Anda di halaman 1dari 43

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Longsor
2.1.1 Definisi Longsor
Longsor merupakan suatu bentuk erosi dimana pemindahan tanahnya terjadi
pada suatu saat dan melibatkan volume besar tanah. Longsor terjadi akibat
meluncurnya suatu volume tanah di atas suatu lapisan agak kedap air yang jenuh
air (Munir, 2006). Menurut Arsyad (1989) longsor terjadi sebagai akibat
meluncurnya suatu volume tanah di atas suatu lapisan agak kedap air yang jenuh
air. Lapisan yang terdiri dari tanah liat atau mengandung kadar liat akan bertindak
sebagai peluncur. Sedangkan menurut Suprapto Dibyosaputro (1992), longsoran
adalah salah satu tipe gerakan massa batuan dan tanah menuruni lereng akibat gaya
gravitasi bumi.
Beberapa ahli mendefinisikan tanah longsor (landslide) sebagai suatu
pergerakan massa batuan, tanah, atau bahan rombakan material penyusun lereng
yang bergerak ke bawah atau ke luar lereng karena pengaruh gravitasi. Tanah
longsor terjadi apabila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya
penahan. Gaya penahan pada umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan
kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut
lereng, air, beban serta berat jenis tanah atau batuan (PVMBG, 2008, dalam Janu,
2013).
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa tanah
longsor/longsoran (landslide) adalah pergerakan suatu material penyusun lereng
berupa massa batuan, tanah, atau bahan rombakan material (yang merupakan
percampuran tanah dan batuan) menuruni lereng, yang terjadi apabila gaya
pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya penahan. Proses tersebut melalui
tiga tahapan, yaitu pelepasan, pengangkutan atau pergerakan, dan pengendapan
(Janu, 2013).
Menurut Cruden dan Varnes dalam Hardiyanto (2006:15) bahwa
“Karakteristik gerakan massa pembentuk lereng dibagi menjadi lima macam:
1. Jatuhan (falls)
Adalah gerakan jatuh material pembentuk lereng (tanah atau batuan ) di udara
dengan tanpa adanya interaksi antara bagian-bagian material yang longsor.
2. Robohan (topples)
Adalah gerakan material roboh dan biasanya terjadi pada lereng batuan yang
sangat terjal sampai tegak yang mempunyai bidang-bidang ketidakmenerusan
yang relatif vertikal.
3. Longsoran (slides)
Longsoran (slides) adalah gerakan material pembentuk lereng yang
diakibatkan oleh terjadinya geser, disepanjang satu atau lebih bidang longsor.
Massa tanah yang bergerak bisa menyatu atau terpecah-pecah.
Kejadian gerakan massa adalah perpindahan massa tanah dan batuan pada
arah tegak, miring atau mendatar dari kedudukan semula yang diakibatkan oleh
gangguan keseimbangan massa pada saat itu yang bergerak kearah bawah melalui
bidang gelincir atau material pembentuk lereng.
Hilangnya keseimbangan massa tanah dan batuan pada suatu lereng dapat
disebabkan oleh pengaruh geologis, kondisi keairan, sifat fisik tanah, gempa, dan
aktivitas manusia.
Berdasarkan geometri bidang gelincirnya, longsoran dibedakan dalam dua
jenis, yaitu:
1. Longsoran dengan bidang longsor lengkung atau longsoran rotasional
(rotation slides). Longsoran rotasional memiliki bidang longsor melengkung
keatas, dan sering terjadi pada massa tanah yang bergerak dalam satu
kesatuan, terjadi pada material yang relatif homogen seperti timbunan buatan.
2. Longsoran dengan bidang gelincir datar atau longsoran translasional
(translational slides). Longsoran ini merupakan gerakan disepanjang
diskontinuitas atau bidang lemah yang secara pendekatan sejajar dengan
permukaan lereng, sehingga gerakan tanah secara translasi. Dalam tanah
lempung, translasi terjadi disepanjang lapisan tipis pasir atau lanau,
khususnya bila bidang lemah tersebut sejajar dengan lereng yang ada.
Longsoran translasi lempung yang mengandung lapisan pasir atau lanau,
dapat disebabkan oleh tekanan air pori yang tinggi dalam pasir atau lanau
tersebut.
3. Sebaran (spreads)
Sebaran yang dimaksud longsoran translasional juga disebut sebaran lateral
(lateral spreading), adalah kombinasi dari meluasnya massa tanah dan
turunnya massa batuan terpecah – pecah ke dalam material lunak
dibawahnya.
4. Aliran (flows)
Aliran (flows) adalah gerakan hancuran material kebawah lereng dan
mengalir seperti cairan kental. Aliran sering terjadi dalam bidang geser relatif
sempit. Material yang terbawa oleh aliran dapat terdiri dari berbagai macam
partikel tanah (termasuk batu besar), kayu-kayuan, ranting dan lain-lain.
Seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Klasifikasi Gerakan Tanah Berdasarkan Tipe Gerakan dan Jenis
Materialnya
Jenis Gerakan Jenis Material
Jenis Gerakan Tanah
Batuan Dasar Jenis Butiran Halus
Runtuhan Runtuhan Bahan
Runtuhan Batu GerakanBatuan Runtuhan Tanah
Rombakan
Dasar
Jungkiran Jungkiran Bahan Jungkiran Bahan
Butiran Kasar Jungkiran Tanah
Rombakan Rombakan
Rotasi Sedikit Nendatan Bahan
Nendatan Batu Nendatan Tanah
Rombakan
Translasi Banyak Gelincir Gelincir
Gelincir
Bongkah Bongkah
Bongkahan Batu
Gelinciran (Slides)

Bahan Tanah
Rombakan
TranslasiBanyak Gelincir Bahan
Gelincir Tanah
Gelincir Batu Rombakan
Gerakan Laterial Gerakan Laterial Gerakan Laterial Gerakan Laterial
Batu Bahan Tanah
Aliran Aliran Batu Aliran Bahan
Rombakan Aliran Tanah
Rombakan
AliranAliran Batu
(Rayapan Tanah)
Majemuk Gabungan dua atau lebih tipe gerakan
(Sumber: Sudarsono & Pangular, 1986)

2.1.2 Penjelasan Tentang Longsor dan Faktor Penyebabnya


Menurut peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 22/PRT/M/2007 Kawasan
Rawan Bencana Longsor (Dalam Pedoman Penata Ruang):
1. Proses Terjadinya Tanah Longsor
Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan yaitu air yang meresap
dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai
tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi
licin dan tanah pelapukan diatasnya akan bergerak mengikuti lereng dan
keluar lereng.
2. Jenis Tanah Longsor
Ada 6 jenis tanah longsor, yaitu: longsoran translasi, longsoran rotasi,
pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan.
Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia.
Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia
adalah aliran bahan rombakan.
a. Longsoran Translasi
Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada
bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
b. Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk cekung.
c. Pergerakan Blok
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang
gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi
blok batu.
d. Runtuhan Batu
Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain
bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng
yang terjal hingga menggantung terutama di daerah pantai. Batu-batu
besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.
e. Rayapan Tanah
Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis
tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir
tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan
ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke
bawah.
f. Aliran Bahan Rombakan
Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh
air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan
tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang
lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat
bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai disekitar gunung
api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.

