Anda di halaman 1dari 22

SEJARAH DAN KARAKTERISTIK

SISTEM HUKUM CIVIL LAW DAN COMMON LAW


Adam Satria1
Alyssa Helena2
Anzu Michell3
Bony Sanjaya4
Friscillia Betseba5
Rifqi Asyrafi6
Selma Nabila7

1
Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Parahyangan. dengan NPM: 2015200189
email: AdamSatria17@gmail.com
2
Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Hukum, Universitas Katolik Parahyangan, dengan NPM: 2015200064
email: alyssahelena@hotmail.co.uk
3
Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Hukum, Universitas Katolik Parahyangan, dengan NPM: 2015200014
email: anzumichelle@gmail.com
4
Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Parahyangan, dengan NPM: 2015200096
email: bonnysanjaya18@gmail.com
5
Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Hukum, Universitas Katolik Parahyangan, dengan NPM: 2014200151
email: FriskaSDB@gmail.com
6
Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Parahyangan, dengan NPM: 2014200154
email: rifqiasyrafi@gmail.com
7
Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Hukum, Universitas Katolik Parahyangan, dengan NPM: 2015200229
email: babyselma707@gmail.com
Abstract
Every nation have their own legal systems. Said legal systems must have rooted
from the people’s historical development. In most cases, those historical development
varies from one nation to another, which results in various traditions and customs that
can be seen through the nation’s legal system. It is also shown in the legal system’s
characteristics and cerebrations. These differences are what made many legal scholars
compare, with the purpose of understanding the differences and similarities of each
legal system in various parts of the world. In today’s world, most nations follow one of
the two major legal systems: common law or civil law. This study aims to gain more
comprehensive understanding in the historical development and characteristics of both
legal systems.
Keywords:
historical development, characteristics, legal system, common law, civil law

Abstrak
Setiap negara pasti memiliki sistem hukumnya masing-masing. Sistem hukum
dalam negara tersebut berakar dari perkembangan sejarah serta masyarakat yang
tinggal dalam negara tersebut. Sering kali, perkembangan sejarah tersebut berbeda-
beda di tiap negara sehingga setiap negara memiliki ciri khas dan tradisinya sendiri
yang tertuang dalam sistem hukum negara tersebut. Hal tersebut juga mempengaruhi
karakteristik dan cara berpikir dalam penerapan sistem hukum. Perbedaan inilah
yang menjadi dasar para praktisi hukum dari berbagai negara melakukan
perbandingan hukum, dengan tujuan untuk memahami perbedaan serta persamaan
antar sistem hukum di berbagai negara. Sistem hukum yang paling sering dipakai
dalam berbagai negara di dunia ini adalah sistem hukum common law dan civil law.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan perkembangan sejarah yang
terjadi di negara-negara penganut common law dan civil law, serta karakteristik dari
masing-masing sistem hukum tersebut.

Kata Kunci:
perkembangan sejarah, karakteristik, sistem hukum, common law, civil law
Pendahuluan
Pada akhir abad ke-19 atau permulaan abad ke-20, banyak praktisi hukum
yang menyebar ke negara-negara pasca-konflik atau negara berkembang untuk
memberikan aturan hukum atau bantuan kepolisian. Kebanyakan dari praktisi
hukum tersebut hanya bekerja dalam sistem hukum dari negara asal mereka sendiri.
Hal tersebut dikarenakan mereka hanya memiliki pengalaman atau pengetahuan
dengan satu tradisi hukum dari negaranya saja, biasanya hanya dalam bidang hukum
publik atau hukum privat saja. Pengalaman ini mungkin sebagai hakim, petugas
polisi, petugas penjara atau koreksi, jaksa atau pengacara. Secara umum, pelatihan
atau pendidikan hukum yang mereka tempuh di dalam yurisdiksi negaranya berbeda
dengan pelatihan atau pendidikan hukum di negara lain yang memiliki tradisi hukum
yang berbeda. Sehingga ketika praktisi menyebar ke negara pasca-konflik atau
berkembang, praktisi hukum menemukan dirinya sendiri bekerja dalam tradisi
hukum yang asing, tanpa informasi sebelumnya mengenai hal itu8.
Banyak praktisi melakukan upaya nyata untuk memahami seluk-beluk sistem
peradilan hukum di negara mereka sekarang bekerja. Namun ini sangat menantang
karena mereka kehilangan banyak informasi tentang tradisi hukum dalam
prakteknya di negara tempat mereka bekerja. Hal ini menyebabkan praktisi yang
tidak terbiasa dengan tradisi hukum setempat memberikan saran mengenai tatanan
hukum baru berdasarkan cara kerja di negara asal mereka. Misalnya, pada
pertemuan-pertemuan tentang reformasi hukum pasca-konflik, para praktisi asal
Jerman mengusulkan ketentuan hukum baru berdasarkan hukum Jerman; Praktisi
asal Amerika Serikat menyarankan itu didasarkan pada hukum Amerika Serikat;
Praktisi asal Inggris menyarankan itu berdasarkan pada hukum Inggris, dan
seterusnya. Saran-saran ini sering tidak memperhitungkan ketentuan hukum apa
yang paling cocok dalam konteks dan tradisi hukum tertentu yang dipertanyakan9.
Dikarenakan kesulitan yang dialami oleh para praktisi hukum yang menyebar
ke negara pasca-konflik atau negara berkembang untuk memberikan bantuan
hukum, para praktisi hukum menggunakan metode perbandingan hukum yang baru
berkembang secara nyata pada akhir abad ke-19 atau permulaan abad ke-20, terlebih
pada saat sekarang di mana negara-negara di dunia saling berinteraksi dengan

