Anda di halaman 1dari 32

PEMBASMI HAMA DENGAN MENGGUNAKAN BAWANG

PUTIH TERHADAP KUTU PUTIH PADA DAUN POHON


MANGGA
PROPOSAL REKAYASA TEKNOLOGI SANITASI TAHUN AJARAN 2017/2018

Disusun Oleh :

Aditya Wangsa Prawira 155100003

Christina Mediana 155100014

Dela Pamita 155100015

Gregorius Maradona 155100116

Ignasius Oktavianus Muda 155100103

Lia Fadliah 155100036

Lukman Muhammad Rizal 155100039

Nurul Lian Damayanti 155100056

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA
JAKARTA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hama yang masih banyak menyerang tanaman sekitar, membuat masyarakat resah.

Khususnya hama yang menyerang tanaman pangan, meyebabkan petani menjadi rugi karena

gagal panen. Salah satunya adalah hama kutu putih yang banyak menyerang tanaman buah

dan sayur.

Sudah banya pestisida yang beredar di masyarakat, namun masih memiliki efek

samping bagi penggunanya. Seperti organophospat yang sangat beracun juka tersentuh atau

kontak dengan manusia. Selain itu, pestisida juga bisa merusak lingkungan karena bisa

sifatnya yang sulit terurai dan mengendap pada tanah serta menyebabkan komunitas yang

hidup di atas tanah tersebut teracuni. Ini berimbas pada rantai makanan, karena pestisida

tersebut mengendap di dalam makhluk hidup baik produsen maupun konsumen I, sehingga

konsumen tingkat atas juga teracuni jika memangsa mangsa yang terkandung organophospat

di dalamnya.

Untuk itu diperlukan pestisida alami yang bisa terurai dengan mudah. untuk mengurangi

frekuensi penggunaan pestisida sintetik salah satunya adalah menggantinya dengan pestisida

dari bahan nabati, karena beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak bagian

tanaman ada yang bersifat toksik terhadap hama.

Bawang putih merupakan salah satu alternatif pestisida nabati yang bisa mengurangi

tingkat populasi kutu putih. Bawang putih juga mudah di dapat di segala penjuru pasar

indonesia. Selain itu proses pengolahan bawang putih menjadi pestisida nabati cukup mudah

dan terjangkau, juga cukup efektif melawan hama tersebut.


1.2 Permasalahan

Pestisida yang digunakan sacara luas oleh petani dapat menimbulkan berbagai masalah

lingkungan dan ketidakseimbangan ekosistem. Pestisida nabati dianggap dapat menstubtitusi

pestisida sintetis karena aman untuk lingkungan. Salah satu bahan nabati yang dianggap

dapat diolah menjadi pestisida adalah bawang putih. Seberapa efektifkah manfaat bawang

putih untuk membasmi kutu khususnya untuk hama kutu putih?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan umum

Menguji keefektifkan pestisida nabati yang telah dibuat untuk membasmi hama

kutu putih.

1.3.2 Tujuan khusus

1. Mampu mempraktekan cara pembuatan pestisida nabati dari bawang putih.

2. Mampu merumuskan waktu dan tempat pembuatan pestisida nabati dan


melaksanakannya dengan tepat waktu.

3. Mampu menggunakan pestisida nabati untuk membasmi hama pada tanaman


dengan benar.

1.4 Manfaat
1. Sebagai upaya mengembangkan kemampuan dalam melakukan penelitian suatu
inovasi baru dalam memanfaatkan bawang putih sebagai pestisida organik
2. Sebagai informasi kepada masyarakat sebagai alternatif dalam memanfaatkan
bawang putih.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pestisida Nabati

Pestisida dari bahan nabati sebenarnya bukan hal yang baru tetapi sudah lama

digunakan, bahkan sama tuanya dengan pertanian itu sendiri. Sejak pertanian masih

dilakukan secara tradisional, petani di seluruh belahan dunia telah terbiasa memakai bahan

yang tersedia di alam untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman. (Departemen

Pertanian Jambi, 2009)

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagian

tumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah. Bahan-bahan ini diolah menjadi berbagai

bentuk, antara lain bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak atau resin yang merupakan hasil

pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan atau bagian tumbuhan dibakar

untuk diambil abunya dan digunakan sebagai pestisida. (Departemen Pertanian Jambi, 2009)

Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya

berasal dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang

terbatas. Pestisida nabati terbuat dari bahan alami yakni tumbuh - tumbugan maka jenis

pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam sehingga tidak mencemari

lingkungan, dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residu mudah

hilang. (PEI-PFI Komda Sulawesi Selatam, 2010)

Pestisida nabati memanfaatkan bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari

tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan

(PPT). Pestisida nabati ini dapat berfungsi sebagai penolak (repellen), penarik, antifertilitas
(pemandul), perusak sistem syaraf dan hormonal, merusak perkembangan sel telur dan larva,

mengendalikan pertumbuhan bakteri dan jamur, serta bentuk lainnya. (PEI-PFI Komda

Sulawesi Selatan, 2010)

Bahan nabati mempunyai sifat yang menguntungkan karena daya racun rendah, tidak

mendorong resistensi, mudah terdegradasi, kisaran organisme sasaran sempit, lebih akrab

lingkungan serta lebih sesuai dengan kebutuhan keberlangsungan usaha tani skala kecil.

Selain itu residu dari pestisida nabati lebih sedikit dan kemungkinan berkembangnya

resistensi lebih kecil. (Departemen Pertanian Kabupaten Grobongan, 2012)

Namun, disamping kelebihannya pestisida nabati juga memiliki beberapa kekurangan.

Karena bahan nabati kurang stabil mudah terdegradasi oleh pengaruh fisik, kimia maupun

biotik dari lingkungannya, maka penggunaannya memerlukan frekuensi penggunaan yang

lebih banyak dibandingkan pestisida kimiawi sintetik sehingga mengurangi aspek

kepraktisannya. Bahan nabati alami juga terkandung dalam kadar rendah, sehingga untuk

mencapai efektivitas yang memadai diperlukan jumlah bahan tumbuhan yang banyakSelain

itu pestisida hanya cocok digunakan oleh petani rumahan, bukan petani produksi produk

massal. (Departemen Pertanian Kabupaten Grobongan, 2012)

2.2 Bawang Putih

Bawang putih telah lama menjadi bagian kehidupan masyarakat di hampir seluruh

dunia. Awal pemanfaatan bawang putih diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Dari Asia

Tengah kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sehingga bagi bangsa

Indonesia bawang putih merupakan tanaman introduksi. Bawang putih umumnya tumbuh di

dataran tinggi, tetapi varietas tertentu mampu tumbuh di dataran rendah. (Hernawan, Udi

Eko & Setyawan, Akhmad Dwi, 2003)


Gambar 1. Umbi Bawang Putih (Allium Sativum)

Bawang putih memiliki kandungan berbagai zat yang menguntungkan bagi manusia.

Berbagai zat yang terkandung dalam bawang putih sudah banyak yang terbukti ampuh

dalam mengobati berbagai penyakit dan menjaga kesehatan tubuh. Namun selain bawang

putih juga dapat berfungsi sebagai zat anti hama. Nenek moyang jaman dahulu sudah

banyak yang memanfaatkan bawang putih untuk menghalau hama yang merusak kebun atau

ladang mereka. (Hernawan, Udi Eko & Setyawan, Akhmad Dwi, 2003)

Komponen yang terdapat pada bawang putih adalah minyak atsiri, diallyl disulfida

(60%), diallyl trisulfida (20%), alyll propel disulfida (6%) dan dietil disulfida, diallyl

polisulfida, alliin serta allicin dalam jumlah sedikit. Protein yang terkandung dalam bawang

putih adalah protein bersulfur yang bertanggung jawab terhadap pembentukan aroma.

