Anda di halaman 1dari 36

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. ASI Eksklusif

1. Definisi

ASI eksklusif menurut World Health Organization (WHO, 2011)

adalah memberikan hanya ASI saja tanpa memberikan makanan dan

minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan, kecuali

obat dan vitamin. Namun bukan berarti setelah pemberian ASI eksklusif

pemberian ASI dapat dihentikan, akan tetapi tetap diberikan kepada bayi

sampai bayi berusia 2 tahun. Pemberian ASI eksklusif merupakan

investasi terbaik bagi kesehatan dan kecerdasan anak (Depkes, 2007).

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI tanpa tambahan cairan seperti

susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan

padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim

(Roesli, 2009).ASI eksklusif yaitu hanya ASI saja tanpa makanan dan

minuman lain sampai Anak berumur 6 bulan, memberikan Makanan

Pendamping ASI (MPASI) yang tepat dan adekuat sejak usia 6 bulan dan

tetap meneruskan pemberian ASI sampai usia anak 24 bulan (Basuki,

2009).

2. Epidemiologi

Berdasarkan data dari Kabupaten/Kota diketahui bahwa cakupan

bayi yang mendapat ASI Eksklusif di Jawa Timur tahun 2016 sebesar

6
7

74% . Cakupan tersebut mengalamipeningkatan dari tahun ke tahun sejak

tahun 2011 (61,5%). Secara keseluruhan pencapaian di JawaTimur (74%)

belum memenuhi target yang telah ditetapkan (77%). Ada 15 kabupaten /

kota yang sudah memenuhi target, sedangkan 23 kabupaten / kota lainnya

belum mencapai target. Kota Sidoarjo merupakan salah satu kabupaten

dengan cakupan ASI eksklusif yang rendah, pada tahun 2016 cakupan

ASI eksklusif di kabupaten tersebut hanya 65%. (Dinkes Jatim,2016).

3. Kandungan ASI

Seperti halnya nutrisi pada umumnya, ASI mengandung komponen

makro danmikro nutrien. Yang termasuk makro nutrien adalah

karbohidrat, lemak danprotein sedangkan mikro nutrien adalah mineral

dan vitamin. ASI hampir 90% mengandung air. Komposisi dan volume

nutrien bergantung pada kebutuhan bayi Dibawah ini akan diuraikan

mengenai nutrisi yang terkandung didalam ASI : (IDAI, 2008)

a. Karbohidrat

Karbohidrat yang utama terkandung dalam ASI adalah laktosa

yang berfungsi untuk sumber energi dalam otak. Kadar laktosa pada ASI

lebih banyak 2 kali lipat dibandingkan dengan susu formula atau susu

sapi. Kadar karbohidrat pada kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi

meningkat terutama laktosa padaASI transisi (7-14 hari setelah

melahirkan). Sesudah melewati masa itu maka kandungan karbohidrat

didalam ASI relatif stabil.


8

b. Protein

Kadar protein dalam ASI cukup tinggi dan berbeda dengan protein

yang terdapat didalam susu sapi. Protein dalam ASI dan susu sapi terdiri

dari protein whey dan casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari

protein whey yang lebih mudah untuk diserap usus halus, sedangkan

casein lebih banyak ditemukan pada susu sapi yang susah untuk dicerna

oleh usus halus. Kadar casein di dalam susu sapi mencapai 80%

dibanding ASI yang mengandung protein casein 20 %. Kadar beta

laktoglobulin, yaitu fraksi dari protein whey tidak terdapat di dalam ASI

dan banyak terdapat pada susu sapi. Beta laktoglobulin merupakan jenis

protein yang dapat menyebabkan terjadinya alergi. Kualitas protein ASI

juga dapat terlihat dari profil asam amino (unit yang membentuk protein).

ASI mempunyai jenis asam amino yang lebih lengkap

dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya asam amino taurin,

merupakan asam amino yang berperan pada perkembangan otak. Taurin

ini juga sangat dibutuhkan oleh bayi prematur, karena kemampuan bayi

prematur untuk membentuk protein ini sangat rendah.ASI juga kaya

nukleotida (berbagai jenis senyawa organik yang tersusun atas3 jenis

yaitu karbohidrat, nitrogen dan fosfat). Selain itu kualitas dan jumlah

nukleotida ASI lebih tinggi dibandingkan susu sapi. Nukleotida ini

berfungsi untuk meningkatkan kematangan dan pertumbuhan usus,

merangsang bakteri baik di dalam usus dan meningkatkan penyerapan

besi dan daya tahan tubuh.


9

c. Lemak

Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibandingkan di dalam susu

formula atau susu sapi. Kadar lemak yang tinggi dibutuhkan untuk

pertumbuhan otak pada masa bayi. Profil lemak dalam ASI berbeda

dengan susu formula.Lemak omega 3 dan 6 banyak ditemukan didalam

ASI. Selain itu juga mengandung banyak asam lemak rantai panjang yaitu

ARA (Asam Arakidonat) dan DHA (Asam Dokosa heksanoik) yang

berperan penting pada perkembangan saraf dan retina mata. Susu formula

atau sapi tidak mengandung komponen tersebut, oleh karena itu

ditambahkan DHA dan ARA. Tetapi sumber yang ditambahkan di susu

formula tidak sebaik yang terdapat didalam ASI. Jumlah lemak total di

dalam kolostrum lebih sedikit dibandingkan ASI matang, tetapi

mempunyai presentasi asam lemak rantai panjang yang tinggi. ASI juga

mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh, berbeda dengansusu

formula yang hanya mengandung asam lemak jenuh. Seperti kita ketahui

bahwa konsumsi asam lemak jenuh dalam waktu lama dan jumlah yang

banyak tidak baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

d. Karnitin

Karnitin mempunyai peran dalam membantu proses pembentukan

energi yang diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh.