3. Penyebab Terjadinya Tanah Longsor


Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih
besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh
kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong
dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah
batuan.
a. Hujan
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena
meningkatnya intensitas curah hujan. Ketika hujan, air akan menyusup ke
bagian yang retak sehingga tanah dengan cepat mengembang kembali.
b. Batuan yang kurang kuat
Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan
campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat.
Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses
pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat pada
lereng yang terjal.
c. Lereng terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng
yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan
angin. Kebanyakan sudut lereng menyebabkan longsor adalah 180˚
apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsornya mendatar.
d. Getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan,
getaran mesin, dan getaran lalu lintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkan
adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.
e. Susut muka air danau atau bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng
menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220˚ mudah terjadi
kelongsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.
f. Adanya beban tambahan
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan
kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor,
terutama disekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah
sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya relatif
lembah.
g. Pengikisan / erosi
Pengikisan banyak dilakukan oleh air terjadi pada tebing sungai. Selain itu
akibat penggundulan hutan disekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi
terjal.
h. Adanya material timbunan pada tebing
Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya
dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan
pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang
berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah
yang kemudian diikuti oleh retakan tanah.
i. Bekas longsoran lama
Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan
material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau
sesudah terjadi patahan kulit bumi, bidang tersebut merupakan bidang
lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.
j. Daerah pembuangan sampah
Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam
jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah
dengan guyuran hujan.
4. Faktor Penyebab Tanah Longsor
Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada kondisi
batuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi
penutup dan penggunaan lahan pada lereng tersebut, namun secara garis besar
dapat dibedakan sebagai faktor alami dan manusia.
Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi 2005 : 26,
tanah longsor dapat terjadi karena faktor alam dan faktor manusia sebagai
pemicu terjadinya tanah longsor, yaitu:
1. Faktor Alam
Kondisi alam yang menjadi faktor utama terjadinya longsor antara lain:
a. Kondisi geologi batuan lapuk, kemiringan lapisan, sisipan lapisan batu
lempung, lereng yang terjal yang diakibatkan oleh struktur besar dan kekar
(patahan dan lipatan), gempa bumi, stratigrafi dan gunung api, lapisan
batuan yang kedap air miring ke lereng yang berfungsi sebagai bidang
longsoran, adanya retakan karena proses alam.
b. Keadaan tanah; erosi dan pengikisan, adanya daerah longsoran lama,
ketebalan tanah, pelapukan bersifat lembek, butiran halus, tanah jenuh
karena air hujan.
c. Iklim; curah hujan yang tinggi, air hujan diatas normal
d. Keadaan topografi; lereng yang curam
e. Keadaan tata air, kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air,
erosi dalam, pelarutan dan tekanan hidrostatika, susut air cepat, banjir,
aliran bawah tanah pada sungai lama.
f. Tutupan lahan yang mengurangi tahan geser, missal lahan kosong, semak
belukar di tanah kritis.

2. Faktor Manusia
Ulah manusia yang tidak bersahabat dengan alam bisa menyebabkan
kerusakan tanah antara lain:
a. Pemotongan tebing pada penambangan batu dilereng yang terjal.
b. Penimbunan tanah urugan di daerah lereng.
c. Kegagalan struktur dinding penahan tanah.
d. Perubahan tata lahan seperti penggundulan hutan menjadi lahan basah
yang menyebabkan terjadinya pengikisan oleh air permukaan dan
menyebabkan tanah menjadi lembek.
e. Adanya budidaya kolam ikan dan genangan air diatas lereng.
f. Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman.
g. Pengembangan wilayah yang tidak diimbangi dengan kesadaran
masyarakat, sehingga RUTR tidak ditaati dan akhirnya merugikan sendiri.
h. Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik yang menyebabkan lereng
semakin terjal akibat penggerusan oleh air saluran ditebing.
i. Adanya retakan akibat getaran mesin, ledakan, beban massa yang
bertambah dipicu beban kendaraan, bangunan dekat tebing, tanah kurang
padat karena material urugan atau material longsoran lama pada tebing.
j. Terjadinya bocoran air saluran dan luapan air saluran.

Penyebab terjadinya tanah longsor dapat bersifat statis dan dinamis. Statis
merupakan kondisi alam seperti sifat batuan (geologi) dan lereng dengan
kemiringan sedang hingga terjal, sedangkan dinamis adalah ulah manusia. Ulah
manusia banyak sekali jenisnya dari perubahan tata guna lahan hingga
pembentukkan dinding yang terjal tanpa memperhatikan stabilitas lereng.
Sedangkan menurut Sutikno, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya gerakan tanah antara lain: tingkat kelerengan, karakteristik tanah,
keadaan geologi, keadaan vegetasi, curah hujan/hidrologi, dan aktivitas manusia di
wilayah tersebut seperti pada Tabel 2.2 berikut ini:

Tabel 2.2 Faktor Penyebab dan Faktor Pemicu Tanah Longsor

No Faktor Penyebab Parameter


1 Faktor Pemicu Dinamis 1. Kemiringan lereng
2. Curah hujan
3. Penggunaan lahan (aktivitas
manusia
2 Faktor Pemicu Statis 1. Jenis batuan dan struktur geologi
2. Kedalaman solum tanah
3. Permeabilitas tanah
(Sumber: Sutikno, 2001)

2.2 Gaya-gaya Lateral

Penyelidikan tanah disini adalah menghitung tekanan tanah lateral yang terjadi.
Tekanan tanah lateral ada 3 (tiga) macam, yaitu:

1. Tekanan tanah dalam keadaan diam.


Tekanan tanah yang terjadi akibat massa tanah pada dinding penahan tanah
dalam keadaan seimbang.
2. Tekanan tanah aktif.
Tekanan yang berusaha untuk mendorong dinding penahan tersebut untuk
bergerak ke depan
3. Tekanan Pasif
2.2.1 Tekanan Tanah dalam Keadaan Diam (At Rest)

Gambar 2.1 Tekanan Tanah dalam Keadaan Diam (At Rest)

Nilai banding antara 𝜎𝑣 dan 𝜎ℎ dinamakan “koefisien tekanan tanah dalam


keadaan diam (𝐾0 )”:
𝜎ℎ
𝐾0 = (2.1)
𝜎𝑣

Suatu elemen tanah dalam keadaan z akan terkena tekanan arah vertikal
(𝜎𝑣 ) dan tekanan arah horizontal (𝜎ℎ ):
𝜎𝑣 = 𝛾. 𝑧 (2.2)
𝜎ℎ = 𝜎𝑣 . 𝐾0 + 𝑢 (2.3)
Dimana: u = tekanan air pori

Harga-harga 𝐾0 adalah sebagai berikut:


1. Tanah lempung yang terkonsolidasi normal dan mempunyai Indeks Plastisitas
(PI)
𝐾0 = 0,4 + 0,007 (𝑃𝐼) PI antara 0 – 40 (2.4)
𝐾0 = 0,64 + 0,001 (𝑃𝐼) PI antara 40 – 80 (2.5)
2. Tanah lempung yang terkonsolidasi lebih (overconsolidated)
𝐾0 (𝑜𝑣𝑒𝑟𝑐𝑜𝑛𝑠𝑜𝑙𝑖𝑑𝑎𝑡𝑒𝑑) = 𝐾0 (𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙𝑙𝑦 𝑐𝑜𝑛𝑠𝑜𝑙𝑖𝑑𝑎𝑡𝑒𝑑) √𝑂𝐶𝑅
OCR = Overconsolidated ratio (rasio konsolidasi lebih)
Tekanan pra konsolidasi
OCR = Tekanan efektif akibat lapisan tanah diatasnya (2.6)

3. Untuk “compacted dense sand”:

𝛾𝑑
𝐾0 = (1 − sin 𝜙) + |𝛾 1| 5,5 (2.7)
𝑑 (min)
Dimana: 𝜙 = sudut geser tanah
𝛾𝑑 = berat isi kering tanah di lapangan
𝛾𝑑 (min)= berat isi kering minimum di lapangan

