Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Anggrek merupakan salah satu tanaman hias berbunga yang karena keindahannya
banyak diminati dipasaran,selain itu anggrek juga dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan
produk kesehatan dan kecantikan. Anggrek tergolong anggota famili “orchidaceae”, famili ini
merupakan salah satu famili tanaman berbunga yang besar dengan jumlah spesies kurang
lebih 43.000 spesies dari 750 generasi yang berbeda, dan sekitar 5000 spesies terdapat di
Indonesia (Putra, 2009).
Permintaan anggrek di pasaran yang tidak sebanding dengan ketersediaannya menjadi
salah satu permasalahan dalam budidaya tanaman ini. Teknik kultur jaringan menjadi
alternatif yang dapat menjawab permasalah tersebut. Pada tahun 1920-an, Knudson
menunjukkan bahwa perkecambahan biji anggrek dapat dilakukan dengan menanam biji
anggrek pada media yang mengandung mineral dan gula sebagai sumber energi. Penelitian
yang berhasil dilakukan Knudson menunjukkan bahwa biji anggrek dapat berkecambah
secara in vitro. Beberapa alasan untuk megecambahkan biji anggrek secara in vitro adalah biji
anggrek sangat kecil dan mengandung cadangan makanan yang sangat sedikit atau bahkan
tidak ada. Perkecambahan secara in vitro dapat membantu perkecambahan embrio anggrek
yang belum berkembang atau belum matang sehingga memperpendek siklus pemuliaannya
atau budidayanya(Arditti, 2010).
Kultur jaringan sering disebut juga perbanyakan tanaman secara invitro, yaitu budidaya
tanaman yang dilaksanakan dalam botol-botol dengan media khusus dan alat-alat yang steril.
Sistem perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan ini dapat menghasilkan tanaman baru
dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang singkat. Tanaman baru yang dihasilkkan
mempunyai sifat-sifat biologis yang sama dengan sifat induknya. Sistem budidaya jaringan
juga memiliki keuntungan lain yaitu penghematan tenaga, waktu, tempat dan biaya.
Masyarakat pecinta tanaman anggrek adalah yang paling dahulu tertarik dengan perbanyakan
tanaman dengan sistem kultur jaringan. Sistem kultur jaringan ini dapat menghasilkan bibit-
bibit anggrek dalam jumlah banyak. Bibit-bibit anggrek hasil dari kultur jaringan memiliki
kualitas yang sangat baik dengan warna bunga yang seragam (Prasetyo, 2009).
1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Mengetahui langkah-langkah dalam kultur jaringan pada anggrek
2. Mengetahui perbedaan dalam kultur jaringan anggrek dengan tanaman lain
3. Mengetahui faktor-faktor keberhasilan dalam kultur jaringan anggrek
4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari kultur jaringan anggrek

2
BAB II
ISI

2.1 Pengertian dan Prinsip Dasar Kultur Jaringan


Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuh – kembangkan bagian tanaman,
baik berupa sel, jaringan, atau organ dalam kondisi aseptik secara in vitro. Teknik ini
dicirikan oleh kondisi kultur yang aseptik, penggunaan media kultur buatan dengan
kandungan nutrisi lengkap dan ZPT ( zat pengatur tumbuh), serta kondisi ruang kultur yang
suhu dan pencahayaanya terkontrol (Yusnita, 2003).

Berdasarkan bagian tanaman yang dikultur, secara lebih spesifik terdapat beberapa tipe
kultur, yaitu kultur kalus, kultur suspensi sel, kultur akar, kultur pucuk tunas, kultur embrio,
kultur ovul, kultur anter, dan kultur kuncup bunga. Namun, semua jenis kultur tersebut
sering disebut dalam istilah umum, yaitu kultur jaringan.

Keberhasilan perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan memerlukan


pengetahuan mengenai prinsip-prinsip yang mendasarinya. Prinsip-prinsip dasar mengenai
kultur jaringan menurut Hendaryono (1994), adalah sebagai berikut :

a. Mengetahui Teori Totipotensi Sel


Teori totipotensi sel dikemukakan oleh Schwan dan Schleiden pada tahun 1938.
Menurut teori ini, setiap sel tanaman hidup mempunyai informasi genetik dan perangkat
fisiologis yang lengkap untuk dapat tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh, jika
kondisinya sesuai. Pada tahun 1920-an, kultur organ secara terus-menerus dalam suatu media
berhasil dilakukan, tetapi hal ini belum membuktikan kebenaran teori totopotensi. Pada
pertengahan tahun 1930-an teori tersebut dapat dibuktikan. Keberhasilan pembuktian teori
totipotensi ini diduga berkat penemuan auksin, yaitu IAA dan NAA.

