Anda di halaman 1dari 9

PROGRAM HAJI

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ibadah haji adalah rukun islam kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa
yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang islam yang memenuhi syarat istitaah, baik
secara finansial, fisik, maupun mental dan merupakan ibadah yang hanya wajib dilakukan
sekali seumur hidup. Ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum
muslim sedunia dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa
tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (Bulan
Dzulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah umroh yang bisa dilaksanakan sewaktu waktu.
Dalam penyelegraaannya, ibadah haji tidak saja hanya merupakan kewajiban
agama yang merupakan tanggung jawab individual ataupun masyarakat muslim,
melainkan merupakan tugas nasional dan menyangkut martabat serta nama baik bangsa
oleh karena itu kegiatan penyelenggaran ibadah haji menjadi tanggung jawab pemerintah.
Namun partisipasi masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem dan
manajemen penyelenggaraan ibadah haji.
Untuk menunjang pelaksanaan pemberangkatan dari tanah air dan pelaksanaan
ibadah haji di Arab Saudi, pemerintah bahkan telah membuat berbagai macam kebijakan
dan aturan petunjuk operasional pelaksanaan pengurusan jemaah di daerah-daerah.
Undang-undang No. 13/2008 bahkan mengatur secara tegas manajemen pelayanan dan
administrasi pelaksanaan ibadah haji di tanah air.

2. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas dapat diambil suatu perumusan masalah,
yaitu :
1) Apa yang dimaksud dengan haji dan umroh, syarat wajib, sejarah dan
prosesnya ?
2) Bagaimana penyelenggaraan dan pelayanan ibadah haji dan umroh di
Indonesia?

3. Tujuan

1
1. Mengetahui dan mengerti apa yang dimaksud dengan haji dan umroh, syarat wajib,
sejarah serta prosesnya.
2. Menggambarkan penyelenggaraan dan pelayanan ibadah haji dan umroh di
Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN, LANDASAN TEORI HAJI
DAN PENYELENGGRAAAN HAJI

1. Pengertian Haji
Secara terminologi haji berasal dari bahasa arab yang mengandung arti kata
Qashd, yakni tujuan , maksud, dan menyengaja, berarti menyengaja atau menuju dan
mengnjungi. Menurut istilah syara’ , haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat
tertentu untuk melaksanakan amalan – amalan ibadah tertentu pula.

2
Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum
muslim sedunia yang mampu secara material, fisik, dan kelimuan dengan berkunjung
dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu
yang dikenal sebagai musim haji (Bulan Dzulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah
umroh yang bisa dilaksankan sewaktu-waktu.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa haji adalah mengunjungi
Baitullah atau ka’bah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu secara
material, fisik, maupun keilmuan, dilaksanakan pada bulan Dzulhijah di Tahun Hijriyah
dan merupakan rukun islam yang kelima.
Dalam pelaksanaannya haji dibagi menjadi tiga macam, yaitu : Haji Qiran, Haji
Ifrad, Haji Tamathu.
Haji Qiran yaitu berihram untuk umroh dan haji sekaligus dan terus berihram atau
tidak tahalul kecuali pada hari Nahr yaitu tanggal 10 Dzulhijah. Atau berihram untuk
umroh terlebih dahulu, kemudian sebelum melakukan thawaf umroh maka berniat untuk
haji.
Haji ifrad yaitu seseorang yang berihram untuk melaksanakan ibadah haji saja, dia
tidak bertahalul dari ihramnya sampai dia selesai melaksanakan manasik hajinya pada
tanggal 10 Dzulhijah.
Haji Tamathu yaitu seseorang berihram untuk melaksanakan umroh pada
bulan haji kemudian dia bertahallul dari ihramnya dengan memotong pendek rambutnya,
lalu dia tetap dalam kondisi halal sampai datang hari Tarawiyah yaitu tanggal 8 Dzulhijah
maka dia berihram untuk melaksanakan haji.

