Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 4 Oktober 2005

ANALISA DAMPAK GEMPA 26 DESEMBER 2004 DAN 28 MARET 2005 TERHADAP KERUSAKAN BANGUNAN DI NIAS SERTA PERANCANGAN BANGUNAN DIMASA YANG AKAN DATANG

Johannes Tarigan

Abstrak: Gempa 26 Desember 2004 dan 28 Maret 2005 menimbulkan dampak yang cukup parah bagi infrastruktur Nias. Gempa 26 Desember 2004 menimbulkan Tsunami di Nias Barat dan memakan korban sejumlah 180 orang. Gelombang Tsunami di Nias setinggi 4 m dan menyapu bersih kota Sirombu dengan panjang gelombang sampai dengan 300 m didaerah Sirombu dan Manrehe. Gempa 28 Maret 2005 meluluhlantakan kota Gunung Sitoli dimana menimbulkan korban sekitar 800 orang dan banyak bangunan yang runtuh, jembatan yang runtuh sehingga infrastruktur kota menjadi rusak. Type kerusakan yang terjadi kebanyakan adalah bangunan dikarenakan struktur belum memenuhi persyaratan demikian juga rancangan struktur juga masih belum memenuhi syarat terjadinya kerusakan bangunan akibat likuifaksi, dimana tanah pondasi yang bermasalah di Gunung Sitoli.

•

I.

Gempa 26 Desember 2004 dengan 9 Skala Richter dan 28 Maret 2005 dengan 8.7 Skala Richter sangat mengejutkan dunia karena kedua Gempa memakan korban besar. Gempa 26 Desember 2004 memakan korban tsunami dan gempa seluruhnya 180.000 orang, yang mana diantaranya ada korban tsunamie sekitar 180 orang di Nias, yakni di Nias Barat di kota Sirombu, Mandrehe dan sekitarnya. Sedangkan Gempa 28 Maret 2005 memakan korban sekitar 800 orang, yang mana umumnya korban akibat reruntuhan bangunan yang terdapat di Gunung Sitoli dan Teluk Dalam. Dalam tulisan ini yang akan disampaikan dampak kedua Gempa ini terhadap pulau Nias. Kemudian akan disampaikan usulan- usulan perancangan bangunan di Nias maupun daerah lain yang terkena effek kedua gempa tersebut.

Latar belakang

lain yang terkena effek kedua gempa tersebut. Latar belakang Gambar 1. Letak epicenter dibelahan Barat Sumatera

Gambar 1. Letak epicenter dibelahan Barat Sumatera dari Desember 2004 s/d Mei 2005.[USGS, 2005]

Terhadap Pulau Nias ada 3 gempa yang paling berpengaruh sbb:

II.

Dalam kurun waktu 5 bulan Sumatera Bagian Barat mengalami 4 gempa besar, yang pertama yakni 26 Desember 2004 dengan besar 9 Skala Richter yang epicenternya dekat pulau Simelu Aceh, sedangkan yang kedua pada 28 Maret 2005 dengan besar 8.7 Skala Richter dengan epicenter di dekat pulau Nias. Gempa ke 3 terjadi pada 10 April 2005 di dekat pulau Mentawai Sumatera Barat. Pada tanggal 14 Mai 2005 kembali gempa yang ke 4 melanda Nias, yang mana epicenternya diselatan Nias. Pusat Gempa dapat dilihat di Gambar 1.

Seismologi aspek

Gempa 26 Desember 2004, terjadi tsunami di Nias Barat dan Nias Selatan. Korban diperkirakan 160 orang, yang mana korban adalah akibat gelombang tsunami.

• Gempa 28 Maret 2005, ada korban 800 orang di seluruh pulau Nias. Korban semuanya diakibatkan oleh reruntuhan bangunan dari berlantai satu sampai berlantai empat. Terjadi likuifaksi dibeberapa tempat. Ada kenaikan tanah di sebelah pantai barat Nias dan Nias Utara yang diperkirakan sekitar 3 s/d 4 meter. Adanya penurunan tanah di sekitar Nias Selatan.

• Gempa 14 Mei 2005, besarnya 6.8 Skala Richter, menyebabkan beberapa bangunan yang sudah retak akibat gempa 28 Maret 2005 runtuh akibat gempa ini.

