Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Struma

Struma disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran
kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan
susunan kelenjar dan morfologinya.&ampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran
kelenjar tiroid yang dapat mempengaruhi kedudukan organ)organ di sekitarnya. Di bagian
posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma dapat mengarah ke dalam
sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan
disfagia. Hal tersebut akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan
dan elektrolit. Bila pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat asimetris
atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia.

Etiologi

Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab
pembesaran kelenjar tyroid antara lain:

a. Defisiensi iodium. Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah
yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah
pegunungan.
b. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid
c. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia seperti substansi dalam kol, lobak, kacang
kedelai
d. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan misalnya: thiocarbamide, sulfonylurea dan
litium

Berdasarkan Klinisnya

1) Struma Toksik

Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan struma nodusa toksik.
Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma
diffusa toksik akan menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis
sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih
benjolan (struma multinoduler toksik).

Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena jaringan tubuh


dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab tersering adalah
penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophthalmic goiter), bentuk tiroktosikosis yang paling
banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya.

Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama berbulan-
bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah, mengaktifkan
reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif.

Meningkatnya kadar hormon tiroid cenderung menyebabkan peningkatan pembentukan


antibodi sedangkan turunnya konsentrasi hormon tersebut sebagai hasilpengobatan penyakit
ini cenderung untuk menurunkan antibodi tetapi bukan mencegah pembentuknya.

Apabila gejala-gejala hipertiroidisme bertambah berat dan mengancam jiwa penderita maka
akan terjadi krisis tirotoksik. Gejala klinik adanya rasa khawatir yang berat, mual, muntah,
kulit dingin, pucat, sulit berbicara dan menelan, koma dan dapat meninggal.

2) Struma Non Toksik

Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi menjadi struma diffusa non
toksik dan struma nodusa non toksik. Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium
yang kronik. Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang
sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan
goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia. Apabila dalam pemeriksaan
kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodusa. Struma nodusa
tanpa disertai tandatanda hipertiroidisme dan hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik.

Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular
pada saat dewasa. Kebanyakan penderita tidak mengalami keluhan karena tidak ada
hipotiroidisme atau hipertiroidisme, penderita datang berobat karena keluhan kosmetik atau
ketakutan akan keganasan. Namun sebagian pasien mengeluh adanya gejala mekanis yaitu
penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakea (sesak napas), biasanya tidak disertai rasa nyeri
kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul.

Struma non toksik disebut juga dengan gondok endemik, berat ringannya endemisitas dinilai
dari prevalensi dan ekskresi yodium urin. Dalam keadaan seimbang maka yodium yang masuk
ke dalam tubuh hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah endemis
gondok yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok di atas 10 %-20 %,
endemik sedang 20 % - 29 % dan endemik berat di atas 30 %.

Penegakkan Diagnosis Struma

Anamnesis

Pada anamnesis, keluhan utama yang diutarakan oleh pasien bisa berupa benjolan di leher yang
sudah berlangsung lama, maupun gejala-gejala hipertiroid atau hipotiroidnya. Jika
pasienmengeluhkan adanya benjolan di leher, maka harus digali lebih jauh apakah pembesaran
terjadisangat progresif atau lamban, disertai dengan gangguan menelan, gangguan bernafas dan
perubahan suara. Setelah itu baru ditanyakan ada tidaknya gejala-gejala hiper dan hipofungsi
darikelenjer tiroid. Perlu juga ditanyakan tempat tinggal pasien dan asupan garamnya untuk
mengetahui apakah ada kecendrungan ke arah struma endemik. Sebaliknya jika pasien
datangdengan keluhan ke arah gejala-gejala hiper maupun hipofungsi dari tiroid, harus digali lebih
jauhke arah hiper atau hipo dan ada tidaknya benjolan di leher.

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik status lokalis pada regio coli anterior, yang paling pertama dilakukan
adalah inspeksi, dilihat apakah pembesaran simetris atau tidak, timbul tanda-tanda gangguan
pernapasan atau tidak, ikut bergerak saat menelan atau tidak.Pada palpasi sangat penting untuk
menentukan apakah bejolan tersebut benar adalahkelenjar tiroid atau kelenjar getah bening.
Perbedaannya terasa pada saat pasien diminta untuk menelan. Jika benar pembesaran tiroid maka
benjolan akan ikut bergerak saat menelan, sementara jika tidak ikut bergerak maka harus
dipikirkan kemungkinan pembesaran kelenjar getah bening leher.