2. Sejarah Haji Dan Peran Pelayanan Haji Di Indonesia


Sejarah ibadah haji tidak terlepas dari kota-kota yang menjadi pusat
pelaksanaan haji. Mekkah yang merupakan pusat kegiatan ibadah haji adalah tempat Nabi
Muhamad SAW dilahirkan. Termasuk dibesarkannya Nabi Ismail A. S oleh kedua orang
tuanya yaitu Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar yang menjadi awal mula sejarah haji
tersebut.
Peranan negara dalam penyelenggaraan haji bertujuan “mengontrol dan
mengawasi” .Terdapat ketakutan pemerintah terhadap peranan ibadah haji dalam
mewujudkan persatuan muslim seluruh dunia. Peranan pemerintah itu kemudian
mengalami perubahan yang mendasar ketika Indonesia merdeka. Peranan pemerintah
tidak lagi bertujuan “mengontrol dan mengawasi”, tetapi lebih diarahkan kepada
melayani dan melindungi. Dalam implementasi, bentuk pelayanan dan perlindungan

3
dalam soal keterlibatan pihak swasta dalam penyelenggaraan ibadah haji dari berbagai
aspeknya berupa regulasi penyelenggaraan haji, ongkos naik haji, pemondokan,
transportasi, penentuan tarif penerbangan, perfesionalisasi petugas haji dan katering
jemaah haji.
Kompleksitas permasalahan dalam penyelenggaraan haji dari tahun ke tahun,
menurut lahirnya sistem manajemen yang mampu mengakses segenap fungsi-fungsi
manajerial seperti, perencanaan, pengorganisasian, pengoordinasian, serta adanya
pengawasan guna mencapai penyelenggaraan haji yang aman, lancar, tertib, teratur dan
ekonomis. Secara singkat dapat dikatakan manajemen haji diperlukan untuk terciptanya
penyelenggaraan haji yang efektif dan rasional. Secara garis besar, manajemen haji itu
dihadapkan pada enam tugas pokok yakni, :
1) Membangun hubungan kenegaraan, dalam ranah diplomatik dengan negara
tujuan haji, yakni Saudi Arabia.
2) Menyusun rencana dan program agar berada dalam bingkai tujuan dan misi
pelaksanaan haji secara keseluruhan.
3) Bertanggung jawab atas keseluruhan aspek penyelenggaraan haji.
4) Menyelenggarakan operasional haji dengan aman.
5) Mengakomodasi perbedaan keagamaan yang dianut masyarakat dan besarnya
jumlah jemaah haji dengan porsi yang terbatas.
6) Pelestarian nilai-nilai dalam ikatannya dengan hubungan sosial
kemasyarakatan.

Di Indonesia, transisi terhadap kondisi manajemen publik ini mulai dilakukan


setelah masa pemerintahan paskah orde baru. Beberapa departemen pemerintahan
melakukan proses reformasi birokrasi dengan menggunakan atau menerapkan paradigma
baru prinsip manajemen dan administrasi publiknya, termasuk pelayanan publik.
Reformasi biroksasi yang dilakukan oleh departemen-departemen pemerintah di
Indonesia telah menunjukan beberapa perubahan yang signifikan, walaupun banyak
hambatan dalam prosesnya. Meskipun menyisakan banyak persoalan, reformasi borokrasi
paling tidak merupakan pemicu awal untuk menata manajemen dan administrasi publik
milik negara yang kala orde baru terkesan lamban dan tidak profesional melayani
kepentingan publik. Meskipun dengan susah payah merubah mindset para
penyelenggaraan, terutama para pegawai negeri yang senior, namun sedikit perbaikan
mulai terasa.
Urusan haji di Indonesia dipercayakan kepada Kementrian Agama (Kemenag)
sesuai dengan amanat undang-undang. Kementrian ini bertugas sebagai pelaksana
sekaligus pengawas pelaksanaan ibadah haji di tanah air. Kemenag bertindak sebagai
4
pemain sekaligus wasit “Controller” dalam persoalan ini.sehingga fungsi manajemen
yang harus dilakukan oleh kementrian ini begitu kompleks. Pemerintah bersama dengan
DPR telah menetapkan undang-undang pelaksanaan haji sebagai landasan yuids formal
yang dipakai sebagai bahan rujukan semua pihak, terutama Kemenag yang menjadi
“person in charge” atau pelaksana utama dalam urusan ini. Undang-undang No. 17/1999
tentang penyelenggaraan haji diperbaiki sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan perubahan
reformasi sosial politik di tanah air yakni UU No. 13/2008.
Pembaharuan ini dilakukan seiring dengan beberapa aspek yang perlu diperjelas
dan diurusi. Undang-undang inilah yang dijadikan sebagai dasar pelaksanaan manajemen
pelayanan dan administrasi publik haji yang akan diurusi. Profesionalisme
penyelenggaraan dan pelayanan menjadi kunci utama untuk memenuhi azas dan tujuan
penyelenggaraan haji ini sendiri, jika kita menginginkan manajemen dan administrasi
publik yang handal dan berhasil guna.
Pada masa orde baru pemerintahan memilki hak penuh atas penyelenggaraan
ibadah haji yang terpusat di Departemen Agama dan Direktorat Jenderal urusan haji.
Upaya peningkatan yang dilakukan pada masa itu yakni, :
1) Penyempurnaan pola pembinaan dan bimbingan jemaah haji dengan
pengadaan pelatihan calon jemaah haji sesuai kebutuhan.
2) Peningkatan dan keikutsertaan ormas islam terutama ikatan persaudaraan haji
Indonesia (IPHI) dalam pembinaan dan bimbingan calon jemaah haji.
3) Penyempurnaan materi pembinaan dan bimbingan termasuk pendalaman
kondisi obyektif Arab Saudi pada musim haji.
4) Pengusahaan adanya fatwa MUI tentang ibadah haji sekali seumur hidup.serta
ibadah umroh di bulan Ramadhan.

