Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

“IDENTITAS NASIONAL”

DOSEN :
Drs. Suprasman, MM
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang masih
memberikan nafas kehidupan, sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini
dengan judul “Identitas Nasional”

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan. Dalam makalah ini membahas tentang hakikat bangsa, identitas nasional,
hakikat negara, bangsa dan negara indonesia, dan identitas nasional indonesia. Akhirnya saya
sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga
makalah ini bermanfaat bagi diri saya sendiri dan khususnya pembaca pada umumnya. Tak
ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini.

Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat saya
harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan
pada waktu mendatang.

Pekanbaru 2015-10-30

Penyusun

Identitas Nasional Page 2


DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................... 2

Daftar Isi .................................................................................................................... 3

Bab I Pendahuluan...................................................................................................... 4

Latar Belakang ........................................................................................................... 4

Rumusan Masalah ...................................................................................................... 4

Tujuan Masalah .......................................................................................................... 4

Bab II Pembahasan ..................................................................................................... 5

Hakikat Bangsa ........................................................................................................... 5

Identitas Nasional ....................................................................................................... 8

Hakikat Negara .......................................................................................................... 10

Bangsa dan Negara Indonesia .................................................................................... 16

Identitas Nasional Indonesia ...................................................................................... 19

Bab III Penutup .......................................................................................................... 20

Saran .......................................................................................................................... 20

Daftar Pustaka ............................................................................................................ 21

Daftar Pembagian Tugas ............................................................................................ 22

Identitas Nasional Page 3


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu
bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lain.
Berdasarkan perngertian yang demikian ini maka setiap bangsa didunia ini akan memiliki
identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri serta karakter dari bangsa
tersebut. Berdasarkan hakikat pengertian identitas nasional sebagai mana di jelaskan di atas
maka identitas nasional suatu Bangsa tidak dapat di pisahkan dengan jati diri suatu bangsa
atau lebih populer disebut dengan kepribadian suatu bangsa.

Bangsa pada hakikatnya adalah sekelompok besar manusia yang mempunyai


persamaan nasib dalam proses sejarahnya, sehingga mempunyai persamaan watak atau
karakter yang kuat untuk bersatu dan hidup bersama serta mendiami suatu wilayah tertentu
sebagai suatu kesatuan nasional.

Dalam penyusunan makalah ini digunakan untuk mengangkat tema dengan tujuan
dapat membantu mengatasi masalah tentang identitas nasional dan dapat di terapkan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.

1.2 Rumusan masalah

1) Apa pengertian Hakikat Bangsa?


2) Apa pengertian Identitas Nasional?
3) Apa pengertian Hakikat Negara?
4) Apa pengertian Bangsa dan Negara Indonesia?
5) Apa pengertian Identitas Nasional Indonesia?

1.3 Tujuan

1) Untuk mengetahui pengertian Hakikat Bangsa


2) Mengetahui pengertian Identitas Nasional
3) Mengetahui pengertian Hakikat Bangsa
4) Mengetahui pengertian Bangsa dan Negara Indonesia
5) Mengetahui pengertian Identitas Nasional Indonesia

Identitas Nasional Page 4


BAB II
PEMBAHASAN

A. HAKIKAT BANGSA
Bangsa mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian dalam hal sosiologis
Antropologis dan pengertian dalam hak politis.

1. Bangsa Dalam Artian Sosiologis Antropologis

Bangsa dalam artian sosiologis antropologis adalah persekutuan hidup masyarakat


yang berdiri sendiri yang masing masing anggota tersebut merasa satu kesatuan ras, bahasa,
agama, dan adat istiadat. Sehingga karena kesamaan tersebut membuat mereka bersatu.
Ikatan demikian disebut ikatan primordia. Persekutuan hidup tipe ini dapat berupa
persekutuan hidup mayoritas ataupun persekutuan hidup minoritas.

Amerika serikat adalah satu dari banyak contoh yang terdiri dari beberapa bangsa.
Misalnya Amerika terdiri dari bangsa Negro, bangsa Indian, bangsa Cina, bangsa Yahudi,
dan lain- lain yang dahulunya mereka merupakan bangsa pendatang . Contoh lain adalah Sri
Lanka yang terdiri dari bangsa Sinhala dan bangsa Tamil. Yugoslavia dahulunya juga terdiri
dari banyak bangsa, seperti bangsa Serbia, bangsa Bosnia dan bangsa Montonegro. Jika kita
melihat lebih dekat, Indonesia juga terdiri banyak bangsa yang tersebar dari sabang sampai
meroke, seperti Batak, Minangkabau, Melayu, Sunda, Dayak, Banjar, Asmat, dan sebagainya.

Disamping itu, sebuah bangsa juga dapat tersebar diberbagai negara. Misalnya bangsa
Arab yang tersebar disekitar Timur Tengah. Bangsa Yahudi terdapat di Eropa dan Amerika.
Ataupun yang lainnya.

2. Bangsa Dalam Artian Politis

Bangsa dalam artian politis adalah suatu masyarakat di suatu daerah yang sama dan
mereka tunduk pada kedaulatan negaranya sebagai suatu kesatuan yang tertinggi keluar dan
kedalam. Sehingga mereka diikat oleh kekuasan politik, yaitu negara.

Bangsa dalam arti politik merupakan suatu bangsa yang sudah bernegara yang
mengakui serta tunduk kepada kedaulatan negara tersebut. Setelah mereka bernegara, maka
terciptalah bangsa. Seperti bangsa Indonesia yang muncul setelah terbentunya negara
Indonesia. Jika pada Artian Sosilogis Antropologisyang pertama terbentuk adalah bangsa,
maka dalam Artian Politis yang terbentuk dahulu adalah bangsa baru setelah itu negara.