2.5.2 Tekanan Tanah Aktif dan Pasif Menurut Rankine


Rankine (1857) menyelidiki keadaan tegangan di dalam tanah yang berada
pada kondisi keseimbangan plastis yaitu suatu keadaan yang menyebabkan tiap-
tiap titik di dalam massa tanah menuju proses ke suatu keadaan runtuh.
a. Kondisi Aktif Menurut Rankine

Gambar 2.2 Kondisi Aktif Menurut Rankine

1. Apabila AB tidak diijinkan bergerak sama sekali, maka 𝜎ℎ = 𝐾0 . 𝜎𝑣


Kondisi tegangan dalam elemen tanah ini dapat diwakili oleh lingkaran
Mohr a (gambar c).
2. Bila dinding AB berputar terhadap dasar dinding ke suatu posisi A’B,
maka massa tanah ∆ ABC’ yang berdekatan dengan dinding akan
mencapai keadaan “aktif”.
3. Pada geser BC” yang membatasi massa tanah yang berada pada
𝜙
kondisi keseimbangan plastis adalah membentuk sudut (45 + ⁄2)
dengan arah horizontal.
4. Tekanan 𝜎𝑎 yang bekerja pada bidang vertikal adalah tekanan tanah
aktif menurut Rankine.
Kondisi tegangan ketika dalam keseimbangan plastis dapat digambarkan
dalam persamaan Mohr-Coulomb yaitu:

𝜙 𝜙
𝜎1 = 𝜎3 𝑡𝑎𝑛2 (45 + ⁄2) + 2𝑐 tan(45 + ⁄2) (2.8)
Dimana: 𝜎1 = 𝜎𝑎 (tegangan utama besar)
𝜎3 = 𝜎𝑣 (tegangan utama kecil)
𝜎𝑣 2𝑐
𝜎𝑎 =
𝜙 𝜙
𝑡𝑎𝑛2 (45 + ⁄2) 𝑡𝑎𝑛2 (45 + ⁄2)
atau:
𝜙 𝜙
𝜎𝑣 = 𝜎𝑣 𝑡𝑎𝑛2 (45 + ⁄2) + 2𝑐 tan (45 + ⁄2)

(2.9)
= 𝜎𝑣 𝐾𝑎 − 2 𝑐 √𝐾𝑎
𝜎𝑎 𝜙
𝐾𝑎 = = 𝑡𝑎𝑛2 (45 + ⁄2)
𝜎𝑣

(2.10)

b. Kondisi Pasif Menurut Rankine


Gambar 2.3 Kondisi Pasif Menurut Rankine

1. Keadaan tegangan awal pada suatu elemen tanah diwakili oleh


lingkaran Mohr a.
2. Bila dinding mengalami perputaran ke arah massa tanah yaitu ke posisi
A”B maka massa tanah ∆ ABC” akan mencapai keadaan “pasif”. Kondisi
tegangan elemen tanah dapat diwakili oleh lingkaran Mohr b.
3. Pada geser BC” yang membatasi massa tanah yang berada pada kondisi
𝜙
keseimbangan plastis adalah membentuk sudut (45 − ⁄2) dengan
arah horizontal.
4. Tekanan tanah ke samping 𝜎𝑝 , yang merupakan tegangan utama besar
adalah “tekanan tanah pasif menurut Rankine”.
Kondisi tegangan ketika dalam keseimbangan plastis dapat digambarkan
dalam persamaan Mohr-Coulomb yaitu:

𝜙 𝜙
𝜎1 = 𝜎3 𝑡𝑎𝑛2 (45 + ⁄2) + 2𝑐 𝑡𝑎𝑛 (45 + ⁄2) (2.11)

Dimana: 𝜎1 = 𝜎𝑝 (tegangan utama besar)


𝜎3 = 𝜎𝑣 (tegangan utama kecil)
𝜙 𝜙
𝜎𝑝 = 𝜎𝑣 𝑡𝑎𝑛2 (45 + ⁄2) + 2𝑐 𝑡𝑎𝑛 (45 + ⁄2) (2.12)

= 𝜎𝑣 𝐾𝑝 + 2𝑐√𝐾𝑝

𝜎𝑝 𝜙
𝐾𝑝 = = 𝑡𝑎𝑛2 (45 − ⁄2) (2.13)
𝜎𝑣
2.3 Daya Dukung Tiang Pancang
Pondasi tiang pancang (pile foundation) adalah bagian dari struktur yang
digunakan untuk menerima dan mentransfer (menyalurkan) beban dari struktur atas
ke tanah penunjang yang terletak pada kedalaman tertentu. Tiang pancang
digunakan, bila lapisan tanah yang mamu mendukung beban tertentu letaknya
terlalu dalam. Tiang pancang bentuknya panjang dan langsing yang menyalurkan
beban ke tanah yang lebih dalam. Bahan utama dari tiang adalah kayu, baja (steel),
dan beton. Tiang pancang yang terbuat dari bahan ini adalah dipukul, di bor atau di
dongkrak ke dalam tanah dan dihubungkan dengan Pile cap (poer). Tergantung juga
pada tipe tanah, material dan karakteistik

Tiang pancang dapat terbuat dari :


1. Kayu
2. Beton pracetak
3. Beton injeksi
4. Baja profil dan baja bulat
5. Beton dengan pengisi/penguat profil baja
6. Beton cetak ditempat

Contoh-contoh tiang pancang :

Gambar 2.4 Tiang Pancang


2.3.1 Daya Dukung Ijin Tanah Terhadap Tiang Pancang (Tanah Kohesif)
Air tanah dianggap tidak berpengaruh terhadap Qult
 Daya dukung ijin :
𝑄𝑢𝑙𝑡 = 𝐶 . 𝑁𝑐𝑠 . 𝜋. 𝑅 2 . + 𝑐𝐴 . 2 . 𝜋 . 𝑅 . 𝐿
= (tahanan ujung tiang) + (pelekatan antara tiang dengan tanah)
 Daya Tarik Ijin :
𝑇𝑢𝑙𝑡 = 𝑐𝐴 . 2 . 𝜋 . 𝑅 . 𝐿

Harga factor Ncs lihat grafik Ncc, Ncs

Tabel 2.3 Nilai-nilai cohesi dan adhesi

Gambar 2.5 Daya Dukung Ijin Tanah Pada Tanah Kohesif


2.3.2 Daya Dukung Ijin Tanah Terhadap Tiang Pancang (Tanah Tidak
Kohesif)

Gambar 2.6 Daya Dukung Ijin Tanah Pada Tanah Tidak Kohesif

 Air tanah dibawah (do) :


𝐾𝐻
𝑄𝑢𝑙𝑡 = 𝑞 . 𝐴𝑝 . [ . 𝜕𝑇 . 𝐿2 . 𝑡𝑔] 𝑠
2
𝑞 = 𝜕𝑇 . 𝑅. 𝑁𝜕 + 𝐾𝐵 𝜕𝑇 . 1. 𝑁𝜕 − 𝜕𝑇 . 𝐿 untuk L ≥ 20R
1
𝑞= (𝜕𝑇 . 𝑅. 𝑁𝜕 + 𝐾𝐵 𝜕𝑇 . 1. 𝑁𝜕 ) − 𝜕𝑇 . 𝐿 untuk L 20R
20𝑅