Konsentrasi karnitin pada bayi yang mendapatkan ASI lebih tinggi

dibandingkan yang mendapat susu formula. ASI mengandung kadar


10

karnitin lebih tinggi pada 3 minggu pertama menyusui, bahkan didalam

kolostrum kadar karnitin lebih tinggi lagi.

e. Vitamin

1) Vitamin K

Vitamin K dibutuhkan sebagai faktor pembekuan. Kadar

vitamin K ASI seperempatnya kadar dalam susu formula. Bayi

yang hanya mendapat ASI lebih berisiko terjadinya perdarahan,

walaupun kasus perdarahan jarang terjadi. Oleh sebab itu pada

umumnya bayi baru lahir diberikan vit K dalam bentuk suntikan.

2) Vitamin D

Vitamin D sedikit terkandung di dalam ASI. Hal ini tidak

dikhawatirkan karena dengan menjemur bayi dipagi hari maka

bayi akan mendapat vitamin D yang berasal dari matahari.

Sehingga pemberian ASI eksklusif ditambah dengan membiarkan

bayi terpapar sinar matahari untuk mencegah bayi kekurangan

vitamin D.

3) Vitamin E

Fungsi vitamin E adalah untuk ketahanan dinding sel darah

merah. Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan terjadinya

kekurangan darah (anemia hemolitik). Keuntungan ASI adalah

kandungan vitamin E nya tinggi terutama ada kolostrum dan ASI

transisi awal.
11

4) Vitamin A

Vitamin A berfungsi untuk pertumbuhan, kekebalan tubuh,

pembelahan sel dan kesehatan mata. ASI tidak saja mengandung

vitamin A yang tinggi tetapi juga bahan bakunya yaitu beta

karoten. Hal ini yang menerangkan bahwa bayi yang mendapatkan

ASI mempunyai tumbuh kembang dan daya tahan tubuh yang

tinggi.

5) Vitamin yang larut dalam air

Vitamin yang larut dalam air seperti asam folat, vitamin B,

vitamin C hampir semua terdapat di dalam ASI. Makanan yang

dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar vitamin di dalam ASI.

Kadar vitamin B1 dan B2 cukup tinggi dalam ASI tetapi kadar

vitamin B6, B12, asam folat rendah pada ibu dengan gizi kurang.

Vitamin B12 cukup didapat dari makanan sehari-hari kecuali ibu

menyusui yang vegetarian. Sedangkan vitamin B16 dibutuhkan

pada tahap awal perkembangan sel saraf maka ibu yang menyusui

perlu ditambahkan vitamin ini.

6) Mineral

Mineral di dalam ASI mempunyai kualitas yang lebih baik

dari pada susu formula. Kadar mineral di dalam ASI tidak

dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi dan status gizi ibu.

Mineral utama yang terdapat di dalam ASI adalah kalsium yang

dibutuhkan untuk pertumbuhan jaringan otot dan rangka.


12

Transmisi jaringan saraf, dan pembekuan darah. Walaupun kadar

kalsium ASI lebih rendah dari pada susu formula tetapi tingkat

penyerapannya lebih tinggi. Penyerapan kalsium ini dipengaruhi

oleh kadar fosfor, magnesium, lemak dan vitamin D. Perbedaaan

kadar lemak dan mineral diatas dapat menyebabkan perbedaan

tingkat penyerapan. Kekurangan kadar kalsium darah dan kejang

otot lebih banyak ditemukan pada bayi yang mengkonsumsi susu

formula atau susu sapi. Bayi yang mendapat ASI mempunyai

resiko lebih kecil untuk mengalami kekurangan zat besi. Hal ini

disebabkan karena zat besi yang berasal dari ASIlebih mudah

diserap, yaitu 20-50% dibandingkan 4-7% susu formula.Keadaan

ini tidak perlu dikhawatirkan karena pada usia 6 bulan dapat

diberikan makanan padat yang mengandung zat besi.

Mineral zink yang dibutuhkan oleh tubuh karena berperan

membantu proses metabolisme. Salah satu penyakit yang timbul

karena kekurangan mineral adalah acrodermatitis enterophatica

dengan gejala diare kronis, kemerahan pada kulit, gelisah dan

gagal tumbuh kembang. Kadar zink menurun cepatdalam waktu 3

bulan menyusui. Seperti halnya pada zat besi, kadar mineral

rendah dalam ASI tetapi penyerapannya lebih tinggi. Mineral yang

juga tinggi terdapat di dalam ASI adalah selenium, yang

dibutuhkan untuk pertumbuhan cepat anak.


13

4. Manfaat Pemberian ASI

ASI eksklusif adalah pemberian ASI secara murni tanpa pemberian

cairan lain seperti air putih atau susu formula. Pemberian ASI eksklusif

dianjurkan untuk jangka waktu empat sampai 6 bulan. Menurut WHO

(World Health Organization) ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa

tambahan makanan padat atau cairan apapun kecuali mineral, vitamin,

atau obat dalam bentuk sirup atau pun tetes sampai usia 6 bulan.Manfaat

pemberian ASI eksklusif pada bayi sangat banyak antara lain :

(Bonny,2006) :

a. ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh

Secara alamiah bayi yang baru lahir mendapat imunoglobulin dari

ibunyamelalui plasenta, tetapi kadar tersebut menurun dengan segera

setelah kelahiran. Badan bayi dengan alamiah akan memproduksi

imunoglobulin secara cukup saat mencapai usia sekitar empat bulan.

