Anda di halaman 1dari 7

Sumber web:

http://www.worldbank.org/in/results/2012/04/16/indonesia-community-based-settlement-
rehabilitation-and-reconstruction-project-rekompak

Proyek Rehabilitasi dan


Rekonstruksi Masyarakat dan
Permukiman (Rekompak)
16 April 2012

The World Bank

Sekilas

Gempa bumi berkekuatan 9.2 Mw dan tsunami yang terjadi di Samudera India pada 26
Desember 2004 merupakan salah satu bencana terbesar dalam sejarah manusia. Di
Indonesia, negara yang terkena dampak paling parah, bencana tersebut menewaskan
lebih dari 170.000 orang, sebagian besar di Aceh. Untuk membantu penduduk di Aceh
dan Nias membangun kembali hidup mereka, proyek ini membantu 15.000 keluarga
untuk membangun kembali sepenuhnya atau memperbaiki rumah mereka melalui hibah
dan bantuan teknis. Selain itu, 176 desa yang mengalami kehancuran terparah
memperoleh hibah untuk membangun kembali infrastruktur dasar. Dalam upaya
rekonstruksi tersebut, masyarakatlah yang menjadi pemegang kendali, langkah yang
tidak umum pada saat itu.

Tantangan
Di berbagai wilayah pesisir dan di ibu kota Aceh, Banda Aceh, sekitar dua per tiga dari
daerah permukiman telah hancur dengan korban jiwa lebih dari 170.000 orang, sekitar
60 persennya perempuan. Pegawai pemerintah pun sama saja keadaannya.
Pemerintah setempat lumpuh karena hilangnya pegawai, tempat, dan peralatan.
Komunikasi sama sekali tidak berjalan. Sumber daya untuk penghidupan rusak berat.
Pada saat itu, Aceh sedang mengalami ketegangan sipil yang menyebabkan komunitas
saling terisolasi satu sama lain. Bencana dan kekacauan tersebut memerlukan
reorganisasi dan pemberdayaan komunitas. Masa depan berada di tangan mereka.

Pendekatan

Pendekatan berbasis komunitas yang diambil dalam Community-based Settlement


Rehabilitation and Reconstruction Project (CSRRP) – atau lebih dikenal sebagai
“Rekompak” – menempatkan tanggung jawab di tangan masyarakat. Kelompok
beranggotakan 10-15 keluarga dibentuk untuk membangun kembali rumah mereka. Tim
desa juga dibentuk untuk membangun kembali infrastruktur prioritas. Setiap desa juga
diwajibkan untuk membuat rencana pembangunan permukiman. Fasilitator yang dilatih
oleh Kementerian Pekerjaan Umum ditugaskan untuk membantu masyarakat
menyiapkan dan melaksanakan proyek mereka. Dengan menggunakan pendekatan
berbasis komunitas ini, uang hibah dapat dibelanjakan dengan lebih bijak dan efektif.
Hibah dari Multi-Donor Trust Funds for Aceh and Nias/North-Sumatra (MDF) disalurkan
langsung ke rekening komunitas dengan diangsur. Hibah tersebut mewajibkan
setidaknya 30 persen dari anggota berbagai tim tersebut adalah perempuan.
Mewajibkan keterlibatan perempuan pada akhirnya membawa hikmah dengan pemilihan
proyek yang lebih baik dan transparansi lebih besar.

Capaian

Proyek membantu masyarakat membangun kembali atau merehabilitasi 15.000 unit


perumahan, yang mewakili sekitar 35.000 orang (keluarga pasca-tsunami) dan
infrastruktur komunitas dasar di 176 desa.

 Menjelang akhir kegiatan, 97,3 persen dari rumah tersebut telah berpenghuni.
Tingkat kepuasan pada berbagai aspek proyek berada dalam rentang 80,4 hingga
90,6 persen, jauh lebih tinggi daripada angka target 65 persen.
 Sesuai permintaan pemerintah setempat, 50 desa tambahan diikutsertakan dalam
proyek yang awalnya mencakup 130 desa yang memilih untuk menerapkan
pendekatan berbasis komunitas untuk rekonstruksi.

 Keterlibatan perempuan mencapai 27,6 persen dan 24,1 persen dari semua
bendahara di kelompok perumahan adalah perempuan. Meskipun angka tersebut
sedikit lebih rendah daripada 30 persen yang diharapkan, pencapaian tersebut
sudah cukup berarti bagi masyarakat yang secara tradisional didominasi kaum pria
seperti di Aceh.

 Inspeksi rumah yang dibangun menunjukkan bahwa belum semuanya memenuhi


standar gempa dengan baik. Program perbaikan mutu struktur rumah (retrofitting)
telah dilaksanakan untuk memperkuat rangka beton di 1.430 unit perumahan sesuai
permintaan pemiliknya.

