Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.


Untuk memenuhi kebutuhan perencanaan sistem transmisi pada
mobil Honda New Civic 1.8L MT, tugas mata kuliah Elemen Mesin III
tentang merencanakan sistem transmisi roda gigi lurus pada sistem mobil
Honda New Civic 1.8L MT dan disertasi pengukuran-pengukuran
kekuatan pada umur pemakaiannya. Dalam laporan ini kita mendapatkan
pelajaran mengenai proses-proses perhitungan yang akurat terhadap
perencanaan sistem transmisi roda gigi miring serta memahami teori dasar
dari roda gigi pada umumnya.

1.2 Tujuan.
Karena suatu perencanaan elemen mesin haruslah benar-benar
akurat atau teliti, maka khusus dalam perencanaan roda gigi lurus ini
terdapat beberapa tujuan yang ingin kita capai agar memiliki efisiensi yg
tinggi, antara lain :
a) Mendapatkan kekuatan roda gigi yang baik dengan dasar bahwa
faktor keamanan yang dimilikinya adalah optimal yang ditunjang
dengan pemilihan bahan yang sesuai serta cara kerjanya.
b) Memiliki efisiensi kerja yang tinggi.
c) Mendapatkan sebuah sistem rancangan roda gigi lurusyang lebih kuat
namun tetap ekonomis.
d) Dapat memperkirakan umur gear yang direncanakan.

 Disainer ditujukan untuk digunakan dalam mengembangkan


komponen dasar hingga menjadi suatu barang kerja jadi maupun
setengah jadi karena disainer adalah tokoh utama dalam perancangan.

1
 Portabilitas sangatlah penting, khususnya bagi programmer yang bisa
menggunakan aplikasi AutoCad yang dapat merancang desain
gambar.
 Desainer selain sebagai program proses perancangan atau pembuatan
komponen maupun barang kerja tetapi juga merupakan suatu proses
penganalisaan yang baik termasuk pengukuran terhadap kekuatan dari
efisiensi sistem transmisi roda gigi lurus dengan umur pemakaiannya
terhadap material yang digunakan.

2 Batasan Masalah
1. Perhitungan ini hanya berisi tentang merancang transmisi roda gigi
saja.
2. Di sini tidak dijelaskan bagaimana proses manufaktur dalam hal
pembuatanya saja.
3. Dalam perencanaan transmisi ini pada penjelasan macam-macam roda
giginya tidak semua bagian-bagian dari sebuah roda gigi yang dapat
saya jabarkan.
4. Dan bagian yang hanya dapat kami bahas yaitu sebagian saja dimana
berupa.
a) Perhitungan pasangan roda gigi I.
b) Perhitungan pasangan roda gigi II
c) Perhitungan pasangan roda gigi III
d) Perhitungan pasangan roda gigi IV
e) Perhitungan pasangan roda gigi V
f) Perhitungan efisiensi.

2
BAB II
TEORI DASAR
2.1 P O R O S

Poros merupakan salah satu komponen terpenting dari suatu mesin


yang membutuhkan putaran dalam operasinya. Secara umum poros
digunakan untuk meneruskan daya dan putaran.

1. Jenis-jenis poros:
a. Poros transmisi
• Beban berupa : momen puntir dan momen lentur
• Daya dapat ditransmisikan melalui : kopling, roda gigi, belt,
rantai.

Gambar2.1 rangkaiannyan pemindah tenaga pada mobil

b. Spindel
• Poros transmisi yang relatif pendek, misal : poros utama mesin
perkakas dengan beban utama berupa puntiran.
• Deformasi yang terjadi harus kecil dan bentuk serta ukurannya
harus teliti.

Gambar2.2spindelpenghubungputaranporos

3
c. Gandar
• Poros yang tidak berputar
• Menerima beban lentur, misalnya pada roda-roda kereta

Gambar 2.3 gambar pada sepeda

2. Hal Penting Dalam Perencanaan Poros


a. Kekuatan Poros :
• Beban poros transmisi : puntir, lentur, gabungan puntir dan
lentur, beban tarikan atau tekan (misal : poros baling-baling
kapal, turbin)
• Kelelahan, tumbukan, konsentrasi tegangan seperti pada poros
bertingkat dan beralur pasak.
• Poros harus didesain dengan kuat.

b. Kekakuan Poros
• Untuk menerima beban lentur atau defleksi akibat pntiran yang
lebih besar.

c. Putaran Kritis
• Jika suatu mesin putarannya dinaikkan maka pada suatu harga
putaran tertentu dapat terjadi getaran yang luar biasa. Putaran
ini disebut putaran kritis.
• Putaran kerja harus lebih kecil dari putaran kritis (n < ns)

d. Korosi
• Perlindungan terhadap korosi untuk kekuatan dan daya tahan
terhadap beban.

e. Bahan Poros
• Disesuaikan dengan kondisi operasi.

