Anda di halaman 1dari 81

GAMBARAN PELAKSANAAN HAZARD REPORTING SYSTEM

PADA STRATEGIS BISNIS UNIT (SBU) AIRCRAFT SERVICES


PT. DIRGANTARA INDONESIA (PERSERO)
TAHUN 2016

LAPORAN MAGANG

Disusun Oleh :

YAUMI KHAIRI AZHARI LUBIS

1112101000106

PEMINATAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1437 H / 2016 M
i

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Magang, 2 Februari – 10 Maret 2016
YAUMI KHAIRI AZHARI LUBIS, NIM : 1112101000106
Gambaran Pelaksanaan Hazard Reporting System Pada Strategis Bisnis Unit
(SBU) Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Tahun 2016
xvi + 59 halaman, 5 tabel, 5 bagan, 7 gambar, 3 lampiran

ABSTRAK

Hazard dan tempat kerja merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.
Hazard adalah Kondisi yang ada atau potensial yang dapat menyebabkan cedera,
penyakit atau kematian untuk orang, kerusakan atau kehilangan sistem, peralatan,
properti, lingkungan atau citra. Bahaya adalah suatu kondisi yang merupakan
prasyarat untuk sebuah insiden atau kecelakaan (Peraturan Direktorat Jendral
Perhubungan Udara Tahun 2009). Sedangkan tempat kerja ialah tiap ruangan atau
lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau
yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat
sumber atau sumber-sumber bahaya (UU No. 1 Tahun 1970).
Kegiatan magang ini dilakukan di Strategis Bisnis Unit (SBU) Aircraft
Services PT. Dirgantara Indonesia (Persero) dan dilakukan selama 27 hari kerja
dimulai pada 2 Februari sampai 10 Maret 2016. Informasi mengenai prosedur
Hazard Reporting System dengan cara melakukan observasi dari database
department safety and airwothiness
Berdasarkan hasil analisis, hal yang membuat tidak berjalannya pelaksanaan
Hazard Reporting System adalah Pekerja kurang memahami teknis pengisian orm
Hazard Report, mindset karyawan terhadap pelaporan dianggap akan diberikan
sanksi oleh atasan, pekerja beranggapan tidak ada keuntungan melaporkan bahaya,
kurangnya perintah dari atasan dalam pelaporan hazard dan voluntary, keterbatasan
anggaran ketika hendak melakukan mitigasi atas pelaporan hazard dan belum adanya
program software pelaporan hazard.
Berdasarkan hasil temuan yang diperoleh maka saran yang diajukan oleh
penulis kepada SBU Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia (Persero) yaitu
Sebaiknya Pihak Departemen SDM Memberikan training secara berkala kepada
seluruh personil SBU Aircraft Service, Sebaiknya Departemen terkait Memberikan
penghargaan (reward) kepada pekerja yang aktif melaporkan hhzard dan Sebaiknya
Departemen SDM menambahkan tenaga kerja agar beban kerja menjadi merata.
Sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak aktif melaporkan hazard

Daftar Bacaan : 12 (1970-2015)


Kata Kunci : Hazard Reporting System
ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Judul Magang

GAMBARAN PELAKSANAAN HAZARD REPORTING SYSTEM


PADA STRATEGIS BISNIS UNIT (SBU) AIRCRAFT SERVICES
PT. DIRGANTARA INDONESIA (PERSERO)
TAHUN 2016

Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Magang


Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, Mei 2016

Mengetahui

Pembimbing Fakultas Pembimbing Lapangan

Yuli Amran, SKM, MKM Fery Anugrah A. Bangun, ST

NIP. 19800506 200801 2 015 NIK. 150174


iii
iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Yaumi Khairi Azhari Lubis (Yaumi)

Tempat/Tanggal Lahir Medan, 25 November 1994

Agama Islam

Jenis Kelamin Laki-laki

Alamat Jalan Benda Timur 1C Blok E 72 No. 9 RT 02 RW


016, Kel. Benda Baru, Kec. Pamulang, Kota
Tangerang Selatan, Prov. Banten

Nomor HP +62 813 111 98574

Email yaumi.kal@gmail.com / yaumi_kal@yahoo.co.id

Riwayat Pendidikan SD Negeri Parakan 1 (2000-


2006)
Tangerang Selatan, Banten

MTsN Tangerang II Pamulang (2006-


2009)
Tangerang Selatan, Banten

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif (2012-


Hidayatullah Jakarta, Fakultas Kedokteran dan Sekarang)
Ilmu Kesehatan (FKIK), Program Studi Kesehatan
Masyarakat, Peminatan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3)

Tangerang Selatan, Banten

Pengalaman Organisasi Wakil Ketua Futsal Kesehatan Masyarakat UIN (2013-2014)


Syarif Hidayatullah Jakarta

Bendahara Futsal Fakultas Kedokteran dan Ilmu (2013-2014)


Kesehatan UIN syarif Hidayatullah Jakarta
v

Ketua Futsal Fakultas Kedokteran dan Ilmu (2014-2016)


Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Staff Finance Forum Studi Keselamatan dan (2014-


Kesehatan Kerja (FSK3) UIN Syarif Hidayatullah 2015)
Jakarta

Staff Human Resource Development, Forum (2015-


Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (FSK3) 2016)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pengalaman Pelatihan Peserta Orientasi Pengenalan Akademik Fakultas (2012)


Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Peserta Orientasi Pengenalan Akademik dan (2012)


Kebangsaan (OPAK), Program Studi Kesehatan
Masyarakat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Peserta Peringatan Hari Tanpa Tembakau (2013)


Sedunia 2013: Go Ahead To Attack Cigarette
“Peran Mahasiswa Kesehatan dalam
Dukungannya terhadap Aksesi FCTC untuk
Indonesia Sehat”

Peserta Seminar Profesi K3: Gambaran Budaya (2013)


K3 di Rumah Sakit Tahun 2013

Peserta Workshop “Safety in The Process (2014)


Industries”

Peserta Seminar Profesi Gizi Kesehatan (2014)


Masyarakat “Have Your Perfect Weight with a
Proper Diet”

Peserta Seminar Pengembangan Profesi (2014)


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
“Optimalisasi Pemenuhan Regulasi Prasarana
vi

Perlintasan Kereta Api Demi Stabilitas


Transportasi Nasional”

Peserta Seminar Profesi Kesehatan Masyarakat (2014)


Peminatan Epidemiologi: Menstrual and Pre-
Menstrual Syndrome “Protect, Care and Attend
Your (Pretty) Miss V”

Peserta Training SMK3 Based on OHSAS 18001 (2014)


& PP No. 50 Tahun 2012”

Peserta Workshop “Ergonomics in The Work (2014)


Place”

Peserta Workshop “Management of Fire Safety” (2014)

Peserta Workshop “Risk Assessment in The (2015)


Work Place”

Peserta Pelatihan Keselamatan Konstruksi (2015)


(Lifting Crane)

Peserta Pelatihan Keselamatan Konstruksi (2014)


(Lifting Crane)

Peserta Seminar Profesi Gizi Kesehatan (2014)


Masyarakat “Are You Selected Eater? Be Careful
To Obesity!”

Pengalaman Kepanitiaan Panitia Social Project (2012)

Panitia Gathering Forum Studi Keselamatan dan (2014)


Kesehatan Kerja (FSK3)

Panitia Seminar Profesi Keselamatan dan (2015)


Kesehatan Kerja “Peduli Keselamatan
Berkendara: Aku dan Ojek Online Tertib Berlalu
vii

Lintas

Riyawat Karir dan Juara III Lomba Adzan Pekan Muharram 1425 H (2005)
Pencapaian Masjid Al-Muhajirin Pamulang

Juara III Futsal CSS Mora CUP UIN Syarif (2012)


Hidayatullah Jakarta

Juara II Futsal Fisip Cup UIN Syarif (2012)


Hidayatullah Jakarta

Juara I Ganda Putra Tenis Meja Pekan Seni (2013)


Olahraga Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Juara I Futsal FKIK CUP UIN Syarif (2013)


Hidayatullah Jakarta

Juara I Futsal Parsial CUP UIN Syarif (2014)


Hidayatullah Jakarta

Best Player Futsal Parsial CUP UIN Syarif (2014)


Hidayatullah Jakarta

Juara I Mini Soccer GMB CUP (2013)

Juara I Futsal Medistra Cup Fakultas kedokteran (2014)


Universitas Tarumanegara se-Jabodetabek

Most Valauable Player Medistra Cup (2014)


Kedokteran Universitas Tarumanegara se-
Jabodetabek

Juara II Futsal FKIK CUP UIN Syarif (2014)


Hidayatullah Jakarta

Juara III Futsal Lawyers Cup Uin Syarif (2014)


Hidayatullah Jakarta
viii

Juara I Futsal Dasawarsa Cup FKIK UIN Syarif (2014)


Hidayatullah Jakarta

Juara I Mini Soccer Middle Of Ciater Cup (2014)

Juara I Ganda Putra Tenis Meja Pekan Seni (2015)


Olahraga Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Juara I Ganda Putra Tenis Meja Olympiart (2015)


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta

Juara II Futsal Diesnatalis Cup UPN Veteran (2016)


Jakarta

Juara II Futsal Dean Cup Adrenalin Rush (2016)


Fakultas Kedokteran Universitas Muhamadiyah
Jakarta
ix

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Alhamdulillah, karena atas
berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan
magang ini dengan judul “Gambaran Pelaksanaan Hazard Reporting System
Pada Strategis Bisnis Unit (SBU) Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia
(Persero) Tahun 2016”. Shalawat beserta salam yang teriring doa semoga selalu
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang senantiasa atas izin Allah SWT
mengajarkan umatnya untuk terus memperoleh ilmu pengetahuan yang kelak
bermanfaat bagi sesamanya.
Laporan magang ini merupakan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan penulis
selama lebih kurang satu setengah bulan sejak tanggal 2 Februari 2016 hingga 10
Maret 2016 di SBU (Strategis Bisnis Unit) Aircraft Services PT. Dirgantara
Indonesia (Persero). Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas dan kompetensi
kegiatan magang mahasiswa/i semester VIII peminatan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3), Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam proses penyusunan laporan magang ini, penulis memperoleh banyak


dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Keluarga saya, yaitu Orang tua tercinta dan kakak saya karena atas doa
dan dukungan yang tak hentinya sehingga penulis mampu memperoleh dan
menjalani pendidikan hingga saat ini di jenjang universitas.

2. Ibu Yuli Amran, M.KM selaku pembimbing fakultas yang telah


memberikan berbagai arahan dan motivasi kepada penulis agar berupaya
dengan maksimal dalam melaksanakan dan menyelesaikan laporan ini.

3. Ibu Dr. Iting Shofwati, S.T, M.KKK selaku dosen peminatan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) yang senantiasa memberikan arahan dan
motivasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian laporan ini.
x

4. Ibu Fajar Ariyanti, Ph.D selaku ketua program studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
dan para dosen Kesehatan Masyarakat atas semua ilmu yang telah
diajarkan.

5. Bapak Fery Anugrah A. Bangun, ST selaku Pembimbing Lapangan yang


telah memberikan banyak informasi, ilmu pengalaman maupun arahan
selama kegiatan magang berlangsung

6. Bapak Dedi Ruhiyat beserta keluarga yang memberikan informasi dan


kesempatan untuk melaksanakan kegiatan magang. Di PT. Dirgantara
Indonesia (Persero)

7. Bapak Yadi Ruslan, MT selaku Manajer Dpeartemen Safety and SBU


Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia (Persero) yang telah
memberikan banyak informasi, ilmu, pengalaman maupun arahan selama
kegiatan magang berlangsung dan dalam proses penyusunan laporan ini.

8. Bapak Herutomo, Bapak Unggul, Bapak Riyadi, Bapak Agustiono dan


Bapak Nanang yang turut membantu dalam memberikan informasi, ilmu,
motivasi maupun pengalaman dan juga seluruh pegawai SBU Aircraft
Services PT. Dirgantara Indonesia (Persero) yang senantiasa menerima,
memberikan pengalaman berkesan dan mendukung pelaksanaan kegiatan
magang.

9. Alviral Muhammad, Nova Rizki Prakoso, dan Richard Wahyu Pratama,


teman seperjuangan saat di tempat magang dan teman peminatan K3 dan
Kesehatan Masyarakat 2012 UIN Jakarta yang tidak dapat disebutkan satu
persatu oleh penulis.

10. Bitari Sakinah, yang senantiasa memberikan semangat dan motivasi selama
kegiatan magang berlangsung dan penulisan laporan magang.