Pembesaran yang teraba harus dideskripsikan :

- Lokasi: lobus kanan, lobos kiri, ismus


- Ukuran: dalam sentimeter, diameter panjang
- Jumlah nodul: satu (uninodosa) atau lebih dari satu (multinodosa)
- Konsistensinya: kistik, lunak, kenyal, keras
- Nyeri: ada nyeri atau tidak pada saat dilakukan palpasi
- Mobilitas: ada atau tidak perlekatan terhadap trakea, muskulus sternokleidomastoidea
- Kelenjar getah bening di sekitar tiroid : ada pembesaran atau tidak

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium yang digunakan dalam mendiagnosis penyakit tiroidterbagi atas:

1. Pemeriksaan untuk mengukur fungsi tiroid. Pemeriksaan untuk mengetahui kadar T3 dan T4
serta TSH paling sering menggunakanteknik radioimmunoassay (RIA) dan ELISA dalam
serum atau plasmadarah. Kadar normal T4 total pada orang dewasa adalah 50-120 ng/dl.Kadar
normal untuk T3 pada orang dewasa adalah 0,65-1,7 ng/dl.
2. Pemeriksaan untuk menunjukkan penyebab gangguan tiroid. Antiboditerhadap macam-macam
antigen tiroid yang ditemukan pada serum penderita dengan penyakit tiroid autoimun. Seperti
antiboditiroglobulin dan thyroid stimulating hormone antibody
3. Pemeriksaan radiologis
a. Foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea atau pembesaran struma
retrosternal yang pada umumnya secara klinis punsudah bisa diduga. Foto rontgen leher
posisi AP dan lateral biasanyamenjadi pilihan.
b. USG tiroid yang bermanfaat untuk menentukan jumlah nodul,membedakan antara lesi
kistik maupun padat, mendeteksi adanya jaringan kanker yang tidak menangkap
iodium dan bisa dilihat dengan scanning tiroid.
2. Scanning Tiroid dasarnya adalah presentasi uptake dari I 131 yangdidistribusikan tiroid. Dari
uptake dapat ditentukan teraan ukuran, bentuk lokasi dan yang utama ialah fungsi bagian-
bagian tiroid(distribusi dalam kelenjar). Uptake normal 15-40% dalam 24 jam. Dari hasil
scanning tiroid dapat dibedakan 3 bentuk, yaitu cold nodule bila uptake nihil atau kurang dari
normal dibandingkan dengan daerahdisekitarnya, ini menunjukkan fungsi yang rendah dan
sering terjadi pada neoplasma. Bentuk yang kedua adalah warm nodule bilauptakenya sama
dengan sekitarnya, menunjukkan fungsi yang nodulsama dengan bagian tiroid lain. Terakhir
adalah hot nodule bila uptakelebih dari normal, berarti aktifitasnya berlebih dan jarang
padaneoplasma.
4. FNAB. Pemeriksaan histopatologis akurasinya 80%. Hal ini perlu diingat agar jangan sampai
menentukan terapi definitif hanya berdasarkan hasil FNAB saja

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan struma dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Penatalaksanaan konservatif
Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid.
Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini bahwa
pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH. Oleh karena itu untuk menekan TSH
serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini juga diberikan untuk mengatasi
hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Obat anti-tiroid
(tionamid) yang digunakan saat ini adalah propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol.
Terapi Yodium Radioaktif .
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid sehingga
menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian yodium
radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %. Yodium radioaktif tersebut berkumpul
dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya.
Terapi ini tidak meningkatkan resiko kanker, leukimia, atau kelainan genetik. Yodium
radioaktif diberikan dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit, obat
ini ini biasanya diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat tiroksin.
2. Penatalaksanaan operatif
Tiroidektomi
Tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar tiroid adalah tiroidektomi,
meliputi subtotal ataupun total. Tiroidektomi subtotal akan menyisakan jaringan atau
pengangkatan 5/6 kelenjar tiroid, sedangkan tiroidektomi total, yaitu pengangkatan jaringan
seluruh lobus termasuk istmus. Tiroidektomi merupakan prosedur bedah yang relative aman
dengan morbiditas kurang dari 5 %.
Menurut Lang (2010), terdapat 6 jenis tiroidektomi, yaitu :
- Lobektomi tiroid parsial, yaitu pengangkatan bagian atas atau bawah satu lobus
- Lobektomi tiroid, yaitu pengangkatan seluruh lobus
- Lobektomi tiroid dengan isthmusectomy, yaitu pengangkatan satu lobus dan istmus
- Subtotal tiroidektomi, yaitu pengangkatan satu lobus, istmus dan sebagian besar lobus
lainnya.
- Total tiroidektomi, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar.
- Tiroidektomi total radikal, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar dan kelenjar limfatik
servikal.

Sudoyo AW, Setiati S. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi 6. Jakarta: Interna
Publishing.

Lang BH. 2010. Minimally invasive thyroid and parathyroid operations : surgical techniques and
pearls. Journal of Advances in Surgery. 44,1. 185 – 198