Anda di halaman 1dari 11

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/318493982

IDENTIFIKASI ENDOPARASIT NEMATODA PADA FESES AYAM BROILER DI


PETERNAKAN SUBMITRA INDOJAYA AGRINUSA DESA PUDUN JAE
(Identification of Nemathoda Endoparasitic on Broiler Excreta at S...

Working Paper · July 2016

CITATIONS READS

0 1,706

3 authors, including:

Rikardo Silaban
Bogor Agricultural University
3 PUBLICATIONS   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Farming integrated with optimized waste of salak View project

JSPS (Japan Society and the Promotion of Science) View project

All content following this page was uploaded by Rikardo Silaban on 18 July 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


IDENTIFIKASI ENDOPARASIT NEMATODA PADA FESES AYAM
BROILER DI PETERNAKAN SUBMITRA INDOJAYA AGRINUSA
DESA PUDUN JAE
(Identification of Nemathoda Endoparasitic on Broiler Excreta at Submitra
Indojaya Agrinusa Farm in Village of Pudun Jae)

Rikardo Silaban1.*, Febriansyah, R.1, Pulungan, S.2


1
Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara
Padangsidimpuan
2
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan

*Corresponding author: rikardo.silaban@ymail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan endoparasit
nematoda dalam feses ayam broiler pada variasi fase pertumbuhan dan
mengidentifikasi endoparasit nematoda terduga dalam feses ayam broiler.
Penelitian dilaksanakan di laboratorium fakultas pertanian Universitas Graha
Nusantara Padangsidimpuan dari bulan Juni 2016 sampai Agustus 2016.
Penelitian menggunakan dua metode yaitu metode natif dan metode pengapungan
dengan sentrifugasi. Peubah yang diamati adalah jenis endoparasit, prevalensi
endoparasit nematoda, dan frekuensi kehadiran spesies nematoda. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat 4 genus endoparasit nematoda dalam feses ayam
broiler yakni Ascaridia sp., Heterakis sp., Strongyloides sp., dan Pelodera sp.
Persentasi prevalensi nematoda dalam feses broiler di peternakan submitra
Indojaya Agrinusa Desa Pudun Jae dari fase starter sampai fase finisher berkisar
25.00% sampai 28.33%. Frekuensi kehadiran beberapa spesies nematoda dalam
feses ayam broiler pada fase starter yaitu Ascaridia galli (53%), Heterakis
gallinarum (21%), Strongyloides ransomi (20%), dan Pelodera rhabditis (6%),
pada fase grower yaitu Ascaridia galli (43%), Strongyloides ransomi (41%),
Heterakis gallinarum (12%), dan Pelodera rhabditis (4%), dan pada fase finisher
yaitu Strongyloides ransomi (53%), Ascaridia galli (22%), dan Pelodera
rhabditis (22%). Kesimpulan penelitian adalah terdapat telur dan larva
endoparasit nematoda dalam sampel yang diteliti dan spesies yang ditemukan
merupakan genus yang bersifat parasit.
Kata Kunci : Ekskreta broiler, identifikasi, nematoda

Abstract
This study aimed to investigate the subsistence of nemathoda
endoparasitics in broiler’s excreta at several growth phases and to identify the
predicted nemathoda in excreta. Research held at laboratory faculty of agriculture,
University of Graha Nusantara Padangsidimpuan which is started from June 2016
to August 2016. The research used two methods; native method and floating with
centrifugation method. Parameters measured were species of endoparasitic,
prevalence of nemathoda endoparasitic, and the number of species presented. The
results show that 4 genus of nemathoda found in broiler’s excreta; Ascaridia sp.,
Heterakis sp., Strongyloides sp., and Pelodera sp. Percentage of prevalence in
excreta of broiler at Submitra Indojaya Agrinusa Farm from starter to finisher
phase is arround 25,00% to 28.33%. The frequency of several species at starter
phase is Ascaridia galli (53%), Heterakis gallinarum (21%), Strongyloides
ransomi (20%), and Pelodera rhabditis (6%), at grower phase is Ascaridia galli
(43%), Strongyloides ransomi (41%), Heterakis gallinarum (12%), and Pelodera
rhabditis (4%), and at finisher phase is Strongyloides ransomi (53%), Ascaridia
galli (22%), and Pelodera rhabditis (22%). It concluded that larva and
nemathoda’s egg were found on identification process and species found was a
pathogenic group.
Keywords: broiler’s excreta, identification, nemathoda