11. Decky Prima yang telah memberi informasi seputar tempat magang di
wilayah kota bandung

12. Sahabat-sahabat saya, “AGONE” yang selalu memberikan dukungan dan


semangat dalam menyelesaikan laporan ini.
xi

Demikian yang dapat penulis sampaikan, dengan doa dan harapan bahwa
segala kebaikan yang mereka berikan dapat bermanfaat bagi penulis. Penulis
menyadari bahwa di dalam penulisan laporan ini masih terdapat berbagai kekurangan
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun agar kelak dapat menjadi lebih baik. Semoga laporan ini dapat
memberikan manfaat dalam perkembangan ilmu Kesehatan dan Keselamatan Kerja
dan bermanfaat bagi seluruh pembacanya, Amin. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, April 2016

Yaumi K.A.L.
xii

DAFTAR ISI

ABSTRAK .................................................................................................................... i

PERNYATAAN PERSETUJUAN ..............................................................................ii

LEMBAR PENGESAHAN ...……………………………………………………....iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .................................................................................... iv

KATA PENGANTAR ................................................................................................ ix

DAFTAR ISI ..............................................................................................................xii

DAFTAR BAGAN.................................................................................................... xiv

DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xv

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ xvi

DAFTAR ISTILAH .................................................................................................xvii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

A. Latar Belakang ..................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 3

C. Tujuan Magang .................................................................................................... 4

1. Tujuan Umum Magang .................................................................................... 4

2. Tujuan Khusus Magang ................................................................................... 4

D. Manfaat Magang .................................................................................................. 4

1. Bagi Mahasiswa ............................................................................................... 4

2. Bagi FKIK UIN Jakarta ................................................................................... 5

3. Bagi PT. Dirgantara Indonesia (Persero) ......................................................... 5

BAB II ALUR DAN KEGIATAN HARIAN MAGANG ........................................... 6

A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan Magang ............................................ 6

B. Alur Kegiatan Magang ......................................................................................... 6

C. Rencana Kegiatan Harian Magang ...................................................................... 8

D. Realisasi Kegiatan Harian .................................................................................. 13


xiii

E. Evaluasi Rencana Kegiatan Harian Magang ...................................................... 23

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................... 24

A. Gambaran Umum PT. Dirgantara Indonesia (Persero)...................................... 24

1. Sejarah PT. Dirgantara Indonesia (Persero) ................................................... 24

2. Informasi dan Lokasi PT. Dirgantara Indonesia (Persero)............................. 25

3. Logo dan Makna PT. Dirgantara Indonesia (Persero) ................................... 27

4. Satuan Kerja PT. Dirgantara Indonesia (Persero) .......................................... 27

5. Struktur Organisasi PT. Dirgantara Indonesia (Persero)................................ 32

6. Strategic Bisnis Unit (SBU) Aircraft Services ............................................... 33

B. Analisis Pelaksanaan Hazard Reporting System............................................... 36

1. Input ............................................................................................................... 37

2. Proses ............................................................................................................. 41

3. Output............................................................................................................. 44

C. Temuan Masalah pada pelaksanaan Hazard Reporting System ......................... 46

D. Prioritas Masalah ............................................................................................... 47

E. Akar Masalah .................................................................................................... 53

F. Solusi Pemecahan Masalah ................................................................................ 56

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 58

A. Simpulan ............................................................................................................ 58

B. Saran .................................................................................................................. 59

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 61

LAMPIRAN ............................................................................................................... 63
xiv

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Alur Kegiatan Magang ............................................................................... 6

Bagan 2.2 Tahapan Kegiatan Magang ........................................................................ 7

Bagan 3.1 Struktur Organisasi PT. Dirgantara Indonesia ......................................... 32

Bagan 3.2 Struktur Organisasi Strategic Bisnis Unit (SBU) Aircraft Services ......... 35

Bagan 3.3 Flow Chart Hazard Reporting System..…………………………………….43


xv

DAFTAR TABEL

Table 2.1 Rencana Kegiatan Harian Magang .............................................................. 8

Table 2.2 Realisasi Kegiatan Harian .......................................................................... 13

Table 3.1 Program Kerja Departerment Safety & Airwothiness Strategic Bisnis Unit
(SBU) Aircraft Services .............................................................................................. 36

Table 3.2 Analisis Pelaksanaan Hazard Reporting System........................................ 36

Table 3.3 Form Pelaporan Hazard ............................................................................. 40

Table 3.4 Prioritas Masalah........................................................................................ 49


xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Logo PT. Dirgantara Indonesia (Persero) .............................................. 27

Gambar 3.2 Pesawat NC-212 ..................................................................................... 28

Gambar 3.3 Pesawat CN-235 .................................................................................... 28

Gambar 3.4 Helikopter NBO-105 ............................................................................. 29

Gambar 3.5 Helikopter SUPER PUMA NAS-332 ................................................... 29

Gambar 3.6 Helikopter NBELL-412......................................................................... 30

Gambar 3.7 Diagram Fishbone .................................................................................. 55


xvii

DAFTAR ISTILAH

ACS : Aircraft services

CBC : Composite Building Center

CN : Casa Nusantara

DI : Dirgantara Indonesia

ILO : International Labour Organization

Jamsostek : Jaminan Sosial Tenaga Kerja

HIRA : Hazard Identification and Risk Assesment

K3 : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

K3LH : Keselamatan dan Kesehatan Keja dan Lingkungan Hidup

Menakertrans : Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

NC : Nusantara Casa

OSHAS : Occupational Health and Safety Assessment Series

SBU : Strategic Bisnis Unit

SMK3 : Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

SMS : Safety Management System


1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Peraturan Direktorat Jendreal Perhubungan Udara Tahun 2009


tentang Petunjuk dan Tata Cara Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan
(Safety Management System) Operasi Bandar Udara, Bagian 139-01, Hazard
adalah kondisi yang ada atau potensial yang dapat menyebabkan cedera,
penyakit atau kematian untuk orang, kerusakan atau kehilangan sistem,
peralatan, properti, lingkungan atau citra perusahaan. Bahaya adalah suatu
kondisi yang merupakan prasyarat untuk sebuah insiden atau kecelakaan.

Perkembangan di bidang industri menuntut perusahaan harus mampu


bertahan dan berkompetisi. Hal ini dapat dilihat melalui peningkatan dalam
bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) merupakan segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi
keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja (PP No. 50 tahun 2012). Bidang K3 menjadi
penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan dan juga kinerja
perusahaan (Budiono dkk, 2003).

Menurut Syukri Syahab (1997) Pada umumnya semua tempat kerja selalu
terdapat sumber bahaya. Setiap aktivitas yang melibatkan faktor mausia, mesin
dan bahan melalui tahapan proses memiliki risiko bahaya dengan tingkatan yang
berbeda-beda. Hal ini memungkinkan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat
kerja. Risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja disebabkan karena adanya
sumber bahaya akibat dari aktivitas di tempat kerja. Tenaga kerja merupakan
aset perusahaan yang sangat penting dalam proses produksi, sehingga perlu
diupayakan agar derajat kesehatan tenaga kerja dalam keadaan optimal.

Risiko kecelakaan kerja berkaitan dengan penggunaan teknologi maju


yang tidak dapat dielakkan, terutama pada era industrialisasi yang ditandai
adanya proses mekanikasi, elektrifikasi dan modifikasi serta transformasi
globalisasi. Dengan demikian penggunaan mesin-mesin, instalasi dan bahan-
2

bahan berbahaya akan terus meningkat sesuai kebutuhan industrialisasi


(Tarwaka, 2004).

Berdasarkan laporan ILO, setiap hari terjadi kecelakaan kerja yang


mengakibatkan korban fatal sekitar 6.000 kasus setiap tahun di seluruh dunia 2
juta orang meninggal karena masalah-masalah akibat kerja dan pada tahun 2013
tercatat lebih dari 2,34 juta orang di dunia meninggal dunia akibat kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja. Sekitar 321.000 akibat kecelakaan kerja dan
sekitar 2,02 akibat penyakit akibat kerja kerugian yang terjadi akibat kecelakaan
dan penyakit akibat kerja setiap tahunnya lebih dari US 1,25 triliun. Berdasarkan
Laporan ILO, setiap hari terjadi kecelakaan kerja yang mengakibatkan korban
fatal sekitar 6.000 kasus (ILO, 2013).

Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan, pada tahun 2013 peserta


jamsostek yang mengalami kecelakaan sebanyak 192.911 orang, dengan rincian
146.219 orang laki-laki dan 46.692 orang perempuan (Rahmat baihaqi, 2014).
Berdasarkan data Kemenakertrans pada tahun 2013 tidak kurang dari enam
pekerja meninggal setiap harinya akibat kecelakaan kerja (Kemenakertrans,
2014).

PT Dirgantara Indonesia (persero) merupakan salah satu perusahaan


penerbangan di Asia yang berpengalaman dan berkompetensi dalam rancang
bangun, pengembangan, dan manufacturing pesawat terbang. Diawali dengan
membangun dasar penguasaan teknologi melalui lisensi, perusahaan industri
yang berdiri pada 23 Agustus 1976 ini memproduksi helikopter dan pesawat
terbang.

SBU Aircraft Services menyediakan perbaikan pemeliharaan pesawat


sipil dan militer serta helikopter. Mulai dari suku cadang, pembaharuan dan
modifikasi struktur pesawat, pembaharuan interior, maintenance dan overhaul.
Hazard Reporting System adalah salah satu program kerja pada stratrgis bisnis
unit Aircraft Service namun program tersebut belum terlaksana maksimal.

Menurut observasi Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian


Pesawat (DKUPPU) mengatakan setidaknya minimal terdapat 3000 hazard per
tahun yang terdapat pada perawatan pesawat. Namun pada kenyataannya pada
3

SBU ACS PT. Dirgantara Indonesia (Persero), hazard yang dilaporkan dalam
bentuk form hazard report berjumlah 67 laporan dan form voluntary hazard
berjumlah 70 laporan pada tahun 2015. Untuk itu penulis berencana melakukan
penelitian dengan judul “Gambaran Pelaksanaan Hazard Reporting System Pada
Strategis Bisnis Unit (SBU) Aircraft Service di PT. Dirgantara Indonesia
(Persero) Tahun 2016”.

B. Rumusan Masalah

Bidang penerbangan merupakan salah satu tempat kerja yang terdapat


berbagai potensi bahaya dan risiko yang tinggi. Kecelakaan di bidang
penerbangan berhubungan dengan potensi bahaya dan risiko yang ada dapat
mengakibatkan terjadinya kecelakaan yang mempengaruhi international.
Kecelakaaan pesawat terbang biasanya berhubungan dengan bagaimana
maintenance (perawatan) pesawat. Pesawat terbang harus melakukan
perawatan secara berkala untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan.
Pada saat perawatan pesawat terbang, terdapat Hazard yang sangat
banyak. Menurut observasi Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian
Pesawat (DKUPPU) mengatakan setidaknya minimal terdapat 3000 hazard
per tahun yang terdapat pada perawatan pesawat. Melihat jumlah hazard yang
sangat banyak, maka pengendalian menjadi suatu upaya yang diharuskan untuk
menanggulangi kecelakaan.
Namun pada kenyataannya pada SBU ACS PT. Dirgantara Indonesia
(Persero), hazard yang dilaporkan dalam bentuk form hazard report berjumlah
67 laporan dan form voluntary hazard berjumlah 70 laporan pada tahun 2015,
sehingga jumlah ini jauh dari jumlah yang seharusnya ditetapkan oleh
Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat (DKUPPU),
membuktikan proses pengendalian hazard menjadi tidak maksimal karena
hazardnya belum teridentifikasi.

Berdasarkan pertimbangan tersebut penulis tertarik untuk melihat


bagaimana pelaporan bahaya yang ada di Strategis Bisnis Uni (SBU) Aircraft
Service PT. Dirgantara Indonesia (Persero)
4

C. Tujuan Magang

1. Tujuan Umum Magang

Diketahuinya Gambaran Pelaksanaan Prosedur Hazard Reporting System


pada SBU Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia (Persero).

2. Tujuan Khusus Magang

a. Diketahuinya Gambaran Umum SBU Aircraft Services PT. Dirgantara


Indonesia (Persero) Tahun 2016.
b. Diketahuinya Analisis Pelaksanaan Prosedur Hazard Reporting System di
SBU Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Tahun 2016.
c. Diketahuinya Temuan Masalah pada pelaksanaan Prosedur Hazard
Reporting System di SBU Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia
(Persero) Tahun 2016.
d. Diketahuinya Prioritas Masalah pada pelaksanaan Prosedur Hazard
Reporting System di SBU Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia
(Persero) Tahun 2016.
e. Diketahuinya Akar Penyebab Masalah Prosedur Pelaksanaan Prosedur
Hazard Reporting System di SBU Aircraft Services PT. Dirgantara
Indonesia (Persero) Tahun 2016.
f. Diketahuinya Solusi Pemecahan Masalah Pada Pelaksanaan Pelaksanaan
Prosedur Hazard Reporting System Di SBU Aircraft Services PT.
Dirgantara Indonesia (Persero) Tahun 2016.

D. Manfaat Magang

1. Bagi Mahasiswa

a. Menambah wawasan dan pengetahuan terkait pelaksanaan K3 tentang


maintenance penerbangan di SBU Aircraft Services PT Dirgantara
Indonesia (Persero).

b. Menerapkan dan mengaplikasikan ilmu K3 yang telah diperoleh pada


bangku perkuliahan ke dalam dunia pekerjaan atau tempat kerja.
5

c. Memperoleh berbagai pengalaman kerja secara nyata di lapangan sebagai


bentuk kesiapan dalam menghadapi dunia kerja.