Desa Lambung di Banda Aceh habis tak bersisa akibat tsunami 2004. Dari 1.241
penghuni desa tersebut, 885 orang kehilangan nyawanya. Melalui CSRRP/Rekompak,
309 rumah dibangun kembali bagi mereka yang selamat atau ahli warisnya. Para
penduduk desa memutuskan untuk menggunakan tata letak baru yang menempatkan
perumahan, ruang terbuka, dan infrastruktur dengan lebih baik dan lebih tahan terhadap
kemungkinan bencana di masa depan.

" Saya cukup puas dengan mutu rumahnya, hasil dari keikutsertaan
aktif keluarganya dalam memantau konstruksi untuk memastikan
kesesuaian dengan spesifikasi teknis dan ketahanan terhadap
gempa "

Syahrul Munar
Syahrul Munar dari Muara Batu, Aceh Utara

Kontribusi Bank Dunia


Multi-Donor Trust Fund for Aceh and North Sumatra, sebuah dana perwalian yang
dikelola Bank Dunia, memberikan hibah US$ 85,0 juta kepada Pemerintah Indonesia.

Mitra

Multi-Donor Trust Fund for Aceh and North Sumatra mengumpulkan sumber daya dari
15 donor – termasuk Bank Dunia – untuk menunjang rekonstruksi pasca-tsunami di
Provinsi Aceh dan Sumatera Utara di Indonesia. Proyek tersebut dilaksanakan oleh
Kementerian Pekerjaan Umum yang disetujui pada tanggal 14 September 2005 dan
diakhiri pada tanggal 30 April 2010.

Langkah kedepannya

Ketika Yogyakarta dan Jawa Tengah terkena gempa tahun 2006, model Rekompak
diterapkan untuk membangun kembali 6.400 rumah dan infrastruktur desa melalui
Urban Proverty Project. Hibah dari Java Reconstruction Fund membantu pembangunan
lebih dari 15.000 rumah lainnya, termasuk infrastruktur pada 265 desa. Provinsi
Yogyakarta dan Jawa Tengah meniru pendekatan berbasis komunitas ini pada skala
yang jauh lebih besar, dengan hasil 280.000 rumah hanya dalam waktu dua tahun.
Pemerintah Indonesia juga menerapkan model ini dalam rekonstruksi setelah berbagai
bencana besar (tsunami 2006 di Jawa Barat, gempa bumi 2009 di Sumatera Barat,
letusan Merapi 2010 di Yogyakarta dan Jawa Tengah).

Sumber web:

https://news.detik.com/berita/1215646/rehabilitasi-gempa-padang-mencapai-rp-6-triliun

Rehabilitasi Gempa Padang Mencapai Rp 6


Triliun
Jakarta - Gempa yang memporak-porandakan Sumatera Barat (Sumbar) perlu segera
direhabilitasi. Untuk kembali membangun kembali ranah Minang, diprediksikan
mengeluarkan biaya hingga Rp 6 triliun.

"Diprediksi mungkin sekitar Rp 6 triliun," ujar Sekretaris Menko Kesra Indroyono Swisuryo di
kantor Menko Kesra, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (5\/10\/2009).

Menurut Indroyono, dana untuk rehabilitasi tersebut akan keluar lebih cepat cair dibanding
rehabilitasi serupa saat tsunami melanda di NAD tahun 2004.

"Dana rehabilitasi masih kita lihat. Tapi sepertinya tahun ini akan dipercepat. Tidak seperti
pada tsunami Aceh," katanya.

Indroyono mengatakan, karyawan Menko Kesra berinisiatif memberikan bantuan kepada


korban gempa Padang. Bantuan itu terdiri dari satu truk bahan bantuan berupa mie instan,
susu, biskuit, selimut, handuk, air mineral, dan pakaian layak pakai.

"Besok siang bantuan ini akan dikirim ke Sumbar dengan kapal Baruna Jaya IV," imbuhnya.

Sumber web:

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-1501204/rehabilitasi-mentawai-telan-dana-
rp-3894-miliar-

Rehabilitasi Mentawai Telan Dana Rp 389,4


Miliar
- detikFinance

Jakarta - Pemulihan wilayah bencana Mentawai membutuhkan dana Rp 389,4 miliar. Dana
tersebut terutama digunakan untuk relokasi rumah dan pembangunan infrastruktur.

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida S


Alisjahbana, total kerusakan wilayah Mentawai pasca tsunami dan gempa beberapa waktu
lalu mencapai Rp 314,962 miliar. Sementara dana yang dibutuhkan untuk pemulihan
mencapai Rp 389,28 miliar.