PENDAHULUAN relatif singkat dan bersifat


menguntungkan (Widagdo dan Anita
Indonesia merupakan negara 2010). Produksi ayam broiler skala
yang kaya akan sumber daya alam nasional pada tahun 2014 sebesar 1.44
yang dimanfaatkan dan diproses pada juta ekor dan tahun 2015 sebesar 1.50
berbagai sektor diantaranya sektor juta ekor yang artinya mengalami
pertanian, perikanan, peternakan, kenaikan sebesar 3.76%. Pada
industri, jasa, dan perkebunan. Salah kenyataannya produksi ayam broiler
satu sektor yang berperan penting skala nasional belum bisa memenuhi
untuk kehidupan masyarakat pada kebutuhan konsumsi daging nasional
penyedian pangan yaitu sektor (Dirjen Peternakan dan Kesehatan
peternakan. Hewan ternak seperti sapi, Hewan 2015).
domba, kerbau, dan unggas merupakan Endoparasit merupakan parasit
sumber pangan hewani yang yang hidup di dalam tubuh host. Pada
mengambil alih untuk pemenuhan umumnya parasit terdiri dari beberepa
kebutuhan nutrisi pangan hewani bagi jenis diantaranya cacing, artropoda,
manusia. Oleh karena itu perlu bakteri, protozoa, dan virus (Hadi dan
dipertahankan dan ditingkatkan Soviana 2000). Invasi parasit dapat
produktivitas ternak tersebut. Salah menurunkan jumlah produk dan
faktor yang dapat menyebabkan kualitas produk yang dihasilkan.
penurunan produktivitas ternak adalah Parasit yang berada pada tubuh suatu
gangguan kesehatan yang dapat ternak dapat menyebabkan kerusakan
disebabkan oleh bakteri, virus, dan organ ternak tersebut. Ayam yang
parasit baik berupa ektoparasit maupun terserang parasit dapat mengalami
endoparasit (Ranto dan Sitanggang penurunan berat badan. Ayam dapat
2005). terinfeksi oleh endoparasit melalui
Ayam broiler merupakan jenis makanan. Endoparasit dapat ditularkan
ayam ras unggulan hasil persilangan melalui makanan dengan kondisi yang
dari bangsa-bangsa ayam yang kurang bersih. Selain itu penyebaran
memiliki daya produktivitas tinggi endoparasit dapat melalui air dan
terutama dalam memproduksi daging. peralatan yang digunakan pada
Ayam broiler populer di Indonesia pemeliharaan ternak (Parede dkk
sejak tahun 1980-an. Saat ini ayam 2005).
broiler telah dikenal oleh masyarakat Mengetahui status kesehatan
Indonesia dengan berbagai kelebihan, ayam yang dipelihara merupakan hal
seperti waktu pemeliharaannya yang yang penting untuk mencapai
efektifitas dalam manajemen sampel secara acak (random sampling).
pemeliharaan khususnya tingkat Sampel diambil sebanyak 30 titik
sanitasi perkandangan yakni untuk dengan isi populasi ayam broiler
mempertahankan produksi tinggi dan sebanyak 8000 ekor. Pengambilan
mortalitas rendah (Badriyah dan sampel dapat berubah sesuai fase
Ubaidillah 2013). Meskipun telah pemeliharaan ayam broiler.
banyak data mengenai keberadaan Sampel feses ayam diambil
endoparasit yang menginfeksi saluran dengan menggunakan spatula dan
pencernaan ayam broiler, tetapi data dimasukkan kedalam dua plastik yang
tersebut umumnya hanya mengacu berbeda selanjutnya sampel diberikan
pada infeksi dan identifikasi label dalam setiap plastik. Setiap
endoparasit secara umum. Penelitian sampel feses ayam broiler ditimbang 2
tentang identifikasi endoparasit cacing gram dengan timbangan analitik untuk
Nematoda pada feses ayam broiler pemeriksaan metode langsung (natif)
pada variasi fase pertumbuhan ayam dan metode sedimentasi. Sampel yang