 Daya Tarik Ijin


𝐾𝐻
𝑇𝑢𝑙𝑡 = 𝑠 ( . 𝜕𝑇 . 𝐿2 . 𝑡𝑔)
2
Gambar 2.7 Grafik Koefesien Tekanan Tanah

2.4 Turap
2.4.1 Definisi Turap
Turap adalah konstruksi yang dapat menahan tekanan tanah di
sekelilingnya, mencegah terjadinya kelongsoran dan biasanya terdiri dari
dinding turap dan penyangganya. Konstruksi dinding turap terdiri dari beberapa
lembaran turap yang dipancangkan ke dalam tanah, serta membentuk formasi
dinding menerus vertikal yang berguna untuk menahan timbunan tanah atau
tanah yang berlereng. Turap terdiri dari bagian-bagian yang dibuat terlebih
dahulu (pre-fabricated) atau dicetak terlebih dahulu (pre-cast). (Sri Respati,
1995)
2.4.2 Fungsi Turap

Fungsi turap adalah ;

a. Struktur penahan tanah, misalnya pada tebing jalan raya atau tebing sungai
b. Struktur penahan tanah pada galian
c. Struktur penahan tanah yang berlereng atau curam agar tanah tersebut tidak
longsor
d. Konstruksi bangunan yang ringan, saat kondisi tanah kurang mampu untuk
mendukung dinding penahan tanah

2.4.3 Jenis – jenis Turap

a. Turap Kayu

Turap kayu digunakan untuk dinding penahan tanah yang tidak begitu tinggi,
karena tidak kuat menahan beban-beban lateral yang besar. Turap ini tidak cocok
digunakan pada tanah berkerikil, karena turap cenderung pecah bila dipancang.
Bila turap kayu digunakan untuk bangunan permanen yang berada di atas muka
air, maka perlu diberikan lapisan pelindung agar tidak mudah lapuk. Turap kayu
banyak digunakan pada pekerjaaan-pekerjaan sementara, misalnya untuk
penahan tebing galian. Bentuk-bentuk susunan turap kayu dapat dilihat pada
gambar

Gambar 2.8 Turap Kayu

b. Turap Beton

Turap beton merupakan balok-balok yang telah di cetak sebelum dipasang dengan
bentuk tertentu. Balok-balok turap dibuat saling mengkait satu sama lain. Masing-
masing balok, kecuali dirancang kuat menahan beban-beban yang bekerja pada
turap, juga terhadap beban-beban yang akan bekerja pada waktu pengangkatannya.
Ujung bawah turap biasanya dibentuk meruncing untuk memudahkan
pemancangan. Turap beton biasa digunakan pada bangunan permanen atau pada
detail-detail konstruksi yang agak sulit.

Gambar 2.9 Turap Beton

c. Turap Baja

Turap baja adalah jenis paling umum yang digunakan, baik digunakan untuk
bangunan permanen atau ssementara karena beberapa sifat-sifatnya sebagai
berikut:

1. Tahan terhadap tegangan dorong tinggi yang dikembangkan di dalam


bahan keras atau bahan batuan
2. Mempunyai berat relatif yang tinggi
3. Dapat dipakai berulang-ulang
4. Umur pemakaiannya cukup panjang baik di atas maupun di bawah
air dengan perlindungan sederhana menurut NBS (1962) yang
meringkaskan data tentang sejumlah tiang pancang yang diperiksa
setelah pemakaian yang berlangsung lama
5. Mudah menambah panjag tiang pancang dengan mengelas maupun
dengan memasang baut
6. Sambungan-sambungan sangat sedikit mengalami deformasi bila di
desak penuh dengan tanah dan batuan selama pemancangan.
Gambar 2.10 Turap Baja

2.5 Jenis Konstruksi Turap Berdasarkan Sistem Penurapannya


2.5.1 Turap Kantilever
Turap kantilever adalah dinding penahan tanah yang tidak menggunakan
jangkar. Sebagaimana dinyatakan dalam namanya adalah tiang yang ujungnya
tertahan oleh tanah sehingga seolah-olah tergantung. Dinding turap kantilever
biasanya direkomendasikan untuk dinding dengan ketinggian sedang, berkisar 6 m
atau kurang di atas garis galian. Pada dinding ini, turap berprilaku seperti sebuah
balok lebar kantilever di atas garis galian. Tekanan aktif mendorong sheet pile
menjauh dari tanah timbunan. Tekanan pasif berusaha menahan pergerakan. Kedua
gaya inilah yang diperhitungkan dalam peracangan dinding turap kantilever.

Gambar 2.11 Turap Kantilever

Syarat-syarat turap tanpa jangkar sesuai dengan kondisi tanahnya yaitu:


a. Pada tanah kohesif : 𝑐 ≠ 0; 𝛾 ≠ 0; ∅ = 0
b. Pada tanah granular : 𝑐 ≠ 0; 𝛾 ≠ 0; ∅ = 0

2.5.2 Turap Berjangkar


Apabila tinggi tanah dibelakang dinding turap mencapai sekitar 6m lebih
maka akan lebih baik apabila turap diperkuat dengan suatu dinding jangkar (anchor
walls). Jangkar akan mengurangi kedalaman penetrasi yang diperlukan oleh turap
dan juga akan mengurangi luas penampang dan berat yang diperlukan dalam
konstruksi. Namun, batanf penguat (tie roads), yang menghubungkan turap dengan
dinding jangkar itu sendiri harus dirancang dengan hati-hati
Pada dinding turap berjangkar ini dikenal adanya system penjangkaran yang
ikut menahan tekanan-tekanan yang bekerja pada dinding. Sehingga terdapat dua
analisis yaitu analisis dindingnya sendiri dan analisis penjangkarannya. Tetapi
dalam perancangan, Analisa keseluruhan harus pula dilakukan.

Gambar 2.12 turap berjangkar

2.6 Analisa Stabilitas Lereng


Suatu tempat yang memiliki dua permukaan tanah yang memiliki ketinggian
yang berbeda dan dihubungkan oleh suatu permukaan disebut lereng (Vidayanti,
2012). Lereng ini dapat terjadi secara alamiah atau buatan. Lereng alamiah adalah
lereng yang terjadi dan terbentuk secara alamiah seperti lereng pada suatu bukit atau
tebing-tebing sungai. Sedangkan lereng buatan adalah lereng yang dibuat oleh
manusia karena suatu kebutuhan, baik yang dibuat dalam tanah asli melalui
pemotongan tanah seperti untuk jalan raya, saluran air, ataupun lereng yang dibuat
dari tanah yang dipadatkan seperti tanggul, bendungan. (Ruskandi;Thamrin, 2003).
Dengan adanya perbedaan tinggi muka tanah, dapat terjadi karena lereng yang ada
tidak kuat menerima beban yang bekerja pada bagian atasnya. Dalam Ruskandi &
Thamrin (2003) longsoran adalah suatu proses perpindahan massa tanah atau batuan
dengan arah miring dari kedudukan semula, terpisah dari arah yang mengikat karena
pengaruh gravitasi. Sedangkan menurut Vidayanti (2012), longsoran adalah
keruntuhan dari massa tanah yang terletak dibawah sebuah lereng.
Stabilitas lereng dapat diperhitungkan untuk memeriksa keamanan lereng
alamiah, lereng galian dan lereng timbunan yang dipadatkan. Faktor yang perlu
dilakukan dalam pemeriksaan tersebut adalah menghitung dan membandingkan
tegangan geser yang berbentuk sepanjang permukaan retak yang paling mungkin
dengan kekuatan geser dari tanah yang bersangkutan. Proses ini disebut analisa
stabilitas lereng, yaitu diawali dengan menentukan angka keamanan yang
didefinisikan sebagai berikut:
𝜏𝑓
𝐹𝑆 =
𝜏𝑑