8
Vivienne O’Connor, Common Law and Civil Law Traditions, INPROL-International network to promote the rule of law. 5, 7
(March 2012)
9
Id.
Negara yang lain dan saling membutuhkan hubungan yang erat. Dalam perbandingan
hukum dikenal dua cara, yaitu memperbandingkan secara makro dan secara mikro.
Perbandingan hukum secara makro adalah suatu cara memperbandingkan masalah-
masalah hukum pada umumnya, seperti membandingkan hukum suatu negara
dengan negara lain secara umum. Perbandingan hukum secara mikro adalah suatu
cara memperbandingkan masalah-masalah hukum tertentu antara suatu Negara
dengan negara lain. Tidak ada batasan tajam antara perbandingan hukum secara
makro dan mikro.
Martin Krygier menyatakan bahwa “law as tradition”. Hukum dianggap sebagai
sebuah tradisi. Dalam pemikiran tersebut maka hukum mempunyai tiga elemen
utama, yakni past-ness, authoritative presence, dan transmission. Lebih lanjut,
dikatakan bahwa di samping sebagai sebuah tradisi, hukum dibentuk secara
sistematik dan secara terus menerus untuk menjaga dan memelihara hubungan
antara individu dalam masyarakat10. Sehingga dalam membandingkan hukum akan
kurang lengkap jika tanpa melibatkan unsur-unsur yang melekat dari masing-masing
keluarga sistem hukum. Perbedaan latar belakang kesejahteraan, karakter atau
perilaku, rasa hukum, dan cara pandang diatas melahirkan cara mempraktekan
hukum atau “ber-hukum” yang berbeda pula. Cara “ber-hukum” tersebut yang pada
umumnya dikenal dengan istilah tradisi hukum atau sistem hukum.
Di setiap negara memiliki sistem hukumnya masing-masing. Sistem hukum
pada negara-negara tersebut dapat dibandingkan dengan negara yang ingin
membandingkan sistem hukumnya. Adanya perbandingan hukum maka akan ada
persamaan dan perbedaan dari kedua sistem hukum yang berbeda. Salah satu sistem
hukum yang sangat sering dibandingkan adalah sistem hukum common law dan
sistem hukum civil law. Kedua sistem hukum tersebut merupakan sistem hukum yang
paling sering dibandingkan dan dicari perbedaan serta persamaannya karena
keduanya mempunyai cara berpikir dan karakteristik yang nyaris bertolak belakang.
Sebagai contoh, dalam sistem hukum common law salah satu proses fundamental
yang dapat melahirkan hukum adalah melalui keputusan hakim. Sedangkan dalam
sistem hukum civil law, hukum lahir dari keputusan-keputusan para legislatif. Tentu
keduanya memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Maka dari itu,
dilakukanlah perbandingan yang dilakukan bertujuan untuk mengisi kesenjangan

10
Martin Kryger, Law as Tradition ( Journal of Law and Philosophy, Vol. 5 No. 2 August 1986) hlm. 240.
pengetahuan tentang sistem hukum yang dimiliki oleh para praktisi, agar para
praktisi memahami sistem hukum civil law dan common law dalam suatu negara dan
bagaimana sistem kerjanya11.
Dengan mengetahui sistem hukum tertentu dari suatu negara, diharapkan dapat
mempermudah tugas para praktisi hukum untuk dapat menyebar ke negara-negara
yang habis mengalami konflik atau perang atau negara yang sedang berkembang.
Diharapkan pula para praktisi bisa menjadi lebih akrab dengan masyarakat negara
tersebut dan lebih mudah bekerja di negara tersebut dengan mengikuti tradisi dan
hukum yang sebelumnya sama sekali tidak diketahui oleh para praktisi12. Dengan
memahami tradisi civil law dan common law, seorang praktisi hukum akan
memahami banyak hal tentang sifat dan peran hukum, organisasi dan operasi sistem
hukum, dan cara hukum diterapkan, dipelajari, disempurnakan dan diajarkan di
sistem hukum apa pun yang diberikan. Namun, terdapat perbedaan mengenai
bagaimana masing-masing sistem hukum beroperasi, dan prosedurnya serta
peraturannya, maka dari itu para praktisi hukum perlu mempelajari sejarah
pembentukan, tradisi hukum, aktor peradilan, proses pidana, pendidikan atau
pelatihan hukum dan kekhususan sistem peradilan dari masing-masing negara baru
tempat seorang praktisi bekerja13.
Sehingga permasalahan utama yang akan menjadi sasaran dalam makalah ini
adalah membandingkan sejarah dan karakteristik sistem hukum Civil Law dan
Common Law yang dikaitkan dengan penerapan sistem hukum tersebut secara
konkret. Sehingga para pembaca dapat mengetahui asal mula terdapatnya perbedaan
sistem hukum antara negara dan faktor yang mempengaruhinya.

11
Vivienne O’Connor, supra catatan no.8, pada 8
12
Id, pada 5
13
Id, pada 8
Pembahasan

Sistem Hukum Common Law (Anglo Saxon)


Sistem Hukum Common Law (Anglo Saxon) adalah suatu sistem hukum yang
didasarkan pada yurisprudensi. Sumber hukum dalam sistem hukum ini adalah
putusan hakim/pengadilan. Dalam sistem hukum ini peranan yang diberikan kepada
seorang hakim sangat luas.
Perkembangan common law telah digambarkan sebagai "kecelakaan historis,"
yang timbul dari penaklukan Inggris oleh Normandia pada tahun 1066 AD William
Sang Penakluk dalam upaya untuk mendirikan sebuah tatanan hukum Norman di
negara asing, mewakilkan "korps" adjudikator yang setia ” atau hakim untuk
menyelesaikan sengketa di tingkat lokal dan pada dasarnya membuat undang-
undang. Dalam kasus yang lebih serius, ada sistem rujukan kepada Raja untuk
ajudikasi. Juri juga diperkenalkan sebagai pihak yang mewakili kepentingan lokal
orang biasa untuk memutuskan kasusnya. Strategi ini membuat rakyat senang dan
cenderung tidak memberontak melawan kekuatan pendudukan. Karena dewan juri
terdiri dari sebagian besar orang yang buta huruf maka dalam prosesnya bersifat
lisan, sebuah implikasi yang masih dapat dilihat hari ini dalam sistem hukum umum
modern14.
Fokus dalam common law pada awalnya adalah menyelesaikan sengketa yang
ada di tangan daripada menciptakan prinsip-prinsip hukum yang akan
diartikulasikan dalam sebuah kode yang berlaku umum. Common law dikembangkan
secara historis berdasarkan kasus per kasus dari bawah ke atas, berbeda dengan civil
law yang selalu dikembangkan dari atas ke bawah oleh legislatif.
Konsekuensi praktis dari pendekatan ini terhadap pengembangan hukum
telah dijelaskan dengan tepat sebagai berikut: civil law, yang ditata di muka, lebih
rentan untuk berhati-hati analisis logis dan presentasi sebagai sistem abstrak yang
koheren, sementara common law memiliki struktur yang lebih kacau dan lebih
mencari solusi masalah konkret daripada pembangunan prinsip-prinsip umum
besar15. Sistem hukum ini tidak dikembangkan dalam universitas atau penulisan
doktrinal, melainkan oleh para praktisi dan para proseduralis. Keadaan ini

