Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATARBELAKANG

Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair

dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (pada bayi lebih

dari 3 kali BAB, sedangkan pada neonatus lebih dari 4 kali BAB),

Sudarti (2010), Diare menurut Suharyono (2008) adalah buang

air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat) dan

konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair. Diare disebabkan

oleh beberapa faktor, antara lain faktor infeksi, malabsorpsi

(gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis

(Sudarti, 2010). Diare adalah penyebab utama penyakit dan

kematian balita dinegara berkembang seperti Indonesia atau

India, pola nutrisi ini karena balita cenderung makin lebih

sedikit, diare juga dapat mempengaruhi pencernaan

makanan secara buruk. Tubuh membutuhkan nutrisi

tambahan ketika menderita diare apapun untuk memerangi

kuman-kuman yang menyebabkan penyakit, makanan yang

tidak memadai dan pencernaan yang tidak baik secara

bersama-sama berpengaruh buruk status nutrisi seorang

balita. (Ramaiah, 2007).

Menurut Badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2012

mengungkapkan bahwa didunia rata-rata 8 sampai 10 juta

balita meninggal tiap tahun, atau 23 balita meninggal


setiap harinya. Di negara-negara miskin seperti Afrika

angka kematian balita senantiasa selalu meningkat

jumlahnya. (Joseft, 2010). Menurut Data Riset kesehatan

Dasar (Riskesdas), ke 2 penyakit utama yang menjadi

penyebab kematian balita adalah Pneumonia sebesar 25,2%

dan Diare sebesar 15,5%, Demam Berdarah Dengue (DBD)

6,8% dan Campak 5,8%. (Padiastuti, 2010). Penyakit diare

merupakan penyakit kedua terbanyak yang terjadi pada

balita, angka kejadian diare diwilayah Indonesia, sekitar

162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460

balita meninggal setiap harinya, penyakit ini diperkirakan

ditemukan 1 milyar kasus pertahun dengan 3,3 juta kasus

kematian sebagai akibat dan merupakan penyakit utama

morbiditas dan mortalitas balita di Asia, Afrika, dan

Amerika, penyakit diare masih merupakan penyebab utama

kematian balita. (Dwintara, 2009). Berdasarkan data Dinas

Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2012, pada balita, diare

menyebabkan kematian sebesar 25,2% (Dinas Kesehatan

Provinsi Jawa Timur, 2012), Di daerah Pakis Kabupaten Malang

didapatkan 1.671 yang menderita diare di tahun 2015, (Dinas

Kabupaten Malang, 2015).

Hasil studi pendahuluan dilakukan oleh peneliti pada

Puskesmas Pakis Kabupaten Malang, dengan melakukan


wawancara pada KIA Puskesmas Pakis tentang penyebab utama

terjadinya diare dipuskesmas Pakis yaitu makanan dan

kebersihan, selain itu pengetahuan orang tua tentang diare dan

penanganan diare juga salah satu penyebabnya terjadi diare.

Peneliti juga melakukan wawancara pada 10 orang tua yang

memiliki anak yang diare, dari wawancara diketahui sekitar 8

orang yang tidak tahu tentang cara penanganan diare pada

anak secara non farmakologis dan mamfaat minuman teh dan

kayu manis untuk penyakit diare pada anak.

Adapun Gejala-gejala diare menurut Sudarti (2010),

biasanya bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah, suhu

badan meningkat, tinja bayi encer,berlendir atau berdarah,

warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu,

lecet pada anus, gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan

yang kurang, muntah sebelum dan sesudah diare, hipoglikemia

(penurunan kadar gula darah), dehidrasi (kekurangan cairan),

dehidrasi ringan, dehidrasi sedang, dehidrasi berat.

Berhubungan dengan produk herbal, peneliti ingin melihat

produk herbal manakah yang efektif untuk mengurangi diare,

antara teh dengan kayu manis. Beberapa peneliti memberikan

hasil bahwa teh efektif menurunkan bakteri shigella dysenteriae

salah satu bakteri penyebab penyakit diare adalah Ayu Dwi


Wahyuni ( 2011), dan penelitian yang melibatkan kayu

manis adalah Amelia anggia putri (2013)

Ada beberapa cara untuk mengobati diare yaitu dengan

cara farmakologis dan non farmakoligis, obat farmakologis yang

sering digunakan lopiramide dan antibiotik akan tetapi obat

farmakologis bisa menimbulkan efek samping seperti mual,

kembung dan pusing. Sedangkan pengobatan non farmakologis,

contohnya meminum oralit dan mengkonsumsi produk-produk

herbal yang telah dipercaya khasiatnya.

Teh sendiri memiliki kandungan katekin dan flavonoid

yang berfungsi sebagai antimikroba dan antioksidan paling kuat

dengan kekuatan 100 kali lebih kuat daripada vitamin C dan

vitamin E (Soraya, 2007), (Ayu, 2011).

