Anda di halaman 1dari 6

Indikasi Tranfusi darah 1,2

Secara garis besar Indikasi Tranfusi darah adalah :

a) Untuk mengembalikan dan mempertahankan suatu volume peredaran darah yang normal,
misalnya pada anemia karena perdarahan, trauma bedah, atau luka bakar luas.
b) Untuk mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah, misalnya pada anemia,
trombositopenia, hipotrombinemia, dan lain-lain.

Keadaan yang memerlukan Tranfusi darah :


a) Anemia karena perdarahan, biasanya digunakan batas Hb 7-8 g/dL. Bila telah turun
hingga 4,5 g/dL, maka penderita tersebut telah sampai kepada fase yang membahayakan
dan tranfusi harus dilakukan secara hati-hati.
b) Anemia haemolitik, biasanya kadar Hb dipertahankan hingga penderita dapat
mengatasinya sendiri. Umumnya digunakan patokan 5g/dL. Hal ini dipertimbangkan
untuk menghindari terlalu seringnya tranfusi darah dilakukan.
c) Anemia aplastic
d) Leukimia dan anemia refrekter
e) Anemia karena sepsis

Prosedur pelaksanaan tranfusi darah 1,2

Banyak laporan mengenai kesalahan tatalaksana tranfusi, misalnya kesalahan pemberian


darahmilik pasien lain. Untuk menghindari berbagai kesalahan, maka perlu diperhatikan :

a) Identitas pasien harus dicocokan secara lisan maupun tulisan


b) Identitas dan jumlah darah dalam kemasan dicocokkan dengan formulir permintaan
darah
c) Tekanan darah, frekuensi denyut jantung dan suhu harus diperiksa sebelumnya, serta
diulang secra rutin.
d) Observasi ketat, terutama pada 15 menit pertama setelah tranfusi darah dimulai.
Sebaiknya 1unit darah diberikan dalam waktu 1-2 jam tergantung status kardiovaskuler
dan dianjurkan tidak lebih dari 4 jam mengingat kemungkinan proliferasi bakteri pada
suhu kamar.

1. Sudarmanto B, Mudrik T, AG Sumantri, Transfusi Darah dan Transplantasi dalam Buku


Ajar Hematologi- Onkologi Anak, 2005, Jakarta, Balai Penerbit IDAI, halaman: 217-225
2. Hoffbrand, A.V. Kapita selekta Hematologi; oleh A.V Hoffbrand dan J.E. Pettit; alih
bahasa,Iyan Darmawan. Ed.2.-Jakarta:EGC 1996.
Indikasi Komponen Transfusi Darah
Indikasi umum dari transfusi darah adalah :
a) Penggantian volume darah karena kehilangan darah akut.
b) Kekurangan eritrosit
c) Defisiensi faktor koagulasi
d) Berkurangnya jumlah leukosit atau trombosit
e) Open heart surgery
f) Transfusi tukar