14
Vivienne O’Connor. supra catatan no.8, pada 11 (March 2012)
15
Id.
menjelaskan mengapa sistem hukum ini tidak dimulai dari prinsip-prinsip hukum
melainkan langsung mengenai kaidah-kaidah untuk kasus-kasus konkrit. Pengadilan,
khususnya pengadilan kerajaan, memegang peran yang sangat besar dalam sistem
hukum Inggris ini. Struktur yang demikian ini sangat berbeda dengan sistem hukum
Romawi - Jerman yang memberikan peranan besar kepada badan pembuat undang-
undang dan berikan kerangka dan pedoman bagi pengambilan keputusan saja,
penyelesaian suatu kasus tertentu. Keluarga common law ini tentu memiliki beberapa
pengecualian meliputi negara-negara yang berbahasa Inggris16.
Sebagaimana hukum Romawi menjadi modal dan asal usul hukum Romawi -
Jerman, maka hukum Inggris menempati kedudukan yang demikian untuk common
law, tetapi berbeda halnya dengan evolusi yang dialami oleh hukum Romawi, maka
hukum Inggris ini berkembang secara mandiri dan hanya sedikit sekali dipengaruhi
oleh sistem hukum lain. Tidak dikenal adanya modernisasi seperti pada hukum
Romawi melalui penggarapan para teoritis penulis hukum doktrinal, juga tidak
dikenal transformasi melalui kodifikasi. Para praktisi hukum Inggris bangga dengan
wujud hukumnya yang dalam perjalanan sejarah tetap langgeng yang merupakan
hasil dari tradisi yang panjang, meskipun pernah diganggu oleh revolusi. Di awal
pembahasan memang telah dikatakan, bahwa melalui proses transformasi menjadi
hukum modern, hukum Romawi yang asli telah menjadi rusak. Perbedaan yang
mencolok antara kedua sistem tersebut adalah bahwa pada common law orang
menekankan pada ciri tradisional hukumnya, sedang hukum Romawi - Jerman
memberikan tekanan ciri logis dan rasionalnya.
Pengadilan common law bersatu, yang berarti bahwa secara umum ada satu
Pengadilan Banding dan satu Pengadilan Tinggi di mana setiap kasus dapat
dikenakan pemeriksaan akhir. Yurisdiksi pengadilan inferior, yang menangani
masalah pidana dan perdata, terbatas secara geografis dan menurut sifat pokok-
pokoknya. Pengadilan inferior tersebut tentu berada dibawah pengawasan
Pengadilan Hakim Agung. Sistem pengadilan seperti ini masih dapat ditemukan
Inggris serta di negara bekas koloninya seperti Uganda, Sierra Leone, Nigeria,
Palestina dan Barbados. Yurisdiksi yang tepat dari pengadilan ini tentu akan
bervariasi dari satu negara ke negara lain. Juga akan ada perbedaan jika negara

16
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum 245 (PT citra aditya bakti, bandung ,2006)
tersebut adalah federal, yang dalam hal ini praktisi hukum aturan perlu menentukan
yurisdiksi pengadilan federal atau nasional dan negara bagian atau subnasional.
Akhir-akhir ini muncul beberapa perkembangan menuju pengembangan
pengadilan khusus, atau yang juga dikenal dengan istilah tribunal, di negara-negara
hukum umum seperti Pengadilan Ketenagakerjaan, Pengadilan Pajak, Pengadilan
Hukum Keluarga, dan sebagainya. Praktisi hukum harus memperhatikan hal ini di
negara pasca-konflik atau negara berkembang tempat dia bekerja. Berbeda dengan
negara-negara hukum sipil, masing-masing pengadilan khusus ini tidak akan
memiliki Mahkamah Agung sendiri17. Dibandingkan dengan tradisi civil law ,
polisi di negara-negara common law memiliki kekuatan yang signifikan, independen,
dan investigatif. Polisi akan melakukan penyelidikan awal atas kejahatan, dari
kejahatan ringan hingga yang lebih serius, tanpa pengawasan dari jaksa. Sebaliknya,
pengawasan secara tidak langsung disediakan oleh hakim. Dalam tradisi common law,
hakim diperlukan untuk mengeluarkan surat perintah atau perintah di mana
tindakan tertentu yang diambil oleh polisi bersifat memaksa atau akan mengganggu
hak-hak seseorang. Misalnya, kecuali dalam keadaan luar biasa seperti dalam hal
tercemarnya barang bukti, polisi diminta untuk mendapatkan surat penggeledahan
dari seorang hakim. Contoh lain termasuk surat perintah penangkapan dan perintah
untuk pengawasan rahasia. Selama tahap investigasi, polisi bertanggung jawab untuk
mengumpulkan dan mengamankan bukti. sehingga dapat disimpulkan sistem hukum
ini dapat mengisi kekosongan hukum yang ada tetapi lebih memperhatikan keadilan
daripada kepastian hukum.

Sistem Hukum Civil Law (Eropa Kontinental)


Sistem hukum civil lazim diketahui memiliki sumber hukum yang berasal dari
kodifikasi hukum tertulis atau written code18. John Henry Merryman menyatakan
terdapat 3 (tiga) sumber hukum pada negara bersistem hukum civil law, yaitu
undang-undang (statute), peraturan turunan (regulation), dan kebiasaan yang tidak

