Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH SWAMEDIKASI

“BATUK”

Disusun Oleh :

1. Adam Wibowo ( 1604001 )


2. Alifiasri Praptiwi R. ( 1604002 )
3. Alvi Laila Hidayati ( 1604003 )
4. Amanda Thoetik S.M ( 1604004 )
5. Anan Khusnul Latifah ( 1604005 )
6. Ani Astuti Rustya ( 1604006 )
7. Anggun Alfia Rosida ( 1604008 )
8. Aprilia Kusuma W. ( 1604009 )

PROGRAM STUDI D III FARMASI


STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN
TAHUN AJARAN 2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Swamedikasi (Pengobatan sendiri) merupakan upaya yang
dilakukan oleh masyarakat dalam pengobatan tanpa adannya resep dari
dokter atau tenaga medis lainnya. Swamedikasi dilakukan berdasarkan
dari pengalaman pasien atau dari rekomendasi orang lain. Pengobatan
sendiri dilakukan untuk mengatasi keluhan - keluhan ringan (Merianti et
al., 2013), menurut World Health Organization (WHO) peran pengobatan
sendiri adalah untuk mengatasi dan menanggulangi secara cepat dan
efektif keluhan yang tidak memerlukan konsultasi medis, mengurangi
beban biaya dan meningkatkan keterjangkauan masyarakat terhadap
pelayanan medis (Supardi & Notosiswoyo, 2005).
Salah satu penyakit ringan yang dapat diatasi dengan pengobatan
sendiri adalah penyakit batuk. Batuk merupakan simptom umum bagi
penyakit respiratori dan non-respiratori (Haque, 2005). Timbulnya respon
batuk bisa dikarenakan beragam hal salah satunya adalah keberadaan
mukus pada saluran pernafasan. Normalnya, mukus membantu melindungi
paru-paru dengan menjebak partikel asing yang masuk. Namun apabila
jumlah mukus meningkat, maka mukus tidak lagi membantu malahan
mengganggu pernafasan (Koffuor dkk., 2014). Oleh karena itu, tubuh
memiliki respon batuk untuk mengurangi mukus yang berlebihan tersebut.
Selain oleh mukus, batuk dapat disebabkan oleh faktor luar seperti
debu maupun zat asing yang dapat mengganggu pernafasan. Semakin
banyak partikel asing yang harus dikeluarkan, semakin banyak pula
frekuensi batuk seseorang. Frekuensi batuk yang terlalu tinggi dapat
mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Secara umum batuk dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu batuk kering yang merupakan batuk
yang disebabkan oleh alergi, makanan, udara, dan obat-obatan. Batuk
kering dapat dikenali dari suaranya yang nyaring, sedangkan yang kedua
adalah batuk berdahak yang disebabkan oleh adanya infeksi
mikroorganisme atau virus dan dapat dikenali dari suaranya yang lebih
berat dengan adanya pengeluaran dahak (Djunarko & Hendrawati, 2011).
Kesulitan dalam pengeluaran dahak akan berdampak pada sulitnya
bernafas yang bisa menyebabkan sianosis, kelelahan, apatis serta merasa
lemah (Nugroho & Kristianti, 2011).
Swamedikasi batuk diperlukan pengetahuan mengenai pemilihan
obat yang rasional sesuai batuk yang dialami oleh pasien, untuk batuk
berdahak digunakan obat golongan mukolitik (pengencer dahak) dan
ekspektoran (membantu mengeluarkan dahak), sementara untuk batuk
kering digunakan obat golongan antitusif (penekan batuk) (Djunarko &
Hendrawati, 2011). Obat batuk banyak diiklankan dan bisa diperoleh
tanpa resep dokter atau dikenal sebagai obat bebas (over-the-counter
medicine). Menurut Corelli (2007) jenis obat batuk bebas yang sering ada
di pasaran adalah jenis ekspektoran dan antitusif.
Masyarakat hari ini saat batuk tidak meminum obat batuk tetapi
melakukan swamedikasi non farmakologi seperti minum air hangat,
minum perasan jeruk dan adapula yang meminum obat yang berdasarkan
iklan yang berasal dari media sosial. Obat-obat yang dipilih mengandung
lebih dari satu zat aktif yang kurang sesuai untuk pengobatan batuk.
Menurut Kartajaya (2011) alasan masyarakat Indonesia melakukan
swamedikasi atau peresepan sendiri karena penyakit dianggap ringan,
harga obat yang lebih murah dan obat mudah diperoleh, walaupun jumlah
dokter dan rumah sakit bertambah, hal ini tidak mempengaruhi masyarakat
untuk melakukan tindakan swamedikasi (Kartajaya et al., 2011). Maka
pengetahuan mengenai obat batuk sangat dibutuhkan dalam memilih obat
yang benar saat mengalami batuk (Djunarko & Hendrawati, 2011).
Oleh karena itu makalah ini dilakukan untuk menjadi bahan dalam
pemilihan obat pada swamedikasi batuk, sehingga dimaksudkan akan
berdampak positif kepada apoteker untuk lebih dapat menjelaskan dengan
benar fungsi dari masing-masing obat batuk yang akan dipilih oleh pasien
(Kartajaya et al., 2011).