b. Memahami Konsep Skoog dan Miller


Pada tahun 1957, Skoog dan Miller mengemukakan bahwa regenerasi tunas dan akar in
vitro dikontrol secara hormonal oleh ZPT sitokinin dan auksin. Organogenasis adalah proses
terbentuknya organ seperti tunas atau akar, baik secara langsung daei permukaan eksplan atau
secara tidak langsung melalui pembentukan kalur terlebih dulu.
Dengan menggunakan eksplan empulur tembakau, Skoog dan Miller mendemonstrasikan
bahwa nisbah sitokinin dan auksin yang tinggi mendorong pembentukan tunas, sedangkan

3
nisbah sitokinin dan auksin yang rendah mendorong pembentukan akar. Jika diberikan dalam
jumlah yang seimbang, sitokinin dan auksin akan mendorong pembentukan kalus. Hasil studi
yang dipublikasikan oleh Skoog dan Miller merupakan tonggak sejarah penting yang
dianggap sebagai konsep klasik yang mendasari perbanyakan tanaman in vitro. Konsep
tersebut memang tidak selalu berlaku untuk setiap spesies tanaman yang dikultur jaringkan.
Namun, dengan beberapa pengecualian,hubungan antara sitokinin dan auksin dalam
mengontrol regenerasi tunas atau akar berlaku untuk berbagai spesies tanaman.

c. Memahami Sifat Kompeten, Dedifferensiasi, dan Determinasi


Sifat kompeten, dediferensiasi dan determinasi sel atau jaringan eksplan sangat penting
agar terjadi organogenesis atau embriologi pada eksplan. Suatu sel atau jaringan dikatakan
kompeten jika sel atau jaringan tersebut mampu memberikan tanggapan terhadap signal
lingkungan atau signal hormonal. Bentuk tanggapannya berupa pemrograman diri yang
mengarah ke proses organogenesis atau embriogenesis.

2.2 Sejarah Kultur Jaringan Anggrek


Menurut Suryowinoto (1991), kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue
culture, weefsel cultuus atau gewebe kultur. Kultur sendiri berarti budidaya dan jaringan
adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Maka, kultur jaringan
berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai
sifat seperti induknya (Sriyanti dan Wijayani, 1994).
Penggunaan teknik kultur jaringan dimulai oleh Gottlieb Haberlandt pada tahun 1902
dalam usahanya mengkulturkan sel-sel rambut dari jaringan mesofil daun tanaman
monokotil. Tetapi usahanya gagal karena sel-sel tersebut tidak mengalami pembelahan,
pembelahan sel, proliferasi dan induksi embrio.
Berikut adalah tabel yang menunjukkan sejarah perkembangan bidang kultur jaringan
tanaman :
Tahun Penemuan-Penemuan Penting
1838 Schleiden & Schwann mengemukakan teori Totipotensi
Haberlandt:: Orang pertama yang mencoba mengisolasi dan
1902
mengkulturkan jaringan tanaman monokotil, tetapi gagal
1922 Knudson: mengecambahkan biji anggrek
1924 Blumenthal & Meyer: Pembentukan kalus dari eksplan akar

4
wortel
Laibach & Hered: Kultur embrio untuk mengatasi
1929
inkompatibilitas pada tanaman Linum spp
Gautheret: Kultur in vitro dari jaringan kambium tanaman
berkayu dan perdu, tetapi gagal.
White: Keberhasilan kultur akar tomat dalam waktu yang
1934
panjang
Kogl et.al. : Identifikasi hormon tanaman pertama, IAA, untuk
pemanjangan sel.
1936 LaRue: Kultur embrio pada beberapa tanaman gymnospermae
Gautheret: Berhasil menumbuhkan kultur kambium tanaman
1939
wortel dan tembakau
Overbeek: Penggunaan air kelapa untuk menumbuhkam kultur
1941
embrio muda tanaman Datura
Kultur in vitro pertama dari tanaman tembakau untuk studi
1944
pembentukan tunas adventif
Skoog dan Tsui: Pembentukan tunas dan akar adventif dari
1948
tembakau
1949 Nitsch: Kultur in vitro tanaman buah-buahan
Morel & Martin:
1952 Kultur meristem untuk mendapatkan tanaman Dahlia yang bebas
virus. Keberhasilan pertama micro-grafting.
1953 Tulecke: Kalus haploid dari polen tanaman Ginkgo biloba
1955 Miller: Penemuan struktur dan sintesa dari kinetin
Skoog & Miller: Menemuan bahwa pembentukan akar dan tunas
1957
dalam kultur tergatung pada perbandingan auksin : sitokinin
Maheswari & Rangaswamy: Regenerasi embrio somatik dari
nuselus ovul Citrus
1958
Reinert & Steward: Pertumbuhan dan perkembangan kultur
suspensi wortel
Cocking: Degradasi enzimatik dinding sel untuk mendapatkan
1960
protoplas