Bangsa dalam artian sosiologis antropologis saat ini lebih dikenal dengan istilah
ethnic,suku atau suku bangsa. Ini untuk membedakannya dengan bangsa yang sudah beralih
dalam artian politis. Namu, kita masih mendengar banyak sekali bangsa dalam artian
sosiologis antropologis untuk menunjuk pada persekutuan hidup tersebut. Misalnya bangsa
Moro, bangsa Yahudi, bangsa Kurdi, dan bangsa Tamil. Bangsa dalam artian politis memiliki

Identitas Nasional Page 5


banyak bangsa dalam artian sosiologis antropologis seperti suku Batak, suku Dayak,
Minangkabau, Betawi, Madura, Asmat, Dani, dan lain lain. Indonesia dikenal juga dengan
bangsa heterogen, karena memiliki banyak bangsa. Namun Indonesia disatukan oleh
semboyan yang kuat yaitu Bhineka Tunggal Ika yang artinya meskipun berbeda beda tetapi
tetap satu.

3. Cultural unity dan political unity

Tidak jauh berdeda dengan pemahaman yang telah ada, bangsa pada dasarnya
memiliki dua arti yaitu bangsa dalam Pengertian Kebudayaan (cultural unity) dan bangsa
dalam Pengetian Politik Bernegara (political unity). Cultural unity adalah bangsa dalam artian
sosiologis antropologis sedangkan political unity bangsa dalam pengetian politik
kenegaraannya.

Cultural unity terjadi karena adanya persaman ras, suku, budaya, bahsa, agama dan
lain lain. Mereka bergabung dalam satuan yang sifatnya mayoritas atau minoritas. Atau
mungkin juga mereka yang tergabung dalam cultural unity tercangkup di suatu negara atau
berda di banyak negara, kecuali suku- suku terasing yang masih bertahan. Cultural unity saat
ini telah menyebar ke banyak negara, hal ini disebabkan oleh proses migrasi, akulturasi, dan
naturalisasi. Justru saat ini banyak bangsa yang menyebar di banyak negara, sehingga suatu
negara bisa terdiri dari banyak bangsa. Negara tersebut menjadi bangsa yang heterogen,
seperti amerika serikat yang didatangi oleh banyak bangsa didunia. Negara yang relatif
heterogen semakin sedikit, seperti jepang dan israel.

Anggota sebuah political unity mungkin berbeda dalam corak dan latar belakang
kebudayaannya, tetapi mereka menjadi satu bangsa dalam pengertian politik. Anggota dari
political unity berdiam disuatu daerah yang disebut dengan wilayah yang sama, yang
mempunyai satu pemerintah dan mereka tunduk terhadap pemerintahan tersebut. Bersatunya
mereka membentuk suatu negara bukan lagi karena persamaan cultural unity, melainkan
berdasarkan unsur etik. Contohnya bangsa indonesia, bangsa india, bangsa malaysia. Unsur-
unsur yang menyatukan mereka baik itu cultural unity atau political unity merupakan
identitas kebangsaan bagi mereka.

4. Proses pembentukan Bangsa – Negara

Secara umum ada dua model tentang pembentukan suatu bangsa – negara. Yaitu
model Ortodoks dan model Mutakhir. Model Ortodoks adalah model yang awal mulanya
terbentuk suatu bangsa, kemudian setelah itu membentuk suatu negara. Seperti bangsa
Yahudi yang awalnya merupakan suatu bangsa kemudian membentuk suatu negara yaitu
Israel. Setelah negara ini terbentuk, maka rezim kekuasaan pemerintahan dibentuk
berdasarkan konstitusi negara yang selanjutnya dikembangkan oleh partisipasi warga negara
didalam kehidupan politik bangsa dan negara yang bersangkutan. Kedua, model mutakhir
yaitu berawal dari adanya negara yang terbentuk melalui proses alamiah, sedangkan

Identitas Nasional Page 6


penduduk negaara merupakan sekumpulan suku, bangsa dan ras. Seperti kemunculan
Amerika Serikat pada tahun 1776.

Kedua model ini berbeda dalam empat hal :

1. Ada tidaknya perubahan unsur dalam masyarakat.


a. Model Ortodoks
Pada model ini, masyarakat tidak mengalami perubahan, karena satu bangsa
membentuk suatu negara.

b. Model mutakhir
Pada model ini, masyarakat mengalamai perubahan, karena dari banyak kelompok
suku bangsa bergabung menjadi satu bangsa. Sehingga dalam haln ini terjadilah
proses adaptasi disemua bangsa yang ada di daerah tersebut.

2. Lama waktu yang diperlukan didalam pembentukan bangsa – negara


a. Model ortodoks
Karena model ini tidak mengharuskan masyarakat melakukan perubahan terhapat
ideologi bangsa, maka pembentukan bangsa dan negara untuk model ini tidak
membutuhkan waktu yang lama, karena mereka tidak perlu melakukan akulturasi
melainkan hanya membentuk struktur pemerintahannya saja.
b. Model mutakhir
Keharusan adaptasi membuat model muitakhir membutuhkan proses yang sangat
lama didalam membentuk bangsa – negara. Hal ini karena masyarakat yang
berasal dari banyak bangsa harus bersatu dan membuat kesepakatan untuk
bergabung menjadi satu bangsa dengan kesepakatan tentang identitas kultural
yang baru.
3. Kesadaran politik
a. Model ortodoks
Pada model ini, kesadaran politik suatu bangsa baru muncul setelah terbentuknya
bangsa – negara.
b. Model mutakhir
Sedangkan pada model ini, kesadaran politik sudah lama muncul, jauh sebelum
terbentuknya bangsa – negara.bahkan atas kesadaran politik ini mendorong
terbentuknya suatu bangsa – negara.

4. Derajat partisipasi politik dan rezim politik


a. Model ortodoks
Pada model nini, derajat partisipasi politik dan rezim politik dianggap sebagai
bagian terpisah dari integrasi nasional.
b. Model mutakhir
Sebaliknya pada model ini partisipasi dan rezim politik merupakan integrasi
nasional.

Identitas Nasional Page 7


B. IDENTITAS NASIONAL

Istilah identitas nasional dapat disamakan dengan identitas kebangsaan. Secara


Etimologi, Identitas nasional berasal dari kata “identitas” dan “nasional”. Kata identitas
berasal dari bahasa inggris identity yang memiliki pengertian harfiah; ciri, tanda atau jati diri
yang melekat pada seseorang, kelompok atau sesuatu sehingga membedakan dengan yang
lain. Dengan demikian, identitas nasional berarti ciri – ciri, tanda – tanda, atau jati diri yang
di miliki seseorang, kelompok, masyarakat bahkan suatu bangsa sehingga dengan identitas itu
bisa membedakan dengan yang lain. Kata “nasional” merujuk pada konsep kebangsaan.