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui swamedikasi.
2. Untuk mengetahui obat yang digunakan dalam swamedikasi batuk.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dan gejala batuk ?
2. Bagaimana pengobatan batuk dengan cara terapi ?
3. Bagaimana penatalaksanaan dari kasus secara farmakologi dan non
farmakologi ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. PERTANYAAN DARI KASUS


1. Berapa usia pasien ?
2. Sudah berapa lama menderita batuk ?
3. Apkah disertai demam dan pusing ?
4. Apakah batuknya hanya pada waktu tertentu atau terus menerus dan
sering ?
5. Apakah batuknya disertai dahak ?
6. Jika disertai dahak berwarna apa ?
7. Sebelumnya mengkonsumsi makanan atau minuman apa ?
8. Sebelumnya obat apa yang sudah dikonsumsi ?
9. Apakah ada alergi terhadap obat ?
10. Apakah ada riwayat penyakit lain selain batuk ?

B. PENGERTIAN BATUK
Batuk merupakan mekanisme pertahanan diri paling efisien dalam
membersihkan saluran nafas yang bertujuan untuk menghilangkan mukus,
zat beracun dan infeksi dari laring, trakhea, serta bronkus. Batuk juga bisa
menjadi pertanda utama terhadap penyakit perafasan sehingga dapat
menjadi petunjuk bagi tenaga kesehatan yang berwenang untuk membantu
penegakan diagnosisnya (Chung, 2003).
Jenis-jenis batuk meliputi batuk kering dan batuk berdahak.Tanda-
tanda awal batuk kering biasanya adalah rasa gatal di tenggorokan yang
memicu batuk. Batuk tanpa dahak ini biasanya terjadi pada tahap akhir
pilek atau ketika ada paparan iritasi. Pada kasus yang berdahak, batuk
justru sangat membantu karena berfungsi mengeluarkan dahak tersebut
bisa berasal dari tenggorokan, sinus, serta paru-paru.
Berdasarkan durasinya, batuk dibedakan menjadi batuk akut,
subakut, dan batuk kronis. Batuk akut yaitu batuk yang terjadi kurang dari
3 minggu. Batuk subakut yaitu batuk yang terjadi selama 3-8 minggu,
sedangkan batuk kronis yaitu batuk yang terjadi lebih dari 8 minggu. Dari
durasi batuk maka dapat diprediksi penyakitnya. Misalnya batuk akut yang
biasanya disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) atau bisa
juga karena pnemonia dan gagal jantung kongestif. Batuk subakut bisa
disebabkan oleh batuk pasca infeksi, bakteri sinusitis maupun batuk karena
asma. Sedangkan batuk kronis bila terjadi pada perokok biasanya
merupakan penyakit chronic obstructive pulmonary disease (COPD) dan
pada non perokok kemungkinan adalah post-nasal drip, asma dan
gastroesophageal reflux disease (GERD).
Bila berdasarkan tanda klinisnya, batuk dibedakan menjadi batuk
kering dan batuk berdahak. Batuk kering merupakan batuk yang tidak
dimaksudkan untuk membersihkan saluran nafas, biasanya karena
rangsangan dari luar. Sedangkan batuk berdahak merupakan batuk yang