4
• Baja konstruksi mesin, baja paduan dengan pengerasan kulit
tahan terhadap keausan, baja krom, nikel, baja krom molibden
dll.

2.2 PASAK

Pasak atau keys merupakan elemen mesin yang digunakan untuk


menetapkan atau mengunci bagian-bagian mesin seperti : roda gigi, puli,
kopling dan sprocket pada poros, sehingga bagian-bagian tersebut ikut
berputar dengan poros.

Fungsi yang sama juga dilakukan oleh poros bintang (spline).

1. Desain Pasak
Jenis-jenis pasak yang biasa digunakan dalam suatu mesin :
• Pasak pelana

• Pasak
• Pasak
rata
• Pasak
benam
singgung

Gambar 1. Jenis-Jenis Pasak

5
2.3 Pengertian Roda Gigi

Rodagigi adalah digunakan untuk mentransmisikan daya besar dan


putaran yang tepat. Rodagigi memiliki gigi di sekelilingnya, sehingga
penerusan daya dilakukan oleh gigi-gigi kedua roda yang saling berkait.
Rodagigi sering digunakan karena dapat meneruskan putaran dan daya yang
lebih bervariasi dan lebih kompak daripada menggunakan alat transmisi yang
lainnya, selain itu rodagigi juga memiliki beberapa kelebihan jika
dibandingkan dengan alat transmisi lainnya, yaitu :
 Sistem transmisinya lebih ringkas, putaran lebih tinggi dan daya
yang besar.

 Sistem yang kompak sehingga konstruksinya sederhana.

 Kemampuan menerima beban lebih tinggi.

 Efisiensi pemindahan dayanya tinggi karena faktor terjadinya slip


sangat kecil.

 Kecepatan transmisi rodagigi dapat ditentukan sehingga dapat


digunakan dengan pengukuran yang kecil dan daya yang besar.

Rodagigi harus mempunyai perbandingan kecepatan sudut tetap


antara dua poros. Di samping itu terdapat pula rodagigi yang perbandingan
kecepatan sudutnya dapat bervariasi. Ada pula rodagigi dengan putaran
yang terputus-putus.
Dalam teori, rodagigi pada umumnya dianggap sebagai benda kaku
yang hampir tidak mengalami perubahan bentuk dalam jangka waktu
lama.

6
A. Klasifikasi Roda Gigi
Roda gigi diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Menurut letak poros.
2. Menurut arah putaran.
3. Menurut bentuk jalur gigi.

7
1. Menurut Letak Poros
Menurut letak poros maka rodagigi diklasifikasikan seperti tabel berikut :

Letak Poros Rodagigi Keterangan


Rodagigi lurus Klasifikasi atas
Rodagigi miring dasar bentuk
Rodagigi Rodagigi miring ganda alur gigi
degan Rodagigi luar
poros Rodagigi dalam dan pinion Arah putaran
sejajar Batang gigi dan pinion berlawanan Arah
putaran sama
Gerakan lurus dan
berputar
Rodagigi kerucut lurus
Rodagigi kerucut spiral Klasifikasi atas
Rodagigi Rodagigi kerucut zerol dasar bentuk jalur
dengan Rodagigi kerucut miring gigi
poros Rodagigi kerucut miring
berpotong ganda
an Rodagigi permukaan dengan Rodagigi dengan
poros berpotongan poros
berpotongan
berbentuk
istimewa
Rodagigi miring silang Kontak gigi
Batang gigi miring silang Gerak lurus dan
Rodagigi Rodagigi cacing silindris berputar
dengan Rodagigi cacing selubung
poros ganda
silang Rodagigi cacing samping
Rodagigi hiperboloid

8
Rodagigi hipoid
Rodagigi permukaan silang

2. Menurut arah putaran

Menurut arah putarannya, rodagigi dapat dibedakan atas :


 Rodagigi luar ; arah putarannya berlawanan.
 Rodagigi dalam dan pinion ; arah putarannya sama.

