Anda di halaman 1dari 16

1

MAKALAH

MIKROBIOLOGI TANAH ;
BACILLUS ANTHRACIS

HUSNURRIZAL
NPM. 1802201010006

PROGRAM MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2018
2

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan
manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.

Banda Aceh, September 2018

Penyusun
3

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii

BAB I. PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan masalah 2
1.3. Tujuan 2

BAB II. PEMBAHASAN 3


2.1. Pengertian Penyakit Antrax 3
2.2. Etiologi Penyakit Antrax 3
2.3. Epidemiologi Penyakit Anthrax 5
2.4. Patogenesa Penyakit 6
2.5. Penularan Penyakit 7
2.6. Gejala Klinis Penyakit Anthrax 8
2.7. Diagnosis Laboratoris 9
2.8. Penanganan dan Pengobatan Penyakit Antraks 10
2.9. Pencegahan Penyakit 11

PENUTUP 12

DAFTAR PUSTAKA 13
BAB I.
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penyakit antraks adalah penyakit infeksius dan menular pada hewan yang
disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis (B. Anthracis) yaitu bakteri Gram
positif berbentuk batang, yang membentuk spora dan bersifat zoonosis (Radostits
et al. 2006 yang disitasi oleh Martindah, 2017). Penyakit ini dapat ditularkan dari
hewan penderita ke manusia, sehingga digolongkan sebagai penyakit zoonosa atau
zoonosis (Dey et al., 2012; Mari et al., 2017). Spora pada bakteri berfungsi
sebagai alat perlindungan bakteri tersebut dari pengaruh lingkungan yang tidak
sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangbiaknya. Spora bakteri antraks dapat
ditemukan pada tanah, bulu, wol, kulit, debu, dan tepung tulang. Spora tersebut
dapat bertahan selama 60 tahun di dalam tanah kering (Mari et al., 2007).
Kasus antraks pada ternak secara geografi terjadi sporadis di seluruh
dunia, wabah sesekali muncul di Afrika dan Asia Tengah (WHO, 2017). Bahkan
sudah endemis di beberapa wilayah di Indonesia. Sesuai dengan Keputusan
Menteri Pertanian Nomor 4026/ Kpts./OT.140/3/2013 tentang Penetapan Jenis
Penyakit Hewan Menular Strategis, penyakit antraks merupakan salah satu dari 25
penyakit yang menimbulkan kerugian ekonomi, keresahan masyarakat dan
kematian hewan yang tinggi (Ditjen PKH, 2016).
Di Indonesia, kasus antrax pertama kali ditemukan di Teluk Betung, pada
tahun 1984. Daerah endemis anthraks yang sering terjadi kasus antraks
adalah Jawa Barat (Bogor, Purwakarta), Jawa Tengah (Boyolali), NTB, NTT, DI
Yogyakarta (Sleman), Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Lampung, Jambi, Sumatera
Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah. Daerah-daerah tersebut merupakan
kawasan penyebaran antraks yang sewaktu-waktu dapat menjadi pusat ledakan
wabah untuk daerah sekitarnya. Karena itulah, maka Dinas Peternakan di semua
daerah mencatat, meneliti, dan mengamati, kalau sewaktu-waktu di daerahnya
mulai ada tanda/indikasi wabah tersebut agar sedini mungkin dapat diketahui,
diatasi, atau dibatasi penyebarannya (Kementan, 2016).

1
2

Antraks tidak hanya mempengaruhi kesehatan manusia, tetapi juga


menyebabkan kemiskinan dan tekanan emosional, terutama di kalangan penduduk
yang mata pencahariannya bergantung pada pertanian pastoral (Molyneux et al.,
2011). Penanganan penyakit antraks di Indonesia seringkali dilakukan ketika
wabah telah muncul di masyarakat. Kasus antraks merupakan kejadian alamiah
yang muncul secara berulang di tempat yang sama. Hal ini terjadi karena sebagian
besar waktu hidup bakteri antraks berada di tanah dalam bentuk spora dan tidak
aktif (Martindah, 2017). Menurut Martin dan Friedlander (2010) dampak ekonomi
antraks pada ternak belum sepenuhnya diketahui, meskipun telah mengakibatkan
kematian ratusan hingga ribuan ternak, serta penularan penyakit ke manusia.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dari makalah ini
adalah :
1. Apakah penyebab penyakit anthrax ?
2. Bagaimanakah cara pencegahan dan pengobatan penyakit antrax ?