17
Vivienne O’connor, supra catatan No.8, pada 17.
18
Choky Ramadhan, Konvergensi Sistem Peradilan Pidana: Pembauran Civil Law dan Common Lawdi Indonesia dalam
Penemuan dan Pembentukan Hukum http://ijrf.leip.or.id/po-content/uploads/ijrf_-
_kumpulan_tulisan_pilihan_pembaruan_peradilan.pdf (terakhir diakses 8 September 2018)
bertentangan dengan hukum (custom)19. Putusan hakim pada sistem hukum civil law
seringkali dianggap bukan suatu hukum20.
Sistem civil law mempunyai tiga karakteristik, yaitu adanya kodifikasi, hakim
tidak terikat kepada presiden sehingga undang- undang menjadi sumber hukum yang
terutama, dan sistem peradilan bersifat inkuisitorial.21 Karakteristik utama yang
menjadi dasar sistem hukum civil law adalah hukum memperoleh kekuatan
mengikat, karena diwujudkan dalam peraturan-peraturan yang berbentuk undang-
undang dan tersusun secara sistematik di dalam kodifikasi.
Sistem hukum civil law memiliki Undang-Undang tertulis yang komprehensif
yang dirancang dengan mencakup setiap bidang hukum. Undang-Undang sebagai
pembentuk yang inti dari hukum dan yurisprudensi hanya sebagai peran sekunder.
kode yang menawarkan pandangan sekuensial hukum di wilayah tertentu, bergerak
dari prinsip pertama ke spesifik dalam yang jelas kerangka. Undang-Undang ditulis
dengan abstraksi yang tinggi berdasarkan pada prinsip yang berasal dari studi ilmiah
data-data hukum.
Undang-Undang tersebut berisi definisi dan klasifikasi yang merupakan
tinjauan hukum yang sistematis dan lengkap22. Sehingga dalam karakteristik pertama
didasari bahwa nilai utama yang merupakan tujuan hukum adalah kepastian hukum.
Kepastian hukum hanya dapat diwujudkan kalau tindakan-tindakan hukum manusia
dalam pergaulan hidup diatur dengan peraturan-peraturan hukum tertulis. Dengan
tujuan hukum itu dan berdasarkan sistem hukum yang dianut, hakim tidak dapat
leluasa menciptakan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat umum. Hakim
hanya berfungsi menetapkan dan menafsirkan peraturan-peraturan dalam batas-
batas wewenangnya.23
Putusan seorang hakim dalam suatu perkara hanya mengikat para pihak yang
berperkara saja (Doktrins Res Ajudicata).24 Hakim hanya mempunyai peran
interpretatif, dimana Undang-Undang hanya memuat sedikit mengenai kebijaksanaan
individu. Putusan hakim dalam sistem hukum civil law tidak diakui pentingnya

19
John Henry Merryman, The Civil Law Tradition: An Introduction To The Legal System Of Western Europe And Latin America
2nd Ed 23 (California: Stanford University Press, 1985)
20
Id.
21
Nurul Qamar, Perbandingan Sistem Hukum dan Peradilan 40 (Refleksi ,Makassar ,2010)
22
Margaret Fordham, Comparative Legal Traditions - Introducing The Common Law to The Civil Lawyers in Asia 2
23
Fajar Nurhardianto, Sistem Hukum dan Posisi Hukum Indonesia, https://media.neliti.com/media/publications/132702-ID-
sistem-hukum-dan-posisi-hukum-indonesia.pdf (terakhir diakses 8 September 2018)
24
Id.
keputusan sebelumnya, namun dalam prakteknya, hakim civil law, tentu saja,
dipengaruhi oleh keputusan dalam kasus-kasus sebelumnya. Namun penerapan stare
decisis memerlukan analisis rinci dari keputusan yang sering kompleks di Indonesia
sehingga sulit untuk menentukan apakah kasus sebelumnya harus diikuti.25
Karakteristik kedua pada sistem Civil Law tidak dapat dilepaskan dari ajaran
pemisahan kekuasaan yang mengilhami terjadinya Revolusi Perancis. Menurut Paul
Scholten, bahwa maksud sesungguhnya pengorganisasian organ-organ negara
Belanda adalah adanya pemisahan antara kekuasaan pembuatan undang-undang,
kekuasaan peradilan, dan sistem kasasi adalah tidak dimungkinkannya kekuasaan
yang satu mencampuri urusan kekuasaan lainnya. Penganut sistem Civil Law
memberi keleluasaan yang besar bagi hakim untuk memutus perkara tanpa perlu
meneladani putusan-putusan hakim terdahulu. Yang menjadi pegangan hakim adalah
aturan yang dibuat oleh parlemen, yaitu undang-undang.26
Karakteristik ketiga pada sistem hukum Civil Law adalah apa yang oleh
Lawrence Friedman disebut sebagai digunakannya sistem Inkuisitorial dalam
peradilan. Di dalam sistem itu, hakim mempunyai peranan yang besar dalam
mengarahkan dan memutuskan perkara; hakim aktif dalam menemukan fakta dan
cermat dalam menilai alat bukti. Menurut pengamatan Friedman, hakim di dalam
sistem hukum Civil Law berusaha untuk mendapatkan gambaran lengkap dari
peristiwa yang dihadapinya sejak awal. Sistem ini mengandalkan profesionalisme
dan kejujuran hakim.27
Bentuk-bentuk sumber hukum dalam arti formal dalam sistem hukum Civil Law
berupa peraturan perundang-undangan, kebiasaan-kebiasaan, dan yurisprudensi.
Dalam rangka menemukan keadilan, para yuris dan lembaga-lembaga yudisial
maupun quasi-yudisial merujuk kepada sumber-sumber tersebut. Dari sumber-
sumber itu, yang menjadi rujukan pertama dalam tradisi sistem hukum civil law
adalah peraturan perundang-undangan. Negara-negara penganut civil law
menempatkan konstitusi pada urutan tertinggi dalam hierarki peraturan perundang-
undangan. Semua negara penganut civil law mempunyai konstitusi tertulis.28 Di

25
Margaret Fordham, Supra catatan no.22, pada 3.
26
Jeremias Lemek, Mencari Keadilan: Pandangan Kritis Terhadap Penegakan Hukum Di Indonesia 45 (Galang
Press,Jakarta,2007)
27
Id.
28
Soerojo Wignjodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum adat 27-31 (Gunung Agung Jakarta,1983)
samping ketiga karakter utama di atas, sistem civil law mempunyai ciri-ciri yang lain,
di antaranya: Hukum publik dan hukum privat dipisahkan secara tegas; Sistem
peradilan tidak mengenal sistem juri; dan Metode berpikir hakim dilakukan secara
“deduktif”.29
Dalam keluarga Civil Law atau "Romano Germanic", keluarga hukum dapat
dibedakan menjadi dua cabang utama dan diperlakukan sebagai keluarga hukum
yang terpisah30 :
● Di satu sisi ada keluarga hukum "Romawi", disini digambarkan sebagai
keluarga sah dari Code Napoleon,setelah kode yang dimodelkan.
● Di sisi lain ada Jerman (atau Tengah Eropa) keluarga hukum yang saat ini
terutama terdiri dari negara-negara berbahasa Jerman (di periode pra perang
itu tetap, bagaimanapun juga termasuk jurusan bagian dari Eropa Timur) dan
didasarkan pada adopsi dari Austria (ABGB), Jerman (BGB) atau kode sipil
Swiss (ZGB).
Sistem hukum ini mempunyai 2 sisi yaitu sisi dari segi positif dan negatif. Segi
positifnya bahwa Undang-Undang atau hukum tertulis telah memuat hampir semua
aspek kehidupan masyarakat serta sengketa-sengketa yang terjadi, sehingga kasus-
kasus yang timbul dapat diselesaikan dengan mudah, selain daripada itu dengan telah
tersedianya berbagai jenis hukum tertulis akan lebih menjamin adanya kepastian
hukum dalam proses penyelesaiannya. Di sisi lainnya yaitu dalam segi negatifnya,
banyak kasus yang timbul sebagai akibat dari kemajuan zaman dan peradaban
manusia, tidak tersedia undang-undangnya. Sehingga kasus ini tidak dapat
diselesaikan di pengadilan. Hukum tertulis pada suatu saat akan ketinggalan zaman
karena sifat statisnya. Oleh karena itu, sistem hukum ini tidak menjadi dinamis dan
penerapannya cenderung kaku karena tugas hakim hanya sekedar sebagai alat
undang-undang. Hakim tak ubahnya sebagai abdi undang-undang yang tidak
memiliki kewenangan melakukan penafsiran guna mendapatkan nilai keadilan yang
sesungguhnya.31 Sehingga dapat disimpulkan dalam segi negatif, sistem ini
menimbulkan kekosongan hukum, karena ketidakmampuan hukum untuk mengikuti
perkembangan masyarakat yang begitu cepat.