Sumber mineral utama yang terkandung dalam bawang putih adalah selenium dengan

kandungan 70 µg/100g dalam keadaan segar dan juga mengandung mineral-mineral lain

seperti kalsium, besi, magnesium,fosfor, natrium, dan seng. (Farrel, 1990).

bawang putih mengandung asam amino sistein yang merupakan penentu komponen

bioaktif bawang putih. Sistein teralkalisasi dan kemudian mengalami oksidasi akan
menghasilkan protein Aliin. Aliin merupakan prekursor tak berwarna dan tak berbau pada

bawang putih, namun apabila bawang putih diiris atau dihancurkan maka akan timbul

aktifitassuatu enzim yaitu allinase. Enzim allinase ini mengkonversi aliin menjadi alisin,

senyawa yang memberi bau khas bawang putih. (Winarno dan Koswara, 2002)

Dari berbagai kandungan diatas zat – zat terdapat zat – zat yang berperan sebagai anti

hama. Minyak atsiri yang terkandung dalam bawang putih bersifat anti bakteri. Alisin juga

berfungsi sebagai anti bakteri dengan cara memblokade pembentukan enzim sehingga

metabolisme bakteri berhenti Kandungan aliin dan alisin dalam bawang putih merupakan

repellan yang ampuh karena dengan baunya yang menyengat serangga pengganggu enggan

mendekat. Selain itu zat allisin dan dialil sulfida dapat bertindak sebagai bahan yang dapat

menganggu sistem koordinasi dan hormonal. Terhadap cendawan parasit, zat bernama resmi

dialil tiosulfinat ini tak kalah ampuh. Semua enzim berbahan belerang yang dibuat oleh

cendawan akan dihancurkan oleh alisin sehingga jamur akan mati. (Hernawan, Udi Eko &

Setyawan, Akhmad Dwi, 2003)

2.3 Kutu Putih

Planococcus sp atau sering disebut kutu putih atau mealybug masuk dalam klasifikasi

ordo homoptera dan family pseudococcodiae. Kutu putih ini berbentuk oval dan pada

bagian punggung terdapat garis-garis yang diselimuti lapisan lilin tipis. Nimfa muda sangat

aktif bergerak dan bergerombol selama 4 minggu pertama (Gambar 2 A dan B). Nimfa

menjadi dewasa setelah 37--50 hari. Sebanyak 270 embrio berkembang dalam tubuh

induknya, tetapi yang berhasil menjadi dewasa hanya 30 ekor. Kutu jantan sangat jarang

dijumpai. Kutu berkembang biak secara parthenogenesis (tanpa kawin). Masa peletakan

telur selama 4--5 minggu. (Direktorat Perlindungan Holtikultura, 2012)


Serangga ini berbentuk ellips dengan panjang sekitar 3 mm. Sementara itu, hama jantan

panjangnya ± 1 – 1,5 mm. Warna kutu ini cokelat kekuningan sampai merah orange. Hama

ini tertutup dengan massa putih, seperti lilin yang bertepung. Di sepanjang tepi badannya

terdapat benang ( serabut ) seperti lilin yang jumlahnya 14 – 18 pasang. Ukuran benang

terpanjang terdapat pada bagian belakang (pantat). Telur berwarna kuning terbungkus dalam

jaringan seperti lilin yang longgar. Nimfa yang muda berwarna kuning orange ( amber ).

(Direktorat Perlindungan Holtikultura, 2012)

Gambar 2. Planococcus Viburni

Serangga ini polfag (pemakan segala tanaman) dan tersebar luas didaerah tropis dan

subtropis. Kutu putih termasuk hama tanaman karena bersifat merusak bagian tanaman

inangnya. Kutu ini ada yang hidup diatas tanah dan ada yang diakar. Hama yang diatas

menyerang tunas, daun, buah, tangkai bunga, tangkai buah, batang dan lain – lain..Selain itu

kotoran yang dikeluarkan kutu mengandung embun madu sebagai tempat hidup cendawan

jelaga. (Direktorat Perlindungan Holtikultura, 2012)

Tanaman yang seringkali diserang oleh kutu putih adalah tanaman buah dan sayur,

walaupun terkadang ditemui kutu putih pada tanaman bunga. Tanaman tomat, pepaya, jeruk,
sirsak, kopi, anggur, jambu biji merupakan inang kutu putih. Hama ini menimbulkan

kerusakan secara langsung dengan mengisap cairan tanaman, dan pada tingkat kerusakan

berat dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman serta menimbulkan

kerontokan buah muda karena masak sebelum waktunya. (Direktorat Perlindungan

Holtikultura, 2012)

2.4 Pohon mangga

Pohon mangga (Mangifera indica) termasuk tumbuhan yang struktur batangnya termasuk

kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu. Tinggi pohon mangga bisa mencapai 10-40

meter. Pohon mangga mempunyai buah yang namanya sama yaitu mangga. Nama mangga

berasal dari Malayam yaitu maanga. Mangga berasal dari perbatasan India dengan Burma.

