Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH MIKROBIOLOGI

“ASPEK MIKROBIOLOGIS BAHAN DAN SEDIAAN FARMASI”

DisusunOleh :

KELOMPOK V

1. ANISA RAMADHANI G 701 16 079


2. NURAMINI AYU SAPUTRI G 701 16 201

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang maha Esa yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia Nya kepada tim penulis makalah sehingga dapat terselesaikan tugas
makalah pembuatan makalah ilmu kependudukan.

Penulis berharap agar makalah ini dapat digunakan semestinya dan dapat
membantu para mahasiswa yang sedang belajar dijurusan farmasi khususnya yang
menempuh mata kuliah MIKROBIOLOGI

Pepatah berkata “Tidak ada gading yang tak retak” sehingga dalam penyususan
makalah ini pun juga banyak terdapat kesalahan dan kekurangan baik yang disengaja
maupun tidak disengaja. Sehingga penyusun mohon kesedian dadi pembaca makalah
agar menyampaikan kritik dan sarannya kepada penulis sehingga dalam penyusun
makalah selanjutnya dapat menjadi lebih baik.

Tidak lupa penyusun sampaikan ucapan terimah kasih kepada dosen pembibing
mikrobiologi yang senangtiasa membingbing kami dalam penyelesaian tugas penulisan
makalah ini. Semoga makalah dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan juga dapat
memperkaya pengetahuan pembaca pada umumnya.

Terima Kasih
Palu, 07 Januari 2016

2
Kelompok 3

DAFTAR ISI

HALAM JUDUL...............................................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................................

DAFTAR ISI....................................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN...................................................................................

I.I LATAR BELAKANG..........................................................................

I.2 RUMUSAN MASALAH.......................................................................

BAB II : PEMBAHASAN........................................................................................

II.I PENGERTIAN MIKROBIOLOGI.......................................................

II.2 ASPEK MIKROBIOLOGI...................................................................

II.3 BAHAN BAKU FARMASI.................................................................

II.4 SEDIAAN FARMASI..........................................................................

BAB III : PENUTUP ................................................................................................

III.I KESIMPULAN ...................................................................................

III.2 SARAN................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................

3
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Populasi mikroorganisme di alam sekitar kita sangat besar dan kompleks.


Beratus-ratus spesies berbagai mikroba berada disekitar kita. Mikroorganisme
ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Mikrorganisme yang
merugikan yaitu mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi,
menghasilkan racun dan merusak bahan dengan cara menyebabkan pembusukan,
menguraikan bahan-bahan. Terdapatnya mikroorganisme dalam sediaan farmasi,
makanan, minuman sebagai kontaminan, kemungkinan disebabkan oleh cara
pengolahan yang tidak bersih dan sehat, cara pengepakan yang kurang bagus,
cara penyimpanan yang tidak baik dan lain-lain. Sedangkan sumbernya
kemungkinan dari udara, tanah, air, peralatan yang digunakan dalam
pengolahan, atau pekerja yang melakukan proses pembuatan.

Makanan, minuman, obat tradisional, sediaan non steril, serta kosmetik


merupakan suatu sediaan yang berasal dari hewan, tumbuhan, mineral, maupun
dari zat-zat kimia sintetik. Pada umumnya sediaan-sediaan tersebut, diproduksi
oleh industri secara besar-besaran dan biasanya memakan waktu yang cukup
lama dalam produksi, penyimpanan, distribusi dan akhirnya sampai ke tangan
konsumen. Jadi kemungkinan dapat terjadi pertumbuhan mikroba di dalamnya.

Jenis pengujian yang diperlukan untuk masing-masing produk tidak


sama. Untuk produk makanan diuji cemaran mikrobanya. Uji angka lempeng

4
total merupakan tolak ukur mikrobiologis untuk mengetahui kebersihan
pengolahan dan penanganan produk makanan dan minuman maupun produk
lainnya yang juga merupakan suatu indikasi layak atau tidak layaknya suatu
produk untuk digunakan.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan praktikum uji
mikrobiologis terhadap produk sediaan farmasi yaitu makanan, minuman,
kosmetik, dan obat tradisional.

I.2 Rumusan Masalah


1) Apa pengertian mikrobiologi ?
2) Apa saja aspek mikrobiologi ?
3) Apa saja bahan baku farmasi?
4) Apa saja sediaan farmasi ?

