Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS UNSUR MISTIK DALAM NOVEL SYAIR MUNAJAT CINTA KARYA

NOVIA SYAHIDAH

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah individu yang hidup dengan berbagai permasalahan.


Permasalahan tersebut mencakup hubungan antarmasyarakat, antarmanusia, manusia
dengan tuhannya, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagi seorang
pengarang yang peka terhadap permasalahan-permasalahan tersebut, dengan hasil
perenungan, penghayatan, dan hasil imajinasinya kemudian menuangkan idenya tersebut
dalam karya sastra. Ide yang dituangkan dalam karya sastra, biasanya menawarkan
sebuah gambaran realita yang bisa menjadi bahan perenungan bagi penikmatnya.

Karya sastra memuat gambaran realitas yang ada. Sastra dan masyarakat pada
gilirannya berada dalam kaitan dialektis. Pada hakikatnya, sastra lebih banyak ditentukan
oleh masyarakat, sehingga pengarang memiliki keterkaitan dengan keadaan realitas atau
sosial masyarakat dalam menciptakan karya sastra. Hal ini terjadi karena penyair
merupakan bagian dari mobilitas sosial dan sastra merupakan refleksi dari potret
kehidupan masyarakat.

Sebagai genre sastra karya fiksi dapat dibedakan dalam berbagai macam bentuk,
baik itu roman, novel maupun cerpen. Perbedaannya hanya terletak pada kadar panjang
pendeknya isi cerita, serta jumlah pelaku yang mendukung isi cerita itu sendiri. Karya
sastra novel dan roman merupakan bagian dari prosa yang dekat dengan masyarakat
karena jalan ceritanya tidak jauh dari realitas kehidupan masyarakat. Novel memiliki
cerita yang dikemukakan secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih
rinci, lebih detail dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih
kompleks. Biasanya juga melukiskan suka, duka, cinta dan adat istiadat.

Selain menggambarkan pesan moral, karya sastra ada juga yang memberikan
pesan yang berwujud unsur mistik, yaitu bagian yang digambarkan oleh tokoh-tokoh
dalam novel yang berhubungan dengan hal-hal gaib. Unsur tersebut sangat
mempengaruhi prilaku dan tindakan manusia baik yang dilakukan secara perorangan
maupun kelompok. Unsur mistik dalam karya sastra banyak mendapatkan respon negatif
dari para pembaca, namun dari setiap sisi negatif tentunya juga terdapat sisi positif
tersendiri.

Dengan adanya unsur mistik tersebut, maka dapat memberikan pandangan


tersendiri bagi para pembaca untuk berbuat kebaikan. Bahkan, perlu ditanamkan
kesadaran tentang pemahaman dan penghayatan agar tidak terjerumus terhadap unsur
mistik terutama pada zaman globalisasi sekarang ini sangat diperlukan sebuah karya fiksi
berupa novel atau roman memiliki unsur mistik sebagai benteng pengokoh iman.

Novel Syair Munajat Cinta memiliki banyak keunikan tersendiri, salah satunya
adalah dalam novel tersebut menggambarkan unsur mistik yang sangat kental. Kehidupan
masyarakat yang digambarkan dalam novel tersebut penuh dengan mistik atau sering
melakukan setiap kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal gaib atau keramat. Mereka
beranggapan dengan tradisi tersebutlah semua keinginan mereka akan terwujud. Dalam
novel ini juga menceritakan sosok anak yang bernama Dewi. Dia tumbuh dalam keluarga
yang mengagung-agungkan hal-hal mistik. Namun, ketika beranjak dewasa ia mulai
menentang semua ajaran sesat dan berjuang keras meluruskan ajaran Islam. Tidak hanya
ayahnya tercinta yang harus disadarkan dan keluar dari kesesatannya, ia juga harus
berjuang meluruskan akidah masyarakat tempatnya dilahirkan.

Dari uraian pada latar belakang masalah yang telah penulis kemukakan di atas,
maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian. Adapun judul penelitian ini adalah
“Analisis Unsur Mistik dalam Novel Syair Munajat Cinta karya Novia Syahidah”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi masalah dalam penelitian ini
adalah bagaimanakah penggambaran unsur mistik dalam novel Syair Munajat Cinta
karya Novia Syahidah?
C. Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan rumusan masalah di atas, yang menjadi tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan data tentang penggambaran unsur mistik
dalam novel Syair Munajat Cinta karya Novia Syahidah.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan uraian permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan


di atas, penelitian ini mempunyai dua manfaat yaitu secara teoretis dan praktis.

Secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan supaya dapat dijadikan pengalaman
baru dalam mengungkapkan perkembangan dunia sastra Indonesia, yaitu mengenai
penggambaran unsur mistik dalam novel Syair Munajat Cinta karya Novia Syahidah.