29
Syofyan Hadi, Mengkaji Sistem Hukum Indonesia (DiH Jurnal Ilmu Hukum, Surabaya,2016)
30
Christian Hertel, An Overview of Legal System, Notarius International 1-2, 129, 130 (2009)
31
Id.
Sejarah Sistem Hukum Common Law (Anglo Saxon)
Nama lain dari sistem hukum Anglo-Saxon adalah “Anglo Amerika” atau
“Common Law”. Sistem hukum ini merupakan sistem hukum yang berasal dari Inggris
yang kemudian menyebar ke Amerika Serikat dan negara- negara bekas jajahannya.
Kata “Anglo Saxon” berasal dari nama bangsa yaitu bangsa Anglo-Sakson yang pernah
menyerang sekaligus menjajah Inggris yang kemudian ditaklukan oleh Hertog
Normandia, William. William mempertahankan hukum kebiasaan masyarakat
pribumi dengan memasukkannya juga unsur-unsur hukum yang berasal dari sistem
hukum Eropa Kontinental32.
Nama Anglo-Saxon, sejak abad ke-8 lazim dipakai untuk menyebut penduduk
Britania Raya, yakni bangsa Germania yang berasal dari suku-suku Anglia, Saks, dan
Yut. Konon, pada tahun 400 M mereka menyeberang dari Jerman Timur dan
Skandinavia Selatan untuk menaklukkan bangsa Kelt, lantas mendirikan 7 kerajaan
kerajaan kecil yang disebut Heptarchi. Mereka dinasranikan antara tahun 596-655
M.33
Sistem hukum Amerika hasil resepsio dari sistem hukum inggris yang dikenal
dengan Common law System yang berasal dari hukum kebiasaan warga masyarakat
pribumi inggris yaitu Angel dan Saxon (Anglo Saxon). 34

Common law sama sekali berbeda dalam karakteristiknya dengan rumpun


Romano-Germanic, dibentuk terutama oleh hakim yang harus menyelesaikan
sengketa individual.35 Sistem hukum Anglo Amerika atau common law system
diterapkan dan mulai berkembang sejak abad ke-16 di negara Inggris. Didukung
keadaan geografis serta perkembangan politik dan sosial yang terus menerus, sistem
hukum ini dengan pesat berkembang hingga di luar wilayah Inggris, seperti di
Kanada, Amerika, dan negara negara bekas koloni Inggris, yang juga biasa dikenal
sebagai negara persemakmuran atau commonwealth36. Sumber hukum tertinggi
hanyalah kebiasaan masyarakat yang dikembangkan di pengadilan, dengan kata lain
tidak dikenal sumber hukum baku. Sumber hukum yang berasal dari kebiasaan inilah
yang membuat sistem hukum ini dinamakan common law.

32
Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional 73 (Bandung, Alumni,1991)
33
Handoyo, Hestu Cipto, Hukum Tata Negara Indonesia 58 (Yogyakarta, Universitas Atma Jaya.2009)
34
Nurul Qamar, supra catatan, no.21 , pada 3.
35
René David, Major Legal Systems in the World Today 80 (Stevens & Sons Ltd, 1985)
36
Peter de Cruz, Comparative Law in a Changing World 37 (Cavendish Publishing Limited, London-Sydney, 1999)
Sejarah hukum common law dimulai dari tahun 1066 ketika sistem
pemerintahan di Inggris bersifat feodalistis, dengan melakukan pembagian wilayah
yang dikuasakan ke tangan raja dan rakyat harus menyewakannya kepada raja
tersebut. Kekuasaan raja yang semakin besar menyebabkan ia dapat membentuk
pengadilan sendiri yang dinamakan dengan minorial court. Pengadilan ini
menjalankan tugasnya berdasarkan hukum kebiasaan setempat dan hukum yang
ditetapkan oleh raja sendiri. Akibatnya muncul kesewenangan dan berbagai
penyelewengan yang juga melahirkan pemberontakan pemberontakan hingga
akhirnya tercium oleh Raja Henry II (1154-1180). Kerajaan Inggris lantas berinisiatif
mengambil beberapa kebijaksanaan, yaitu : 37
1) Disusunnya kitab yang berisi hukum Inggris, dan agar mendapatkan kepastian
hukum kitab tersebut ditulis dalam bahasa latin dengan judul Legibus Angliae;
2) Diberlakukannya writ system, yakni surat perintah dari raja kepada tergugat agar
membuktikan bahwa hak-hak dari penggugat itu tidak benar. Dengan demikian
tergugat mendapat kesempatan untuk membela diri;
3) Diadakannya sentralisasi pengadilan (Royal Court) yang tidak lagi mendasarkan
pada hukum kebiasaan setempat melainkan pada Common Law, yang merupakan
suatu unifikasi hukum kebiasaan yang sudah diputus oleh hakim (yurisprudensi).
Hal ini menjadi langkah besar bagi kemajuan hukum di Inggris pada masa itu.
Pada perkembangan modern, hukum Inggris juga menciptakan ketentuan
pengadilan tertulis prerogatif (certiorari, mandamus dan Prohibition) yang
memungkinkan diajukannya keberatan terhadap keputusan administratif dari organ
dan pejabat negara, yang dengan demikian tidak perlu menciptakan suatu pengadilan
administratif tersendiri.38
Meskipun Amerika Serikat dan kebanyakan negara persemakmuran mewarisi
tradisi common law dari sistem hukum Inggris, hukum Amerika cenderung unik
dalam banyak hal. Ini disebabkan karena sistem hukum Amerika terputus dari sistem
hukum Britania akibat revolusi kemerdekaan dan setelah itu ia berkembang secara
mandiri dari sistem hukum Persemakmuran Britania. Oleh karena itu, apabila kita
mencoba menelusuri perkembangan prinsip-prinsip common law yang tradisional
dibuat oleh para hakim, artinya, sejumlah kecil hukum yang belum dibatalkan oleh

