Anda di halaman 1dari 11

7

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskriptif Teori

1. Hakikat Tenis Meja

Permainan tenis meja adalah suatu jenis permainan yang

menggunakan meja sebagai tempat untuk memantulkan bola yang dipukul

oleh seorang pemain dan bola yang dipukul tersebut harus melewati atas net

atau jaring yang dipasang di tengah-tengah meja. Bola yang dipukul dan

melewati net ini harus memantul pada meja pihak lawan, baru bola tersebut

dapat dikembalikan oleh pihak lawan ke tempat semula dan juga harus

melewati atas net. Dengan demikian bola berjalan bolak-balik melewati atas

net atau jaring yang dipukul seorang bergantian dan memukulnya harus

memantul pada permukaan meja, jadi bola tidak boleh di volley (Arma

Abdoellah, 1981: 541).

Menurut A.M Bandi Utama, Tomoliyus, dan Sridadi (2005: 5) “permainan


tenis meja adalah permainan dengan menggunakan fasilitas meja beserta
peralatannya serta raket dan bola sebagai alatnya. Permainan ini diawali
dengan pukulan pembuka (service), yaitu bola dipantulkan di meja sendiri
lalu melewati atas net dan memantul di meja lawan, kemudian bola
tersebut dipukul melalui net harus memantul ke meja lawan sampai lawan
tidak dapat mengembalikan dengan baik”. Pemain berusaha untuk
mematikan pukulan lawan agar memperoleh angka dari pukulannya.
Permainan tenis meja dapat dimainkan baik orang tua, remaja maupun
anak-anak. Sarana seperti raket, bola, net dan meja sebagai tempat bermain
juga tidaklah membutuhkan biaya yang tinggi.

Permainan tenis meja mempunyai daya tarik tersendiri jika

dibandingkan dengan olahraga lainnya, salah satu daya tarik dalam permainan
8

tenis meja terletak pada berbagai jenis pukulan. Dilihat dari fungsi pukulan

yang dominan dalam permainan tenis meja, maka teknik pukulan dalam tenis

meja harus dipelajari dan dilatih secara teratur. Latihan yang teratur

merupakan suatu usaha berlatih untuk mencapai kecakapan dan kemahiran

untuk mencapai prestasi dalam olahraga tenis meja yang baik. Tujuan latihan

ialah untuk membantu atlet meningkatkan keterampilan dan prestasi dengan

maksimal dan optimal.

Menurut Depdiknas (2003: 3) yang dimaksud dengan tenis meja adalah


suatu permainan yang menggunakan meja sebagai lapangan yang dibatasi
oleh jaring (net) yang menggunakan bola kecil yang terbuat dari celluloid
dan permainannya menggunakan pemukul atau yang disebut bet.
Sedangkan menurut Chairuddin Hutasuhud (1988: 4) “tenis meja adalah
suatu jenis olah raga yang dimainkan di atas meja di mana bola dibolak-
balikkan segera dengan memakai pukulan. Permainan tenis meja boleh
dimainkan dengan ide menghidupkan bola selama mungkin dan boleh juga
dimainkan dengan ide secepat mungkin mematikan permainan lawan,
tergantung dari tujuan permainan sendiri”.

Larry Hodges (2007: 25) berpendapat bahwa tenis meja adalah sebuah

permainan putaran. Sedangkan menurut Muhajir (2006: 26), tenis meja

merupakan cabang olahraga yang dimainkan di dalam gedung (indoor game)

oleh dua atau empat pemain.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan

bahwa permainan tenis meja merupakan suatu permainan yang menggunakan

meja, bola, dan bet sebagai peralatannya. Permainan diawali dengan servis

yang dilakukan pemain oleh dua atau empat orang dengan memantulkan bola

ke daerah permainan sendiri, melewai net yang dikaitkan pada 2 tiang di

tengah meja untuk membagi meja menjadi 2 area. dan menyeberangkan bola

ke daerah lawan. Pemain lawan berusaha mengembalikan servis dan pukulan


9

dari lawannya agar permainan tetap berlangsung. Adapun alat dan

perlengkapan tenis meja antara lain:

a. Meja

Meja tenis harus mempunyai daya lenting yang sama, tidak kurang dari

22 cm atau lebih dari 25 cm ketika bola standar (bola yang dijadikan ukuran)

yang dijatuhkan dari ketinggian 30,5 cm di atas permukaan meja. Permukaan

meja harus rata berwarna gelap atau biasanya hijau tua. Bagian tepi diberi

garis putih berukuran 2 cm. Permainan ganda, meja permainan dibagi

menjadi dua bagian yang diberi garis putih yang selebar 3 mm, paralel dengan

garis lurus sepanjang kedua bagian meja.

Gambar 1. Meja dan Net (Sumber: Sutarmin, 2007 : 5)

Meja tenis memiliki panjang 2,74 meter dan lebar 1,52 meter, tinggi meja

dari permukaan lantai 76 cm.


