Anda di halaman 1dari 3

1.

Hal ini terjadi dikaranakan masyarakat oerkotaan merupakan masyraat yang heterogen dimana
meraka memiliki perbedaan pekerjaan dan kepntingan yang beraneka ragam hal inilah yang
menyebabkan masyarakat perkotaan kurang terjadi interaksi yang menjadi pendorong
terbentuknya sifat individualis.
Meraka juga dituntun untuk menyelesaikan segala pekerjaan yang ada sehingga hal ini
membuat mereka lebih mementingkan kepentinagn dirinya dibanding lingkungan sekitar.
Selain itu juga masyarakat perkotaan juga reatif mengalami perubahan yang cepat terdapat
pergantingan penduduk secara terus menerus
2. Peristiwa ini terjadi dikaranakan suatu daerah perkotaan memiliki potensi dan daya dukungnya
masing-masing hal inilah yang menyebabkan antara satu kota dengan kota yang lain memiliki
karakteristik sendiri-sendiri. Selian itu juga dipengaruhi beberapa faktor, baik berupa faktor
masyrakat, iklim, dan topografisnya
3. Hal ini terjadi karena merupakan salah satu bentuk strategi dalam menetukan struktur kota,
diharpakan dengan pembentukan beberapa wilayah berserta fungsinya tersebut diharapkan
dapat membentuk struktur perkotaan yang teratur, efisien, efektof, dan mampu meningkatkan
kualitas dan fokus dalam melakukan fungsi masing-masing.

Teori konsentris

Model zona konsentrik atau Teori konsentris adalah teori mengenai perencanaan perkotaan yang
dikembangkan oleh seorang sosiolog asal Amerika Serikat bernama Ernest Burgess berdasarkan hasil
penelitiannya terhadap kota Chicago yang dilakukan pada tahun 1925. Burgess menyimpulkan bahwa
wilayah perkotaan dapat dibagi menjadi enam zona.
teori memusat atau konsentris yang menyatakan bahwa daerah perkotaan dapat dibagi dalam enam
zona
1. Zona pusat daerah kegiatan (Central Business District), yang merupakan pusat pertokoan besar,
gedung perkantoran yang bertingkat, bank, museum, hotel restoran dan sebagainya.
2. Zona peralihan atau zona transisi, merupakan daerah kegiatan. Penduduk zona ini tidak stabil, baik
dilihat dari tempat tinggal maupun sosial ekonomi.
Daerah ini sering ditemui kawasan permukiman kumuh yang disebut slum karena zona ini dihuni
penduduk miskin. Namun demikian sebenarnya zona ini merupakan zona pengembangan industri
sekaligus menghubungkan antara pusat kota dengan daerah di luarnya.
3. Zona permukiman kelas proletar, perumahannya sedikit lebih baik karena dihuni oleh para pekerja
yang berpenghasilan kecil atau buruh dan karyawan kelas bawah, ditandai oleh adanya rumah-rumah
kecil yang kurang menarik dan rumah-rumah susun sederhana yang dihuni oleh keluarga besar.
Burgess menamakan daerah ini workingmen's homes.
4. Zona permukiman kelas menengah (residential zone), merupakan kompleks perumahan para
karyawan kelas menengah yang memiliki keahlian tertentu. Rumah-rumahnya lebih baik
dibandingkan kelas proletar.
5. Wilayah tempat tinggal masyarakat berpenghasilan tinggi. Ditandai dengan adanya kawasan elit,
perumahan dan halaman yang luas. Sebagian penduduk merupakan kaum eksekutif, pengusaha besar,
dan pejabat tinggi.
6. Zona penglaju (commuters), merupakan daerah yang yang memasuki daerah belakang (hinterland)
atau merupakan batas desa-kota. Penduduknya bekerja di kota dan tinggal di pinggiran.
Teori sektoral

Menurut teori ini struktur ruang kota cenderung berkembang berdasarkan sektorsektor dari pada
berdasarkan lingkaranlingkaran konsentrik. PDK (Pusat Daerah Kegiatan) atau CBD (Central Business
District) terletak di pusat kota, namun pada bagian lainnya berkembang menurut saktor-sektor yang
bentuknya menyerupai irisan kue bolu. Hal ini dapat terjadi akibat dari faktor geografi, seperti bentuk
lahan dan pengembangan jalan sebagai sarana komunikasi dan transportasi.
Adapun pembagian zonanya :

1. Sektor pusat kegiatan bisnis. Kawasan ini terdiri atas bangunan- bangunan kantor, hotel, pasar, bank,
bioskop, pusat perbelanjaan serta sektor- sektor publik dan perputaran ekonomi lainnya.
2. Sektor kawasan industri ringan dan perdagangan. Kawasan ini terdapat pabrik- pabrik kecil atau
ringan dan juga toko- toko.
3. Sektor kaum buruh atau kaum murba. Kawasan ini merupakan tempat tinggal bagi kaum buruh
maupun kaum murba. Pemukiman ini mendekati pusat perdagangan karena kaum buruh harus bekerja
di tempat- tempat yang menjadi pusat bisnis.
4. Sektor madya wisma, yaitu tempat tinggal bagi para kaum menengah.
5. Sekor adi wisma, yaitu tempat tinggal bagi golongan atas atau kaum elit, biasanya terdiri atas kaum
pejabat dan para eksekutif.
Teori inti ganda

Teori inti berganda (bahasa Inggris: multiple nuclei model) adalah model ekologi kota yang dibuat
oleh Chauncy Harris dan Edward Ullman pada tahun 1945 dalam artikel "The Nature of Cities." Teori
ini dibuat berdasarkan fakta bahwa ada kota-kota modern yang memiliki pusat bisnis, daerah industri
dan pemukiman sendiri.
Teori ini dibuat berdasarkan gagasan bahwa orang memiliki pergerakan yang lebih besar karena
meningkatnya kepemilikan mobil. Peningkatan ini membuat terjadinya spesialisasi pusat-pusat
regional (seperti pusat bisnis, daerah industri).