5
BAB II

ISI

II.1 Pengertian Mikrobiologi

Mikrobiologi merupakan cabang ilmu dari biologi yang khusus


mempelajari jasad-jasad renik. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani
(micros, kecil, bios , hidup, dan logos, pengetahuan) sehingga secara singkat
dapat diartikan bahwa mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang
mahluk-mahluk hidup yang kecil-kecil. Mahluk-mahluk hidup yang kecil-kecil
tersebut disebut juga dengan mikrooprganisme, mikrobia, mikroba, atau jasad
renik.

II.2 Aspek mikrobiologi

1. Teknik Pengambilan Sampel dalam Analisis Mikrobiologi

Dalam suatu analisis mikrobiologi, pengambilan sampel


merupakan salah satu kunci utama yang sangat mendukung keberhasilan
suatu analisa, yaitu memindahkan sampel atau kultur bakterial dari satu
tempat ke tempat yang lain secara aseptis (terhindar dari kontaminasi).Saat
mengambil sampel harus benar-benar diperhatikan bahwa pengambilan
tersebut harus secara aseptis, yaitu aman dari kontaminasi mikroba selain
dari sampel tersebut. Biasanya beberapa hal yang mungkin dapat
menyebabkan kontaminasi saat pengambilan sampel antara lain :
a) Peralatan yang tidak steril
b) Kontaminasi udara
c) Kesalahan analis
d) Kesalahan prosedur

6
Teknik pengambilan sampel terbagi menjadi dua teknik utama yaitu :

a) Teknik pipetting
Teknik pipetting (mentransfer dengan pipet) sering
digunakan saat menganalisa sampel dengan kondisi standar.
Keunggulan teknik ini adalah kita dapat menghitung jumlah bakteri
yang kita pindah tersebut (opsianal, bila di inginkan) misalkan saat
kita melakukan metode TPC (menghitung jumlah koloni bakteri).
Teknik pipetting dapat dilakukan dengan pengenceran ataupun tanpa
pengenceran. Untuk pipetting dengan pengenceran kita dapat
menggunakan pipet volume sedangkan pipetting tanpa pengenceran
kita dapat menggunakan micro volome pipettor.

b) Inokulasi dengan jarum ose


Teknik ini digunakan untuk memindahkan kultur bakterial
dari suatu media ke media lainnya.Berbeda dengan teknik pipetting ,
pada teknik ini jumlah bakteri sangatlah banyak sehingga kita tidak
akan bisa menghitungnya. Namun, beberapa tujuan utama dari teknik
ini antaralain :
 Perbanyakan (Enrichment)
Memperbanyak jumlah bakteri yang dimiliki dengan cara
menanam bekteri ke media-media baru sehingga dapat
memperbanyak stok jumlah bakteri yang ada. Media yang
digunakan dalam teknik ini adalah media yang sama.

 Seleksi
Inokulasi dengan cara menanam bakteri pada media yang selektif
pada bakteri tertentu, teknik ini bertujuan agar bakteri yang
tumbuh adalah bakteri tersangka (target) sehingga dapat diperoleh
bakteri yang sesuai dengan yang diharapkan.
Sebagai contoh, misalkan kita dapat menggunakan media MCA
(MacConcey Agar) untuk menyeleksi pertunbuhan bakteri

7
Salmonella sp. saat menyeleksi dari bakteri patogen lainnya.

 Isolasi

Teknik inokulasi yang sering digunakan untuk metode ini adalah


teknik gores, yaitu menggoreskan biakan ke cawan petri secara
terus-menerus untuk diperoleh satu koloni yang tidak tercampur
dengan koloni lainnya.

 Pemurnian Kultur Bakterial


Metode ini adalah teknik gabungan dari teknik-teknik diatas. Cara
pemurnian kultur dilakukan dengan menyeleksi kemudian
mengisolasi bakteri yang akan dimurnikan.
Metode ini harus dilakukan dengan cara menyeleksi dan
mengisolasi berulang kali dan dengan media yang berbeda-beda
agar dapat diperoleh kultur yang benar-benar tidak tercampur
dengan bakteri lain.