37
Tanpa Pengarang, The Common and Civil Law Tradition 3 ( The Robbins Collection, Oxford, 2010)
38
Peter De Cruz, supra catatan no. 36, pada 143.
hukum-hukum yang lebih baru, maka peradilan peradilan Amerika akan melihat
kepada kasus-kasus di Britania hanya sampai ke awal abad ke-19. Pengadilan-
pengadilan dari berbagai negara Persemakmuran seringkali saling mempengaruhi
sesamanya melalui keputusan-keputusan yang diambilnya. Bahkan, pengadilan-
pengadilan Amerika jarang sekali mengikuti keputusan-keputusan Persemakmuran
pasca-revolusi kecuali apabila tidak ada keputusan yang diambil di Amerika
mengenai masalah terkait, fakta-fakta dan hukum yang dimaksud hampir identik, dan
alasannya dianggap sangat meyakinkan. Kasus-kasus Amerika yang paling awal,
bahkan setelah revolusi, seringkali mengutip kasus-kasus Britania yang sezaman,
tetapi kutipan-kutipan seperti itu perlahan-lahan menghilang pada abad ke-19 ketika
pengadilan-pengadilan Amerika mengembangkan prinsip-prinsipnya sendiri untuk
memecahkan masalah-masalah hukum bangsa Amerika.39

Sejarah Sistem Hukum Civil Law (Eropa Kontinental)


Istilah “civil law” diambil dari istilah dari bahasa latin yaitu ius civile yang
berarti hukum yang berlaku bagi seluruh warga negara. Kemudian muncul juga
sebuah peraturan yang dikeluarkan oleh gereja yang disebut dengan hukum gereja
atau canon law. Dalam perkembangannya di eropa pada zaman abad pertengahan,
muncul sebuah kebutuhan untuk menggabungkan kedua rumpun hukum ini menjadi
sebuah kesatuan. Dari situ, muncullah sebuah kodifikasi hukum secara komprehensif
yang menyediakan segala kebutuhan substansi dan penegakan hukum dalam semua
situasi40. Seiring dengan perkembangan praktis yang dilakukan di seluruh Eropa,
peran hukum lokal sebagai sumber hukum menjadi cukup penting. Hal itu terutama
saat kumpulan negara-negara Eropa tersebut bermaksud untuk menyatukan seluruh
hukum yang ada dalam suatu kodifikasi yang lengkap. Unifikasi ini dilakukan untuk
mencapai sebuah kodifikasi peraturan perundang-undangan yang harmonis dengan
asas-asas yang rasional41. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem hukum civil law
ini berkembang di negara- negara Eropa yang semula berasal dari kodifikasi hukum

39
Elizabeth Gaspar Brown, Frontier Justice: Wayne County 1796-1836,Essays in Nineteenth-Century American Legal History,
ed. Wythe Holt 686 (Westport, CT: Greenwood Press, 1976)
40
Vivienne O’connor, The Common Law and Civil Law Traditions https://www.law.berkeley.edu/
41
Id.
yang berlaku di kekaisaran romawi pada masa pemerintahan Kaisar Justinianus abad
VI sebelum masehi42.
Dari awal abad pertengahan hingga pertengahan abad ke 12, sistem hukum
Eropa Kontinental dan Anglo Saxon termasuk dalam sistem hukum yang sama yaitu
hukum Germania yang bersifat feodal baik dari segi substansinya maupun
prosedurnya. Sistem hukum yang dianut oleh negara-negara Eropa Kontinental yang
berakar dan bersumber dari Hukum Romawi inilah yang disebut dengan civil law
system. Penggunaan terminus tersebut disebabkan oleh karena Hukum Romawi
semula bersumber dari karya agung Kaisar Justinianus "Corpus Juris Civilis". Jadi kata
“civil” diambil dari kata “civilis”.43
Dalam penyebarannya, sistem hukum civil law dianut oleh negara negara Eropa
Kontinental, sehingga disebut juga dengan sistem Eropa Kontinental yang merupakan
sistem hukum yang dikembangkan di lnggris yang berdasarkan dari sumber hukum
asli rakyat pribumi lnggris di kala itu.
Sistem Eropa Kontinental yang bersumber dari Roman Law System, telah
menempuh sejarah panjang untuk tiba pada tingkat perkembangan yang pesat. Hal
itu tidak terlepas dari Kitab Corpus Juris Civilis sebagai Kodifikasi Justinianus yang
menandakan puncak kecemerlangan pemikiran hukum Bangsa Romawi dalam
perjalanan waktu yang panjang.
Dari penamaan sistem civil law dapat diketahui merupakan rujukan yang
berasal dari Corpus juris civilis, kata "civilis". Corpus Juris Civilis sebagai Kitab Hukum
terdapat empat bagian pokok yang diaturnya, sebagai berikut44 :
1. The Institute;
2. The Digest;
3. The Code;
4. The Novels.
Pada bagian The Institute secara substansial merupakan prolog atau pengantar
dari Kitab Hukum Corpus Juris Civilis. Pada bagian The Digest memuat kumpulan
berbagai-bagai aturan dan kaidah hukum bangsa Romawi. Pada bagian The Code
memuat ketentuan-ketentuan tentang badan pembuat undang-undang atau legislasi