timbul karena mekanisme pengeluaran mukus atau benda asing di saluran
nafas (Ikawati, 2009).
Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi empat fase
yaitu :
1. Fase iritasi
Iritasi dari salah satu saraf sensorik nervus vagus di laring, trakea,
bronkus besar, atau serat aferen cabang faring dari nervus
glosofaringeus dapat menimbulkan batuk. Batuk juga timbul bila
reseptor batuk di lapisan faring dan esofagus, rongga pleura dan
saluran telinga luar dirangsang.
2. Fase inspirasi
Pada fase inspirasi glotis secara refleks terbuka lebar akibat kontraksi
otot abduktor kartilago aritenoidea. Inspirasi terjadi secara dalam dan
cepat, sehingga udara dengan cepat dan dalam jumlah banyak masuk
ke dalam paru. Hal ini disertai terfiksirnya iga bawah akibat kontraksi
otot toraks, perut dan diafragma, sehingga dimensi lateral dada
membesar mengakibatkan peningkatan volume paru. Masuknya udara
ke dalam paru dengan jumlah banyak memberikan keuntungan yaitu
akan memperkuat fase ekspirasi sehingga lebih cepat dan kuat serta
memperkecil rongga udara yang tertutup sehingga menghasilkan
mekanisme pembersihan yang potensial.
3. Fase kompresi
Fase ini dimulai dengan tertutupnya glotis akibat kontraksi otot
adductor kartilago aritenoidea, glotis tertutup selama 0,2 detik. Pada
fase ini tekanan intratoraks meningkat hingga 300 cm H2O agar terjadi
batuk yang efektif. Tekanan pleura tetap meninggi selama 0,5 detik
setelah glotis terbuka . Batuk dapat terjadi tanpa penutupan glotis
karena otot-otot ekspirasi mampu meningkatkan tekanan intratoraks
walaupun glotis tetap terbuka.
4. Fase ekspirasi
Pada fase ini glotis terbuka secara tiba-tiba akibat kontraksi aktif otot
ekspirasi, sehingga terjadilah pengeluaran udara dalam jumlah besar
dengan kecepatan yang tinggi disertai dengan pengeluaran benda-
benda asing dan bahan-bahan lain. Gerakan glotis, otot-otot pernafasan
dan cabang-cabang bronkus merupakan hal yang penting dalam fase
mekanisme batuk dan disinilah terjadi fase batuk yang sebenarnya.
Suara batuk sangat bervariasi akibat getaran sekret yang ada dalam
saluran nafas atau getaran pita suara (Putri, 2012).

C. GEJALA DAN PENYEBAB BATUK


Gejala umum dari batuk :
1. Demam
2. Menggigil
3. Nyeri pada tubuh
4. Radang tenggorokan
5. Mual atau muntah
6. Sakit kepala
7. Berkeringat pada malam hari
8. Hidung beringus

Penyebab batuk meliputi :


1. Penyakit jangka panjang yang kambuh, misalnya asma, Penyakit Paru
Obstruktif Kronik (PPOK), atau bronkitis kronis.
2. Rinitis alergi, misalnya alergi terhadap debu.
3. GERD. Penyakit ini menyebabkan asam lambung berkumpul pada
esofagus dan memicu batuk.
4. Cairan dari hidung yang menetes ke tenggorokan.
5. Merokok atau menggunakan tembakau dengan cara lain.
6. Paparan debu, asap, serta senyawa kimia.