1.3. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk 1) Mengetahui agen penyebab
penyakit anthrax, 2) Mengetahui bagaimana cara pencegahan dan pengobatan
penyakit antrax.
BAB II.
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Penyakit Anthrax


Antrhax adalah penyakit infeksi menular akut yang disebabkan oleh
bakteri B. anthracis. Penyakit ini biasanya menjangkit hewan ternak, tetapi bisa
juga menjangkit manusia yang hidup dekat dengan hewan (Zeina et al., 2003;
Guarner et al., 2003 ) . Ada 4 jenis antraks yaitu: antraks kulit, antraks pada
saluran pencernaan, antraks pada paru-paru, dan antraks meningitis (Soedarsono,
2013).
Anthrax atau radang limpa adalah penyakit menular pada sapi yang paling
berbahaya. Anthrax bersifat zoonosis dan merupakan penyakit yang menimbulkan
keresahan bagi peternakan dan manusia. Di Indonesia anthrax menyebabkan
banyak kematian pada ternak. Kerugian dapat berupa kehilangan tenaga kerja di
sawah dan tenaga tarik, serta kehilangan daging dan kulit karena ternak tidak
boleh dipotong. Pada manusia biasanya infeksi berasal dari ternak melalui
permukaan kulit yang terluka, terutama pada orang-orang yang banyak
berhubungan dengan ternak (Mari et al., 2017).
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri B. anthracis bersifat akut atau
perakut pada bebagai jenis ternak: ruminansia, kuda, babi, berbagai jenis hewan
liar, kelinci, marmot dan burung unta. Bakteri ini mampu membentuk endospora
yang tahan hingga puluhan tahun di dalam tanah sehingga menjadi sumber infeksi
(daerah endemis) dan berakibat sulitnya eradikasi penyakit ini di Indonesia
(Soedarsono, 2013).

2. 2. Etiologi Penyakit Antrax


A. Morfologi
Bakteri B. anthracis merupakan bakteri berbentuk batang besar dengan
ujung persegi dan sudutnya tajam dengan ukuran panjang 3 – 5 μm dan lebar 1 – 2
μm. Bakteri ini bersifat Gram positif yang akan tampak berwarna biru ungu di
bawah mikroskop bila diwarnai dengan Gram. Pemeriksaan di bawah mikroskop
terhadap preparat ulas yang diambil dari specimen darah atau jaringan hewan

3
1
4

penderita akan tampak bakteri ini tersusun berpasangan, berantai maupun sendiri
sendiri dengan gambaran khas seperti ruas pohon bambu. Bacillus anthracis dapat
membentuk endospora yang berbentuk oval dan terletak central, tidak lebih besar
daripada diameter bentuk vegetatifnya (Zeina et al., 2003). Endospora ini hanya
terbentuk apabila bakteri berada di luar tubuh hostnya atau pada tubuh host yang
telah mati. Endospora juga dapat ditemukan pada kultur / biakan, di tanah
/lingkungan, pada jaringan atau darah hewan penderita yang telah mati. Ciri
morfologis lain dari B. anthracis adalah mempunyai capsul pada saat berada di
dalam tubuh host tetapi capsule ini tidak dapat terjadi pada B. anthracis yang
dibiakkan secara in vitro kecuali bila dalam medianya diberikan
natriumbicarbonate dengan konsentrasi 5% CO2 (Guarner et al., 2003).

Gambar 1. Bakteri Bacillus anthracis

B. Sifat Fisiologis dan Biokimia bakteri Bacillus anthracis


Bacillus anthracis dapat tumbuh pada hampir semua media pertumbuhan
bakteri pada umumnya tetapi akan sangat baik tumbuhnya dan akan menunjukkan
ciri khasnya secara baik apabila dikultur pada Blood Agar Plate dengan
kandungan darah bebas antibiotika. Pertumbuhan maksimal diperoleh bila
diberikan suasana pH 7 – 7,4 secara aerob. Suhu optimal yang dibutuhkan untuk
pertumbuhannya adalah 37°C walaupun bakteri ini dapat tumbuh pada suhu antara
15 °C hingga 40 °C. Setelah 24 jam masa inkubasi B. anthracis pada media
sederhana akan tumbuh sebagai koloni yang besar, menonjol, opaque, berwarna
putih keabuan, tepian tidak rata dengan ukuran diameter sekitar 2 – 5 mm, dan
dengan bantuan kaca pembesar permukaan koloni tampak berbulu plumose,
5