73

Analisa Dampak Gempa 26 Desember 2004 dan 28 Maret 2005 … Johannes Tarigan

Tabel 1: Gempa yang terdahsyat sejak tahun 1900 [USGS, 2005]

Lokasi Waktu Magnitude 1. Chili 22-05-1960 9.5 2. Alaska, Prince William Sound.Prince William Sound 28-03-1964
Lokasi
Waktu
Magnitude
1.
Chili
22-05-1960
9.5
2.
Alaska, Prince William Sound.Prince William Sound
28-03-1964
9.2
3.
Off the West Coast of Northern Sumatra
26 -12- 2004
9.0
4.
Kamchatka
04-11-1952
9.0
5.
Off the Coast of Ecuador
31-01-1906
8.8
6.
Northern Sumatra, Indonesia
28- 03-2005
8.7
7.
Rat Islands, Alaska
04-02- 1965
8.7
8.
Andreanof Islands, Alaska
09-03- 1957
8.6
9.
Assam - Tibet
15-08-1950
8.6
10.
Kuril Islands
13-10-1963
8.5
11.
Banda Sea, Indonesia
01-02- 1938
8.5
12.
Chile-Argentina Border
11-11-1922
8.5
Apakah Gempa yang terjadi baru-baru ini
memang gempa 26 Desember 2004 dan 28 Maret
2005 termasuk yanga terdahsyat yang pernah terjadi
didunia ini ? Untuk itu dapat dilihat daftar gempa
yang terdahsyat yang pernah terjadi sejak tahun
Type
Gempa
26
Desember
2004
dan
effeknya
terhadap Nias:
1
Ukuran Gempa 9 Skala Richter
2
1900.
Dari tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa gempa 26
Desember 2004 merupakan gempa yang ketiga
terbesar sejak tahun 1900, sedangkan Gempa 28
Maret 2005 adalah Gempa terbesar ke 6.
Dari gambar 2 dapat dilihat bahwa pulau Nias
secara geologi akan bergerak keutara sepanjang 5 cm
pertahun. Gempa yang melanda Nias adalah sebagai
bukti dari pergerakan itu. Lempeng Indian akan
bergerak keatas dan masuk kedalam Lempeng
Eurasian, dan peristiwa ini disebut juga sub duction.
Ukuran Intensitas Skala MMI, Skala XII (yang
tertinggi) di Banda Aceh, di Medan Skala V,
Penang Skala IV, Kuala Lumpur Skala II.
3
Termasuk Gempa Dangkal, hypocenternya
sekitar 30 km dari permukaan bumi. Rusak yang
terparah pada bangunan terjadi pada daerah yang
terdekat di daerah hypocenter. Epicenter dapat
dilihat dipeta Gambar 1 diatas.
4
Terjadi gelombang tsunami tinggi gelombang
4m di Nias Barat.
5
Likuifaksi tidak begitu kelihatan
Type Gempa Nias 28 Maret 2005 dan effeknya
terhadap Nias:
1.
Ukuran Gempa 8.7 Skala Richter
effeknya terhadap Nias: 1. Ukuran Gempa 8.7 Skala Richter Gambar 2. Pergerakan Lempeng Indian kearah utara.

Gambar 2. Pergerakan Lempeng Indian kearah utara. Dimana pulau Nias akan bergerak 5 cm pertahun [USGS, 2005}

2. Ukuran Intensitas Skala MMI, Skala XII (yang tertinggi) di Gunung Sitoli, di Medan Skala VI, Penang Skala V, Kuala Lumpur Skala II.

3. Termasuk Gempa Dangkal, hypocenternya sekitar 30 km dari permukaan bumi. Rusak yang terparah pada bangunan terjadi pada daerah yang terdekat di daerah hypocenter. Epicenter dapat dilihat dipeta Gambar 1.