5
Morel: Perbanyakan vegetatif anggrek melalui kultur meristem
1962 Murashige & Skoog: Perkembangan media MS
Guha & Maheswari: Penemuan tanaman haploid pertama
1964
melalui androgenesis tanaman Datura
Erickson & Jonassen: Isolasi protoplas dari suspensi sel
1969
Hapopappus
1970 Power: Fusi protoplas
Chilton: Keberhasilan integrasi T-DNA pada tanaman
1977 Noguchi dkk.: Penanaman sel-sel tembakau dalam bioreaktor
berkapasitas 20 000 L.
Melchers dkk.: Hibridisasi somatik antara tanaman tomat dan
kentang
1978
Tabata dkk.: Produksi shikonin pada skala industri melalui
kultur sel
1982 Zimmermann: Fusi protoplas secara elektrik (Electrofusion)
Mitsui Petrochemicals: Produksi metabolit sekunder pertama
1983 dalam skala industri melalui kultur suspensi pada tanaman
Lithospermum spp.
Perkembangan transfer gen pada tanaman berkembang cepat,
1985-
seperti penggunaan Agrobacterium, particle bombardment (gen gun),
1990
electroporasi, mikroinjeksi.
Perkembangan rekayasa genetik dan metabolik tan. Berkembang
1990 -
pesat
sekarang
Pemasaran produk-produk rekayasa genetik
(Zulkarnain, 2009)

2.3 Kegunaan dan Aplikasi Kultur Jaringan


Beberapa kegunaan kultur jaringan tumbuhan adalah :
1. Menghasilkan sejumlah besar tanaman (bibit) yang secara genetika sama, dalam
jumlah yang banyak dan waktu yang singkat.
2. Mendapatkan bibit dengan sifat yang dikehendaki (unggul) dalam waktu yang relative
singkat.
3. Memperbanyak tanaman yang sukar diperbanyak secara tradisional.

6
4. Mendapatkan tanaman yang bebas virus dan penyakit.
5. Mempertahankan keaslian sifat-sifat tanaman.
6. Melestarikan tanaman-tanaman langka.

Aplikasi Kultur jaringan dapat diaplikasikan untuk tujuan tertentu, antara lain sebagai
berikut :

1. Produksi tumbuhan bagi kepentingan pertanian dan perkebunan.


2. Produksi zat kimia (metabolisme sekunder) misalnya karet, retin, minyak atsiri yang
mempunyai nilai ekonomi dalam jumlah yang lebih banyak.
3. Memperoleh tanaman yang mampu tumbuh pada lingkungan yang dikehendaki,
misalnya pada lahan dengan salinitas tinggi atau lahan gambut (keasaman tinggi).

2.4 Jenis - Jenis Kultur Jaringan


2.4.1 Kultur Organ
Kultur Organ (Organ culture) merupakan kultur yang diinisiasi dari bagian-
bagian tanaman seperti : ujung akar, ujung pucuk (meristem dengan beberapa
primordial daun) dan embrio sebagai bagian dari biji (Gunawan, 1992). Sedangkan
menurut Sjahril (2011), kultur organ merupakan kultur yang diinisiasi dari organ-
organ tanaman seperti pucuk terminal dan aksilar, meristem, daun, batang, ujung akar,
bunga, buah muda, dan embrio. Berdasarkan asal eksplan, kultur organ dapat
dibedakan menjadi kultur meristem, kultur tunas, kultur anther/ovul, kultur akar dan
kultur embrio.