D. TERAPI YANG BAKU


Untuk terapi anak batuk yang lumayan kronis bisa dilakukan 6 X terapi
dengan 3 tahapan yang harus dijalani, yaitu :
1. Di uap ( Inhalasi ) untuk tahap ini anak diberikan obat melalui satu
alat namanya Nebulizer , dipasang seperti memakai masker dan obat
dimasukkan ke dalam alat, saat alat dinyalakan maka uap akan keluar,
fungsinya untuk membuka jalan napas dan mengencerkan dahak.
2. Di sinar , bagian punggung dan dada anak disinari dengan alat khusus
selama 20 menit ( 10 menit punggung dan 10 menit dada) ada rasa
hangat saat alat yang mengeluarkan sinar ultra violet itu menyentuh
kulit dada dan pungung anak, terapisnya mengatakan kalau sinar ini
sama dengan sinar matahari pagi.
3. Di Puk-puk ( massage) istilah puk-puk umum digunakan terapis untuk
menyebut tahap terakhir ini, daerah yang di lakukan pemijatan
biasanya punggung dan dada, tapi kebanyakan punggung dengan
diolesi sedikit krim hangat, ada dua gerakan utama pemijatan yaitu
menepuk dan memberikan semacam getaran pada punggung anak.
Pada orang dewasa terapi yang bisa dilakukan antara lain :
1. Terapi makanan
Jika batuknya tipe panas perbanyak makan buah pir (dimakan langsung
atau dijus) pagi dan sore hari. Jika batuk tipe dingin perbanyak makan
lobak (1 buah lobak dicampur dengan 1/2 ons jahe ditambah air 3
gelas, masak selama 5 menit, minum 2X sehari. Jika batuk tipe kering
makanlah irisan kencur 3X sehari.
2. Terapi Pijat Refleksi
Titik-titik tekan Pijat diarea tubuh
1. Lakukan pemijatan di titik refleksi paru-paru (saluran pernafasan),
tekan selama 5-15 menit lakukan 2-3 kali sehari sampai dirasa
batuk sembuh.
2. Gunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk menggosok madras
dan kebawah bagian tengah tulang dada selama satu menit.
Kemudian tekan dan Pijat dengan lembut tulang dada dari ujung
hingga bawah selama satu menit.
3. Gunakan ibu jari atau jari telunjuk untuk menekan dg lembut antara
ibu jari dan jari telunjuk selama 1-5 menit.

E. KASUS
Seorang ibu mengeluhkan tenggorokannya gatal – gatal dan susah
digunakan untuk menelan kadang batuk – batuk kecil dan sering saat
kedapatan memakan gorengan dan minum es. Batuk berlanjut sudah 2 hari
ini.

F. SOAP
1. Subyektif
Tenggorokan gatal – gatal dan susah untuk menelan.
2. Obyektif
Batuk yang muncul setelah memakan gorengan dan minum es.
3. Assessment
Batuk kering
4. Plant
a. Farmakologi
Obat yang dapat digunakan untuk pengobatan swamedikasi batuk
antara lain Dekstrometorfan dan Kodein.
b. Non Farmakologi
1. Minum minimal 8 gelas air sehari secara rutin
2. Hindari merokok, lingkungan berdebu, kering atau dingin serta
alergen.
3. Beristirahatlah dengan cukup
Selain itu dapat juga menggunakan obat tradisional yaitu :
- Jeruk nipis, peras dan ambil airnya lalu seduh dengan air panas
1 gelas (60cc) + kapur sirih sedikit dan diminum 2x sehari 1
sendok makan
- Ambil 15 biji cengkeh, 1 biji pala, 6 buah jeruk nipis, 15 helai
daun sirih dan 3 gelas air.Cengkeh ditumbuk,jeruk di belah
menjadi 2 kemudian semua bahan dimasukkan kedalam panci
dan dididihkan sampai air tinggal separuhnya baru
diangkat.Digunakan 3x sehari,sekali minum 3-4 sendok makan,
anak-anak 3x sehari 1-2 sendok makan serta dapat ditambahkan
madu,hindari makan berlemak

