Anda di halaman 1dari 3

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit saluran pernapasan merupakan salah satu penyebab morbiditas
dan mortalitas yang sering menyerang anak-anak. Salah satu penyakit saluran
pernapasan pada anak adalah pneumonia. Pneumonia adalah infeksi akut yang
mengenai jaringan paru-paru yang ditandai dengan batuk disertai nafas cepat
dan atau kesukaran bernafas. Beberapa penyebab terjadinya pneumonia pada
balita adalah faktor Host (status gizi, status imunisasi dasar, pemberian ASI),
faktor Agent (Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenzae dan
Staphylococcus aureus), faktor lingkungan sosial (pekerjaan orang tua dan
pendidikan ibu), faktor lingkungan fisik (polusi udara dalam ruangan dan
kepadatan hunian) (Kepmenkes, 2008; Rachmawati, 2012; Widagdo, 2012).
Pneumonia merupakan penyebab terbanyak kematian anak di seluruh
dunia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2016 menyebutkan
pneumonia menyebabkan kematian 920.136 anak, yaitu 15% dari seluruh
penyebab kematian anak dibawah usia 5 tahun. Di Indonesia, pneumonia
merupakan penyebab terbanyak kedua kematian pada balita setelah diare
(Kemenkes, 2012). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2013 menunjukkan prevalensi pneumonia di Indonesia mengalami
peningkatan dari 11,2% pada tahun 2007 menjadi 18,5% tahun 2013 dengan
Case Fatality Rate sebesar 1,19%. Insidensi tertinggi terjadi pada kelompok
usia 12-23 bulan (21,7%). Pada tahun 2013, terdapat 571,541 balita di
Indonesia yang terdiagnosis pneumonia, dengan 55.932 (0,1 %) balita berasal
dari Jawa Tengah.
Angka morbiditas dan mortalitas pneumonia pada balita yang tinggi
merupakan sebuah masalah kesehatan yang serius. Oleh karena itu, perlu
dilakukan upaya untuk menurunkan angka tersebut. Salah satu upaya
pemerintah untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan meningkatkan
penemuan dan penanganan pneumonia pada balita. Berdasarkan Permenkes
No.75 tahun 2014, Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan baik
promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan pemerintah,

1
2

pemerintah daerah (pemda) dan atau masyarakat. Puskesmas adalah


penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan untuk jenjang tingkat
pertama. Puskesmas merupakan unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan
yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan, yang
melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan
terpadu untuk masyarakat yang tinggal disuatu wilayah kerja tertentu
(Kemenkes RI, 2014).
Salah satu usaha pemerintah dalam menekan angka kematian akibat
pneumonia diantaranya melalui penemuan kasus pneumonia balita sedini
mungkin di pelayanan kesehatan dasar, penatalaksanaan kasus dan rujukan
adalah dengan keterpaduan lintas program melalui pendekatan Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS) di puskesmas. Manajemen Terpadu Balita Sakit
(MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah
suatu pendekatan yang terintegrasi/ terpadu dalam tatalaksana balita sakit
dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-5 tahun secara menyeluruh.
Kegiatan MTBS merupakan upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk
menurunkan angka kesakitan dan kematian sekaligus meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar (puskesmas dan
jaringannya termasuk Puskesmas Pembantu (Pustu), Pondok Bersalin Desa
(Polindes), Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), dll) (Depkes RI, 2006).
Berdasarkan data tahun 2016 dari Puskesmas II Kemranjen Kecamatan
Kemranjen Kabupaten Banyumas, cakupan penemuan pneumonia balita baru
mencapai 2,75% dibandingkan target standar pelayanan minimal (SPM)
100%, sehingga belum memenuhi SPM Nasional dan regional Kabupaten
Banyumas. Berdasarkan data-data tersebut, maka penting untuk mengevaluasi
program penemuan pneumonia balita di Puskesmas II Kemranjen.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu mengetahui dan menganalisa masalah program kesehatan serta
memberikan rencana alternatif pemecahan masalah di Puskesmas II
Kemranjen Kabupaten Banyumas.
2. Tujuan Khusus
3

a. Mengetahui perencanaan program P2M ISPA khususnya didalam


penemuan dan kasus pneumonia balita di Puskesmas II Kemranjen.
b. Mengetahui pelaksanaan dan keberhasilan program P2M ISPA
khususnya mengenai penemuan dan penanganan pneumonia balita di
Puskesmas II Kemranjen.
c. Menganalisis kelebihan dan kekurangan pelaksanaan program
penemuan dan penanganan pneumonia balita di Puskesmas II
Kemranjen.
d. Memberikan alternatif pemecahan masalah terhadap hambatan
program tersebut.
C. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Praktis
a. Sebagai saran bagi Puskesmas untuk mengoptimalkan program
penemuan dan penanganan pneumonia balita di Puskesmas II
Kemranjen.
b. Bahan pertimbangan bagi Puskesmas, khususnya pemegang program
kerja P2M ISPA dalam melakukan evaluasi kinerja program penemuan
dan penanganan balita pneumonia di Puskesmas II Kemranjen.
2. Manfaat Teoritis
a. Menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya bagi pihak yang
membutuhkan.
b. Sebagai bahan pembelajaran dalam menganalisa suatu permasalahan
dalam 6 program pokok Puskesmas.
c. Sebagai bahan pembelajaran dalam menentukan berbagai alternatif
pemecahan permalahan dalam 6 program pokok Puskesmas.