2.4.2 Kultur Meristem


Kultur meristem adalah kultur yang menggunakan eksplan yang berasal dari
jaringan meristem,biasanya di peroleh dari meristem apikal atau meristem tunas
aksilar. Pada ujung pucuk, jaringan ini berada dibagian dalam, oleh karena itu, untuk
mengambil jaringan ini agar dapat digunakan sebagai eksplan, kita membutuhkan
mikroskop.
Pelaksanaan perbanyakan mikro dengan teknik kultur jaringan ini,apabila kita
menggunakan eksplannya adalah daerah meristem pucuk (yaitu bagian ujung dari
pucuk, dimana jaringannya terdapat dibagian dalam dan banyak dilapisi oleh jaringan-

7
jaringan primordial yang nantinya akan membentuk tunas dan daun) yang berukuran
sangat kecil (0,2 mm), dan dalam pelaksanaanya digunakan perlakuan pemberian zat
kimia untuk membunuh penyakit, maka hasil yang diperoleh kemungkinan besar
adalah bebas patogen.Tanaman yang dihasilkan dari kultur meristem disebut meriklon
(mericlone). Saat ini sudah banyak beredar anggrek meriklon terutama, vanda dan
cymbidium,karena harganya yang cukup mahal. Namun sayangnya anggrek- anggrek
tersebut adalah hasil import dari negara Taiwan. Tanaman meriklon lainnya adalah
kedelai,kentang,anyelir,capsella. Melalui kultur meristem, jaringan meristem sebagai
sumber eksplan dapat langsung diregenerasikan untuk membentuk tunas dengan
subkultur berulang dan menggunakan variasi ZPT, atau melalui fase kalus terlebih
dahulu, seperti yang telah dilakukan ahli kultur jaringan morel, yang memperoleh
meristem pucuk anggrek yang bebas virus, kemudian dikulturkan membentuk kalus,
kemudian dikulturkan untuk membentuk protocorm dan akhirnya dikulturkan untuk
berdiferensiasi lebih lanjut guna membentuk tunas dan akar.

2.4.3 Kultur kalus


Pada awal kultur kalus bertujuan untuk mempelajari proses dediferensiasi dan
diferensiasi sel dan jaringan pada kultur in vitro dan memperoleh kalus dari eksplan
yang dikulturkan. Saat ini kultur kalus dan suspensi sel banyak dilakukan dalam
penelitian untuk menghasilkan metabolit sekunder.

2.4.4 Kultur Protoplasma


Protoplas adalah sel dalam keadaan telanjang. Fusi protoplas (yang terjadi
didalam sel tanpa campur tangan manusia) adalah proses alamiah yang terjadi pada
tumbuhan rendah sampai tingkat tinggi. Pada proses pembuahan terjadi penyatuan
gamet jantan (sub protoplas) dengan gamet betina (protoplas) menjadi zigot (hibrida
seksual). Sel-sel tanaman tingkat tinggi berhubungan satu dengan lainnya melalui
plasmodesmata, hubungan sel melalui plasmodesmata ini merupakan fusi protoplas
dengan protoplas tetapi terjadi secara alamiah.
Modifikasi genetik dengan fusi protoplas bertujuan untuk mengatasi masalah
ilompatibilitas, mengatasi masalah sterilitas, mendapatkan sifat yang diinginkan,
melalui fusi sel guna menghasilkan hibrida somatik, mendapatkan tanaman bebas
virus dan penyakit serta mendapatkan tanaman dengan variasi somaklonal yang baik.

8
2.4.5 Kultur Suspensi
Kultur suspensi sangat berguna dalam penelitian metabolit primer maupun
sekunder, juga untuk regulasi nitrogen didalam organ dan asimilasi sulfur,
metabolisme karbohidrat dan karbon fotosintetik, namun kultur sel kulit dipakai untuk
penelitian-penelitian path-way (biosintesis) senyawa tertentu.

2.4.6 Kultur Anther/Haploid


Kultur haploid adalah kultur yang menghasilkan tanaman haploid.

2.5 Kelebihan dan Kekurangan Kultur Jaringan Anggrek


Kelebihan dari teknik kultur jaringan yaitu :
1. Kultur jaringan merupakan suatu cara menghasilkan jumlah bibit tanaman yang
banyak dalam waktu singkat.
2. Tidak memerlukan tempat yang luas.
3. Tidak tergantung pada musim sehingga bias dilaksanakan sepanjang tahun.
4. Bibit yang dihasilkan lebih sehat.
5. Memungkinkan dilakukannya manipulasi genetik.

Kelemahan teknik kultur jaringan :

1. Memerlukan biaya besar karena harus dilakukan dalam laboratorium dan


menggunakan bahan kimia.
2. Memerlukan keahlian khusus.
3. Memerlukan aklimatisasi ke lingkungan eksternal karena tanaman hasil kultur
biasanya berukuran kecil dan bersifat aseptic serta sudah terbiasa berada di tempat
yang mempunyai kelembapan udara tinggi.

