Anda di halaman 1dari 30

Fluktuasi Muka Air Laut

Fluktuasi muka air laut merupakan parameter


penting di dalam perencanaan bangunan pantai.
Beberapa proses alam membentuk variasi muka air
laut dengan periode panjang. Proses alam tersebut
antara lain:
1. Tsunami
2. Badai dan Pemanasan Global
3. Wave set-up (kenaikan muka air laut karena
gelombang)
4. Pasang surut
Dari beberapa proses alam tersebut, tsunami
merupakan proses alam yang tidak diprakirakan,
sedangkan proses pasang surut mudah diprediksi
dan diukur besar dan waktu terjadinya.
Fluktuasi muka air laut karena tsunami, pasang surut
dan gelombang badai adalah periodik dengan
periode berbeda, mulai dari menit (tsunami),
setengah hari atau satu hari (pasang surut) dan
beberapa hari (gelombang badai).
Kenaikan muka air laut karena perubahan suhu
global selalu bertambah dengan bertambahnya
waktu
Pemanasan Global

Presentasi ini diambil dari berbagai


sumber.
Pemanasan global

I. Penyebab pemanasan global


II. Dampak pemanasan global
X

Pemanasan global
 Pemanasan global adalah proses peningkatan suhu
rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
 Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah
meningkat 0,74 ± 0,18 °C selama seratus tahun
terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change
(IPCC) menyimpulkan bahwa, sebagian besar
peningkatan suhu rata-rata global disebabkan oleh
peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat
aktivitas manusia.
 Model yang dijadikan acuan IPCC menunjukkan suhu
permukaan global meningkat 1,1 hingga 6,4 °C antara
tahun 1990 dan 2100
 Peningkatan suhu global diperkirakan akan
menyebabkan antara lain:
 Naiknya permukaan air laut,
 Peningkatan intensitas fenomena cuaca yang
ekstrim,
 Perubahan jumlah dan pola presipitasi.
 Pemanasan global berpengaruh terhadap pertanian,
hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis
hewan.
I. Penyebab Pemanasan Global
A. Efek rumah kaca
B. Efek umpan balik
C. Variasi Matahari
D. Mengukur pemanasan global
E. Model iklim
A. Efek rumah kaca
 Sumber energi utama Bumi adalah Matahari. Energi
tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek. Ketika
energi ini mengenai permukaan Bumi, energi cahaya
tersebut berubah menjadi panas.
 Permukaan Bumi menyerap sebagian panas dan
memantulkan kembali sisanya. Pantulan panas tersebut
berupa radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa
luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di
atmosfer bumi akibat menumpuk gas rumah kaca antara
lain uap air, karbon dioksida, dan metana.
X

A. Efek rumah kaca


 Gas tersebut menyerap dan memantulkan kembali
radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan
berakibat panas tersebut tersimpan di permukaan
Bumi, sehingga suhu rata-rata tahunan bumi terus
meningkat.
 Efek rumah kaca ini dibutuhkan makhluk hidup di bumi
agar bumi stabil hangat. Dengan temperatur rata-rata
sebesar 15 °C, suhu bumi lebih tinggi 33 °C apabila
tanpa efek rumah kaca (suhu bumi -18 °C). Namun
karena jumlah gas tersebut berlebihan di atmosfer,
berakibat terjadi pemanasan global.
B. Efek umpan balik (feed back)
Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi proses umpan balik
yang dihasilkan oleh penguapan air. Pemanasan menyebabkan lebih
banyak air menguap ke atmosfer. Karena uap air merupakan gas
rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah
uap air di udara. Efek rumah kaca yang dihasilkan lebih besar bila
dibandingkan akibat gas penyebab rumah kaca. (Umpan balik ini
menyebabkan peningkatan kandungan air absolut di udara, namun
kelembaban relatif udara hampir konstan karena udara menjadi
lebih hangat).
Awan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan,
sehingga meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya, awan tersebut
juga memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke
angkasa, sehingga terjadi peningkatan pendinginan.
B. Efek umpan balik (feed back)
 Umpan balik positif akibat lepasnya CO2 dan CH4 dari
melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lain
yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang
meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan
umpan balik positif.

 Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan


berkurang bila suhu meningkat, hal ini diakibatkan oleh
menurunnya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga
terjadi pembatasan pertumbuhan diatom daripada
fitoplankton.
C. Variasi Matahari
 Terdapat hipotesa menyatakan variasi Matahari dan
diperkuat umpan balik dari awan dapat memberi kontribusi
dalam pemanasan saat ini. Variasi matahari adalah
peningkatan aktivitas matahari sehingga memanaskan
stratosfer, sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan
stratosfer.
 Pendinginan stratosfer bagian bawah telah diamati sejak
tahun 1960, dimana hal tersebut tidak mungkin terjadi
apabila aktivitas matahari menjadi kontributor utama
pemanasan.
 Ilmuan Duke University mengestimasikan bahwa Matahari
telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan
temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan
sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000
D. Mengukur pemanasan global
Data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya
serta dari sateli menunjukkan terdapat kecenderungan
peningkatan suhu permukaan Bumi.
Sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir
terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas
terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang
paling panas.IPPC (2001) menyimpulkan bahwa
temperatur udara global meningkat 0,6 derajat Celsius
sejak 1861. IPCC memprediksi peningkatan temperatur
rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C antara
tahun 1990 dan 2100.
E. Model iklim
Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa
skenario. kestabilan (pita berwarna) berdasarkan Laporan
Pandangan IPCC ke Empat. Garis hitam menunjukkan
prakiraan terbaik; garis merah dan biru menunjukkan
batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi. Perhitungan
pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa model
iklim berdasarkan scenario SRES A2, yang
mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk
mengurangi emisi.
II. Dampak pemanasan global
Ilmuan membuat model simulasi temperatur, pola
presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari
pemanasan global. Didasarkan pada model tersebut, dibuat
beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global
terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai,
pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.