G. PENATALAKSANAAN KASUS
1. Farmakologi
a. Obat Sintesis
1. Bromheksin HCl (Bisolvon® Tablet)
Pabrik : Boehringer Ingelheim
Indikasi : Untuk batuk berdahak, batuk yang disebabkan flu,
batuk karena asma dan bronkhitis akut atau kronis
Efek samping : Adakalanya terjadi efek samping pada
saluran pencernaan. Sangat jarang : kemerahan pada kulit
karena alergi.
Perhatian : Hindari penggunaan BROMHEXINE pada
tiga bulan pertama kehamilan dan pada masa menyusui. Hati-
hati penggunaan pada penderita tukak lambung
Kegunaan : Bekerja dengan mengencerkan sekret pada
saluran pernafasan dengan jalan menghilangkan serat-serat
mukoprotein dan mukopolisakarida yang terdapat pada sputum
/ dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan.
Bentuk sediaan :
 Tiap tablet mengandung Bromhexine HCI 8 mg x 10 x
4 biji.
 5 ml eliksir mengandung Bromhexine HCI
(mengandung etil alkohol 3,72% v/v)
 5 ml sirup mengandung Bromhexine HC
Aturan Pakai :
Tablet
 Dewasa dan anak > 10 tahun 1x 3 tablet
 Anak 5 – 10 tahun 3×1/2 tablet
 Anak 2 – 5 tahun 2×1/2
Atau menurut petunjuk dokter.
Sirup
 Dewasa dan anak >10 tahun: 3 x 10 ml per hari
 Anak 5- 10 tahun: 3 x 5 ml per hari
 Anak 2-5 tahun: 2 x 5 ml per hari
Atau menurut petunjuk dokter.
Interaksi : Pemberian bersamaan dengan antibiotika
(amoksisilin, sefuroksim, doksisiklin) akan meningkatkan
konsentrasi antibiotika pada jaringan paru.
Kontraindikasi: Penderita yang hipersensitif terhadap
Bromhexine HCI.
Golongan Obat : Obat Bebas Terbatas

2. Ambroxol (Epexol®)
Pabrik : PT. Sanbe Farma
Kemasan :
Epexol dipasarkan dengan kemasan sebagai berikut :
 dos 10 x 10 tablet 30 mg
 botol 120 ml syrup
Kandungan
Tiap kemasan epexol mengandung zat aktif (nama generik)
sebagai berikut :
 Ambroxol HCl setara ambroxol 30 mg / tablet
 Ambroxol HCl setara ambroxol 15 mg / 5 ml syrup
Indikasi :
Kegunaan epexol (ambroxol) adalah untuk kondisi-kondisi
berikut :
 Sebagai obat penyakit-penyakit pada saluran
pernafasan dimana terjadi banyak lendir atau dahak,
seperti : emfisema, radang paru kronis, bronkiektasis,
eksaserbasi bronkitis kronis dan akut, bronkitis
asmatik, asma bronkial yang disertai kesukaran
pengeluaran dahak, serta penyakit radang rinofaringeal.
 Obat ini juga digunakan untuk mengurangi rasa sakit
pada tenggorokan.
 Berguna juga sebagai anti inflamasi, dengan cara
mengurangi kemerahan saat sakit tenggorokan.
Kontra Indikasi :
 Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang
memiliki riwayat alergi terhadap ambroxol.
 Pasien yang menderita ulkus pada lambung
penggunaan obat ini harus dilakukan secara hati-hati.
Efek Samping :
Berikut adalah beberapa efek samping epexol (ambroxol) yang
umum terjadi :
 Efek samping yang relatif ringan yaitu gangguan pada
saluran pencernaan misalnya mual, muntah, dan nyeri
pada ulu hati.
 Efek samping yang lebih serius tetapi kejadiannya
jarang misalnya reaksi alergi seperti kulit kemerahan,
bengkak pada wajah, sesak nafas dan kadang-kadang
demam.
Perhatian :
 Keamanan pemakaian obat ini untuk ibu menyusui
belum diketahui dengan jelas. Meski demikian,
pemakaian obat ini selama menyusui sebaiknya
dikonsultasikan dengan dokter.
 penggunaan obat sebaiknya dilakukan setelah makan
atau bersama makanan.
Penggunaan Oleh Wanita Hamil
Jangan gunakan obat ini untuk wanita hamil terutama pada
trimester pertama.
Interaksi Obat :
Obat-obat dengan kandungan zat aktif ambroxol termasuk
epexol berinteraksi dengan obat-obat lain sebagai berikut :
 Jika diberikan bersamaan dengan antibiotik
seperti amoxicillin, cefuroxim, erythromycin, dan
doxycycline, konsentrasi antiobiotik-antibiotik tersebut
di dalam jaringan paru meningkat.
 Obat ini juga sering dikombinasikan dengan obat-obat
standar untuk pengobatan bronkitis seperti glikosida
jantung, kortikosteroid dan bronkospasmolitik.
Dosis Epexol :
epexol (ambroxol) diberikan dengan dosis :
 Anak < 2 tahun : 2 x sehari ½ sendok takar syrup.
 Anak 2-5 tahun : 3 x sehari ½ sendok takar syrup.
 5-10 tahun : 2-3 x sehari 1 sendok takar syrup atau 3 x
sehari ½ talet.
 Dewasa dan anak > 10 tahun : 3 x sehari 1 tablet.
Golongan Obat : Obat Keras

