Anda di halaman 1dari 27

QUICK ASSESSMENT TATA RUANG

PASCA BENCANA GEMPA BUMI DAN


TSUNAMI DONGGALA – PALU 2018

2 Oktober 2018

Direktorat Jenderal Tata Ruang


Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional
OUTLINE

1. KRONOLOGIS BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI


2. DAMPAK GEMPABUMI DAN TSUNAMI
3. WILAYAH TERDAMPAK DALAM RTRW KABUPATEN/KOTA
4. KAJIAN PEMETAAN KAWASAN RAWAN BENCANA
5. FAKTOR SPASIAL PENYEBAB TINGGINYA DAMPAK BENCANA
6. REKOMENDASI AWAL TATA RUANG PASCA BENCANA
7. CONTOH PENATAAN KAWASAN RAWAN BENCANA (KRB)

2
1. KRONOLOGIS BENCANA GEMPA BUMI DAN TSUNAMI
1. Gempa gempa pertama berkekuatan 5,9 skala richter (SR) mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah, terjadi
pada Jumat (28/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan,
gempa terjadi di 0.35 LS dan 119.82 BT. Tepatnya di 8 Km Barat Laut Donggala dengan pusat gempa berada di
kedalaman 10 Km. Menyebabkan satu orang tewas dan 10 orang luka-luka. Tidak berpotensi tsunami.
2. Gempa kedua dengan kekuatan 5,0 SR. Kedalaman gempa 10 Km di titik koordinat 0.34 LS - 119.87 BT dan
berpusat di 10 Km Timur Laut Donggala, Sulawesi Tengah, pada pukul 14.28 WIB. Gempa ini tidak berpotensi
menimbulkan tsunami.
3. Gempa ketiga dengan kekuatan lebih besar yaitu 7,4 SR yang terjadi pukul 17.02 WIB melanda Donggala dan
menyebabkan tsunami. Gempa berkedalaman 10 kilometer, berlokasi di 0.18 LS dan 119.85 BT (27 Km Timur
Laut Donggala-Sulawesi Tengah). Informasi dari Humas BMKG, peringatan dini dinyatakan berakhir pada pukul
17.36 WIB atau sekitar setengah jam setelah terjadi gempa. Gempa ketiga mengakibatkan terjadinya tsunami di
pesisir Kota Palu, Donggala dan Mamuju usai gempa 7,4 SR mengguncang wilayah Donggala, Sulawesi Tengah.
Gelombang tsunami berkisar 1,5 meter sampai 3 meter.
4. Gempa keempat dengan kekuatan 5.4 SR terjadi di Kabupaten Donggala pada pukul 21.26 WIB dengan
kedalaman 10 Km. Lokasi gempa berada pada 0.03 LU – 119.54 BT, 60 Km Barat Laut Donggala dan tidak
berpotensi tsunami.
5. Gempa susulan masih terjadi hingga 30 September 2018 pukul 12:00 WIB tercatat sebanyak 209 kegempaan
yang dirasakan pada 5 MMI.

3
1. KRONOLOGIS BENCANA GEMPA BUMI DAN TSUNAMI
Situation Report #4 Gempa Bumi dan Tsunami
Kabupaten Donggala – Kota Palu
Senin, 1 Oktober 2018
Pukul 05.00 WIB

BMKG mengeluarkan peringatan tsunami akibat gempa M


7,4 pada 28-9-2018 pada pukul 17.02.44 WIB

Status tsunami :
- Waspada (<0,5 meter) : pantai Donggala bagian Barat
- Siaga (0,5-3 meter) : pantai Donggala bagian utara,
Mamuju bagian Utara, Kota Palu bagian Barat

BMKG mengakhiri peringatan tsunami pada 28-9-2018


pukul 17.39 WIB

Tsunami menerjang Pantai Talise di Kota Palu, pantai


Barat Donggala :
- Tinggi tsunami 0,5 – 3 meter
- Tsunami menerjang permukiman di sepanjang pantai
4 4
2. DAMPAK GEMPA BUMI DAN TSUNAMI