2.6 Faktor – Faktor Keberhasilan Kultur Jaringan


Faktor-faktor keberhasilan dalam teknik kultur jaringan menurut Hendaryono dan
Wijayani (1994), yaitu meliputi pemilihan eksplan sebagai bahan dasar, penggunaan medium
yang cocok dan keadaan yang aseptik dengan pengaturan udara yang baik.

9
2.6.1 Pemilihan eksplan yang tepat

Masing-masing sel tanaman memiliki kemampuan totipotensi, namun masing-


masing jaringan memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk tumbuh dan
beregenerasi dalam kultur jaringan. Oleh karena itu, jenis eksplan yang digunakan
untuk masing-masing kultur berbeda-beda tergantung tujuan pengkulturannya.

Umur eksplan sangat berpengaruh terhadap kemampuan eksplan tersebut untuk


tumbuh dan beregenerasi. Umumnya eksplan yang berasal dari jaringan tanaman yang
masih muda (juvenil) lebih mudah tumbuh dan beregenerasi dibandingkan dengan
jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut

Ukuran eksplan juga mempengaruhi keberhasilan kultur. Eksplan dengan


ukuran kecil lebih mudah disterilisasi dan tidak membutuhkan ruang serta media yang
banyak, namun kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil sehingga
dibutuhkan media yang lebih kompleks untuk pertumbuhan dan regenerasinya.
Sebaliknya semakin besar eksplan, maka semakin besar kemungkinannya untuk
membawa penyakit dan makin sulit untuk disterilkan, membutuhkan ruang dan media
kultur yang lebih banyak. Ukuran eskplan yang sesuai sangat tergantung dari jenis
tanaman yang dikulturkan, teknik dan tujuan pengkulturannya (Kartiman, 2004).

2.6.2 Lingkungan Aseptis


Kultur jaringan harus dilakukan secara aseptis pada lingkungan yang aseptis
karena jika tidak dilakukan secara aseptis maka banyak mikroorganisme yang masuk
kedalam media kultur jaringan. Hal ini mengakibatkan eksplan akan berkompetisi
dengan mikroorganisme untuk mendapatkan media sehingga pertumbuhan eksplan
akan terhambat dan pada media tersebut ditumbuhi mikroorganisme seperti bakteri.
(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2004).

2.6.3 Nutrisi Media


Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.
Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan
diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan
hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain.
Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya
maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.

10
Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media
yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.
Keberhasilan perbanyakan dan perkembangbiakan tanaman dengan metode
kultur jaringan secara umum sangat tergantung pada jenis media. Media tumbuh pada
kultur jaringan sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan
eksplan serta bibit yang dihasilkannya. Oleh karena itu, macam-macam media kultur
jaringan telah ditemukan sehingga jumlahnya cukup banyak (Widiastoety, 1997).

2.7 Masalah dan Gangguan dalam Kultur Jaringan


Gangguan kultur jaringan dapat menyebabkan kematian eksplan. Gangguan kultur
jaringan secara umum dapat muncul dari bahan yang ditanam, lingkungan kultur maupun
manusia yang melakukannya. Masalah yang muncul antara lain :

 Kontaminasi oleh bakteri, jamur, virus, dll. Agar terhindar dari kontaminasi maka
langkah-langkah pelaksanaannya harus mengikuti prosedur yang benar serta selama
proses pengerjaan dalam keadaan aseptik dan steril.
 Browning (pencokelatan), utnuk mengatasinya dengan cara mengabsorbsi fenol
penyebab pencokelatan dengan arang aktif.

2.8 Teknik Kultur Jaringan pada Tanaman Anggrek


2.8.1 Persiapan
Persiapan alat yang digunakan dalam kultur jaringan, diantaranya yaitu laminar
air flow cabinet, autoklaf, timbangan analitik, stirer dan hot plate, pH meter,
erlenmeyer, gelas ukur, gelas piala, petridish, pipet, pengaduk, botol, pinset, skalpel,
shaker, lampu, spirtus.
Persiapan bahan yang digunakan dalam kultur jaringan yaitu eksplan dari
tanaman anggrek yang akan dikultur, media Vaccin and Went yang merupakan media
khusus untuk kultur jaringan tanaman anggrek. Komposisi dari media Vaccin and
Went diantaranya yaitu (NH4)2SO4, KNO3, Ca3(PO4)2, MgSO4.7H2O, KH2PO4,
Fe3 Tartrat, MnSO4.4H2O, dan sukrosa.