4. Soil liquefaction terjadi cukup banyak

5. Tidak terjadi tsunami

Dari kedua gempa tersebut diatas dapat dilihat bahwa hipocenternya termasuk gempa dangkal yakni sekitar 30 km, akan tetapi jarak epicenter terhadap pulau Nias berbeda. Jarak epicenter Gempa 26 Desember 2004 lebih jauh terhadap pulau Nias dibandingkan dengan Gempa 28 Maret 2005. Dengan demikian walaupun besar gempanya lebih besar pada

74

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 4 Oktober 2005

tanggal 26 Desember 2004 dengan 9 Skala Richter sedangkan gempa 28 Maret 2005 dengan 8.7 Skala Richter maka effek gempa yang menimbulkan kerusakan pada bangunan adalah gempa 28 Maret 2005. Akan tetapi yang menimbulkan tsunami di Nias adalah gempa 26 Desember 2004 setinggi 4 m (di Aceh, 30 m).

III. Tsunami

Tsunami adalah gelombang yang sangat besar yang terjadi akibat hypocenter atau pusat gempa terjadi di laut, seperti diperlihatkan di Gambar 3. Tetapi tidak selamanya terjadi tsunami walaupun terjadi gempa dengan pusat gempa didasar laut.

walaupun terjadi gempa dengan pusat gempa didasar laut. laut. tsunami. Akan tetapi gempa ini tidak menimbulkan

laut.

tsunami.

Akan

tetapi

gempa

ini

tidak

menimbulkan

IV. Likuifaksi

Likuifaksi adalah peristiwa waktu gempa dimana bangunan dapat miring dan terguling. Peristiwa likuifaksi dikenal pertama kali pada waktu Gempa di Niigata Jepang pada tahun 1964 [Dowrick D.J, 1977]. Dimana banyak bangunan yang miring dan terguling akibat gempa tersebut. Likuifaksi terjadi

akibat kondisi tanah yang berpasir dan jenuh air. Peristiwa likuifaksi banyak terjadidi Nias akibat Gempa 28 Maret 2005. Likuifaksi ditandai dengan adanya penurunan pondasi, penurunan lantai bangunan, tergulingnya bangunan dll. Dari data lapangan di kota Gunung Sitoli ada beberapa tempat ditengah kota yang mengalami likuifaksi, seperti ruko-ruko yang berlantai tiga didaerah pusat kota, dapat dilihat di gambar 5. Demikian juga didaerah penjara ada menara miring dan jatuh yang seolah seperti pohon yang tercabut dari akarnya. Ini juga adalah tanda-tanda terjadinya likuifaksi.

akarnya. Ini juga adalah tanda-tanda terjadinya likuifaksi. Gambar 3: terjadinya tsunami [USGS, 2005} Pada saat gempa

Gambar 3: terjadinya tsunami [USGS, 2005}

likuifaksi. Gambar 3: terjadinya tsunami [USGS, 2005} Pada saat gempa 26 Desember 2004, dengan besar 9

Pada saat gempa 26 Desember 2004, dengan besar 9 Skala Richter mengakibatkan tsunami yang terbesar di Aceh dengan tinggi gelombang (J) mencapai 30 m. Sedang di Nias Barat tinggi gelombang mencapai 4 m. Korban tsunami terdapat di Nias Barat dan Nias Selatan dengan jumlah korban sebanyak 180 orang. Di Nias Barat di kota Sirombu gelombang tsunamie masuk ke daratan sekitar 300 meter memporak porandakan rumah beserta penghuninya. Tsunami di Nias tidak sedahsyat di Aceh. Di Banda Aceh tinggi gelombang tsunami mencapai 30 m dan masuk kedaratan mencapai 4 km. Bekas tsunami dapat dilihat di Gambar 4. Kota Sirombu praktis kena tsunami secara menyeluruh, demikian juga daerah kecamatan Mandrehe dipinggir laut juga kena korban tsunami. Rumah mereka banyak yang hancur kena tsunami. Daerah Nias Barat umumnya agak datar. Daerah Nias Timur umumnya tidak ada tsunami.

Tinggi gelombang

tsunami

Timur umumnya tidak ada tsunami. Tinggi gelombang tsunami Gambar 4: Tsunami di Sirombu Nias Barat. Di

Gambar 4: Tsunami di Sirombu Nias Barat. Di gambar dapat Dapat dilihat bekas-bekas gelombang tsunami.