5
Dampak guncangan
gempabumi dan bahaya
ikutan Tsunami dan
Liquifaksi
Tsunami di pantai Talise

Liquifaksi di Perumnas Balaroa

Guncangan gempa

6
Sumber citra satelit: LAPAN 6
2. DAMPAK GEMPA BUMI DAN TSUNAMI

Palu Barat
Palu Timur Donggala

Palu PETA ESTIMASI KERUSAKAN Dampal


SUMBER: LAPAN, INTERNATIONAL DISASTERS CHARTER 7
2. DAMPAK GEMPA BUMI DAN TSUNAMI

Bencana Liquifaksi di Perumnas Balaroa

8
2. DAMPAK GEMPA BUMI DAN TSUNAMI

Bencana Liquifaksi di Petobo

9
2. DAMPAK GEMPA BUMI DAN TSUNAMI

• Pusat perbelanjaan atau mal terbesar di Kota Palu, Mal


Tatura di Jalan Emy Saelan ambruk.
• Hotel Roa-Roa berlantai delapan yang berada di Jalan
Pattimura rata dengan tanah. Di hotel yang memiliki 80
kamar itu terdapat 76 kamar yang terisi oleh tamu hotel
yang menginap.
• Arena Festival Pesona Palu Nomoni, puluhan hingga
seratusan orang pengisi acara, sebagian merupakan para
penari, belum diketahui nasibnya.
• Rumah Sakit Anutapura yang berlantai empat, di Jalan
Kangkung, Kamonji, Kota Palu, roboh
• Jembatan Ponulele yang menghubungkan antara Donggala
Barat dan
Donggala Timur roboh, jembatan yang menjadi ikon wisata
Kota Palu roboh setelah diterjang gelombang Tsunami
• Jalur trans Palu-Poso-Makassar tertutup longso

• Pelabuhan Pantoloan (Kota Palu) rusak paling parah. Quay


crane (kran peti kemas) yang biasanya digunakan untuk Kondisi Mall, Masjid, dan bangunan rumah
bongkar muat peti kemas roboh.
• Pelabuhan Wani bangunan dan dermaga mengalami
kerusakan. KM Sabuk Nusantara 39 terhempas tsunami ke
daratan sejauh 70 meter dari dermaga.
• Pelabuhan Ampana, Pelabuhan Luwuk, Pelabuhan Belang-
belang, Pelabuhan Majene kondisi baik dan tidak ada
kerusakan akibat gempa.
• Berbagai bangunan, mulai rumah, pusat perbelanjaan,
hotel, rumah sakit, dan bangunan lainnya ambruk sebagian
atau seluruhnya. Diperkirakan puluhan hingga ratusan
orang belum dievakuasi dari reruntuhan bangunan.
Daerah Balaroa dan sekitar Sungai Manonda,
Kondisi Kampus IAIN Palu Palu Barat 10
2. DAMPAK GEMPA BUMI DAN TSUNAMI

BANDARA: LISTRIK:
• Bandara Mamuju: terjadi kerusakan di bangunan tower namun masih
• 7 gardu induk PLN padam usai gempa mengguncang
berfungsi
Sulawesi Tengah, khususnya di Palu dan Donggala. Saat
• Bandara Toli - Toli: normal
ini baru 2 gardu induk yang bisa dihidupkan kembali.
• Bandara Poso: normal
• Jaringan komunikasi:
• Bandara Luwuk Bangai: terjadi pergeseran tiang tower namun masih berfungsi
- Di Donggala, Palu dan sekitarnya tidak dapat
• Bandara Palu (Mutiara SIS Al-Jufrie) : ditutup hingga tgl 29 Sept 2018 pkl. 19.20
beroperasi karena pasokan listrik PLN putus.
WITA, dengan catatan tidak terjadi gempa atau tsunami lagi. Bagian tower
- Terdapat 276 base station yang tidak dapat dapat
lantai 4 runtuh, peralatan komunikasi rusak, pemancar radio rusak, jaringan
digunakan
Usat down, radar & VOR belum berfungsi, 500 meter dari 2.500 meter landas
pacu atau runway retak akibat gempa. Landas pacu yang tersisa sepanjang
2.000 meter tersebut tidak dapat didarati pesawat jet berukuran besar, seperti
Boeing 747 dan sejenisnya