2.8.2 Pemilihan Tanaman


Pilihlah tanaman yang segar, tidak layu, tanaman yang segar batang daun dan
bunganya memiliki tekstur yang berbentuk dan keras tidak lembek dan layu, pilihlah

11
yang berwarna cerah jangan yang memiliki warna lain atau bercorak aneh pada batang
daun atau bunganya, bisa saja itu merupakan salah satu gejala penyakit tertentu,
tanaman yang sehat yang terkena sinar matahari dan tumbuh ditanah yang tidak
gersang yang berarti bahwa tanah tersebut memiliki kadar air yang cukup untuk
pertumbuhan tanaman anggrek tersebut. Sehingga akan mendapatkan eksplan yang
berkualitas yang akan menghasilkan kultur jaringan yang baik.

2.8.3 Sterilisasi Tanaman


Tanaman yang diambil berasal dari tanah yang memiliki kontaminan yang
jumlahnya kita tidak ketahui, dan juga tanaman tersebut terkadang memiliki
kontaminannya sendiri.Mendapatkan bahan tanaman yang steril merupakan hal yang
sulit. Meskipun bermacam tindakan pencegahan sudah dilakukan, 95% kultur akan
mengalami kontaminasi apabila eksplan tidak didisinfeksi. Organ atau jaringan
tanaman harus disterilisasi dengan larutan disinfektan, karena sebagai bahan biologis
tidak dapat dilakukan dengan cara pemanasan yang ekstrim.
Untuk tanaman berkayu, umbi dll. biasanya sebelum disterilisasi dengan larutan
disinfektan harus dibersihkan dahulu dengan sabun dan dibilas dengan air mengalir,
tetapi tidak untuk tanaman jenis herbaceous. Semua permukaan eksplan yang
disteriliasi harus terendam dalam sterilan, dan setelahnya harus dibilas dengan
akuades steril sekurang-kurangnya tiga kali.

Sterilisasi bahan tanaman dimulai dengan pencucian dan pembuangan bagian-


bagian yang kotor dan mati dibawah pancuran air. Pencucian dapat digunakan dengan
menggunakan detergent lembut. Bahan yang sudah bersih dibiarkan dibawah
pancuran air selama kurang lebih 1 jam untuk memecahkan koloni kontaminan
permukaan, agar koloni-koloni tersebut lebih peka terhadap bahan-bahan sterilisasi.
Bahan tanaman lalu direndam dalam larutan natrium hipoklorit selama 7-15 menit
dengan konsentrasi 1-2%. Perendaman menggunakan natrium hipoklorit dikhususkan
untuk eksplan agar steril.

2.8.4 Sterilisasi alat


Peralatan yang terbuat dari metal, gelas, aluminium foil, dll., dapat disterilsasi
dengan cara pengeringan dalam oven pada suhu 130-170ºC selama 2-4 jam. Semua
peralatan tersebut harus dibungkus sebelum di oven, tetapi jangan menggunakan
kertas karena akan akan terdekomposisi pada suhu 170ºC. Sterilisasi dengan

12
menggunakan autoclave tidak dsarankan untuk bahan yang terbuat dari metal karena
akan menyebabkan karat. Untuk peralatan diseksi yang akan digunakan pada ruang
transfer atau laminar, setelah disterilisasi dalam oven harus direndam dahulu dalam
alkohol 96% kemudian dibakar di atas lampu bunsen. Teknik ini disebut sterilisasi
pembakaran (flame sterilization). Teknik ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati
karena alkohol sangat mudah terbakar. Autoclave adalah metoda sterilisasi dengan
menggunakan tekanan uap air. Bahan-bahan atau alat yang dapat disterilisasi dengan
cara autoclave ini antara lain kapas penutup tabung, saringan dari nylon, pakaian lab,
tutup plastik, peralatan gelas, pipet, air, dan media kultur. Hampir semua mikroba
dapat mati bila diautoclave pada suhu 121ºC dengan tekanan 15 psi selama 15-20
menit.