3. Dekstromethorphan HBr (Konidin®)


Pabrik : Konimex Pharmaceutical Laboratories
Indikasi : Untuk meringankan batuk
Kegunaan : Bekerja sebagai antitusif, espektoran dan
antihistamin
Kontra indikasi : Penderita yang hipersensitif terhadap
komponen obat ini
Efek samping : Mengantuk, gangguan pencernaan, sakit
kepala, insomnia, eksitasi, tremor, takikardi, aritmia, mulut
kering, palpitasi, sulit berkemih
Peringatan :
- Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan
fungsi hati dan ginjal, glaucoma, hipertrofi prostat,
hipertiroid, gangguan jantung, dan diabetes mellitus
- Tidak dianjurkan untuk anak-anak dibawah 6 tahun,
wanita hamil dan menyusui, kecuali atas petunjuk
dokter
- Selama minum obat ini tidak boleh mengendarai
kendaraan bermotor atau menjalankan mesin
- Hati-hati untuk penderita debil dan hipoksia
(kekurangan oksigen)
- Dapat menyebabkan depresi pernafasan dan susunan
saraf pusat pada penggunaan dengan dosis besar atau
pada pasien dengan gangguan fungsi pernafasan (missal
asma, emfisema)
Aturan pemakaian :
- Dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun : 3 x sehari 1-2
tablet
- Anak-anak 6-12 tahun : 3 x sehari ½-1 tablet
Atau menurut petunjuk dokter
Interaksi Obat : Dapat terjadi rangsangan SSP dan depresi
pernafasan yang berat pada pemberian bersamaan dengan
penghambat MAO.
Cara penyimpanan : Simpan pada suhu dibawah 30 ºC
Golongan Obat : Obat Bebas Terbatas
b. Obat Herbal Moderen
1. Woods®

Indikasi : Membantu meredakan batuk berdahak


Komposisi:
Tiap 5 ml sirup mengandung :
- 35 mg Ekstrak Daun Ivy (Hedera helix folii extract)
- 25 mg Ekstrak Daun Meniran (Phyllanthus urinaria folii
extract)
- 25 mg Ekstrak aun Mint (Menthae piperitae folii extract)
- 3 gram Madu
Aturan pakai
- 2 - 5 tahun : 2,5 ml, 3 kali sehari
- 6 – 12 tahun : 5 ml, 3 kali sehari
- Anak >12 tahun & dewasa : 10 ml, 3 kali sehari
Diproduksi oleh : UD. RACHMA SARI, Sukoharjo
Didistribusikan oleh : CV. GRIYA HERBA, semarang
Kemasan : Sirup 60 ml
IZIN PRODUKSI : 503/4683/2