3. Proses Pelaksanaan Dan Penyelenggaraan Ibadah Haji


Setiap kegiatan selalu membutuhkan proses, begitupun dengan ibadah haji
maupun penyelenggaraan. Mekkah, Arab Saudi adalah tuan rumah dan pribumi sebagai
tempat pelaksanaan haji. Dengan kondisi dan posisinya Mekkah mempunyai otoritas dan
tanggung jawab penuh atas pelaksanaan ibadah haji tersebut.
Indonesia dalam prosesnya sebagai penyelenggaraan ibadah haji mempunyai
mekanisme dalam pengaturan hal tersebut. Berupa pengeluaran regulasi,
pengorganisasian kuota jemaah, pendaftaran,, pengelola transportasi, pemondokan, sistem
informasi dan dokumentasi, pelayanan kesehatan, mutu pelayanan, sistem Monitoring,
dan evaluasi hingga langkah-langkah nyata perbaikan. Sehingga proses ibadah haji adalah
sebuah sistem peribadatan yang teratur antara lain, :

5
Sebelum tanggal 8 Dzulhijah, umat islam dari seluruh dunia mulai berbondong
bondong untuk melaksanakan tawaf haji di masjidil Haram, Mekkah. Para jemaah haji
bermalam di mina. Pada pagi harinya tanggal 8 Dzulhijah, semua umat islam memakai
pakaian iham, (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), kemudian berniat
haji, dan membaca talbiyah. Jemaah kemudian berangkat menuju Mina, sehingga malam
harinya semua jemaah haji harus bermalam di Mina.
Kemudian pada tanggal 9 Dzulhihjah, pagi harinya semua jemaah haji pergi ke
Arafah,. Kemudian jemaah haji melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan
berdo’a di padang luas hingga magrib datang. Ketika malam datang,jemaah haji segera
menuju dan bermalam di Musdalifa. Dan pada tanggal 10 Dzulhijah, setelah pagi di
Musdalifa, jemah haji segera menuju Mina kembali untuk melaksanakan ibadah Jumroh
Aqobah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolis
mengusir setan. Kemudian dilanjutkan dengan mencukur rambut. Setelah mencukur
rambut atau sebagian rambut, jemah haji bisa tawaf haji (ula dan wustha).
Dan selanjutnya pada tanggal 11 Dzulhijah, para jemaah melempar jumroh
sambungan (ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga. Sama seperti pada tanggal
11 Dzulhijah, tanggal 12 Dzulhijah, melempar jumroh sambungan (ula) di tugu pertama,
tugu kedua dan tugu ketiga. Sebelum pulang ke negara masing-masing, jemaah
melaksanakan thawaf wada (thawaf perpisahan)
Syarat-syarat syahnya haji ada dua, yaitu : yang berkaitan dengan keislaman
seseorang dan waktu pelaksanaannya. Haji dianggap sah apabila dilakukan seseorang
muslim, walaupun belum dewasa. Seseorang anak yang mumayyiz hendaknya meniatkan
ihram haji atas namanya sendiri. Tetapi apabila ia masih terlalu kecil, belum mumayyiz,
maka walinyalah yang meniatkan untuknya, lalu diajak bersama-sama mengerjakan apa
yang harus dikerjakan dalam haji.
Adapun syarat kedua berkaitan dengan sahnya ibadah haji, ialah waktu
pelaksanaannya. Yaitu dimulai bulan Syawal, Dzulhijah, dan sembilan hari pertama di
bulan Dzulhijah sampai terbit fajar hari ke sepuluh, atau yang disebut juga yaum An Nahr.
Para Fuqoha telah sepakat bahwa yang mewaibkan kaum muslimin untuk
melaksanakan ibadah haji adalah :
1) Beragama islam
2) Baliqh
3) Berakal
4) Merdeka
5) Mampu