1. Faktor Pembentukan Identitas Bersama

Proses pembentukan bangsa – bangsa membutuhkan identitas – identitas untuk


menyatakan masyarakat bangsa yang bersangkutan. Faktor – faktor yang diperkirakan
menjadi identitas bersama suatu bangsa, meliputi primordial, sakral, tokoh, Bhineka Tunggal
Ika, sejarah, perkembangan ekonomi dan kelembagaan. (Ramlan Surbakti, 1999).

a) Primordial
Faktor primordial ini meliputi: ikatan kekerabatan (darah dan keluarga), kesamaan
suku bangsa, daerah asal (homeland), bahasa dan adat istiadat. Faktor primordial
merupakan identitas yang menyatukan masyarakat sehingga mereka dapat membentuk
bangsa – bangsa.Contoh: Bangsa Yahudi membentuk Negara Israel.

b) Sakral
Faktor sakral dapat berupa kesamaan agama yang di peluk masyarakat atau ideologi
doktriner yang diakui oleh masyarakat yang bersangkutan. Agama dan ideologi
merupakan faktor sakral yang dapat membentuk bangsa – bangsa. Faktor sakral ikut
menyumbang terbentuknya satu nasionalitas baru. Contoh : Agama Katholik mampu
membentuk beberapa negara di Amerika Latin, Uni Soviet diikat oleh kesamaan ideologi
komunisme, dll.

c) Tokoh
Kepemimpinan dari para tokoh yang disegani dan di hormati oleh masyarakat dapat
pula menjadikan factor yang menyatukan bangsa–bangsa dan negara. Contoh : Mahatma
Ghandidi India, Yoseph Broz Titodi Yugoslavia, Nelson MandeladiAfrika Selatan,
dan Dr. Ir. Sukarno(Bung Karno)di Indonesia.

d) Bhineka Tunggal Ika


Prinsip Bhineka Tunggal Ika pada dasarnya kesediaan warga bangsa untuk bersatu
dalam perbedaan (unity in diversity), yang disebut bersatu dalam perbedaan adalah
kesediaan warga bangsa untuk setia pada lembaga yang disebut Negara dan
pemerintahannya tanpa menghilangkan keterkaitannya pada suku bangsa, adat, ras dan
agamanya.Contoh : RepublikIndonesia.

e) Sejarah

Identitas Nasional Page 8


Persepsi yang sama diantara warga masyarakat tentang sejarah mereka dapat
menyatukan diri dalam satu bangsa, persepsi yang sama tentang pengalaman masa lalu,
seperti sama – sama menderita karena penjajahan tidak hanya melahirkan solidaritas tetapi
melahirkan tekad dan tujuan yang sama antara anggota masyarakat itu.Contoh : Indonesia.

f) Perkembangan Ekonomi
Perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi pekerjaandan
profesi sesuaidengan aneka kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutudan variasi
kebutuhan masyarakat, semakin saling bergantung di antara jenispekerjaan, dan akan
semakin besar solidaritas dan persatuan dalam masyarakat.Contoh : Negara-negara di
Amerika utara dan Eropa barat.

g) Kelembagaan
Kerja dan perilaku lembaga pemerintahan dan politik yang baik, yang
mempertemukan dan melayani warga tanpa membeda-bedakan asal-usul, suku,agama, ras
dapat mempersatukan orang-orang sebagai suatu bangsa.Lembaga – lembaga itu seperti
birokrasi, angkatan bersenjata, pengadilan dan partai politik. Lembaga – lembaga itu
melayani dan mempertemukan warga tanpa membeda – bedakan asal – usul dan
golongannya dalam masyarakat.

2. Identitas kesukubangsaan(Cultural Unity)

Identitas kesukubangsaan merujuk pada bangsa dalam pengertiankebudayaan atau


sosiologis-antroplogis, yang disatukan oleh adanya kesamaan ras,suku, agama, adat-istiadat,
keturunan (darah), dan daerah asal (homeland). Identitasyang dimiliki oleh sebuah cultural
unity bersifat askriptif (sudah ada sejak lahir),alamiah (bawaan), primer, dan etnik. Setiap
anggota memiliki kesetiaan/loyalitas pada identitasnya (pada suku, agama, budaya, kerabat,
daerah asal, dan bahasa).Identitas ini disebut juga identitas primordial yang pada umumnya
sangat kuatkarena memiliki ikatan emosional dan solidaritas erat.

3. Identitas Kebangsaan (Political Unity)

Identitas – identitas kebangsaan itu merupakan kesepakatan dari banyak bangsa di


dalamnya identitas nasional itu dapat saja berasal dari identitas sebuah bangsa didalamnya,
yang selanjutnya di sepakati sebagai identitas nasionalnya, Identitas kebangsaan bersifat
skunder, buatan, etis dan nasional. Bersifat buatan oleh karena identitas nasional itu dibuat, di
bentuk dan di sepakati oleh warga bangsa sebagai identi – tasnya setelah mereka bernegara,
bersifat skunder oleh karena identitas nasional lahir belakangan bila di bandingkan dengan
identitas kesukubangsaan yang memang telah di miliki warga bangsa itu. Beberapa bentuk
identita nasional adalah bahasa nasional, lembaga nasional, semboyan nasional, bendera
nasional san ideologi nasional.