berjumbai seperti rambut keriting yang diistilahkan sebagai caput medusae/


medusa head/ hairlike curl/ fringelike edge (Dey et al., 2012).
Bakteri ini non motil dan ini berbeda dengan spesies bakteri genus
Bacillus yang umumnya motil. B. anthracis memfermentasi glukosa, maltosa dan
sukrosa dengan menghasilkan sejumlah asam tetapi bakteri ini tidak
memfermentasi manitol, laktosa dan galaktosa. Sifat biokimiawi lain dari bakteri
ini adalah mencairkan gelatin secara perlahan, mereduksi nitrat menjadi nitrit,
serta tes Voges Preskauernya / VP positif (Fasanella et al., 2010).

2.3. Epidemiologi Penyakit Anthrax


Sumber infeksi dari penularan penyakit ini merupakan tanah yang
tercemar endospora bakteri B. anthracis dan bersifat bahaya laten karena dapat
terserap oleh akar tumbuh-tumbuhan hingga mencapai daun maupun buahnya
sehingga berpotensi untuk menginfeksi ternak maupun manusia yang
mengkonsumsinya. Sumber infeksi lainnya adalah bangkai ternak pengindap
anthrax. Miliaran endospora bakteri ini terdapat dalam darah dan organ – organ
dalam penderita pada keadaan septichemia. Pada dasarnya seluruh tubuh bangkai
penderita, termasuk benda yang keluar dari bangkai tersebut mengandung
endospora bakteri ini. Dalam satu milliliter darah setidaknya mengandung 1 miliar
endospora. Spora-spora tersebut dapat diterbangkan angin, atau dihanyutkan
aliran air kemudian dapat mencemari air, pakan, rumput, peralatan dan sebagainya
(Sudarsono et al.,2015).
Hampir semua mamalia peka terhadap anthrax. Di Indonesia anthrax
sering dijumpai pada sapi, kerbau, kambing, domba, kuda dan kadang pada babi.
Tanah berkapur dan tanah yang bersifat basa /alkalis merupakan habitat yang
sangat sesuai untuk endospora anthrax. Umumnya anthrax menyerang hewan pada
musim kering / kemarau, karena rumput sangat langka, sehingga sering terjadi
ternak makan rumput yang tercabut sampai akarnya. Lewat akar rumput inilah
kemungkinan bisa terbawa pula spora dari anthrax (Shadomy et al., 2016).
6

2.4. Patogenesa Penyakit


Penentu patogenitas dari B. anthracis adalah adanya 2 faktor virulensi
yaitu capsul dan antigen toxin yang berupa exotoxin complex yang terdiri dari
PA/Protective Antigen, LF/Lethal Factor dan EF/Edema Factor yang dapat
dihasilkan. Capsul akan menyebabkan gangguan pada proses fagositosis
sedangkan exotoxin complex berhubungan dengan gejala yang ditimbulkan.
Protective Antigen akan mengikat reseptor yang selanjutnya diikuti masuknya
Lethal Factor dan Edema Factor ke dalam sel. Sinergi antara PA dengan EF akan
menyebabkan edema sedangkan sinergi antara PA dengan LF akan menyebabkan
kematian (Hicks et al. 2011).
Infeksi dapat terjadi melalui kulit dan alat pernafasan, tetapi kejadian yang
paling sering adalah melalui saluran pencernaan. Spora teringesti/termakan,
kemudian mengalami germinasi dan menjadi bentuk vegetatif dalam mukosa
kerongkongan ataupun saluran pencernaan. Kapsul yang tersusun oleh asam
poliglutamat akan terbentuk dan berfungsi melindungi bakteri dari proses
fagositosis serta antibodi yang akan melumpuhkan bakteri tetapi tidak menggertak
pembentukan antibodi pelindung. B. anthracis yang bersifat virulen hanya galur
yang mempunyai kapsul dan bersifat toksigenik (Qureshi, 2012).
Pada hewan yang mati karena Anthrax sekitar 80% bakteri ditemukan
dalam darah dan sekitar 20% ditemukan di dalam limfa. Hewan mati diakibatkan
oleh produksi toksin yang dikeluarkan oleh bakteri ini. Kapsul dan toksin
merupakan dua faktor virulen yang penting yang dimiliki oleh B. anthracis.
Toksin bakteri merusak sel tubuh jika telah berada di dalamnya. Toksin ini terdiri
dari: Antigen pelindung (AP)/ Protective antigen; Faktor edema (FE)/Oedema
factor dan Faktor letal (FL)/Lethal factor (Hicks et al. 2011).
Antigen pelindung merupakan protein, faktor edema merupakan protein
karbohidrat dan pembawa kematian merupakan protein dengan berat molekul
Komponen toksin ini tidak dapat berefek jika berdiri sendiri-sendiri. Terjadinya
edema apabila edema faktor bertemu dengan antigen pelindung atau edema faktor
dengan antigen pelindung dan faktor lethal. Sedangkan kematian terjadi apabila
7