belum pernah diteliti. Oleh karena itu, telah ditimbang kemudian disimpan
penelitian dilakukan untuk menggali didalam plastik dan diberi label,
dan menambah informasi ilmiah terkait kemudian dibawa ke laboratorium.
profil endoparasit cacing Nematoda Pemeriksaan dilakukan baik secara
pada feses broiler. kualitatif maupun kuantitatif.
Pemeriksaan kualitatif
METODE PENELITIAN dimaksudkan untuk mengidentifikasi
jenis endoparasit cacing nematoda
Penelitian dilaksanakan di yang menginfeksi ayam broiler pada
Laboratorium Fakultas Pertanian, setiap fase berdasarkan stadium,
Universitas Graha Nusantara dan bentuk, dan strukturnya. Pemeriksaan
peternakan Submitra Indojaya kuantitatif dimaksudkan mengetahui
Agrinusa Desa Pudun Jae pada bulan banyaknya stadium nematoda per gram
Juni 2016 sampai dengan Agustus feses (TCPGF) yang menggambarkan
2016. berat ringannya derajat infeksi. Hasil
Bahan yang digunakan dalam pengamatan dijelaskan secara
penelitian adalah feses ayam broiler deskriptif yaitu menjelaskan tentang
segar, larutan NaCl, Aquades, Eosin jenis nematoda yang menginfestasi
1%, Formalin 4%, dan larutan garam ayam broiler (Soulsby 1986).
fisiologis 0.9%. Alat yang digunakan Pemeriksaan dengan
dalam penelitian ini adalah spatula, menggunakan metode langsung yaitu
kantong plastik steril, mikroskop sampel feses ditimbang sebanyak 2
elektron perbesaran sampai 100x, Atlas gram kemudian ditambahkan 7-10 ml
Parasitologi (Juni dkk 2002) , jarum dengan larutan garam fisiologis 0.9%
ose, gelas ukur 25 ml, timbangan kemudian dihomogenkan dan
analitik, objek glass, cover glass, mengambil satu tetes dan meletakkan
sarung tangan, pinset, kain kasa, pipet di kaca objek setelah itu diteteskan
tetes, gunting, masker, kamera digital, larutan eosin 1% sebanyak 1 tetes.
gelas plastik, dan kertas label. Sampel feses kemudian ditutup
Pengambilan sampel dilakukan selama menggunakan cover glass dan
bulan Agustus pada peternakan diperiksa menggunakan mikroskop
submitra Indojaya Agrinusa desa untuk mengetahui keberadaan
Pudun Jae dengan metode pengambilan
endoparasit dan mengidentifikasi jenis Endoparasit yang telah
endoparasit yang ditemukan. ditemukan diidentifikasi untuk
mengetahui jenisnya dengan dasar
Pemeriksaan dengan metode identifikasi yaitu morfologi dan ukuran
pengapungan dengan setrifugasi yaitu endoparasit. Setelah itu, bentuk
sampel feses ditimbang sebanyak 2 endoparasit sementara yang ditemukan
gram, dan dicampur dengan 10 ml dicocokkan dengan tipe endoparasit
larutan NaCl jenuh dan dihomogenkan. yang telah diidentifikasi dan dibakukan
Larutan disaring dengan menggunakan dalam atlas Parasitologi (Juni dkk
kain kasa berukuran 10x10cm, dan 2002).
dituang kedalam tabung sentrifugasi
selama lima menit dengan putaran 100 Jenis endoparasit diperoleh dari
kali permenit. Setelah disentrifugasi proses identifikasi dengan melihat
larutan yang terdapat pada permukaan morfologi dan ukuran endoparasit
diambil menggunakan jarum ose, dan kemudian dicocokkan dengan data
diteteskan diatas objek glass. dalam Atlas Parasitologi. Prevalensi
Kemudian ditutup dengan cover glass, adalah seberapa sering suatu penyakit
dan diperiksa dengan menggunakan atau kondisi terjadi pada sekelompok
mikroskop dan diidentifikasi jenis ternak sedangkan Frekuensi Kehadiran
endoparasit. adalah nilai yang menyatakan jumlah
suatu spesies didalam suatu habitat.