11
3. WILAYAH TERDAMPAK DALAM RTRW KOTA PALU
Perda 16/2011 tentang RTRW Kota Palu Tahun 2010 - 2030

Wilayah terdampak sebagian


besar berada di kawasan
budidaya antara lain:
• Kawasan perdagangan
jasa
• Kawasan perumahan
• Kawasan peruntukan
lainnya

Status Rencana
Tata Ruang Daerah
1. RTRW Provinsi Sulawesi Tengah
2013 – 2033 (Perda No. 8
Tahun 2013)
2. RTRW Kota Palu 2010 – 2030
(Perda No. 16 Tahun 2011)
3. RDTR Kota Palu – dalam proses
penyusunan

12
KEBIJAKAN PERDA 16/2011 (RTRW KOTA PALU)
TERKAIT MITIGASI BENCANA TSUNAMI
Kws Rawan Bencana gempa tidak dijelaskan secara khusus di dalam Perda RTRW Kota Palu. Rawan Tsunami versi Peta Rencana Pola Ruang
(Kws Lindung Kws Rawan Bencana Alam)
Kws rawan gelombang pasang/tsunami adalah salah satu jenis KRB di RTRW Kota Palu
Kawasan rawan gelombang pasang/tsunami meliputi:
a. wilayah Kecamatan Palu Utara mencakup Kelurahan; Panau, Kelurahan Kayumalue, Kelurahan Baiya,
Kelurahan Lambara, Kelurahan Mamboro, Kelurahan Taipa, dan Kelurahan Pantoloan;
b. wilayah Kecamatan Palu Timur mencakup Kelurahan Talise, Kelurahan Tondo, Kelurahan Layana
Indah, dan Kelurahan Besusu Barat;
c. wilayah Kecamatan Palu Selatan mencakup Kelurahan Lolu Utara dan Kelurahan Lolu Selatan; dan
d. wilayah Kecamatan Palu Barat mencakup Kelurahan Ujuna, dataran banjir S. Palu di Kelurahan Nunu,
Kelurahan Silae, Kelurahan Tipo, Kelurahan Buluri, Kelurahan Watusampu, dan Kelurahan Lere.

* huruf merah terindikasi tsunami 28 September 2018, sumber dari media

Kawasan rawan tsunami di Peta Pola Ruang RTRW hanya terdapat di Kecamatan Tawaeli

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan rawan tsunami meliputi:


1. Kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan penghijauan, pembangunan prasarana
dan sarana perlindungan dampak bencana tsunami;
2. Kegiatan selain yang dimaksud pada angka 1 diperbolehkan dengan syarat meliputi kegiatan pembangunan secara terbatas untuk
kepentingan pemantauan ancaman bencana tsunami dan perlindungan kepentingan umum; dan
3. Kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan selain sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan 2.

