dosis Antibiotik Profilaksis

Umumnya dosis antibiotik yang dibutuhkan untuk profilaksis sama dengan dosis
terapi. Dosis tunggal antibiotik pada konsentrasi terapi cukup untuk profilaksis pada
hampir semua situasi dan penambahan dosis dapat diberikan bila waktu operasi
panjang, perdarahan atau penggantian cairan, paling sedikit 2 kali waktu paruh.

Pada keadaan dimana terdapat kehilangan darah atau penggantian cairan, akan
menyebabkan konsentrasi serum antibiotik akan berkurang. Penambahan dosis
profilaksis diindikasikan apabila terdapat kehilangan darah lebih dari 1500 ml selama
operasi atau hemodelusi >15 ml/kg. Pada kehilangan darah yang banyak >1500 ml
dalam operasi, dosis antibiotik profilaksis harus diberikan setelah penggantian
cairan.

Situasi Medikasi Dosis


Standar profilaksis Amoxicillin Dewasa : 2,0 g
Anak-anak : 50 mg/kg PO
1 jam sebelum prosedur
Tidak dapat meninum Ampicillin Dewasa: 2.0 g IM atau IV;
obat PO
Anak: 50 mg/kg IM atau IV
30 menit sebelum
prosedur
Alergi penisilin Clindamycin Dewasa: 600 mg;
Anak: 20 mg/kg 1 jam
sebelum prosedur PO
Cephalexin/cefadroxil Dewasa: 2.0 g;
Anak; 50 mg/kg 1 jam
sebelum prosedur PO
Azithromycin/ Dewasa: 500 mg;
clarithromycin Anak: 15 mg/kg 1 jam
sebelum prosedur PO
Alergi penisilin dan tidak Clindamycin Dewasa: 600 mg;
bisa minum obat PO Anak: 20 mg/kg IV 30
menit sebelumProsedur.
Cefazolin Dewasa: 1.0 g;
Anak: 25 mg/kg IM atau IV
30 menit sebelum
prosedur

Prosedur dental yang mengindikasikan antibiotik profilaksis

Prosedur dental yang mengindikasikan antibiotik profilaksis antara lain :


a. Penatalaksanaan lesi rongga mulut:
Jika rongga mulut terkontaminasi oleh bakteri ekstrinsik, antibiotik harus
diadministrasikan sesegera mungkin agar diperoleh hasil yang optimal—dengan
mempertimbangkan jalur administrasi yang paling efektif untuk setiap kasus
[intravena, intramuskuler, dan oral]. Jika perawatan tersebut telah dimulai,
khasiatnya harus diawasi, diindikasikan untuk melakukan uji kerentanan jika pasien
tidak memberikan respon terhadap obat-obatan yang diberikan dalam perawatan
pendahuluan.

b. Penatalaksanaan pulpitis, periodontitis apikal, inflamasi intraoral terlokalisir:


Bakteri dapat mencapai pulpa melalui lesi karies, jaringan pulpa yang terbuka akibat
trauma, atau mekanisme iatrogenik. Penetrasi dapat terjadi di sepanjang tubulus
dentinalis, retakan dentin, atau restorasi gigi yang buruk. Jika seorang anak
mengalami pulpitis akut, maka harus dilakukan perawatan gigi (pulpotomi,
pulpektomi, atau ekstraksi). Biasanya, perawatan antibiotik tidak diindikasikan jika
proses infeksi hanya mencapai pulpa atau jaringan sekitarnya, tanpa tanda-tanda
infeksi sistemik (yaitu, demam, atau pembengkakan wajah).

c. Penatalaksanaan inflamasi akut yang berasal dari gigi:


Seorang anak yang mengalami pembengkakan wajah akibat infeksi gigi
membutuhkan perawatan gigi segera. Tergantung pada tanda-tanda klinisnya,
penatalaksanaannya dapat berupa perawatan atau ekstraksi gigi, serta terapi
antibiotik.

Alternatifnya, antibiotik dapat diberikan selama beberapa hari untuk menghindari


penyebaran infeksi, yang dilanjutkan dengan perawatan gigi kausal. Profesional
dental harus mengetahui keparahan infeksi dan kondisi umum anak dalam
menentukan rujukan ke rumah sakit untuk administrasi antibiotik melalui jalur
intravena.

d. Penatalaksanaan traumatisme dental:


Aplikasi antibiotik secara lokal pada permukaan akar gigi yang mengalami avulsi
(doksisisklin 1 mg/20 ml) mengurangi kemungkinan terjadinya reabsorbsi akar dan
meningkatkan vaskularisasi pulpa. Administrasi antibiotik sistemik dapat dilakukan
sebagai perawatan kombinasi (penisilin dan derivatnya dalam dosis tinggi, atau
doksisiklin dosis- normal).

e. Penatalaksanaan penyakit periodontal pediatrik:


Dalam penyakit periodontal yang berhubungan dengan neutropeni, Papillon-Lefevre
syndrome, dan defisiensi adhesi leukosit, sistem imun anak tidak dapat
mengendalikan pertumbuhan patogen periodontal. Jadi, dalam kasus semacam itu,
dibutuhkan terapi antibiotik. Kultur dan uji kerentanan dapat dilakukan untuk
memilih obat yang paling tepat dalam kasus semacam ini. Antibioterapi jangka
panjang diindikasikan untuk penatalaksanaan penyakit periodontal kronis.
f. Penatalaksanaan penyakit viral:
Primary herpetic gingivostomatitis bukanlah subyek terapi antibiotik kecuali jika
terdapat tanda-tanda infeksi bakteri sekunder.