Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH PERIODONSIA

DIABETES MELITUS DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENYAKIT


PERIODONTITIS

Disusun Oleh :

Christabella Naomi S(04031281722023) Humaira Fitriana (04031281722028)

Alifia Salsabila (04031281722024) Vira Reffiani (04031281722029)

Maghfiera Ihzani Maulani (04031281722025) Sayidati Mutiah (04031281722030)

Alpardhannisa Muta’ali R A(04031281722026) Yulia Chirstianti (04031281722031)

Ratu Azizah Nurul Putri (04031281722027) Annisa Handini (04031281722032)

Dosen Pengampu :

drg. Sulistiawati, Sp. Perio

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2018
Penyakit Diabetes Mellitus, biasa disebut dengan penyakit gula atau kencing manis, merupakan
penyakit kronis yang akan diderita pasien seumur hidupnya. Diabetes Mellitus merupakan
penyakit gangguan metabolisme karbohidrat karena defisiensi insulin yang ditandai dengan
meningkatnya kadar gula dalam darah dan adanya gula dalam urine (glukosuria). Diabetes
melitus (DM) adalah salah satu kelainan metabolik paling umum berupa kadar gula darah yang
tinggi. Gejala umum adalah poliuria, polidipsia, polifagia, dan berat badan turun. Prevalensi
diabetes pada kelompok usia 45-54 tahun untuk daerah perkotaan di Indonesia menduduki
peringkat ke-2 yaitu 14,7%.2 Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan penyandang
diabetes di Indonesia pada tahun 2030 akan mencapai 21,3 juta jiwa. Hal ini akan menjadikan
Indonesia menduduki peringkat ke-4 dalam hal jumlah penderita diabetes setelah Amerika
Serikat, Cina, dan India.

Berdasarkan patofisiologinya, DM dapat diklasifi kasikan menjadi 2 tipe utama. Diabetes tipe I
disebabkan oleh destruksi autoimun sel β pankreas yang berfungsi untuk memproduksi insulin.
Diabetes tipe II disebabkan oleh resistensi sel terhadap insulin. Pada diabetes tipe ini, pasien
tetap dapat memproduksi insulin, meskipun produksinya akan berangsur berkurang. Hampir 80%
prevalensi diabetes melitus adalah tipe II.

Penyakit periodontal adalah suatu keadaan peradangan dan degenerasi dari jaringan lunak dan
tulang penyangga gigi dan bersifat kronis, kumulatif dan progresif. Etiology penyakit ini sangat
kompleks, yaitu faktor lokal dan faktor sistemik. Penyebab umumnya adalah faktor lokal, namun
akan menjadi lebih parah dengan keadaan sistemik yang kurang menguntungkan antara lain
Diabetes Mellitus.

A. Diabetes dan Penyakit Periodontitis

Diabetes adalah faktor resiko untuk penyakit periodontal. Diabetes sering berhubungan dengan
meningkatnya peradangan gingiva sebagai respon kepada bakteri plak, juga berhubungan dengan
level pada kontrol glikemik. Jika seseorang sering kontrol diabetes, ia punya derajat yang sama
pada gingiva individu non diabetes. Dan yang kurang dalam hal kontrol diabetes, akan
mempunyai peningkatan yang signifikan pada peradangan gingiva.

Prevalensi periodontitis lebih tinggi pada penderita diabetes adolesen dan dewasa muda. Di
populasi yang besar, diabetes tipe 2 menunjukkan faktor resiko yang signifikan pada penyakit
periodontitis. Kerusakan jaringan periodontal lebih menyerang pasien diabetes dengan tinggi nya
kehilangan tulang dan perlekatan. Sekitar 3524 dewasa diatas 18 tahun mengalami hubungan yag
signifikan antara periodontitis dengan diabetes melitus. Tidak hanya berpengaruh pada
prevalensi dan tingkat keparahan, namun juga pada peningkatan penyakit itu.

Tapi tidak semua yang terkena diabetes memiliki penyakit periodontitis . tergantung pada kontrol
glikemik nya. Pasien periodontitis akan menerima perawatan berupa scalling dan root planning
untuk terapi periodontal nya. Selain itu, peningkatan periodontitis dipengaruhi oleh faktor lain
sperti merokok dan plak yang bersarang pada gigi.