Persentase kehadiran endoparasit dihitung dengan menggunakan rumus


sebagai berikut :
XP = jumlah sampel mengandung endoparasit nematoda ; %P = XP x 100
sampel keseluruhan

XFK = jumlah sampel ditemukan suatu jenis; %FK= XFK x 100


sampel ditemukan

(Suin, 1997).

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil identifikasi nematoda dalam feses


ayam broiler fase starter ditemukan 10
A. Jenis Endoparasit sampel positif mengandung larva dan
telur cacing nematoda dengan genus
Identifikasi nematoda pada diantaranya; Ascaridia sp., Heterakis
feses ayam broiler di peternakan sp., Pelodora sp., dan Strongyloides
submitra Indojaya desa Pudun Jae sp., namun setelah proses identifikasi
dilakukan dengan menggunakan morfologi secara mendalam dibawah
metode langsung (natif) dan metode mikroskop hanya terdapat telur
pengapungan dengan sentrifugasi. Strongyloides ransomi dan Ascaridia
Apabila dalam feses yang diamati galli serta larva Heterakis gallinarum.
positif terinvestasi larva atau telur Berikut ini gambar hasil penelitian
cacing nematoda, maka akan yang tampak dibawah mikroskop
dilanjutkan ke tahap purifikasi objek dengan perbesaran 10 kali.
sampai dengan proses identifikasi.
(a) (b)
Gambar 1. Hasil metode uji pengapungan sentrifugasi telur Strongyloides ransomi
(a) dan Ascaridia galli (perbesaran 10x) [Inset: Dewi 2007]

Hasil pengamatan mikroskop pada parasit. Spesies tersebut adalah


gambar di atas menunjukkan bahwa Heterakis gallinarum. Pada
telur cacing tersebut berbentuk bulat pengamatan mikroskop ditemukan
lonjong dengan dinding yang tipis, larva dengan morfologi yang
selain itu terdapat penebalan pada menyerupai spesies tersebut (Gambar
bagian inti yang juga disebut dengan 2). Berdasarkan hasil identifikasi
embrio dari cacing tersebut. Hal ini morfologi diperoleh bahwa larva
sesuai dengan pernyataan Natadisastra cacing spesies ini berbentuk slinder dan
dan Agoes (2005) yang menyatakan panjang serta berkelok. Hal ini sesuai
bahwa pada umumnya morfologi tubuh dengan pendapat Iresh (2015) yang
telur cacing spesies ini yaitu bulat menyatakan bahwa morfologi
lonjong dan dilengkapi dengan 2 Heterakis gallinarum berbentuk
spikula halus pada salah satu bagian slinder, panjang, berkelok, diameter
ujung dari telur tersebut. dari pangkal sampai ujung ekor
Selain Ascarida sp. dan semakin mengecil dan panjang larva
Strongyloides sp. juga ditemukan dapat mencapai 2cm.
spesies nematoda yang lain dan bersifat

Gambar 2. Hasil pemeriksaan dengan metode natif larva Heterakis gallinarum


(perbesaran 10x) [Inset: Iresh 2015]