2. Bagi FKIK UIN Jakarta

a. Membina kerjasama secara akademis dan profesional dengan perusahaan


dalam lingkup pendidikan.

b. Membuka peluang baru sebagai rekomendasi tempat magang bagi para


mahasiswa kesehatan masyarakat khususnya mahasiswa K3.

c. Memberi masukan yang bermanfaat sebagai bahan untuk evaluasi


terhadap kurikulum pembelajaran di Peminatan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bagi PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

a. Memperoleh masukan dan rekomendasi yang positif untuk menmecahkan


masalah terkait pelaksanaan K3 yang ada di perusahaan.

b. Menjalin kerjasama yang baik dengan Fakultas Kedokteran dan Ilmu


Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan K3
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dalam menerapkan
kemampuan yang dimiliki dan meningkatkan kualitas SDM yang baik.

c. Laporan magang dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam


menganalisa kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan K3 di
perusahaan.
6

BAB II
ALUR DAN KEGIATAN HARIAN MAGANG

A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan Magang

Kegiatan magang dilaksanakan di SBU Aircraft Services PT. Dirgantara


Indonesia (Persero) yang beralamat di Jalan Pajajaran 154, Bandung. Kegiatan
ini berlangsung selama 27 hari kerja yang dimulai terhitung pada tanggal 2
Februari hingga 10 Maret 2016.

B. Alur Kegiatan Magang

Kegiatan magang ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan, sebagaimana


yang dimaksud dalam bagan alur kegiatan magang yaitu sebagai berikut:

Pelaksanaan
Pra Kegiatan Pasca Kegiatan
Kegiatan
Magang Magang
Magang

Bagan 2.1
Alur Kegiatan Magang
7

Pra Kegiatan Magang Pelaksanaan Kegiatan Magang


1. Pembuatan surat pengajuan kegiatan magang. 1. Perkenalan dengan pihak K3LH PT. Dirgantara Indonesia
2. Pengajuan surat magang ke fakultas . 2. Penemparan magang di Departemen Safety And Airwothiness SBU
3. Pengajuan surat magang ke Kadiv Pengembangan Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia (Persero)
SDM PT. Dirgantara Indonesia (Persero). 3. Safety Indoction yang dilakukan oleh Departemen Safety And
Airwothiness SBU Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia
(Persero)
Pasca Kegiatan Magang
4. Mendiskusikan jadwal pelaksanaan kegiatan magang dengan
1. Membuat dan mempresentasikan hasil laporan
pembimbing lapangan lalu menyusun jadwal harian magang
kegiatan magang di institusi magang/perusahaan.
sesuai dengan kompetensi kegiatan magang dan jadwal
2. Mengevaluasi seluruh kegiatan magang dan
perusahaan.
membuat laporan magang untuk fakultas.
5. Melaksanakan kerja praktek
3. Bimbingan dengan pembimbing fakultas dan
6. Melakukan bimbingan dengan pembimbing lapangan
pembimbing lapangan.
7. Membuat laporan magang
4. Mempresentasikan laporan magang di fakultas.
5. Revisi laporan magang
Bagan 2.2

Tahapan Kegiatan Magang


8

C. Rencana Kegiatan Harian Magang

Rencana harian kegiatan magang ini merupakan hasil diskusi dengan pembimbing lapangan yang telah disesuaikan dengan jadwal
departemen ataupun perusahaan. Sesuai dengan bagan yang dijelaskan sebelumnya, rencana kegiatan harian kemudian dibuat secara rinci
yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.1 Rencana Kegiatan Harian Magang

Hari Tanggal Kegiatan Output Yang Diharapkan


Selasa 2 Feb 2016  Awal kehadiran dan perkenalan  Diketahuinya peraturan dan tata tertib yang ada di
PT. Dirgantara Indonesia
 Persiapan administrasi (pembuatan kartu identitas)  Didapatkan izin praktek kerja lapangan dan
mendapatkan kartu identitas
 Analisis situasi  Diketahuinya gambaran umum PT Dirgantara
 Pengenalan perusahaan Indonesia
Rabu 3 Feb 2016  Mempelajari kebijakan K3 perusahaan.  Diketahuinya kebijakan K3 yang ditetapkan oleh
perusahaan
 Mempelajari prosedur-prosedur K3 perusahaan  Diketahuinya prosedur-prosedur K3 yang dibuat
oleh perusahaan
Kamis 4 Feb 2016  Menganalisa program pelaksanaan APAR dan  Diketahuinya gambaran tentang prosedur APAR
9

Hari Tanggal Kegiatan Output Yang Diharapkan


Hydrant Manajemen Kebakaran dan Hydrant Manajemen Kebakaran
 Diketahuinya form hazard report yang digunakan
oleh pekerja
Jumat 5 Feb 2016  Menentukan unit untuk tempat kegiatan praktek  Ditentukan salah satu unit untuk tempat kegiatan
kerja lapangan praktek kerja lapangan
Senin 8 Feb 2016  Libur Nasional  Libur Nasional
Selasa 9 Feb 2016  Melakukan proses perizinan pada unit tempat  Didapatkannya izin praktek kerja lapangan di unit
kegiatan praktek kerja lapangan yang ditentukan
Rabu 10 Feb 2016  Terjun lapangan ke unit yang ditentukan  Diketahuinya gambaran umum dari unit yang
ditentukan
 Diketahuinya kegiatan-kegiatan kerja di unit yang
ditentukan
Kamis 11 Feb 2016  Mempelajari kebijakan hazard report di unit yang  Diketahuinya kebijakan hazard report yang
ditentukan ditetapkan di unit yang ditentukan
 Diketahuinya jenis-jenis hazard Report yang
digunakan di unit yang ditentukan
Jumat 12 Feb 2016  Observasi/telaah dokumen/wawancara pihak terkait  Diperoleh informasi mengenai penlaksanaan
10

Hari Tanggal Kegiatan Output Yang Diharapkan


hazard report
 Menyusun laporan magang  Tersusunnya laporan magang
Senin 15 Feb 2016  Observasi/telaah dokumen/wawancara pihak terkait  Diperoleh informasi mengenai pelaksanaan hazard
report
 Menyusun laporan magang  Tersusunnya laporan magang
Selasa 16 Feb 2016  Observasi/telaah dokumen/wawancara pihak terkait  Diperoleh informasi mengenai pelaksanaan hazard
report
 Menyusun laporan magang  Tersusunnya laporan magang
Rabu 17 Feb 2016  Observasi/telaah dokumen/wawancara pihak terkait  Diperoleh informasi mengenai penlaksanaan
Hazard Report
 Menyusun laporan magang  Tersusunnya laporan magang
Kamis 18 Feb 2016  Observasi/telaah dokumen/wawancara pihak terkait  Diperoleh informasi mengenai pelaksanaan hazard
report
 Menyusun laporan magang  Tersusunnya laporan magang
Jumat 19 Feb 2016  Melakukan HIRA  Melakukan HIRA pesawat CN-235
Senin 22 Feb 2016  Melakukan HIRA  mengetahui potensi bahaya pesawatCN-235
Selasa 23 Feb 2016  menentukan temuan masalah  mengetahui temuan masalah CN-235
11

Hari Tanggal Kegiatan Output Yang Diharapkan


Rabu 24 Feb 2016  Mempelajari Safety Management Manual  Mengetahui prosedur hazard report
Kamis 25 Feb 2016  Mempelajari Safety Management Manual  Mempelajari Safety Management Manual
Jumat 26 Feb 2016  Menentukan prioritas  Menentukan prioritas masalah hazard reporting
system
Sabtu 29 Feb 2016  Assesment Wearpack dan Safety Shoes  Mengetahui kebutuhan wearpack dan safety shoes
pekerja ACS
Senin 29 Feb 2016  Rapat dengan manjemen dan supervisot  Sosialisasi wearpack dan safety shoes

Selasa 1 Mar 2016  Dikusi prioritas masalah  Menentukan skala prioritas masalah hazard
reporting system
Rabu 2 Mar 2016  Identifikasi masalah  Identifikasi prioritas masalah
Kamis 3 Mar 2016  Identifikasi akar masalah  Membuat akar masalah
Jumat 4 Mar 2016  Identifikasi akar masalah  Membuat akar masalah
Senin 7 Mar 2016  Analisis pemecahan masalah  Membuat pemecahan masalah hazard reporting
system
Selasa 8 Mar 2016  Membuat simpulan dan saran  Membuat simpulan dan saran

 Revisi laporan  Memperbaiki laporan


12

Hari Tanggal Kegiatan Output Yang Diharapkan


Rabu 9 Mar 2016  Libur Nasional  Libur Nasional

Kamis 10 Mar 2016  Meminta lembar persetujuan laporan  mendapatkan cap dan tanda tangan
13

D. Realisasi Kegiatan Harian

Tabel 2.2 Realisasi Kegiatan Harian

Paraf
Tempat Pembimbi
Hari Tanggal Kegiatan Catatan Pencapaian Output
Kegiatan ng
Lapangan
Selasa 2 Feb  Awal kehadiran dan perkenalan  Diketahuinya peraturan dan tata tertib  Dep. K3LH
2016 yang ada di PT. Dirgantara Indonesia
 Persiapan administrasi (pembuatan  Didapatkan izin praktek kerja lapangan  Dep. HR
kartu identitas) dan mendapatkan kartu identitas
 Analisis situasi  Diketahuinya gambaran umum PT  Dep. K3LH
Dirgantara Indonesia
 Diketahuinya bagian-bagian atau
satuan kerja PT Dirgantara Indonesia
 Plant tour  Mengetahui PT Dirgantara Indonesia  Hanggar PT
Dirgantara
Indonesia
14

Paraf
Tempat Pembimbi
Hari Tanggal Kegiatan Catatan Pencapaian Output
Kegiatan ng
Lapangan
Rabu 3 Feb  Mempelajari kebijakan K3  Diketahuinya kebijakan K3 yang  Dep. K3LH
2016 perusahaan. ditetapkan oleh perusahaan
 Mempelajari prosedur-prosedur K3  Diketahuinya prosedur-prosedur K3  Dep. K3LH
perusahaan yang dibuat oleh perusahaan
Kamis 4 Feb  Menganalisa program atau kebijakan  Diketahuinya prosedur APAR dan  Dep. K3LH
2016 K3LH Hydrant Manajemen Kebakaran

 Mendampingi kegiatan pengenalan  Diketahinya gambaran umum  Hanggar PT.


perusahaan dengan Univ. Respati perusaaan PT Dirgantara Indonesia Dirgantara
Yogyakarta Indonesia
Jumat 5 Feb  Menentukan unit untuk tempat  Ditentukan salah satu unit untuk  Dep. K3LH
2016 kegiatan praktek kerja lapangan tempat kegiatan praktek kerja lapangan
Senin 8 Feb  Libur Nasional  Libur Nasional
2016
15

Paraf
Tempat Pembimbi
Hari Tanggal Kegiatan Catatan Pencapaian Output
Kegiatan ng
Lapangan
Selasa 9 Feb  Melakukan proses perizinan pada unit  Didapatkannya izin praktek kerja Dep. K3LH
2016 tempat kegiatan praktek kerja lapangan di unit yang ditentukan
lapangan  Diketahuinya kegiatan-kegiatan kerja
di unit yang ditentukan
Rabu 10 Feb  Terjun lapangan ke unit yang  Diketahuinya gambaran umum dari  Gedung CBC
2016 ditentukan unit yang ditentukan SBU Aircraft
 Diketahuinya kegiatan-kegiatan kerja Services
di unit yang ditentukan
 Pengenalan SBU Aircraft Services  Diketahuinya tata tertib di SBU  Gedung CBC
 Observasi Safety Management Aircraft Services SBU Aircraft
Manual  Diketahunya program kerja SBU Services
Aircraft Service

Kamis 11 Feb  Mempelajari kebijakan Hazard Report  Diketahuinya kebijakan hazard report Gedung CBC
2016 di SBU Aircraft Services yang SBU Aircraft Services SBU Aircraft
16

Paraf
Tempat Pembimbi
Hari Tanggal Kegiatan Catatan Pencapaian Output
Kegiatan ng
Lapangan
 Mempelajari Proses Maintenance  Diketahuinya proses maintenance Services
Pesawat pesawat
Jumat 12 Feb  Observasi/telaah dokumen/wawancara  Diperoleh informasi mengenai  Gedung CBC
2016 pihak terkait Safetty Management pelaksanaan hazard reporting system SBU Aircraft
Manual SBU Aircraft Services Services
 Plant Tour Hanggar KP. 4 (Dept.  Diketahunya Hanggar KP. 4  Hanggar KP.
MRO Komponen)- Gearbox Komponen Gearbox PT Dirgantara 4 Komponen
Indonesua Gearbox ACS
PT.
Dirgantara
Indonesia
Senin 15 Feb  Observasi/telaah dokumen/wawancara  Diperoleh informasi mengenai  Gedung CBC
2016 pihak terkait pihak terkait Safety pelaksanaan SBU Aircraft Services SBU Aircraft
Management Manual  Tersusunnya laporan magang Services
17

Paraf
Tempat Pembimbi
Hari Tanggal Kegiatan Catatan Pencapaian Output
Kegiatan ng
Lapangan
 Menyusun laporan magang
Selasa 16 Feb  Observasi/telaah dokumen/wawancara  Diperoleh informasi mengenai  Gedung CBC
2016 pihak terkait pelaksanaan hazard report SBU Aircraft
 Menyusun laporan magang  Tersusunnya laporan magang Services

 Melaksanakan HIRA  Diketahuinya potensi bahaya di  Hanggar


Hanggar Aircraft Services SBU Aircraft
Services
Rabu 17 Feb  Observasi/telaah dokumen/wawancara  Diperoleh informasi mengenai  Gedung CBC
2016 pihak terkait pelaksanaan hazard report SBU Aircraft
 Menyusun laporan magang  Tersusunnya laporan magang Services
Kamis 18 Feb  Observasi/telaah dokumen/wawancara  Diperoleh informasi mengenai  Gedung CBC
2016 pihak terkait pelaksanaan hazard report SBU Aircraft
Services
18