Indikasi transfusi pada masing-masing jenis komponen darah seperti sel darah merah,
trombisit, fresh frozen plasma, whole blood cell, kriopresipitasi yang memiliki indikasi
tertentu.
1) Sel darah merah
Indikasi mutlak pemberian Packed Red Cells (PRC) adalah bila Hb penderita 5
gr%. Jumlah PRC yang diperlukan untuk menaikkan Fib dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
Jumlah PRC = Hb x 3 x BB
Indikasi
a) Transfusi sel darah merah hampir selalu diindikasikan pada kadar
Hemoglobin (Hb) < 7 g/dL, terutama pada anemia akut. Tranfusi dapat
ditunda jika pasien asimptomatik dan / atau penyakitnya memiliki terapi
spesifik lain, maka batas kadar Hb yang lebih rendah dapat diterima.
b) Transfusi sel darah merah dapat dilakukan pada kadar Hb 7-10 g/dL apabila
ditemukan hipoksia atau hipoksemia yang bermakna secara klinis dan
laboratorium.
c) Transfusi tidak dilakukan bila kadar Hb ≥ 10 g/dL, kecuali bila ada indikasi
tertentu, misalnya penyakit yang membutuhkan kapasitas transport oksigen
lebih tinggi (contoh: penyakit paru obstruktif kronik berat dan penyakit
jantung iskemik berat).
d) Transfusi pada neonates dengan gejala hipoksia dilakukan pada kadar Hb ≤ 11
g/dL; bila tidak ada gejala batas ini dapat diturunkan hingga 7 g/dL (seperti
pada anemia bayi premature). Jika terdapat penyakit jantung atau paru atau
yang sedang membutuhkan suplementasi oksigen batas untuk member
transfusi adalah Hb ≤ 13 g/dL.
2) transfusi PRC
menaikkan Hb pasien tanpa menaikkan volume darah secara nyata. Keuntungan
menggunakan PRC dibandingkan dengan darah jenuh adalah :
a) Kenaikan Hb dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan
b) Mengurangi kemungkinan penularan penyakit
c) Mengurangi kemungkinan reaksi imunologis
d) Volume darah yang diberikan lebih sedikit sehingga kemungkinan
overload berkurang
e) Komponen darah lainnya dapat diberikan pada pasien lain.
3) Trombosit
Tujuan transfusi suspensi trombosit adalh menaikkan kadar trombosit darah.
Dosis suspensi trombosit yang diperlukan dapat dihitung kira-kira sebagai berikut
: 50 ml suspensi trombosit menaikkan kadar trombosit 7500-10.000/mm pada
resipien yang beratnya 50 kg.
Indikasi:
a) Mengatasi perdarahan pada pasien dengan trombositopenia bila hitung
trombosit < 50.000 / uL, bila terdapat perdarahan mikrovaskular difus
batasnya menjadi < 100.000 / uL. Pada kasus DHF dan DIC supaya
merujuk pada penatalaksanaan masing-masing.
b) Profilaksis dilakukan bila hitung trombosit < 50.000/uL pada pasien yang
akan menjalani operasi, prosedur invasive lainnya atau sesudah transfusi
masif.
c) Pasien dengan kelainan fungsi trombosit yang mengalami perdarahan

Suspensi trombosit diberikan pada penderita trombositopeni bila :

a) didapat perdarahan
b) untuk mencegah perdarahan pada keadaan dimana ada erosi yang dapat
berdarah bila kadar < 35.000/mm
c) untuk mencegah perdarahan spontan bila kadar trombosit < 15.000/mm
4) Fresh Frozen Plasma
Plasma segar yang dibekukan mengandung sebagian besar faktor pembeknan di
samping berbagai protein yang terdapat di dalamnya; karena itu selain untuk
mengganti plasma yang hilang dengan perdarahan dapat dipakai sebagai
pengobatan simptomatis kekurangan faktor pembekuan darah. Fresh Frozen
Plasma (PIT) tidak digunakan untuk mengobati kebutuhan faktor VIII dan faktor
IX (Hemofilia); untuk ini digunakan plasma Cryoprecipitate.Pada transfusi
dengan FFP biasanya diberikan 48 kantong (175225 ml) tiap 68 jam bergantung
kebutuhan
 Mengganti defisiensi faktor IX (hemophilia B) dan faktor inhibitor
koagolasi baik yang didapat atau bawaan bila tidak tersedia konsetrat
faktor spesifik atau kombinasi
 Neutralisasi hemostasis setelah terapi warfarin bola terdapat perdarahan
yang mengancam nyawa
 Adanya perdarahan dengan parameter koagulasi yang abnormal setelah
transfusi masif atau operasi pintasan jantung atau pada pasien dengan
penyakit hati.
5) Whole blood cell
Transfusi dengan darah penuh diperlukan untuk mengembalikan dan
mempertahankan volume darah dalam sirkulasi atau mengatasi renjatan. Di
samping itu indikasi lain untuk melakukan transfusi pada perdarahan adalah
sebagai berikut :
a) Tekanan darah < 100 mmHg (hati-hati pada penderita yang sebelumnya
menderita hipotensi).
b) Nadi yang persisten 100/menit. Hal ini biasanya berarti telah terjadi
perdarahan sebanyak 20% volume darah.