2. Pengujian mikrobiologi
Pengujian mikrobiologi dalam Farmakope Indonesia edisi IV
a. Uji batas mikroba

Uji Batas Mikroba dilakukan untuk memperkirakan jumlah


mikroba aerob viabel di dalam semua jenis perbekalan farmasi, mulai dari
bahan baku hingga sediaan jadi, untuk mengyatakan perbekalan farmasi
tersebut bebas dari spesies mikroba tertentu. Otomatisasi dapat digunakan
sebagai pengganti uji yang akan disajikan, dengan ketentuan bahwa cara
tersebut sudah divalidasi sedemikian rupa hingga menunjukkan hasil yang
sama atau lebih baik. Selama menyiapkan dan melaksanakan pengujian,
specimen harus ditangani secara aseptik. Jika tidak dinyatakan lain, jika
disebut ”inkubasi”, maka yang dimaksud adalah menempatkan wadah di
dalam ruangan terkendali secara termostatik pada suhu 30° dan 35° selama

8
24 jam sampai 48 jam. Istilah “tumbuh” ditunjukan untuk pengertian adanya
dan kemungkinan adanya perkembangan mikrona viabel.

b. Uji efektivitas pengawet


Pengawetan dalam bidang farmasi bertujuan untuk mencegah
pertumbuhan mikroorganisme. Pengawet antimikroorganisme adalah zat
yang ditambahkan pada sediaan obat untuk melindungi sediaan tersebut
terhadap kontaminasi mikroorganisme. Bahaya dari pencemaran
mikroorganisme baik bakteri, jamur ata khamir terdapat dimana – mana
selama pembuatan, pengemasan, penyimpanan, dan penggunaan obat,
dimana manusia, lingkungan (ruangan, udara), bahan obat dan bahan
pembantu, alat – alat kerja seperti mesin – mesin dan bangahan pengemas
primer merupakan sumber kontaminasi utama.

c. Uji sterilitas

Uji sterilitas sterilitas dilakukan untuk mengetahui apakah bahan


atau sediaan yang harus steril sudah memenuhi syarat atau tidak. Uji
sterilitas dilakukan secara mikrobiologi dengan menggunakan medium
pertumbuhan tertentu. Media untuk pengujian diperlukan dalam uji ini.
Tujuan untuk uji ini adalah untuk menentukan apakah sesediaan atau alat
yang harus berada dalam keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta
sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme
hidup. Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai
konotasi relative, dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari
mikroorganisme hanya dapat di duga atas dapat proyeksi kinetis angka
kematian mikroba.

II.3 Bahan Baku Farmasi

9
a) Bahan Alam
1. Simplisia

Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat


yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan
lain, simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia dapat
berupa simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan atau
mineral.

Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh,


bagian tanaman atau eksudat tanaman. Yang dimaksud dengan eksudat
tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau
dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya
yang dengan cara tertentu di pisahkan dari tanamannya.

Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh ,


bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan
belum berupa zat kimia murni.
Simplisia mineral atau pelikan adalah simplisia yang berupa
bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan
cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.

2. Ekstraksi

Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan suatu subtansi atau zat


dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai.

 Ekstraksi secara dingin


 Metode meserasi
Istilah meceration berasal dari bahasa latin macerare yang
artinya “merendam”. meserasi adalah mencari zat aktif yang
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan
penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar
terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel

10
melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan
yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh
cairan penyari dengan konsentrasi rendah ( proses difusi ).
Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan
konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Selama
proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan
penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan
filtratnya dipekatkan.

 Ekstraksi secara panas


 Metode refluks
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara
sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama
dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap-uap cairan penyari
terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul
cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat,
akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat,
demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan
sampai penyarian sempurna, penggantian pelarut dilakukan
sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh
dikumpulkan dan dipekatkan.

 Ekstraksi Berdasarkan Campurannya


 Ekstraksi Cair-cair
Ekstraksi cair(ekstraksi pelarut) adalah zat yang di
ekstraksi di dalam csmpuran berbentuk cair yang di gunakan
untuk memeisahkan zat seperti iod atau logam tertentu di dalam
ait.

 Ekstraksi Padat-Cair

11
Ekstraksi padat cair adalah zat yang diekstraksi di dalam
campuran yang berbentuk padat. digunakan untuk mengisolasi zat
berkhasiat yang terkandung dalam bahan alam.

b) Bahan sintetis
Bahan sintetis adalah bahan obat yang berasal tumbuhan atau hewan
yang diproses secara kimiawi untuk diambil zat aktifnya (zat yang
berkhasiat).