Hasil identifikasi feses ayam broiler ditemukan Ascaridia sp., Heterakis


pada fase grower ditemukan 8 sampel sp., Pelodora sp., dan Strongyloides
positif mengandung larva dan telur sp., pada sampel feses ayam fase
cacing nematoda dengan genus starter. Perbedaannya terletak pada 1
genus baru yang berhasil di proses segmentasi tubuh. Pada
identifikasi. Genus tersebut adalah umumnya, spesies ini lebih banyak
Pelodera sp., setelah dilakukan menyerang unggas petelur sedangkan
identifikasi morfologi secara mendalam pada unggas pedaging frekuensi
dibawah mikroskop spesies yang kehadirannya cukup kecil (hampir
ditemukan dari genus tersebut adalah jarang dijumpai). Infeksi dari spesies
larva Pelodera rhabditis (Gambar 3). ini dapat mengakibatkan diare disertai
Morfologi eksternal larva nematoda bintik-bintik darah, serta penurunan
spesies ini yaitu bentuk melintang dan berat badan yang mengakibatkan
panjang, panjang tubuh berkisar 2-5 kerugian ekonomi cukup tinggi
cm, pada usia tertentu mengalami (Soulsby 1982).

(a) (b) (c)


Gambar 3. Hasil pemeriksaan dengan metode natif (b) dan metode pengapungan
sentrifugasi (a,c) larva Pelodera rhabditis (perbesaran 10x) [Inset: Dewi
2007]

Hasil identifikasi nematoda dalam feses pada Gambar 4 berikut. Pada waktu
ayam broiler fase finisher ditemukan tertentu, larva akan menjadi infektif
11 sampel positif mengandung larva dan bersifat parasitik. Fase perubahan
nematoda dengan genus ditemukan telur menjadi larva dapat terjadi secara
Ascaridia sp., Heterakis sp., Pelodora bebas yang artinya telur betina dapat
sp., dan Strongyloides sp., pada sampel menjadi larva jantan dan sebaliknya.
feses ayam fase starter dan grower. Larva spesies Strongyloides sp. ini
Perbedaannya terletak pada tahapan dapat menembus kulit dan darah
spesies yakni hanya dalam bentuk larva sehingga dapat menimbulkan suatu
yang berhasil di identifikasi. Pada infeksi pada ternak, sedangkan larva
dasarnya perubahan bentuk spesies spesies Ascaridia sp. lebih sering
nematoda dapat diketahui dari dijumpai pada bagian lumen usus
morfologi tubuh yang teramati ternak dan dapat menimbulkan
sepertihalnya pada larva spesies kekurusan pada ternak.
Strongyloides sp. dan Ascaridia sp.

Gambar 4. Hasil pemeriksaan dengan metode pengapungan sentrifugasi larva


Strongyloides sp. (A) dan larva Ascaridia sp. (perbesaran 10x)
B. Prevalensi Indojaya Agrinusa desa Pudun Jae
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tingkat prevalensi nematoda
pada ternak di peternakan submitra

Tabel 1. Tingkat Prevalensi nematoda pada ayam broiler.


Fase Umur ayam (hari) Tingkat prevalensi (%) Rerata
Starter 7 20,00 25,00
14 30,00
Grower 17 26,67 25,00
21 23,33
Finisher 25 26,67 28,33
30 30,00
Keterangan: Rataan diperoleh berdasarkan perhitungan rerata tingkat prevalensi selama
2 kali pengamatan

Berdasarkan hasil analisis, dengan pendapat Meirhaeghe (1997)