Identitas Nasional Page 9


Unsur-Unsur Identitas Nasional

1. Suku bangsa, yaitu golongan sosial yang khusus dan bersifat askriptif (ada sejak lahir)
yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Indonesia dikenal
sebagai bangsa yang terdiri dari banyak suku bangsa dan setiap suku bangsa mempunyai
adat-istiadat, tata kelakuan, dan norma yang berbeda-beda, akan tetapi trintegrasi dalam
suatu negara Indonesia.
2. Kebudayaan, yang menurut ilmu sosiologi termasuk di dalamnya adalah ilmu
pengetahuan, teknologi, bahasa, kesenian, mata pencarian, peralatan/perkakas, kesenian,
sistem kepercayaan, adat-istiadat, dll. Kebudayaan sebagai parameter identitas nasional
harus yang merupakan milik bersama (bukan individu/pribadi).
3. Bahasa, yang merupakan kesitimewaan manusia dalam berkomunikasi dengan
sesamanya. Bahasa memiliki simbol yang menjadikan suatu perkataan mampu
melambangkan arti apa pun.
4. Kondisi geografis, yang menunjukkan lokasi negara dalam kerangka ruang, tempat, dan
waktu, sehingga menjadi jelas batas-batas wilayahnya dimuka bumi.
5. Agama, Keragaman keyakinan beragama di Indonesia tidak hanya di jamin oleh
konstitusi Negara, tetapi juga merupakan suatu rahmat Tuhan Yang Maha Esa yang
harus tetap di pelihara dan di syukuri oleh bangsa Indonesia yakni dengan sikap dan
tindakan untuk tidak memaksakan keyakinan dan tradisi baik mayoritas atau kelompok.

Dari unsur-unsur identitas nasional tersebut di atas, dapat dirumuskan pembagiannya


menjadi tiga bagian berikut.
1. Identitas Fundamental, yaitu Pancasila yang merupakan falsafah bangsa, dasar Negara,
dan ideologi negara.
2. Identitas Instrumental, yaitu berisi UUD 1945 dan tata perundangannya, Bahasa
Indonesia, Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
3. Identitas Alamiah, yaitu meliputi negara kepulauan (archipelago) dan pluralisme dalam
suku, bahasa, budaya dan agama serta kepercayaan (agama).

C. HAKIKAT NEGARA

1. Arti Negara
Menurut kamus besar bahasa indonesia, pengertian negara setidaknya ada dua yaitu :
Pertama, Negara adalah organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan
tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Kedua, negara adalah kelompok sosial yang
menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan
pemerintah yang efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak
menentukan tujuan nasionalnya.

Keberadaan suatu negara menjadi penting manakala rakyat membutuhkan wadah yang
dapat menjamin kelangsungan hidup mereka. Berikut ini adalah pendapat beberapa tokoh
tentang hakikat negara.

Identitas Nasional Page 10


 Plato
Menurut plato Hakikat negara adalah suatu tubuh yang senantiasa maju, berevolusi,
dan terdiri dari orang-orang (individu-individu)

 Hugo de Groot (Grotius)


Menurut Hugo de Groot (Grotius) Hakikat negara adalah ibarat suatu perkakas yang
dibuat manusia untuk melahirkan keberuntungan dan kesejahteraan umum.

 Thomas Hobbes
Menurut Thomas Hobbes Hakikat negara adalah suatu tubuh yang dibuat oleh orang
banyak, yang masing-masing berjanji akan memakainya menjadi alat untuk keamanan
dan perlindungan mereka.

 J.J. Rousseau
Menurut J.J. Rousseau Hakikat negara adalah perserikatan rakyat dalam melindungi
dan mempertahankan hak masing-masing diri dan harta benda anggota-anggota yang
tetap hidup dengan bebas merdeka.

 Karl Marx
Menurut Karl Marx Hakikat negara adalah suatu alat kekuasaan bagi manusia
(penguasa) untuk menindas kelas manusia yang lain.

 J.H.A. Logemann
Menurut J.H.A. Logemann, Hakikat negara adalah suatu organisasi kemasyarakatan
yang mempunyai tujuan melalui kekuasaannya dalam mengatur serta
menyelenggarakan sesuatu yang berkaitan dengan jabatan, fungsi lembaga
kenegaraan, atau lapanga kerja yang terdapat dalam masyarakat.

 Roger F. Soltau
Menurut Roger F. Soltau, Hakikat negara adalah suatu alat (agency) atau kewenangan
(authority) yang mengatur atau mengendalikan dalam berbagai persoalan-persoalan
bersama atas nama masyarakat.

 Hans Kelsen
Menurut Hans Kelsen, Hakikat negara adalah suatu pergaulan hidup bersama dengan
tata paksa.

 R. Kranenburg
Menurut R.Kranenburg, Hakikat negara adalah suatu organisasi yang kekuasaan
diciptakan oleh sekelompok manusia yang disebut dengan bangsa.

 Ibnu Khaldun
Menurut Ibnu Khaldun, Hakikat negara adalah suatu tubuh yang persis sama seperti
tubuh manusia. Tubuh manusia mengalami masa lahir dan tumbuh (groei). Ada masa
muda dan dewasa (bloei). Ada masa tua dan mati (vergaan).

2. Unsur-unsur Negara

Berdirinya suatu negara terdiri atas unsur-unsur pembentuknya yang tidak dimiliki oleh
organisasi lain. Unsur pembentuk berdirinya suatu negara, yaitu rakyat, wilayah, pemerintah

Identitas Nasional Page 11


yang berdaulat. Ketiga unsur ini disebut unsur pokok yang menjadi syarat mutlak
terbentuknya negara. Suatu negara tidak dapat disebut sebagai negara jika salah satu unsur ini
tidak ada. Unsur pokok negara ini disebut juga unsur konstitutif atau unsur pembentuk.
Berikut ini penjelasan secara terperinci masing-masing unsur tersebut:

a. Rakyat
Rakyat adalah semua orang yang ada di wilayah suatu negara dan taat pada
peraturan di negara tersebut. Berdasarkan hal tersebut, keberadaan rakyat adalah unsur
penting bagi terbentuknya suatu negara. Rakyat sendiri dikategorikan menjadi;
penduduk dan bukan penduduk serta warga negara dan bukan warga negara.
Penduduk adalah orang-orang yang berdomisili atau menetap dalam suatu negara.
Bukan penduduk adalah orang yang sementara waktu berada dalam suatu negara.
Warga negara adalah orang-orang yang berdasarkan hukum menjadi anggota suatu
negara. Bukan warga negara adalah orang-orang yang tinggal dalam suatu negara,
tetapi tidak menjadi anggota dari negara tersebut. Jadi, unsur yang pertama adalah
harus ada rakyat dulu.

b. Wilayah
Setelah rakyat, unsur selanjutnya yang membentuk suatu negara adalah
wilayah. Unsur wilayah adalah hal yang sangat penting untuk menunjang
pembentukan suatu negara. Tanpa adanya wilayah, mustahil sebuah negara bisa
terbentuk. Wilayah inilah yang akan ditempati oleh rakyat dan penyelenggaraan
pemerintahan. Wilayah suatu negara adalah kesatuan ruang yang meliputi daratan,
lautan, udara, dan wilayah ekstrateritorial.