Pada saat kadar imunoglobulin dari ibu menurun dan yang dibentuk

oleh bayi belum mencukupi, terjadilah suatu kesenjangan

immunoglobulin. Kesenjangan ini dapat diatasi dengan pemberian

ASI. ASI merupakan cairan yang mengandung zat anti bodi sehingga

menjadi pelindung untuk terpaparnya penyakit infeksi bakteri, virus

dan mikroorganisme lainnya.

b. ASI merupakan nutrisi yang terbaik

ASI adalah makanan yang paling sempurna baik kualitas maupun

kuantitas. ASI merupakan sumber gizi yang ideal dengan komposisi


14

yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Dengan melaksanakan tata cara menyusui dengan tepat dan benar,

produksi ASI sudah cukup menjadi makanan tunggal untuk bayi

hingga usia 6 bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan harus mulai diberi

makanan pendamping atau tambahan, tetapi ASI masih dapat

diteruskan hingga usia 2 tahun atau lebih.

c. ASI eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang

Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusui akan

merasakan kasih sayang dari ibunya. Ia juga akan merasa nyaman dan

tentram karena masih dapat mendengar detak jantung ibunya yang

telah ia kenal sejak berada di dalam kandungan. Perasaan disayangi

dan terlindungi inilah yang akan menjadi dasar spiritual dan

membentuk kepribadian percaya diri yang baik serta perkembangan

emosi bayi.

d. ASI eksklusif mengembangkan kecerdasan

Perkembangan kecerdasan otak anak sangat berkaitan erat dengan

pertumbuhan otak. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan otak

adalah nutrisi yang diterima oleh bayi saat pertumbuhan otak,

terutama saat pertumbuhan otak berlangsung dengan cepat. ASI

merupakan nutrisi ideal dengan komposisi yang tepat dan sesuai

kebutuhan bayi serta mengandung berbagai nutrien khususnya nutrien

yang diperlukan bagi pertumbuhan optimal bayi.


15

e. ASI mengandung zat laktoferin yang mengikat ASI, sehingga selama

diusus tidak ada zat besi yang hilang.

Manfaat dari menyusui bukan hanya sangat mudah diberikan dan

higenis, ASI mengandung semua nutrien yang dibutuhkan anak dalam

jumlah yang benar dan tidak pernah “basi”. Manfaat paling penting

menyusui adalah perlindungan terhadap infeksi seperti diare, infeksi

pernafasan, dan lain-lain. Bahkan ketika sang ibu mengidap suatu infeksi,

anak tetap terlindungi, hal ini terjadi karena segera setelah penyakit apa

pun memasuki tubuh ibu, ibu memproduksi antibodi untuk melawannya.

Antibodi ini dikeluarkan juga melalui ASI. Maka, anak sudah dipersenjatai

dengan perlindungan melawan infeksi apapun diidap oleh ibu maupun

anggota keluarga. Inilah sebabnya ibu tidak perlu menghindar dari anak

ketika ibu mengidap penyakit ringan. Menyusui sebagai kontrasepsi alami

juga mengurangi kemungkinan untuk segera hamil lagi setelah

melahirkan. Hal ini terjadi karena selama menyusui ibu akan memiliki

kadar hormon yang disebut prolaktin lebih tinggi (Ramaiah S, 2007).

5. Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif

Menurut Roesli (2005) bahwa terdapat faktor-faktor yang

mempengaruhi terhadap keberhasilan pemberian ASI ekslusif diantaranya

yakni pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemberian ASI ekslusif,

dukungan suami, aktivitas ibu dengan bekerja. Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi dalam pemberian ASI ekslusif sebagai berikut :


16

a. Pengetahuan Ibu

Menurut penelitian Lestari et al, (2013), sebagian besar tingkat

pengetahuan ibu yang rendah menjadi responden yaitu sebanyak 44

orang (61,1%) akan tetapi sebanyak 28 ibu (38,9%) memiliki tingkat

pengetahuan yang tinggi dalam mengetahui manfaat pemberian ASI

eksklusif yang benar. Umumnya kurangnya pengetahuan ibu tentang

ASI eksklusif ada hubungannya dengan pemberian ASI eksklusif

terhapat bayinya (Lestari et al,2013). Kenyataan dari hasil penelitian

ini bahwa ibu kurang dalam mengetahui tindakan pemberian ASI

eksklusif sehingga menyebabkan kegagalan dalam pemberian ASI

eksklusif.

Pengetahuan yang rendah tentang gangguan pemberian ASI akan

dapat diubah dengan melakukan tindakan untuk mengatasi masalah

dalam pemberian ASI ekslusif. Hal itu karena ibu kedepannya menjadi

paham bahwa ASI ekslusif memberikan banyak manfaat bagi bayi dan

menyusui juga merupakan tanggung jawab dalam memenuhi

kebutuhan nutrisi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan

(Contstance,2005).

b. Pendidikan Ibu

Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan seseorang terhadap

perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita tertentu yang

menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk

mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk


17

mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan

sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup (Subur,2012).

Tingkat pendidikan menurut UU No 20 Tahun 2003 adalah

1) Pendidikan dasar / rendah (SD – SMP / MTs)

2) Pendidikan menengah (SMA / SMK)

3) Pendidikan Tinggi (D3 / S1)

Tingkat pendidikan dapat memudahkan seseorang atau masyarakat

untuk menyerap informasi dan menerapkannya dalam perilaku hidup

sehari-hari (Astari, 2006; Girma et al.,2002).

c. Usia Ibu

Pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh usia ibu. Umur yang

kurang dari 20 tahun merupakan masa pertumbuhan termasuk organ

reproduksi (payudara), semakin muda usia ibu, maka pemberian ASI

kepada bayi cemderung semakin kecil karena tuntutan sosial, kejiwaan

ibu, dan tekanan sosial yang dapat mempengaruhi produksi ASI.