2.8.5 Pembuatan Media


Kultur jaringan membutuhkan media yang mendukung untuk pertumbuhan
eksplan dalam hal ini media vacin and went merupakan media yang dikhususkan
untuk kultur jaringan anggrek. Cara membuatnya yaitu:

1. Memasukkan 1000 mg (NH4)2NO3 kedalam elenmeyer, ditambahkan 1050 mg


KNO3, 500 mg KH2PO4, 5000 mg MgSO4.7H2O, 14 mg MnSO4.4H2O, 500
mg (Ca2)3PO4 dan Fe3-Tartrat 56 mg.
2. Mengencerkan hingga volumenya 1000 mL, dan ditambahkan sukrosa 20 g dan
agar 7 g.
3. Mengaduk larutan menggunakan magneticstirrer dan memanaskannya dengan
hotplate. Kemudian larutan didinginkan.
4. Membuat media dengan konsentrasi air kelapa 20% dengan cara masukan larutan
sebanyak 200 mL dan ditambahkan tambahkan air kelapa 50 mL.
5. Mengkondisikan larutan agar pHnya 5,6 dan media disterilisasi dalam autoclave

Namun media sudah bisa didapatkan dalam bentuk bubuk yang sudah jadi lalu
dimasukkan dalam media agar. Agar-agar adalah campuran polisakarida yang
diperoleh dari beberapa species algae. Dalam analisa unsur, diperoleh data bahwa
agar-agar mengandung sedikit unsur Ca, Mg, K, Na (Debergh, 1982). Kedalam media
dapat juga ditambahkan kombinasi vitamin, thiamine, glycine. Penambahan gula atau

13
karbohidrat sebagai sumber energi untuk pertumbuhan tanaman juga penting, gula
berperan juga dalam tekanan osmotik media.

2.8.6 Sterilisasi media


Metode untuk sterilisasi media yang umum digunakan yaitu sterilisasi dengan
autoclave dan filter membran. Media kultur, air destilasi dan campuran yang stabil
dapat disterilisasi dalam autoclave dengan menggunakan wadah yang ditutup dengan
kapas, aluminium foil atau plastik. Akan tetapi, larutan dari bahan-bahan yang bersifat
tidak stabil (heat-labile) harus menggunakan filter. Umumnya media diautoklaf pada
tekanan 15 psi dengan suhu 121ºC. Untuk volume larutan per wadah yang sedikit (<
100 ml), waktu yang dibutuhkan adalah 15-20 menit, tetapi untuk jumlah yang besar
(2-4 liter) selama 30-40 menit. Tekanan jangan melebhi dari 20 psi karena dapat
mengakibatkan dekomposisi karbohidrat dan bahan lain dalam media yang bersifat
termolabil.

2.8.7 Pemilihan Eksplan


Eksplan merupakan suatu sel atau irisan jaringan tanaman secara aseptik
diletakkan dan dipelihara dalam medium padat atau cair yang cocok dan dalam
keadaan steril. dengan cara demikian sebagian sel pada permukaan irisan tersebut
akan mengalami proliferasi dan membentuk kalus. Apabila kalus yang terbentuk
dipindahkan kedalam medium diferensiasi yang cocok, maka akan terbentuk tanaman
kecil yang lengkap dan disebut planlet, dengan teknik kultur jaringan ini hanya dari
satu irisan kecil suatu jaringan tanaman dapat dihasilkan kalus yang dapat menjadi
planlet dalam jumlah yang besar. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan
eksplan yakni eksplan haruslah dalam keadaan bagus dan sehat, jadi yang dipilih dari
plantlet yakni masih terlihat sehat tanpa cacat. (Mursidawati, 2007).

2.8.8 Inisiasi
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan.
Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.
Inisiasi pembentukan kalus dimulai dari hasil pembelahan sel yang terus menerus
pada jaringan induk yang tidak perlu harus berhubungan langsung dengan medium kul
tur.Pertumbuhan yang tercepat terjadi didaerah perifer. Hal ini disebabkan karena
pada daerah tersebut ketersediaan hara dan oksigennya lebih baik. Pertumbuhan kalus

14
merupakan hasil interaksi yang sangat komplek antara eksplan, komposisi medium
dan kondisi lingkungan selama periode inkubasi (Mursidawati, 2007).

2.8.9 Sterilisasi Eksplan


Sterilisasi dilakukan untuk membersihkan eksplan dari tanaman anggrek dari
mikroorganisme yang dapat mengganggu pertumbuhan anggrek saat di kondisi in
vitro. Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan
di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga
steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang
disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan
kultur jaringan juga harus steril (Damayanti, 2011).

2.8.10 Multiplikasi
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam
eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari
adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung
reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat
yang steril dengan suhu kamar (Hendaryono, 1994).

2.8.11 Pengakaran
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya
pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai
berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan
dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun
jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih
atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri) (Henuhili, 2012).