 Daratan: Daratan adalah tempat bermukimnya warga atau penduduk suatu


Negara. Wilayah daratan suatu Negara, mempunyai batas-batas tertentu yang
diatur oleh hukum Negara dan perjanjian dengan Negara tetangga.
 Lautan: Lautan adalah wilayah suatu Negara yang terdiri dari laut teritorial,
zona tambahan, ZEE, dan landasan benua (kontinen). Laut teritorial suatu
Negara adalah batas sepanjang 12 mil laut diukur dari garis pantai. Zona
tambahan yaitu 12 mil dari garis luar lautan teritorial atau sekitar 24 mil dari
garis pantai suatu Negara. ZEE atau Zona Ekonomi Eksklusif yaitu wilayah
lautan sepanjang 200 mil laut diukur dari garis pantai. Sedangkan, landasan
benua adalah wilayah lautan yang terletak di luar teritorial, berjarak sekitar
200 mil laut diukur dari garis pantai yang meliputi dasar laut dan daerah
dibawahnya.
 Udara: udara adalah seluruh ruang yang berada di atas batas wilayah suatu
Negara, baik daratan maupun lautan.
 Ekstrateritorial: Wilayah ekstrateritorial suatu Negara adalah tempat di mana
menurut hukum internasional diakui sebagai wilayah kekuasaan suatu Negara
meskipun letaknya berada di Negara lain. Misalnya, kantor kedutaan besar
Indonesia di luar negeri disebut sebagai wilayah ekstrateritorial Indonesia.

c. Pemerintahan
Unsur selanjutnya yang membentuk Negara adalah pemerintahan. Unsur
pemerintah yang dimaksudkan disini adalah pemerintahan yang sah dan berdaulat.
Pemerintahan yang sah berarti pemerintah yang diakui oleh rakyat untuk
menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan, pemerintahan yang berdaulat berarti
memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur jalannya Negara.

Identitas Nasional Page 12


Unsur rakyat, wilayah, dan pemerintah yang berkedaulatan merupakan unsur konstitutif atau
unsur pembentuk, yang harus terpenuhi agar terbentuk negara. Selain ada unsur rakyat,
wilayah dan pemerintah yang berdaulat, ada unsur pengakua dari negara lain. Pengakuan dari
negara lain merupakan unsur deklaratif. Unsur deklaratif adalah unsur yang sifatnya
menyatakan, bukan unsur yang mutlak.

 Negara Bersifat Memaksa, artinya bahwa negara memiliki kekuasaan fisik sifatnya
legal. Alat untuk itu adalah seperti tentara, polisi, dan alat hukum lainnya. Dengan
adanya sifat yang memasak, maka semua peraturan perundang-undangan yang
berlaku diharapkan akan ditaati sehingga keamanan dan ketertiban negara pun
tercapai
 Negara Bersifat Monopoli, artinya negara menetapkan tujuan bersama masyarakat,
yaitu dengan menentukan mana yang boleh/baik dan juga mana yang tidak
boleh/tidak baik karena akan dianggap bertentangan dengan tujuan suatu negara dan
masyarakat
 Negara Bersifat Mencakup Semua, artinya segala peraturan perundang-undangan
yang berlaku adalah untuk semua orang tanpa kecuali.

3. Teori Terjadinya Negara

a. Proses Terjadinya Negara secara Teoretis


”Secara teoretis” yang dimaksud adalah para ahli pollitik dan hukum tata negara
berusaha membuat teoretisasi tentang terjadinya negara. Beberapa teori terjadinya negara
adalah sebagai berikut:
1. Teori Hukum Alam
Teori hukum alam merupakan hasil pemikiran paling awal, yaitu masa Plato dan
Aristoteles. Menurut teori hukum alam terjadinya negara adalah sesuatu yang
alamiah. Bahwa segala sesuatu itu berjalan menurut hukum alam, yaitu mulai dari
lahir, berkembang, mencapai puncaknya, layu, dan akhirnya mati.
2. Teori Ketuhanan
Teori ini muncul setelah lahirnya agama Islam dan Agama Kristen. Menurut teori
ketuhanan, terjadinya negara adalah karena kehendak tuhan, didasari kepercayaan
bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan terjadi atas kehendak Tuhan. Munculnya
paham teori ini karena orang yang beragama yakin bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa
(paham monoteisme) dan Dewa-Dewa (paham politeisme) yang menciptakan alam
semesta dan segala isinya termasuk negara.
3. Teori Perjanjiann
Teori perjanjian muncul sebagai reaksi atas teori hukum alam dan kedaulatan Tuhan.
Teori ini dilahirkan oleh pemikir-pemikir Eropa menjelang Pencerahan. Mereka
adalah Thomas Hobbes, John Locke, J.J. Rousseau, dan Montesquicu. Menurut teori
perjanjian, negara terjadi sebagai hasil perjanjian antarmanusia/individu. Manusia
berada dalam dua keadaan, yaitu keadaan sebelum bernegara dan keadaan setelah

Identitas Nasional Page 13


bernegara. Negara pada dasarnya adalah wujud perjanjian dari masyarakat sebelum
bernegara tersebut untuk kemudian menjadi masyarakat bernegara.
Pendapat lain dikemukakan oleh G. Jellinek yaitu terjadinya negara dapat dilihat
secara primer dan sekunder. Menurut Jelllinek tejadinya negara secara primer melalui
4 tahapan yaitu:
a. Persekutuan masyarakat,
b. Kerajaan,
c. Negara, dan
d. Negara demokrasi.
Perkembangan negara secara sekunder membicarakan tentang bagaimana
terbentuknya negara baru yang dihubungkan dengan masalah pengakuan. Jadi, yang
terpenting adalah muncul tidaknya negara baru tersebut karena ada tidaknya
pengakuan dari negara lain.