Umur 20-35 tahun merupakan usia yang ideal untuk memproduksi

ASI yang optimal dan kematangan jasmani dan rohani dalam diri ibu

sudah terbentuk. Umur lebih dari 35 tahun organ reproduksi sudah

lemah dan tidak optimal dalam pemberian ASI eksklusif (Hidayati,

2012).

d. Dukungan keluarga

Dukungan keluarga khususnya suami merupakan bagian yang

vital dalam keberhasilan atau kegagalan menyusui. Masih banyak


18

suami yang berpendapat salah mengenai dukungan suami kepada ibu

menyusui bayinya. Para suami berpendapat bahwa menusui adalah

urusan ibu dan bayinya. Mereka menganggap cukup menjadi pengamat

yang pasif saja sebenarnya suami mempunyai peran yang sangat

menentukan dalam keberhasilan menyusui karena suami akan turut

menetukan kelancaran refleks pengeluaran ASI yang dipengaruhi

keadaan emosi atau perasaan ibu.

e. Pekerjaan Ibu

Menurut Nugroho (2011) bahwa sebagian besar wanita bekerja

mencari nafkah di luar rumah serta sering harus meninggalkan

keluarga untuk beberapa jam setiap harinya sehingga mengganggu

proses menyusui bagi mereka yang baru saja bersalin. Hal ini sesuai

tuntutan hidup di kota besar, dimana semakin terdapat kecenderungan

peningkatan jumlah istri yang aktif bekerja diluar rumah guna

membantu upaya peningkatan pendapatan keluarga.

Tenaga kerja perempuan yang meningkat menjadi salah satu

kendala dalam mensukseskan program ASI eksklusif, hal ini karena

cuti melahirkan hanya 12 minggu, dimana 4 minggu diantaranya sering

harus diambil sebelum melahirkan. Dengan demikian, ibu yang bekerja

hanya dapat mendampingi bayinya secara intensif hanya 2 bulan,

termasuk dalam penyusuan bayinya. Setelah itu ibu harus kembali

bekerja dan sering ibu terpaksa berhenti menyusui.


19

f. Kebiasaan Pemberian MP-ASI Dini

Makanan pendamping ASI (MP-ASI) merupakan makanan atau

minuman yang mengandung gizi diberikan pada bayi atau anak yang

berumur 6-24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizinya (Depkes, 2006).

Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya pemberian ASI

eksklusif adalah praktek pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI)

pada bayi usia kurang dari 6 bulan. Seperti yang dilansir dalam penelitian

Fikawati dan Syafiq (2003) dalam Nelvi (2004) menemukan kegagalan

pelaksanaan ASI Eksklusif telah dimulai sejak 3 hari pertama kelahiran

yaitu, lebih dari 80% responden yang tidak ASI ekslusif 4 bulan telah

memberikan MP – ASI dini dalam tiga hari pertama kepada bayinya. Hal

ini diperkuat dengan data Litbangkes yang menemukan pemberian

makanan bayi di Indonesia masih banyak yang belum sesuai dengan

umurnya, terutama di daerah pedesaan. Bahkan hasil penelitian yang

dilakukan Irawati (2007) menunjukkan bahwa lebih dari 50% bayi di

Indonesia mendapat makanan pendamping ASI dengan usia kurang dari

satu bulan.

Pada saat bayi berusia 0 – 6 bulan pemberian ASI saja sudah cukup,

dimana komposisi ASI masih bisa mencukupi untuk pertumbuhan dan

perkembangan bayi apabila ASI diberikan secara tepat dan benar sampai

bayi berusia 6 bulan.

Hasil penelitian Irawati tahun 2004 menyatakan bahwa, jenis

makanan pendamping ASI dini yang dikonsumsi bayi antara lain pisang,

susu formula (bubuk dan kental manis), biskuit, bubur beras, makanan
20

bayi produk industri, nasi lumat, susu formula, susu non-formula, air

putih, air gula (gula pasir/gula kelapa/gula aren), air tajin, air kelapa, sari

buah, teh manis, madu, nasi/bubur. Makan-makanan tersebut banyak

beredar dan mudah didapatkan di masyarakat bahkan ibu bisa

membuatnya sendiri di rumah.

Kemudahan ini menjadi salah satu alasan ibu untuk memberikan MP-

ASI dini pada bayinya. Sedangkan alasan lain yang mendorong ibu untuk

memberikan MP-ASI dini diantaranya, produksi ASI sedikit, supaya bayi

cepat besar, adanya anjuran dari keluarga, orang tua terlalu sibuk dengan

pekerjaan diluar rumah dan pengasuhan anak diserahkan kepada orang

lain, bayi rewel dan menangis terus, pemberian makanan pada bayinya

akan membuat tidurnya nyenyak, kebutuhan. nutrisi bayi tidak cukup

hanya dengan ASI, serta gencarnya promosi makanan bayi yang belum

mengindahkan ASI eksklusif sampai 6 bulan (Rahmadhanny, 2010).

6. Pengaruh ASI Eksklusif dan Perkembangan Motorik Kasar

Tumbuh kembang anak yang minum ASI lebih baik, karena

komposisi ASI yang sangat menunjang perkembangan anak. Anak jarang

sakit karena adanya antibodi baik seluler maupun humoral di dalam ASI.

Selain itu ASI juga mengandung hormon dan enzim. Perkembangan anak

lebih baik, karena komposisi ASI yang untuk pertumbuhan otak bayi, juga

ibu dapat melakukan berbagai macam sensori : taktil, penciuman,

penglihatan maupun penciuman. Limpahan kasih sayang pada saat

menyusui membuat bayi terasa nyaman dan aman dalam dekapan ibu,

yang penting juga untuk tumbuh kembangnya (IDAI,2010).


21

Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan terlihat anak yang

mendapatkan ASI jauh lebih matang, lebih asertif, dan memperlihatkan

progresitifitas yang lebih baik pada skala perkembangan dibanding yang

tidak mendapatkan ASI. Suatu penelitian di Hounduras memperlihatkan

bayi mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan dapat merangkak dan duduk

lebih dahulu dibandingkan mereka yang sudah mendapat MP-ASI pada

usia 4 bulan (IDAI,2008).