Selanjutnya, secara praktis hasil penelitian ini bermanfaat bagi peneliti untuk
memperkarya pengetahuan tentang kesusastraan Indonesia, khususnya novel yang
mengungkapkan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat serta dapat menambah
wawasan dalam menganalisis karya sastra terutama novel dari segi penggambaran unsur
mistik guna menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Sedangkan, bagi mahasiswa lain
dapat memberi informasi empiris dan pendalaman ilmu serta pengetahuan mengenai
bidang kesusastraan, sehingga akan memotivasi untuk lebih mencintai karya sastra
Indonesia berbentuk novel.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini yaitu tentang analisis unsur mistik yang terdapat
dalam novel Syair Munajat Cinta karya Novia Syahidah.

F. Landasan Teoretis
1. Pengertian Novel

Novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia yang berisi model
kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif yang dibangun melalui unsur
instrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain, yang
kesemuanya bersifat naratif. Novel berasal dari bahasa Italia novella, yang dalam
bahasa Jerman novell, dan dalam bahasa Yunani novellus. Kemudian masuk ke
Indonesia menjadi novel dan novellus mengandung pengertian yang sama dengan
istilah Indonesia novelette (Inggris: novelette), yang berarti sebuah karya prosa fiksi
yang panjang cakupan tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek.

Novel merupakan bentuk karya sastra yang paling popular di dunia. Bentuk
sastra ini paling banyak beredar. Hal ini dikarenakan daya komunikasinya yang luas
dalam masyarakat. Novel yang baik adalah novel yang isinya dapat memanusiakan
para pembacanya. Sebaliknya, novel hiburan hanya dibaca untuk kepentingan santai
belaka, yang penting memberikan keasyikan pada pembacanya untuk
menyelesaikannya. Novel juga menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari
tokoh cerita, di mana kejadian-kejadian itu menimbulkan pergolakan batin yang
mengubah perjalanan nasib tokohnya.

Menurut Zaidan, dkk (dalam Purba, 2001: 64) ia menyatakan bahwa ”Novel
adalah jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang
menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang dan
mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi
dasar konvensi penulisan”. Sedangkan menurut Kosasih (2003: 250), ia
mengemukakan bahwa ”Novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh
atas problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh”. Lalu, Tarigan
(dalam Purba, 2001: 63), ia juga mengungkapkan bahwa ”Novel adalah suatu prosa
yang fiktif dengan panjangnya tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta
adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang
agak kacau atau kusut”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa novel
adalah suatu karya sastra yang berbentuk prosa dan menguraikan suatu kejadian yang
luar biasa, juga sebagian mengisahkan tentang kehidupan manusia yang dibangun
melalui unsur intrinsik berupa tema, peristiwa, latar, tokoh, sudut pandang, dan lain-
lain yang bersifat naratif, serta unsur ekstrinsik.

2. Novel Sebagai Salah Satu Bentuk Karya Sastra

Karya sastra sebagai salah satu bentuk kesenian tidak lepas dari proses kreatif.
Orang inggris menyebutkan, karya sastra sebagai refleksi masyarakatnya. Di dalam
merefleksikan masyarakat itu, seorang sastrawan menerapkan suatu filter halus
berdasarkan nuraninya. Dengan filter itu dia menyaring berbagai hal dalam
masyarakat dan akan memberikan penilaiannya terhadap berbagai hal di dalam
masyarakat yang dianggap melenceng dari standar kepatutan. Bisa juga sastrawan
melihat keganjilan-keganjilan yang terjadi di dalam masyarakat dan menuliskannya di
dalam karya sastranya.

Proses kreatif seni, seniman tergerak hatinya secara emosional dan intelektual
oleh kehidupan, selanjutnya didukung oleh imajinasi untuk membentuk suatu konsep
yang diwujudkan ke dalam sosok tertentu yang menuntut suatu struktur tertentu.
Struktur ini tunduk kepada sejumlah aturan berkesenian tertentu. Alam beserta isinya
memang sangat layak menjadi sumber segala keindahan dan menjadi satu-satunya
sumber yang ditiru dalam seni. Alam tentu saja tidak terbatas pada pemandangan
alam, tetapi termasuk juga penghuni alam ini, perilaku, pandangan hidupnya,
wataknya, dan sikapnya yang disebut dengan kehidupan.

Keindahan dan kepuasan rohaniah sangat penting dalam kehidupan manusia.


Hal ini terbukti bahwa banyak benda-benda yang dibuat manusia yang sesungguhnya
tidak dimiliki dalam kehidupan lahiriah, tetapi hanya memiliki fungsi untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan rohaniah. Benda-benda seperti yang lazim
disebut dengan istilah benda seni, karya seni atau hasil seni.

