Anda di halaman 1dari 6

IMUNOFENOTIPE SEBAGAI FAKTOR

PREDISPOSISI

Di susun oleh
KELOMPOK 3 :
1. Andriawan Wahyu Biantoro
2. Elisabet Ferawati Manus
3. Fardila LoIsa Oraile
4. Nadila Maria Ulfa
5. Nidya Fira Edisti Kurnia Sendy
6. Nurkumala
7. Rina Ridwana Qurrota A'yun
8. Sagita Dwi Rachmawati
9. Teresa Freitas Belo
10. Uly Agustina Panjaitan
11. Vina Maghfera
PRODI : S-1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


“ ARTHA BODHI ISWARA “
2018

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Faktor Prognostik

Definisi dari faktor prognostik itu sendiri adalah karakteristik pada suatu
penyakit atau pasien seperti usia dan sebagainya, yang mempengaruhi bagaimana
penyakit yang sedang dipelajari berkembang. Secara garis besarnya, faktor
prognostik itu sendiri bisa saya artikan sebagai segala jenis karakteristik entah itu
pada jenis penyakit tertentu atau pasien tertentu yang dapat dilihat bagaimana setiap
karakternya mempengaruhi perkembangan penyakit yang tengah diteliti.

Faktor prognostik dapat diterapkan dalam berbagai gangguan kesehatan,


mulai dari kanker, tumor, trauma keras pada otak, bahkan scizoprenia atau
gangguan kejiwaan yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berpikir,
merasakan atau berperilaku dengan baik yang bisa disebabkan oleh faktor genetik,
lingkungan bahkan struktur atau senyawa pada otak yang berubah karena suatu hal.

Mungkin sedikit sulit untuk menerapkan faktor prognostik dalam masalah


kesehatan yang berhubungan dengan gangguan kejiwaan karena ukuran atau
standart dari gangguan kejiwaan itu sendiri yang tidak bergantung pada faktor
umur, gen atau yang lainnya. Tetapi gejala – gejala yang ditimbulkan dapat
dipelajari sehingga bisa menemukan faktor prognostik yang tepat sebagai salah satu
pencegahannya.

Faktor prognostik sering dihubung – hubungkan bahkan disama – samakan


dengan faktor resiko atau faktor umumnya tentang kesehatan yang akan terjadi atau
terpengaruh oleh tindakan anda sebelumnya. Contoh dari peristiwa faktor resiko
yang paling mudah adalah ketika anda merokok akan meningkatkan resiko tubuh
anda untuk mengalami gangguan kesehatan seperti kanker, gangguan kehamilan
dan janin bahkan impoten.

 Tipe-tipe Faktor Prognostik

Karena faktor prognostik merupakan salah satu esensial yang mampu


mengembangkan proses suatu penyakit dan tingkat keberhasilan dari
penanganannya untuk kemudian diprediksi hingga batas waktu tertentu. Faktor
prognostik mampu menunjukkan tingkat keagresifan suatu penyakit, lama waktu
penyakit tersebut dapat hidup atau berkembang di dalam tubuh manusia, dan
kemampuan pasien dalam menangani suatu penyakit serta apa saja efek samping
dari obat atau penanganan kesehatan yang dilakukan.

Faktor prognostik dilakukan ketika awal pasien datang, yang kemudian


digunakan sebagai dasar analisa untuk memilih jenis pengobatan paling tepat untuk
gangguan kesehatan tersebut. Tipe-tipe dari prognostik itu sendiri antara lain
adalah :

1. Umur

Sudah pasti yang pertama masuk ke dalam tipe faktor prognostik adalah umur
pasien dan ini merupakan bagian yang sangat penting dalam metode penyembuhan
yang akan dipilih kemudian. Sebagai contoh adalah ketika penyakit lymphoma atau
kanker sistem limfatik dengan gejala – gejala seperti pembesaran limfa, kelelahan,
dan penurunan berat badan. Lymphoma ternyata tidak terlalu berbeda ketika
menjangkiti pasien manula atau anak – anak. Nah, jika hal ini terjadi, maka umur
saja tidak akan cukup menjadi satu – satunya faktor prognostik yang akan
digunakan. Maka kita akan membutuhkan variable faktor prognostik lainnya.

2. Panjang atau Jangka Waktu Hidup Suatu Penyakit


Biasanya, hampir setiap penyakit mempunyai fase yang berbeda-beda. Fase
– fase tersebut biasanya ditentukan oleh setiap penyakit yang diderita oleh pasien.
Seperti demam berdarah dengan siklus pelana kudanya yang berbahaya, maka
penyakit – penyakit lain juga memiliki siklus serta fase yang berbeda – beda. Tapi,
dari banyaknya siklus suatu gangguan kesehatan selalu melalui empat fase yang
sudah diperkirakan jauh – jauh hari, fase – fase tersebut adalah:

Fase pertama : dimana hanya satu bagian tertentu yang terkena efek dari
penyakit yang menyerang seseorang. Seperti contoh bagi penderita lymphoma akan
terlihat sakit atau pembesaran pada limpa.