42
Dedi Soemardi, Pengantar Hukum Indonesia 73 (Indhillco, Jakarta, 1997).
43
Nurul Qamar, supra catatan no.21, pada 26
44
id, pada 27
bangsa Romawi. Pada bagian The Novels memuat aturan-aturan tentang legislasi yang
dibuat setelah selesainya pembuatan The Digest dan The Code. Bagian terpenting dari
empat bagian Kitab Hukum tersebut adalah pada bagian The Digest dan The Code,
oleh karena pada bagian inilah secara lengkap dan sistematik diatur berbagai-bagai
aturan dan kaidah hukum serta bagaimana cara kerja dari badan pembuat undang-
undang. Kedua bagian dimaksud tersebut telah memberi pengaruh yang besar
terhadap perkembangan sistem hukum Eropa Kontinental.
Perkembangan dan penyebaran sistem hukum civil law seiring dengan
perjalanan panjang kekaisaran Romawi. Kenyataannya sebagian besar dari wilayah
Eropa Barat, termasuk bagian-bagian dari lnggris, telah mengalami proses
Romanisasi selama kurang lebih 400 tahun sebelum sampai akhirnya Kekaisaran
Romawi Barat runtuh dan ditaklukan oleh suku-suku Germania (jerman) yang secara
formal telah mengakhiri Kekaisaran Romawi. Hal itu ditandai pada tahun 476, oleh
Odavaker telah menaklukan Romulus Augustulus anak dari seorang pemimpin
tentara Romawi. Peristiwa itu sebagai pertanda dari akhir kekuasaan imperialis
Romawi di Eropa Barat.45
Runtuhnya Kekaisaran Romawi di Eropa Barat, bukan berarti Kekaisaran
Romawi telah lenyap, akan tetapi Kekaisaran Romawi tetap berlanjut di bagian Eropa
Timur dengan ibu kotanya Konstantinopel. Dalam perjalanannya, Kekaisaran Romawi
Timur inilah yang mempunyai peranan penting pada perkembangan Hukum Romawi.
Terbukti karena pada Kekaisaran Romawi Timur itulah Kaisar Justinianus
melahirkan Kodifikasi hukum yang terkenal yaitu Corpus Juris Civilis, yang telah
diterima oleh bangsa Eropa Kontinental. Penyebaran lebih lanjut sistem hukum civil
law setelah jatuhnya Kekuasaan Romawi di Eropa Barat, tidak terlepas dengan jalur
perdagangan melalui Mediterania46. Pada akhir abad XI sampai dengan memasuki
awal abad XIV, terjadi divergensi sistem civil law yang berkembang di Eropa
Kontinental, sementara common law berkembang di lnggris. Civil law yang
dikembangkan di Jerman dan Perancis, menandakan kebangkitan kembali hukum
Romawi atau the Roman Law System yang tertuang dalam kodifikasi Corpus Juris
Civilis, sedangkan sebaliknya yang terjadi di lnggris, ialah Raja-Raja lnggris

45
Id
46
Id, pada 28
menciptakan dan memberlakukan suatu sistem peradilan untuk melaksanakan
hukum kerajaan47.
Dalam perkembangannya, sistem hukum ini mengenal pembagian hukum
publik dan hukum privat. Hukum publik mencakup peraturan-peraturan hukum yang
mengatur kekuasaan dan wewenang penguasa/negara serta hubungan-hubungan
antara masyarakat dan negara (sama dengan hukum publik di sistem hukum Anglo-
Saxon). Hukum Privat mencakup peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang
hubungan antara individu-individu dalam memenuhi kebutuhan hidup demi
hidupnya.48

Perbandingan Sistem Hukum Common Law dan Civil Law


Perbandingan sistem hukum common law dan civil law ini akan dirumuskan
dalam bentuk 2 jenis, yang pertama mengenai perbedaannya dan yang kedua
mengenai persamaannya dengan kaitannya dalam unsur-unsur yang melekat.
Perbedaan:
1. Ditinjau dari sejarah dan sumber lahirnya, sistem hukum civil law
merupakan sistem hukum yang tertua dan paling berpengaruh di dunia.
Sistem hukum ini berasal dari tradisi Roman- Germania. Sekitar abad 450 SM,
Kerajaan Romawi membuat kumpulan peraturan tertulis mereka yang
pertama yang disebut sebagai “Twelve Tables of Rome”. Sistem hukum Romawi
ini menyebar ke berbagai belahan dunia bersama dengan meluasnya kerajaan
Romawi. Sistem hukum civil law kemudian dikodifikasikan oleh Kaisar
Yustinus di abad ke 6. The Corpus Juris Civilis diselesaikan pada tahun 534 M.
Ketika Eropa mulai mempunyai pemerintahan sendiri, hukum Romawi
digunakan sebagai dasar dari hukum nasional masing-masing negara.
Napoleon Bonaparte di Prancis dengan Code Napoleonnya di tahun 1804 dan
Jerman dengan Civil Codenya di tahun 1896. Sedangkan common law
Berdasarkan tradisi, hukum kebiasaan atau custom dan berkembang dari
yurisprudensi yang digunakan oleh hakim untuk menyelesaikan masalah.
2. Dikaji berdasarkan karakteristiknya, dalam sistem hukum civil law
terdapat sistem kodifikasi hakim yang tidak terikat dengan preseden atau