Dimana:
Fs = Angka keamanan terhadap kekuatan tanah
τf = Kekuatan geser rata-rata dari tanah
τd = Tegangan geser rata-rata yang bekerja sepanjang bidang longsor

Kestabilitasan suatu lereng dapat dianalisis secara manual, dapat juga


menggunakan software komputer. Kemantapan lereng, baik lereng alami maupun
lereng buatan (oleh kerja manusia), dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat
dinyatakan secara sederhana sebagai gaya-gaya penahan dan gaya-gaya penggerak
yang bertanggung jawab terhadap kamantapan lereng tersebut.
Dalam keadaan gaya penahan (longsor) lebih besar dari gaya penggeraknya,
maka lereng tersebut akan berada dalam keadaan yang mantap (stabil). Tetapi
apabila gaya penahan menjadi menjadi lebih kecil dari gaya penggeraknya, maka
lereng tersebut menjadi tidak mantap dan longsoran pun terjadi.
Sebenarnya longsoran tersebut merupakan suatu proses alam untuk
mendapatkan kondisi kemantapan lereng yang baru (keseimbangan baru), dimana
gaya penahan lebih besar dari gaya penggeraknya. Untuk menyatakan/memberikan
bobot (tingkat) kemantapan suatu lereng dikenal apa yang disebut dengan “Faktor
Keamanan” (safety factor), yang merupakan perbandingan antara besarnya gaya
penahan dengan gaya penggerak longsoran, dan dinyatakan sebagai berikut:

∑ 𝐺𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑎ℎ𝑎𝑛
𝐹=
∑ 𝐺𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘

Apabila harga F untuk suatu lereng > 1,0 yang artinya gaya penahan > gaya
penggerak, maka lereng tersebut berada dalam keadaan mantap/ aman. Tetapi
apabila harga F < 1,0 dimana gaya penahan < gaya penggerak, maka lereng tersebut
berada dalam kondisis tidak mantap dan mungkin akan terjadi longsoran pada
lereng yang bersangkutan. Dalam hal harga F = 1,0 atau besarnya gaya penahan
sama dengan besarnya gaya penggerak, maka lereng tersebut berada dalam keadaan
setimbang atau dengan kata lain lereng tersebut berada dalam keadaan kritis.
Kondisi seperti di atas (F = 1,0) tetap tidak dikehendaki, karena apabila
terjadi pengurangan gaya penahan atau penambahan gaya pengerak sekecil apapun
lereng akan menjadi tidak mantap dan longsoran segera terjadi. Karena itu harga
faktor keamanan F selalu di buat lebih dari 1,0 (untuk lereng sementara/ front
penambangan F = 1,3 dan untuk lereng permanent F = 1,5 serta untuk bendungan
F ≥ 2,0).

2.6.1 Faktor-Faktor Pembentuk Gaya-Gaya Penahan


Faktor-faktor pembentuk gaya-gaya penahan yaitu berupa:
1. Jenis batuan
Batuan-batuan beku, batuan sedimen tertentu dan batuan metamorf tertentu,
umumnya memberikan kemantapan yang baik, terutama kalo batuan tersebut
tersebar luas (monolitologi).
2. Kekuatan batuan
Batuan utuh (intack rock) yang mempunyai kuat tekan uniaksial tinggi dan
mempunyai sudut geser dalam yang tinggi merupakan batuan yang sangat stabil
terhadap longsoran. Batuan dengan kekuatan yang tinggi seperti ini umumnya
adalah batuan beku (granit, andesit, basalt, dll), beberapa jenis batuan sedimen
(batu pasir, breksi, dll) dan batuan metamorf (kuarsit, batu marmer, dll). Untuk
batuanbatuan tersebut di atas umumnya tidak mempunyai masalah mengenai
kemantapan lereng. Sudut lereng pada batuan tersebut bisa mencapai 90° atau
bahkan >90°, dan dengan tinggi lereng yang besar.

2.6.2 Faktor-Faktor Pembentuk Gaya-Gaya Penggerak


Gaya penggerak umumnya dipengaruhi oleh gravitasi, sehingga berat dari
pada beban/bagian lereng yang bersangkutan adalah merupakan salah satu gaya
pengggerak terjadinya kelongsoran:
1. Bobot isi
Bantuan dengan bobot isi yang besar akan memberikan beban/gaya yang lebih
besar pada lereng.
2. Kandungan air
Keberadan air sebagai “moisture” tanah pada lereng yang bersangkutan akan
memberikan tambahan beban yang besar pada lereng.
3. Sudut lereng
Sudut lereng yang besar akan memberikan volume material/batuan besar, yang
merupakan beban lereng yang lebih besar.

2.6.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Perubahan-Perubahan


pada Keseimbangan antara Gaya Penahan dan Gaya Penggerak
Longsoran yang terjadi pada lereng alami maupun pada lereng buatan
umumnya terjadi karena terjadinya perubahan-perubahan yang menghasilkan
pengurangan harga faktor keamanan F atau dengan kata lain memperkecil gaya
penahan, memperbesar gaya penggerak, atau gabungan dari kedua proses tersebut.
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya penahan/ mengurangi kuat geser
batuan
1. Proses pelapukan
Pelapukan (kimia) terjadi di mana-mana, terutama di daerah tropis dimana
temperatur udara dan kelembaban relatif tinggi. Pelapukan yang terjadi
pada batuan mengubah komposisi mineralogi batuan yang bersangkutan
berikut struktur dalamnya (sistem kristal, kemas, tekstur, dll). Sehingga
kekuatan batuan akan berkurang secara drastis. Karena proses pelapukan,
maka baik sifat fisik maupun sifat mekanik batuan akan berubah dan
umumnya mengakibatkan pengurangan kekuatan batuan/kuat geser
batuan.
2. Aktivitas manusia
Dalam usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhannya, manusia cenderung
melakukan aktivitas yang akan mengubah keseimbangan alami yang ada
di muka bumi ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Aktifitas
manusia yang langsung mempengaruhi keseimbangan muka bumi (dalam
hal ini kemantapan lereng) antara lain adalah penggalian dan penimbunan
(tambang, jalan raya, saluran air, dan bangunan-bangunan sipil lainnya).
Sedangkan yang tidak langsung umumnya karena kegiatan lain yang tidak
secara langsung mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan/
kemantapan lereng, seperti antara lain:
-Pertanian & irigasi, yang dapat mengakibatkan erosi dan perubahan
muka air tanah.
-Sistem sanitasi dan drainase yang tidak baik, di kampung/ pemukiman
yang terletak di daerah lereng, yang dapat mengakibatklan erosi.
3. Dengan berkurangnya gaya penahan/ kuat geser batuan tersebut, maka
harga faktor keamanan (F) akan berkurang dan lereng menjadi tidak
mantap lagi.

b. Faktor-faktor yang memperbesar gaya penggerak


Selain pengurangan kuat geser, penambahan beban/gaya penggerak juga
dapat membuat lereng yang tadinya mantap menjadi tidak mantap. Penambahan ini
juga dapat terjadi secara alamiah maupun karena aktifitas manusia (langsung
maupun tidak langsung).
1. Aktifitas tektonik
Terjadinya pengangkatan/penurunan muka bumi akan mengakibatkan
terjadinya perubahan arah dan besar gaya-gaya yang bekerja pada suatu
titik tertentu di muka bumi ini. Misalnya di suatu daerah dengan morfologi
datar atau landai, terjadinya proses pengangkatan/ penurunan akan
mengubah morfologi daerah tersebut. Akibatnya geometri akan berubah
dan beban pada lereng yang baru akan lebih besar sehingga dapat
menghasilkan suatu ketidakmantapan lereng.
2. Gempa atau sumber getaran yang lain
Getaran atau gelombang kejut dapat menghasilkan energi yang besar, yang
apabila mempunyai arah yang sama dengan permukaan bebas suatu lereng
dapat menambah beban dan mengakibat-kan longsoran.
3. Penambahan beban akibat penimbunan
Timbunan material tanah/batu (waste) di atas suatu lereng akan
memperbesar gaya penggerak dan dapat mengakibatkan longsoran pada
lereng tersebut.
4. Penambahan air tanah
Penambahan air tanah pada pori-pori/celah-celah tanah/batuan jelas akan
memperbesar gaya penggerak yang dapat mengakibatkan kelongsoran.
Penambahan air tanah ini dapat terjadi karena alam (hujan, banjir dan lain-
lain) maupun karena aktifitas manusia (irigasi, drainase dan lain-lain).