b. Proses Terjadinya Negara di Zaman Modern


Menurut pandangan ini, kenyataannya negara-negara didunia ini terbentuk
karena melalui beberapa proses, seperti:

a. Penaklukan atau occupatie


Yaitu suatu daerah yang tidak dipertuan kemudian diambil alih dan didirikan
negara wilayah itu. Misal, Liberia adalah daerah kosong yang dijadikan negara
oleh para budak Negro yang telah dimerdekakan orang Amerika. Liberia
dimerdekakan pada tahun 1847.
b. Peleburan atau fusi
Adalah suatu penggabungan dua atau lebih negara menjadi negara baru. Missal,
Jerman Barat dan Jerman Timur bergabung menjadi negara Jerman.
c. Pemecahan
Adalah terbentuknya negara-negara baru akibat terpecahnya negara lama sehingga
negara sebelumnya menjadi tidak ada lagi. Contoh Yugoslavia terpecah menjadi
negara Serbia, Bosnia, Montenegro.
d. Pemisahan diri
Memisahnya suatu bagian wilayah negara kemudian terbentuk negara baru.
Missal, india kemudian terpecah menjadi India, Pakistan, dan Bangladesh.
e. Perjuangan atau revolusi
Perjuangan merupakan hasil dari rakyat suatu wilayah yang umumnya dijajah
negara lain kemudian memerdekakan diri. Contohnhya adalah Indonesia yang
melakukan perjuangan revolusi sehingga mampu membentuk negara merdeka.
f. Penyerahan / pemberian
Adalah pemberian kemerdekaan kepada suatu koloni oleh negara lain yang
umumnya adalah bekas jajahannya. Contoh, Kongo dimerdekakan oleh Prancis.
g. Pendudukan atas wilayah yang belum ada pemerintahan sebelumnya
Pendudukan atas wilayah yang belum ada pemerintahan sebelumnya, tetapi tidak
berpemerintah , misalnya Australia merupakan daerah baru yang ditemukan
Inggris meskipun disana terdapat suku Aborigin.

Identitas Nasional Page 14


4. Fungsi dan Tujuan Negara
` Fungsi negara merupakan gambaran apa yang dilakukan negara untuk mecapai
tujuannya. Fungsi negara dapat dikatakan sebagai tugas dari pada negaara. Negara sebagai
organisasi kekuasaan dibentuk untuk menjalankan tugas-tugas tertentu. Dibawah ini
merupakan gambaran apa yang dilakukan negara untuk mencapai tujuannya. Fungsi negara
dapat dikatakan sebagai tugas daripada negara. Negara sebagai organisasi kekuasaan
dibentuk untuk menjalankan tugas-tugas tertentu.
Dibawah ini adalah fungsi negara menurut beberapa ahli, antara lain sebagai berikut.
a. John Locke
Seorang sarjana Inggris membagi fungsi negara menjadi tiga fungsi, yaitu
1. Fungsi Legislatif, untuk membuat peraturan;
2. Fungsi Eksekutif, untuk melaksanakan peraturan;
3. Fungsi Federatif, untuk mengurusi urusan luar negeri dan urusan penting dan damai.

b. Montesquieu
Tiga fungsi negara menurut Montesquieu adalah
1. Fungsi Legislatif, membuat undang-undang;
2. Fungsi Eksekutif, melaksanakan undang-undang;
3. Fungsi Yudikatif, untuk mengawasi agar semua peraturan ditaati (fungsi mengadili) ,
yang populer dengan nama Trias Politika

c. Van Vollen Hoven


Seorang sarjana dari negeri Belanda, menurutnya fungsi negara dibagi dalam:
1. Regeling, membuat peraturan;
2. Bestuur, menyelenggarakan pemerintahan;
3. Rechtspraack, fungsi mengadili;
4. Politie, fungsi ketertiban dan keamanan;
Ajaran Van Vollen Hoven tersebut terkenal dengan catur praja

d. Goodnow
Menurut Goodnow, fungsi negara secara prinsip dibagi menjadi 2 bagian:
1. Policy Making, yaitu kebijaksanaan negara untuk waktu tertentu, untuk seluruh
masyarakat.
2. Policy Executing, yaitu kebijaksanaan yang harus dilaksanakan untuk tercapainya
policy making.
Karena mengemukakan fungsi negara dalam 2 bagian maka ajaran Goodnow
terkenal dengan sebutan Dwipraja (dichotomy).

Menurut Mirriam Budiardjo, fungsi pokok negara adalah sebagai berikut


1. Melaksanakan penertiban untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah bentrokan-
bentrokan dalam masyarakat. Dapat dikatakan bahwa negara bertindak sebagai
stabilisator.
2. Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

Identitas Nasional Page 15


3. Pertahanan
4. Menegakkan keadilan

Keseluruhan fungsi negara tersebut diselengarakan oleh pemerintah untuk mencapai


tujuan negara yang telah ditetapkan bersama. Adapun tujuan suatu negara berbeda-beda.
Dibawah ini adalah beberapa tujuan negara menurut para ahli.
1. Roger H. Soltau
Tujuan negara ialah memungkinkan rakyatnya berkembang serta menyelenggarakan
daya ciptanya sebebas mungkin.
2. Harold J. Laski
Tujuan negara adalah menciptakan keadaan dimana rakyatnya dapat mencapai
terkabulnya keinginan-keinginan secara maksimal.
3. Plato
Tujuan negara adalah memajukan kesusilaan manusia, baik sebagai individu maupun
sebagai makhluk social.

4. Thomas Aquino dan Agustinus


Untuk mencapai penghidupan dan kehidupan aman dan tentram dengan taat kepada
dan di bawah pimpinan tuhan. Pemimpin negara