3. Menurut bentuk jalur gigi

Berdasarkan bentuk jalur giginya, rodagigi dapat dibedakan atas :

a) Roda gigi lurus (Spur gear)


Roda gigi lurus dipakai untuk memindahkan gerakan
putaran antara poros-poros yang sejajar. Yang biasanya berbentuk
silindris dan gigi-giginya adalah lurus dan sejajar dengan sumber
putaran. Pengunaan roda gigi lurus karena putarannya tidak lebih
dari 3600 rpm dan kecepatan keliling tidak lebih dari 5000
ft/menit. Ini tidak mutlak, spur gear dapat juga dipakai pada
kecepatan diatas batas-batas tersebut.

Gambar 2.1 roda gigi lurus(spur)

b) Roda gigi miring (Helical gear)

9
Roda gigi miring dipakai untuk memindahkan putaran
antara poros-poros yang sejajar. Sudut kemiringan adalah sama
pada setiap roda gigi, tetapi satu roda gigi harus mempunyai
kimiringan ke sebelah kanan dan yang lain ke kiri. Roda gigi ini
mampu memindahkan putaran lebih dari 3600 rpm dan kecepatan
keliling lebih dari 5000 ft/menit.

Gambar 2.2 Roda Gigi Miring

Menurut bentuk jalur gigi berdasarkan bentuk jalur giginya,


roda gigi miring memiliki ciri-ciri :
1. Arah gigi membentuk sudut terhadap sumbu poros.
2. Distribusi beban sepanjang garis kontak tidak uniform.
3. Kemampuan pembebanan lebih besar dari pada roda gigi lurus.
4. Gaya aksial lebih besar sehingga memerlukan bantalan aksial
dan rodagigi yang kokoh.

Jenis-jenis roda gigi miring antara lain :

10
Gambar 2.3Roda gigi miring biasa

Gambar 2.4Rodagigi miring ganda

Gambar 2.5Rodagigi miring silang

11
Gambar 2.6Rodagigi miring ganda bersambung

c) Roda gigi cacing (Worm gear)


Roda gigi cacing dipakai untuk memindahkan putaran
antara poros yang tegak lurus bersilang. Susunan roda gigi cacing
biasanya mempunyai penutup tunggal atau ganda, suatu susuna
roda gigi berpenutup tunggal adalah sesuatu dimana roda gigi
dibungkus penuh atau sebagian oleh gigi cacing, sebuah roda gigi
dimana setiap elemen ditutup sebagian oleh yang lain adalah
susunan roda gigi cacing berpenutup ganda.

Gambar 2.7rodagigicacing

d) Roda gigi kerucut (Bevel gear)


Roda gigi kerucut dipakai untuk memindahkan gerakan
atau putaran antara poros yang berpotongan. Walaupun roda-roda

12
gigi kerucut biasanya dibuat untuk sudut poros 90°, roda-roda gigi
ini biasanya untuk semua ukuran sudut.

Gamabar 2.8 roda gigi kerucut


e) Screw gear
Jenis roda gigi ini trediri dari dua buah helical gear wheel
yang merupakan kombinasi sederhana untuk memindahkan gaya
maupun torsi poros yang membentuk sudut-sudut tertentu.

Gambar 2.9 screw gear

f) Hypoid gear
Hypoid gear bentuknya hampir menyerupai spiral bevel
gear, namun perbedaannya terletak pada pitch yang lebih
hiperbolid dibandingkan dengan cousenya dan menoperasikannya
lebih lembut dan tenang.

13
Gambar 2.10 Hypoid gear

14
BAB III
MEKANISME SISTEM TRASMISI

2.4 PEMILIHAN JENIS RODA GIGI


Roda gigi lurus (Spur gear)

Roda gigi lurus dipakai untuk memindahkan gerakan putaran antara poros-
poros yang sejajar. Yang biasanya berbentuk silindris dan gigi-giginya adalah
lurus dan sejajar dengan sumber putaran. Pengunaan roda gigi lurus karena
putarannya tidak lebih dari 3600 rpm dan kecepatan keliling tidak lebih dari
5000 ft/menit. Ini tidak mutlak, spur gear dapat juga dipakai pada kecepatan
diatas batas-batas tersebut.