Gempa 28 Maret 2005 dengan besar 8.7 skala richter sangat berpotensi untuk menimbulkan tsunami, karena epicenternya juga terdapat ditengah

Gambar 5.Likuifaksi pada bangunan di Gunung Sitoli. Lantai menggelembung dan kolomnya miring.

Berdasarkan pemantauan bahwa Nias rawan terhadap likuifaksi. Untuk itu perlu diadakan penelitian khusus likuifaksi didaerah ini. Tanahnya labil dan butuh penelitian khusus. Gempa 26 Desember 2004 tidak menimbulkan likuifaksi terhadap pulau Nias

V. Kerusakan pada bangunan.

Kerusakan yang terjadi pada bangunan adalah akibat bangunan tidak mampu merespons gaya gempa yang terjadi. Berdasarkan peraturan bahwa perhitungan gaya gampa dapat dilakukan dengan gaya gempa V = C. I. Wt Dimana C: adalah koefisien dasar gempa berdasarkan zona, I: faktor keutamaan bangunan dan Wt: berat bangunan [SKBI ,1987]. Semakin berat bangunan (Wt) semakin besar gaya gempa yang terjadi. Semakin dekat dengan

75

Analisa Dampak Gempa 26 Desember 2004 dan 28 Maret 2005 … Johannes Tarigan

lokasi gempa semakin berbahaya terhadap Gempa, karena C: koefisien dasar gempa semakin besar, apalagi kalau tanahnya lembek maka gaya gempa akan semakin besar. Jika bangunanya makin tinggi maka bahaya gempa menjadi lebih besar lagi dan perhitungan gaya gempa harus dengan beban dinamik dan cara perhitungannya lebih komplek lagi, lihat [Rosenblueth E and Newmark N.M , 1971 dan SNI, 2002 ]. Gempa yang membuat kerusakan pada bangunan yang paling banyak adalah gempa 28 Maret 2005, sedangkan gempa 26 Desember 2004 hanya sedikit. Kerusakan bangunan boleh dikatakan memprihatinkan karena banyak bangunan runtuh seperti sandwich, dimana lantainya berimpit satu sama lain (lihat gambar 6) [Tarigan, 2005]. Kerusakan seperti ini umumnya terjadi pada bangunan bertingkat dua sampai empat yang bahannya terbuat dari beton bertulang. Kejadian kerusakan sandwich banyak terdapat di Gunung Sitoli. Walaupun banyak bangunan yang runtuh, masih ada juga bangunan bertingkat yang masih dapat bertahan dan tidak runtuh. Yang menarik adalah ada bangunan yang rusak dan belum runtuh pada Gempa 28 Maret 2005, akan tetapi setelah gempa 14 Mei 2005 bangunan tersebut menjadi runtuh. Dalam perancangan struktur bangunan tahan gempa pada bangunan yang terbaru [SK SNI 03, 2002 dan SK SNI 03, 2002 ] bertingkat diperlukan standart perancangan sbb:

Sedangkan tipe kerusakan bangunan akibat Gempa 28 Maret 2005 adalah sbb:

1. rata dengan tanah, cukup banyak pada bangunan bertingkat dan tidak bertingkat yang runtuh rata

dengan tanah (lihat gambar 9).

1. kerusakan sandwich cukup banyak (lihat gambar

6).

2. kolom patah, sebagian miring (lihat gambar 7)

3. bangunan retak pada dinding.

4. bangunan anjlok(lihat gambar 9)

5. jembatan girdernya miring, abutment bergeser (lihat gambar 10)

6. jembatan girdernya jatuh.

7. air minum terganggu

8. listrik padam

9. jalan terputus terjadi kelongsoran tebing (land slide).

10. kolom, dipersyaratkan
10.
kolom,
dipersyaratkan
kelongsoran tebing (land slide). 10. kolom, dipersyaratkan • Perancangan harus mengikuti prinsip strong coulomn

Perancangan harus mengikuti prinsip strong coulomn with beam, dimana jika terjadi gempa maka yang rusak terlebih dahulu baloknya, sehingga diperkirakan walaupun bangunan rusak tetapi tidak menimbulkan keruntuhan sehingga korban bisa dihindarkan.

mengunakan bahan yang daktilitasnya tinggi.