Berdasarkan bentuk dan alat yang digunakan untuk menghasilkan karya seni,
dapat dibedakan adanya macam bentuk seni. Karya seni yang menggunakan garis dan
warna sebagai alatnya disebut seni lukis, yang menggunakan nada disebut seni suara,
yang menggunakan gerak disebut seni tari dan karya seni yang menggunakan medium
disebut bahasa untuk berbagai aspek disebut sastra, seni sastra atau karya sastra.

Karya sastra tidak hanya ditujukan kepada karakter manusia secara umum, tetapi
sering pula ditujukan kepada sejumlah penguasa yang merupakan sosok yang dianggap
menyimpang dari standar kepatutan. Tokoh penguasa ini bisa merupakan tokoh yang
korup, yang serakah, yang gila kekuasaan, tidak adil, sewenang-wenang,
penyelewenangan seksual, melenceng dari agama dan sebagainya. Banyak orang tidak
suka menerima kritik, bahkan tidak suka diingatkan, apalagi kalau dia menduduki posisi
sebagai penguasa. Padahal di dalam agama saya, menjadi kewajiban seorang mukmin
untuk mengingatkan sesama mukmin untuk berjalan di jalan yang sudah ditunjukkan oleh
Allah. Bentuk mengingatkan itu yang sering dianggap kritik dn tidak selalu
menyenangkan hati pihak yang diingatkan.

3. Pengertian Mistik

Apabila dikaitkan dengan budaya, maka pada hakikatnya mistik merupakan


pengetahuan yang tidak rasional atau tidak dapat dipahami rasio, maksudnya hubungan
sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio dan memiliki bentuk pemikiran dan
ekspresi tentang kebenaran yang mutlak di dalam suatu masyarakat. Ekspresi dan
pemikiran yang tidak rasional ini kemudian membentuk suatu perilaku dalam kehidupan
masyarakat dan menjadi suatu budaya.

Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang
artinya rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman.

Menurut Koentjaraningrat, (dalam Wikipedia), menyatakan bahwa ”Mistik adalah


bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan kepada satu Tuhan yang dianggap meliputi
segala hal dalam alam dan sistem keagamaan ini sendiri dari upacara-upacara yang
bertujuan mencapai kesatuan dengan tuhan”. Selanjutnya, menurut Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Wikipedia), menyatakan bahwa ”Mistik
merupakan hal gaib yang sangat diyakini hingga tidak bisa dijelaskan dengan
akal manusia biasa”.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mistik adalah hal-
hal yang berhubungan dengan sesuatu yang ada di luar logika dan nalar manusia yang
bersumber dari hal-hal gaib.

4. Unsur Mistik dalam Novel

Dalam sebuah karya sastra yang berbentuk novel, tidak hanya terdapat unsur
intrinsiknya saja, seperti tema, amanat, penokohan, latar, seting dan gaya bahasa. Namun,
juga terdapat unsur ekstrinsik yaitu unsur pembangun karya sastra tersebut dari luar, baik
itu berupa budaya, adat, bahasa, pendidikan, latar belakang pengarang, dan nilai yang
terkandung dalam karya sastra tersebut.

Unsur ekstrinsik yang terkandung dalam novel, salah satunya adalah tentang adat
dan budaya. Berkaitan dengan adat dan budaya tersebutlah, salah satu unsur yang
menjadi pembangun novel adalah unsur mistik. Unsur mistik dalam novel merupakan
unsur pembangun novel yang berwujud sebuah tradisi masyarakat dalam novel yang
berhubungan dengan hal-hal gaib dan di luar akal sehat manusia.

Dalam novel Syair Munajat Cinta karya Novia Syahidah sarat dengan nilai mistik
yang dianut oleh masyarakat setempat. Setiap kegiatan yang dilalui oleh masyarakat tidak
luput dari bersekutu dengan setan atau hal lain yang bersifat gaib dan mistik.
DAFTAR PUSTAKA

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Caps.

Kosasih, Encang. 2003. Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusastraan. Bandung: Yrama


Widya.

Kutha Ratna, Nyoman. 2010. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Denpasar: Pustaka
Pelajar.

Moleong, Laxy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Panitia Penyusun. 2013. Pedoman Penulisan Skripsi. Matangglumpangdua: FKIP Universitas


Almuslim.

Purba, Antilan. 2001. Sastra Indonesia Kontemporer. Medan: USU Press.

Sugiono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Syahidah, Novia. 2008. Novel Syair Munajat Cinta. Jakarta: Jendela.


Wiyatmi. 2009. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.