faktor edema dan antigen pelindung, antigen pelindung dengan faktor letal atau
faktor edema dengan antigen pelindung dan faktor letal (Sudarsono et al.,2015).

2.5. Penularan Penyakit


Menurut Qureshi (2012), penularan antraks pada manusia terjadi melalui
kontak langsung dengan spora antraks yang ada di dalam tanah, pada tanaman
atau kontak dengan produk dari ternak yang terinfeksi. Penularan pada manusia
dapat melalui: (1) Inhalasi (terhirup spora antraks yang ada di udara (aerosol)
melalui saluran pernafasan), tidak menyebar dari orang ke orang seperti pada flu;
(2) Ingesti (mengonsumsi produk hewan yang terkontaminasi antraks melalui
mulut masuk ke saluran pencernaan), mengonsumsi daging mentah atau setengah
matang dari ternak yang terinfeksi antraks; dan (3) Cutaneous (melalui luka pada
kulit) terjadi ketika luka pada kulit seseorang bersentuhan langsung dengan
produk ternak yang terkontaminasi spora antraks.

Cara penularan dan penyebaran penyakit anthrax, antara lain: a). Di daerah
iklim panas lalat penghisap darah antara lain jenis Tabanus dapat bertindak sebagai
pemindah penyakit. b). Rumput pada lahan yang tercemari penyakit ini dapat
8

ditempati spora. c). Dari pakan yang kasar atau ranting-ranting yang tumbuh di
wilayah yang terjangkit penyakit anthrax. bahan pakan ini menusuk membran di
dalam mulut atau saluran pencernaan dan masuklah bakteri B. anthracis tersebut
melalui luka-luka itu. jadi melalui luka-luka kecil tersebut maka terjadi infeksi
spora. d). Penularan dapat terjadi karena ternak menelan tepung tulang atau pakan
lain atau air yang sudah terkontaminasi spora. e). Gigitan serangga pada ternak
penderita di daerah wabah yang kemudian serangga tersebut menggigit ternak lain
yang peka di daerah yang masih bebas. f). Pada manusia, biasanya infeksi berasal
dari ternak melalui permukaan kulit terluka, terutama pada orang-orang yang
banyak berhubungan dengan ternak. g). Infeksi melalui pernafasan mungkin terjadi
pada pekerja-pekerja penyortir bulu domba (wool-sarter’s disease). h). Melalui
pencernaan terjadi pada orang-orang yang makan daging asal ternak penderita
anthrax (Naipospos, 2011).