2.6.4 Tipe Keruntuhan


Keruntuhan dapat dibedakan menjadi tiga tipe yaitu :
1. Keruntuhan talud dangkal/lereng (shallow slope failure)
Keruntuhan yang terjadi sepanjang bidang gelincir yang masih terletak
dalam batas lereng atau terjadi di atas kaki lereng atau muka lereng

Gambar 2.13 Keruntuhan Shallow Slope Failure


2. Keruntuhan pada kaki lereng (toe failure)
Keruntuhan yang terjadi pada lereng dengan kemiringan hingga 90°
terhadap horizontal

Gambar 2.14 Keruntuhan Toe Failure

3. Keruntuhan pada dasar lereng


Keruntuhan yang terjadi pada lereng-lereng tanah kohesif lunak yang
relative landai, dimana terdapat suatu lapisan yang lebih keras tidak jauh
dibawah permukaannya

Gambar 2.15 Keruntuhan Pada Dasar Lereng


2.6.5 Metode Analisis Stabilitas Lereng
Beberapa metode yang digunakan untuk menganalisis stabilitas lereng
yaitu :
1. Metode Irisan (Method of Slice)
Analisis stabilitas dengan menggunakan metode irisan dapat
dijelaskan dengan Gambar (2.7), dimana busur AC adalah sebuah
lengkungan dari lingkaran yang menunjukkan permukaan bidang longsor.
Tanah yang berada di atas bidang longsor dibagi menjadi beberapa irisan
tegak. Lebar dari setiap irisan tidak harus sama. Dengan meninjau satu
satuan tebal tegak lurus irisan melintang lereng seperti Gambar (2.7), gaya-
gaya yang bekerja pada irisan tertentu (irisan no. n) ditunjukkan pada
Gambar (2.8). Wn adalah berat irisan. Gaya-gaya Nr dan Tr adalah
komponen tegak dan sejajar dari reaksi R. Pn dan Pn+1 adalah gaya normal
yang bekerja pada sisi-sisi irisan. Demikian pula, gaya geser yang bekerja
pada sisi irisan adalah Tn dan Tn+1. Secara sederhana, tegangan air pori
diasumsikan nol. Gaya Pn, Pn+1, Tn dan Tn+1 sulit untuk ditentukan. Akan
tetapi kita dapat membuat suatu asumsi pendekatan bahwa besarnya
resultan dari Pn dan Tn adalah sama besar dengan resultan dari Pn+1 dan Tn+1
dan juga garis-garis kerjanya segaris (Braja M. Das, 2002).

Untuk pengamatan kesetimbangan

𝑁𝑟 = 𝑊𝑛 cos ∝𝑛 (2.1)

Gaya geser perlawanan dapat ditunjukkan dengan

𝜏𝑓 (∆𝐿𝑛 )
𝑇𝑟 = 𝜏𝑑 (∆𝐿𝑛 ) = [𝑐 + 𝜎 𝑡𝑎𝑛𝜑] ∆𝐿𝑛 (2.2)
𝐹𝑠

Tegangan normal, σ pada persamaan 14.9 sama dengan

𝑁𝑟 𝑊𝑛 cos∝𝑛
= (2.3)
∆𝐿𝑛 ∆𝐿𝑛

Untuk keseimbangan blok percobaan ABC, momen gaya dorong


terhadap titik O adalah sama dengan momen gaya perlawanan
terhadap titik O, atau
𝑛=𝑝 𝑛=𝑝
1 𝑊𝑛 cos 𝛼𝑛
∑ 𝑊𝑛 𝑟 sin 𝛼𝑛 = ∑ (𝑐+ tan ∅ ) ∆𝐿𝑛 (𝑟)
𝑛=1 𝑛=1
𝐹𝑠 ∆𝐿𝑛

Atau

𝑛= 𝑝
∑𝑛=1 (𝑐 ∆𝐿𝑛 + 𝑊𝑛 cos 𝛼𝑛 .tan ∅)
𝐹𝑠 = 𝑛=𝑝
∑𝑛=1 𝑊𝑛 sin 𝛼𝑛
(2.4)

(𝑏𝑛 )
Catatan : ∆𝐿𝑛 dalam persamaan (2.4) diperkirakan sama dengan
cos 𝛼𝑛

Dengan 𝑏𝑛 = lebar potongan nomor n

Gambar 2.16 Permukaan Bidang yang Dicoba

Gambar 2.17 Gaya yang Bekerja Pada Irisan Nomor n


Harga αn adalah positif jika lereng bidang longsor yang merupakan
sisi bawah dari irisan, berada pada kwadran yang sama dengan lereng muka
tanah yang merupakan sisi atas dari irisan. Untuk mendapatkan angka
keamanan yang minimum yaitu angka keamanan untuk lingkaran kritis,
beberapa percobaan dibuat dengan cara mengubah letak pusat lingkaran
yang dicoba. Metode ini umumnya dikenal sebagai Metode Irisan
Sederhana (Ordinary Method of Slice) (Braja M. Das, 2002).

Untuk mudahnya, suatu lereng dalam tanah yang homogen


ditunjukkan pada Gambar (2.7) dan (2.8). Akan tetapi metode irisan dapat
dikembangkan untuk lereng yang berlapis-lapis seperti pada Gambar (2.9).
Prosedur umum dari analisis stabilitas tanah adalah sama. Tetapi ada
beberapa hal yang perlu diingat. Selama menggunakan persamaan (2.4)
untuk menghitung angka keamanan, harga-harga φ dan c tidak akan sama
untuk semua potongan. Sebagai contoh, untuk potongan no. 3 (Gambar 2.6)
kita harus menggunakan sudut geser φ = φ3 dan kohesi c = c3; serupa untuk
potongan no. 2, φ = φ2 dan c = c2 (Braja M. Das, 2002).

Gambar 2.18 Analisis Stabilitas dengan Metode Irisan Untuk Tanah yang
Berlapis

2. Fellenius

Cara ini dapat dipakai pada lereng-lereng dengan kondisi isotropis,


non isotropis dan berlapis-lapis. Massa tanah yang bergerak diandaikan
terdiri atas beberapa elemen vertikal. Lebar elemen dapat diambil tidak
sama dan sedemikian sehingga lengkung busur di dasar elemen dapat
dianggap garis lurus (SKBI-2.3.06, 1987).