Mangga menyebar ke Asia Tenggara sekitar 1500 tahun silam. (Pramayudi, Nur & Oktarina,

Hartati, 2012)

Pohon mangga mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. termasuk tumbuhan berkayu

2. tingginya dapat mencapai 10-40 meter

3. berakar tunggang

4. mempunyai bungga(bunga majemuk)

Pohon mangga ditanam untuk diambil buahnya. Buah mangga biasanya dimakan setelah

matang, sebagai buah meja atau campuran es. Buah yang muda biasanya dirujak. Buah

mangga juga diolah menjadi manisan, irisan buah kering, dikalengkan dan lain-lain.

(Pramayudi, Nur & Oktarina, Hartati, 2012)

Banyak sekali manfaat buah mangga bagi kesehatan. Mungkin karena kandungan dari

buah mangga yang kaya akan serat dan vitamin inilah yang membuat buah mangga
bermanfaat bagi kesehatan. Mangga mengandung serat yang tinggi, dan rendah akan kalori

dan sodium. Mangga juga mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin C, potasium, kalsium

dan zat besi. Senyawa phenolic dan beberapa enzim yang dikandung mangga juga berguna

sebagai obat antikanker, meningkatkan kesehatan kulit dan rambut, mengontrol diabetes dan

meningkatkan sistem imun tubuh. Vitamin B3 dan B-kompleks nya dapat memperkuat

rambut, sedang enzim magniferin dalam mangga dapat mempercantik kulit dan berfungsi

untuk melawan kanker. (Pramayudi, Nur & Oktarina, Hartati, 2012)

2.5 Bakteri EM4

Effective Microorganism 4(EM4) ditemukan pertama kali oleh prof. Terou Higa dari

Universitas Ryukyus Jepang. Larutan EM4 ini mengandung berbagai mikroorganisme

fermentasi yang jumlahnya sangat banyak, sekitar 80 genus dan mikroorganisme tersebut dapat

bekerja secara efektif dalam fermentasi bahan organic. Dari sekian banyak mikroorganisme, ada

lima golongan yang utama, yaitu bakteri fotosintesik, lactobacillus sp, saccharomyces.sp,

action mycetes sp (indriani 2007). Effective microorganism 4 (EM4) adalah suatu kultur

mikroorganisme yang dapat diaplikasikan sebagai inokulan untuk meningkatkan keberagaman

mikroorganisme tanah. EM4 ini juga dapat digunakan sebagai starter untuk mempercepat proses
dekomposisi/ penguraian bahan organic sehingga proses pengomposan dapat berlangsung lebih

cepat (Diver,1998).

2.5.1 Manfaat Bakteri EM4

a) memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah


b) menyediakan unsur hara yang akan dibutuhkan tanaman
c) menyehatkan tanaman, meningkatkan produksi tanaman, dan menjaga
kestabilan produksi
d) menekan pertumbuhan bakteri pathogen yang menimbulkan penyakit dan
memperbaiki efisiensi penggunaan bahan oleh tanaman
e) menambahkan jumlah unsur hara tanah dengan cara disiramkan oleh
tanah, tanaman, atau disemprotkan ke daun tanaman
f) mempercepat pembuatan/ penguraian kompos dari sampah organic
ataupun dari kotoran hewan

EM4 tidak berbahaya untuk lingkungan karena kultur EM4 tidak mengandung
mikroorganisme yang secara genetic telah mengalami modifikasi. EM4 terbuat
dari kultur campuran dari berbagai spesies mikroba yang terdapat dalam
lingkungan alami, bahkan EM4 dapat diminum secara langsung (yuwono,2005).
Sebelum digunakan, EM4 perlu diaktifkan terlebih dahulu karena
mikroorganisme yang berada didalamlarutan EM4 dalam keadaan tidur(dorman).
Pengaktifan mikroorganisme didalam EM4 dapat dilakukan dengan cara
menambahkan air dan makanan yang dapat berupa molasses.