II.4 Sediaan Farmasi

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV,macam - macam sediaan umum


adalah sebagai berikut :

1. Aerosol adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif
terapeutik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Sediaan ini
digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga untuk pemakaian lokal
pada hidung (aerosol nasal), mulut (aerosol lingual) atau paru - paru (aerosol
inhalasi).

Contoh : Bricasma Inhaler 400 dose Metered Aerosol, Bricasma Turbuhaler 200
dose serbuk inhaler, Ventolin Rotahaler 200 mcg, Ventolin Rotacaps, Pulmocort
Turbuhaler100 mcg/doses 200 dose Serbuk inhaler, Beconase Nasal Spray200
Doses.

2. Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras
atau lunak yang dapat larut. Digunakan untuk pemakaian oral.

Contoh : NaturE (kapsul lunak), Ponstan 250 mg (kapsul keras)

3. Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi.

12
a. Tablet hisap ( lozenges )

Sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat,


umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis, yang dapat
membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut.

Contoh : Kalmicyn lozenges

b. Trochici

Tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa, tablet ini disimpan
dalam suhu kamar 28° C.

Contoh : FG Trochees

c. Tablet sublingual

Tablet yang digunakan dengan cara meletakkan tablet dibawah


lidah, sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut.

Contoh : Tablet Cedocard

d. Tablet kunyah ( chewable tablet )

Tablet yang penggunaanya dengan dikunyah, memberikan residu


dengan rasa enak dalam rongga mulut, mudah ditelan dan tidak
meninggalkan rasa pahit.

Contoh : Tablet Plantacid

e. Tablet effervescent

Dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbondioksida yang


akan memberikan rasa segar.

Contoh : Tablet Ca-D- Rhedoxon

13
f. Tablet salut

Contoh : Supra livron, Ferro gradumet, Dulcolax 5 mg, Voltaren

g. Tablet multilayer

Obat yang dicetak menjadi tablet kemudian ditambah granulasi


diatas tablet yang dilakukan berulang-ulang sehingga terbentuk tablet
multiplayer.

Contoh : Bodrex

h. Tablet forte

Tablet yang mempunyai komposisi sama dengan komponen


tablet biasa tapi mempunyai kekuatan yang berbeda ( Biasanya 2 kali
tablet biasa )

Contoh : Bactrim Forte

i. Tablet pelepasan terkendali

Contoh : Quibron-T

4. Krim adalah sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat
terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai

Contoh : Kalcinol-N cream,Topsy cream, Chloramfecort 10 g, Hydrokortison


5g, Scabicid 1 g

5. Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.

Contoh : Scott emultion, curcuma plus

6. Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif
dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai,

14
kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk
yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat baku yang
ditetapkan.

Contoh : Mastin, Ace Maxs

7. Gel (Jeli) adalah sistem semi padat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar , terpenetrasi oleh suatu
cairan.

Contoh : Bioplacenton gel, Thrombophob gel, Voltaren Emulgel 100 g

8. Imunoserum adalah sediaan yang mengandung immunoglobulin khas yang


diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian.

Contoh : Stimuno

9. Implan atau pelet adalah sediaan dengan massa padat steril berukuran kecil,
berisi obat dengan kemurnian tinggi ( dengan atau tanpa eksipien ), dibuat
dengan cara pengempaan atau pencetakan. Implan atau pelet dimaksudkan untuk
ditanam di dalam tubuh ( biasanya secara sub kutan ) dengan tujuan untuk
memperoleh pelepasan obat secara berkesinambungan dalam jangka waktu
lama.

Contoh : Andalan, Spiral

10. Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati
dengan air pada suhu 90O selama 15 menit.

11. Injeksi adalah sediaan steril untuk kegunaaan parenteral, yaitu di bawah atau
menembus kulit atau selaput lendir.
a. Injeksi Dalam Bentuk Larutan

Contoh : Aminophylin vial 10 ml Dilantin ampul 2m1, Glukosum flacon


10 ml ATS ampul 1 ml, Delladyl vial 15 ml

15
b. Injeksi dalam bentuk Suspensi

Contoh : Procaine PenicillinG Flacon 10 ml Cortisone acetat 100 ml

c. Injeksi dalam bentuk Serbuk kering.

Contoh : Chloramex vial 1000 mg, Streptomysin Sulfat Vial 5g

12. Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan
luka terbuka atau rongga - rongga tubuh, penggunaan adalah secara topikal.