B. Perkembangan

1. Definisi

Tumbuh kembang merupakan proses yang kontinu yang terjadi

sejak konsepsi dan terus berlangsung sampai dewasa. Istilah tumbuh

kembang mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling

berkaitan dan sulit dipisahkan yaitu pertumbuhan dan perkembangan

(Soetjiningsih, 2012). Perkembangan (development) perubahannya

bersifat kuantitatif dan kualitatif. Perkembangan merupakan

bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih

kompleks, dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil

dari proses pematangan / maturitas.

Menurut Harlimsyah (2007) perkembangan anak adalah segala

perubahan yang terjadi pada diri anak dilihat dari berbagai aspek antara

lain aspek fisik (motorik), emosi,kognitif dan psikososial (bagaimana

anak berinteraksi dengan lingkungan).


22

2. Motorik Kasar

Proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak

disebut perkembangan motorik. Masa lima tahun pertama kehidupan

seorang anak adalah masa emas bagi perkembangan motoriknya, karena

pada usia tersebut kondisi tubuh masih dalam keadaan lentur dan

mudah diarahkan. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang

menggunakan otot- otot besar atau sebagian besar atau seluruh

anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri.

Anak berlari, melompat, berdiri di atas satu kaki, memanjat,

bermain bola, mengendarai sepeda roda tiga. Perkembangan

motorik adalah perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah

melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi

(Hurlock, 1978).

Perkembangan motorik kasar anak lebih dulu dari pada motorik

halus, misalnya anak akan lebih dulu memegang benda - benda yang

ukuran besar dari pada ukuran yang kecil. Karena anak belum mampu

mengontrol gerakan jari - jari tangannya untuk kemampuan motorik

halusnya, seperti meronce, menggunting dan lain - lain. (Sujiono,2007)

berpendapat bahwa gerakan motorik kasar adalah kemampuan yang

membutuhkan koordinasi sebagian besar bagian tubuh anak. Gerakan

motorik kasar melibatkan aktivitas otot - otot besar seperti otot tangan,

otot kaki dan seluruh tubuh anak.


23

3. Tahapan Perkembangan

Tabel II.1 Ringkasan Kemajuan Perkembangan Lahir


sampai 5 tahun (Nur, 2014)
Umur Motorik/Sensorik Sosial Bahasa Manipulatif
0-1 Reflek-reflek - - -
bulan primitif, dapat
menghisap,
menggenggam,
memberikan
respon terhadap
suara mengejutkan.
1-3 Menegakkan Memberikan - -
bulan kepala sebentar, respon senyum.
mengadakan
gerakan-gerakan
merangkak.
3-4 Mengangkat Tersenyum Bersuara jika Mulai
bulan kepala dari posisi diajak bicara. mengamati
tengkurap dalam tangan
waktu yang sendiri,
singkat, mampu untuk
Memalingkan memegang
kepala ke arah kerincingan.
suara.
6-9 Berguling dari sisi Memperlihatkan Bervokalisasi Mulai
bulan ke sisi ketika kegembiraan : suara memindahkan
terlentang, dengan berlagak bergumam, benda dari
Memalingkan dan tersipu- suara seperti satu tangan
kepala pada orang sipu. “da”, “ma” ke tangan
yang berbicara. lainnya.
Mampu
memanipulasi
benda-benda.
9-10 Duduk dari posisi Mengenal dan Ngoceh dan Memungut
bulan berbaring, menolak orang bervokalisasi, benda
berpindah, asin, meniru, mengatakan diantara jari-
merangkak. berteriak untuk kata-kata jari dan ibu
menarik seperti da-da, jari.
perhatian. mam-mam.
1 tahun Merangkak dengan Menurut Mengucapkan Memegang
baik, menarik perintah kata-kata gelas untuk
badan sendiri sederhana, tunggal. minum.
untuk berdiri, meniru orang
dapat berjalan dewasa,
24

dengan dibimbing. Memperlihatkan


berbagai emosi.
2 tahun Mampu berlari, Mulai bermain Mulai Berpakaian
memanjat, menaiki dengan anak- menggunakan sendiri, tidak
tangga, membuka anak lain. dua atau tiga mampu untuk
pintu. kata secara mengikat atau
bersama. memasang
kancing.
3 tahun Berlari bebas, Mengetahui Berbicara Menggambar
melompat, nama dan jenis dengan lingkaran,
mengendarai kelaminnya kalimat- Menggambar
sepeda toda tiga. sendiri dapat kalimat gambar
diberi pendek. gambar yang
pengertian : dapat dikenal.
bermain secara
konstruktif dan
imitatif.
4-5 Mengetahui Bernyanyi,
tahun banyak huruf- Berdendang.
huruf dari
alphabet ;
mengetahui
lagu kanak-
kanak, dapat
menghitung
sampai 10.

4. Ciri Perkembangan

Proses perkembangan anak memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut :

(Soetjiningsih, 2012)

a. Perkembangan menimbulkan perubahan

Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap

pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Contohnya

perkembangan intelegensi seorang anak akan menyertai

pertumbuhan serabut saraf dan otak.