D. BANGSA DAN NEGARA INDONESIA

1. Hakikat Negara Indonesia

Secara historis pengertian negara senantiasa berkembang sesuai dengan kondisi masyarakat
pada saat itu. Pada zaman Yunani kuno para ahli filsafat negara merumuskan pengertian
Negara secara beragam, Aristoteles merumuskan Negara dalam bukunya Politica, yang
disebutnya negara polis, yang pada saat itu masih dipahami negara masih dalam suatu
wilayah yang kecil. Negara disebut sebagai Negara hukum, yang didalamnya terdapat
sejumlah warga Negara yang ikut dalam permusyawarahan. Oleh karena itu menurut
Aristoteles keadilan merupakan syarat mutlak bagi terselenggaranya Negara yang baik, demi
terwujudnya cita-cita seluruh warganya.
Bangsa pada hakeketnya adalah sekelompok besar manusia yang mempunyai persamaan
nasib dalam proses sejarahnya,sehingga mempunyai persamaan watak atau karakter yang
kuat untuk bersatu dan hidup bersama serta mendiami suatu wilayah tertentu sebagai suatu
kesatuan nasional.
Negara kita adalah negara Republik Indonesia Proklamasi 17 Agustus 1945 disingkat negara
RI Proklamasi. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa negara indonesia yang didirikan ini
tidak bisa lepas dari peristiwa Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Dengan
momen Proklamasi 17 Agustus 1945 itulah, bangsa indonesia berhasil mendirikan negara
sekaligus menyatakan kepada dunia luar mengenai adanya negara baru, yaitu Indonesia.
Para pendiri negara (the founding fathers) menyadari bahwa negara Indonesia yang hendak
didirikan haruslah mampu berada di atas semua kelompok dan golongan yang
beragam.Negara Indonesia merdeka yag akan didirikan hendaknya negara yang dapat
megayomi seluruh rakyattanpa memandang suku, agama, ras, bahasa, daerah dan golongan-
golongan tertentu. Yang diharapkan adalah keinginan hidup bersatu sebagai satu keluarga

Identitas Nasional Page 16


bangsa karena adanya persamaan nasib, cita-cita, dan karena berasal dalam ikatan wilayah
atau wilayah yang sama. Kesadaran demikian melahirkan pahan nasionalisme, paham
kebangsaan. Paham kebangsaan melahirkan semangat untuk keluar melepaskan diri dari
belenggu penjajahan yang telah menciptakan naib sebagai bangsa yang terjajah, teraniaya dan
hidup dalam kemiskinan. Selanjutnya nasionalisme memunculkan semangat untukmendirikan
negara bangsa dalam merealisasikan cita-cita, yaitu merdeka dan tercapainya masyarakat
yang adil dan makmur.
Menurut Ir. Soekarno, yang dimaksud bangsa indonesia adalah seluruhmanusia yang menurut
wilayahnya telah ditentukan untuk tinggal secara bersama di wilayah Nusantara dari ujung
Barat (Sabang) sampai ujung Timur ( Merauke) yang memiliki “Le desir d’etre ensemble”
(pendapat Ernest Renan) dan “Charaktergemeinschaft” (Pendapat Otto Van Bauer) yangtelah
menjadi satu. Kemuculan bangsa Indonesia sangat dipengaruhi oleh paham nasionalisme.
Tujuan dari paham kebangsaan (nasionalisme) sendiri adalah menciptakan negara bangsa
yang wilayah dan batas-batasnya menyerupai atau mendekati makna bangsa.
Faktor-fator penting bagi pembentukan bangsa Indonesia, sebagai berikut.

1) Adanya persamaan nasib, yaitu penderitaan bersamadi bawah penjajahan bangsa


asing lebih kurang selama 350 tahun.
2) Adanya keinginan bersama untuk merdeka, melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
3) Adanya kesatuan tempat tinggal, yaitu wilayah nusantara yang membentang dari
Sabang sampai Merauke.
4) Adanya cita-cita bersama untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sebagai suatu
bangsa.

Berdasarkan hal itu, faktor pembentukan identitas kebangsaan Indonesia bukanlah faktor-
faktor primordial, tetapi faktor historis. Bersifat historis karena yang mempersatukan bangsa
Indonesia adalah sejarah yang dialami bersama, yaitu sejarah penderitaan, penindasan,
perjuangan kemerdekaan, dan tekad untuk kehidupan bersama.

2. Proses Terjadinya Negara Indonesia

Rangkaian tahap perkembangan proses terbentuknya negara Indonesia digambarkan sesuai


dengan keempat alinea dalam pembukaan UUD 1945. Secara teoritis, perkembangan negara
Indonesia terjadi sebagai berikut.
a. Terjadinya negara tidak sekedar dimulai dari proklamasi, tetapi adanya pengakuan
akan hak setiap bangsa untuk memerdekakan dirinya. Bangsa indonesia memiliki
tekad kuat untuk menghapus segala penindasan dan penjajahan suatu bangsa atas
bangsa lain (Alinea I Pembukaan UUD 1945 ).
b. Adanya perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan. Perjuangan panjang
bangsa Indonesia menghasilkan proklamasi. Proklamasi barulah menghantarkan
kepintu gerbang kemerdekaan. Negara yang kita cita-citakan adalah negara yang
menuju pada keadaan merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur (Alinea II
Pembukaan UUD 1945).
c. Terjadinya negara Indonesia adalah kehendak bersama seluruh bangsa Indonesia,
sebagai suatu keinginan luhur bersama. Di samping itu adalah kehendak atas rahmat
Allah Yang Maha Kuasa. Inilah yang membuktikan bangsa Indonesia adalah bangsa
yang religius dan mengakui adanya motivasi spiritual (Alinea III Pembukaan UUD
1945).

Identitas Nasional Page 17


d. Negara Indonesia perlu menyusun alat-alat kelengkapan negara meliputi tujuan
negara, bentuk negara, sistem pemerintahan negara, UUD negara, dan dasar negara.
Dengan demikian, semakin sempurna proses terjadinya negara Indonesia (Alinea IV
Pembukaan UUD 1945).
Terjadinya negara Indonesia bukan melalui pendudukan, pemisahan, penggabungan,
pemecahan atau penyerahan. Bukti menunjukan bahwa negara Indonesia terbentuk melalui
proses perjuangan, yaitu perjuangan melawan penjajahan sehingga berhasil
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Usaha mendirikan negara melalui perjuangan
sangat membanggakan diri seluruh rakyat Indonesia. Hal ini berbeda bila bangsa Indonesia
mendapatkan kemerdekaan karena diberi oleh bangsa lain.

3. Cita-cita, Tujuan dan Visi Negara Indonesia

Bangsa Indonesia bercita-cita mewujudkan negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hal ini sesuai dengan amanat dalam alinea II
Pembukaan UUD 1945, yaitu negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan
makmur.
Tujuan negara Indonesia terjabar dalan Alinea IV Pembukaan UUD 1945, secara rinci
sebagai berikut:
a. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia;
b. Memajukan kesejahteraaan umum;
c. Mencerdaskan kehidupan bangsa;
d. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Visi bangsa Indonesia adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai demokratis,
berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertakwa,
berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin ( Tap MPR no.
VII/MPR/2001).