"Kebutuhan pemulihan Rp 389,428 miliar. Itu terutama untuk pembangunan rumah dan
infrastruktur. Sudah memperhitungkan untuk relokasi, banyak yang direlokasi karena
mengingat kemungkinan bencana dan tsunami di masa datang," ujar Armida dalam rapat
bersama Komisi VIII DPR RI mengenai dana penanggulangan bencana, Senayan, Jakarta,
Rabu (24/11/2010).

Armida menyatakan di Mentawai akan dilakukan rehabilitasi dan rekonstrukrisasi baik dari
perumahan, sosial, infrastruktur, dan ekonomi.

"Langkah tersebut tergantung per lokasi, apa diperlukan rehabilitasi yang in situ atau
relokasi atau kombinasi keduanya. Itu supaya kehidupan lebih baik," jelasnya.

Pada akhir Desember nanti, lanjut Armida, Mentawai akan mengakhiri masa tanggap
darurat. Sedangkan pada hari ini, timnya beserta BNPB, Kementerian Sosial, pemerintah
daerah dan pemerintah kabupaten sedang melakukan rapat koordinasi finalisasi rencana
rehabilitasi-rekonstruksi Mentawai.

Berdasarkan data Kementerian PPN/ Bappenas, pada Kecamatan Pagai Utara rumah yang
akan direlokasi sebanyak 217 rumah, Pagai Selatan 785 rumah, Siporta Selatan 613 rumah,
dan Sikakap 16 rumah. Rehabilitasi dan rekontruksi akan dimulai pada 2011 dan dananya
akan diambil dari APBN serta APBD.

Sumber web:

http://scholar.unand.ac.id/9342/

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MENTAWAI DALAM PROGRAM


REHABILITASI DAN REKONTRUKSI RUMAH KORBAN TSUNAMI
Abstract

Bencana gempa bumi berkekuatan 7,2 SR (atau 7,5 SR menurut USGS) yang terjadi di Kepulauan
Mentawai Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 25 Oktober 2010 telah memicu terjadinya gelombang
tsunami. Dusun Bulak Monga dan Ruak Monga merupakan dua dusun cukup parah terkena gempa bumi
dan tsunami di Desa Taikako Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai. Dimana penaganan
masalah pasca tsunami di desa Taikako memang tergolong lambat bahkan banyak pihak cenderung
menjanjikan sesuatu tetapi realisasi tidak jelas. Tantangan yang cukup berat adalah melakukan
pembangunan komunitas, terutama di pemukiman yang mengalami kerusakan total dan sebahagian besar
anggota masyarakatnya meninggal. Penanganan bencana di Kepulauan Mentawai tidak sekedar
terjaminnya kebutuhan pangan korban tapi juga harus diikuti dengan pemberdayaan masyarakat, agar
mampu bangkit dan dapat melangsungkan kehidupannya bergantung pada bantuan dan mampu
berpartisipasi dalam pembangunan pasca bencana. Pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat
akan membuat mesyarakat tidak merasa memiliki, malah akan menimbulkan pemiskinan dan
pembodohan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemberdayaan masyarakat Mentawai dalam program
rehabilitasi dan rekontruksi rumah korban tsunami. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode
penelitian kualitatif di Desa Taikako Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai. Informan
penelitian menggunkan teknik purposive sampling berjumlah 4 orang untuk indepth interview dan 8 orang
untuk informan tambahan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan
dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan eksplanasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa Program
pemberdayaan yang terdapat di pemukiman Bulakmonga dan Ruamonga Kecamatan Sikakap telah
memberdayakan masyarakatnya, mereka mendapatkan bantuan rumah bagi masyarakat yang kehilangan
rumah akibat gempa dan tsunami. Dengan adanya program pemberdayaan masyarakat yang ada di
pemukiman Bulakmonga dan Ruamonga menjadikan masyarakat lebih berpartisipasi dalam kegiatan
rehabilitasi dan rekontruksi di desa mereka, yang tujuannya untuk memulihkan kehidupan masyarakat agar
pulih dari trauma, mengembalikan kepercayaan diri masyarakat dan menata kembali perekonomian
keluarganya. Selanjutnya pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban gempa dan tsunami Mentawai
tak dapat dilanjutkan. Pasalnya, kebutuhan utama berupa material kayu, sulit didapatkan. Meski Korem
032/Wirabraja siap memasoknya setelah mengantongi Izin Pemanfaatkan Kayu (IPK), namun biaya
produksi dan operasional untuk mengeluarkan kayu sangat besar. Kemudian, pelaksanaan pemberdayaan
ekonomi belum mencapai pada sasaran yang diharapkan, yaitu berupa manfaat untuk masyarakat dari
bantuan dana yang diberikan. Kegiatan yang terlaksana barulah berupa perencanaan teknis dan
admintrasi kegiatan.