25

b. Perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda

Perkembangan akan mempunyai kecepatan berbeda-beda, baik

dalam perkembangan fungsi organ maupun perkembangan pada

masing-masing.

c. Perkembangan tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya

Setiap anak akan dapat melewati satu tahap perkembangan apabila

ia sudah melewati tahap sebelumnya.

d. Perkembangan berkolerasi dengan pertumbuhan

Pada saat pertumbuhan berlangsung dengan cepat, perkembangan

pun demikian terjadi peningkatan memori, daya nalar, mental, dan

asosiasi. Anak sehat bertambah umur, bertambah berat badan dan

tinggi badannya serta bertambah pula kepandaiannya.

e. Perkembangan mempunyai pola yang tetap . Perkembangan fungsi

organ mempunyai hukum yang tetap, yaitu :

1) Perkembangan terjadi terlebih dahulu didaerah kepala,

kemudian menuju kearah anggota tubuh

2) Perkembangan terjadi terlebih dahulu di daerah proksimal

(gerak kasar) lalu perkembangan ke bagian distal seperti jari-

jari yang mempunyai gerak halus

5. Empat Aspek Perkembangan

Aspek-aspek dalam perkembangan meliputi : (Soetjiningsih, 2012)

a. Motorik kasar atau gerak kasar adalah aspek yang berhubungan dengan

kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang


26

melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri, berjalan dan

sebagainya.

b. Motorik halus atau gerakan halus adalah aspek yang berhubungan

dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-

bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan

koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu, menulis,

menjimpit, dan sebagainya. Kemampuan motorik halus dipengaruhi

oleh matangnya fungsi motorik dan koordinasi meuromuskular yang

baik, fungsi visual yang akurat dan kemampuan intelek nonverbal.

Perkembangan motorik halus mencerminkan kemauan dan kesempatan

individu untuk belajar.

c. Perkembangan bahasa merupakan kemampuan untukmemberikan

respon terhadap suara, mengikuti perintah danberbicara spontan.

Rangsangan sensoris yang berasal dari pendengaran dan penglihatan

sangat penting dalam perkembangan bahasa. Menurut Bzoch (Narulita,

2009) perkembangan bahasa pada anak dari mulai lahir sampai usia 3

tahun terbagi dalam empat stadium, yaitu :

1) Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik (0-

3 bulan)

2) Kata-kata pertama : transisi ke bahasa anak (3-9 bulan)

3) Perkembangan kosa kata yang cepat-pembentukan kalimat awal

(9-18 bulan)
27

4) Percakapan bayi menjadi registrasi anak prasekolah yang

menyerupai orang dewasa (18-36 bulan)

d. Kepribadian atau tingkah laku sosial adalah aspek yang berhubungan

dengan kemampuan mandiri, berinteraksi dengan lingkungan serta

bersosialisasi. Perkembangan personal sosial berkaitan dengan

kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan

lingkungannya. Perkembangan personal sosial lebih banyak

dipengaruhi oleh faktor lingkungan (pengasuh). Berikut merupakan

tabel tahap perkembangan personal sosial pada umur 6-12 bulan

menurut August (2009).

6. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan

Menurut Soetjiningsih (2012), faktor yang mempengaruhi perkembangan

anak dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor dalam (internal) dan

faktor eksternal/lingkungan (pra natal dan pasca natal).

a. Faktor dalam (internal), meliputi :

1) Faktor genetik

Genetik merupakan modal dasar dalam mencapai

hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi

genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah

dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas

pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan

pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap

rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan


28

tulang. Termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai

faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin,

suku bangsa atau bangsa.

Herediter atau keturunan merupakan faktor yang

tidak dapat untuk dirubah ataupun dimodifikasi, ini

merupakan modal dasar untuk mendapatkan hasil akhir dari

proses tumbang anak. Melalui instruksi genetik yang

terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi dapatlah

ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Termasuk

dalam faktor genetik ini adalah jenis kelamin dan suku

bangsa atau ras. Misalnya, anak keturunan bangsa Eropa

akan lebih tinggi dan lebih besar jika dibandingkan dengan

keturunan Asia termasuk Indonesia, pertumbuhan postur

tubuh wanita akan berbeda dengan laki-laki (Soekirman,

2000).

Ras / suku bangsa berpengaruh terhadap

pertumbuhan dan perkembangan anak. Beberapa ras atau

suku bangsa memiliki karakteristik yang khas, misalnya

bangsa asia memiliki tubuh yang cenderung pendek atau

kecil sedangkan bangsa eropa dan amerika cenderung

tinggi besar.
29

b. Faktor eksternal (luar), meliputi :

1) Lingkungan

Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan

tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Lingkungan yang

cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi

bawaan, sedangkan lingkungan yang kurang baik akan

menghambatnya. Faktor lingkungan ini secara garis besar

dibagi menjadi lingkungan yang mempengaruhi anak pada

waktu masih di dalam kandungan (faktor pranatal) dan

lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak

setelah lahir (faktor postnatal).

a) Faktor Lingkungan Pranatal

 Gizi Ibu pada waktu hamil

Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan

maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering

menghasilkan bayi BBLR/lahir mati,

menyebabkan cacat bawaan, hambatan

pertumbuhan otak, anemia pada bayi baru lahir,

bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus dan

sebagainya.
30

 Toksin/zat kimia

Zat-zat kimia yang dapat menyebabkan kelainan

bawaan pada bayi antara lain obat anti kanker,

rokok, alkohol beserta logam berat lainnya.

 Radiasi

Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18

minggu dapat menyebabkan kematian janin,

kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan

lainnya, sedangkan efek radiasi pada orang laki-

laki dapat menyebabkan cacat bawaan pada

anaknya.

 Infeksi

Setiap hiperpirexia pada ibu hamil dapat merusak

janin. Infeksi intrauterin yang sering

menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH,

sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat

menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela,

malaria, polio, influenza dan lain-lain.

 Stress

Stres yang dialami oleh ibu pada waktu hamil

dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin,

antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan dan

lain-lain.
31

b) Faktor Lingkungan Postnatal

Lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh

kembang anak secara umum dapat digolongkan

menjadi :

Lingkungan biologis, yang dimaksud adalah:

 Umur

Umur yang paling rawan adalah balita maka anak

mudah sakit dan terjadi kurang gizi. Disamping itu

masa balita merupakan dasar perkembangan anak

sehingga diperlukan perhatian khusus.