B. Mekanisme Pengaruh Diabetes Melitus pada Periodontium

Penyakit diabetes mellitus (DM) dapat memengaruhi jaringan periodontium. Hal Ini terlihat
dengan adanya perubahan pada mikroba subgingiva, level glukosa CGF, vaskularisasi jaringan
periodontal, respon host, dan metabolisme kolagen.

Pada penderita DM, rentan terjadi inflamasi gingiva karena plak bakteri berkoloni di gingiva.
Tingkat glukosa CGF yang meningkat dapat menurukan periodontal wound healing. Orang yang
menderita diabetes memiliki kemungkinan bone loss dan attachment loss lebih tinggi karena
berkurangnya kemotakis fibroblas ligamen periodontal ke PDGF di lingkungan yang
hiperglikemi.

Penderita DM memiliki kadar AGE yang lebih tinggi daripada manusia normal. Akibatnya,
terjadi proliferasi arteri otot polos dan vaskularisasi meningkat. Di pembuluh darah kapiler,
terjadi crosslink AGE-modified colagen di basement membran sehingga menginduksi degradasi
normal protein, yang berakibat pada menebalnya basement membrane. AGE modified collagen
di pembuluh darah gingiva mengikat LDL (yang umumnya ada pada penderita DM tipe II). Ini
mengakibatkan atheroma dan menyempitkan vessel lumen. Hal-hal inilah yang mengakibatkan
periodontitis.

DM menyebabkan terjadinya perubahan respon pertahanan host. Orang dengan diabetes tak
terkontrol memiliki jumlah PMN yang lebih tinggi pada crevice gingiva. Sifat adheren PMN
yang rusak dapat meningkatkan destruksi jaringan. Namun, banyak pula orang dengan DM dan
memiliki kadar PMN yang normal karena kontrol glikemiknya baik. Orang dengan DM
umumnya memiliki fenotip monosit atau makrofag yang hiperresponsif karena terstimulasi
antigen bakteri seperti lipoposakarida (LPS). Akibatnya, kadar sitokin proinflammatory dari
monosit meningkat. Namun tidak seluruhnya mempunyai fenotip ini.

Untuk merespon LPS dari P. gingivalis yang bersifat patogen, monosit penderita DM
memproduksi TNF-alpha 24-32 kali lebih banyak daripada monosit non-DM. LPS-stimulated
monosit (PGE2 dan IL-1B) diproduksi empat kali lipat pada penderita DM. Pada penderita
periodontitis, tingkat fluiditas PGE dan IL-1B lebih tinggi daripada nonperiodontitis.

Akumulasi AGE di periodontium menstimulasi masuknya monosit. AGE di jaringan berinteraksi


dengan reseptor RAGE di permukaan monosit yang kemudian memicu migrasi monosit untuk
berbelok ke local site. Interaksi AGE dan RAGE inilah yang menjadi pemicu berubahnya fenotip
monosit. Pada orang dengan kontrol glikemik yang buruk, ada banyak simpanan AGE di
jaringan sehingga jaringan periodontalnya lebih mudah rusak.

Kolagen merupakan komponen utama pada gingiva sekaligus menjadi matriks tulang alveolar.
Bila kondisi kolagen berubah, penyembuhan luka dapat terganggu dan terjadi inisiasi serta
progresi penyakit periodontal. Kolagen pada penderita DM mengalami degradasi. Kolagen
makromolekulnya larut karena terjadi hiperglikemi terus-menerus. Lalu, kolagen berubah
menjadi AGE-modified, crosslink meningkat, dan metabolisme kolagen berubah. Akibatnya,
degradasi kolagen terjadi dengan cepat dan memengaruhi wound healing.