2.6. Gejala Klinis Penyakit Anthrax


Gejala klinis Anthrax pada hewan diawali dengan suhu tubuh tinggi sekitar
41-42 °C, kehilangan nafsu makan yang mengarah kepada terhentinya produksi
susu pada sapi perah, edema di sekitar leher, hidung, kepala dan scrotum, selain itu
penderita terlihat sempoyongan, gemetar dan dengan segera timbul kematian.
Penderita yang lemah biasanya mati dalam waktu 1–3 hari. Pada babi dan kuda
umumnya lebih tahan, gejala penyakit berjalan secara kronis dan menyebabkan
pembengkakan pada daerah tenggorokan. Manusia dapat terinfeksi melalui salah
satu dari ketiga kemungkinan yaitu melalui kulit, melalui inhalasi atau melalui
ingesti (Naipospos, 2011).
Gejala infeksi anthrax pada hewan antara lain hewan yang terinfeksi
menjadi lemah, panas tubuh tidak merata, paha gemetar, seolah-olah ada rasa nyeri
meliputi pinggang, perut atau seluruh tubuh. Periode inkubasi pada hewan
herbivora yang rentan bervariasi dari sekitar 36 jam sampai 72 jam, melanjut ke
fase sistemik hiper-akut, biasanya tanpa dikenali sebelum ada gejala. Gejala
pertama adalah kematian mendadak satu atau dua ekor dalam populasi terserang.
Nafsu makan sangat berkurang atau tidak ada. Sekresi susu dan ruminasi berhenti,
9

perut menjaadi kembung. Daerah leher, dada, sisi lambung, pinggang, dan alat
kelamin luar menjadi bengkak. Pembengkakan ini menjadi cepat berkembang dan
meluas. Bila bagian tubuh tersebut diraba terasa panas, konsitensi lembek atau
keras. Kulit terlihat normal utuh atau terdapat luka yang mengeluarkan eksudat cair
berwarna kuning muda (Mebratu et al., 2015).
Infeksi anthrax menyebabkan adanya radang limpa. Limpa merupakan
organ yang berkaitan dengan pembentukan dan destruksi sel darah, tempat
penyimpanan darah sementara dan kemudian dikeluarkan kembali bila diperlukan.
Organ ini merupakan sasaran B. anthracis yang akan memasuki limpa dan
berkembang di sana. Limpa akan membengkak, berisi darah yang sianotik atau
berwarna biru kehitaman. Gejala yang tampak keluarnya darah kehitaman dari
setiap lubang tubuh. Gejala perakut tidak terlihat karena hewan mati dalam
beberapa menit atau dua jam setelah kena infeksi anthrax. Tanda-tanda yang terlihat
ialah keluar darah kehitaman seperti aspal dari lubang-lubang tubuh beberapa saat
sebelum dan sesudah mati. Karkas cepat mengalami pembusukan, tidak
menunjukkan kekakuan atau rigor mortis dan darah tidak membeku (Ditjen PKH.,
2016).

2.7. Diagnosis Laboratoris


Menurut Martin dan Friedlander (2010) Penegakan diagnosa perlu
dilakukan pemeriksaan laboratoris dengan pengecatan langsung atau kultur
terhadap specimen yang diambil dari malignant pustule, sputum, darah atau
discharge penderita. Metode / uji laboratorium lainnya yang dapat dilakukan di
laboratorium dapat berupa:
- Uji mikroskopis, dengan pewarnaan metilen blue polichroatic dram atau wrigh
- Kultural bakteriologik pada media agar darah dan kaldu protein
- Identifikasi B. anthracis dengan media gula-gula
- Uji ascoli dan biologik pada hewan coba
- Uji serologis dengan PCR (Polymerasi Chain Reaction) dan ELISA (Enzyme
Linked Immuosorbent Assay).
10

Yang perlu diketahui adalah bahwa diagnosa laboratoris terhadap tersangka


anthrax hanya boleh dilakukan oleh laboratorium tertentu yang mempunyai standar
BSL2 /Biological Safety Level 2 (Ditjen PKH., 2016).