Hematokrit tidak selamanya dapat digunakan sebagai patokan pada perdarahan


karena terjadinya vasokonstriksi kompensasi. Hemodilusi biasanya berakhir
dalam 72 jam. Darah penuh yang segar hanya diperlukan untuk faktor pembekuan
atau pada transfusi masif. Sebenamya dapat pula diatasi dengan memberi Packed
Red Cells ditambah Fresh Frozen Plasma.

6) Kriopresipitat
 Profilaksis pada pasien dengan defisiensi fibrinogen yang akan menjalani
prosedur invasive dan terapi pada pasien yang mengalami perdarahan.
 Pasien dengan hemophilia A dan penyakit von Willenbrand yang
mengalami perdarahan atau yang tidak responsive terhadap pemberian
desmopresin asetat atau akan menjalani operasi.

HTA, Indonesia, 2003. Komponen Darah.


http://www.docstoc.com/docs/19448114/Transfusi-komponen-darah-
indikasi-dan-skrining.

Tehnik Transfusi

Sebelum dilakukan transfuse darah, dilakukan dulu serangkaian prosedur untuk memeriksa
kompatibilitas darah donor dengan darah resipien untuk memastikan sedapat mungkin menekan
terjadinya reaksi transfusi pada pasien serta eritrosit dapat mencapai masa hidup maksimum
setelah diberikan.

Tes kompatibilitas yang dilakukan adalah:

a. Memeriksa catatan pasien : golongan darah, riwayat dan alasan transfusi darah bila ada.
b. Melakukan penggolongan darah ABO pada sampel darah pasien.
c. Melakukan penggolongan darah Rh pada sampel darah pasien
d. Melakukan uji kecocokan terakhir :
e. Major matching adalah mencocokkan serum pasien dengan eritrosit donor.
f. Minor matching adalah mencocokkan eritrosit pasien dengan serum donor.
g. Pemeriksaan DAT dan IAT
 DAT/ Direct Antiglobulin Test
Mendeteksi antibodi atau komplemen yang menyelubungi permukaan
eritrosit.Sebelum dilakukan tes eritrosit dicuci dengan garam fisiologis untuk
menghilangkan antibodi dan komplemen yang tidak terikat, kemudian
ditambahkan AHG (anti human serum globulin).Bila pada eritrosit terdapat
antibodi, kaki Fab dari AHG berikatan pada kakai Fc antibodi yang terikat pada
eritrosit.
 IAT/ Indirect Antiglobulin Test
Mendeteksi antibodi pada serum. Serum atau plasma yang diperiksa diinkubasi
dengan eritrosit sehingga bila ada antibodi maka akan berikatan dengan eritrosit.
Eritrosit kemudian dicuci untuk menyingkirkan globulin yang tidak terikat
kemudian ditambahkan AHG.Bila terjadi aglutinasi berarti terdapat antibodi
terhadap antigen eritrosit. Sebelum ditransfusikan, periksa sekali lagi sifat dan
jenis darah serta kecocokan antara darah donor dan penderita.Penderita
dipersiapkan dengan pemasangan infus dengan jarum besar G16-18.Jarum yang
terlalu kecil (G 23-25) dapat menyebabkan hemolisis. Transfusi dilakukan dengan
transfusi set yang memiliki saringan untuk menghalangi bekuan fibrin dan
partikel debris lainnya. Transfusi set baku memiliki saringan dan ukuran pori-pori
170 mikron. Pada keadaan normal, sebuah transfusi set dapat digunakan untuk 2
sampai 4 unit darah. Vena terbaik untuk kanulasi darah adalah vena pada bagian
dorsal tangan dan pada lengan atas. Dalam keadaan darurat dapat dilakukan
venaseksi untuk menjamin kelancaran dan kecepatan transfuse. Waktu mengambil
darah dari lemari es, perhatikan plasmanya.Jika ada tanda-tanda hemolisis (warna
coklat hitam, keruh) jangan diberikan. Darah yang belum akan ditransfusikan
harus tetap di dalam lemari es. Sebelum transfusi, diberikan terlebih dahulu 50-
100 ml NaCl fisiologik. Jangan menggunakan larutan lain karena dapat
merugikan. Larutan dekstrose dan larutan garam hipotonik dapat menyebabkan
hemolisis. Ringer laktat atau larutan lain yang mengandung kalsium akan
menyebabkan koagulasi.Jangan menambahkan obat apapun ke dalam darah yang
ditransfusikan. Obat-obatan memiliki pH yang berbeda sehingga dapat
menyebabkan hemolisis, lagipula bila terjadi reaksi transfusi akan sulit untuk
menentukan apakah hal itu terjadi akibat obat atau akibat darah yang
ditransfusikan. Jika sejumlah besar darah akan ditransfusikan dalam waktu yang
singkat, maka dibutuhkan darah hangat, karena darah yang dingin akan
mengakibatkan aritmia ventrikel bahkan kematian. Menghangatkan darah dengan
air hangat hendaknya pada suhu 37-39oC. Karena bila lebih 40 0C, eritrosit akan
rusak.Pada 100 ml pertama pemberian darah lengkap hendaknya diteliti dengan
hati-hati dan diberikan perlahan-lahan untuk kemungkinan deteksi dini reaksi
transfusi. (5,6,8) Transfusi set mengalirkan darah 1 ml dalam 20 tetes. Laju
tercepat yang bisa tercapai adalah 60 ml permenit.(11) Laju transfusi tergantung
pada status kardiopulmoner resipien. Jika status kardiopulmoner normal, maka
dapat diberikan 10-15 ml/kgBB dalam waktu 2-4 jam. Jika tidak ada
hemovolemia maka batas aman transfusi adalah 1 ml/kgBB/jam (1 unit kurang
lebih 3 jam) atau 1000 ml dalam 24 jam. (4,12) Tetapi jika terdapat gagal jantung
yang mengancam maka tidak boleh ditransfusikan melebihi 2 ml/kgBB/jam.(3)
Karena darah adalah medium kultur yang ideal untuk bakteri, sebaiknya transfusi
satu unit darah tidak boleh melewati 5 jam karena meningkatnya resiko proliferasi
bakteri.
Kasus-kasus dengan perdarahan yang hebat kadang-kadang dibutuhkan transfusi
yang cepat sampai 6-7 bag dalam setengah jam. Setelah sirkulasi tampak
membaik dikurangi hingga 1 bag tiap 15 menit. Tidak dianjurkan memberi obat
antihistamin , antipiretika, atau diuretika secara rutin sebelum transfusi untuk
mencegah reaksi. Reaksi panas pada dasarnya adalah tanda bahaya bahwa sedang
terjadi reaksi transfusi. Diuretika hanya diperlukan pada pasien anemia kronis
yang perlu transfusi sampai 20 ml/kgBB dalam 24 jam.

Cara-cara Meningkatkan Kecepatan Transfusi :

1) Letakkan botol darah setinggi mungkin. Peningkatan 2 kali menyebabkan


kecepatan transfusi meningkat 2 kali pula.
2) Pergunakan jarum atau kanula sebesar mungkin.
3) Dengan memompakan darah meningkatkan tekanan udara dalam botol.
4) Dengan memompakan darah-darah yang berada di dalam kateter bawah.

http://www.scribd.com/doc/36105565/BIOLOGI-TRANSFUSI-Darah