2.5.2 Hubungan Antara Bakteri EM4 Dengan Bawang Putih

Pembuatan EM4 dapat dicampur dengan bahan rempah-rempah (jahe, kunyoit,


kencur, sereh dan sebagainya) untuk memberi aroma khusus. EM4 yang dicampur
dengan ekstrak rempah-rempah menjadi lebih efektif. Penambahan ekstrak bahan
organic yang mengandung obat-obatan seperti bawang putih, merica, lidah buaya,
buah muda hasil penjarangan dan rumput-rumput muda tertentu sangat
diaanjurkan. Pencampuran EM4 dengan rempah-rempah jenis tertentu dengan
tujuan untuk memberikan aroma khusus yang tidak disukai serangga khususnya
kutu putih. Rempah-rempah dan jenis tanaman obat juga mengandung
antioksidan.
BAB III

METODE PEMBUATAN DAN ANALISIS

3.1 Metode Pembuatan

Prosedur pembuatan pestisida bawang putih adalah sebagai berikut :

PENGUPASAN

PENGHALUSAN

PENCAMPURAN

PENYIMPANAN /
FERMENTASI

Bagan 1. Pembuatan pestisida organik dengan bawang putih.

Cara kerja :

1. Siapkan 250 gram bawangputih yang sudah dikupas, 25 cc EM4, 25 gr gulapasir, dan

1,25 liter air putih.

2. Haluskan 250 gram bawang putih dengan cara diblender.


3. Masukkan 250 gram bawang putih halus, 25 cc EM4, 250 gram gula pasir ke dalam

tempat pengadukan dan aduk hingga rata

4. Tambahkan 1,25 liter air putih dan aduk

5. Masukkan bahan yang sudah dicampur tadi kedalam sebuah botol

6. Diamkan atau fermentasikan selama 7 hari

7. Saring hasil fermentasi menggunakan saringan sebelum digunakan untuk pestisida hama.

3.2 Metode Analisa

1. Analisis Fisika

Peptisida organik yang terbuat dari bawang putih dalam membasmi kutu putih
pada daun mangga secara fisik. Apabila kutu putih terkena cairan atau larutan yang
disemprotkan pada daun mangga maka secara langsung kutu putih menggeliat dan
tidak bergerak lagi akibat larutan yang disemprotkan.

2. Analisis Kimia

Ekstrak Bawang putih memiliki daya kerja sebagai insektisida terhadap


perkembangan S.zeamais dan konsentrasi 7% mampu menurunkan populasi serangga
turunan pertama menjadi nol. Komponen yang terdapat pada bawang putih adalah
minyak atsiri, diallyl disulfida (60%), diallyl trisulfida (20%), alyll propel disulfida
(6%) dan dietil disulfida, diallyl polisulfida, alliin serta allicin dalam jumlah sedikit.
Protein yang terkandung dalam bawang putih adalah protein bersulfur yang
bertanggung jawab terhadap pembentukan aroma. Sumber mineral utama yang
terkandung dalam bawang putih adalah selenium dengan kandungan 70 µg/100g
dalam keadaan segar dan juga mengandung mineral-mineral lain seperti kalsium, besi,
magnesium,fosfor, natrium, dan seng. Sehingga disemprotkannya peptisida atau
larutan bawang putih kepada kutu putih agar terganggu dan tidak berkembangbiak
lagi pada daun mangga karna aroma yang tidak disukai oleh kutu putih tersebut.
BAB IV
PELAKSANAAN

4.1 Pelaksanaan
Pembuatan dan analisi pestisida organik dengan bahan cangkang telur ayam akan
dilaksanakan oleh :
Ketua : Aditya Wangsa Prawira 155100003
Anggota :

Christina Mediana 155100014

Dela Pamita 155100015

Gregorius Maradona 155100116

Ignasius Oktavianus Muda 155100103

Lia Fadliah 155100036

Lukman Muhammad Rizal 155100039

Nurul Lian Damayanti 155100056

4.2 Tempat Pelaksanaan


Pelaksanaan kegiatan praktik Rekayasa Teknologi Sanitasi Lingkungan dilaksanakan
di rumah anggota Christina Mediana ( Jl. Mayjen Soetoyo RT 7, RW 8, NO. 11 Kelurahan :
Cililitan Besar, Kecamatan : Kramat Jati , Jakarta Timur.