Kondisi faktual, kelurahan yang disebut dalam batang tubuh sebagai kawasan rawan gelombang pasang/tsunami telah
berkembang menjadi kawasan perdagangan dan jasa yang padat dengan aktivitas
13
4. KAJIAN PEMETAAN KAWASAN RAWAN BENCANA
Sejarah mencatat telah beberapa kali terjadi gempa yang dirasakan di Kota Palu yang cukup merusak, bahkan ada beberapa
diantaranya yang menimbulkan tsunami. Beberapa kejadian gempa tersebut diantaranya adalah (Bappenas, 2012) :
1. Gempa Lemo 30 Juli 1907
2. Gempa Watusampu 1 Desember 1927 menimbulkan tsunami dengan tinggi gelombang mencapai 15 m, menghantam wilayah
pantai bagian selatan dan Timur Teluk Palu
3. Gempa Donggala 20 Mei 1938 menimbulkan tsunami dengan tinggi gelombang sekitar 4 m, menghantam wilayah pantai di
sekeliling Teluk Palu
4. Gempa Tambu 15 Agustus 1968 menimbulkan tsunami dengan tinggi gelombang mencapai 10 m, menghantam wilayah pantai
di sekeliling teluk Tambu
5. Gempa Sausu 1994 dan gempa kantewu 1994
6. Gempa Tonggolobibi 1 Januari 1996 menimbulkan tsunami dengan tinggi gelombang mencapai 4 m, menghantam wilayah
pantai Desa Tonggolobibi
7. Gempa Banggai 2000 menimbulkan tsunami di wilayah balantak, P. Peleng dan P Banggai.
8. Gempa Tojo 12 Agustus 2002
9. Gempa Gawalise, gempa Rano, Gempa Bora dll tahun 2005
10. Gempa Buol 2008 merusak lebih dari 1000 rumah
11. Gempa Janedo awal april 2009 (kurang dari 48 jam terjadi 3 kali gempa antara Palu-Parigi)
12. Gempa Palu 18 Agustus 2012 dan Gempa Sigi 4 September 2012

14
4. KAJIAN PEMETAAN KAWASAN RAWAN BENCANA
TIPIKAL GEMPA BUMI KOTA PALU
• Gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquakes) seperti pada Sesar Palu-Koro, merupakan gempa tipe zona perubahan
(transform zones), Tipe gempa jenis ini berbeda dengan zona tumbukan (collision zone) dan zone penujaman (subduction
zone).
• Zona sumber gempa yang mempengaruhi peristiwa kegempaan di Kota Palu dan sekitarnya adalah: Sesar Palu-Koro, Sesar
Matano, subduksi Sulawesi Utara, Sesar Majene-Bulukumba, Zona Difusi Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah dan Timur.

Analisis PVMBG
memperkirakan,guncangan gempa
di pulau serupa huruf ‘K’ ini akibat
bergeraknya Sesar Palu Koro.
Patahan ini tertanam dan
memanjang dari Utara ke Selatan,
membelah wilayah Palu. Sesar Palu
Koro awalnya dimulai dari laut,
akan tetapi lebih banyak yang
membentang melewati daratan,
benar-benar seperti membelah
Kota Palu menjadi dua bagian. Ada
juga sesar lain di bawah Tanah
Celebes ini, sebut saja Sesar Matano
yang menurut para ahli juga
menyimpan potensi bencana gempa
besar layaknya Palu Koro.

15
4. KAJIAN PEMETAAN KAWASAN RAWAN BENCANA
Peta Bahaya Zona Bahaya Liquifaksi Daerah Palu

Indeks potensi Liquifaksi • Pondasi yang digunakan sebaiknya tidak diletakkan


pada lapisan pasir, sehingga lebih aman terhadap
perilaku liquifaksi.
• Penataan ruang terhadap kawasan pemukiman,
industri dan bangunan vital lainnya sebaiknya
Sumber: Badan Geologi, 2012 ditempatkan pada area yang memiliki indeks potensi
likuifaksi (LPI) < 5. 16
4. KAJIAN PEMETAAN KAWASAN RAWAN BENCANA

17
4. KAJIAN PEMETAAN KAWASAN RAWAN BENCANA
HASIL PEMETAAN MIKROZONASI 2018 PETA MIKROZONASI KOTA PALU
(Peta KRB Gempabumi skala rinci)
• Peta mikrozonasi (analisis untuk mendapat nilai
bahaya guncangan di permukaan tanah dengan
skala rinci) tampak bahwa di Kota Palu
didominasi dengan daerah yang memiliki tingkat
bahaya yang tinggi saat terjadinya gempa bumi.
• Desa Watusampu Kecamatan Ulujadi,
Kecamatan Palu Barat, Tatanga, Palu Selatan,
Mamboro, Baiya dan Pantoloan termasuk area
dangan nilai mikrozonasi tinggi. Terutama di
LEGENDA:
Kawasan kota yang ramai penduduk dan Cukup Tinggi
aktivitas pemerintahan, jasa dan perdagangan
Tinggi
merupakan area dengan mikrozonasi/ bahaya
guncangan gempabumi tinggi. Tinggi Sekali