Kandungan kayu manis antara lain minyak atsiri,

flavonoid, tannin, dammar dan zat penyamak. Minya atsiri,

flavonoid dan tannin berperan penting dalam menghambat

pertumbuhan bakteri patogen dan anti jamur ( Rismunandar,

2007), (Amelia, 2013)

1.2 RUMUSAN MASALAH

Apakah terdapat perbedaan efektivitas antara minuman

Teh (Camellia Sinensis L) dengan Kayu manis (Cinnamomum

burmannii) terhadap penyakit diare anak Di Puskesmas Pakis ?


1.3 TUJUAN

1.3.1 TUJUAN UMUM

Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui perbedaan

tingkat efektivitas antara minuman Teh (Camellia Sinensis L)

dengan Kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap

penyakit diare anak Di Puskesmas Pakis ?

1.3.2 TUJUAN KHUSUS

1) Untuk mengidentifikasi tingkat efektivitas antara minuman

Teh (Camellia Sinensis L) dengan Kayu manis (Cinnamomum

burmannii) terhadap penyakit diare anak Di Puskesmas

Pakis ?

2) Menganalisis tingkat efektivitas antara minuman Teh

(Camellia Sinensis L) dengan Kayu manis (Cinnamomum

burmannii) terhadap penyakit diare anak Di Puskesmas

Pakis ?

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan

pengetahuan bagi peneliti khususnya tentang tingkat efektivitas

antara minuman Teh (Camellia Sinensis L) dengan Kayu manis

(Cinnamomum burmannii) terhadap penyakit diare anak yang

kemudian dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya.


1.4.2 Manfaat Bagi Keluarga

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi

kepada keluarga terutama orang tua tentang penanganan diare

non farmakologis dengan penanganan yang tepat ketika anak

diare menggunakan minuman Teh (Camellia Sinensis L) dengan

Kayu manis (Cinnamomum burmannii)

1.4.3 Manfaat Bagi Instansi Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menberikan informasi

bagi instansi kesehatan mengenai pengobatan non farmakologis

menggunakan minuman Teh (Camellia Sinensis L) dengan Kayu

manis (Cinnamomum burmannii)

1.4.4 Manfaat Bagi Perawat

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan

dan informasi pada perawat sebagai bahan acuan dalam

mengedukasikan orang tua yang memiliki anak diare tentang

pengobatan non farmakologis.

1.4.5 Manfaat Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber dan

referensi bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti tentang

efektivitas antara minuman Teh (Camellia Sinensis L) dengan


Kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap penyakit diare

anak.

1.5 Keaslian peneliti

1. Ayu Dwi Wahyuni (2011) dengan judul penelitian : Efek

antimikroba ekstra daun teh. Hasil penelitian didapatkan

Kadar hambatan minimum (KHM) pada konsentrasi 3,13%,

sedangkan kadar bunuh minimum (KBM) pada konsentrasi

12,5%. Dari uji one way ANOVA menunjukan adanya

perbedaan sangat bermakna antara perlakuan (p=0.01).

Dengan uji Least Significant Differences (LSD) dapat

diketahui perlakuan kontrol 0% berbeda nyata dengan

perlakuan konsentrasi 0,39%, 0,78%, 1,56%, 3,13%, 6,25%,

tetapi konsentrasi 6,25% tidak berbeda nyata dengan 12,5%

dan 100%. Uji kolerasi dan regresi didapatkan signifikansi

<(p) 0,01 dan nilai kolerasi didapatkan (R=0.67) yang

menunjukan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara

konsentrasi ekstrak daun teh dengan jumlah koloni, makin

tinggi konsentrasi ekstra daun teh akan menurunkan jumlah

koloni Shingella dysenteriae.

2. Amelia anggi putri (2013) dengan judul penelitian : Efek

antimikroba ekstrak kayu manis. Hasil penelitian didapatkan

KHM dan KBM 3,125%. Hasil uji one way ANOVA menunjukan

adanya perbedaan yang bermakna antar perlakuan (P=0,000


< 0,5). Analisis kolerasi didapatkan (r=-0,446) artinya

peningkatan konsentrasi eksreak kayu manis akan

menurunkan jumlah koloni, nilai kolerasi nya sedang

signifikansi (p=0,014<0.05) hasil analisis regresi, koefisien

determinasi (R2=19,9%) yang artinya pengaruh ya ng

diberikan sebesar 19,9%.

DAFTAR PUSTAKA

Sudarti. 2010. Kelainan dan Penyakit pada Bayi dan Anak. Muha

Medika : Yogyakarta Suharyono. 2008.Diare Akut Klinik dan

Laboratorik. Penerbit Rineka Cipta : Jakarta