C. Pengaruh Infeksi Periodontal terhadap Diabetes Melitus


Mekanisme pengaruh penyakit periodontal terhadap diabetes baru diketahui belakangan ini Pada
pasien dengan penyakit periodontal sering ditemukan peningkatan kadar proinflammatory
cytokine. Pada pasien diabetes, respons imun berlebih akan lebih meningkatkan lagi produksi
proinfl amatory cytokines. Hal ini menyebabkan peningkatan resistensi terhadap insulin dan
mempersulit kontrol glukosa darah. 4 Beberapa studi juga menunjukkan bahwa pasien
periodontitis, terutama yang jaringan periodontalnya dikolonisasi oleh bakteri gram negatif
seperti P. gingivalis, Tannerella forsynthesis, dan Prevotella intermedia, mempunyai lebih
banyak marker peradangan seperti C-reactive protein (CRP), IL-6, dan fi brinogen dibandingkan
pasien tanpa periodontitis. Peningkatan resistensi insulin dan penurunan kontrol glikemik juga
ditemukan pada pasien periodontitis tersebut.Terapi periodontal akan mereduksi peradangan
lokal, yang diikuti dengan penurunan level C-reactive protein (CRP), IL-6,dan TNF-α serta
kontrol glikemik yang lebih baik. Hal ini membuktikan bahwa kondisi lokal pada jaringan
periodontal sangat mempengaruhi kondisi sistemik.
D. Oral Agents yang Digunakan pada Diabetes

Oral agents :
 Sulfonylureas
merangsang sel β pankreas untuk meningkatkan sekresi insulin. Durasi kerja 12 hingga
24 jam. Sering digunakan pada pasien diabetes tipe 2.
- Generasi pertama : sudah jarang digunakan
- Generasi kedua (glipizide, glyburide, dan glimepiride) : lebih potensial, efek
samping kurang signifikan, dan memiliki interaksi obat yang lebih sedikit.
Sulnylureas dapat mengakibatkan hipoglikemia terutama yang generasi kedua.
 Repaglinide
merangsang sekresi insulin pankreas. Durasi kerja 30 hingga 60 menit. Obat ini
dikonsumsi dengan makanan. Sering digunakan pada pasien diabetes tipe 2.
 Metformin
Mencegah glikogenolisis di hati, meningkatkan serapan jaringan dan pemanfaatan
glukosa, menangkal resistensi insulin pada diabetes. Metformin jarang menyebabkan
hipoglikemia. Sering digunakan pada pasien diabetes tipe 2.
 Troglitazone
Meningkatkan sensitivitas jaringan terhadap insulin, dengan demikian mampu
merangsang pemanfaatan glukosa di otot. Mengurangi kadar glukosa darah dengan
menekan glukoneogenesis di hati. Umumnya tidak menyebabkan hipoglikemia.
 The acarbose inhibitor α-glukosidase
Digunakan bersama makanan, memperlambat pencernaan dan mengambil karbohidrat
dari usus, sehingga menurunkan glukosa postprandial dalam darah. Karena acarbose tidak
diserap, beberapa efek sistemik dan gastrointestinal dapat terlihat. Dapat digunakan oleh
pasien diabetes tipe I dan tipe 2.
E. Manajemen Gigi pada Pasien Diabetes

Pasien yang datang ke klinik gigi dengan temuan sugestif intraoral dari yang sebelumnya tidak
terdiagnosis kondisi diabetes harus dipertanyakan dengan seksama. Pertanyaan harus ditargetkan
untuk memunculkan jelas riwayat polidipsia, poliuria, polifagia, atau penurunan berat badan
baru-baru ini yang tidak dapat dijelaskan. Pasien juga harus ditanya tentang riwayat keluarga
diabetes.

Hilangnya kepadatan dan tulang keropos yang tidak konsisten dengan factor local dapat
mengindikasikan suatu komponen sistemik yang mendasari kondisi periodontal pasien.
Manifestasi lain periodontal dari diabetes yang tidak terdiagnosis adalah jaringan gingiva
hemoragik yang membesar dan multiple periodontal abscesses (dapat dilihat pada gambar). Jika
dokter mencurigai diabetes yang tidak terdiagnosis, evaluasi laboratorium dan rujukan dokter
perlu dilakukan.