6
Orang –orang yang tidak memenuhi persyaratan tersebut tidak wajib melakukan
ibadah haji, sebab syarat-syarat itu merupakan syarat taklif pada ibadah apapun tidak
terkecuali ibadah haji.
Orang non muslim tidak sah dalam melaksanakan haji atau umroh jika dia
berkunjung ke tanah suci bahkan mengikuti ibadah haji atau umroh seperti thawaf dan
sa’i maka perjalan haji atau umrohnya hanya sebatas jalan-jalan atau rekreasi.
Ukuran baliqh (dewasa) adalah 9 tahun untuk anak perempuan dan sekitar 15
tahun untuk anak laki-laki. Atau sebagaian mengatakan rata-rata umur 15 tahun, baik
untuk anak perempuan maupun anak laki-laki. Seseorang yang belum mencapai usia
baliqh tidak memilki kewajiban melaksanakan ibadah haji dan umroh. Bila dia sudah
dewasa dan memiliki kemampuan materi dan non materi, maka wajib mengulangi ibadah
haji dan umroh. Kemudian berakal sehat adalah tidak gila tidak memiliki gangguan jiwa.

4. Rukun - Rukun Haji


Yang dimaksud dengan rukun haji adalah prosesi kegiatan yang harus dilakukan
dalam ibadah haji, dan tidak dikerjakan hajinya tidak sah. Adapun rukun haji adalah
sebagai berikut :
1) Ihram
2) Tawaf ibadah
3) Wukuf
4) Sa’i
5) Tahallul
6) Tertib

Begitu halnya dengan umroh, rukun tersebut harus dilaksanakan kecuali wukuf.
Adapun hal-hal yang wajib, yakni yang apabila tidak dikerjakan dapat dan harus diganti
dengan dan ada enam :
1) Ihram dari miqat (tempat yang ditentukan untuk memulai haji). Maka barabg
siapa melampaui miqat tanpa berihrom diwajibkan membayar dam (dendam)
seekor domba.
2) Melempar jumroh. Barang siapa tidak melakukannya, diwajibkan membayar
dam, seekor domba.
3) Meneruskan wukuf di Arafah sampai telah matahari terbenam
4) Menginap (mabit) di Musdalifah
5) Menginap (mabit) di Mina
6) Thawaf wada (Thawaf perpisahan sebelum meninggalkan Mekkah).

Jika salah satu rukun tersebut diabaikan, maka jelas hajinya tidak akan sah atau
sempurna. Menurut suatu pendapat apabila jemaah haji yang meninggalkan keempat

7
rukun yang terakhir yaitu wukuf, wukuf di Arafah, menginap di Musdhalifah, menginap
di Mina dan thawaf wada maka wajib atasnya untuk membayar dam, namun ada yang
menyatakan bahwa dam tersebut hanya dianjurkan.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Penyelenggaraan ibadah haji bertujuan untuk memberikan pembinaan,
pelayanan dan perlindungan yang sebaik-baiknya melalui sistem dan manajemen
penyelenggaraan yang terpadu agar pelaksanaan ibadah haji dapat berjalan dengan aman,
tertib, lancar, dan nyaman, sesuai dengan tuntunan agama serta jemaah haji dapat
melaksanakan ibadah haji secara mandiri sehingga diperoleh haji yang mabrur.

2. Saran
Untuk calon jemaah haji sebelum ke tanah suci sebaiknya memeriksakan
kesehatan secara rutin ke puskesmas, Rumah Sakit, atau Pos Pelayanan Kesehatan
terdekat atau kepada pelayanan kesehatan yang sudah ditujukan. Sehingga apabila
terdapat gejala kelainan akan dapat segera diatasi.

DAFTAR PUSTAKA

8
9