Paraf
Tempat Pembimbi
Hari Tanggal Kegiatan Catatan Pencapaian Output
Kegiatan ng
Lapangan
 Melaksanakan HIRA Pesawat CN-23  Diketahuinya potensi bahaya pesawat  Perpustakaan
CN235 Gedung CBC
Aircraft
Services
Jumat 19 Feb  Melaksanakan HIRA Pesawat CN-235  Diketahuinya potensi bahaya pesawat  Perpustakaan
2016 CN235 Gedung CBC
Aircraft
Services
Senin 22 Feb  Melaksanakan HIRA Pesawat CN-235  Diketahuinya potensi bahaya pesawat  Perpustakaan
2016 CN235 Gedung CBC
Aircraft
Services
Selasa 23 Feb  Mencari temuan masalah pelaksanaan  Diketahuinya temuan masalah pada  Gedung CBC
2016 Hazard Reporting System pelaksanaan program hazard reporting SBU Aircraft
19

Paraf
Tempat Pembimbi
Hari Tanggal Kegiatan Catatan Pencapaian Output
Kegiatan ng
Lapangan
system Services
Rabu 24 Feb  Melaksanakan HIRA Pesawat CN-235  Diketahuinya potensi bahaya pesawat  Perpustakaan
2016 CN235 Gedung CBC
Aircraft
Services
Kamis 25 Feb  Mengidentifikasi temuan masalah  Diiketahuinya temuan masalah  Gedung CBC
2016 pelaksanaan Hazard Reporting System pelaksanaan hazard reporting system SBU Aircraft
Services
Jumat 26 Feb  Menentukan prioritas masalah  Diketahuinya prioritas masalah  Gedung CBC
2016 pelaksanaan Hazard Reporting System pelaksanaan hazard reporting system SBU Aircraft
Services
Sabtu 28  Assesment warepack dan safety shoes  Diketahuinya kebutuhan wearpack dan  Kosan
Feruari pekerja Aircraft Services safety shoes pekerja pekerja Aircraft
2016 Services
20

Paraf
Tempat Pembimbi
Hari Tanggal Kegiatan Catatan Pencapaian Output
Kegiatan ng
Lapangan
Senin 29 Feb  Sosialisasi Warepack dan Safety  Disosialisasikannyak ebutuhan  Hanggar
2016 Shoes warepack dan safety shoes pekerja Helicopter
Aircraft
Services PT
Dirgantara
Indonesia
Selasa 1 Mar  Bimbingan prioritas masalah  Diketahuinya prioritas masalah  Gedung CBC
2016 pelaksanaan Hazard Reporting System pelaksanaan hazard reporting system SBU Aircraft
Services
Rabu 2 Mar  Identifikasi prioritas masalah  Diketahuinya Prioritas masalah  Gedung CBC
2016 pelaksanaan Hazard Reporting System pelaksanaan hazard reporting system SBU Aircraft
Services
Kamis 3 Mar  Membuat akar masalah pelaksanaan  Diketahuinya akar masalah  Gedung CBC
2016 Hazard Reporting System pelaksanaan hazard reporting system SBU Aircraft
21

Paraf
Tempat Pembimbi
Hari Tanggal Kegiatan Catatan Pencapaian Output
Kegiatan ng
Lapangan
Services
Jumat 4 Mar  Membuat akar masalah pelaksanaan  Diketahuinya akar masalah  Gedung CBC
2016 Hazard Reporting System pelaksanaan hazard reporting system SBU Aircraft
Services
Senin 7 Mar  Membuat simpulan dan saran  Diketahuinya simpulan dan saran  Gedung CBC
2016 pelaksanaan Hazard Reporting System pelaksanaan hazard reporting system SBU Aircraft
Services
Selasa 8 Mar  Revisi laporan  Diketahunya kesalahan dalam laporan  Gedung CBC
2016 SBU Aircraft
Services
Rabu 9 Mar  Libur Nasional  Libur Nasional
2016
Kamis 10 Mar  Meminta lembar persetujuan  Disetujuinya Laporan Magang  Gedung CBC
2016 SBU
22

Paraf
Tempat Pembimbi
Hari Tanggal Kegiatan Catatan Pencapaian Output
Kegiatan ng
Lapangan
 Aircraft
Services
23

E. Evaluasi Rencana Kegiatan Harian Magang

Kegiatan magang yang telah dilaksanakan selama 27 hari, kemudian


dilakukan evaluasi berdasarkan rencana kegiatan harian magang yang telah
disusun sebelumnya dan masih terdapat kegiatan yang tidak terlaksana.
Kegiatan yang tidak terlaksana diantaranya sebagai berikut :
 Pada hari Kamis 4 Februari 2016, kegiatan menganalisa program
pelaksanaan APAR dan hydrant manajemen kebakaran sudah terlaksana.
Namun ditambahkan mendampingi kegiatan pengenalan perusahaan dengan
Univ. Respati Yogyakarta yang sedang mengadakan kunjungan industri
 Pada hari Kamis tanggal 11 Februari 2016, rencana kegiatan yang dilakukan
yaitu mempelajari kebijakan hazard report di SBU Aircraft Services sudah
terlaksana. Namun ditambahkan kegitan mempelajari proses maintenance
pesawat
 Pada tanggal 18 dan 19 fFbruari, rencana kegiatan tidak terlaksana karena
adanya tugas dari manajer Dept. Safety and airworthiness PT. Dirgantara
Indonesia utuk melakukan Hazard Ientification and Risk Assesment (HIRA)
Pada Pesawat CN-235
 Pada hari Sabtu tanggal 26 Februari, tidak ada rencana kegiatan magang,
namun penulis dan rekan-rekan membantu pembimbing lapangan untuk
melakukan assessment wearpack dan safety shoes pekerja
24

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

1. Sejarah PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

Perusahaan didirikan dengan nama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio


pada tanggal 28 April 1976 berdasarkan Akta yang dibuat dihadapan Notaris
Raden Soekarsono, SH. Akta pendirian perusahaan telah mengalami beberapa
kali perubahan, yang antara lain oleh karena penggantian nama Perusahaan
menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara atau PT IPTN pada tanggal 17
April 1986 dan penggantian nama PT IPTN Menjadi PT Dirgantara Indonesia
atau PTDI pada tanggal 9 Oktober 2000.

Pada tahun 2008, Akta pendirian perusahaan telah berubah lagi berdasarkan
pernyataan Keputusan Rapat Perusahaan Perseroan (Persero) PT Dirgantara
Indonesia yang dituangkan dalam Akta Nomor 33 Tanggal 11 Agustus 2008
dihadapan Notaris Surjadi, SH. tentang perubahan dana atau penyesuaian seluruh
anggaran dasar perseroan terhadap undang-undang nomor 40 tahun 2007, dan
sudah dilaporkan serta disetujui oleh Menteri Hukum dan HAM Republik
Indonesia melalui keputsannya dengan nomor AHU-61256.AH.01.02. Tahun
2008 pada tanggal 10 September 2008 tentang persetujuan Akta Perubahan
Anggaran Dasar Perseroan.

Pada awalnya misi perusahaan lebih ditekankan pada penguasaan dan


kemandirian teknologi yang dilaksanakan dengan empat (empat) tahapan
transformasi teknologi, yaitu:

a. Tahap pertama pengenalan teknologi


Hasil peneranpannya adalah perusahaan mampu memproduksi,
mensertifikasi dan menjual pesawat NC212, NBO105, NAS330/332 dan
NBELL412, Roket FFAR, SUT Torpedo secara lisensi, serta
memproduksi komponen aerostruktur pesawat F16, Boeing 737/767, F100
dan Airbus berbagai seri sebagai main/subcontracto
25

b. Tahap kedua Integrasi Teknologi


Hasil penerapannya adalah perusahaan mampu merancang,
memproduksi, mensertifikasi dan menjual pesawat CN235 berbagai seri
bekerjasama strategis dengan CASA Spanyol dan scenario joint
development dan joint production 50:50.
c. Tahap ketiga Pengembangan Teknologi
Hasil penerapannya adalah perusahaan secara mandiri telah mampu
merancang dan memproduksi dua prototype (PA1 dan PA2), serta mulai
uji tanggal 10 Agustus 1995 untuk PA1 dan 11 Desember 1995 untuk
PA2. Dua prototype N250 ini sempat diterbangkan sejauh 13.500 km dari
Bandung ke Paris untuk melaksanakan demo terbang kepada public dunia
dalam Paris Airshow pada tahun 1997. Ketika berangkat dari Bandung dan
pulang dari Paris, dua prototype ini sempat singgah di berbagai nagara di
Asia, Arab dan Eropa. Pada tahun 1998 program N250 mulai dihentikan
sebagai akibat dari krisis moneter dan keputusan politik, selain N250,
Perusahaan juga secara mandiri telah mampu merancang Regional Jet
N2130 yang pada akhirnya program ini dihentikan pada tahun 1998.
d. Tahap Keempat Penelitian Keindustrian
Dengan adanya perubahan lingkungan eksternal maupun internal
pelaksanaan transformasi teknologi tahap keempat ini tidak sempat
dilanjutkan, dan sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2004
tentang BUMN. Maka PT Dirgantara Indonesia (Persero) memasuki era
komersialisasi dengan melakukan restrukturisasi dan revitalisasi untuk
mencapai keuntungan perusahaan.

2. Informasi dan Lokasi PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

Nama Perusahaan : PT Dirgantara Indonesia

Alamat : Jl. Pajajaran 154 Bandung 04174

Kelurahan : Husein Sastranegara

Kecamatan : Cicendo

No. Telpon : (022) 60033200


26

No. Fax : (022) 6033912

Jumlah Karyawan : 4046 Karyawan

Hari dan Jam Kerja : Senin s.d. Kamis (07.30 s.d 16.30 WIB)

Jumat (07.30 s.d 17.00 WIB)

a. Visi dan Misi PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

a. Visi
Menjadi perusahaan kelas dunia dalam industri dirgantara berbasis pada
penguasaan teknologi tinggi dan mampu bersaing dalam pasar global
dengan mengandalkan keunggulan biaya.
b. Misi
1) Sebagai pusat keunggulan di bidang industri dirgantara terutama dalam
rekayasa, rancang bangun, manufaktur, produksi & pemeliharaan untuk
kepentingan komersial & militer dan juga aplikasi diluar Industri
dirgantara.
2) Sebagai pemain utama dalam industri global. yang memiliki aliansi
strategis dengan Perusahaan Penerbangan kelas dunia lainnya.
3) Menjalankan usaha dengan selalu berorientasi pada aspek bisnis dan
komersil dan dapat menghasilkan produk dan jasa yang memiliki
keunggulan biaya.
4) Biaya bisnis yang kompetitif.
27

3. Logo dan Makna PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

Gambar 3.1
Logo PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

Sumber: Company Profile PTDI

Makna dari logo tersebut adalah :

a. Warna biru angkasa melambangkan langit tempat pesawat terbang.


b. Sayap pesawat terbang sebanyak 3 buah,yang melambangkan fase PT.
Dirgantara Indonesia (Persero) yaitu :
1. PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio
2. PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara
3. PT. Dirgantara Indonesia
c. Ukuran pesawat terbang yang semakin membesar melambangkan
keinginan PT. Dirgantara Indonesia (Persero) untuk menjadi perusahaan
dirgantara yang semakin membesar disetiap fasenya.
d. Lingkaran melambangkan bola dunia dimana PT. Dirgantara Indonesia
(Persero) ingin menjadi perusahaan kelas dunia.

4. Satuan Kerja PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

a. Aircraft
Memproduksi beragam pesawat untuk memenuhi berbagai misi
sipil, militer dan juga misi khusus.
1) Pesawat NC-212
28

Pesawat berkapasitas 19-24 penumpang,dengan beragam versi,dapat


lepas landas dengan mendarat dalam jarak pendek,serta mampu
beroperasi pada landasan rumput/tanah dan lain-lain.

Gambar 3.2
Pesawat NC-212

Sumber: Company Profile PTDI

2) Pesawat CN-235

Pesawat angkut komuter serbaguna dengan kapasitas 35-40


penumpang, dapat digunakan dalam berbagai misi, dapat lepas landas
dan mendarat dalam jarak pendek dan mampu beroperasi pada
landasan rumput, tanah, es dan lain-lain.

Gambar 3.3
Pesawat CN-235

Sumber: Company Profile PTDI

3) Helikopter NBO-105

Helikopter multiguna ini mampu membawa 4 penumpang, sangat


baik untuk berbagai macam misi, mempunyai kemampuan hovering
dan manuver dalam situasi penerbangan apapun.
29

Gambar 3.4
Helikopter NBO-105

Sumber: Company Profile PTDI

4) Helikopter Super Puma NAS-332


Helikopter modern ini mampu membawa 17 penumpang, dilengkapi
dengan aplikasi multi misi yang aman dan nyaman.