Gigi anterior mandibula dari pandangan lingual. Wanita Afrika Amerika berusia enam puluhan tahun dengan kontrol
yang buruk diabetes tipe 2. Jaringan gingiva yang membesar dan hemoragik di beberapa situs.

Pasien diabetes yang diduga tidak terkontrol dengan baik, rujukan ke dokter pasien harus
menyertakan deskripsi temuan intraoral dan garis besar singkat dari kebutuhan perawatan gigi
pasien. Dokter gigi harus meminta pasien untuk evaluasi kontrol glikemik dan manajemen medis
yang sesuai sebelum perawatan gigi elektif.
Pada pasien yang didiagnosis diabetes, penting untuk menetapkan tingkat kontrol glikemik di
awal proses pemeriksaan. Ini bisa dilakukan melalui rujukan dokter atau ulasan rekam medis.
Setelah pasien membawa catatan ini dokter gigi dapat menyediakan praktisi informasi mengenai
pasien secara keseluruhan kontrol glikemik dan fluktuasi glukosa darah normal siang hari. Tes
ini memberikan ukuran glikemik kontrol atas 2 sampai 3 bulan sebelumnya
Pasien dengan diabetes yang terkontrol dengan baik dan tidak ada komplikasi yang signifikan
yang umumnya dapat dikelola dengan cara yang mirip dengan pasien nondiabetes, dengan
pengecualian kebutuhan tanda pantau dan gejala hipoglikemia selama perawatan. Pertimbangan
utama terkait dengan perawatan gigi pasien diabetes termasuk pengurangan stres, modifikasi
diet, rawat inap dibandingkan perawatan rawat jalan, penggunaan antibiotik, perubahan dalam
pengobatan rejimen, dan waktu janji.

Pengurangan stres dan kontrol nyeri yang memadai penting dalam merawat pasien diabetes.
Epinefrin dan sekresi kortisol sering meningkat situasi yang menekan. Kedua hormon ini
meningkat kadar glukosa darah dan mengganggu glikemik kontrol. Upaya untuk meredakan
ketakutan pasien dan meminimalkan ketidaknyamanan itu penting dan mungkin termasuk sedasi
sebelum operasi dan analgesia. Anestesi lokal digunakan bersama dengan sebagian besar
prosedur gigi mungkin mengandung berbagai konsentrasi vasokonstriktor. Penggunaan agen-
agen ini memiliki efek minimal kadar glukosa darah, mungkin karena mereka relatif penyerapan
lambat dari situs lokal dan rendah konsentrasi dan volume kecil yang digunakan. Anestesi
mendalam dengan agen seperti meminimalkan endogen pelepasan epinefrin.
Modifikasi diet pasien diabetes mungkin diperlukan sebagai hasil dari dikompromikan
mengunyah dan menelan yang bisa menemani prosedur gigi yang ekstensif. Namun, bagi mereka
dengan kontrol glikemik yang sangat buruk, komplikasi medis yang parah, dan ekstensif
kebutuhan perawatan yang akan mengubah pola makan dan pengobatan rejimen untuk jangka
waktu yang lama, rawat inap dapat dipertimbangkan. Pasien diabetes dengan infeksi kepala dan
leher yang parah seharusnya dirawat di lingkungan medis terkontrol untuk mencegah
kemungkinan komplikasi yang mengancam jiwa.
Antibiotik tidak diperlukan untuk pengobatan gigi rutin pada sebagian besar pasien diabetes
tetapi dapat dipertimbangkan di hadapan infeksi yang jelas. Antibiotik tambahan terapi juga
dapat dipertimbangkan dalam manajemen penyakit periodontal. Penggunaan antibiotik tetrasiklin
sistemik dalam hubungannya dengan debridement akar mekanis mungkin efek menguntungkan
tidak hanya pada periodonsium tetapi pada kontrol glikemik juga.
Pada waktu yang bersamaan, rekomendasi umum dibuat untuk pasien diabetes untuk memenuhi
janji perawatan gigi mereka di pagi hari. Jika mungkin, yang terbaik adalah merencanakan
perawatan gigi sebelum atau setelah periode aktivitas puncak insulin karena reaksi hipoglikemik
lebih mungkin terjadi ketika tingkat insulin tinggi. Pasien diabetes Tipe 2 mengambil
sulfonylureas beresiko untuk hipoglikemia. Bila mungkin, untuk merencanakan perawatan gigi
untuk menghindari periode aktivitas obat puncak. Metformin dan troglitazone jarang
menyebabkan hipoglikemia.