Contoh : Betadine,

13. Sediaan obat mata :

a. Salep mata adalah salep steril yang digunakan pada mata.

Contoh : Cendocycline 1%, 3,5 gram, Cendomycos 3,5 g, Kemicitine 5g

b. Larutan obat mata adalah larutan steril, bebas partikel asing, merupakan
sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan
pada mata.

14. Pasta adalah sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat
yang ditujukan untuk pemakaian topikal.

Contoh : Solcoseryl Pasta

15. Plester adalah bahan yang digunakan untuk pemakaian luar terbuat dari bahan
yang dapat melekat pada kulit dan menempel pada pembalut.

Contoh : Hansaplast

16. Serbuk, adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang
dihaluskan, berupa serbuk yang dibagi – bagi (pulveres) atau serbuk yang tak
terbagi (pulvis)

16
Contoh : Salicyl bedak (Pulv. Adspersorius)

17. Solutio atau larutan, adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat
kimia yang terlarut.

Contoh : Enkasari 120 ml solution, Betadin gargle

Terbagi atas :

a. Larutan oral, adalah sediaan cair yang dimaksudkan untuk pemberian oral.
Termasuk ke dalam larutan oral ini adalah :

- Syrup, Larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi

Contoh : Biogesic sirup, Dumin sirup

- Elixir, adalah larutan oral yang mengandung etanol sebagai pelarut.

Contoh : Batugin 300 ml, Mucopect 60 ml ( Paediatri )

b. Larutan topikal (lotion), adalah sediaan cair yang dimaksudkan untuk


penggunaan topical pada kulit atau mukosa.

Contoh : Tolmicen 10 ml

c. Larutan otik, adalah sediaan cair yang dimaksudkan untuk penggunaan dalam
telinga.

Contoh : Otolin 10 ml, Otopain 8 ml

d. Larutan optalmik, adalah sediaan cair yang digunakan pada mata.

Contoh : Colme 8 ml, Catarlent 5 ml, Albucid

e. Spirit, adalah larutan mengandung etanol atau hidro alkohol dari zat yang
mudah menguap, umumnya merupakan larutan tunggal atau campuran bahan.

17
f. Tingtur, adalah larutan mengandung etanol atau hidro alkohol di buat dari
bahan tumbuhan atau senyawa kimia

Contoh : Halog 8 ml

18. Supositoria, adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rectal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau
melarut pada suhu tubuh.

Contoh : Flagyl, Dulcolax 10 mg, Primperan 10 mg atau 20 mg

18
BAB III

PENUTUP
III.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemaparan makalah ini tentang aspek mikrobiologis


bahan dan sediaan farmasi maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Mikrobiologi merupakan cabang ilmu dari biologi yang khusus
mempelajari jasad-jasad renik. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani
(micros, kecil, bios , hidup, dan logos, pengetahuan) sehingga secara
singkat dapat diartikan bahwa mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang mahluk-mahluk hidup yang kecil-kecil.
2. Bahan baku farmasi dapat bersal dari bahan alam dan bahan sintetis yang
melewati proses kimiawi
3. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik.
Obat adalah Sediaan atau panduan bahwa bahan-bahan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sisten fisiologi atau dalam keadaan
patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan,
pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi

III.2 Saran

Makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, misalnya masih ada


kata-kata yang salah dalam pengetikan, tidak mencantumkan kutipan atau
catatan kaki. Hal itu disebabkan karena keterbatasan waktu penulis dalam
membuat makalah ini. Oleh sebab itu penulis berharap agar pembaca dapat
memakluminya.

19
DAFTAR PUSTAKA

Suharni, Theresia Tri. 2007. Mikrobiologi umum. Yogyakarta : Penerbit Universitas


Atma Jaya.
Sumarsih, Sri., 2003, Mikrobiologi Dasar, jurusan ilmu tanah fakultas pertanian
upn”veteran,Yogyakarta

Wibowo, Marlia Singgih. 2013. Metabolisme Mikroorganisme. Website

http://dapurilmiah.blogspot.co.id/2014/06/analisis-data-kualitatif.html

http://docplayer.info/403299-Mikrobiologi-analisis-fk-3207.html

http://analisismikrobiologitrainingcenter.blogspot.co.id/2012/04/pentingnya-analisis-
mikrobiologi-pangan.html

http://farmasikendari.blogspot.co.id/2010/11/bentuk-sediaan-obat.html

20