18
4. KAJIAN PEMETAAN KAWASAN RAWAN BENCANA
SEJARAH KEJADIAN TSUNAMI DI KOTA PALU DAN SEKITARNYA (Pelinosvky et.al, 1997)

Kompilasi Data kejadian tsunami berdasarkan NGDC(biru) dan winITDB (merah)

PENYEBAB TSUNAMI 28 September 2018


Berdasarkan analisis sementara dari para ahli tsunami (ITB, LIPI, BPPT), tsunami 28 September 2018 disebabkan:
1) Di bagian Teluk Palu disebabkan adanya longsoran sedimen dasar laut di kedalaman 200-300 meter. Sedimen dari
sungai-sungai yang bermuara di Teluk Palu belum terkonsolidasi kuat sehingga runtuh/longsor saat gempa, dan
memicu tsunami. Indikasinya : naik turunnya gelombang dan air keruh.
2) Di bagian luar dari Teluk Palu disebabkan oleh gempa lokal. Airnya lebih jernih. 19
5. FAKTOR SPASIAL PENYEBAB TINGGINYA DAMPAK BENCANA

1. Kedekatan kawasan kepadatan tinggi & pusat aktifitas dengan pusat gempa besar dan
patahan aktif Palu Koro
2. Kawasan perkotaan yang berada pada batuan dan tanah yang rentan terhadap dan
memperkuat (amplifikasi) guncngan gempa (kerentanan seismik)
3. Minimnya sempadan pantai yang mempertimbangkan bahaya dan risiko tsunami
4. Terjadinya bahaya ikutan gempa berupa Tsunami dan liquifaksi yang masif (kawasan
permukiman petobo dan Baloroa)
5. Pemanfaatan ruang yang kurang baik, seperti: eksploitasi area pertambangan di daerah
Palu bagian barat, eksploitasi daerah sempadan pantai untuk pengembangan
permukiman
6. Perencanaan dan pembangunan jaringan sarana dan prasarana yang sejajar dengan posisi
beberapa sesar di Kota Palu dan sekitarnya, seperti: Palu-Koro, Donggala,
7. Konstruksi bangunan tidak tahan gempa bumi

20
6. REKOMENDASI AWAL TATA RUANG PASCA BENCANA

1. Mengkaji potensi lokasi masa depan Kota Palu dengan penggeseran pusat kegiatan kota dan zona perumahan
kepadatan tinggi, ke arah dalam Teluk Palu, pada formasi geologi dan tanah keras (kerentanan seismic rendah),
berada di luar zona sempadan patahan aktif, relatif aman dari ancaman tsunami, liquifaksi, banjir bandang dan
longsor.
2. Menghindari membangun kembali fungsi hunian dan pusat kegiatan pada:
a) zona sempadan pantai minimal 100 meter atau Batas Sempadan Pantai (BSP) yang ditetapkan dengan
mempertimbangkan bahaya dan risiko tsunami.
b) kawasan kejadian liquifaksi masif pada pascagempa 28 September 2018 (mis Kws Petobo, Boloroa)
3. Membatasi intensitas pemanfaatan ruang pada kawasan bahaya sangat tinggi liquifaksi (peta terlampir)
4. Mengkaji pententuan Batas Sempadan Pantai (BSP) Teluk Palu dengan mempertimbangkan bahaya dan risiko
tsunami serta dilengkapi dengan ketentuan rinci pemanfaatan ruang /Peraturan Zonasi
5. Mengkaji lokasi aman dan potensial bagi kebutuhan ruang hunian sementara dan hunian tetap (relokasi)
6. Mengembangkan Tata Ruang Kota dengan Konsep Konfigurasi Ruang Perlindungan Berlapis dari Tsunami,
sebagai Dasar Rencana Struktur dan Pola Ruang Serta Peraturan Zonasi (Contoh Terlampir)
7. Pembangunan bangunan gedung yang memperhatikan peta mikrozonasi gempabumi
8. pengembangan jalur dan tempa evakuasi bencana gempabumi dan tsunami
9. Pembangunan baru pada kawasan pesisir Teluk Palu dibatasi pada bangunan tinggi yang dapat multi-fungsi
Tempat Evakuasi Vertikal tsunami dan mampu menahan gaya gempa dan tsunami.
21
7. CONTOH PENATAAN KAWASAN RAWAN BENCANA (KRB)