Gambar 3.5
Helikopter SUPER PUMA NAS-332

Sumber: Company Profile PTDI

5) Helikopter NBELL-412
Helikopter yang mampu membawa 13 penumpang, memiliki
prioritas rancangan yang rendah resiko keamanan yang tinggi, biaya
perawatan dan biaya operasi yang rendah.
30

Gambar 3.6
Helikopter NBELL-412

Sumber: Company Profile PTDI

b. Aerostructure
Didukung oleh tenaga ahli yang berpengalaman dan mempunyai
kemampuan tinggi dalam manufaktuf yang dilengkapi dengan fasilitas
manufaktur dengan kecepatan tinggi (high precision), seperti: mesin-
mesin canggih, bengkel sheet metal & welding, composite & bonding
center, jig & tool shop, calibration, testing equipment & quality
inspection ( peralatan test & uji kualitas), pemeliharaan, bisnis Satuan
Usaha Aerostructure meliputi:
1) Pembuatan komponen aerostructure (Machined parts, Sub
assembly, Assembly)
2) Pengembangan rekayasa (enginnering package) pengembangan
komponen aerostructure yang baru.
3) Perancangan dan pembuatan alat-alat ( tool design & manufacturing)

Memberikan program-program kontrak tambahan (subcontract


programs) dan offset untuk Boeing, Airbus Industries, BAE System,
Korean Airlines Aerospace Division, Mitsubishi Heavy Industries, AC
CTRM Malaysia.

c. Aircraft Services
Dengan keahlian dan pengalaman bertahun-tahun, Unit Usaha
Aircraft Service menyediakan service pemeliharaan pesawat dan
helikopter berbagai jenis, yang meliputi: penyediaan suku cadang,
pembaharuan dan modifikasi struktur pesawat, pembaharuan interior
maintenance & overhaul.
31

d. Engineering Services
Dilengkapi dengan peralatan perancangan dan analisis yang
canggih, fasilitas uji bertknologi tinggi, serta tenaga ahli yangh berisensi
dan berpengalaman standard internasional, Satuan Usaha Engineering
Service siap memenuhi kebutuhan produk dan jasa bidang engineering.

e. Defence
Bisnis utama Satuan Usaha Defence, terdiri dari produk-produk
militer, perawatan, perbaikan, pengujian dan kalibrasi baik secara
mekanik maupun elektrik dengan tingkat akurasi yang tinggi, integrasi
alat-alat penyerang, produkisi beragam sistem senjata antara lain: FFAR
2,75” rocket, SUTR Turpedo,dll.
32

5. Struktur Organisasi PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

Bagan 3.1
Struktur Organisasi PT. Dirgantara Indonesia

Sumber: Lampiran Surat Keputusan Direksi PT. Dirgantara Indonesia


(Persero
33

6. Strategis Bisnis Unit (SBU) Aircraft Services

a. Informasi Strategis Bisnis Unit (SBU) Aircraft Services

Strategis Bisnis Unit (SBU) Aircraft Services menyediakan perbaikan


pemeliharaan pesawat sipil dan militer serta helikopter. Mulai dari suku
cadang, pembaharuan dan modifikasi struktur pesawat, pembaharuan interior,
maintenance dan overhaul. Pada tahun 2004 hingga sekarang SBU Aircraft
Services memaintenance pesawat BOEING 737-300, 737-400 dan737-500
yang sudah mendapatkan AMO (Aircraft Maintenance Organization)
Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) Departemen Perhubungan
dengan memperhatikan penerapan safety.

SBU Aircraft Services dilengkapi dengan peralatan perancangan dan


analisis yang canggih, fasilitas uji berteknologi tinggi, serta tenaga ahli yang
berlisensi dan berpengalaman standar internasional. SBU Aircraft Service
mempunyai empat lokasi kerja yaitu :

a. Gedung utama Composite Bording Centre (CBC) SBU Aircraft Servies

b. Hanggar Fix Wing (Hanggar MRO Pesawat Terbang),

c. Hanggar Rotary Wing (Hanggar Perawatan Helicopter),

d. Hanggar Mock Up (Pesawat Casa) dan

e. Gear-Box KP.4 (Komponen pesawat).

b. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategic Bisnis Unit (SBU) Aircraft
Services

1) Visi

Menjadi pusat bisnis di bidang jasa perawatan dan modifikasi pesawat


terbang atau helikopter serta distributor suku cadang pesawat terbang atau
helikopter di Indonesia,yang berbasis kepada keunggulan teknis dan
profesionalisme,melalui Power By The Hour, dengan mengutamakan
orientasi pasar dan keselamatan penerbangan.
34

2) Misi

Menjalankan usaha yang berorientasi pada aspek bisnis dengan selalu


menjaga prinsip Conformance, Airworthiness, Responsiveness dan
Efficiency (CARE), melakukan aliansi strategis dengan Aircraft
Manufacturer, Original Equipment Manufacturer dan Repair Station
lainnya, sebagai wahana pencapaian keunggulan teknologi di bidang
perawatan dan modifikasi pesawat terbang dan komponen.

3) Tujuan dan sasaran

(a) Penetapan, penerapan dan pengendalian arah kebijakan bisnis


portofolio SBU Aircraft Services yang terbagi dalam :
(1) Maintenance, Repair dan Overhaul-Aircraft
(2) Maintenance, Repair dan Overhaul-Component
(3) Modification dan Interior Refurbishment
(4) Aeronautical Product’s Distributor
(5) Follow On Support
(6) Helicopter Completion Center
(b) Penetapan,penerapan dan pengendalian biaya operasional bisnis SBU
Aircraft Services, sesuai dengan kebijakan anggaran yang ditetapkan.
(c) Penetapan, penerapan dan pengendalian segmentasi pasar, baik
domestik maupun internasional, pada bisnis MRO SBU Aircraft
Services, bagi pesawat terbang sipil dan atau militer, baik produksi
PT DI dan Non PT DI.
(d) Penetapan, penerapan dan pengendalian terhadap pengembangan
Portofolio bisnis SBU Aircraft Services, yang berorientasi pasar dan
regulasi atau sertifikasi dari bahan otoritas domestik internasional,
juga Authorization Certificate dari Aircraft Manufacturer maupun
Original Equipment’s Manufacturer (OEM) di tingkat Internasional.
(e) Penetapan dan penerapan konsep Good Corporate Governance,
sebagai landasan operasional bagi proses pelaksanaan bisnis di SBU
Aircraft Services.
35

c. Struktur Organisasi Lokal Strategic Bisnis Unit (SBU) Aircraft Services

GENERAL MANAGER SBU


AIRCRAFT SERVICES

DEP. MANAJEMEN PROGRAM DEP. JAMINAN MUTU

DEP. SAFETY & AIRWORTHINESS DEP. MANAJEMEN AKUTANSI

DEP. ORDER MANAGEMNET

DIV. PERAWAAN DIV. MANAJEMEN DIV. DUKUNGAN DIV. HELICOPTER


& MODIFIKASI LOGISTIK PELANGGAN COMPLETION CENTER

Bagan 3.2
Struktur Organisasi Strategic Bisnis Unit (SBU) Aircraft Services

PT. Dirgantara Indonesia (Persero)

Sumber: Lampiran Surat Keputusan Direksi PT. Dirgantara Indonesia


(Persero)
36

d. Program Kerja Departermen Safety and Airwothiness Strategis Bisnis


Unit (SBU) Aircraft Services

Tabel 3.1 Program Kerja Departermen Safety & Airwothiness Strategic Bisnis
Unit (SBU) Aircraft Services

No Program Kerja

Safety and Airworthiness SBU Aircraft Services

1 Evaluasi Penerapan SMK3 Tahun 2014

2 Melaksanakan Training, Sosialisasi, dan pembinaan K3

3 Monitoring Pelaksanaan K3

a. Compliance
b. Pelaksanaan Program K3 disemua area
c. Laporan pelanggan K3 disemua area

4 Membuat HIRA (Hazard Identification and Risk Assestment)

5 AUDIT

6 Pengumpulan data

a. Pengumpulan dan manajemen database seluruh data yang


berhubungan dengan K3
b. Pembuatan Job Safety Analysis semua area

7 Analisa dan Evaluasi Potensi Bahaya Tingkat Tinggi

8 Program 5R

B. Analisis Pelaksanaan Hazard Reporting System

Hazard adalah Kondisi yang ada atau potensial yang dapat menyebabkan
cedera, penyakit atau kematian untuk orang, kerusakan atau kehilangan sistem,
peralatan, properti, lingkungan atau citra perusahaan. Bahaya adalah suatu kondisi
yang merupakan prasyarat untuk sebuah insiden atau kecelakaan (Safety
Management System Operasi Bandar Udara, Bagian 139-01)
37

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 menyatakan bahwa tempat kerja


ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap
dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk
keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.
PT. Dirgantara Indonesia (Persero) merupakan perusahaan manufaktur di
Indonesia yang memproduksi pesawat terbang dimana mempunyai potensi bahaya
yang cukup banyak. Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan oleh PT
Dirgantara Indonesia untuk meminimalisasi risiko hazard yang ada.

SBU Aircraft Services PT Dirgantara Indonesia merupakan perusahaan


penyediaan jasa perawatan pesawat terbang yang mempunyai potensi bahaya
tinggi dan telah menerapkan sistem manajemen dan kesehatan kerja berdasarkan
PP No. 50 Tahun 2012 dan menerapkan Safety Management System (SMS) dari
Direktorat Jendral Perhubungan Udara Departement Perhubungan RI No. 01
Tahun 2009 mengenai petunjuk dan tata cara pelaksanaan sistem manajemen
keselamatan (Safety Management System)

Hazard reporting system merupakan tools untuk melakukan identifikasi


hazard dan pencegahannya. Kegiatan ini merupakan tugas Dept. safety and
airworthiness SBU ACS PT, Dirgantara Indonesia untuk menurunkan tingkat
resiko bahaya hingga ke level yang dapat diterima. Hazard report ditentukan
dengan menggunakan Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) untuk
mengetahui tingkat keparahannya dan tindakan pengendalian arau
pencegahannya.

Untuk menilai gambaran kegiatan hazard reporting system di SBU Aircraft


Services PT. Dirgantara Indonesia, maka dilakukan suatu analisis situasi dengan
mengidentifikasi aspek input, proses dan output sebagai berikut:

1. Input

a. Sumber Daya Manusia (Man)

Karyawan SBU Aircraft Services PT Dirgantara Indonesia berjumlah 446


orang ditambah lini manajemen yang berjumlah 25 orang. Berdasarkan Safety
Management System, seluruh manajer, lini manajemen, dan pegawai bertanggung
jawab terhadap keselamatan. Para manajer dan lini manajemen secara nyata
38

harus membuktikan komitmennya terhadap keselamatan. Selain itu setiap orang


turut memperhatikan keselamatan satu sama lain. Keselamatan pegawai, pemakai
supplier, customer dan lingkungan sekitar. Satu kesatuan yang mendukung
kelangsungan bisnis penerbangan.

Dalam Peraturan Direktorat Jendral Perhubungan Udara Departemen


Perhubungan tahun 2009 tentang petunjuk dan tata cara pelaksanaan sistem
manajemen keselamatan (safety management system) pada penerbangan,,
seluruh manajer, dan supervisor diwajibkan melaksanaan hazard report di SBU
ACS PT Dirgantara Indonesia (Persero). Sementara karyawan wajib
melaksanakan voluntary report.
Untuk menjadi seorang manajer minimal harus memiliki pengalaman
kerja di PT. Dirgantara Indonesia selama 10 tahun, selain itu juga harus memiliki
gelar pendidikan Strata 2 (S2). Untuk manajer baru akan diberikan pelatihan
initial mengenai safety management system. Sementara untuk manajer lama akan
di berikan pelatihan requerent secara berkala mengenai safety management
system. Sementara untuk supervisor harus memiliki pengalaman kerja minimal 5
tahun di PT. Dirgantara Indonesia dan minimal memiliki gelar pendidikan Strata
1 (S1).
Manajer dan supervisor yang berjumlah 25 orang dan pekerja sejumlah
446 orang belum sebanding dengan hasil pelaporan yang seharusnya. Hal ini
dikarenakan beban kerja yang sangat banyak, dan anggapan tidak memiliki
keuntungan melaporkan hazard dan sehingga personil kurang aktif untuk
melakukan pelaporan hazard report dan voluntary report.
Kurangnya perintah untuk melakukan pelaporan hazard dan voluntary
hazard report menjadi kendala lain, padahal dalam peraturan safety management
system, manajemen harus bertanggung jawab dalam keselamatan. Selain itu
dalam Safety Management Manual (SMM) manajer dan supervisor bertugas
menindaklanjuti bahaya yang dilaporkan.
Kendala lain yang terdapat adalah karyawan kurang memahami teknis
pengisisan form, sehingga membuat karyawan menjadi malas dalam melaporkan
hazard. Padahal dalam safety management system, setiap orang harus
memperhatikan keselamatan satu sama lain. Selain itu masih terdapat mindset
39

karyawan yang menganggap bahwa pelaporan akan diberikan sanksi oleh yang
bersangkutan.

b. Pendanaan (Money)

Dalam kegiatan hazard reporting system, dana yang digunakan berasal dari
anggaran unit kerja yang diberikan kepada Dep. Safety and Airworthiness.
Namun dalam pelaksanaan mitigasi, dana yang digunakan berasal dari anggaran
divisi yang bersangkutan.