Jika pasien mengambil insulin, dokter gigi seharusnya menentukan jenis yang tepat yang
digunakan. Onset aktivitas dan waktu aktivitas puncak relatif terhadap terapi gigi yang
direncanakan harus ditentukan. Risiko hipoglikemia paling besar biasanya selama waktu
aktivitas puncak insulin : 30 sampai 90 menit setelah injeksi insulin lispro; 2 hingga 4 jam
setelah injeksi insulin reguler, atau kurang lebih 6 hingga 8 jam setelah injeksi NPH atau Lente
insulin. Faktor utama untuk dipertimbangkan adalah aktivitas puncak insulin yang diambil dan
jumlah glukosa yang diserap dari usus mengikuti makanan terakhir. Kunci yang perlu
dipertimbangkan adalah tentang jumlah dan jenis makanan yang dimakan sehingga cocok
dengan tingkat aktivitas insulin. Ini adalah pertanyaan penting untuk bertanya karena
pengurangan konsumsi makanan normal, jika tidak disertai dengan pengurangan dosis insulin,
dapat menempatkan pasien pada risiko hipoglikemia yang lebih tinggi selama perawatan gigi.
Pastikan untuk merencanakan janji dengan dokter gigi untuk menghindari aktivitas insulin
puncak. Praktisi gigi sebaiknya merekomendasikan pasien diabetes yang melakukannya SBGM
membawa glucometer mereka ke kantor gigi untuk setiap kunjungan. Pasien dapat memeriksa
glukosa darah mereka tingkat pada awal penunjukan. Jika kadar glukosa berada pada atau dekat
ujung bawah normal, pasien dapat mengkonsumsi beberapa karbohidrat sebelum memulai
pengobatan untuk menghindari hipoglikemia selama penunjukan.
Selain menentukan tingkat glukosa pre - treatment, dokter gigi harus menentukan jenis insulin
yang diambil pasien, ketika terakhir diambil, dan jumlah yang diambil. Selanjutnya, penting
untuk mencari tahu kapan pasien terakhir makan, apa yang mereka makan, dan bagaimana
konsumsi makanan terakhir berhubungan dengan Asupan normal pada saat hari itu. Jika
perawatan gigi membutuhkan perubahan dalam diet baik sebelum atau sesudah pengangkatan,
rejimen pengobatan pasien mungkin perlu diubah. Pasien yang sedang tidur NPO (tidak melalui
mulut) memesan sebelum perawatan gigi mungkin rejimen insulin dan Dosis sulfonilurea mereka
perlu diubah. Dalam kasus ini, konsultasi dokter mungkin diindikasikan.

F. Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Pasien Diabetes

Menjamin kesehatan mulut pada pasien dengan diabetes membutuhkan pengetahuan yang luas
tentang medis dan gigi. Tidak diragukan lagi ada hubungan erat antara diabetes dan penyakit
periodontal, hubungan yang membutuhkan studi dan eksplorasi. Diabetes meningkatkan risiko
kerusakan periodontal, terutama pada pasien yang kontrol glikemiknya buruk. Pasien yang sama
ini kemungkinan besar akan datang ke dokter gigi dengan kebutuhan perawatan periodontal
yang signifikan. Semua pasien diabetes harus menjalani evaluasi gigi yang rutin dan terapi
pencegahan. Praktisi yang memahami peran diabetes dalam etiologi penyakit mulut, potensi
infeksi oral yang mempengaruhi kontrol glikemik, pendekatan terapi medis yang terbaru untuk
diabetes, dan implikasi diabetes pada perawatan gigi memberikan pasien peluang terbaik untuk
keberhasilan dalam pengobatan.
REFERENSI

Rose, L.F.,dkk. 2000. Periodontal Medicine. B.C. Decker Inc. Hamilton. London. Saint Louis.