Contoh Usulan Konsep Konfigurasi


Penataan KRB Tsunami Ruang untuk
KRB Risiko Tsunami Teluk Pacitan Perlindungan
Tsunami
Zona Pasang Surut Laut Berlapis dari
(masih termasuk wilayah
PENATAAN KRB
perairan) Tsunami,
BSP 200 meter
KONSEP KONFIGURASI RUANG UNTUK PERLINDUNGAN sebagai Dasar
BERLAPIS DARI TSUNAMI
KRB Tinggi Tsunami/zona merah di luar BSP 200m Rencana Struktur
KRB Rendah-Menengah Tsunami
dan Pola Ruang Serta
Peraturan Zonasi
Zona Aman Tsunami

Bukit Evakuasi Tsunami (Escape hill)


Bangunan potensial sbg Tempat Evakuasi Vertikal
(Tsunami Shelter Building)
Usulan tambahan Tempat Evakuasi Vertikal
(Tsunami Shelter Building)

Sumber:
Prawiranegara, Mirwansyah.2017. Rekomendasi
Kebijakan Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana
22
(KRB) Tsunami dan Besaran Sempadan Pantai di Pacitan
24
CONTOH BANGUNAN PUBLIK MULTI FUNGSI TEMPAT EVAKUASI TSUNAMI

MASJID RAYA PADANG, SUMBAR


SMA NEGERI 25 Bangunan ibadah multifungsi sebagai shelter, dirancang tahan gempa
PADANG, 10 SR sekaligus dapat berfungsi sebagai shelter tsunami berkapasitas
20 ribu orang.
SUMBAR
Bangunan pendidikan
multifungsi sebagai shelter
tsunami

Akses tangga ke atap


sekolah

SEKOLAH AL-AZHAR PADANG SMA NEGERI 1 PADANG, SUMBAR


Bangunan pendidikan multifungsi yang dirancang sebagai tempat shelter Bangunan pendidikan multifungsi sebagai tempat shelter tsunami
tsunami

23
CONTOH BANGUNAN ADAPTIF BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI

• Void bangunan dirancang untuk meneruskan


energi tsunami yang dating (adaptif)
• Lantai paling bawah tidak berdinding dan
digunakan sebagai lahan parkir
HOTEL MERCURE PADANG, SUMBAR
Bangunan komersial adaptif sekaligus multifungsi sebagai tempat evakuasi
dan TES tsunami

24
Terima Kasih
@DitjenTataRuang Tataruang.atr-bpn.go.id/ gistaru.atrbpn.go.id/rtronline

@DitjenTaru /DitjenTataRuang Ditjen Tata Ruang

25
KONDISI (SEBELUM BENCANA) SEMPADAN PANTAI DI PESISIR KOTA PALU

• Terkait dengan ancaman Tsunami, maka kondisi sempadan pantai merupakan ruang yang harus meiliki tingkat kerentanan atau eksposur rendah
• Selain terkait dengan tingkat kerentanan atau eksposure, pemanfaatan ruang di kawasan sempadan pantai ini juga dapat difungsikan sebagai kawasan untuk
meningkatkan kapasitas ruang yang dapat mengurangi risiko bencana.
• Untuk mengetahui tingkat kapasitas ruang sempadan pantai, sesuai dengan Peraturan Presiden No. 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai,
disebutkan bahwa Sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian pantai, yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal
100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat, maka harus diketahui jenis pemanfaatan lahan pada wilayah sempadan pantai di pesisir Kota Palu
• Berdasarkan hasil pengolahan data Penggunaan Lahan eksisting di area sempadan pantai seperti disajikan pada peta serta table dibawah didominasi oleh
lahan terbangun