Berdasarkan undang-undang Safety Management System, kebijakan


keselamatan harus sejalan dengan kebijakan keselamatan penerbangan Republik
Indonesia yang tercantum dalam State Safety Program (SSP), termasuk
komitmen untuk menyediakan SDM dan budgetting yang memadai, dan cara
untuk mencapai sasaran keselamatan termasuk acuan pelaksanaan non punitive
reporting system, hazard and risk management, pendidikan dan atau pelatihan
serta cara/alat komunikasi informasi keselamatan dalam pelaksanaan kegiatan
hazard report di SBU ACS PT Dirgantara Indonesia (Persero), dana yang
digunakan sudah cukup memadai. Namun dalam pelaksanaan mitigasi risiko
masih mengalami keterbatasan anggaran. Hal ini mungkin belum terlalu
berpengaruh karena tidak semua hazard report selalu di mitigasi dengan
anggaran, namun dalam jangka panjang hal ini bisa menjadi sangat pengaruh
mengingat sifat hazard yang terus berkembang.

c. Bahan Baku (Material)

Dalam pelaksanaannya, hazard reporting system menggunakan form-form


yang diletakkan didalam toolbox. Toolbox tersebut tersebar di 5 wilayah kerja
SBU Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia. Selain itu form- form tersebut
dapat diminta kepada masing-masing supervisor, karena setiap supervisor
memiliki softcopy form yang sudah dikirim melalui email oleh Dept. safety and
airworthiness. Dalam hal ini tidak ada kendala dalam melaporkan hazard.

Nantinya dokumen ini disatukan kedalam file dokumen hazard report.


sebagai arsip. Kemudian data-data hazard report di input dengan software
Microssoft Office Excel 2013 kedalam komputer Dep. safety and airworthiness
SBU Aircraft Services. Selain itu tiap divisi memiliki bank data mengenai
40

hazard report. Belum adanya software khusus hazard reporting system


membuat pelaporan lebih memakan waktu.

Instruksi atau form yang berhubungan dengan laporan hazard:

Tabel 3.4 Form Pelaporan Hazard

No Judul Definisi

AS-SM-F301-01 Pelaporan Hazard Form pelaporan dari kondisi yang


(Hazard Report) dapat menyebabkan kecelakaan jika
(Lampiran 1)
tidak di tindak lanjuti, digunakan untuk
mencegah risiko kecelakaan.

AS-SM-F301-03 Laporan bahaya Form pelaporan dari kondisi yang


(Lampiran 2) sukarela dapat menyebabkan kecelakaan jika
(Voluntary tidak di tindak lanjuti, digunakan untuk
Hazard ) mencegah risiko kecelakaan.

AS-SM-F304-01 Identifikasi Form pelaporan dari kondisi yang


(Lampiran 3) bahaya dan dapat menyebabkan kecelakaan jika
penilaian risiko tidak di tindak lanjuti, digunakan untuk
(HIRA) menilai tingkat risiko kecelakaan.
Digunakan sebagai form identifikasi
bahaya dan penilaian risiko

d. Metode (Method)

Metode yang digunakan dalam kegiatan hazard report yaitu prosedur Safety
Management Manual (SMM) SBU ACS PT. Dirgantara Indonesia. Prosedur
safety management manual ini mengacu kepada Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan SMK3 dan Peraturan Direktorat
Jendral Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Tahun 2009 tentang
petunjuk dan tata cara pelaksanaan sistem manajemen keselamatan (safety
management system)

Form hazard report dan voluntary report diletakan dalam toolbox yang
tersedia untuk diisi oleh personi SBU ACS. Selain itu form bisa dicetak dari
41

computer supervisor jika persediaannya sudah habis. Kemudian form tersebut


diserahkan kepada pihak Dep. Safety and Airworthiness untuk dimitigasi. Dalam
mitigasi hazard report (Lampiran 1), sasaran yang dituju adalah manager divisi
bersangkutan yang terkena pelaporan, sedangkan dalam mitigasi voluntary report
(Lampiran 2), sasaran ditujukan langsung kepada hazard yang dilaporkan. Data
Laporan tersebut kemudian dikumpulkan dalam sebuah dokumen dan bank data
sebagai arsip. Metode ini tentunya cukup merepotkan karena membutuhkan
waktu yang lebih lama dibanding memiliki software khusus pelaporan.

e. Peralatan (Machine)

Peralatan yang digunakan dalam melakukan kegiatan hazard reporting system


adalah berupa alat tulis untuk mengisi form hazard report dan voluntary report
dan seperangkat komputer beserta printer. Setiap supervisor dan manajer
memiliki komputer masing-masing. Total terdapat 26 komputer beserta printer
dari 25 manajer dan supervisor ditambah sebuah komputer dari Dep. safety and
airworthiness. Hal ini bukan merupakan kendala karena setiap orang memiliki
peralatan yang cukup memadai.

f. Pemasaran (Market)
Hazard reportings system disosialasi dalam kegiatan safety talk. Sosialisasi ini
dilakukan oleh Dep. Safety and Airworthiness kepada seluruh personil SBU
Aircraft Services secara bergantian. Selain dalam kegiatan safety talk, Hazard
Reporting System juga terkadang disosialisasikan melalui email Dep. Safety and
Airworthiness kepada manajer dan supervisor

2. Proses

Proses dalam hazard reporting system adalah mulai dari identifikasi bahaya
oleh pekerja sampai dengan laporan diberikan mitigasi. Pertama pekerja
melakuikan identifikasi bahaya, identifikasi dilakukan terhadap bahaya yang
dapat menimbulkan risiko yang signifikan untuk keselamatan. Kemudian,
pekerja menghilangkan, mencegah atau melindungi orang lain dari bahaya jika
dapat dilakukan. Lalu untuk bahaya yang tidak dapat diperbaiki segera dan
bersifat aman, pekerja melaporkan bahaya kepada supervisor atau manajer.
Laporan menggunakan formulir laporan bahaya sukarela (Lampiran 2).
42

Setelah itu manager menunjuk delegasi yang cocok untuk menindaklanjuti


laporan bahaya, jika pengawas tidak tersedia. Kemudian supervisor atau delegasi
menerima informasi mengenai bahaya dari karyawan dan memastikan informasi
tersebut akurat dan faktual yang benar lalu meninjau bahaya untuk memastikan
bahwa bahaya tersebut memberikan risiko yang signifikan untuk keselamatan.
Kemudian supervisor atau delegasi melakukan penilaian perilaku risiko yang
terkait dengan bahaya sesuai dengan identifikasi bahaya prosedur dan penilaian
risiko menggunakan form identifikasi bahaya dan penilaian risiko (HIRA)
(Lampiran 3) untuk merekam hasil penilaian risiko.

Setelah itu manajer melakukan pengawasan dalam kaitannya dengan


penyelesaian form hazard report (Lampiran 1) dan penilaian risiko (HIRA)
(Lampiran 3) dan dimonitor oleh manajer safety. Kemudian manajer safety
memberikan umpan balik (feedback), bimbingan dan bantuan kepada supervisor /
manager dalam kaitannya dengan pelaporan bahaya dan penilaian risiko. Lalu
supervisor atau manajer menyampaikan laporan bentuk bahaya yang telah selesai
(Lampiran 1) dan form identifikasi bahaya dan penilaian risiko (HIRA)
(Lampiran 3) kepada manajer dan dikaji oleh manajer safety. kemudian
Supervisor atau delegasi memastikan mitigasi risiko yang cocok diambil untuk
menurunkan tingkat risiko hingga ke level yang dapat diterima dan ditinjau oleh
manajer dan dipantau oleh manajer safety. Adapun alur proses kegiatan hazard
reporting system adalah sebagai berikut:
43

A
MULAI
Bertindak sebagai ahli teknis dan manajerial untuk pengawas dalam
mengidentifikasi bahaya yang dapat menimbulkan risiko yang kaitannya dengan penyelesaian form laporan bahaya (AS-SM-F 301-01)
signifikan untuk keselamatan Dan identifikasi bentuk bahaya dan penilaian risiko (HIRA) (AS-SM-

Pekerja F304-01)

Manajer
menghilangkan, mencegah atau melindungi orang lain dari bahaya

memonitor pelaporan bahaya dan proses penilaian risiko


Pekerja
Manajer Safety

untuk bahaya yang tidak dapat diperbaiki segera dan bersifat aman,
melaporkan bahaya kepada supervisor atau manajer. Laporan memberikan umpan balik (feedback), bimbingan dan bantuan kepada
menggunakan formulir laporan bahaya sukarela (AS-SM-F 301-03) supervisor / manager dalam kaitannya dengan pelaporan bahaya dan
penilaian risiko
Pekerja

Manager Safety

menunjuk delegasi yang cocok untuk menindaklanjuti laporan menyampaikan laporan bentuk bahaya yang telah selesai (AS-SM-
bahaya, jika supervisor tidak tersedia F 301-01) dan form identifikasi bahaya dan penilaian risiko
(HIRA) (AS-SM-F305-01) kepada Manajer
Manajer
Supervisor/Delegasi
menerima informasi mengenai bahaya dari karyawan dan
Manajer
memastikan informasi tersebut akurat dan faktual yang benar Mengkaji dan menyelesaikan form laporan bahaya (AS-SM-F 301-
01) dan form identifikasi bahaya dan penilaian risiko (HIRA) (AS-
Supervisor/Delegasi
SM-F304-01) untuk diajukan kepada Saferty Manager

Manager
meninjau bahaya untuk memastikan bahwa bahaya tersebut
memberikan risiko yang signifikan untuk keselamatan menerima form laporan bahaya (AS-SM-F 301-01) dan form identifikasi
bahaya dan penilaian risiko (HIRA) AS-SM-F304-01) Dari manager
Supervisor/Delegasi
Manajer Safety

penilaian perilaku risiko yang terkait dengan bahaya sesuai memastikan mitigasi risiko yang cocok diambil dalam diberikan rangka
dengan identifikasi bahaya prosedur dan penilaian risiko (AS- untuk mencapai tingkat risko yang dapat diterima
SM-P303)
Supervisor/Delegasi
Supervisor/Delegasi

menggunakan form identifikasi bahaya dan penilaian risiko (HIRA) meninjau pelaksanaan mitigasi risiko dalam diberikan rangka
(ASTM-F304-01) Untuk merekam hasil penilaian risiko Manager

Supervisor/Delegasi

memantau dan meninjau pelaksanaan mitigasi risiko dalam


diberikan rangka
A
Manajer Safety

Selesai

Bagan 3.3
Flow Chart Hazard Reporting System
44

Dalam proses hazard reporting system, tidak ada kendala atau hambatan. Proses
hazard reporting system berjalan dengan baik sesuai dengan prosedur yang terdapat
dalam Safety Management Manual (SMM) SBU ACS PT. Dirgantara Indonesia.

3. Output

Output dari kegiatan hazard reporting system adalah terciptanya laporan


hazard. Nantinya laporan ini akan di audit oleh Direktorat Kelaikan Udara dan
Pengoperasian Pesawat (DKUPPU) setiap setahun sekali. Laporan yang
dihasilkan tidak memiliki kriteria khusus, hanya saja jumlah yang ada belum
sesuai dengan jumlah yang diharapkan.

Menurut observasi Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat


(DKUPPU) mengatakan setidaknya terdapat 3000 hazard per tahun yang
terdapat pada perawatan pesawat. Melihat jumlah hazard yang sangat banyak,
maka pengendalian menjadi suatu upaya yang diharuskan untuk menanggulangi
kecelakaan.

Namun pada kenyataannya pada SBU ACS PT. Dirgantara Indonesia


(Persero), hazard yang dilaporkan dalam bentuk Form Hazard Report berjumlah
67 laporan dan form Voluntary Hazard berjumlah 70 laporan pada tahun 2015,
sehingga jumlah ini jauh dari jumlah yang seharusnya ditetapkan oleh Direktorat
Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat (DKUPPU), membuktikan proses
pengendalian hazard menjadi tidak maksimal.

Hazard reporting system diawasi langsung oleh Dep. Safety and


Airworthiness. Setiap hari pihak Dep. safety and airworthiness bisa berkeliling
sampai dengan 3 kali ke area kerja Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia
untuk melihat ada atau tidaknya laporan.

Dalam menganalisis kesesuaian, tidak ada standar nasional yang


digunakan. Standar yang digunakan adalah standar operasional prosedur, yaitu
Safety Management Manual (SMM). Safety Managemen Manual (SMM) dibuat
oleh SBU Aircraft Services PT Dirgantara Imdonesia dan disetujui oleh
Kementrian Perhubungan Republik Indonesia. Berikut analisis keseuaian
berdasarkan analisis input, proses dan output:
45

Tabel 3.3 Analisis Pelaksanaan Hazard Reporting System

SOP Safety Management Kondisi aktual Kesesuaian


Manual (SMM) SBU
Aircraft Services PT
Dirgantara Indonesia

Manager menindaklanjuti Manager kurang menindak lanjuti Tidak sesuai


laporan bahaya laporan bahaya dikarenakan beban
kerja yang terlalu banyak, sehingga
manager menjadi kurang peduli
terhadap laporan hazard dan
voluntary hazard. Selain itu
anggaran untuk mitigasi juga
terbatas

Supervisor merupakan Supervisor sudah melaksanakan Sesuai


orang yang memiliki tugas sebagai pengawas dilapangan
form, dan bertugas
melaksanakan hazard
reporting system
Input
Safety Manager Safety manager beserta karyawan Sesuai
bertanggung jawab dan dep. Safety and airworhiness selalu
memiliki kewenangan bertanggung jawab dan
untuk melaksanakan melaksanakan Safety Management
Safety Management Manual
Manual

Karyawan melakukan hal Karyawan tidak memahami teknis Tidak sesuai


yang berkaitan dengan form pengisian hazard report. Selain
masalah keselamatan tidak ada keuntungan melaporkan
dan mealokasikan waktu hazard, karyawan juga takut
sebagai bagian dari tugas melaporkan hazard karena
normal mereka menganggap akan dikenakan sanksi
46

oleh yang bersangkutan.