A. Iklim Mulai Tidak Stabil


B. Peningkatan Permukaan Laut
C. Suhu Global Cenderung Meningkat
A. Iklim Mulai Tidak Stabil
 Belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) lebih panas
dibandingkan daerah lain. Gunung es mencair dan daratan
menyempit. Daerah yang mengalami salju ringan, mungkin
tidak mengalami lagi. Daerah subtropis, makin sedikit
pegunungan yang ditutupi salju serta akan lebih cepat
mencair.
 Daerah hangat menjadi lebih lembab, lebih banyak air
menguap dari lautan. Kelembaban tinggi meningkatkan curah
hujan. Terjadi peningkatan curah hujan sebesar 1 persen
dalam seratus tahun terakhir ini.
 Badai menjadi lebih sering terjadi. Air lebih cepat menguap
dari tanah, akibatnya beberapa daerah menjadi lebih kering.
Angin bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang
berbeda. Topan badai (hurricane), dimana kekuatannya
diperoleh dari penguapan air, meningkat kekuatannya. Pola
cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
B. Peningkatan Permukaan Laut
Pemanasan global mencairkan es di kutub, terutama
sekitar Greenland, sehingga terjadi peningkatan volume
air laut. Tinggi muka laut meningkat 10 - 25 cm selama
abad ke-20, dan IPCC memprediksi terjasi peningkatan
muka air laut antara 9 - 88 cm pada abad ke-21.
Peningkatan tinggi muka laut berpengaruh terhadap
kehidupan daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi)
menenggelamkan 6 persen negara Belanda, atau 17,5
persen daerah Bangladesh.
Peningkatan fenomena abrasi tebing pantai dan bukit
pasir.
B. Peningkatan Permukaan Laut
Apabila tinggi muka air laut mencapai muara sungai,
frekuensi banjir air pasang (rob) makin meningkat.
Banyak negara menghabiskan dana untuk melindungi
daerah pantainya, sedangkan negara miskin hanya
dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.
Kenaikan tinggi muka laut sangat berpengaruh
terhadap ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm
menenggelamkan separuh rawa-rawa pantai di Amerika
Serikat. Rawa-rawa baru mungkin terbentuk di area
perkotaan atau pemukiman.
C. Suhu Global Cenderung Meningkat

Bumi makin hangat, snowpack, sebagai


reservoir air, lebih cepat mencair sebelum
puncak masa tanam, sehingga daerah
pertanian menjadi kekeringan.
Fenomena El Nino dan la Nina

La Nina
El Nino
La Nina
 La Nina ditandai dengan menurunnya temperatur permukaan laut di
wilayah Pasifik ekuator atau tropis hingga di bawah normal yang diikuti
dengan munculnya tiupan angin pasat yang kencang di kawasan itu. La
Nina ini bersifat basah.
 Peristiwa ini terjadi ketika angin pasat berhembus dan terus menerus
melintasi Samudera Pasifik ke arah Australia. Angin tersebut mendorong
air hangat ke arah sebelah utara Australia. Hal ini mengakibatkan makin
banyak awan terkonsentrasi dan menyebabkan peningkatan curah hujan
di Australia, Pasifik sebelah barat dan Indonesia.
 Angin kencang disertai hujan lebat serta pasang naik disebut sebagai La
Nina. Selama kurun 78 tahun telah terjadi 15 kali La Nina.
La Nina
El Nino
 Gejala alam merupakan sebuah anomali (menyimpang dari
kebiasaan), dihasilkan oleh interaksi antara kondisi
permukaan samudera dan atmosfer di kawasan Pasifik sekitar
garis khatulistiwa (tropis).
 Interaksi ini menghasilkan tekanan tinggi di Pasifik bagian
Timur, sehingga mengakibatkan aliran massa udara
berhembus ke barat. Hembusan angin tersebut membawa air
di depannya sehingga permukaan laut di sekitar Indonesia
dan Australia terangkat kira-kira setengah meter lebih tinggi
dari pada muka air di lepas pantai Peru.
El Nino
 Ketika tekanan turun dan pertukaran angin berkurang, air bergerak
kembali menuju timur. Aliran ke arah timur ini merupakan pusat kegiatan
fisik yang mengendalikan El Nino.
 Pengadukan ini mendorong terbentuknya gelombang sepanjang
samudera, mirip riak di permukaan kolam. Gelombang ini menekan
thermocline, suatu lapisan air, batas antara massa air hangat di bawah
permukaan laut dengan massa air dingin di bawahnya.
 Ketika thermocline ini masuk lebih dalam, suhu permukaan air laut
meningkat dan El Nino pun berlangsung (fase panas). Udara tropis lembab
tidak terpusat di dekat Benua Australia, tetapi beralih di Samudera Pasifik
tengah dan meluas ke timur ke arah Amerika Selatan. Hal ini
menyebabkan peningkatan curah hujan di Samudera Pasifik, dan
berkurangnya curah hujan di Australia dan Indonesia.
 Timbul kekeringan di Australia dan di beberapa daerah di Indonesia.
Kekeringan ini sering disertai dengan kebakaran rumput dan hutan.
Selama peristiwa El Nino pada tahun 1994 dan 1997, baik Indonesia
maupun Australia, mengalami kebakaran hutan.
El Nino
Terima Kasih