Berat ”total” tanah/batuan pada suatu elemen (Wt) temasuk beban


luar yang bekerja pada permukaan lereng (Gambar 2.7 dan 2.8). Wt
diuraikan dalam komponen tegak lurus dan tangensial pada dasar elemen.
Dengan cara ini pengaruh gaya T dan E yang bekeja di samping elemen
diabaikan. Faktor keamanan adalah perbandingan momen penahan longsoran
dengan penyebab longsor. Pada Gambar 2.7 momen tahanan geser pada bidang
longsoran adalah (SKBI-2.3.06, 1987) :

Mpenahan = R . r (2.5)

dimana R adalah gaya geser dan r adalah jari-jari bidang longsoran.


Tahanan geser pada dasar tiap elemen adalah :

𝑊𝑡 cos∝
𝑅 = 𝑆 . 𝑙 = 𝑙 (𝑐 ′ + 𝜎 tan ∅; ) ; 𝜎 = (2.6)
𝑙

Momen penahan yang ada sebesar :

Mpenahan = r ( c’ l + Wt cos σ tan φ’) (2.7)

Komponen tangensial Wt bekerja sebagai penyebab longsoran


menimbulkan momen penyebab :

Mpenyebab = ( Wt sin α ) . r (2.8)

Faktor keamanan dari lereng menjadi :


;
∑(𝑐′ + 𝜎 tan ∅ )
𝐹𝐾 ∑ 𝑊𝑡 sin∝
(2.9)
Gambar 2.19 Sistem Gaya Pada Cara Fellinius

Gambar 2.20 Gaya – Gaya yang Bekerja Pada Potongan Tunggal

3. Bishop
4.

Cara analisis yang dibuat oleh A.W. Bishop (1955)


menggunakan cara elemen dimana gaya yang bekerja pada tiap
elemen ditunjukkan seperti pada Gambar 2.9. Persyaratan
keseimbangan yang diterapkan pada elemen yang membentuk lereng
tersebut. Faktor keamanan terhadap keruntuhan didefinisikan
sebagai perbandingan kekuatan geser maksimum yang dimiliki tanah
di bidang longsoran (Stersedia) dengan tahanan geser yang diperlukan
untuk keseimbangan (Sperlu) (SKBI-2.3.06, 1987).

𝑆𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎
𝐹𝐾 =
𝑆𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢

Bila kekuatan geser tanah adalah :


𝑆𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 = c' + (σ − µ ) tanφ ' = c'+σ ' tanφ ' ,

maka tahanan geser yang diperlukan untuk keseimbangan adalah :

!
𝑆𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 = (c' + (σ − µ ) tanφ ') (2.10)
𝐹𝐾

Faktor keamanan dihitung berdasar rumus :


1
∑ (𝑐 ; 𝑙+(𝑊− 𝜇𝑙) tan ∅′ )
𝑚
𝐹𝐾 = (2.11)
𝑊 sin 𝛼

Cara penyelesaian merupakan coba ulang (trial dan error)


harga faktor keamanan FK di ruas kiri persamaan (2.11), dengan
menggunakan Gambar 2.9 untuk mempercepat perhitungan (SKBI-
2.3.06, 1987).

Faktor keamanan menurut cara ini menjadi tidak sesuai


dengan kenyataan, terlalu besar, bila sudut negatif (-) di lereng paling
bawah mendekati 30˚ (Gambar 2.9). Kondisi ini bisa timbul bila
lingkaran longsor sangat dalam atau pusat rotasi yang diandaikan
berada dekat puncak lereng. Faktor keamanan yang diperoleh dengan
cara ini lebih besar daripada dengan cara Fellenius (SKBI-2.3.06,
1987).

Gambar 2.21 Suatu Gaya Pada Suatu Elemen Menurut Bishop


4. Janbu

Janbu (1954) mengembangkan suatu cara analisis stabilitas


lereng yang dapat diterapkan untuk semua bidang longsoran.
Besaran-besaran yang akan dicari adalah : F (yang berhubungan
dengan T, N, E dan S). Berdasarkan keseimbangan gaya vertikal
(SKBI-2.3.06, 1987) :

N cosθ = W + ∆S − T sinθ

N = (W + ∆S )secθ − T tanθ

Jumlah gaya-gaya tegak lurus maupun tangensial terhadap bidang


dasar irisan adalah nol. Sehingga persamaannya adalah (SKBI-
2.3.06, 1987) :

𝑑𝐸 𝑑
𝑆=𝑦 − (𝐸𝑦𝑡 ) (2.12)
𝑑𝑋 𝑑𝑋

∆𝑁 = (∆𝑊 − ∆𝑆)𝑐𝑜𝑎 𝜃 + ∆𝐸 sin 𝜃 (2.13)

∆𝑇 = (∆W + ∆S) sin 𝜃 − ∆𝐸 cos 𝜃 (2.14)

Kriteria longsor Mohr-Coulomb adalah :

𝑐 ∆𝑥 sec 𝜃+ ∆𝑁 (tan 𝜃)
∆𝑇 = (2.15)
𝐹

Dengan menggabungkan persamaan (2.12), (2.13), (2.14) dan memisalkan x = 0,

𝑑𝐸 𝑡𝑎𝑛∅ 𝑑𝑦 𝑑𝑆 𝑡𝑎𝑛∅ 𝑑𝑦 𝑐 𝑑𝑦 2 𝑑𝑊 tan ∅ 𝑑𝑦


𝑑𝑋
(!+ 𝐹 𝑑𝑥
)+ 𝑑𝑋
( 𝐹
− 𝑑𝑥
) = − 𝐹 [1 + (𝑑𝑥 ) ] + 𝑑𝑥
( 𝐹
+ 𝑑𝑥
) (2.16)

Persamaan (2.13) dan (2.16) merupakan dua persamaan diferensial, yang


digunakan untuk menentukan 𝐸, 𝑆, 𝑦𝑡 . Untuk melengkapi sistem persamaan
tersebut, dimisalkan

𝑆 = 𝜆𝑓 (𝑥)𝐸

Dimana f(x) adalah suatu fungsi dari x, dan λ = konstanta. 𝜆 dan F dapat
dipecahkan dengan persamaan (2.15) dan (2.16). F(x) dimisalkan linier
dengan menentukan suatu angka tertentu dapat ditentukan harga λ yang
memenuhi persamaan-persamaan tersebut (SKBI-2.3.06,1987).

2.7 Analisa Stabilitas Lereng Menggunakan Software GeoStudio 2007


Selain perhitungan manual, stabilitas lereng dapat juga dianalisis
menggunakan software komputer. Ada beberapa macam software yang telah
dikembangkan. Tapi untuk penelitian ini akan menggunakan software geo slope
office. Geo slope adalah suatu software yang membantu insinyur dalam
menyelesaikan suatu permasalahan terutama yang berhubungan dengan tanah.
Geo slope terdiri dari beberapa bagian sub program yang kesemuanya dapat
diintegrasikan satu dengan yang lainnya jika dibutuhkan.
Dalam analisa stabilitas lereng pada penelitian ini yang ditinjau hanya
menggunakan satu aplikasi geo slope yakni slope/W.
Slope/W merupakan produk software yang menggunakan batas
keseimbangan untuk menghitung faktor keamanan tanah dan lereng. Menganalisa
stabilitas lereng, menggunakan batas keseimbangan, serta mempunyai kemampuan
untuk menganalisis contoh tanah yang berbeda jenis dan tipe, longsor dan kondisi
tekanan air pori dalam tanah yang berubah menggunakan bagian besar contoh
tanah. Slope/w merupakan sub program dari geo-slope yang dapat diintegrasikan
dengan sub program lainnya, baik vadose/w, seep/w, quake/w dan sigma/w.
Parameter masukan data analisa dapat ditentukan atau secara probabilitas.
Beberapa permasalahan yang dapat diselesaikan dan kemampuan dari slope/w :
1. Menghitung faktor keamanan lereng yang bertanah heterogen di atas tanah
keras (bedrock), dengan lapisan lempung. Di ujung lereng (lembah) merupakan
genangan air, air tanah mengalir sampai ujung lereng dan daerah retakan
berkembang pada puncak akibat gaya tegangan pada lereng.
2. Slope/w dapat menghitung faktor keamanan dari lereng dengan beban luar dan
perkuatan lereng dengan angker atau perkuatan dengan geo-textile.
3. Kondisi tekanan air pori dalam tanah yang kompleks, kondisi air pori
dapat dibedakan dalam beberapa cara, dapat semudah seperti garis piezometrik
atau analisa elemen batas dari tekanan pori. Tekanan air pori pada tiap dasar
potongan lereng ditemukan dari data titik cara interpolasi spline.
4. Menganalisa stabilitas dengan tekanan batas elemen. Memasukkan data
tekanan lereng dari analisa batas stabilitas elemen sigma/w ke slope/w untuk
mempermudah. Keuntungan lain yaitu dapat menghitung faktor keamanan tiap
potongan, sebaik perhitungan faktor keamanan seluruh longsoran.