Proses hazard reporting Proses pelaporan hazard dan Sesuai


system sesuai diagram voluntary hazard sudah sesuai
Proses
alur dalam SMMS dengan diagram alur yang terdapat
dalam

Terdapat 3000 hazard hazard yang dilaporkan dalam Tidak sesuai


per tahun yang terdapat bentuk Form Hazard Report
pada perawatan pesawat berjumlah 67 laporan dan form
Output
Voluntary Hazard berjumlah 70
laporan pada tahun 2015

C. Temuan Masalah pada pelaksanaan Hazard Reporting System

Masalah adalah suatu kesenjangan (gap) yang terjadi antara apa yang
seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal, atau antara kenyatan
yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi, antara harapan
dan kenyataan (Notoatmodjo, 2010). Masalah dapat juga diartikan sebagai
hambatan pelaksanaan suatu program. Kegiatan identifikasi masalah berguna
untuk mengetahui berbagai masalah yang ada dalam suatu program yang
selanjutnya harus cepat dilakukan penanganan atau pemecahan.
Menurut observasi Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian
Pesawat (DKUPPU), setidaknya ada 3000 hazard per tahun yang terdapat pada
perawatan pesawat. Namun pada kenyataannya di SBU ACS PT. Dirgantara
Indonesia (Persero), hazard yang dilaporkan dalam bentuk form hazard report
berjumlah 67 laporan dan form voluntary hazard berjumlah 70 laporan pada
tahun 2015. Hal ini akan menjadi temuan pada saat audit yang dilakukan oleh
Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara, sehingga perusahaan bisa mendapatkan
sanksi.
Berdasarkan hasil analisis, hal yang membuat tidak berjalannya
pelaksanaan hazard reporting system adalah:

1. Pekerja kurang memahami teknis pengisian form hazard dan voluntary


hazard
47

2. Mindset karyawan terhadap pelaporan dianggap akan diberikan sanksi


oleh atasan
3. Pekerja beranggapan tidak ada keuntungan melaporkan bahaya hazard

4. Kurangnya pengawasan dari manajemen atas perintah dari atasan


dalam pelaporan hazard dan voluntary hazard
5. Keterbatasan anggaran ketika hendak melakukan mitigasi atas
pelaporan hazard dan voluntary hazard

6. Belum adanya program software pelaporan hazard dan voluntary


hazard
7. Kurangnya jumlah pelaporan hazard dan voluntary hazard

D. Prioritas Masalah

Dalam menentukan prioritas masalah, terdapat dua macam metode yaitu


non scoring technique (kualifikasi) dan scoring technique (kuantifikasi).
Metode non scoring (kualifikasi) terdiri dari Delphi technique dan Delbeque
Technique. Metode ini lazim digunakan bila tidak tersedia data yang lengkap
dan mempergunakan berbagai parameter. Sedangkan metode scoring
(kuantifikasi) merupakan cara pemilihan prioritas masalah dengan memberikan
skor (nilai) untuk sebagai parameter tertentu yang telah ditetapkan. Metode ini
terdiri dari metode Bryant, Hanlon, USG, CARL. (Maharani, dkk., 2014).

Untuk mencari prioritas masalah, salah satu cara yang dapat digunakan
adalah dengan menggunakan matriks USG. Untuk menentukan prioritas
masalah menggunakan matriks USG, terdapat tiga faktor yang perlu
dipertimbangkan. Ketiga faktor tersebut adalah urgency, seriuosness, dan
growth (USG) (Asmoko, 2015).

1. Urgency

Berkaitan dengan seberapa mendesaknya masalah tersebut harus


diselesaikan dengan waktu yang tersedia dan tekanan yang ada untuk
memecahkan masalah tersebut. Semakin mendesak suatu masalah untuk
diselesaikan maka semakin tinggi urgensi masalah tersebut.

2. Seriousness
48

Berkaitan dengan dampak dari adanya masalah yang timbul


dengan penundaan pemecahan masalah tersebut. Dampak ini terutama
yang menimbulkan kerugian bagi organisasi seperti dampaknya terhadap
produktivitas, keselamatan jiwa manusia, sumber daya atau sumber
dana. Suatu masalah yang dapat menimbulkan masalah lain adalah lebih
serius bila dibandingkan dengan suatu masalah lain yang berdiri sendiri.
Semakin tinggi dampak masalah tersebut terhadap organisasi maka
semakin serius masalah tersebut.

3. Growth
Berkaitan dengan pertumbuhan masalah. Semakin cepat
berkembang masalah tersebut maka semakin tinggi tingkat
pertumbuhannya dan tentunya makin menjadi prioritas untuk segera di
atasi.
Dalam penentuan prioritas masalah menggunakan matriks USG,
skala penilaian yang digunakan berkisar dari 1-5. Keterangan skala
penilaian tersebut adalah sebagai berikut :
5 = Sangat Besar
4 = Besar
3 = Cukup besar
2 = Kecil
1 = Sangat Kecil

Setelah itu setiap nilai pada setiap masalah yang sudah diidentifikasi
dikalikan. Total nilai yang ada untuk melihat seberapa pesar nilai yang didapat
lalu dari sana akan dapat dilakukan pembuatan peringkat. Masalah dengan total
nilai terbesar diberi peringkat pertama, masalah dengan total nilai terbesar
kedua diberi peringkat kedua, dan seterusnya. Dari cara tersebut akan terpilih
prioritas masalah yang haru segera diintervensi dari peringkat pertama yang
didapat pada suatu masalah. Hasil penentuan prioritas masalah menggunakan
matriks USG adalah sebagai berikut.
49

Table 3.4 Prioritas Masalah

No. Daftar Masalah U S G Skor Prioritas


masalah

1. Karyawan kurang paham terhadap teknis 3 2 5 30 5


pengisian form hazard report dan
voluntary report
2. Mindset karyawan terhadap pelaporan 5 5 1 25 6
dianggap akan diberikan sanksi oleh
atasan
3. Presepsi karyawan terhadap definisi 2 5 5 50 3
hazard minim.
4. Kurangnya perintah dari atasan dalam 4 3 5 60 2
pelaporan hazard dan voluntary
5. Keterbatasan anggaran ketika hendak 3 3 4 36 4
melakukan mitigasi atas pelaporan
hazard
6. Belum adanya program software 2 3 4 24 7
pelaporan hazard
7. Kurangnya jumlah pelaporan hazard dan 4 5 2 80 1
voluntary hazard

Berikut ini adalah uraian pertimbangan mengenai penilaian masalah-


masalah yang akan dipilih satu untuk dijadikan prioritas:

Urgency
1. Karyawan kurang paham terhadap teknis pengisian form Hazard
report dan Voluntary
Pada masalah ini, diberikan score 3 dikarenakan karyawan yang
tidak mengetahui bisa melapor kepada supervisor atau delegasi untuk
diarahkan dalam pengisian teknis pengisian form Hazard report dan
Voluntary. Sehingga karyawan bisa diberi sosialisasi dan training
mengenai teknis pengisian form Hazard report dan Voluntary
50

2. Mindset karyawan terhadap pelaporan dianggap akan diberikan sanksi


oleh atasan
Pada masalah ini diberikan score 5, dikarenakan jika mindset sudah
terbentuk maka sampai kapanpun karyawan tidak ada yang melaporkan.
Hal ini harus segera diperbaiki agar pelaporan dapat berjalan dengan
maksimal.
3. Presepsi karyawan terhadap definisi hazard minim.
Pada masalah ini, diberikan score 2 dikarenakan pada dasarnya
karyawan memiliki pemahaman dasar mengenai hazard. Persepsi yang
minim membuat karyawan tidak peduli terhadap pentingnya hazard. Hal
ini bisa diperbaiki dengan memberikan pelatihan-pelatihan tambahan
mengenai pentingnya hazard.
4. Kurangnya perintah dari atasan dalam pelaporan hazard dan voluntary
Pada masalah ini diberikan score 3 dikarenakan atasan sudah
memerintahkan untuk melakukan pelaporan hazard dan voluntary.
Namun karena faktor lain membuat perintah tersebut masih kurang
maksimal. Hal ini harus segera diperbaiki karena mendapatkan
pelaporan hazard dan voluntary merupakan tugas dan tanggung jawab
dari atasan.
5. Keterbatasan anggaran ketika hendak melakukan mitigasi atas pelaporan
hazard
Pada masalah ini diberikan skor 3 dikarenakan dana yang terbatas bukan
berarti tidak ada dana dalam mitigasi atas pelaporan hazard. Selain itu
untuk mitigasi atas pelaporan hazard tidak semuanya memerlukan dana
yang besar.
6. Belum adanya program software pelaporan hazard
Pada masalah ini diberikan skor 2. Hal imi dikarenakan pelaporan
masih tetap berjalan walaupun tidak dengan program software. Dan
dalam peraturan pemerintah tentang Safety Management System (SMS)
juga tidak mengharuskan sistem pelaporan dengan program software
7. Kurangnya jumlah pelaporan hazard dan voluntary hazard
Pada masalah ini diberikan skor 4, dikarenakan jikar dibiarkan maka
output dari hazard reporting system yakni HIRA tidak sesuai dengan
51

standar yakni berjumlah 3000 laporan. Sehingga harus di perbaiki agar


pelaporan bisa berjalan sesuai dengan standar.

Seriousness
1. Karyawan kurang paham terhadap teknis pengisian form hazard
report dan voluntary report
Pada masalah ini diberikan skor 2. Hal ini dikatenakan pada dasarnya
karyawan mengetahui adanya Hazard. Sehingga karyawan hanya perlu
diberi sosialisasi dan training mengenai teknis pengisian form hazard
report dan voluntary.
2. Mindset karyawan terhadap pelaporan dianggap akan diberikan sanksi
oleh atasan
Pada masalah ini diberikan skor 5. Hal ini sudah dianggap fatal
karena tidak ada karyawan yang melapor akibat mindset tersebut,
sehingga harus segera diperbaiki.

3. Presepsi karyawan terhadap definisi hazard minim.


Pada masalah ini diberikan skor 5, dikarenakan persepsi tersebut bisa
membuat bentrok dilapangan. Hal ini harus segera ditanggulangi agar
pemahaman karyawan terhadap definisi hazard semakin baik.

4. Kurangnya perintah dari atasan dalam pelaporan hazard dan


voluntary
Pada masalah ini diberikan skor 3. Hal ini dikarenakan bahwa
sebenarnya ada perintah dari atasan, namun masih kurang maksimal.
Sehingga pelaporan hazard dan voluntary kepada Dep. Safety masih
minim.

5. Keterbatasan anggaran ketika hendak melakukan mitigasi atas


pelaporan hazard
Pada msalah ini diberikan skor 3. Hal ini dikarenakan masalah safety
tidak semua mitigasi dilakukan dengan anggaran.

6. Belum adanya program software pelaporan hazard


Pada masalah ini diberikan skor 3 dikarenakan bukan merupakan
masalah yang sangat serius. Hal ini dikarenakan sistem pelaporan masih
52

tetap berjalan walaupun personil menjadi kurang aktif karena pelaporan


tidak menggunakan program software.
7. Kurangnya jumlah pelaporan hazard dan voluntary hazard
Pada masalah ini diberikan skor 5. Hal ini dikarenakan jumlah hazard
yang kurang akan membuat program HIRA tidak berjalan dengan
maksimal, sehingga pada saat di audit oleh Direktorat Sertifikasi dan
Kelaikan Udara (DSKU) akan menjadi temuan dan mendapatkan sanksi.

Growth
1. Karyawan kurang paham terhadap teknis pengisian form hazard
report dan voluntary report
Pada masalah ini diberikan skor 5 dikarenakan jika dibiarkan
maka makin parah pemahaman terhadap teknis pengisian form hazard
report dan voluntary report. Hal ini harus segera diperbaiki karena
akan timbul resiko, yakni tidak adanya pelaporan hazard dan
voluntary.

2. Mindset karyawan terhadap pelaporan dianggap akan diberikan sanksi


oleh atasan
Pada masalah ini diberikan skor 1. Hal ini dikarenakan mindset
yang sudah terbentuk tingkat pertumbuhannya sudah paling tinggi,
sehingga tidak akan lagi bertumbuh.

3. Presepsi karyawan terhadap definisi hazard minim.


Pada masalah ini diberikan skor 5, dikarenakan persepsi
tersebut bisa menyebar ke karyawan yang lain. Sehingga harus segera
diberi perbaikan berupa sosialisasi agar persepsi para karyawan
terhadap definisi hazard tidak minim.

4. Kurangnya perintah dari atasan dalam pelaporan hazard dan


voluntary
Pada masalah ini diberikan skor 5, dikarenakan jika dibiarkan
masalah ini akan terus bekembang. Sehingga membuat tidak adanya
pelaporan hazard dan voluntary kepada Dep. Safety.
53

5. Keterbatasan anggaran ketika hendak melakukan mitigasi atas


pelaporan hazard
Pada masalah ini diberikan skor 4, dikarenakan jika dibiarkan
anggaran tersebut akan semakin terbatas. Sementara hazard sifatnya
semakin berkembang.