Gambar2.11 roda gigi lurus(spur)

15
BAB IV
PEMBAHASAN SISTEM TRANSMISI

2.5 Menentukan Ukuran Roda Gigi


Rancangan roda gigi yang mampu mentransmisikan daya maksimum
sebesar 105kW pada putaran 7080 rpm. Pada mobil Honda New Civic 1.8L
MT dan direncanakan menggunakan roda gigi miring.
Hal-hal yang direncanakan antara lain :
- Sudut miring , α = 25°
- Sudut tekanan , β = 20°
- Jarak sumbu poros , a = 120 mm
- Modul (m) = 3
- Perbandingan transmisi seperti pada brosur, (i)
• i1 = 3,241
• i2 = 1,968
• i3 = 1,532
• i4 = 1 (tertera 0,849 karena terjadi kehilangan daya 0.8%)
• i5 = 0,772
• ir = 3,703
• ifg = 4,492
Karena dasar dalam perencanaan roda gigi yaitu perbandingan
kecepatan atau perbandingan transmisi (i) yaitu perbandingan diameter
lingkungan jarak roda gigi atau jumlah gigi satu dengan jumlah gigi yang
kedua.

16
2.6 Perhitungan Transmisi
Diameter jarak bagi lingkaran sementara, d’
 Perhitungan transmisi 1
Jumlah roda gigi (Z) :
2𝑎 2.120
𝑍1 = = = 19
(1 + 𝑖1 ). 𝑚 (1 + 3,241). 3

2𝑎𝑖1 2.120.3,241
𝑍2 = = = 61
(1 + 𝑖1 ). 𝑚 (1 + 3,241). 3
Dimensi Roda Gigi :
Diameter Tusuk, Dt
Dt1 = m x Z1 Dt2 = m x Z2
= 3 x 19 = 3 x 61
= 57 mm = 183 mm

Diameter Kepala, Dk
Dk1 = m (Z1 + 2) Dk2 = m (Z2 + 2)
= 3 (19 + 2) = 3 (61 + 2)
= 63 mm = 189 mm

Diameter Kaki, Df
Df1 = m (Z1 - 2) Df2 = m (Z2 - 2)
= 3 (19 - 2) = 3 (61 - 2)
= 51 mm = 177 mm
Jarak Sumbu Poros pada Roda Gigi :
𝑑𝑡1 + 𝑑𝑡2
𝑎= 2
57+183
= = 120
2

17
 Perhitungan transmisi 2
Jumlah Roda gigi (Z) :

2𝑎 2.120
𝑍1 = = = 27
(1 + 𝑖2 ). 𝑚 (1 + 1,968). 3

2𝑎𝑖2 2.120.1,968
𝑍2 = = = 53
(1 + 𝑖2 ). 𝑚 (1 + 1,968). 3

Dimensi Roda Gigi :


Diameter Tusuk, Dt
Dt1 = m x Z1 Dt2 = m x Z2
= 3 x 27 = 3 x 53
= 81 mm = 159 mm

Diameter Kepala, Dk
Dk1= m (Z1 + 2) Dk2 = m (Z2 + 2)
= 3 (27 + 2) = 3 (53 + 2)
= 87 mm = 165 mm

Diameter Kaki, Df
Df1 = m (Z1 - 2) Df2 = m (Z2 - 2)
= 3 (27 - 2) = 3 (53 - 2)
= 75 mm = 153 mm
Jarak Sumbu Poros pada Roda Gigi :
𝑑𝑡1 + 𝑑𝑡2
𝑎= 2
81+159
= = 120
2

18
 Perhitungan transmisi 3

Jumlah roda gigi (Z) :


2𝑎 2.120
𝑍1 = = = 32
(1 + 𝑖3 ). 𝑚 (1 + 1,532). 3

2𝑎𝑖3 2.120.1,532
𝑍2 = = = 48
(1 + 𝑖3 ). 𝑚 (1 + 1.532). 3

Dimensi Roda Gigi :


Diameter Tusuk, Dt

Dt1 = m x Z1 Dt2 = m x Z2
= 3 x 32 = 3 x 48
= 96 mm = 144 mm

Diameter Kepala, Dk
Dk1= m (Z1 + 2) Dk2 = m (Z2 + 2)
= 3 (32 + 2) = 3 (48 + 2)
= 102 mm = 150 mm