KEC. PALU BARAT No Penggunaan Lahan Kecamatan Luas (ha) %


1 Badan Jalan Arteri 4,027 3,666
2 Badan Jalan Kolektor 0,047 0,043
3 Bangunan/Permukiman dan Tempat Kegiatan 70,202 63,906
4 Perkebunan / Kebun 3,922 3,570
Palu Barat
5 Semak Belukar / Alang Alang 19,423 17,681
6 Badan Jalan Arteri 0,001 0,001 KEC. ULUJADI
7 Tanah Kosong / Gundul 12,228 11,131
8 Bangunan/Permukiman dan Tempat Kegiatan 0,002 0,002
Total 109,852 100

No Penggunaan Lahan Kecamatan Luas (ha) %


1 Badan Jalan Arteri 1,774 8,362
2 Bangunan/Permukiman dan Tempat Kegiatan 15,537 73,218
3 Perkebunan / Kebun 0,004 0,021
4 Semak Belukar / Alang Alang Ulujadi 0,706 3,326
5 Tanah Kosong / Gundul 3,196 15,059
6 Badan Jalan Arteri 0,001 0,004
7 Bangunan/Permukiman dan Tempat Kegiatan 0,002 0,010
Total 21,220 100

28
KONDISI (SEBELUM BENCANA) SEMPADAN PANTAI DI PESISIR KOTA PALU
No Penggunaan Lahan Kecamatan Luas (ha) %
KEC. PALU TIMUR KEC. TAWELI
1 Badan Jalan Arteri 0,538 3,868
2 Bangunan/Permukiman dan Tempat Kegiatan 7,656 55,073
Palu Timur
3 Semak Belukar / Alang Alang 0,223 1,608
4 Tanah Kosong / Gundul 5,484 39,452
Total 13,901 100

No Penggunaan Lahan Kecamatan Luas (ha) %


1 Badan Jalan Kolektor 0,011 0,014
2 Bangunan/Permukiman dan Tempat Kegiatan 38,311 48,834
3 Pemakaman Umum 0,261 0,333
4 Perkebunan / Kebun 5,836 7,439
5 Saw ah 1,829 2,332
Taw aeli
6 Semak Belukar / Alang Alang 13,805 17,597
7 Tanah Kosong / Gundul 16,802 21,417
8 Tegalan / Ladang 1,596 2,034
9 Bangunan/Permukiman dan Tempat Kegiatan 0,000 0,000
10 Semak Belukar / Alang Alang 0,000 0,000
Total 78,451 100

No Penggunaan Lahan Kecamatan Luas (ha) % KEC. PALU UTARA


KEC. MATIKULARE
1 Badan Jalan Arteri 1,208 1,455
2 Bangunan/Permukiman dan Tempat Kegiatan 20,583 24,785
3 Perkebunan / Kebun 1,861 2,241
Mantikulore
4 Semak Belukar / Alang Alang 7,960 9,585
5 Tanah Kosong / Gundul 44,937 54,109
6 Tegalan / Ladang 6,499 7,826
Total 83,049 100

No Penggunaan Lahan Kecamatan Luas (ha) %


5 Semak Belukar / Alang Alang 7,777 8,539
6 Badan Jalan Arteri 0,967 1,061
7 Badan Jalan Kolektor 0,030 0,033
8 Bangunan/Permukiman dan Tempat Kegiatan 55,906 61,380
Palu Utara
9 Pemakaman Umum 0,101 0,111
10 Perkebunan / Kebun 7,574 8,315
11 Tegalan / Ladang 3,062 3,362
12 Tanah Kosong / Gundul 15,665 17,199
Total 91,082 100

29