Pada dasarnya slope/W terdiri dari tiga bagian pengerjaan (langkah kerja)
yaitu:
1. Define: pendefinisian model
a. Mengatur batas area yang akan digunakan.
b. Mengatur skala dan satuan yang digunakan untuk mempermudah pengerjaan.
c. Memasukkan data material (data-data tanah).
d. Mensketsa permasalahan (lereng) dengan menggunakan ikon garis lurus,
lengkungan atau lingkaran.
e. Menentukan bagian-bagian gambar dengan mendefinisikan kembali setelah
data terinput.
2. Solve: nilai dari hasil perhitungan, dengan menekan start pada kotak dialog.
3. Contour: memperlihatkan gambaran hasil perhitungan
a. Memperlihatkan sketsa hasil stabilitas tanah menggunakan metode
bishop, ordinary dan janbu.
b. Terdapat icon-icon untuk memunculkan hasil seperti potongan dengan
diagram free body dan force polygon.
c. Memperlihatkan grafik hubungan antara jarak dan kekuatan, dan yang
lainnya.
d. Memperoleh data slide mass.

Tampilan Program Slope/W


Tampilan program Slope/W terdiri atas bagian-bagian Menu dan Toolbar.
Gambar 2.22 Tampilan Program GeoStudio 2007

Menu Bar
Menu bar (baris menu) merupakan salah satu elemen tampilan program. Baris
menu terletak pada bagian atas tampilan program . Menu bar terdiri dari perintah-
perintah yang dikelompokan dalam kriteria operasi yang dihasilkan, dan dapat
digunakan selama bekerja. Menu bar terdiri dari sepuluh menu, yaitu : file, edit,
set, view, keyin, draw, sketch, modify, tools, dan help.
Tahapan Analisis dengan Program Slope/W
1. Page
Terlebih dahulu harus menentukan ukuran area kerja yang bertujuan agar
penggambaran lereng pada program yang direncanakan sesuai dengan area
kerja yang ada (tidak mengalami kekurangan luasan area kerja). Dalam page
harus ditentukan lebar dan tingginya (satuan dalam Inchi atau mm).
Proses dalam menentukan ukuran page:
a. Pilih pada menu bar, klik set
b. Pilih page, lalu klik
c. Akan Muncul tabel page,
Isi lebar dan panjang (luasan) area kerja yang diinginkan dan juga unitnya
(dalam satuan inchi dan mm)
d. Lalu OK
2. Scale
Scale bertujuan untuk mengatur skala yang diinginkan pada hasil output-
nya. Dalam scale harus tentukan skala yang diiginkan dan Engineering
Units (dalam satuan inchi, feet, mm, dan meter).
Proses dalam menentukan ukuran scale:
a. Pilih pada menu bar, klik set
b. Pilih scale, lalu klik
c. Akan muncul table scale
Tentukan Engineering Units dan skala yang diinginkan
d. Lalu OK
3. Grid
Grid bertujuan untuk mempermudah perencanaan lereng dalam menggambar di
area kerja karena telah ditentukan jarak antara grid.
Proses dalam menentukan ukuran grid:
a. Pilih pada menu bar, Klik set
b. Pilih grid, lalu klik
c. Akan muncul table grid
Menentukan interval grid (dalam satuan meter), dan aktifkan disp grid dan
snap grid untuk mempermudah pengerjaan.
d. Laku OK
4. Analysis Setting
Analysis setting bertujuan untuk mengatur atau penyetelan sebelum melakukan
analisis pada program, diantaranya pemberian nama project, metode yang akan
dipakai, dan menentukan arah bidang longsor.
Proses dalam menganalisa setting, yaitu:
a. Pilih pada menu bar, klik KeyIn
b. Pilih analysis setting, lalu Klik
c. Akan muncul table analysis setting, berisikan project ID, method, PWF, dan
convergement.
d. Klik project ID, yaitu memberi judul pekerjaan
e. Klik method, yaitu menentukan metode pengerjaan yang akan dipakai
f. Klik Control, yaitu menentukan arah bidang longsor yang direncanakan
g. Lalu OK

Soil Properties
Soil properties bertujuan untuk menentukan lapisan tanah yang
direncanakan untuk melalukan analisis dan memberikan parameter yang ada
sesuai lapisan tanahnya.
Proses dalam mengatur soil properties, yaitu:
a. Pilih pada menu bar, klik KeyIn
b. Pilih soil properties, lalu klik
c. Akan muncul table soil properties
Isi deskripsi tanah perlapisan, dan juga parameter pada setiap lapisan tanah
(unit weight, phi, dan cohesion)
d. Lalu OK
6. Sketch
Sketch bertujuan untuk menggambar atau mendesain lereng sesuai perencanaan
pada area kerja yang tersedia.
Proses dalam mendesain, yaitu:
a. Pilih pada menu bar, klik draw
b. Pilih line, lalu klik
Lakukan pendisainan lereng sesuai dalam perencanaan.
7. Sketch Lapisan Tanah
Bertujuan agar penampang lereng diberikan lapisan-lapisan tanah sesuai
dengan perencanaan.
Proses dalam mendesain lapisan tanah pada lereng, yaitu:
a. Pilih pada menu bar, klik draw
b. Klik lines, tentukan lapisan tanah pada penampang lereng sesuai
perencanaan.
c. Klik done
8. Slip Surface Radius
Bertujuan menentukan jarak radius yang diinginkan.
Proses dalam menentukan jarak radius, yaitu :
a. Pilih pada menu bar, klik draw
b. Klik slip surface
c. Pilih radius, tentukan panjang radius yang diinginkan
9. Letak Grid Pusat Koordinat Radius
Bertujuan untuk menentukan letak pusat koordinat.
Proses dalam menentukan letak titik pusat koordinat, yaitu:
a. Pilih pada menu bar, klik draw
b. Klik slip surface, lalu pilih grid
c. Plot titik koordinatnya di daerah luar lereng
10. Analysis
Bertujuan untuk mengecek data error maupun hasil yang didapat yaitu nilai
FK- nya dan juga bidang longsornya.
Proses menganalisis:
a. Pilih pada menu bar, klik tools
b. Pilih verify data (mengecek data yang error)
c. Pilih solve (untuk menentukan nilai FK)
d. Pilih contour (untuk mengetahui bidang longsornya)
5.
2.7