47
Id, pada 31
48
Soerojo Wignjodipoero, Supra catatan no 28, pada 32.
doktrin stare decicis, sehingga undang-undang menjadi rujukan yang utama
dan sifat peradilannya bersifat inkuisitorial. Dalam sistem hukum common law
yurisprudensi dijadikan sebagai sumber hukum yang utama dan dianutnya
doktrin stare decicis atau sistem preseden terdapat Adversary System dalam
proses peradilan.
3. Ditinjau berdasarkan sumbernya, sistem hukum civil law berbasis pada
hukum tertulis atau written law dan menuangkan semaksimal mungkin norma
ke dalam aturan hukum. Yang menjadi sumber hukum adalah Undang-Undang
yang dibentuk oleh pemegang kekuasaan legislatif dan kebiasaan yang hidup
di masyarakat sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.
Sedangkan dalam common law, hukum didasarkan pada pada putusan-
putusan hakim atau pengadilan (judicial decisions). Melalui putusan-putusan
hakim tersebut maka diyakini telah terciptanya keadilan hukum. Walaupun
demikian, sistem hukum ini juga tetap mengakui peraturan yang dibuat oleh
legislatif demi menjaganya kepastian hukum.
4. Ditinjau berdasarkan penggolongannya, sistem hukum civil law terbagi ke
dalam bidang hukum publik dan bidang hukum privat. Yang termasuk dalam
bidang hukum publik adalah hukum tata negara, hukum administrasi negara
dan hukum pidana. Sedangkan yang termasuk dalam bidang hukum privat
adalah hukum perdata, hukum sipil dan hukum dagang. Sistem hukum
common law hampir memiliki persamaan dengan pengertian yang diberikan
oleh sistem hukum civil law, perbedaannya dalam sistem common law, hukum
privat lebih dimaksudkan sebagai kaidah hukum tentang hak milik, hukum
tentang orang, hukum perjanjian, dan hukum tentang perbuatan melawan
hukum yang tersebar di dalam peraturan-peraturan tertulis dan putusan-
putusan hakim.
5. Ditinjau berdasarkan Wilayah Keberlakuannya, Sistem civil law ini berlaku di
banyak negara Eropa dan jajahannya seperti Angola, Argentina, Arménia, Austria,
Belgium, Bosnia and Herzegovina, Brazil, Jerman, Yunani, Haiti, Honduras, Italia,
Belanda, indonesia dan lain-lain. Dengan persentase 23,43% penduduk dunia yang
menganutnya atau sekitar 1.5 Milyar penduduk dunia. Sedangkan untuk sistem
common law berlaku di Inggris dan sebagian besar negara jajahannya, negara-
negara persemakmuran antara lain Bahama, Barbados, Kanada, Dominica, Kep.
Fiji, Gibraltar, Jamaika, Selandia Baru, TOGO, dan lain-lain. Dengan persentase
sekitar 6,5% penduduk dunia atau sekitar 350 juta jiwa.
Pada intinya sesungguhnya perbedaan kedua sistem ini hanyalah terletak pada
bentuk daripada isi. Hakim dalam kedua sistem ini pun mempunyai permasalahan yang
cukup sama yaitu dalam mengatasi kesenjangan legislatif atau dalam kekosongan hukum
dan untuk menyelesaikan peraturan perundang-undangan yang saling bertentangan.
Dalam persamaan, dapat dirujuk pada sebuah jurnal Comparative Legal
Traditions - Introducing The Common Law to The Civil Lawyers in Asia yang ditulis
oleh Margaret Fordham dinyatakan Civil law dan Common Law tetap memiliki
persamaan bahwa kedua sistem ini mengatur mengenai aspirasi masyarakat, dibuat untuk
menyelesaikan suatu perselisihan dan mempunyai tujuan hukum yang sama yaitu
mencapai keadilan dengan cara yang terbaik. Persamaan antara Sistem Civil Law dan
Sistem Common Law memberikan pandangan bahwa hukum senantiasa terbuka
terhadap perkembangan zaman.
Penutup

Perbandingan hukum baru berkembang secara nyata pada akhir abad ke-19
atau permulaan abad ke-20. Terlebih pada saat sekarang di mana negara-negara di
dunia saling berinteraksi dengan Negara yang lain dan saling membutuhkan
hubungan yang erat. Di setiap negara memiliki sistem hukumnya masing-masing,
sistem hukum pada negara-negara tersebut dapat dibandingkan dengan negara yang
ingin membandingkan sistem hukumnya. Dengan adanya perbandingan hukum
sebagai salah satu alat bantu penelitian hukum yang dapat menghasilkan persamaan
dan perbedaan dari kedua sistem hukum yang diteliti, yaitu sistem hukum common
law dan sistem hukum civil law. Meskipun sistem civil law dan common law adalah
sistem hukum yang berbeda, namun kedua sistem hukum tersebut tetap memiliki
persamaan bahwa kedua sistem ini mengatur mengenai aspirasi masyarakat, dibuat
untuk menyelesaikan suatu perselisihan dan mempunyai tujuan hukum yang sama
yaitu mencapai keadilan dengan cara yang terbaik.
Perbandingan hukum dilakukan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan
tentang sistem hukum yang dimiliki oleh para praktisi hukum, dalam hal ini supaya
para praktisi memahami sistem hukum civil law dan common law dalam suatu negara
dan bagaimana sistem kerjanya. Perbandingan dapat dilakukan dengan melihat
sistem civil law dan common law dari perspektif sejarah pembentukan kedua sistem
hukum tersebut, perbandingan yang dilihat dari sisi sejarah, bertujuan untuk
mengetahui latar belakang yang menjadi penyebab mengapa kedua sistem hukum
tersebut memiliki perbedaan.
Daftar Pustaka

Buku:
Dedi Soemardi, Pengantar Hukum Indonesia, Indrillco, Jakarta, 1997
Elizabeth Gaspar Brown, Frontier Justice: Wayne County 1796-1836,Essays
in Nineteenth-Century American Legal History, ed. Wythe Holt 686,
Westport, CT: Greenwood Press, 1976
Handoyo, Hestu Cipto, Hukum Tata Negara Indonesia, Yogyakarta,
Universitas Atma Jaya, 2009
Jeremias Lemek, Mencari Keadilan: Pandangan Kritis Terhadap Penegakan
Hukum Di Indonesia 45 (Galang Press,Jakarta,2007)
John Henry Merryman, The Civil Law Tradition: An Introduction To The Legal
System Of Western Europe And Latin America 2nd Ed, (Stanford University
Press, California, 1985)
Nurul Qamar, Perbandingan Sistem Hukum dan Peradilan, Refleksi ,Makassar ,2010
Peter de Cruz, Comparative Law in a Changing World, Cavendish Publishing
Limited, London-Sydney, 1999
René David, Major Legal Systems in the World Today, Stevens & Sons Ltd, 1985
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, PT citra aditya bakti, Bandung ,2006
Soerojo Wignjodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum adat, Gunung
Agung Jakarta,1983
Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional ,
Bandung, Alumni,1991

Jurnal:
Christian Hertel, An overview of Legal System, Notarius International 1-2, 129,
130 (2009)
Vivienne O’Connor, Common Law and Civil Law Traditions, INPROL-
International network to promote the rule of law (March 2012)
Syofyan Hadi, Mengkaji Sistem Hukum Indonesia, DIH Jurnal Ilmu Hukum
(Surabaya,2016)

Pustaka yang tidak dipublikasi:


Tanpa Pengarang, The Common and Civil Law Tradition, The Robbins
Collection, Oxford, 2010
Margaret Fordham, Comparative Legal Traditions - Introducing The Common
Law to The Civil Lawyers in Asia

Sumber internet:
Choky Ramadhan, Konvergensi Sistem Peradilan Pidana: Pembauran Civil
Law dan Common Law di Indonesia dalam Penemuan dan Pembentukan
Hukum
http://ijrf.leip.or.id/pocontent/uploads/ijrf_kumpulan_tulisan_pilihan_pemb
aruan_peradilan.pdf (terakhir diakses 8 September 2018)
Fajar Nurhardianto, Sistem Hukum dan Posisi Hukum Indonesia,
https://media.neliti.com/media/publications/132702-ID-sistem-hukum-
dan-posisi-hukum-indonesia.pdf (terakhir diakses 8 September 2018)
The Common Law and Civil Law Traditions https://www.law.berkeley.edu/