2. Silex®

Indikasi : Dapat membantu meredakan batuk berdahak


membantu melegakan tenggorokan dan pilek.
Komposisi
Tiap 5 ml sirup mengandung :
- 41,67 mg Ekstrak Thymi herba Siccum
- 10 mg Extract Primulae Radix Siccum
- 58,33 mg Extract Althaeae folium siccum
- 25 mg Extract Droserae herba siccum
- 35 mg Extract Serphylli herba siccum
Aturan pakai
- Dewasa : 1 sendok makan (15 ml) 3-4 kali sehari
- Anak-anak : 1 sendok the (5 ml) 3-4 kali sehari
Diproduksi oleh : PT. Darya-Varia Laboratoria Tbk Gunung
Putri,Bogor-Indonesia.
Kemasan : Sirup 100 ml IZIN PRODUKSI: POM TR
142 677 871

2. Non Farmakologi
Antara penjagaan sendiri untuk pencegahan batuk yang dianjurkan :
a. Tidak merokok.
b. Minum air yang banyak, untuk membantu mengencerkan dahak,
mengurangi iritasi atau rasa gatal.
c. Menjauhi dari penyebab batuk seperti etiologi abu dan asap
rokok.
d. Meninggikan kepala dengan menggunakan bantal tambahan pada
waktu malam untuk mengurangkan batuk kering.
e. Hindari paparan debu yang merangsang tenggorokan, dan udara
malam yang dingin.
Atau bisa menggunakan obat tradisional seperti :
a. Jeruk nipis, peras dan ambil airnya lalu seduh dengan air panas 1
gelas (60cc) + kapur sirih sedikit dan diminum 2x sehari 1 sendok
makan.
b. Ambil 15 biji cengkeh, 1 biji pala, 6 buah jeruk nipis, 15 helai daun
sirih dan 3 gelas air.Cengkeh ditumbuk,jeruk di belah menjadi 2
kemudian semua bahan dimasukkan kedalam panci dan dididihkan
sampai air tinggal separuhnya baru diangkat.Digunakan 3x
sehari,sekali minum 3-4 sendok makan, anak-anak 3x sehari 1-2
sendok makan serta dapat ditambahkan madu,hindari makan
berlemak
c. Bawang putih

Nama tanaman : Bawang putih


Spesies : Allium sativum L.
Khasiat : mengobati batuk, pilek, dan influenza.
Penggunaan : 1 bungkul bawang putih cuci dan tumbuk
lalu diletakkan dalam panic dengan air 300 ml atau 1½ cangkir the
rebus hingga mendidih masak dengan api kecil selama 20 menit.
Tambahkan jus lemon lalu masak selama 2-3 menit. Setelah dingin
saringlah ke dalam botol/gelas kaca yang bersih. Minumlah 15 ml
atau 1 sendok makan campuran ini tiga kali sehari. Sirup ini dapat
disimpan selama 2-3 minggu di lemari es.
Kandungan : minyak atsiri, allicin, aliin, kalsium,
saltivine, diallysulfide, belerang, sulfur, protein, lemak, fosfor,
besi, vitamin A, B1 dan C.
d. Jahe

Nama tanaman : Jahe


Spesies : Zingiber officinale
Kandungan : Pati, damar, oleo resin, gingerin, minyak atsiri
yang mengandung zingeron, zingiberol, zingiberin, borneol,
kamfer, sineol dan felandren
Khasiat : Jahe mengandung zat anti-bakteri yang baik bagi
tubuh. Selain bisa menghangatkan tubuh jahe juga bisa mengobati
batuk berdahak. Bagi yang sedang menderita batuk berdahak
sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi sari jahe atau lebih dikenal
dengan wedang jahe setidaknya satu kali sehari
Penggunaan : Cara membuatnya sangat sederhana dengan
mengiris jahe lalu direbus dan air rebusan tersebut dituang ke
dalam cangkir dan ditambahkan sedikit gula. Minum selagi hangat
atau bisa juga dengan menyiapkan beberapa irisan jahe yang sudah
dikupas lalu masukkan ke dalam segelas teh hangat lalu minum
sebanyak dua hingga tiga kali sehari.