4.3 Waktu Pelaksanaan


Waktu pelaksanaan pembuatan dan analisis pestisida organik dengan bawang putih
dimulai dari tanggal 6 April 2018 – 27 April 2018.
Tabel 1. Perencanaan Pelaksanaan Rekayasa Teknologi Sanitasi
No Uraian Kegiatan Bulan April 2018
Tanggal
6 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 27

1. Konsultasi I dengan
pembimbing +
pembuatan proposal

2. Persiapan alat dan


bahan

3. Praktikum I
pembuatan pestisida
bawang putih

4. Fermentasi pestisida
bawang putih selama
1 minggu

5. Konsultasi II dengan
pembimbing +
pembuatan proposal

6. Praktikum II
pelaksanaan
penelitian kutu putih
pada daun pohon
manga
7. Presentasi Proposal
(UTS)
BAB V
ALAT DAN BAHAN PEMBUATAN

5.1 Alat dan Bahan

5.1.1 Alat
1. Blender

2. Alat pengaduk

3. Ember

4. Botol air mineral

5. Botol spray

6. Kain saring

7. Corong

8. Gelas ukur

9. Timbangan

10. Handscoon

5.1.2 Bahan
1. Bawang putih 250 gram

2. Bakteri EM4 25 cc

3. Gula pasir 25 gr

4. Air matang 1,25 liter


5.2 Cara Penggunaan

Pestisida nabati yang telah dibuat hasilnya berupa konsentrat pestisida. Cara

penggunaannya pada tanaman yang ada hamanya adalah sebagai berikut:

1. Siapkan 3 botol kosong, untuk setiap botolnya diisi masing-masing sebesar :

a. Botol A pengenceran 1:10 yaitu 40 cc ekstrak + 400 cc air (9%)

b. Botol B pengenceran 1:5 yaitu 40 cc ekstrak + 200 cc air (16%)

c. Botol C pengenceran 1:1 yaitu 40 cca ekstrak + 40 cc air (50%)

2. Siapkan kutu putih yang menempel pada daun mangga, dengan cara memetik daun dari

pohonnya dan meletakkannya dalam wadah transparan berventilasi.

3. Semprotkan campuran tersebut pada bagian yang terdapat hama kutu putih. Untuk

setiap daun dilakukan tiga kali semprotan dalam satu hari. Penyemprotan dilakukan di

bagian tengah daun karena kutu putih berada di permukaan daun. Penyemprotan

dilakukan dalam kurun waktu 3 hari.

a. Botol A Daun A

b. Botol B Daun B

c. Botol C Daun C

4. Karena sifat zat kimia pestisida mudah terurai maka penyemprotan hasil dilakukan

secara sering dan berkala agar hasilnya efektif.


BAB VI

ANGGARAN PEMBUATAN
7.1 Rencana Anggaran Biaya Penelitian
Sumber dana yang digunakan dalam kegiatan ini didapat dari dana kolektif tim/kelompok
Rekayasa Teknologi Sanitasi.
Nama Alat dan Bahan Harga
(250 gram) Bawang putih Rp. 15.000

(250 gram) Gula pasir Rp. 4.000

(1 botol) bakteri EM4 Rp. 30.000

(1 botol) Air Mineral Botol Rp. 5.000

(1 buah) Kain saring Rp. 8.000

(1 buah) Pengaduk (irus) Rp. 5.000

(1 buah) Ember Rp. 15.000

(1 buah) Corong Rp. 5.000

(8 buah) Handscoon Rp. 10.000

Total: Rp. 97.000


BAB VII

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

7.1 Hasil Uji Efektifitas Pestisida Nabati Bawang Putih

Parameter yang digunakan untuk mengukur hasil dari keefektifan pestisida nabati
dari bawang putih untuk hama kutu putih adalah besarnya konsentrasi ekstrak pestisida
nabati yang digunakan. Terdapat tiga variasi konsentrasi pengenceran ekstrak pestisida
yaitu pengenceran 1: 10 (9%), 1:5 (16%) dan 1:1 (50%). Pada percobaan ini, baik kutu
maupun larva yang menempel pada daun tidak sama persis jumlahnya namun tetap antara
kisaran yang tidak jauh berbeda, tetapi jumlah kutu dewasa yang dapat diamati
pergerakannya (untuk mendeteksi mati atau tidak) jumlahnya sama, yakni 4 ekor. Hasil
percobaan ditunjukkan dalam tabel.