tingkat prevalensi tertinggi terjadi pada Bahwa kerugian yang diderita bila
fase finisher yaitu 28.33%, sedangkan unggas terinfeksi cacing secara
tingkat prevalensi terendah terjadi pada ekonomis sebenarnya bisa dihitung
fase starter yaitu 25.00%. Prevalensi pada tahap yang lebih kronis bisa
endoparasit dalam feses ayam menimbulkan kematian karena
mengindikasikan persentasi kehadiran terakumulasinya populasi cacing dalam
berbagai spesies nematoda yang tubuh ayam.
bersifat parasit dan potensi ternak
terinfeksi oleh spesies tersebut.
Tingginya prevalensi endoparasit C. Frekuensi Kehadiran
nematoda tersebut dapat berpotensi
Berdasarkan pemeriksaan
pada peningkatan angka mortalitas
terhadap feses broiler sebanyak 30
ternak pada setiap fase. Tingkat
sampel (pengambilan 30 titik) baik dari
prevalensi pada fase finisher memiliki
fase starter sampai fase finisher
korelasi positif dengan angka
ditemukan telur maupun larva dari 4
mortalitas yang juga cukup tinggi yakni
jenis nematoda yang diduga bersifat
3.09%, sehingga diduga bahwa
parasit diantaranya; Ascaridia sp.,
penyebab kematian ternak pada fase
Heterakis sp., Strongyloides sp., dan
tersebut sangat dipengaruhi oleh angka
Pelodera sp.
prevalensi tersebut. Hal ini sesuai

Tabel 2. Frekuensi kehadiran nematoda pada feses ayam broiler di peternakan


submitra Indojaya Agrinusa desa Pudun Jae
Fase Umur ayam Jenis Frekuensi Kehadiran
(hari) Nematoda (%)
Starter 7 Ascaridia galli 44,44
Heterakis gallinarum 27,78
Strongyloides ransomi 16,67
14 Pelodera rhabditis 11,11
Ascaridia galli 61,54
Heterakis gallinarum 15,38
Strongyloides ransomi 23,08
Grower 17 Ascaridia galli 63,64
Strongyloides ransomi 27,27
Heterakis gallinarum 9,09
21 Strongyloides ransomi 53,85
Heterakis gallinarum 15,38
Ascaridia galli 23,08
Pelodera rhabditis 7,69
Finisher 25 Strongyloides ransomi 60,00
Pelodera rhabditis 33,33
Ascaridia galli 6,67
30 Strongyloides ransomi 46,67
Ascaridia galli 40,00
Pelodera rhabditis 13,33
Keterangan: Data diperoleh berdasarkan perhitungan rerata untuk mengetahui
perbedaan frekuensi kehadiran pada setiap fase.

Endoparasit yang menginfeksi ransomi (53%), Ascaridia galli (22%),


saluran pencernaan broiler fase starter dan Pelodera rhabditis (22%) [Tabel
berdasarkan pemeriksaan pada feses 9]. Spesies dengan frekuensi kehadiran
yaitu Ascaridia galli (53%), Heterakis yang paling tinggi pada fase starter
gallinarum (21%), Strongyloides adalah Ascaridia galli, pernyataan ini
ransomi (20%), dan Pelodera didukung oleh Soulby (1986) yang
rhabditis (6%). Pada fase grower yaitu menyatakan bahwa ayam muda lebih
Ascaridia galli (43%), Strongyloides rentan terhadap infeksi cacing genus
ransomi (41%), Heterakis gallinarum Ascaridia sp. dibandingkan ayam
(12%), dan Pelodera rhabditis (4%). dewasa.
Pada fase finisher yaitu Strongyloides

Tabel 3. Frekuensi kehadiran nematoda menurut setiap fase pada feses ayam
broiler di peternakan submitra Indojaya Agrinusa desa Pudun Jae
Fase Jenis Nematoda Frekuensi Kehadiran %
Starter Ascaridia galli 53
Heterakis gallinarum 21
Strongyloides ransomi 20
Pelodera rhabditis 6
Grower Ascaridia galli 43
Strongyloides ransomi 41
Heterakis gallinarum 12
Pelodera rhabditis 4
Finisher Strongyloides ransomi 53
Ascaridia galli 22
Pelodera rhabditis 22
Keterangan: Data diperoleh berdasarkan perhitungan rerata untuk mengetahui
perbedaan frekuensi kehadiran pada setiap fase.