10

b. Net

Net pada tenis meja mempunyai panjang 1,83 meter dan tinggi 15,25

cm. Di tengah-tengah meja tenis terdapat dua tiang penyangga yang

dijepitkan pada meja yang berfungsi untuk membentangkan net. Net/jarring

pada tenis meja pada dasarnya sama dengan net yang digunakan pada tenis

lapangan, hanya ukuranya yang berbeda.

c. Raket/Bet

Raket/Bet yang digunakan terdiri dari berbagai ukuran, bentuk atau

berat. Bidang bet terbuat dari kayu/serat karbon, tebal, rata dan keras serta

pegangannya berwarna. Sisi bet terdiri dari dua bagian yaitu kayu dan karet.

Ketebalan daun raket minimal 85% tersebut dari kayu; dapat dilapisi dengan

bahan perekat yang berserat fiber karbon atau fiber glass atau bahan kertas

yang dipadatkan, bahan tersebut tidak lebih dari 7,5% dari total ketebalan

0,35 mm. Karet ada dua jenis yaitu karet berbintik, panjangnya tidak lebih

dari 2 mm dan karet berbintik ke dalam ketebalanya tidak melebihi 4 mm.

Gambar 2. Bet dan Bola (Sumber Sutarmin,2007:6)


11

d. Bola

Bola yang digunakan berbentuk bulat dengan diameter 40 mm, beratnya

2,7 gram, berwarna orange atau putih yang terbuat dari celulos (celluloid)

atau sejenis bahan plastik. Ditengah biasanya terdapat logo atau gambar yang

gunanya untuk mengetahui arah perputaran bola.

Gambar 2. Bola Tenis Meja


Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Tenis_meja

Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa permainan tenis meja

merupakan suatu permainan yang menggunakan meja sebagai tempat untuk

memantulkan bola yang dipukul oleh pemain yang menggunakan bet dan

harus mampu menyebrangkan bola serta mengembalikan bola ke arah lawan

setelah bola itu memantul di daerah pemain sendiri. Sehubungan dengan hal

tersebut keterampilan dasar yang baik dan benar didukung pula oleh teknik-

teknik yang lain, antara lain yaitu: pegangan bet, posisi atau sikap badan saat

bermain, jenis pukulan, dan kelincahan koordinasi gerak kaki.

2. Pengembangan

Penelitian adalah salah satu dasar untuk memecahkan masalah.

Penelitian merupakan pengetahuan dan keterampilan yang sangat diperlukan

untuk mengatasi masalah serta menghadapi tantangan dari lingkungan sekitar

dalam mengambil suatu keputusan.


12

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata ”pengembangan” secara

etimologi yaitu berarti proses/cara, perbuatan mengembangkan. Secara

istilah, kata pengembagan menunjukkan pada suatu kegiatan menghasilkan

suatu alat atau cara yang baru, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan

penyempurnaan terhadap alat atau cara tersebut terus dilakukan. Bila setelah

mengalami penyempurnaan-penyempurnaan akhirnya alat atau cara tersebut

dipandang cukup mantap untuk digunakan seterusnya. (KBBI : 103)

Menurut Sugiyono (2016;297) penelitian pengembangan adalah

metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan

menguji keefektifan produk tersebut. Menurut Sukmadinata (2002;7)

penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah

untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk

yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penelitian dan pengembangan atau research and depelopment adalah

sebuah strategi atau sebuah metode penelitian yang cukup ampuh, penelitian

pengembangan adalah penelitian yang digunakan untuk menghasilkan

produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut

Dari ungkapan diatas dapat disimpulkan bahwa metode penelitian

pengembangan merupakan penelitian yang bertujuan untuk membuat suatu

produk baru atau mengembangkan produk yang telah ada menjadi lebih luas

lagi dengan kata kunci produk tersebut diuji keefektifannya. dilakukan secara

sadar, terencana, terarah untuk membuat atau memperbaiki, sehingga menjadi

produk yang semakin bermanfaat untuk meningkatkan kualitas sebagai upaya


13

untuk menciptakan mutu yang lebih baik, diawali dengan analisa kebutuhan,

pengembangan produk dan uji coba produk. Dalam hal ini penelitian yang

akan dikembangkan adalah alat bantu latihan sasaran dalam permainan tenis

meja.

Rancangan langkah-langkah penelitian pengembangan sebagai berikut:

Gambar 1.1 Langkah-langkah penggunaan metode Research and


development (R& D).Sumber: SUGIYONO.Metode penelitian, kuantitatif,
kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016; 298)

Tabel 1.1: Penjelasan tentang langkah-langkah Research and development


(R& D)

No Langkah-langkah Keterangan

1 Potensi dan Pertama yang akan ditentukan adalah potensi dan

Masalah masalah yang akan dikembangkan.

2 Pengumpulan Data Mengumpulkan informasi sebagai landasan

pemikiran untuk membuat konsep.


14

3 Desain Produk Menentukan desain produk (rancangan produk)

bentuk rancangan tersebut adalah alat bantu latihan

pukulan dalam permainan tenis meja

4 Validasi Desain Validasi desain, revisi yang dilakukan oleh ahli

yang bersangkutan.