Tabel Hasil Percobaan

Konsentrasi 9% Konsentrasi 16% Konsentrasi 50%


Daun A Daun B Daun C
Hari 1 - Kutu masih hidup - Kutu masih hidup - Kutu masih hidup
- Sarang kutu masih - Sarang kutu masih - Sarang kutu masih
baik baik baik

Hari 2 - 3 kutu masih hidup - 2 kutu masih hidup - Semua kutu mati
(bergerak) (bergerak) (tidak bergerak)
- Sarang kutu sedikit - Sarang kutu sedikit - Sarang kutu rusak
rusak rusak (kerusakan lebih
parah dari
konsentrasi 9% atau
16%)

Hari 3 - 3 kutu yang tersisa - 2 kutu yang tersisa - Struktur tubuh kutu
mati (tidak mati (tidak yang sebelumnya
bergerak) bergerak) mati rusak
- Sarang kutu rusak - Sarang kutu rusak - Sarang kutu rusak
parah. parah
7.2 Pembahasan
Pada daun A digunakan konsentrasi 9% berarti perbandingan yang dipakai adalah

1:10. Artinya adalah 40 ml ekstrak pestisida nabati dicampurkan dengan 400 ml air.

Percobaan diamati pada jumlah kutu yang sama di setiap daun yaitu sebanyak 4 ekor.

Hari pertama pada daun A didapatkan bahwa kutu tersebut masih hidup dan belum ada

kerusakan pada sarang yang ditempati kutu itu. Hari kedua, terdapat 3 kutu dari yang kita

amati yang masih dapat bergerak dan kerusakan yang terjadi belum cukup parah. Setelah

hari ketiga pemberian pestisida terhadap daun A didapatkan hasil bahwa 90% kutu yang

ada mati dan sarang kutu juga rusak.

Daun B digunakan konsentrasi 16% dengan perbandingan 1:5. Artinya adalah

penggunaan ekstrak pestisida sebanyak 40 ml dengan dicampurkan air sebanyak 200 ml.

Hari pertama percobaan, kutu dan sarangnya masih nampak normal. Untuk hari kedua

percobaan tersisa 2 kutu yang masih dapat bertaman dengan penyemprotan pestisidadan

sarangnyapun belum rusak parah. Hari terakhir pengamatan pada pemberian pestisida

didapatkan semua kutu yang ada pada daun B mati dan strukturnya rusak serta sarang

yang ada juga rusak.

Daun terakhir yang dipakai, kita beri nama daun C dengan konsentrasi yang

paling tinggi dibandingkan dengan kedua perlukuan pada daun A dan daun B. konsentrasi

pada daun C adalah 50% yaitu 1:1 yang artinya adalah ekstrak pestisida 40 ml dicampur

dengan 40 ml air. Hasil yang didapatkan adalah pada percobaan hari kedua, semua kutu

dan sarangnya sudah mati.

Dari hasil percobaan diatas dapat dinilai bahwa konsentrasi pestisida nabati

bawang putih yang efektif menghilangkan kutu lebih cepat adalah pestisida dengan

konsentrasi tertinggi yaitu 50%. Pada konsentrasi ini dapat membunuh semua kutu putih
yang dicobakan selama 2 hari, sedangkan pada konsentrasi lain baru dapat membunuh

semua kutu setelah penyemprotan ketiga.

Hal ini menunjukkan bahwa pestisida bawang putih memiliki daya basmi hama

kutu putih yang cukup efektif. Berbagai kandungan zat dalam bawang putih memiliki

fungsi anti hama. Kandungan aliin dan alisin dalam bawang putih merupakan repellan

yang ampuh karena dengan baunya yang menyengat hama pengganggu enggan

mendekat. Selain itu zat allisin dan dialil sulfida dapat bertindak sebagai bahan yang

dapat menganggu sistem koordinasi dan hormonal sehingga dapat membunuh hama

secara perlahan - lahan. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa pestida nabati bawang

putih cukup efektif untuk menjadi substitusi pestisida sintetik.