 Gizi

Makanan memegang peranan penting dalam

tumbuh kembang anak, dimana kebutuhan anak

berbeda dengan orang dewasa, karena makanan

bagi anak dibutuhkan juga untuk pertumbuhan,

dimana dipengaruhi oleh ketahanan makanan

(food security) keluarga. Satu aspek yang penting

yang perlu ditambahkan adalah keamanan pangan

(food safety) yang mencakup pembebasan

makanan dari berbagai ”racun” fisika, kimia,

biologis yang kian mengancam kesehatan

manusia. Beberapa zat gizi yang diperlukan dalam


32

masa pertumbuhan dan perkembangan adalah

energi dan protein.

Energi yang dibutuhkan relatif lebih besar dari

orang dewasa, yaitu sebanyak 100-120 kilo kalori

per kg berat badan. Protein merupakan sumber

asam amino essensial sebagai bahan utama

pertumbuhan dan pembentukkan jaringan,

mengganti sel yang rusak serta untuk memelihara

keseimbangan asam basa cairan tubuh.

 Pemberian ASI Eksklusif

Asupan makanan pada bayi dan anak yang baik

dan benar adalah menyusui secara eksklusif sejak

lahir sampai umur 6 bulan dan meneruskan

menyusui anak sampai umur 2 tahun. Komposisi

yang dinamis dan sesuai dengan kebutuhan bayi

menjadikan ASI sebagai asupan gizi yang optimal

bagi bayi, sehingga tidak akan mengalami

malnutrisi. Karena keadaan status malnutrisi akan

membawa dampak yang luas diantaranya anak

mudah mengalami infeksi serta gangguan tumbuh

kembang dan gangguan fungsi organ tubuhnya.

ASI merupakan hal yang sangat penting dalam

pemenuhan nutrisi anak. Tidak ada sumber nutrisi


33

lain yang lebih baik dari ASI. Hassiotao

dkk.,(2013) dalam penelitiannya menyimpulkan

bahwa ASI adalah komponen nutrisi yang penting

bagi bayi karena dapat memberikan kekebalan

atau antibody sehingga anak dapat terhindar dari

infeksi, hal ini dapat mempengaruhi dalam

pemenuhan zat gizi anak.

7. Alat Ukur Perkembangan Anak

a. Denver II

1) Definisi

Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang

dari Denver Development Screening Test (DDST) dan

Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R).

DDST adalah salah satu metode skrining terhadap kelainan

perkembangan anak. Waktu yang dibutuhkan antara 15 – 20

menit. Adapun tujuan dari DDST II antara lain mendeteksi

dini perkembangan anak, menilai dan memantau

perkembangan anak sesuai usia, identifikasi perhatian

orangtua tentang perkembangan anak, dan mengajarkan

perilaku yang tepat sesuai usia anak. Ada 4 sektor

perkembangan yang dinilai dalam DDST II antara lain

Personal Social (perilaku sosial), Fine Motor Adaptive


34

(gerakan motorik halus), Language (bahasa) dan Gross motor

(gerakan motorik kasar).

DDST adalah salah satu dari metode skrining terhadap

kelainan perkembangan anak, test ini bukanlah test diagnostik

atau test IQ. Tetapi DST merupakan: (Nur, 2014)

a) Test yang mudah dan cepat (15-20) menit dapat

diandalkan dan mempunyai validitas yang tinggi.

b) Test yang secara efektif dapat mengidentifikasikan

antara 85-100 persen bayi dan anak-anak prasekolah

yang mengalami keterlambatan perkembangan, dan

pada “follow up” selanjutnya ternyata 89 persen dari

kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di

sekolah 5-6 tahun kemudian.

2) Aspek perkembangan

Aspek perkembangan yang dinilai terdiri dari 105 tugas

perkembangan pada DDST dan DDST-R yang kemudian pada

Denver II dilakukan revisi dan restandarisasi dari DDST

sehingga terdapat 125 tugas perkembangan (Nur, 2014).

Perbedaan lainnya adalah, pada Denver II terdapat :

a) Peningkatan 86 persen pada sektor bahasa

b) Pemeriksaan untuk artikulasi bahasa

c) Skala umur yang baru


35

d) Kategori yang baru untuk interprestasi pada kelainan

yang ringan

e) Skala penilaian tingkah laku

f) Materi training yang berbeda. Semua pada petunjuk

pelaksanaan hanya 28 point, pada Denver II menjadi 31

poin.

3) Alat yang digunakan antara lain :

a) Alat peraga : benang wol, manik-manik, kubus warna

merah kuning,hijau dan biru, botol kecil, bola teknis, bel

kecil, kertas dan pensil.

b) Lembar formulir DDST

Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap :

 Tahap pertama : secara periodik dilakukan pada

semua anak yang berusia 1 tahun, 2 tahun dan 3

tahun.

 Tahap kedua : dilakukan pada mereka yang

dicurigai adanya hambatan perkembangan pada

tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan

evaluasi diagnostik yang lengkap.

4) Penilaian

Peneliti menentukan usia anak, kemudian menarik garis

usia pada lembar DDST sesuai dengan usia anak. Dilakukan

tes pada keempat sektor yang dimulai dari item pada sebelah
36

kiri garis usia, kemudian mulai dilakukan pemeriksaan pada

keempat sektor yaitu personal sosial, motorik halus, bahasa

dan motorik kasar. Setelah dilakukan tes, dilakukan penilaian,

apakah lulus (Passed = P), gagal tetapi belum melampaui

batas umur (Fail = F), Gagal karena sudah melampaui batas

umur (Delay = D) ataukah anak tidak mendapatkan

kesempatan tugas atau anak menolak melakukan tugas (No

Opportunity = NO). Setelah itu dihitung pada masing-masing

sektor, berapa yang P,F, dan D (Nur, 2014).