Diameter Kaki, Df
Df1 = m (Z1 - 2) Df2 = m (Z2 - 2)
= 3 (32 - 2) = 3 (48 - 2)
= 90 mm = 138 mm
Jarak Sumbu Poros pada Roda Gigi :
𝑑𝑡1 + 𝑑𝑡2
𝑎= 2
96+144
= = 120
2

19
 Perhitungan transmisi 4
Jumlah roda gigi (Z) :
2𝑎 2.120
𝑍1 = = = 40
(1 + 𝑖4 ). 𝑚 (1 + 1). 3

2𝑎𝑖4 2.120.1
𝑍2 = = = 40
(1 + 𝑖4 ). 𝑚 (1 + 1). 3

Dimensi Roda Gigi :


Diameter Tusuk, Dt

Dt1 = m x Z1 Dt2 = m x Z2
= 3 x 40 = 3 x 40
= 120 mm = 120 mm

Diameter Kepala, Dk
Dk1= m (Z1 + 2) Dk2 = m (Z2 + 2)
= 3 (40 + 2) = 3 (40 + 2)
= 126 mm = 126 mm

Diameter Kaki, Df
Df1= m (Z1 - 2) Df2 = m (Z2 - 2)
= 3 (40 - 2) = 3 (40 - 2)
= 114 mm = 114 mm

Jarak Sumbu Poros pada Roda Gigi :


𝑑𝑡1 + 𝑑𝑡2
𝑎= 2
120+120
= = 120
2

20
 Perhitungan transmisi 5
Jumlah roda gigi (Z) :

2𝑎 2.120
𝑍1 = = = 45
(1 + 𝑖5 ). 𝑚 (1 + 0,772). 3

2𝑎𝑖5 2.120.0,772
𝑍2 = = = 35
(1 + 𝑖5 ). 𝑚 (1 + 0,772). 3
Dimensi Roda Gigi :
Diameter Tusuk, Dt
Dt1= m x Z1 Dt2 = m x Z2
= 3 x 45 = 3 x 35
= 135 mm = 105 mm

Diameter Kepala, Dk
Dk1= m (Z1 + 2) Dk2 = m (Z2 + 2)
= 3 (45 + 2) = 3 (35 + 2)
= 141 mm = 111 mm

Diameter Kaki, Df
Df1= m (Z1 - 2) Df2 = m (Z2 - 2)
= 3 (45 - 2) = 3 (33 - 2)
= 129 mm = 99 mm

Jarak Sumbu Poros pada Roda Gigi :


𝑑𝑡1 + 𝑑𝑡2
𝑎= 2
135+105
= = 120
2

21
Tabel 4.1 Dimensi roda gigi
Trans D D D D D D
Z Z
mis t t k k f f a
1 2
i 1 2 1 2 1 2
1 1 1 1
1 6 5 6 5
1. 8 8 7 2
9 1 7 3 1
3 9 7 0
1 1 1 1
2 5 8 8 7
2. 5 6 5 2
7 3 1 7 5
9 5 3 0
1 1 1 1 1
3 4 9 9
3. 4 0 5 3 2
2 8 6 0
4 2 0 8 0
1 1 1 1 1 1 1
4 4
4. 2 2 2 2 1 1 2
0 0
0 0 6 6 4 4 0
1 1 1 1 1 1
4 3 9
5. 3 0 4 1 2 2
5 5 9
5 5 1 1 9 0

2.7 Perhitungan Dimensi Pasak


Pasak yang digunakan adalah pasak segi empat. Menurut tabel (Khurni
463) lebar pasak untuk diameter poros 55 mm memiliki lebar 16 mm tebal 10
mm. Panjang pasak adalah dengan mempertimbangkan pasak dari segigi geser
maupun kekuatan.
Mempertimbangankan geser material yang digunakan untuk poros Fe 490
𝑘𝑔⁄
yang memiliki tegangan geser sebesar 𝑓𝑠 = 420 𝑐𝑚2 dan kekuatan
𝑘𝑔⁄
𝑓𝑐 = 700 𝑐𝑚2.
𝑑
𝑇 = 𝑙 × 𝑤 × 𝑓𝑠 × 2
𝜋 𝑑
𝑓 𝑑3 = 𝑙 × 𝑤 × 𝑓𝑠 × 2
16 𝑠
𝜋
𝑑2 = 𝑙 × 𝑤
16
𝜋𝑑 𝜋(55)2
𝑙 = 8𝑤 = = 65,96 𝑚𝑚
8 . 18