e. Belimbing Wuluh

Nama tanaman : Belimbing wuluh


Spesies : Averrhoa bilimbi L.
Khasiat : Mengobati batuk, batuk rejan, beguk, encok,
sariawan, hipertensi, diabetes mellitus, demam, radang poros usus,
sakit perut, gondok, bisul, menghilangkan jerawat dan mengatasi
ruam
Zat berkhasiat : buah belimbing wuluh mengandung asam oksalat
dan kalium
Penggunaan : 6- 8 buah belimbing wuluh ditambah gula batu dan
air secukupnya direbus sampai habis air rebusannya, sehingga
menyerupai manisan, dimakan 2 kali sehari
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Swamedikasi (Pengobatan sendiri) merupakan upaya yang dilakukan
oleh masyarakat dalam pengobatan tanpa adannya resep dari dokter
atau tenaga medis lainnya. Swamedikasi dilakukan berdasarkan dari
pengalaman pasien atau dari rekomendasi orang lain.
2. Pasien tersebut ternyata mengidap penyakit batuk kering karena
setelah makan gorengan dan minum es tenggorokannya terasa gatal –
gatal dan susah untuk menelan disertai batuk – batuk kecil dan sering.
Obat yang dapat digunakan antara lain dekstrometorphan dan kodein.
3. Selain obat sintetis dapat juga menggunakan obat tradisional antara
lain jeruk nipis, biji cengkeh, bawang putih, jahe dan belimbing
wuluh.
DAFTAR PUSTAKA

Sartono, 2000. Obat Wajib Apotek, Edisi ketiga, Gramedia Pustaka Utama;
Jakarta.

Merianti, N. W. E., Goenawi, L. R., & Wiyono. W., 2013. Dampak penyuluhan
pada pengetahuan masyarakat terhadap pemilihan dan penggunaan obat
batuk swamedikasi di kecamatan malalayang, Jurnal Ilmiah Farmasi,
2(03), pp.100–103.

Haque, R. A., Chung, K. F., 2005. Cough: Meeting The Needs of A Growing
Field, London. Available from:
http://www.coughjournal.com/content/1/1/1/. [Accessed 27 March 2017]

Djunarko, I., & Hendrawati, D., 2011. Swamedikasi yang Baik dan Benar. Citra
Aji Parama,Yogyakarta.

Nugroho, A., & Kristianti, E., 2011. Stikes RS. Baptis Kediri. Batuk Efektif
Dalam Pengeluaran Dahak Pada Pasien Dengan Ketidakefektifan
Bersihan Jalan Nafas Di Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Baptis
Kediri, 4(2).

Corelli, R. L., 2007. Therapeutic & Toxic Potential of Over-the-Counter Agents.


In : Katzung, B. G., Basic and Clinical Pharmacology. 10th ed. USA :
McGraw Hill, 1045-1046.

Kartajaya, H., Taufik., Mussry, J., Setiawan, I., Asmara, B., Winasis, N.T., 2011.
Self-Medication. Who Benefit and Who Is At Loss. Mark Plus Insight,
Indonesia.

Koffuor, G.A., Ofori-Amoah, J., Kyei, S., Antwi, S. dan Abokyi, S, 2014, Anti-
tussive, Mucosuppressant and Expectorant Properties, and the Safety
Profile of a Hydro-ethanolic Extract of Scoparia dulcis, International
Journal of Basic and Clinical Pharmacology, 3 (3), 447-453.
Chung, K.F., 2003, Management of Cough, dalam Chung, K.F., Widdicombe,
J.G., Boushey, H.A., (Eds.), Cough: Causes, Mechanisms and Therapy,
283-297, Blackwell Publishing Ltd., U.K.

Ikawati, Z., 2009, Bahan Ajar Kuliah Materi Batuk, Fakultas Farmasi Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.

Putri, C.A., Retorini, E., Irdiah, Wardani, P.K. dan Surtina, 2012, Obat-obat
Saluran Pernafasan, Poltekkes Kemenkes RI Pangkal Pinang, Bangka
Belitung.

WHO, 2003, Traditional medicine, http://www.who.int/mediacentre/


factsheets/fs134/en/, diakses Maret 2017