2.8. Penanganan dan Pengobatan Penyakit Antraks


Langkah-langkah yang ditempuh untuk mengatasi penyakit antrak adalah:
Pada hewan: pada setiap kejadian atau dugaan anthrax pada hewan harus segera
dilaporkan kepada Dokter Hewan yang berwenang dan Dinas Peternakan setempat,
karena dampaknya bisa sangat luas apabila dilakukan penanganan yang salah.
Pengobatan dapat menggunakan penisilin, tetrasiklin, dan preparat sulfa. Apabila
pengaruh obat sudah hilang, vaksinasi baru dapat dilakukan sebab pengobatan dapat
mematikan endospora yang terkandung dalam vaksin. Untuk memutus rantai
penularan, bangkai ternak tersangka anthrax dan semua material yang diduga
tercemar misalnya karena pernah bersinggungan dengan hewan penderita harus
dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur dalam-dalam serta bagian atas dari
lubang kubur dilapisi batu kapur secukupnya. Area penguburan hendaknya diberi
tanda supaya semua pengembalaan hewan di area sekitar menjauhi lokasi penguburan
(Adji dan Natalia, 2006).
Pemberian antibiotik intravena direkomendasikan pada kasus antraks inhalasi,
gastrointestinal dan meningitis. Pemberian antibiotik topikal tidak dianjurkan pada
antraks kulit. Antraks kulit dengan gejala sistemik, edema luas, atau lesi di kepala dan
leher juga membutuhkan antibiotic intravena. Walaupun sudah ditangani secara dini
dan adekuat, prognosis antraks inhalasi, gastrointestinal, dan meningeal tetap buruk
(Bahri dan Martindah, 2010).
Bacillus anthracis alami resisten terhadap antibiotik yang sering
dipergunakan pada penanganan sepsis seperti sefalosporin dengan spektrum yang
diperluas tetapi hampir sebagian besar kuman sensitif terhadap penisilin, doksisiklin,
siprofloksasin, kloramfenikol, vankomisin, sefazolin, klindamisin, rifampisin,
imipenem, aminoglikosida, sefazolin, tetrasiklin, linezolid, dan makrolid. Bagi
penderita yang alergi terhadap penisilin maka kloramfenikol, eritromisin, tetrasikilin,
atau siprofloksasin dapat diberikan (Adji dan Natalia, 2006).
11

2.9. Pencegahan Penyakit


Penambahan saponin dalam vaksin akan menghambat penyebaran yang
cepat dari spora ke dalam jaringan sehingga akan dihasilkan efek adjuvan (vaksin
carbozoo). Vaksin Anthrax telah dibuat atau diproduksi oleh beberpa negara yang
kesemuanya menggunakan spora. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
vaksinasi Anthrax antara lain penyimpanan vaksin tidak boleh di frezzer tetapi di
refrigeratornya. Hewan-hewan yang sedang dalam pengobatan antibiotika tidak
diijinkan untuk divaksin Anthrax misalnya sapi perah dalam pengobatan karena
mastitis. Hewan yang akan dipotong dalam waktu minimal 6 minggu sebelumnya
tidak boleh divaksin (Pohan, 2005).
Selain itu perlu dilakukan pemusnahan bangkai hewan yang mati karena
anthrax secara benar sehingga tidak memungkinkan endospora dari bakteri ini
untuk menjadi sumber infeksi. Vaksinasi pada hewan ternak perlu dilakukan untuk
mencegah infeksi pada ternak sapi, kerbau, kambing, domba maupun kuda (Bahri
dan Martindah, 2010).

PENUTUP
Kesimpulan
1) Antrhax adalah penyakit menular akut dan sangat mematikan yang
disebabkan bakteri Bacillus anthracis dalam bentuknya yang paling ganas.
2) Antraks sering menyerang herbivora-herbivora liar dan yang telah
dijinakkan. Penyakit ini bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari
hewan ke manusia, namun tidak dapat ditularkan antara sesama manusia.
3) Proses masuknya spora anthrax dapat dengan empat cara yaitu: inhaled
anthrax, cutaneous anthrax, gastrointestinal anthrax dan meningitis anthrax.
12

DAFTAR PUSTAKA

Adji R.S., dan L. Natalia, 2006. Pengendalian Penyakit Anthrax: Diagnosa,


Vaksinasi, dan investigasi. WARTAZOA. 16 (4). 198-205.

Bahri S., dan E. Martindah, 2010. Kebijakan pengendalian penyakit strarogram


kecukupan daging sapi 2010. Lokakarya Nasional ketersediaan IPTEK dalam
pengendalian penyakit strategis pada ternak ruminansia besar. Jakarta.

Dey R, Hoffman PS, Glomski IJ (2012). Germination amplification anthrax


spores by soil-dwelling amoebas. Appl. Environ. Microbiol. 78(22.

Ditjen PKH. 2016. Pedoman pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan


menular (PHM): Seri penyakit antraks. Jakarta (Indonesia): Direktorat
Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kementerian Pertanian.