Dengan mempertimbangkan kerusakan

22
𝑡 𝑑
𝑇=𝑙 × × 𝑓𝑐 × 2
2
𝜋 𝑡 𝑑
𝑓 𝑑3 = 𝑙 × 2 × 𝑓𝑐 × 2
16 𝑠
𝜋 . 𝑓𝑐 . 𝑑2
𝑙= 4𝑡 . 𝑓𝑠

𝜋 . 420 . 552
𝑙= = 142,477 𝑚𝑚
4 . 10 . 700

Kita ambil panjang terbesar yaitu 142,477 dibulatkan 143

2.8 Perhitungan Dimensi Poros transmisi


Poros berfungsi menerima putaran dan meneruskan putaran melalui
proses yang terjadi di dalam gear box sebagaimanaterjadinyaputaranrodagigi
lurus. Dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar proses kerja poros pada trasmisi

Daya yang dipindahkan adalah1800 𝑤𝑎𝑡𝑡 = 1,8 𝑘𝑊 putaran poros pinion


adalah 45 rpm.
Pada sudu A terdapat gaya reaksi yang timbul akibat berat sudu dan gaya
tengensial sudu.
Gaya berat 𝐹𝑊𝑆 = 2500 𝑁
Gaya aksial dari poros pinion adalah

23
𝑾𝑹𝑯 = 𝑾𝑹 𝒔𝒊𝒏 𝜽𝑷𝟐

𝑾𝑹𝑯 = 𝑾𝑻 𝒕𝒂𝒏𝝓 . 𝒔𝒊𝒏 𝜽𝑷𝟐


𝑾𝑹𝑯 = 𝟐𝟔𝟔, 𝟎𝟗 . 𝒕𝒂𝒏 . 𝟐𝟎 . 𝒔𝒊𝒏 . 𝟓𝟗, 𝟖
𝑾𝑹𝑯 = 𝟖𝟑, 𝟕𝟎 𝑵

Dan gaya aksi radial dari poros roda gigi adalah


𝑾𝑹𝑽 = 𝑾𝑹 𝒄𝒐𝒔 𝜽𝑷𝟏
𝑾𝑹𝑽 = 𝑾𝑻 𝒕𝒂𝒏𝝓 . 𝒄𝒐𝒔𝜽𝑷𝟏
𝑾𝑹𝑽 = 𝟐𝟔𝟔, 𝟎𝟗 . 𝒕𝒂𝒏𝟐𝟎 . 𝒄𝒐𝒔 𝟓𝟗, 𝟖
𝑾𝑹𝑽 = 𝟒𝟖, 𝟕𝟏 𝑵

Jumlah gaya reaksi pada arah aksial adalh F aksial dan 𝑊𝑅𝐻 di terima oleh dua
bantalan,
Jadi ;
𝑭𝑨𝒙𝒊𝒂𝒍 + 𝑾𝑹𝑯 𝟏𝟏𝟓𝟕𝟏,𝟒𝟎𝟑+𝟖𝟑,𝟕𝟎
𝑹𝑩𝑯 = 𝑹𝑫𝑯 = = = 𝟓𝟖𝟐𝟕, 𝟓𝟓 𝑵
𝟐 𝟐

Reaksi vertikalnya adalah


∑𝑀𝐵𝑉 = 0
−𝐹𝑊𝑆 × 0,25 + 0,25 × 𝑊𝑅𝑉 − 𝑅𝐵𝐷 × 0,5 = 0
−250 × 0,25 + 0,25 × 54,25 − 𝑅𝐷𝑉 × 0,5 = 0
𝑅𝐷𝑉 = −97,875 𝑁

∑𝑀𝐷𝑉 = 0
−𝑊𝑅𝑉 × 0,25 − 𝑅𝐵𝑉× 0,5 + 𝐹𝑊𝑆 × 0,75 = 0
−54,25 × 0,25 − 𝑅𝐵𝑉× 0,5 + 250 × 0,75 = 0
𝑅𝐵𝑉 = 347,875 𝑁

Maka gaya resultan yang bekerja pada bantalan adalah


𝑅𝐵 = √𝑅𝐵𝐻 2 + 𝑅𝐵𝑉 2

𝑅𝐵 = √5827,552 + 347,8752

24
𝑅𝐵 = 5837,923 𝑁

Dengan cara yang sama


2 2
𝑅𝐷 = √𝑅𝐷𝐻 + 𝑅𝐷𝑉

𝑅𝐷 = √5827,552 + 97,8752
𝑅𝐵 = 5828,37 𝑁

GARIS TENGAH POROS


Poros mendapat momen puntir dan bending dalam merancang poros ini
poros dibuat dari Fe 490.
Menurut table, karena poros mendapat beban puntiran maka
𝜏𝜔 = 23 − 34 𝑁⁄𝑚𝑚2 .