6. Belum adanya program software pelaporan hazard


Pada maslah ini diberikan skor 4. Hal ini dikarenakan jika
dibiarkan maka karyawan semakin tidak aktif melaporkan hazard
karena pelaporan memakan waktu yang lebih lama.

7. Kurangnya jumlah pelaporan hazard dan voluntary hazard


Pada masalah ini diberikan skor 2. Hal ini dikarenakan
pertumbuhannya sudah dianggap cukup tinggi karena sudah diberikan
sanksi.

Berdasarkan hasil skoring dengan menggunakan metode USG,


prioritas masalah pada pelaksanaan hazard reporting system adalah
kurangnya jumlah pelaporan hazard dan voluntary hazard.

E. Akar Masalah

Analisis akar penyebab masalah (menurut metode Root Caus


Analysis) adalah pemeriksaan terstruktur dengan tujuan mengidentifikasikan
penyebab sebenarnya dari suatu masalah dan tindakan yang diperlukan untuk
menghilangkan penyebab itu. Analisis tentang akar penyebab masalah
diilhami oleh pengalaman para petani yang memberantas alang-alang harus
dengan mencabut akarnya (Widajat, 2010).

Analisis akar masalah (metode Root Cause Analysis) adalah sebuah


prosedur untuk memastikan dan mengevaluasi berbagai sebab masalah untuk
menentukan sebab yang paling mendasar dan menetapkan strategi
pencegahannya (Harsono, 2008). Adapun dalam penentuan akar masalah
dilakukan dengan metode Fishbone.
Diagram Fishbone merupakan suatu alat visual untuk
mengidentifikasi, mengeksplorasi, dan secara grafik mengambarkan secara
detail semua penyebab yang berhubungan dengan suatu permasalahan.
54

Diagram fishbone ini umumnya digunakan pada tahap mengidentifikasi


permasalahan dan menentukan penyebab dari masalah tersebut. serta dapat
digunakan dalam proses perubahan (Asmoko, 2012).
Berdasarkan diagram fishbone, dapat diketahui bahwa masalah utama
dari kegiatan magang adalah kurangnya jumlah pelaporan hazard dan
voluntary hazard. Terdapat 7 penyebab masalah utama, yaitu kurangnya
pelatihan mengenai hazard, kurangnya SDM, kurang kepedulian atasan
terhadap hazard, anggaran yang terbatas, belum adanya kebijakan mengenai
reward, kurang komitmen dari departemen terkait dalam melaksanakan
pelaporan hazard dan voluntary hazard dan belum terdapat tenaga ahli
mengenai software pelaporan. Berdasarkan hasil brainstorming dengan
personil Dep. safety and airworthiness, akar masalah yang dapat dilakukan
sesuai kemampuan perusahaan adalah pelatihan mengenai hazard, kurangnya
SDM, kurang kepedulian atasan terhadap hazard,, belum adanya kebijakan
mengenai reward, kurang komitmen dari departemen terkait dalam
melaksanakan pelaporan hazard dan voluntary hazard dan belum terdapat
tenaga ahli mengenai software pelaporan. Hasil brainstorming disesuaikan
berdasarkan pertimbangan kemampuan perusahaan dan lingkungan.
55

Gambar 3.7

Diagram Fishbone
56

F. Solusi Pemecahan Masalah

Setelah menentukan akar masalah, kemudian menentukan solusi dari akar


permasalahan kurangnya jumlah pelaporan hazard dan voluntary hazard yaitu
pada bagian manajemen. Adapun yang menjadi solusi pemecahan masalah:

1. Memberikan training kepada seluruh lini manajemen secara berkala

Menurut Hasibuan (2005) pendidikan dan latihan adalah suatu usaha


untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual dan moral
karyawan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan atau jabatan melalui
pendidikan dan latihan.

2. Memberikan penghargaan (reward) kepada pekerja yang aktif melaporkan


hazard

Menurut teori operant conditioning B.F. Skinner, rangsangan yang


diatur secara tertentu dapat mengubah sesuatu aspek tingkah laku yang
tidak dikehendaki menjadi sesuatu tingkah laku yang diinginkan.
Selanjutnya, proses belajar dalam teori operant conditioning tunduk pada
dua hukum operant yang berbeda, yakni law of operant conditioning dan
law of operant extinction. Menurut law of operant conditioning jika
timbulnya tingkah laku operant diiringi dengan stimulus penguat, maka
kekuatan tingkah laku tersebut akan meningkat. Sebaliknya, menurut law of
operant extinction, jika timbulnya tingkah laku diiringi dengan sesuatu yang
tidak menyenangkan, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan menurun
atau bahkan musnah (Hintzman dalam muhibbin, 2010).

3. Menambahkan SDM sehingga beban kerja pihak manajemen menjadi


merata

Menurut Lenna Ellitan (2002) dari berbagai sumber daya yang dimiliki
perusahaan SDM menempati posisi strategis diantara sumber daya lainnya.
Tanpa SDM, sumber daya yang lain tidak bisa dimanfaatkan apalagi
dikelola untuk menghasilkan suatu produk. Tetapi dalam kenyataanya
masih banyak perusahaan tidak menyadari pentingnya SDM bagi
kelangsungan hidup perusahaan. Masih banyak perusahaan yang
57

menganggap SDM adalah aset organisasi yang paling penting, karena SDM
yang menggerakkan dan membuat sumber daya lainnya bekerja.
Analisis Strength dan Weakness yang didapat dari solusi pemecahan
masalah adalah sebagai berikut:

1. Strengths (Kekuatan)
a. Terciptanya kepedulian terhadap pelaporan hazard

b. Terciptanya personil yang ahli terhadap hazard

c. Memberikan stimulus kepada karyawan, manajer atau yang


didelegasikan untuk melaporkan hazard

d. Membentuk karakter atasan yang lebih berkualitas

e. Memiliki trainer atau pelatih yag berpengalaman

2. Weakness (Kelemahan)

a. Membutuhkan anggaran yang cukup besar

b. Membutuhkan waktu yang panjang dalam melaksanakan training di


tengah beban kerja yang tinggi.

c. Harus mampu menyesuaikan materi dengan karakter karyawan yang


beragam
58

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

1. Strategis Bisnis Unit (SBU) Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia


(Persero) menyediakan perbaikan pemeliharaan pesawat sipil dan militer serta
helikopter. Mulai dari suku cadang, pembaharuan dan modifikasi struktur
pesawat, pembaharuan interior, maintenance dan overhaul. Pada tahun 2004
hingga sekarang SBU Aircraft Services memaintenance pesawat BOEING 737-
300, 737-400 dan 737-500 yang sudah mendapatkan AMO (Aircraft
Maintenance Organization) dari Direktorat Sertifikasi dan Kelaikan Udara
(DSKU) dengan memperhatikan penerapan safety.

2. Menurut observasi Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat


(DKUPPU) menyatakan setidaknya ada 3000 hazard per tahun yang terdapat
pada perawatan pesawat. Namun pada kenyataannya di SBU ACS PT.
Dirgantara Indonesia (Persero), hazard yang dilaporkan dalam bentuk form
hazard report berjumlah 67 laporan dan form voluntary hazard berjumlah 70
laporan pada tahun 2015, sehingga jumlah ini jauh dari jumlah yang
seharusnya ditetapkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian
Pesawat (DKUPPU), membuktikan proses pengendalian hazard menjadi tidak
maksimal.

3. Berdasarkan hasil analisis situasi terdapat masalah dalam pelaksanaan hazard


reporting system yaitu pekerja kurang memahami teknis pengisian form
hazard, mindset karyawan terhadap pelaporan dianggap akan diberikan sanksi
oleh atasan, minimnya persepsi karyawan terhadap hazard, pekerja
beranggapan tidak ada keuntungan melaporkan bahaya, kurangnya perintah
dari atasan dalam pelaporan hazard dan voluntary, keterbatasan anggaran
ketika hendak melakukan mitigasi atas pelaporan hazard, belum adanya
program software pelaporan hazard dan kurangnya jumlah pelaporan hazard
dan voluntary hazard

4. Berdasarkan hasil skoring menggunakan metode matriks USG dengan melihat


urgency, seriousness, growth dari lima masalah yang sudah ditemukan,
59

didapatkan prioritas masalah pada Kurangnya perintah dari atasan dalam


pelaporan hazard dan voluntary.

5. Berdasarkan metode Root Cause Analysis (RCA) dengan menggunakan


diagram fishbone, diketahui penyebab dari akar masalah dari kurangnya jumlah
pelaporan hazard dan voluntary hazard adalah sebagai berikut:

a. Kurangnya pelatihan mengenai hazard, kurangnya SDM


b. Kurang kepedulian atasan terhadap hazard
c. Anggaran yang terbatas
d. Belum adanya kebijakan mengenai reward
e. Kurang komitmen dari departemen terkait dalam melaksanakan pelaporan
hazard dan voluntary hazard
f. Belum terdapat tenaga ahli mengenai software pelaporan

6. Solusi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

a. Memberikan training dan sosialisasi yang lebih detail kepada seluruh lini
manajemen agar lebih ahli dalam mennghadapi hazard

b. Manajer memberikan penghargaan (reward) kepada pekerja yang aktif dan


berkualitas dalam melaporkan hazard

c. Menambah tenaga kerja atau SDM ahli sesuai kebutuhan sehingga beban
kerja pihak manajemen menjadi merata

B. Saran

Berdasarkan hasil temuan yang diperoleh maka saran yang diajukan oleh
penulis kepada SBU Aircraft Services PT. Dirgantara Indonesia (Persero)
adalah sebagai berikut:

1. Sebaiknya pihak Departemen SDM memberikan pioritas terhadap yang


berkaitan dengan training safety secara berkala dan mendatail kepada seluruh
lini manajemen SBU Aircraft Service. Hal ini dimaksudkan agar karyawan
menjadi lebih tanggap dan ahli dalam menghadapi hazard.

2. Sebaiknya Departemen terkait membuat kebijakan untuk memberikan


penghargaan (reward) kepada pekerja yang aktif melaporkan hazard, agar
60

dapat memberikan stimulus kepada karyawan, manajer atau yang


didelegasikan untuk aktif dalam melaporkan hazard.

3. Sebaiknya Departemen SDM menambahkan tenaga kerja ahli sesuai


kebutuhan agar beban kerja pihak manajemen menjadi merata. Sehingga tidak
ada lagi alasan untuk tidak aktif melaporkan hazard,
61

DAFTAR PUSTAKA

Asmoko, Hindri. 2015. Memahai Analisis Pohon Masalah. Balai Diklat


Kepemimpinan, Pusdiklat Pengembangan Sdm, Bppk, Magelang. [Online]
Diakses pada 23 maret 2016 dari
http://www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang/images/unduh/memahamiananl
isispohonmasalah.pd 20 Januari 2016

Asmoko, Hindri. 2012. Teknik Analisis Permasalahan–Menentukan Masalah


Prioritas.Balai Diklat Kepemimpinan, Pusdiklat Pengembangan Sdm, Bppk,
Magelang. [Online] Diakses pada 23 maret 2016 dari
http://www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang/images/unduh/menentukan_pri
oritas.pdf.

Baihaqi, rahmat. 2014. Sepanjang 2013 192.911 peserta jamsostek alami


kecelakaan kerja. Diakses 4 April 2016 dari
http://ekbis.sindonews.com/read/836859/34/192-911-peserta-jamsostek-alami-
kecelakaan-kerja-1392713047

Budiono, S. dkk. 2003. Bunga Rampai Hiperkes dan KK Edisi Kedua (Revisi).
Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang

Harsono, Ari. 2008. Metode Analisis Akar Masalah Dan Solusi . Makara,
Sosial Humaniora, Vol. 12, No. 2 diakses pada 23 Maret 2016 dari
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/2/741d4916d9a9c47741daed34015bf
ec1af6385ed.pdf

Hasibuan, Malayu Sp. 2005. Manajemen SDM. Edisi Revisi, Cetakan Ke


Tujuh. Jakarta : Bumi Aksara

ILO. 2013. The Prevention of Occupational Diseases. Geneva: International


Labour Organization

Maharani, dkk.. 2014. Laporan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL 1)


Kelompok 13 RW 06 Kelurahan Rempoa Puskesmas Ciputat Timur Kota
Tangerang Selatan. Program Studi Kesehatan Masyarakat-Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta.
62

Notoadmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:


Rineka Cipta.

Peraturan Direktorat Jendral Perhubungan Udara Departemen Perhubungan


Tahun 2009 tentang Petunjuk dan tata cara pelaksanaan sistem manajemen
keselamatan (Safety Management System) Operasi Bandar Udara, Bagian 139-
01

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 50 tahun 2012 tentang


Penerapan SMK3

Safety Management Manual (SMM). 2014. Departement Safety and


Airthworthiness SBU Aircraft Services PT Dirgantara Indonesia (Persero)

Syukri, Sahab. 1997. Teknik Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.


Jakarta: Bima Sumber Daya Manusia.

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.


Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Tarwaka. 2004. Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan


Produktivitas. Surakarta: Uniba Press

Undang-Undang RI Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Widajat, Rohmanadji. 2010. Blue Ocean Hospital Strategy. Jakarta : Gramedia


63

LAMPIRAN