2.8.12 Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah masa adaptasi tanaman hasil pembiakan pada kultur
jaringan yang semula kondisinya terkendali kemudian berubah pada kondisi lapangan
yang kondisinya tidak terkendali lagi, disamping itu tanaman juga harus mengubah
pola hidupnya dari tanaman heterotrop ke tanama autotrop (Hendaryono, 1994).

15
Aklimatisasi dilakukan dengan cara memindahkan eksplan keluar dari ruangan
aseptik ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan
memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan
serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap
serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan
lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit
dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif (Henuhili,
2012).

16
BAB III

KESIMPULAN

Kebutuhan anggrek yang tinggi di pasaran dapat dipenuhi melalui budidaya


anggrek dengan kultur jaringan. Keunggulan dari kultur jaringan anggrek ini yaitu bibit
yang dihasilkan seragam, lebih sehat, banyak dalam waktu yang relatif singkat dan
tidak memakan tempat, akan tetapi biaya yang dikeluarkan cukup tinggi, membutuhkan
keahlian khusus dan bibit yang dihasilkan harus diaklimatisasi terlebih dahulu.
Langkah-langkah dalam kultur jaringan anggrek yaitu meliputi tahap persiapan alat dan
bahan, pemilihan tanaman, sterilisasi tanaman, sterilisasi alat, pembuatan media,
sterilisasi media, pemilihan eksplan, inisiasi eksplan, sterilisasi eksplan, multiplikasi,
pengakaran dan aklimatisasi. Faktor keberhasilan dalam kultur jaringan anggrek yaitu
dengan memperhatikan lingkungan aseptis selama pengerjaan, pengambilan eksplan
anggrek yang tepat danmenggunakan media khusus vaccin and went untuk kultur
jaringan anggrek.

17
DAFTAR PUSTAKA

Arditti, J. 2010. Plenary Presentation : History of Orchid Propagation. AsPac J.Mol. Biol.
Biotecnol. Vol 18 (1): 171-174.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2004. Teknologi Agribisnis Tanaman Hias.
Balai Penelitian Tanaman Hias. Pusat Penelitian danPengembanga Hortikultura.
Badan Penelitian dan PengembanganPertanian. Jakarta.

Damayanti, E. 2011. Budidaya Tanaman Anggrek. Penerbit Araska. Yogyakarta.

Gunawan, Livy Winata. 1992. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Deprtemen Pendidikan
dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas
Bioteknologi. IPB Press. Bogor.

Hendaryono, D.P.S., dan A.Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta. 139p.

Henuhili, V. 2012. Kultur Jaringan Tumbuhan. Petunjuk PraktikumFMIPA UNY.


Yogyakarta.

Kartiman, R. 2004. Pengaruh Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh dan Potongan Protocorm
Like Bodies untuk Perbanyakan Anggrek Bulan Raksasa (Phalaenopsis Gigantea)
dengan Metode Kultur Jaringan. Skripsi. Fakultas Pertanian. Institut pertanian Bogor.

Laelawati, Susi. 2008. Bioteknologi. Nobel Edumedia. Jakarta.

Mursidawati.S. 2007. Asosiasi Mikoriza dalam Konservasi Anggrek Alam. Buletin Kebun
Raya Indonesia. Vol 10. No 1.Hal 24-30.

Prasetyo, C.H. 2009. Teknik Kultur Jaringan Anggrek Dendrobium sp. di Pembudidayaan
Anggrek Widorokandang Yogyakarta. Skripsi. Program Diploma III Agribisnis
Hortikultura dan Arsitektur Pertamanan Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Putra, Virnanto Hasmana. 2009. Budidaya dan Prospek Pemasaran Anggrek Bulan Lokal
(Phalaenopsis Anabilis) di Kebun Anggrek Widorokandang Yogyakarta. Skripsi.
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Sjahril, Rinaldi, dkk. 2011. Bahan Ajar: Pembiakan In Vitro. program studi agroteknologi
fakultas pertanian Universitas Hasanuddin. Makassar.

Wetherell. 1976.Pengantar Propagasi Tanaman Secara In Vitro.IKIP Semarang


Press. Semarang.

Widiastoety. 1997. Peningkatan Produktivitas dan Mutu Bunga Anggrek. Balai Penelitian
Tanaman Hias. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Litbang
Pertanian. Jakarta.

Yusnita. 2003.Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. PT.


Agromedia Pustaka. Bogor.

Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.

18