5) Penilaian per Item (Nur, 2014)

a) Penilaian item “Lebih” (Advance) nilai lebih tidak perlu

diperhatikan dalam penilaian test secara keseluruhan

(karena biasanya hanya dapat dilakukan oleh anak yang

lebih tua ).

b) Penilaian itm “OK“ atau normal. Nilai tidak perlu di

perhatikan dalam penilaian test secara keseluruhan. Nilai

OK dapat diberikan pada anak dalam kondisi berikut.

 Anak “gagal” (G) atua “menolak” (M) melakukan

tugas untuk item disebelah kanan garis usia, kondisis

ini wajar karena item disebelah kanan garis usia

pada dasarnya merupakan tugas untuk

anak yang lebih tua.


37

 Anak “Lulus” / Lewat (L), “Gagal” (G) atau

“Menolak” (M) melakukan tugas untuk item didaerah

putih kotak (daerah 25 %-75%). Jika anak lulus,

sudah tentu hal ini dianggap normal.

c) Penilaian item P = peringkatan (C=caution). Nilai

“Peringatan” diberikan jika anak “Gagal” (G) atau

“Menolak” (M) melakukan tugas untuk item yang

dilalui oleh garis usia pada daerah gelap kotak (daerah

75% -90%). Hal ini karena hasil riset menunjukkan

bahwa sebanyak 75% -90% anak di usia tersebut sudah

berhasil (Lulus) melakukan tugas tersebut. Dengan kata

lain, mayoritas anak sudah bisa melaksanakan tugas

dengan baik.

d) Penilaian item T= “Terlambar” (D = Delayed). Nilai

“Terlambat” diberikan jika anak “Gagal” (G) atau

“Menolak” (M) melakukan tugas untuk item di sebelah

kiri garis usia sebab tugas tersebut memang ditujukan

untuk anak yang lebih muda. Seorang akan seharusnya

mampu melakukan tugas untuk kelompok usia yang

lebih muda (Ivelisse, 2014)

e) Penilaian item “Tak ada kesempatan” (No Opportunity).

Nilai “Tak” ini tidak perlu diperhatikan dalam penilaian

tes secara keseluruhan. Nilai “Tak ada kesempatan”


38

diberikan jika anak mendapat skor “Tak” atau tidak

ada kesempatan untuk mencoba atau melakukan Test

skrining perkembangan dari denver.

6) Penilaian test perilaku

Penilaian prilaku dilakukan setelah test selesai. Dengan

mengguanakan skala pada lembar test, penilaian ini dapat

membandingkan prilaku anak selama test dengan prilaku

sebelumnya. Kita boleh menanyakan kepada orang tua

atau pengasuh apakah prilaku anak selama test dengan

prilaku sebelumnya, dan menanyakan kepada orang tua

atau pengasuh apakah perilaku anak sehari-hari sama

dengan perilakunya saat sedang tes, terkadang anak

tengah dalam kondisi, sakit, atau marah sewaktu

menjalani tersebut. Jika demikian test dapat ditunda dan

dilanjutkan pada hari lain saat anak telah kooperatif (Nur,

2014)

7) Klasifikasi Hasil Test (Ivelisse, 2014)

a) Abnormal

 Bila didapatkan dua atau lebih keterlambatan, pada

2 sektor atau lebih.

 Bila dalam satu sektor atau lebih didapatkan dua

atau lebih keterlambatan plus satu sektor atau lebih

dengan satu keterlambatan dan pada sektor yang


39

sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang

berpotongan dengan garis vertikal usia.

b) Meragukan

 Bila pada satu sektor didapatkan dua keterlambatan

atau lebih.

 Bila pada satu sektor atau lebih didapatkan satu

keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada

yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan

garis vertikal usia.

c) Tidak dapat dites

 Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil

tes menjadi abnormal atau meragukan.

d) Normal

 Semua yang tidak tercantum dalam kriteria diatas.

Pada anak-anak yang lahir prematur, usia

disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun.

8) Pembahasan

DDST (Denver Development Screening Test) adalah salah

satu dari metode screening terhadap kelainan perkembangan

anak, test ini bukanlah test diagnosa atau test IQ. DDST

memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode

screening yang baik. Test ini mudah dan cepat (15-20menit),


40

dapat diandalkan dan menunjukkan validitas yang baik

(Ivelisse, 2014).

“Denver scale” adalah test screening untuk masalah

kognitif dan perilaku pada anak pra sekolah. Test ini

dikembangkan wlliam K. Frankenburg (yang mengenalkan

pertama kali) dan J.B.Doods pada tahun 1967 silam. DDST

merefleksikan persentase kelompok anak usia tertentu yang

dapat menampilkan tugas perkembangan tertentu. Test ini

dapat dilakukan oleh dokter spesialis, tenaga profesional

kesehatan lainnya, atau tenaga professional kesehatan dalam

layanan social. Dalam perkembangan lainnya DDST

mengalami beberapa kali revisi. Revisi terakhir adalah

Denver II yang merupakan hasil revisi dan standarisasi dari

DDST dan DDST-R (revised denver developmental screening

test). Perbedaaan denver II dengan screening terdahulu

terletak pada item-item test, bentuk, interprestasi dan rujukan

(Nur, 2014).

C. Balita

1. Definisi

Balita berada pada kategori umur 0- 5 tahun. Masa merupakan

periode penting dalam proses timbuh kembang manusia. Masa tumbuh

kembang di usia ini yang berlangsung cepat dan tidak pernah berulang,
41

karena itu sering disebut masa Golden Age. Sehingga kelompok usia ini

memerlukan zat gizi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan

(DEPKES RI, 2009).

Balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun

atau lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun

(Muaris.H, 2006).