5 Revisi Desain Perbaikan Desain, setelah direvisi oleh ahli maka

peneliti memperbaiki desain produk yang akan

dihasilkan.

6 Uji coba Produk Uji coba produk, uji coba tahap awal ini dilakukan

untuk dapat mengumpulkan data sebagai dasar

untuk menetapkan kelanyakan produk.

7 Revisi Produk Revisi produk, dilakukan guna memperoleh hasil

yang sempurna.

8 Uji Coba Uji coba pemakaian, Pemakaian produk yang lebih

Pemakaian luas lagi dan penyempurnaan produk.

3. Hakikat Alat Bantu

Alat bantu menurut Yusuf (2001:50) adalah alat yang digunakan

pengajar dalam menyampaikan materi, dengan adanya alat peraga maka

bahan ajar atau materi akan lebih mudah dimengerti oleh peserta didik.

Sujana dan Rivai dalam Arsyad Azhar (2005:24-25) mengemukakan

manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa yaitu:

1) Akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan


motivasi belajar; 2) Bahan pembelajaran lebih jelas maknanya
15

sehingga dapat dipahami oleh siswa dan memungkinkannya


menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran; 3) Metode belajar
akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal
melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan
dan guru tidak kehabisan tenaga; 4) Siswa dapat lebih banyak
melakukan kegiatan belajar sebagai aktivitasnya mengamat,
melakukan, mendemontrasikan, memerankan, dan lain-lain.
Menurut Amir Hamzah (2002:110), penekanan alat bantu belajar
terhadap visual dan audio. Alat bantu visual terdiri dari alat peraga dua
dimensi hanya menggunakan dua ukuran panjang dan lebar (seperti : gambar,
bagan, dan grafik), sedangkan alat peraga tiga dimensi menggunakan tiga
ukuran yaitu panjang, lebar, dan tinggi (seperti benda asli, alat tiruan
sederhana, dan barang contoh).

Sudjana dan Rivai dalam Arsyad (2005: 24-25) mengemukakan

manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu :

a. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat


menumbuhkan motivasi belajar.
b. Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan
mencapai tujuan pembelajaran
c...Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata
komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga
siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga
d...Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab
aktivitasnya mengamati, melakukan, mendemonstrasikan,
memerankan dan lain-lain.

Dari uraian diatas disimpulkan bahwa alat bantu merupakan alat yang

digunakan pengajar dalam menyampaikan materi agar lebih menarik

perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, Bahan

pembelajaran lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami oleh siswa dan

memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran sehingga

metode mengajar akan lebih bervariasi


16

4. Kerangka Berpikir

Tenis meja merupakan salah satu cabang olahraga pertandingan dimana

dalam pertandingan tenis meja ada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

prestasi yang lebih baik, keterampilan teknik yang baik dan kemampuan fisik

merupakan salah satu dasar yang sangat diperlukan agar dapat bertanding

sebaik mungkin.

IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang semakin berkembang

pesat kian memberi pengembangan dan inovasi bagi para akademisi untuk

bersaing dalam mengembangkan alat-alat olahraga. Di Daerah Medan

pengembangan alat-alat olahraga tenis meja masih kurang. Ditunjukkan pada

saat latihan kurang adanya alat yang membantu.

Pada saat melakukan latihan fisik maupun teknik dengan sarana yang

mendukung dapat meningkatkan atau lebih tepatnya membantu latihan

dengan menggunakan sarana prasarana yang standar pada umumnya.

Disisi lain perkembangan IPTEK semakin maju dan berkembang dari

waktu ke waktu sehingga memudahkan para pemain dalam mengembangkan

teknik maupun fisik. Salah satu caranya untuk mendapatkan alat bantu latihan

yang standar untuk dipakai masih dengan membeli di luar negeri dan

harganya cukup mahal. Sehingga mereka para pengembang alat-alat olahraga

melakukannya semata-mata demi meningkatkan prestasi agar dapat

mengaktualisasikan diri.

Oleh karena itu, penulis mempunyai gagasan bahwa perlu adanya

inovasi baru untuk melatih atlet menjadi maksimal dan efektif. Dengan
17

mencoba membuat alat bantu latihan yang akan membantu atlet untuk

meningkatkan teknik yaitu alat bantu latihan pukulan berupa alat pelontar

bola. Alat ini tidak terlalu berat sehingga mudah dipindahkan walaupun

dengan satu orang yang mengangkat.

Selain bisa digunakan oleh atlet senior, atlet yang baru belajar pun bisa

menggunakan alat ini baik atlet laki-laki maupun perempuan juga bisa

menggunakan alat bantu latihan pukulan ini karena semua teknik dasar dalam

permainan tenis meja membutuhkan alat bantu latihan yang berupa pelontar

bola didalam permainan tenis meja. Alat bantu latihan pukulan ini sangat

berguna bagi pelatih maupun atlet dalam meningkatkan teknik dasar para

atlet.