Pada fase grower, spesies dengan ternak (host) dalam waktu bersamaan.
frekuensi kehadiran tertinggi yaitu Namun, spesies Strongyloides ransomi
Ascarida galli dan Strongyloides lebih berpotensi menyebabkan
ransomi. Pada umumnya kedua spesies kematian pada ternak. Penemuan
ini dapat mempengaruhi kesehatan spesies ini dalam feses meberikan
informasi yang sejalan dengan Jumlah Kematian Ayam
tingginya angka mortalitas diperoleh. Broiler. Lamongan. Jurnal
Spesies ini juga ditemukan dengan Ternak.
frekuensi tertinggi pada feses ayam
fase finisher. Sesuai dengan penelitian Dewi, Kartikan RTP, Nugraha. 2007.
Pradana dkk (2015) yang menyatakan Endoparasit Pada Feses Babi
bahwa persentase kehadiran Ascaridia Kutil (Susverrucosus). Vol.16.
galli sebesar 60% dan Strongyloides sp Jakarta.
sebesar 28% pada ayam. Tingginya
frekuensi kehadiran tersebut karena Dirjen Peternakan dan Kesehatan
cacing ini dapat bertahan di tempat Hewan. 2015. Populasi dan
yang lembap. Faktor cuaca seperti Produksi Peternakan di
temperatur dan kelembapan yang Indonesia.Ranto dan
sesuai dengan kehidupan cacing serta Sitanggang. 2005. Panduan
manajemen atau cara pemeliharaan dan Lengkap beternak Itik.
pemberian pakan yang kurang baik AgroMedia Pustaka. Jakarta.
dapat mendukung terjadinya infeksi
cacingan. .Hadi UK, Soviana S. 2000.
Ektoparasit: Pengenalan,
KESIMPULAN Diagnosis, dan
Pengendaliannya. Bogor.
Endoparasit nematoda yang Laboratorium Entomologi
menyerang ayam broiler adalah Fakultas Kedokteran Hewan.
Strongyloides ransomi, Ascaridia galli, Institut Pertanian Bogor.
Heterakis gallinarum, Pelodera Iresh T, Subronto. 2015. Ilmu Penyakit
rhabditis. Prevalensi nematoda dalam Ternak III. Gadjah Mada
feses broiler dari fase starter sampai University Press. Yogyakarta.
finisher berkisar 25% sampai 28.33%.
Frekuensi kehadiran beberapa spesies Juni PLA, Tjahaya PU, Darwanto.
nematoda pada ayam broiler fase 2002. Atlas Parasitologi
starter yaitu Ascaridia galli (53%), Kedokteran. Gramedia Pustaka
Heterakis gallinarum (21%), Utama. Jakarta.
Strongyloides ransomi (20%), dan
Pelodera rhabditis (6%). Pada fase Meirhaeghe PV. 1997. Lompatan Maju
grower yaitu Ascaridia galli (43%), Pengobatan Cacing. Bisnis
Strongyloides ransomi (41%), petemakan Ayam Telur.
Heterakis gallinarum (12%), dan
Pelodera rhabditis (4%). Pada fase Natadisastra D dan Agoes R. 2005.
finisher yaitu Strongyloides ransomi Parasitologi kedokteran.
(53%), Ascaridia galli (22%), dan Penerbit buku kedokteran EGC.
Pelodera rhabditis (22%). Jakarta.

Parede L, Zainuddin D, Huminto H.


DAFTAR PUSTAKA 2005. Penyakit Menular Pada
Intensifikasi Unggas Lokal dan
Badriyah N, Ubaidillah M. 2013.
Cara Penanggulangannya.
Pengaruh Frekuensi
Bogor. Lokakarya Nasional
Penyemprotan Desinfektan
Pada Kandang Terhadap
Inovasi Teknologi
Pengembangan Ayam. Suin NM. 1997. Ekologi Hewan Tanah.
Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.
Soulsby EJL. 1986. Helminths,
Arthopods, and Protozoa of Widagdo dan Anita. 2010. Budidaya
Domesticated Animal Seventh Ayam Broiler. Palang Merah
Editon. London. Bailliere Publisher, Yogyakarta.
Tindall.

View publication stats