BAB VIII

KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan

Pestisida yang digunakan sacara luas oleh petani dapat menimbulkan berbagai masalah

kesehatan, lingkungan, dan ketidakseimbangan ekosistem. Pestisida nabati dianggap dapat

menstubtitusi pestisida sintetis karena aman untuk lingkungan. Salah satu bahan nabati yang

dianggap dapat diolah menjadi pestisida adalah bawang putih.

Bawang putih cukup efektif untuk mampu membasmi kutu putih karena memiliki

berbagai bahan aktif yang dapat melumpuhkan hama. Percobaan dilakukan dengan menguji

keefektifan pestisida bawang putih pada berbagai konsentrasi terhadap daya bunuh hama

kutu putih . Terdapat tiga variasi konsentrasi yaitu 9%, 16%, dan 50% yang diujikan pada

hama kutu putih selama tiga hari.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa konsentrasi pestisida nabati bawang putih yang

efektif menghilangkan kutu lebih cepat adalah pestisida dengan konsentrasi tertinggi yaitu

50%. Pada konsentrasi ini dapat membunuh semua kutu putih yang dicobakan selama 2 hari,

sedangkan pada konsentrasi lain baru dapat membunuh semua kutu setelah penyemprotan

ketiga.

Hal ini menunjukkan bahwa pestisida bawang putih memiliki daya basmi hama kutu

putih yang cukup efektif. Berbagai kandungan zat dalam bawang putih memiliki fungsi anti

hama. Kandungan aliin dan alisin dalam bawang putih merupakan repellan yang ampuh

karena dengan baunya yang menyengat hama pengganggu enggan mendekat.


8.2 Saran

Untuk melakukan percobaan lebih lanjut maka kelompok kami memberi saran : Perlu
melakukan pengujian konsentrasi larutan dengan jenisnya lebih banyak, diharapkan konsentrasi
yang aman digunakan secara langsung pada manusia sehingga diharapkan kutu putih pada daun
pohon mangga dapat diatasi dengan cara yang aman, murah, dan efektif, diharapkan kepada
praktikkan selanjutnya agar lebih serius dalam praktikkum dan lebih teliti lagi dalam melakukan
pengamatan hama.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pertanian Jambi. 2009. Pemanfaatan Pestisida Nabati Pada Tanaman Sayuran.
Disitasi pada 6 April 2018.
<http://jambi.litbang.deptan.go.id/ind/images/PDF/pesnab.pdf>

Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan. 2012. Pengendalian Hama dan Penyakit dengan Pestisida
Nabati. Disitasi pada 7 April 2018. <http://dinpertan.grobogan.go.id/laboratorium/144-
pengendalian-hama-dan-penyakit-dengan-pestisida-nabati.html>

Direktorat Perlindungan Holtikultura. 2012. Kutu Putih. Disitasi pada 8 April 2018.
<http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id
=396&Itemid=355>

Hernawan, Udi Eko & Setyawan, Ahmad Dwi. 2003, REVIEW: Senyawa Organosulfur Bawang
Putih (Allium sativum L.) dan Aktivitas Biologiny. Disitasi pada 7 April 2018.
<http://biosains.mipa.uns.ac.id/F/F0102/F010205.pdf>

PEI – PFI Komda Sulawesi Selatan. 2010. Panduan Pemanfaatan Pestisida Nabati. Disitasi pada
7 April 2018. <http://www.peipfi-komdasulsel.org/wp-content/uploads/2012/04/buku-
pestisida1.pdf>

Pramayudi, Nur & Oktarina, Hartati. 2012. Bilogi Hama Kutu Putih Pada Tanaman Pepaya.
Disitasi pada 7 April 2018. <http://jurnalfloratek.wordpress.com/2012/05/28/biologi-
hama-kutu-putih-pepaya-paracoccus-marginatus-pada-tanaman-pepaya/>
LAMPIRAN FOTO

1. Pembuatan Pestisida Bawang Putih


2. Observasi Keberadaan Hama Kutu Putih
3. Persiapan Ekstrak Pestisida dan Hewan Coba
4. Penyemprotan
5. Hasil Pengamatan
A. Hari Pertama
B. Hari Kedua
C. Hari Ketiga
TERIMAKASIH