Gambar 7. Bangunan yang kolomnya patah

daktilitasnya tinggi. Gambar 7. Bangunan yang kolomnya patah Gambar 8.Bangunan rata dengan tanah pada gempa Nias

Gambar 8.Bangunan rata dengan tanah pada gempa Nias

Pada

perencanaan

Melihat kondisi bangunan di Nias diperkirakan belum mengikuti kaidah-kaidah tata cara perancangan bangunan sehingga mengakibatkan banyak korban.

perancangan bangunan sehingga mengakibatkan banyak korban. Gambar 6.Bangunan yang mana pelat lantai 2 bertemu dengan

Gambar 6.Bangunan yang mana pelat lantai 2 bertemu dengan tanah, dimana kolomnya patah dan pelat lantai bergeser kekanan

76

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 4 Oktober 2005

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 4 Oktober 2005 Gambar 9.Bangunan gempa Nias anjlok akibat

Gambar 9.Bangunan gempa Nias

anjlok

akibat

likuifaksi

pada

Dari kesimpulan diatas disarankan sbb:

• Untuk masa mendatang perlu diterapkan perancangan bangunan yang tahan Gempa di Nias, apa lagi bangunan bertingkat. Perda untuk tata cara membangun perlu dibuat khusus untuk Nias. Jika diperlukan dibuat perda bahwa di Nias dilarang membangun bangunan bertingkat. Atau usulan bahwa di Nias hanya diperbolehkan bangunan dari konstruksi kayu.

• Perlu diadakan penelitian likuifaksi untuk pulau Nias, karena kondisi tanahnya secara geologis sangat berpotensi terhadap likuifaksi. Dari data- data gempa yang 28 Maret 2005 sebenarnya dapat dipetakan didaerah mana terjadi likuifaksi dan ini bisa dibuat oleh Pemda Nias selama data masih kelihatan dilapangan.

LITERATUR
LITERATUR
Pemda Nias selama data masih kelihatan dilapangan. LITERATUR Dowrick D.J, 1977, Earthquake Engineering Design, New

Dowrick D.J, 1977, Earthquake Engineering Design,

New Sealand Rosenblueth E and Newmark N.M , 1971, Fundamental of Earthquake Engineering, Prentice-Hall, Inc, Englewood Cliffs, N.J. Tarigan, 2005, Pembelajaran dari Gempa Mexico, Liwa, Aceh dan Nias, Seminar DPRD SU 7 Juli 2005, DPRD SU, Medan. USGS, 2005, Community Internet Intensity Map, Internet, Denver. SK SNI 03, 2002, Tata cara perhitungan struktur beton, untuk bangunan gedung Badan Standarisasi Nasional, Jakarta. SNI, 2002, Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung, Badan Standarisasi Nasional, Jakarta. SKBI ,1987, Petunjuk Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang untuk rumah dan gedung, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

Gambar 10. Jembatan yang girdernya miring

VI. Kesimpulan dan Saran

Setelah mengamati kerusakan akibat gempa 26 Desember 2004 dan gempa 28 Maret 2005 di Nias maka disimpulkan sbb:

• Gempa 26 Desember 2004 jarak epicenternya ke Nias lebih jauh dari pada gempa 28 Maret 2005, dengan demikian walaupun Skala gempa 26 Desember 2004 lebih besar dari Gempa 28 Maret 2005, maka Gempa 28 Maret 2005 yang mengakibatkan bangunan banyak runtuh.

• Kerusakan bangunan umumnya karena gaya gempa yang terjadi diperkirakan lebih besar dari yang ada diperaturan. Namun diindikasikan juga bahwa kualitas material beton yang dipakai rendah, dan struktur bangunan belum sesuai dengan tata cara bangunan didaerah gempa, seperti jarak kolom, jumlah besi yang dipakai.

• Gempa 26 Desember 2004 yang mengakibatkan Tsunami di Nias Barat dan Nias Selatan. Sedangkan Gempa 28 Maret 2005 tidak menimbulkan tsunami sama sekali.

• Peristiwa likuifaksi banyak terdapat akibat Gempa 28 Maret 2005 di Nias, seperti di pusat Gunung Sitoli.

77