Fase kedua : beberapa organ lain mulai terinfeksi, tetapi yang merasakan
efeknya masih dalam batas organ utamanya saja.

Fase ketiga : penyakit telah menyebar hampir ke seluruh tubuh dan membuat
rasa tidak nyaman di sekujur tubuh.

Fase keempat : diseminasi penyakit pada organ, diseminasi merupakan


kegiatan penyebaran penyakit yang menjangkiti organ – organ.

Nah, itu merupakan fase – fase penyebaran penyakit yang menjangkiti tubuh
manusia. Meski tidak mencakup fase – fase lain dalam bagaimana penyakit itu
dapat disembuhkan, akan tetapi, faktor prognostik hanya mengandung fase awal
penemuan penyakit dan nanti mengerucut hingga menemukan solusi yang tepat dari
masalah tersebut.

3. Tingkat Kesehatan Pasien Itu Sendiri

Tingkat kesehatan seorang pasien akan menentukan seberapa baik pasien


mampu menerima proses penyembuhan dan bagaimana kemampuan seseorang
dalam menolak suatu penyakit. Nah, tingkat kemampuan seseorang dalam menolak
penyakit ini dibedakan menjadi beberapa fase yang dinotasikan melalui angka dari
nol hingga empat. Berikut adalah uraiannya.

0 : Dimana penyakit sama sekali tidak memberi efek pada seseorang, dimana
ia tetap sehat dan kehidupannya berjalan normal.

1 : Pasien mengalami kelelahan, akan tetapi ia masih tetap bisa melakukan


berbagai kegiatan secara normal.

2 : Rasa kelelehan yang sangat memaksa pasien untuk berbaring di tempat


tidur pada siang hari.

3 : Pasien harus tidak dapat meninggalkan pembaringan selama setengah hari.


4 : Pasien harus istirahat secar total di tempat tidur.

B. Imunofenotipe

Penentuan imunofenotipe merupakan salah satu pemeriksaan yang


disyaratkan dalam diagnosis dan klasifikasi leukemia Pengertian penyakit leukemia
adalah penyakit yang berkembang dari kelebihan produksi sel darah putih yang
belum matang.

Penyakit leukimia menjadi berbahaya karena jumlah sel darah putih yang
sangat banyak dalam aliran darah dan sumsum tulang bisa membuat sel-sel darah
lainnya terganggu proses pembuatannya. Akibatnya, sel-sel darah putih dan sel
darah lainnya tidak mampu berfungsi sebagaimana seharusnya .

Limfoma non hidgkin adalah keganasan limfosit-B dan sistem sel limfosit T.
Kebanyakan pasien dengan limfoma hodking masuk dalam kategori besar karena
gambaran klinisnya: nodular, tipe lamban dan menyebar, limfoma agresif. Untuk
tujuan pengobatan, pembagian ini juga diklasifikasikan sebagai limfoma rendah,
intermediet, atau derajat tinggi. Pengobatan pada limfoma non hodgkin meliputi
radioterapi atau kemoterapi (biasanya kombinasi agen antineoplastik).

Dalam tulisan ini, kami melaporkan data peranan penentuan imunofenotipe


dalam diagnosis leukemia akut dikaitkan dengan pemeriksaan sitomorfologi dan
pemeriksaan sitokimia Sudan Black B (SBB) yang dilakukan di Laboratorium
Patologi Klinik Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) sejak Januari 2005 sampai
Desember 2007.

Menurut imunofenotipe, kami menemukan 13 kasus leukemia limfoblastik


akut (LLA) galur T, 82 kasus LLA galur B, dan 110 kasus leukemia mieloblastik
akut (LMA). Ko-ekspresi antigen dari galur lain ditemukan pada 38% kasus LLA-
T, 28% kasus LLA-B, dan 37% LMA. Antigen limfoid yang paling sering
ditemukan ekspresinya pada LMA adalah CD19 diikuti CD7.
CD33 ditemukan pada 94,6% kasus LMA dan CD13 pada 87,8% kasus LMA.
CD19 ditemukan pada 96% LLA-B, CD10 pada 68% kasus, diikuti CD20 (50%)
dan CD22 (33%). CD7 ditemukan pada 92% LLA-T, dan CD3 positif pada 85%
kasus LLA-T.

Disimpulkan bahwa penentuan imunofenotipe sangat bermanfaat dalam


penentuan diagnosis galur, membedakan antara LLA dan LMA, khususnya pada
kasus dengan SBB negatif seperti pada kasus LMA-M0 dan M5a, membedakan
LLA-B dan LLA-T, serta mendiagnosis kasus leukemia bifenotipe/leukemia galur
campuran

C. Kesimpulan :

Kenapa imunofenotipe dijadikan sebagai Faktor Prognostik ?

Karena imonotipe merupakan salah satu penentuan diagnosis untuk kaus


leukimia sehingga merupakan salah satu esensial yang mampu mengembangkan
proses suatu penyakit dan tingkat keberhasilan dari penanganannya untuk kemudian
diprediksi hingga batas waktu tertentu ( Faktor Prognostik)