Diambil 30 𝑁⁄𝑚𝑚2.

Tahanan momen yang diperlukan oleh pemnampang berbentuk lingaran harus


sama dengan
𝑀𝜔 1099,265×103
𝑊𝜔 ≥ = = 26642,17 𝑚𝑚2
𝜋𝜔 30

Dari 𝑊𝜔 ≈ 0,2𝑑3
3 𝑀 3 26642,17
𝑑1 ≥ √ 0,2𝜔 = √ = 51 𝑚𝑚
0,2

Karena poros dipasang pasak maka diambil 55 mm


Di posisi B dibebani lengkungan dan puntiran

𝑀𝑏 = 2500 × 0,25 = 625 𝑁/𝑚


𝑀𝜔 = 1099,265 𝑁/𝑚
Maka

𝑀𝑖 = √𝑀𝑏2 + 𝑀𝜔2 = √6252 + 1099,2652 = 1264,52 𝑁/𝑚

25
Tegangan bending yang diijinkan untuk keadaan tegangan III maka
tegangan bending yang diijinkan untuk Fe 490 adalah 40 sampai 60
N/𝑚𝑚2 , kita ambil rata-rata 50 N/𝑚𝑚2 .

Maka momen tahanan penampang poros berbentuk lingkaran adalah :


𝑀 1264,52×103
𝑊𝑏 = 𝜎 𝑖 = = 25290,38 𝑚𝑚3
𝑏 50

dari 𝑊𝑏 ≈ 0,1 𝑑2 3

Di temukan bahwa
3 𝑊𝑏 3 23290,38
𝑑2 = √ 0,1 = √ = 63,23 𝑚𝑚 Di bulatkan 65 mm
0,1

Beban di C dibebani lengkungan dan puntiran


𝑀𝑏 = 5828,37 × 0,25 = 1457,09 𝑁⁄𝑚
𝑀𝜔 = 1099,265 𝑁/𝑚

Dengan demikian

𝑀𝑖 = √𝑀𝑏2 + 𝑚𝜔
2 = √1457,092 + 1099,2652 = 1825,23 𝑁/𝑚

Momen tahan juga 50 𝑁⁄𝑚𝑚2


𝑀 1825,23×103
𝑊𝑏 = 𝜎 𝑖 = = 36504,6 𝑚𝑚3
𝑏 50

dari 𝑊𝑏 ≈ 0,1 𝑑23


Di temukan bahwa
3 𝑊𝑏 3 36504,6
𝑑3 = √ 0,1 = √ = 71,5 𝑚𝑚
0,1

Karena disini dipasang pasak maka dibulatkan 75 mm


Pada titik D poros tidak dibebani baik bending maupun puntiran

26
Jadi 𝜎0 = 2,5 𝑁⁄𝑚𝑚2

Untuk diameter poros dititik D maka,


𝑅𝐷 =≤ 𝜎0 × 𝑑42
𝑅 5828,37
𝑑4 = √ 𝜎𝐷 = √ = 48,28 𝑚𝑚
0 2,5

Diameter 4 lenih kecil dari pada dititik B, maka akan lebih praktis
menggunakan blok bantalan yang sama, yaitu menggunakan diameter 65 mm.
Hasil perhitungan poros sudu digambar pada lampiran.

BAB IV

27
PENUTUP

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah:


1. Suatu perncanaan dapat dikatakan aman apabila harga yang didapat
lebihkecil daripada harga yang diizinkan.
2. Dalam perencanaan ini ukuran-ukuran poros sangat
penting karena turutmempengaruhi perhitungan kopling yang
direncanakan.
3. Dalam desain poros dan kopling, bahan poros harus lebih kuat
daripada bahan untuk kopling.

28