Fasanella A., D. Galante, G. Garofolo, and M.H. Jones. 2010. Anthrax


undervalued Zoonosis. Veterinary Microbiology 140; 318-331.

Ganz HH, Turner WC, Brodie EL, Kusters M, Shi Y, Sibanda H, Torok T, Getz
WM (2014). Interactions between Bacillus anthracis Plants May Promote
Anthrax Transmission. PLoS Negl. Trop. Dis. 8(6): e2903.

Hendricks KA, Wright ME, Shadomy S V, Bradley JS, Morrow MG, Pavia AT,
Rubinstein E, Holty JEC, Messonnier NE, Smith TL, et al. 2014. Centers
for disease control and prevention expert panel meetings on prevention and
treatment of anthrax in adults. Emerg Infect Dis [Internet]. 20. Available
from: http://dx.doi.org/10.3201/eid2002. 130687.

Hicks CW, Cui X, Sweeney DA, Li Y, Barochia A, Eichacker PQ. 2011. The
potential contributions of lethal and edema toxins to the pathogenesis of
anthrax associated shock. Toxins (Basel). 3:1185-1202.

Kementerian Pertanian. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.


2016. Pedoman pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan
menular (PHM); seri penyakit anthrax. Jakarta.

Mari. A.S., A.A. Kamboh, K-ur-R. Bhutto, I. A. Sahito , and S.H. Abro. 2017.
Prevalence of Bacillus anthracis Spores in Soil of District Badin. Journal
of Animal Health and Production. Volume 5. Issue 2. P.79-84.
http://dx.doi.org/10.17582/journal.jahp/2017/5.2.79.84.

Martin G.J., and A.M. Friedlander. 2010. Bacillus anthracis (Anthrax). In:
Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, editors. Mandell, Douglas, and
Bennett’s Principles and Practice of Infectious Diseases. Philadelphia
(US): Churchill Livingstone. p. 2715-2725.
13

Martindah, E. 2017. Faktor risiko, sikap dan pengetahuan masyarakat peternak


dalam pengendalian penyakit antraks. WARTAZOA Vol. 27. No. 3.

Molyneux D, Hallaj Z, Keusch GT, McManus DP, Ngowi H, Cleaveland S,


Ramos-Jimenez P, Gotuzzo E, Kar K, and Sanchez A, et al. 2011.
Zoonoses and marginalised infectious diseases of poverty: Where do we
stand? Parasites Vectors. 4:106.

Naipospos TSP. 2011. Pertanian, tradisi dan antraks. Blog Veteriner Ku [Internet].
[disitasi 12 Februari 2017]. Tersedia dari: http://tatavetblog.blogspot.com
/2011/ 08/pertanian-tradisi-dan-antraks.html.

Pohan HT.2005. Patogenesis, Diagnosis dan Penatalaksanaan Antraks.Majalah


Kedokteran Indonesia; vol 55; no 1; hal 23- 29.

Qureshi S. 2012. The cycle of infection in anthrax. Georgia Gwinnett College


[Internet]. [cited 12 February 2017]. Available from:
http://wiki.ggc.usg.edu/wiki/ Anthrax_Fall_%2711

Shadomy S, El Idrissi A, Raizman E, Bruni M, Palamara E, Pittiglio C, Lubroth J.


2016. Anthrax outbreaks: A warning for improved prevention, control and
heightened awareness. Rome (Italy): FAO.

Sudarsono I, Prijono WB, Handoko A. 2015. Tindak lanjut wabah antraks di


Kabupaten Blitar. Buletin Laboratorium Veteriner. 15:10-16.

Sudarsono I. 2013. Pengendalian anthrax dan keterkaitan perilaku masyarakat


dengan perkembangan kasus anthrax di kabupaten Boyolali. Buletin
Laboratorium Veteriner BBVet Wates Jogjakarta 13 (3): 10-12.

Turnbull P, and Salisbury. 2008. Anthrax in human and animal [Internet]. 4th ed.
Geneva (Switzerland): OIE, WHO and FAO. Available from:
http://www.who.int/csr/ resources/publications/anthrax_web.pdf.

WHO. 2017. International travel and health: Anthrax. World Health Organization
[Internet]. [cited 12 February 2017]. Available from: http://www.who.int/
ith/diseases/ anthrax/en.