E. IDENTITAS NASIONAL INDONESIA

Proses pembentukan identitas nasional umumnya membutuhkan waktu dan perjuangan di


antara warga bangsa-negara yang bersangkutan. Hal ini disebabkan identitas nasional adalah
hasil kesepakatan masyarakat bangsa itu. Setelah bangsa Indonesia bernegara, mulai dibentuk
dan disepakati apa apa saja yang dapat menjadi identitas nasional Indonesia. Beberapa
bentuk identitas nasional Indonesia, adalah sebagai berikut:

1. Bahasa Nasional yaitu Bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia berawal dari rumpun bahasa Melayu yang dipergunakan sebagai
bahasa pergaulan yang kemudian di angkat sebagai bahasa persatuan pada tanggal 28
oktober 1928.

2. Bendera Negara yaitu Sang Merah Putih


Warna merah berarti berani dan warna putih berarti suci.

Identitas Nasional Page 18


3. Lagu Kebangsaan yaitu Lagu Indonesia Raya
Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan yang pada tanggal 28 oktober 1928
dinyanyikan untuk pertama kali sebagai lagu kebangsaan negara.

4. Lambang Negara yaitu Garuda Pancasila


Garuda adalah burung khas Indonesia yang dijadikan lambang negara.

5. Semboyan Negara Bhineka Tunggal Ika


Bhineka Tunggal Ika artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

6. Dasar Falsafah yaitu Pancasila


Berisi lima dasar yang di jadikan sebagai dasar filsafah dan ideologi dari negara
Indonesia.

7. Konstitusi (hukum dasar) negara yaitu UUD 1945


Merupakan hukum dasar tertulis yang menduduki tingkatan tertinggi dalam tata
urutan perundang-undangan dan dijadikan sebagai pedoman penyelenggaraan
bernegara.

8. Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Berkedaulatan Rakyat


Bentuk negara adalah kesatuan, sedangkan bentuk negara adalah republik.

9. Konsepsi Wawasan Nusantara


Sebagai cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba
beragam dan memiliki nilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan
bangsa, serta kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.

10. Kebudayaan daerah yang telah di terima sebagai kebudayaan nasional


Berbagai kebudayaan dari kelompok-kelompok bangsa di indonesia yang memiliki
cita rasa tinggi, dapat di nikmati dan diterima oleha masyarakat luas merupakan
kebudayaan nasional.

Tumbuh dan disepakatinya beberapa identitas nasional indonesia itu sesungguhnya


telah di awali dengan adanya kesadaran politik bangsa indonesia sebelum bernegara.
Hal demikian sesuai dengan ciri dari pembentukan negara-negara model mutakhir.
Kesadaran politik itu adalah tumbuhnya semangat nasionalisme sebagai gerakan
menentang penjajahan dan mewujudkan negara-negara Indonesia. Dengan demikian
nasionalisme yang tumbuh kuat dalam diri bangsa Indonesia turut mempermudah
terbentuknya identitas nasional Indonesia.

Identitas Nasional Page 19


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Identitas nasional adalah sebuah kesatuan yang terikat oleh wilayah dan selalu
memiliki wilayah (tanah tumpah darah mereka sendiri), kesamaan sejarah sistem hukum /
perundang – undangan, hak dan kewajiban serta pembagian kerja berdasarkan profesi masing
– masing.
Hakekat Bangsa adalah sekelompok manusia yang mempunyai persamaan nasib
dalam proses sejarahnya, sehingga mempunyai persamaan watak yang kuat untuk bersatu dan
hidup bersama serta mendiami suatu wilayah sebagai suatu “kesatuan nasional”.
Hakekat Negara adalah merupakan suatu wilayah dimana terdapat sekelompok
manusia melakukan kegiatan pemerintahan.
Bangsa dan Negara Indonesia adalah sekelompok manusia yang mempunyai
persamaan nasib sejarah dan melakukan tugas pemerintahan dalam suatu wilayah
“Indonesia”.

3.2 Saran

Kita tahu bahwa identitas nasional atau jati diri nasional itu adalah jati diri yang
dimiliki warga negara dan suku bangsa dari suatu negara. Identitas nasional atau jati diri
nasional itu ada dalam interaksi, maka dapatlah kita katakan bahwa jati diri itu diperlukan
dalam interaksi. Karena didalam setiap interaksi para pelaku interaksi mengambil suatu posisi
dan berdasarkan posisi tersebut para pelaku menjalankan peranan - peranannya sesuai dengan
corak interaksi yang berlangsung. Maka dalam berinteraksi orang berpedoman pada
kebudayaannya. Jika kebudayaan kita katakan bagian dari identitas nasional, maka
kebudayaan itu juga dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk berbuat dan bertingkah
laku.
Dengan membaca makalah ini, pembaca disarankan agar bisa mengambil manfaat
tentang pentingnya identitas nasional bagi bangsa dan negara Indonesia dan diharapkan dapat
diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara
dapat berjalan dengan baik.

Identitas Nasional Page 20


DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi. 2005. Pendidikan kewargaan (Civic education) : demokrasi, hak asasi
manusia manusia dan masyarakat madani / Tim ICCE UIN Jakarta. Jakarta : Prenada Media

http://www.ilmusiana.com/2015/04/unsur-unsur-negara.html
http://munifaprianto.blogspot.co.id/2011/05/bangsa-dan-negara-indonesia.html
http://www.artikelsiana.com/2015/05/sifat-negara-hakikat-negara-pengertian.html

Identitas Nasional Page 21


DAFTAR PEMBAGIAN TUGAS

1. Gevi Acri Hakikat Bangsa Ketua


2. Miguel Felix Identitas Nasional
3. Hakikat Negara
4. Dede Eldi Kurniawan Teori terjadinya negara
5. Vira Afrilla Bangsa dan Negara Indonesia Sekretaris
6. Riza Irfan Identitas Nasional Indonesia

Identitas Nasional Page 22